Showing posts with label email. Show all posts
Selamat malam Pak Suparto Brata,
Bersama ini saya memperkenalkan diri. Nama saya Osa Kurniawan Ilham, lulusan dari ITS Surabaya dan sekarang bekerja di Balikpapan Kalimantan Timur. Saya juga penulis buku Proklamasi: Sebuah Rekonstruksi yang baru saja diterbitkan bulan Juni lalu.
Pak Suparto Brata, saya adalah pembaca blog Bapak. Dulu, waktu masih kecil saya membaca tulisan-tulisan Bapak di Majalah Joyoboyo atau Penyebar Semangat yang sering dibeli oleh ayah saya di Kediri.
Selain bekerja di bidang teknik, saya punya ketertarikan terhadap bidang sejarah. Karena itu tulisan-tulisan Bapak mengenai Surabaya 1945 sangat menarik perhatian saya dan menjadi salah satu referensi untuk penelitian saya tentang Pertempuran Surabaya 1945.
Pak Suparto, saya mempunyai foto (terlampir) tentang konvoi Bung Karno yang duduk di atas kap mobil yang sedang berlari kencang. Ada yang bilang bahwa itu foto Bung Karno saat mengunjungi Surabaya di akhir Oktober 1945. Tapi saya masih ragu dengan keterangan tersebut karena:
1. Benarkah Bung Karno berkonvoi di atas kap mobil di tengah-tengah suasana pertempuran yang sedang bergolak? 2. Apakah Surabaya sudah mempunyai prajurit pasukan pengawal Presiden seperti yang ditunjukkan di foto? 3. Benarkah foto ini diambil di Surabaya? Siapakah perwira yang duduk di kap mobil di samping Bung Karno tersebut?
Apakah Pak Yasin?
Saya menanyakan hal ini kepada Pak Suparto Brata, siapa tahu Bapak memiliki pengetahuan terhadap foto ini dan peristiwa yang menjadi latar belakangnya.
Demikian Pak, terima kasih banyak atas kesediaan Bapak menanggapi email ini. Semoga Bapak selalu dikaruniai kesehatan sehingga bisa terus menulis untuk menjadi pengetahuan bagi kami yang muda-muda ini.
Salam,
Osa Kurniawan Ilham
2013/9/19 Suparto Brata
Mas Osa yth,
Betul kecurigaan Mas Osa. Saya juga curiga seperti itu. Kalau itu foto Oktober 1945 di Surabaya, apakah kita sudah punya pengawal presiden seperti itu? Sebab kehadiran Bung Karno 29-30 Oktober 1945 di Surabaya sedang gencarnya orang-orang Surabaya mengepung tempat-tempat yang diduduki oleh pasukan Mallaby. Kedatangan Bung Karno memang diminta oleh pihak Inggris (Mallaby) yang sudah terkepung. Karena itu waktu dikabarkan bahwa Bung Karno akan mendarat Bung Tomo memerintahkan kalau yang mendarat bukan Bung Karno harap ditembak mati saja. Dan ternyata yang dating Bung Karno bersama Bung Hatta dan Amir Syarifuddin (menteri penerangan). Dari lapangan terbang Perak, langsung dimasukkan mobil deengan bendera merah-putih, menyeberang kota dalam hujan peluru menuju ke rumah Residen Sudirman (di daerah Pacarkeling, timur kota). Tidak mungkin membawa mobilnya seperti di gambar. Setelah mengatur siasat di rumah Residen Sudirman, lalu berunding dengan Mallaby di rumah dinas residen (sekarang namanya Grahadi). Masih dalam ketegangan. Di Grahadi diumumkan cease fire (gencatan senjata). Tapi bagaimana menyiarkannya? Sebab studio radio Surabaya (jalan Simpang) sudah hancur dibakar pejuang Surabaya 28 Oktober. Maka diumumkan lewat radio pemberontakan rakyat Surabaya (radionya Bung Tomo) di Jalan Mawar 10 (Mallaby juga ikut ke sana). Namun pengumuman lewat radio pun tidak efektif sebab zaman itu orang yang punya radio tidak banyak. Pejuwang Surabaya pasti sedang berjuang mengepung pasukan Inggris di tempat-tempat yang tersisa, tidak mungkin mendengarkan radio. Jadi suasananya masih sangat tegang. Tidak mungkin Bung Karno bias santai seperti di foto. Lalu siapa di kap mobil bersama Bung Karno saya pun tidak kenal. Tapi yang punya senjata dan alat perang hari itu memang Polisi Istimewa Pak Jasin. Juga yang mbembakar Radio Surabaya ya anak buahnya Pak Jasin (Suwito dan 2 orang temannya, saya punya naskah ketikan Suwito). Gambar Pak Jasin zaman itu belum banyak dikenal umum, juga belum saya kenal. Saya ketemu Pak Jasin di rumahnya di Jakarta 1986, sudah pension. Jadi juga tidak tahu itu foto siapa. Dan melihat suasana foto tadi, yang mengantar wajah-wajahnya cerita, dan orang biasa (bukan anggota delegasi). Mestinya 29 Oktober 1945 Bung Karno dikerubungi anggota delegasi. Seperti terlihat foto 30 Oktober sore hari sesudah perundingan di Kantor Gubernur, konvoi mobil mau berangkat ke Jembatan Merah, jelas yang duduk di kap mobil Dr.Sugiri. (meskipun zaman itu sama dengan Pak Jasin, foto-foto wajah pejuang belum popular) namun foto-foto Pak Dr.Sugiri yang tubuhnya pendek, sudah sering saya lihat dan kenali. Begitu yang bias saya jawabkan, Mas Osa. Sama. Saya juga tidak bias terka foto itu kapan dan di mana dan siapa. Maaf.
Hormat saya, Suparto Brata.
From: Osa Kurniawan Ilham
To: sbrata@yahoo.com
Sent: Thursday, September 19, 2013 9:01 PM
Subject: Fwd: Fwd: Pertanyaan mengenai Surabaya 1945
Pak Suparto Brata Yang Terhormat,
Sungguh sebuah kehormatan bagi saya mendapat balasan email dari Bapak. Terima kasih atas komentar bapak yang sangat berguna ini. Saya membaca sebuah fakta bahwa memang Bung Karno melakukan konvoi untuk menemui para pemimpin laskar di front tapi tidak dengan berdiri di atas kap. Di salah satu front mobilnya sempat dicegat Soemarsono yang menyatakan keberatan dengan adamya gencatan senjata. Apakah Pak Suparto bisa mengkonfirmasi kebenaran cerita di atas?
Sekali lagi terima kasih banyak Pak Suparto Brata.
Salam,
Osa Kurniawan Ilham
Dari Mayang

From: Mayang
Subject: Surat dari Jakarta (Mayang)
To: sbrata@yahoo.com
Date: Thursday, June 17, 2010, 10:43 PM
Halo kakek Suparto Brata,
Apa kabar? Semoga kakek sehat selalu. Aku dan keluarga di Jakarta pun baik-baik saja.
Sudah lama tidak menerima surat dari kakek. Tetapi secara berkala aku mengunjungi blog supartobrata.com.
Menyenangkan mengetahui bahwa kakek masih aktif menulis, dan khususnya ikut andil dalam zaman internet.
Juga melihat posts dari orang-orang yang memiliki ketertarikan dalam bidang sastra Indonesia.
Semoga semakin banyak orang dapat mengapresiasi keindahan karya-karya negeri kita, ya, kek.
Sekedar informasi, aku baru saja lulus dari SMA. Sekarang aku akan masuk ke sekolah penyetaraan di BSD selama 9 bulan.
Kemudian tahun depan, apabila Tuhan mengatakan "Ya!", aku berangkat ke Jerman untuk bersekolah di sana.
Doakan saja ya, kek. Semoga aku mampu menjadi yang terbaik untuk Indonesia.
Karena sibuk menyiapkan ujian dan lain-lain, aku menjadi sangat jarang membaca buku dan ke toko buku.
Aku bahkan tidak tahu apakah kakek sudah meluncurkan buku baru lagi atau tidak.
Tetapi yang kutunggu-tunggu ialah terutama buku berbahasa Indonesia, karena aku pun tidak mengerti bahasa Jawa.
Kulihat kakek banyak menulis buku berbahasa Jawa, ya, akhir-akhir ini?
Akhir kata, aku mendoakan supaya kakek dan keluarga mendapatkan rahmat kesehatan dari Yang Maha Esa.
Selain itu, juga menunggu kabar baik dari kakek di Surabaya.
Salam,
Mayang
NB: Atau jangan-jangan sudah lupa, Mayang yang mana? Hehe. Semoga ingat
Sabarudin
To: sbrata@yahoo.com
Date: Wednesday, November 18, 2009, 3:55 PM
pak Suparto, sebagai anak muda yang lahir di Madura sekarang tinggal di Jakarta. Saya banyak memperoleh informasi soal perjuangan Sabaruddin. Saya kebetulan panitia pencari makam Tan Malaka. Saya masih ragu, apa betul ada orang batak atau aceh berani sadis di Surabaya. Masa orang sadis punya pangkat perwira tinggi waktu itu.
Saya kira sabarudin korban Belanda. Yang saya baca dia pernah KNIL dan ditulisan bapak dia orang peta. Pada saat Agresi II apa betul Sabarudin dari
peta pro Belanda.Kasihan loh pak yang berjuang ikhlas malah dihukum gara gara saingan antar teman dan lalu dihukum oleh sejarah.
Matur suwun.
Erwin Meduro
Buku Donyane Wong Culika
Subject: Nyuwun pirsa
To: sbrata@yahoo.com
Date: Tuesday, November 10, 2009, 6:38 AM
Katur
Bapa Suparto Brata ingkang kinurmat,
Nuwun,
Kawula rumaos bingah bilih ing toko buku wonten buku-buku seratan Panjenengan, utaminipun seri Detektif Handaka.
Nanging ngantos sepriki kula dereng mrangguli buku Bapak ingkang mawa irah-irahan "Donyaning Wong Culika". Buku punika mila dereng ka-ecap punapa sampun telas ing pasaran.
Menawi sampun ka-ecap, wonten pundi kawula saged pikantuk buku punika.
Wasana cekap semanten, matur nuwun kawigatosanipun Bapak.
Salam,
Iskandar
Buku Kremil
Subject: Kremil
To: sbrata@yahoo.com
Date: Thursday, November 5, 2009, 10:14 AM
Pak Suparto Brata,
Setelah menunggu dan mencari selama setahun, ahirnya saya bisa dapatkan buku KREMIL, di toko buku online SOLO AGENCY BARU, hardcover, cetakan pertama.
Sewaktu saya beli awal bulan ini, mereka bilang punya sekitar 40 buku, jadi kalau ada penggemar bapak yang mencari buku ini, mungkin bapak bisa merekomendasikannya ke toko buku diatas.
Salam,
Herwin Bharata
Mencari Sarang Angin
Subject: MSA lagi
To: sbrata@yahoo.com
Date: Thursday, October 1, 2009, 11:41 AM
Bp.Suparto Brata yth.,
Mohon dimaafkan kalau saya baru sekarang dapat menulis.Waktu saya menulis "seprti buku baru ...dan tidak disentuh", bayangan saya, sbg buku obralan tapi masih utuh dan tidak lusuh/koyak sebagaimana biasanya terjadi pada buku-buku bekas yang diperdagangkan lagi.
Saya tertarik pada MSA terutama terdorong oleh judulnya yang sangat menggelitik. Langsung mengingatkan saya akan kisah Dewa Ruci yang intinya juga mengandung kisah pencarian jatidiri yang sebenarnya juga renungan si tokoh dengan nuraninya sendiri.
Saya menyimak MSA selama lima hari berturut-turut – inipun hanya terlaksana di siang hari karena harus menunggu selesainya kacamata bifocal yang perlu diganti. Seperti ulasan pak Basoeki Soenaryono, saya juga terkesan atas KECERMATAN BP MENYUSUN KISAH, MEMBANGUN WATAK tokoh-tokohnya..." sehingga pembaca enggan memutus pembacaan.
Kesan saya, dalam pembangunan watak tokoh terungkap pula betapa gambaran utuh tokoh di akhir cerita menjadi jelas dan tajam karena dalam prosesnya tersirat adanya hubungan erat antara sifat alami diri si tokoh dan pengalaman yang diperoleh dalam seluruh perjalanan hidup si tokoh.
Menurut pak Quinn, The Novel in Javanese,1992, Bapak sudah merintis masalah ini (dan juga analisis masalah-masalah sosial) sejak tahun 60an. Sayangnya saya tidak tahu sudah/belum beliau mengulas masterpiece Bapak, Donyane Wong Culika, atau barangkali malah sudah membicarakannya langsung dengan Bapak sendiri waktu berkunjung ke Surabaya, kalau tidak salah, pada th. 2008 y.l. Ada kesan saya yang lain, yaitu mengenai dialog antar tokoh dalam MSA yang terasa lebih wajar dan memperlancar pembacaan jika dibanding dengan dialog berpantun dalam Mahligai di Ufuk Timur.
Demikianlah Pak, semoga tanggapan pendek ini berkenan dihati.
Teriring salam takzim, Wirono
Email dari Frans Himawan
Subject: Re:
To: "suparto brata"
Date: Friday, August 21, 2009, 11:14 AM
Yth
Bapak Suparto Brata,
Salam Hormat dari Pengagum Bapak,
himawan
"MENGENANG H. ANSHARI THAYIB PEJUANG BERSENJATA PENA "
To: sbrata@yahoo.com
Date: Monday, August 10, 2009, 4:34 PM
E-mail : dayayung@gmail.com
URL : http://www.bt.bn.com
Terima kasih atas obituari Mas Anshari Thayib. Saya baru tahu bahwa beliau wafat setelah membaca obituari Bapak.
Bagi saya, Mas Anshari adalah guru yg baik dalam bidang jurnalistik di samping Mas Zaenal Muttaqin (Surabaya Post) dan Mas Dahlan Iskan (Jawa Pos).
Saya pertama kali berkenalan dg Mas Anshari saat jadi panitia Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya. Dan semakin intensif bertemu dan belajar saat bergabung dg majalah Muttaqin/Semesta pd 1979.
Waktu saya diterima di UI, saya diminta untuk menjadi koresponden dan menerima penugasan2 dari almarhum. Hingga majalah yg diawaki kaum muda Muslim itu kolaps. Saya kemudian sejenak jadi koresponden Jawa Pos di Jakarta, pindah ke The Jakarta Post. Sejak itu komunikasi kurang lancar. Hingga saya dengar beliau bergabung di Surya dan menjadi anggota PWI/SPS Jatim dan Komnas HAM.
Sekali lagi terima kasih, Pak Suparto. Semoga Allah swt menerima segala amal baiknya dan mengampuni segala dosa dan kesalahannya.
Sekarang saya bekerja di The Brunei Times. Sekedar info, saya jg adalah penggemar novel Bapak. Waktu di The Jakarta Post, saya sempat membaca beberapa novel Bapak yg diterbitkan Gramedia, dan sempat membuat resensi salah satu buku yg bersetting zaman Jepang.
Harapan saya, semoga Bapak sehat wal afiat dan terus berkarya.
Darul Aqsha
Bandar Seri Begawan
Budaya Arek
From: RIBKA WARDHANI
Jawaban saya :
Mbak Ribka yang baik,
Ini saya reply langsung, mudah-mudahan tidak terlalu melebar ke mana-mana.
Sangat jelas, bahwa bahasa tutur adalah ibu kandung dari budaya etnis maupun bangsa. Adanya bahasa tutur menjilmakan budaya bangsa menjadi lain daripada budaya bangsa yang lain bahasanya.(antara lain lihat makalah Esmiet yang saya tayangkan di blog saya: Jangan lagi ada tangisan Sastra Jawa).
Jadi kalau bahasa pisuhan diucapkan oleh suatu subetnik, tentu saja itu jadi budaya etnis tersebut. Misalnya ketika saya masih kecil ikut eyang saya di istana bangsawan Solo, para bangsawan berbicara kasar (ngoko) kepada para hambanya meskipun si hamba lebih tua, kata kasarnya tadi seringkali disertai pisuhan (umpatan), yaitu menjadi budaya orang Solo waktu itu yang masyarakatnya feodalistik. Jadi tidak usah heran apabila bahasa tutur apapun filosofinya itu menjadi budaya bangsa yang menuturkan bahasa itu. Termasuk bahasa pisuhan etnis arek di Jawa Timur.
Berteriak "jancuk" orang Surabaya, belum tentu itu misuh yang jelek, meskipun artikata "jancuk" itu sangat vulgar.
Saya ingat pernah baca artikel (baca tahun 1959-1960-an), bahwa di Skotlandia (Inggris) seringkali diadakan lomba adu pisuh-pisuhan, lomba hebat-hebatan secara spontan misuh-misuh, bahasa mereka, ada jurinya dan dapat hadiah mana yang melakukan pisuhan terbaik.
Apakah bahasa pisuhan harus diabadikan atau tidak, saya kira sosial budaya manusia ini selalu bergeser berhubung dengan bertambahnya teknik kehidupan dan komunikasi antar bangsa, maka pemilihan budaya termasuk bahasa tuturnya juga bergeser dan berubah menurut keperluan zamannya. Misalnya pendapat Anton Mulyana, bahwa hilangnya bahasa etnis Jawa, Sunda, tidak perlu ditangisi atau dikecewakan (pendapatnya diperjuangkan sejak 1975) tapi menurut Ayip Rosidi, (dan Unesco) bahasa ibu harus dipertahankan bahkan dikembangkan.
Jadi Mbak ikut yang mana, dipertahankan atau dihapuskan saja? Begitu Mbak, jawaban saya. Semoga memuaskan. Saya senang Mbak tanya-tanya begitu,sebab juga mengasah ingatan dan pendapat saya.
Terimakasih.
Suparto Brata.
Email dari Ribka Wardhani
Nama saya Ribka Wardhani, saya mahasiswa departemen Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga. Saat ini saya sedang menulis skripsi mengenai majalah wanita yang bernama Kartika.
Sehubungan dengan hal itu, saya berharap Bapak berkenan untuk membantu saya untuk mengetahui beberapa berkenaan dengan penelitian yang saya lakukan:
1. berasal dari bahasa apakah kata Kartika? Apakah benar ini berasal dari bahasa Sansekerta ataukah bahasa Jawa? 2. Selama ini saya mengamati kalau kata Kartika banyak dipakai sebagai nama orang, dan lebih banyak digunakan untuk nama perempuan dibanding laki-laki, kenapa hal ini bisa terjadi, apakah karena kata Kartika punya kesan yang feminin jadi lebih cocok dipakai untuk perempuan. 3. Bisakah Bapak yang terhormat memberikan saya buku yang dapat saya gunakan sebagai sumber referensi untuk mengartikan kata Kartika misalnya ensiklopedia bahasa Jawa atau sumber lain?
Demikian surat ini saya buat, atas perhatian dan kebaikan hati Bapak untuk mau berbagi ilmu, saya mengucapkan terimakasih. Semoga Tuhan YME membalas kebaikan hati Bapak.
Salam hormat, Ribka Wardhani.
Jawaban:
Kartika berasal dari bahasa Sanskerta. Kartika adalah nama bintang. Dalam bahasa Indonesia bintang tadi disebut Bintang Tujuh. Bisa dilihat pada buku Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Balai Pustaka 1997, halaman 448.
Email Sat, 5/23/09, RIBKA WARDHANI
Terimakasih banyak atas jawaban dan informasi yang bapak berikan. Sebenarnya ada satu hal lagi yang mengganjal di hati saya mengenai kata “Kartika”, saya berharap bapak berkenan untuk kembali membantu saya.
Kalau saya tidak salah sejauh pengamatan saya lebih banyak perempuan yang diberi nama Kartika daripada laki-laki, apakah itu barangkali Kartika punya kesan yang feminin jadi lebih cocok dipakai untuk nama perempuan atau ada filosofi tertentu di balik nama itu? (Mohon maaf kalau salah, saya hanya mengira-ngira saja).
Kemudian mengapa Kartika disebut bintang tujuh. Apakah makna dari bintang tujuh? Apakah mungkin itu dihubungkan dengan urutan bintang itu yang menempati urutan ke tujuh? Saya mohon petunjuk dari Bapak. Saya sama sekali tidak memahami mengenai hal tersebut. Terimakasih atas kesediaan Bapak membantu saya.
Jawaban (reply jam 0300)
Wahdhuh, Mbak, kalau soal nama saya kurang paham. Apalagi zaman sekarang. Benda di langit digunakan sebagai nama perempuan memang barangkali ada rasa feminin cocok untuk perempuan, misalnya Wulan Guritno.
Tetapi Damarwulan adalah laki-laki. Saya juga kenal seorang laki-laki bernama Bambang Kartiko, juga laki-laki. Kiper kesebelasan Persija, Hendro Kartiko juga laki-laki. Dulu nama-nama orang Jawa lebih gampang ditandai seseorang itu laki-laki atau perempuan dari namanya. Kalau ucapannya o itu laki-laki, kalau i itu perempuan. Misalnya Suparto laki-laki, Suparti perempuan. Mbak Ribka namanya Wardhani, saya perkirakan perempuan, karena Ribka saya tidak tahu dari bahasa apa dan bagaimana filosofinya. Tapi filosofi Jawa (o laki-laki, i perempuan) seperti itu sekarang sudah tidak berlaku lagi. Kartika bahasa Indonesianya dinamakan Bintang Tujuh, karena itu nama gugusan bintang yang jumlahnya tujuh.
Dalam bahasa Jawa ada gugus bintang yang namanya lintang waluku. Dulu waktu saya masih kecil, para petani di desa akan menggarap sawahnya kalau Lintang Waluku ini sudah terlihat di langit. Waktu kepanduan (pramuka) gugusan bintang-bintang juga kami gunakan sebagai petunjuk arah utara-selatan.
Di tengah laut atau sawah malam hari, lewat gugusan bintang kami bisa mengetahui mana arah selatan dan mataangin lainnya. Jelas sekali, “bintang tujuh” nama gugusan bintang berjumlah tujuh.
Jawaban susulan (siang harinya)
Mbak Ribka yang baik.
Maaf, Mbak. Reply saya tadi pagi mungkin menimbulkan salah tafsir. Maklum saya jawab jam 0300, langsung di komputer ketika mau mengisi web saya. Sepanjang bulan Mei ini saya mengetik kisah yang saya alami pada zaman Jepang di Surabaya, untuk menyambut hari jadi Kota Surabaya ke 716. Kalau panitya HUT dan para pengusaha mall di Surabaya merayakan HUT secara fisik, hura-hura, berbelanja di mall dapat diskon murah, maka saya menyambutnya secara personal (tidak berhubungan dengan panitya HUT) dengan menulis cerita Surabaya zaman Jepang. Itu saya ketik selama bulan Mei setiap jam 0300-0700, semoga dapat saya pasang di website saya sebelum hari jadi Surabaya 31 Mei 2009. La pertanyaan Mbak masih dalam saya sibuk imenyiapkan tulisan Surabaya zaman Jepang itu. Maklum agak rancu.
Jadi begini: Kartika itu bahasa Sansekerta (menurut kamus besar Indonesia) dan berarti nama bintang, yang bahasa Indonesianya bintang tujuh. Mengapa kartika dalam bahasa Indonesia Bintang Tujuh? Karena itu nama gugusan bintang yang jumlahnya tujuh. Yang keliru jawaban saya tadi pagi (mungkin menimbulkan salah tafsir), yang saya jadikan contoh Bintang Tujuh (yang jumnlahnya tujuh) adalah yang dalam bahasa Jawa disebut lintang waluku. Terus terang, nama (gugusan) bintang yang bahasa Jawa saya ragu bahasa Indonesianya. Ada lintang waluku, jaka belek, panjer sore, gubuk penceng, prau. Dalam bahasa Indonesia ada kartika, bintang tujuh, kejora, bintang timur Kalau kartika namanya juga bintang tujuh, merupakan gugusan bintang yang jumlahnya tujuh, maka dalam bahasa Jawa gugusan bintang yang jumlahnya tujuh bukan lintang waluku yang saya jawabkan tadi pagi. Gugusan bintang yang jumlahnya tujuh, pada bahasa Jawa adalah lintang gubuk penceng. Bentuknya gugusan kecil 5 seperti layang-layang atau dangau di tengah sawah yang reyot, agak jauh dari gugusan 5 itu ada bintang bersinar terang 2 buah (jadi jumlahnya 7). Terbitnya di langit sebelah selatan. Juga bisa digunakan petunjuk arah selatan-utara. Jadi sebenarnya orang Jawa sejak dulu sudah menggunakan ilmu perbintangan sebagai tuntunan hidup. Entahlah bangsa Jawa sekarang mengakui atau tidak bahwa nenek-moyangnya sejak dulu menguasai juga ilmu perbintangan (tidak bodoh). Karena generasi muda Jawa sekarang sudah jarang sekali melihat bintang di langit waktu malam, jadi perbintangan Jawa sudah tidak ditengoknya lagi. Itu yang perlu saya betulkan dari jawaban saya tadi pagi.
Email Sun 5/24/09. RIBKA WARDHANI.
Terimakasih Bapak bermurah hati menyempatkan waktu di tengah kesibukan Bapak berbagi ilmu kepada saya di pagi buta. Saya tidak mempermasalahkan dua keterangan Bapak yang menurut Bapak memiliki perbedaan. Bagaimanapun itu sangat berguna buat saya. Saya malah sangat berterimakasih kepada Bapak. Semoga Bapak selalu sukses dengan kegiatan yang Bapak lakukan dan semoga di lain kesempatan saya bisa kembali menimba ilmu dari Bapak baik secara langsung atau via email. Terimakasih.
Email dari Jerman
From: arinda@t-online.de
Subject: kabar apa?
To: "Suparto Brata"
Date: Tuesday, April 28, 2009, 3:07 PM
Mas Suparto Brata,
Sesekali saya masih juga baca tulisan di blog-nya. Tentu
saja banyak mengingatkan saya pada masa-masa silam yang
kelam. Saya teringat ketika jadi saksi dalam pernikahan
Sukanto SA di Surabaya dulu. Tetapi nama istrinya bukan
Suryaningsih melainkan Surtiningsih Wt., juga berteman dekat
dengan saya dulu itu. Sampai sekarang Sukanto masih
berkorespondensi dengan saya, namun Surti sudah
mendahuluinya berangkat tahun 2004 yang lalu.
Ajip Rosidi, teman dekatnya Sukanto sejak di Taman Siswa
Jakarta, pertengahan April lalu (tanggal 12 sampai-14) malah
singgah dan menginap di rumah kami di Jerman. Bukan main!
Setengah abad lebih saya kenal namanya tapi baru sekarang
ketemu orangnya. Dia tinggali saya buku biografinya, HIDUP
TANPA IJAZAH, tebalnya 1330 halaman, terbit ketika usinya
genap 70 tahun akhir Desember 2008 yang lalu.
Beberapa hari setelah Ajip pulang, kami ketamuan penyair
Dorotea Rosa Herliany (Indonesia Tera, peraih hadiah
Katulistiwa bidang puisi tahun 2007) dengan suaminya
(Andreas, seorang pelukis muda). Mereka sedang berada di
Jerman atas dana Lembaga Heinrich Böll hingga akhir Juli
nanti. Rasanya saya seperti kembali jadi calon sastrawan
karena dikunjungi sastrawan tua maupun muda...
Sedikit tambahan untuk tulisan Mas Parto itu. Saya pergi ke
luarnegeri dulu bukan karena tugas yang diberikan Goei Po An
(direksi TM) melainkan atas keputusan PWI yang tentu saja
saya terima. Saya ditunjuk PWI Pusat dalam posisi selaku
Ketua Bagian Hukum dan Pembelaan PWI Surabaya ketika itu.
Belakangan saya dibantu Pak Hendro (Kepala Perwakilan KB
Antara di Jerman) sampai bisa tinggal di negeri ini hingga
sekarang. Beliau dulu bekas guru saya di Tuban, sedangkan
ayah saya penilik sekolahnya. Bau-bau KKN ya Mas? Tapi Pak
Hendro belakangan ditarik kembali ke Jakarta dengan
kedudukan sebagai wartawan istananya presiden Suharto hingga
masa pensiunnya. Beliau sudah lama wafat.
Salam saya,
Soeprijadi Tomodihardjo.
Email dari Italy
Subject: hallo
To: "suparto brata"
Date: Monday, April 6, 2009, 2:08 PM
Hallo pak Brata, apa kabar ???? lama sekali kita tidak kontak, semoga bapak selalu dalam keadaan sehat...
Apa sudah ada buku baru pak? tahun kemarin bulan agustus waktu saya pulang beli Omnibus di gramedia, tapi sampai sekarang belum saya baca, karena saya eman2 hehehehe..dan sekarang sudah musim semi disini, insyaallah nanti musim panas saya pulang kampung lagi..
Nyuwun duka pak Brata, kalo boleh saya minta alamat panjenengan lagi sebelumnya terimakasih banyak..
Pareng dulu ya pak, saya baru saja pindah rumah, sekarang tidak tinggal diMilano lagi tapi di Bergamo sekitar 30 kilo meter dari Milano, tapi lebih dekat dengan danau Como, dan juga dekat ke danau Lugano di Switzerland, saya tinggal didesa jadi udaranya masih sangat segar dan menyenangkan...
Mohon doa restunya..kita saling berdoa, mudah2an saya diberikesempatan untuk sowan kendalemnya bapak, yang saya ingat cuma daerah rungkut, tapi alamat lengkapnya kurang tahu hehehehe..maaf ya..
salam,
Email dari Sdr. Ibnu Winarko
Subject: LINTANG PANJER SORE
To: sbrata@yahoo.com
Date: Wednesday, October 15, 2008, 7:29 PM
Judul : LINTANG PANDJER SORE (1966)
Karangan : Suparto Brata
Cover : Sri Widjono
Penerbit : CV Gema, Sala

Halaman : 67
“ Sebutan untuk penyanyi yang sedang kondang waktu itu dan digandrungi oleh seorang pengarang muda. Si gadis mau dinikahi asal si pemuda dapat mengarang buku sebanyak 2500 halaman dalam waktu lima tahun. Naskah bisa selesai, namun ditolak oleh penerbit. Putus asalah si pemuda. Tak kurang akal si pemudi, dengan dananya sendiri, diterbitkanlah novel tersebut sebagai mas kawinnya"

masih ingatkan pak dengan saya?
tanpa seijin bapak saya sudah meng-upload beberapa sampul buku karya pak parto.
maksud dan tujuannya adalah untuk mengenalkan kepad yang masih2 muda seumuran saya atau dibawah saya bahwa dulu ada buku seperti roman panglipur wuyung yang pernah melegenda dan booming pada tahun 60-an. bapak bisa lihat di site multiply saya : benugila2007.multiply.com
saya masih bertanya2, tentang pelukis covernya..pak SRI WIDJONO, kira2 bapak masih kenal ga ya?atau ada alamat yg bisa saya kunjungi?
Email dari Zakiya Mustaine
Subject: Fwd: Hello (ween) Mr. Brata.......
To: sbrata@yahoo.com
Date: Wednesday, September 17, 2008, 2:13 AM
Mm.. Ngomong-ngomong buku yg saya dapat dari menjawab
pertanyaanmoderator yg ada tanda tangannya Bapak
saya simpan dg baik dan tidak saya pinjamkan ke teman-teman karena takut rusak (maklum, buku pertama yg dapat tanda tangan seorang sastrawan hebat seperti Bapak).
Sekali lagi, terima kasih atas inspirasinya dan tanda
tangannya.
Warmest regards,
Penulis favoritku
Setelah itu, saya membaca "KREMIL". Saya (lagi - lagi) dibuat terpesona dengan penokohan yang bisa dikatakan rumit. Mengambil lokasi salah satu tempat prostitusi yang ada di Surabaya, bapak dengan gamblang menceritakan detail dari lokasi tersebut. Buku ini (lagi - lagi) dipinjami oleh Mahesa Winardi.
Buku ketiga yang saya baca adalah "Saksi Mata" yang mengambil setting masa penjajahan Jepang. Saya cukup dibuat bingung dengan beberapa pengulangan kisah yang terkadang lebih dari 1 kali. Katakanlah saat tokoh utama memergoki bibinya melakukan perbuatan tidak senonoh.. Buku ini saya pinjam di Perpustakaan Daerah Jawa Timur.
Sejak saat itu, saya "terobsesi" dengan buku karangan bapak. Dan ternyata, pada tahun 2006, saya mendapat kado ulang tahun dari kenalan saya sebuah buku yang berjudul "Mencari Sarang Angin". Penokohan yang unik dengan penggambaran kehidupan keraton yang sakral. Semangat hidup dari tokoh utama yang terus berusaha hidup tanpa bantuan dari ayahandanya, sekalipun kota sedang diserang oleh Jepang dan diteruskan dengan gerak - gerik Partai Komunis.
Beberapa waktu yang lalu, saya jalan - jalan ke Gramedia dan menemukan buku bapak "Kerajaan Raminem". Ketika saya baca resensi di halaman belakang, taulah saya bahwa buku tersebut adalah buku kedua dari trilogi Gadis Tangsi, sedangkan pada saat itu, tidak ada buku pertama maupun buku ketiga. Sungguh tidak menyenangkan membaca suatu cerita tidak dari awal.
Tidak lama setelah itu, akhirnya saya menemukan "Gadis Tangsi" dan "Mahligai di Ufuk Timur". Saya tidak pernah tidak terkesan dengan buku karangan bapak.
Nilai positif yang bisa saya berikan kepada bapak adalah karena bapak selalu dapat menjelaskan setting maupun lokasi yang bapak gunakan secara detail.Dan kebanyakan, Bapak mengambil setting Soerabaia tempo doeloe..
Saya sangat menunggu buku terbaru dari Bapak..Saya harap Bapak berkenan memberikan kabar kepada saya apabila bapak telah mengeluarkan buku baru (dalam bahasa Indonesia karena saya tidak terlalu mengerti bahasa Jawa), baik judul maupun harganya.Terima kasih.
Salam hormat,Vanda Kemala Sari
Email dari George Quinn
Tanggal 03 mei ini saya terima email dari Dr George
Quinn, sebagai berikut:
Bapak Suparto Brata yang sangat saya hormati. Semoga
bapak masih ingat pada saya (pernah bertemu beberapa
kali di pertemuan sastrawan Jawa). Pada tanggal 1 dan
2 Juni yad saya akan singgah di Surabaya.
Saya ingin memperoleh terbitan-terbitan Bapak yang terbaru,
sekalian berwawan-rembug sedikit dengan Bapak. Apakah
Bapak dapat meluangkan waktu barang setengah jam untuk
menerima kedatangan saya ke rumah pada hari Minggu tgl
1 Juni atau Senin tgl 2 Juni (sore hari)? Teriring
salam hormat, George Quinn.
Dr. George Quinn, Canberra ACT 0200, Australia.
Begitu, terima kasih.
Bapak.
Email dari Jerman
To: "Suparto Brata"
Subject: adres baru
From: "arinda@t-online.de"
Mas Suparto Brata,
Mulai hari ini adres e-mail saya berubah menjadi arinda@t-online.de
Saya tidak bosan-bosan menerima berita dari Mas Parto, meskipun cuma selalu tentang terbitnya buku-buku baru. Saya sendiri lagi mangkrag.
Salam hangat saya ya Mas.
Date: Sat, 19 May 2007 16:27:19 +0200
To: "Suparto Brata"
Subject: blog
From: "arinda@t-online.de"
Mas,
Blog panjenengan wis dak ungak. Upama aku mbukak perpustakaan dhewe, gedhene omahku wis ora cukup nggo nampung buku-buku karangan panjenengan. Arepa maca sepuluh judhul wae ya sepuluh tahun nembe tamat. Ning yen mung maca judhulu thok suwengi mesthi tamat. Dhik Bas sajake ya nulis resensi neng blog njenengan. Aku dhewe wis ora blog-blogan, mundhak kepuyuh-puyuh.
Lha nek nerbitke buku nganggo ragade dhewe itu enteke pira Mas? Apa ya nyaosi royalti kagem penyuntinge? Paring keterangan ya Mas!
Wah apa payu yen cara Jowoku ra karuan ngene...
Salamku Mas, aja lali ngabari yen bukune terbit meneh.
ST.
Date: Sat, 19 May 2007 17:38:54 -0700 (PDT)
From: "suparto brata"
Subject: Re: blog
To: "arinda@t-online.de"
--- "arinda@t-online.de"
---------------------------------
Mas Pri,
Yen nerbitake buku dhewe biayane nganti 8 yuta rupiyah
entuk buku 500 jilid. Mengko didol dhewe, utawa
dititipake menyang toko buku. Yen dititipake menyang
toko buku toko buku njaluk komisi 60 persen saka rega
bukune, dadi kene ya mung nampa 40 persen saka rega
buku mau. Untunge sithik banget. Nanging ya kuwi mau,
anggonku nerbitake buku basa Jawa marga aku kepengin
yen crita basa Jawa kuwi uga klebu anggotane sastra
dunia (niru majalah Siasat tiga menguak takdir). Dadi
meh ora ana keuntungan finansial. Ya wis ora papa.
Anggonku nerbitake buku basa Jawa ora mung bukuku
dhewe, nanging aku ya nyokong bukune kanca-kanca. Ya
sabisa-bisaku.
Samene sik ya Mas. Iki aku isih golek komputer neng
Jakarta. Marga komputerku ing Surabaya rusak, ora kena
dienggo email-emailan.
Suparto Brata
Type rest of the post here
Email dari Nina Setyaningsih
From: "Nina Setyaningsih"
Yahoo! DomainKeys has confirmed that this message was sent by gmail.com. Learn more
To: "sbrata@yahoo.com"
Subject: kepada Pak Suprapto Brata
Sugeng ndalu Pak Suparto Brata,
Salam kenal, Pak. Saya Nina, dari Semarang. Kemarin ada pameran buku dan saya nemu bukunya Pak Suparto yang berjudul Gadis Tangsi. Saya lihat sinopsisnya di halaman belakang dan tertarik membacanya. Saya lihat itu trilogi, tapi saya cuma beli yang Gadis Tangsi. Saya punya feeling bukunya bakalan bagus, tapi sayang saya uang saya kurang...haha..(padahal diskon). Semoga nanti saya bisa menemukan buku-buku lanjutannya.
Sekarang sudah baca sampai separo halaman. Gadis Tangsi novel yang bagus sekali :). Menurut saya novel ini satu genre dengan novel Para Priyayi karangan Umar Kayam. Saya paling suka membaca novel semacam itu karena saya jadi lebih tahu hal-hal mengenai budaya Jawa dan bisa membayangkan gambaran kehidupan terutama kehidupan orang Jawa di jaman penjajahan dulu. Ibu saya kelihatannya juga tertarik membaca Gadis Tangsi, haha.
Saya jarang melihat novel Pak Suprapto. Di perpustakaan juga sepertinya saya belum pernah nemu (mungkin malas ke perpus juga, hehe). Dulu waktu nemu buku Para Priyayi di Perpusda saja bukunya sudah kumal. Mungkin anak muda sekarang lebih suka novel-novel teenlit atau novel yang lebih populer.Tapi saya beruntung menemukan novel karangan Bapak :). Ternyata setelah googling di internet saya jadi tahu tulisan-tulisan Bapak. Great!! Saya harap bisa menemukan karangan Bapak yang lainnya.
Sekian email saya. Terima kasih atas karyanya. Semoga selalu sehat dan terus menulis serta mengangkat budaya Jawa.
Nina.
Date: Fri, 25 May 2007 19:26:46 -0700 (PDT)
From: "suparto brata"
Subject: Re: kepada Pak Suprapto Brata
To: "Nina Setyaningsih"
Mbak Nina yang baik,
Terima kasih atas emailnya yang menyanjung saya itu.
Sayang komputer saya sedang rusak, jadi saya perlukan
ini lewat warnet, kok ada emailnya Mbak Nina. Ya novel
gadis Tangsi suatu trilogi, seluruh bukunya sudah
terbit (Gadis Tangsi, Kerajaan Raminem, Mahligai Di
Ufuk Timur), penerbitnya sama Peneerbit Buku Kompas.
Semoga Mbak bisa mendapatkan novel-novel itu, syukur
dengan harga murah atau nyewa di perpustakaan. Selain
itu penerbit yang sama juga menerbitkan buku saya
Saksi Mata, cerita zaman Jepang. Cerita lain orang
Jawa zaman saya adalah Mencari Sarang Angin,
diterbitkan oleh Grasindo, tentunya gampang dicari di
Gramedia. O, iya pada buku akhir tentang Teyi (Gadis
Tangsi) pada buku Mahligai, ceritanya Teyi masuk ke
istana Jayadiningratan Surakarta Hadiningrat. Rumah
itu rumah kakek saya, yang saya ceritakan dalam novel
tadi. Ternyata rumah itu sekarang namanya Jayakusuman,
adalah dimiliki oleh Wijanarka Puspoyo, Kepala Bulog.
Jadi kalau ibunya Mbak Nina mau tahu keadaan istana
itu zaman dulu, silakan baca novel tadi. Sekarang
setelah Wijanarka Puspoyo dipenjara, rumah itu
kabarnya ditawarkan sebelas milyar rupiah! Wah, semoga
Mbak Nina mau menawarnya. Kalau tahu riwayatnya tentu
Mbak Nina berhasrat sekali memilikinya bukan?
Ha-ha-ha. Terima kasih, ya.
Suparto Brata.
Date: Sun, 27 May 2007 11:25:56 +0700
From: "Nina Setyaningsih"
Yahoo! DomainKeys has confirmed that this message was sent by gmail.com. Learn more
To: "suparto brata"
Subject: Re: kepada Pak Suprapto Brata
sugeng enjang pak suparto..
terima kasih atas balasan emailnya. oh ya saya juga minta maaf karena salah menuliskan nama bapak di email saya dulu...waduh jadi malu saya pak...hehe...sudah dimuat di blog lagi...jadi malu dua kali, hahah...ngapunten sanget lho pak...sungguh tidak sengaja...
NB: wah sebelas miliar itu uang semua pak?..haha...
Email dari Nursiyanto
From: "Nursiyanto - 7502022JA"
To: sbrata@yahoo.com
Subject: Info Novel basa jawa
Pak Supartasalah satu penggemar novel-novel anda.
Bagaimana cara mendapatkan Novel-Novel basa Jawa anda ? Karena saya
cari di beberapa toko buku tidak saya ketemukan
Saat ini saya cuma bisa mendapatkan 2 buah novel basa jawa : Donyane
wong Culiko & Dom sumurup ing banyu
terimakasih.
Date: Sat, 19 May 2007 17:57:21 -0700 (PDT)
From: "suparto brata"
Subject: Re: Info Novel basa jawa
To: "Nursiyanto - 7502022JA"
--- Nursiyanto - 7502022JA
wrote:
> Mas Nursiyanto yang baik,
Saat ini komputer saya masih rusak, ini saya jawab
lewat warnet. Untuk memperoleh buku bahasa Jawa salah
satunya di Redaksi Jayabaya, Jl Karah Agung 45 (kantor
Jawapos lama), ada buku saya: Sanja Sangu Trebela,
dan di Redaksi Panjebar Semangat (Jl Bubutan 87/Gedung
Nasional 2) Surabaya, ada buku saya Cintrong Traju
Papat (fotocopyan) harga Rp 40.000,00. Dan ada juga di
Penerbit Narasi Jogja (tilpun 0274 620 879
penerbitnarasi@yahoo.com, di sana ada Trem (selain Dom
dan Donyane Wong culika). tahun 2007 akan terbit di
narasi tiga buku bahasa Jawa saya yaitu: Suparto
Brata's Omnibus, Jaring Kalamangga, dan Emprit Abuntut
Bedug. Mas Nur bisa pesan langsung saja ke
tempat-tempat itu dengan biaya kirim Rp 15.000. Sedang
saya usahakan menerbitkan buku-buku basa Jawa lainnya
secepatnya. Terima kasih atas perhatiannya.
Suparto Brata
Date: Mon, 21 May 2007 15:31:18 +0700
From: "Nursiyanto - 7502022JA"
To: "suparto brata"
Subject: Re: Info Novel basa jawa
terimakasih banyak Pak Suparta,
saya akan menunggu terbitan novel-novel anda ...
noers
Type rest of the post here
Email dari Farischa Indri Kumala
Date: Fri, 22 Dec 2006 10:05:56 +0700
From: "Farischa_I_Kumala"
To: sbrata@yahoo.com
Sugeng enjang pak Parto Brata…
Perkenalkan, nama saya Rischa.. saya penggemar berat novel-novel karya bapak… termasuk teman-teman saya di jakart..
Saat ini saya berdomisili di Jakarta...
Saya ingin mendapatkan novel-novel bapak yang lain ...
Saat ini saya sudah punya : Aurora, Kremil, Gadis Tangsi, Kerajaan Raminem dan Saksi Mata...
Saya mencari novel bapak yg lain, seperti saputangan gambar naga & donyane wong culiko , tapi susahnya minta ampun.. mohon diinfo kalau bapak masih ada stock.. nanti dana penggantinya akan saya kirimkan kepada bapak...
Pak, Mahligai di Ufuk Timur kapan terbitnya.. kami di sini sudah menunggu-nunggu dengan tidak sabar sekali... mohon dipercepat ya pak.. kami penasaran dengan lakon Teyi selanjutnya... beneran lho pak.. sumpah ... J J
Cekap semanten riyin nggih pak... kami tunggu informasi dari bapak .. terima kasih atas perhatiannya ya pak....
farischa indri kumala
Date: Sat, 12 May 2007 18:00:47 -0700 (PDT)
From: "suparto brata"
Subject: Re: FANS BERAT Bapak..
To: "Farischa_I_Kumala"
Mbak Farischa yth.
Bagaimana sudah dapat buku-buku saya? Cari di Gramedia
biasanya banyak, kok. Mahligai di Ufuk Timur sudah
terbit Februari lalu. Mbak, kalau Mbak bekerja di
............. mestinya kenal menantu saya, Mbak Yt
. Hari ini, 13 Mei saya kirim email dari
rumahnya. Karena komputer saya di Surabaya sedang
rusak, kini saya mau cari komputer di Jakarta lewat
Mbak Yt. Sekian dulu. Oh, ya bisa lihat blogspot
saya www.supartobrata.blogspot.com.
Suparto Brata.
Subject: RE: FANS BERAT Bapak..
Date: Mon, 14 May 2007 09:19:33 +0700
From: "Farischa_I_Kumala"
To: "suparto brata"
Wah sugeng enjang pak..
Lho sedang di Jakarta dong sekarang...
Kami kenal dengan bu Yt... senengnya ..
Kalau gitu boleh yah kami minta tanda tangan bapak di buku kami?
Pengen banget lho bisa ketemu bapak ...
Saya cari buku bapak yg lain sudah nggak ada pak ... kalau bisa beli di
bapak ajah, mungkin ada yg dobel .. he he he
Mau keluar apa lagi novel selanjutnya?
Saya doyan banget kalau settingnya jaman dulu ... asyikk.. gayeng pak
...
....
Seneng saya dapat email dari bapak hari ini...
Hari ini pasti lebih indah ...
Maturnuwun nggih pak ...
farischa indri kumala
Date: Sat, 19 May 2007 18:10:53 -0700 (PDT)
From: "suparto brata"
Subject: Re: udah ketemu mbak Yt...
To: "Farischa_I_Kumala"
Mbak Farisa yang baik,
terima kasih atas perhatiannya. Kini saya masih
numpang komputer di rumah mbak Yt . Kalau sulit cari buku saya ya cari
saja ke penerbitnya (kirim surat atau email) salah
satunya penerbit narasi Jogya, Telp. 0274.620 879
penerbitnarasi@yahoo.com. Di sana ada buku saya:
Lelakone Si Lan Man, Donyane Wong Culika, Dom Sumurupe
Banyu. Dan tahun ini juga akan diterbitkan di sana:
Jaring Kalamangga, Emprit Abuntut Bedhug, dan Suparto
Brata's Omnibus. Buku bahasa Indonesia yang berkisah
masa lalu juga akan terbit 2007 oleh PT Grasindo: Tak
Ada Nasi Lain. Kalau yang bahasa Indonesia saya kira
gampang carinya kan?
Silakan titip bukunya ke Mbak Yt, mau ketemu saya?
He-he-he. Wajah saya sudah pating plethot itu, bukan
seperti selebritis mudha.
Suparto Brata.
Subject: udah ketemu mbak Yt...
Date: Mon, 14 May 2007 13:35:15 +0700
From: "Farischa_I_Kumala"
To: "suparto brata"
Halo bapak...
Tadi sudah ketemu ama mbak yt ... ngobrolnya seru banget ...
Pak, kalau ada buku-buku bapak yang masih bapak punya serepnya yah..
Kamisemua yg disini pada mau pak..
Bener, sumpahhh .. he he he
Alhamdullillah bapak masih sehat banget kata mbak yt yah...
Jadi pasti masih banyak peristiwa yang bakal disampaiin ke kami nanti
yah... pakai setting jaman dulu ya pak, saya demen banget ...
Besok saya mau minta tanda tangan bapak ya pak, saya titipin bukunya ke
mbak yt ... mohon dikasih 'tapak asma' nggih pak ...
Pengen ketemu bapak secara langsung neh .. :) :)
Sampun nggih pak ...
Maturnuwun sanget....
farischa indri kumala






