Showing posts with label Kata Mereka. Show all posts
Gadis Tangsi Karya Suparto Brata

Saya sangat kaget pada ending cerita karena sangat berbeda dengan prediksi yang ada dalam benak saya saat belum selesai membacanya. Saya mengira bahwa ceritanya akan berending sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Ternyata tidak. Sungguh hebat,
Teyi…..itulah nama tokoh utama yang terdapat dalam novel ini. Seorang gadis cilik yang hidup dalam lingkungan tangsi yang keras. Hidup dengan penuh perjuangan demi memenuhi cita-cita orang tuanya. Menurut saya, dalam cerita ini terdapat ekploitasi pada anak. Kenapa? Karena dalam cerita ini, bagaimana seorang gadis kecil, dipaksa oleh ibunya untuk selalu bekerja, bekerja dan bekerja demi menupulkan uang lebih banyak demi alasan agar biasa kaya.
Semangat sang ibu untuk mengumpulkan kekayaan ini terpicu kala seorang kerabatnya (adik iparnya) yang bernama Yu Camik yang menuduh dia sebagai seorang perempuan miskin yang hanya bisa mengharapkan kekayaan dari keluarga suaminya. Tentu saja Raminem – ibu Teyi – sangat panas mendengarkannya. Siapapun yang manusia, jika dituduh seperti hal itu, padahal dia tidak pernah mengharapkan hal tersebut, tentu akan merasakan hal yang sama dengan Raminem.
Teyi….sang tokoh cilik, patuh mengikuti kemauan ibunya, walaupun sering juga menggerutu, dan merasa iri pada teman-temannya. Siapa yang tidak iri, jika anak-anak yang seusianya dengan sangat bebas bermain sesuka hati mereka tanpa ada kekangan dan batasan dari orang tua. Itulah yang dialami Teyi. Dia menjual gorengan dari pagi sampai gorengan itu habis. Setelah habis pun dia tidak boleh bermain-main, jika tetap bermain tentu akan mendapatkan tambahan omelan.
Yang menarik bagi saya adalah watak dari Teyi. Dia anak yang patuh terhadap apa yang dikatakan ibunya, namun dibalik kepenurutan itu dia juga punya watak yang keras. Tekad yang kuat, dan rasa ingin tahu yang besar. Teyi selalu terangsang terhadap hal-hal baru yang ingin diketahuinya. Pergaulan dengan teman-teman yang berbagai macam karakter membuat Teyi belajar atas semua hal.
Teyi seorang gadis cilik yang hidup dalam kehidupan tangsi, adalah gambaran realitas yang mungkin bisa kita pelajari. Bagaimana kehidupan zaman dahulu, semasa penjajahan Belanda. Novel ini juga memperlihatkan interaksi antara pribumi dengan bangsa penjajah, Belanda. Kehidupan tangsi yang bebas membentuk tokoh ini menjadi seorang gadis yang liar tapi masih tetap mengingat aturan-aturan yang diajarkan oleh ibunya. Teyi yang berteman dengan anak-anak tangsi dengan berbagai karakter. Kehidupan seks anak kecil juga tergambar dalam novel ini. Bagaimana seorang anak kecil yaitu tokoh Keminik yang sudah melakukan hubungan seks dengan Gemi – seorang yang sudah beristri – bahkan dengan teman sepermainannya yaitu sumbing. Ajaran-ajaran seks yang dimasukkan oleh tokoh Kemini dalam otak Teyi telah melekat erat dalam pikiran Teyi. Dia melihat langsung hubungan persetubuhan temannya geminik dengan Suami dari lik Gemi, dan dia juga melihat adegan ciuman yang dilakukan oleh Keminik dengan sumbing. Semua itu merupakan hal yang menjijikkan bagi teyi. Pernah dia punya hasrat untuk melakukan hal yang seperti temannya, tapi segera ditepis dari benaknya. Karena dia takut simbok marah. Yang menjadi pagar dan benteng Teyi adalah Raminem. Dia sangat takut pada simboknya. Dia tidak ingin simboknya marah. Itulah kehidupan liar yang tergambar dalam novel ini
Ada seorang tokoh yang ingin mengubah karakter tokoh cilik ini, yaitu Putri Parasi, seorang putri keturunan kerajaan Solo. Dia seorang keponakan dari Sri Baginda Ingkang Sinuwun. Dia hidup dalam lingkungan kerajaan yang penuh dengan tata krama dan aturan kerajaan. Putri Parasi adalah salah satu dari hasil didikan kerajaan yang baik. Dia serang putri yang cerdas dan ayu, serta mengetahui dan menjalankan segala aturan kerajaan dengan baik.
Awal mula pertemuan antara Putri Parasi dengan Teyi adalah saat Teyi yang sengaja lewat loji (tempat tinggal pejabat tangsi) Putri Parasi dan kapten Sarjubehi. Rumah yang ditumbuhi pohon mangga dengan buah yang sangat menggiurkan bagi siapapun yang selalu ke sana. Sebelumnya Teyi diajak oleh teman-temannya untuk memakan mangga yang dirujak. Teyi ragu untuk memenuhi ajakan itu, karena dia merasa bahwa mangga itu didapat dengan cara yang tidak halal. Ibunya selalu mengingatkan untuk tidak mencuri atau memiliki hal yang tidak menjadi hak miliknya. Walaupun keras dan terkesan sedikit kejam, ibu Raminem tetap menanamkan nilai-nilai luhur bagi pelajaran hidup anaknya. Dibalik kekerasan sikapnya itu, dia ingin membentuk anaknya berbeda dengan yang lain, tentu dengan menggunakan caranya sendiri.
Untuk menguatkan hatinya agar tidak ikut makan buah mangga yang dirujak itu, Teyi segera meninggalkan teman-temannya itu dan menjajakan gorengannya seperti biasa. Kali ini dia mencoba melewati rumah pemilik pohon mangga yang dicuri oleh Keminik dan teman-temannya tadi, dengan harapan dia bisa mendapatkan mangga dari sang pemilik rumah tersebut. Saat menjajakan itulah Ninek Jidan melihat Teyi yang menjajakan gorengan dan membeli gorengannya. Merekapun bercakap-cakap sebentar. Melalui cerita Ninek Jidan Teyi mengetahui tentang Putri Parasi walalupun pada awal kesana dia tidak melihat siapa-siapa kecuali Ninek Jidan. Ninek jidan adalah pengasuh Putri Parasi sejak kecil. Beliau bagaikan pengganti dari ibunda Putri Parasi. Namun begitu, Ninek jidan tetap mengabdi sebagai seorang pengasuh pada Putri Parasi.
Saat datang untuk yang kedua kalinya…..Teyi barulah bertemu dengan Putri Parasi. Dia sangat takjub akan kecantikan putri tersebut, karena belum pernah seumur hidup dia bertemu dengan orang yang secantik Putri Parasi. Bagaikan seorang putri dalam cerita-cerita dongeng yang ada dalam benaknya. Maka terjadilah interaksi Antara mereka yang efektif setiap harinya. Teyi selalu kesana, setelah siang, setelah gorengannya habis, atau tinggal sedikit. Jika gorengan itu tidak habis, maka Ninek Jidan lah yang akan memborong semuanya.
Kehadiran Teyi setiap hari menumbuhkan semangat Putri Parasi. Dia bagaikan punya teman dan mengingatkan dia kembali pada keluarga dikerajaan. Disini Putri Parasi sudah bertekad, bahwa dia tidak akan pulang kekerajaan setelah empat tahun. Dia akan setia mendampingi suaminya dimanapun beliau ditugaskan, meskipun dengan keadaan yang sangat jauh berbeda dengan kondisi kerajaan. Hidup dengan sederhana dan bersahaja.
Disinilah bermulanya hubungan antara keduanya. Sedikit demi sedikit Putri Parasi mengajarkan pada Teyi tentang tatakrama dan cara hidup dalam kerajaan. Mulai dari bahasa dan bertingkah laku. Teyi sangat senang akan semua ini. Dia bagaikan hidup dalam dunia mimpi dan khayalan. Semua yang diajarkan oleh Putri Parasi dijalankan dengan sangat baik dan tepat. Hubungan pertemanan ini tidak mendapat restu dari Raminem, ibu Teyi. Dia tidak mengizinkan anaknya dekat-dekat pada keluarga kerajaan itu, karena takut sesuatu akan menimpa anaknya. Takut anaknya akan dijadikan munci (gundik, atau selir). Bagi sebagian besar penduduk tangsi, dimunci oleh orang kaya apalagi oleh orang kerajaan merupakan sesuatu yang terhormat dan akan mendapatkan kesenangan hidup dengan kecukupan harta. Tapi lain halnya dengan Raminem. Dia tidak ingin anaknya dimunci, dia ingin anaknya memiliki status pernikahan yang jelas. Tidak seperti selir, yang tidak memiliki status pernikahan yang jelas.
Putri Parasi sangat menyayangi Teyi. Dia sudah bertekad untuk menjadikan Teyi sebagai anak didiknya yang hebat. Segala hal diajarkan. Sampai pada baca tulis Belanda juga diajarkan. Disinilah Teyi berubah. Teyi punya dua kehidupan yang berbeda. Di dalam loji Putri Parasi dia menjadi seorang Teyi yang pintar dan bertatakrama seperti orang kerajaan, sedangkan di luar loji dia tetap sebagai Teyi yang seperti biasa. Tidak satupun dari teman-temannya yang mengetahui hubungan rahasia antara Teyi dan Putri Parasi kecuali orang yang berada dalam loji itu saja, yaitu Ninek Jidan dan Kapten Sarjubehi yang merupakan suami dari Putri Parasi yang menjadi kapten di tangsi ini.
Sebagai seorang guru, Putri Parasi adalah guru yang luar biasa sabar. sedangkan sebagai seorang putri, dia adalah seorang yang cerdas dan penuh tatakrama dengan segudang kepandaian. Itu semua di tularkan pada Teyi. Putri Parasi bercita-cita untuk mencarikan seorang suami untuk Teyi. Dia menginginkan Teyi menikah dengan seorang pangeran yang ada di istana Jayaningratan. Kerajaan tempat Putri Parasi lahir dan dibesarkan. Tekad dan semangat ini sangat kuat. Namun sayang…..beberapa hari sebelum mereka akan pulang kekerajaan, Putri Parasi pun meninggal karena penyakit yang memang sudah menjadi langgananya sejak lama. Teyi sangat terpukul dengan kematian ini, karena itu berarti cita-citanya untuk melihat langsung kerajaan dan mendalami suasana kerajaan…pupus sudah. Semuanya benar-benar hanya sekedar mimpi.
Teyi kembali dalam kehidupannya semula sebagai seorang penjual goreng. Empat tahun kurang bergaul dengan Putri Parasi sangat berdampak pada perubahan karakternya. Teyi menjadi lebih dewasa dan patuh pada orang tuanya. Teyi yang semakin matang dan cantik serta pintar dan bisa berbahasa belanda. Kepintarannya ini baru diketahui oleh orangtunya kala Teyi bercakap-cakap dengan Kapten Sarjubehi di rumahnya, kala kapten sarjubehi meminta pada teyi untuk kembali ke loji dan mengurus rumahnya. Mereka berbicara menggunakan bahasa Belanda, ini disengaja oleh tuan Sarjubehi agar orangtuanya tidak salahpaham. Teyipun meladeni kapten itu dengan bahasa Belanda.
Ketakjuban meliputi kedua orangtanya. Maka mulailah Teyi bercerita tentang semuanya. Hubungannya dengan keluarga dalam loji selama empat tahun ini. Karena sudah mengetahui dengan jelas perihalnya, barulah Raminem mengizinkan Teyi mengrus loji, tapi tidak untuk tinggal disana. Karena dia tetap menginginkan anaknya suci, dan tidak di munci.
Sebenarnya ada terselip rasa ingin memiliki kapten Sarjubehi dalam benak Teyi. Tapi keinginan itu pupus setelah Dumilah – teman yang dipekerjakan Sarjubehi di lojinya setelah mendapatkan persetujuan dari Teyi – bercerita dengan gamblang tentang hubungan persetubuhan mereka. Teyi merasa menyesal, kenapa bukan dia, kenapa Dumilah!!!!
Semuanya dihapus Teyi dari benaknya. Semua keinginan-keinginan. Orang tuanya mulai mencari seseorang yang pantas untuk menjadi suaminya. Pilihan jatuh pada Sapardal. Seorang pegawai tangsi. Merekapun menikah. Namun saat pernikahan, Kapten Sarjubehi datang dengan ponakannya bernama Ndara Mas Kus Bandarkum. Walaupun mereka belum pernah bertemu satu sama lain sebelumnya, tapi mereka sudah sangat saling kenal. Ini dikarenakan surat menyurat yang terjadi antara mendiang Putri Parasi dengan ponakannya yang berada di kerajaan jayatiningrat. Dalam suasana itu Kus Bandarkum berbicara dengan Teyi dalam bahasa belanda, dan mengatakan kalau dia mencintai Teyi, walaupun Teyi baru saja menikah dan sah menjadi istri Sapardal. Saat kata-kata cinta itu di ucapkan Kus Bandarkum, perasaan Teyi semakin tidak tenang. Dia terngiang-ngiang terus akan kalimat tersebut. Sehingga terdapat dalam niatnya untuk mengakhiri pernikahan dengan Sapardal dengan alasan Sapardal bukanlah lelaki jantan yang tidak bisa melakukan hubungan semestinya pada malam pertama pernikahan mereka. Cerai, ituah yang dikatakannya pada bapak dan ibunya. Sapardal juga menerima begitu saja, dengan syarat Teyi tidak menceritakan tentang ketidak jantanannya. Sebenarnya bukan Sapardal tidak jantan, melainkan dia merasa segan pada Teyi yang dinilainya sebagai seorang wanita hebat, yang lebih tinggi dari dia, sehingga dia tidak berani menyentuh angsung Teyi pada saat malam pertama itu.
Sehari setelah pesta pernikahannya, Teyi segera pergi main ke loji, dengan alasan untuk menengok temannya, Dumillah. Padahal alasan utamanya adalah untuk bertemu dengan Kus Bandarkum, dan menyatakan persaan cintanya pada dia. Maka terjadilah hubungan persetubuhan diantara mereka, dan Teyi memutuskan untuk memilih Kus Bandarkum.
Bersambung….
Diambil dari Gadihrantau's Blog
Surabaya Tumpah Darahku by Suparto Brata (1978)

Buku ini memberi wawasan dalam konteks sejarah lokal khususnya Surabaya. Sejarah penjajahan Jepang yang kita pelajari di sekolah tidak akan memberikan atmosphere sehidup novel. Buku ini memiliki suasana tutur cerita embah kita sendiri di ruang keluarga sehabis makan malam. Pak Brata melukiskan orang Jepang yang unik, pembaca tidak bisa langsung menjadikan mereka tokoh antagonis. Orang-orang Jepang itu memiliki nilai-nilai hidup yang positif juga, mengikuti perkembangan plotnya kisah kekejaman Jepang di sekolah-sekolah jadi kelihatan tidak berimbang. Orang Ambon sendiri dengan posisi yang unik karena sejarah eratnya mereka dengan Belanda juga tergambarkan dan membuka wawasan, mereka ini menjadi korban yang tergiring keadaan. Kerja paksa itu tidak terjadi dengan cara seperti yang kita bayangkan ketika mempelajari sejarah negara kita.
Satu pelajaran unik dari kenyataan sejarah adalah interpretasi dan novel Pak Brata ini, sejarah boleh banyak versi tinggal versi siapa yang tertulis menjadi buku dan dibaca masyarakat. Lebih penting lagi buku siapa yang dibaca dan memiliki standar Barat sehingga boleh diakui otoritasnya. Pak Brata menyinggung tokoh minor Boetje Sahusilawane yang bersedia berangkat bekerja ke perkebunan Malang untuk Jepang. Tokoh ini dikisahkan ringkat menjadi tokoh pejuangan "De Zwarte Hemden" yang sengit setelah Jepang kalah dan Belanda mau kembali di daerah Pujon, Batu dan Pakishadhji. Apakah dia tokoh nyata, apakah gerakan bumi hangus itu benar-benar ada hanya tersimpan di sejarah lokal dan bila tidak di "urus" bisa jadi lenyap selamanya.
Sebagai kontras sebuah essay berjudul "Life and Death of Abdul Rachman (1906 -1949): One Aspect of Japanese Indonesian Relationships" yang dipublikasikan tahun 1976 sekarang ini menjadi bahan studi Asia Tenggara di Australia. Perjuangan Abdul Rachman juga di daerah Malang tepatnya di daerah Dampit (itu yang mau ke Gunung Semeru). 9 Januari 1949 pemuda ini membakar semangat teman-temannya yang ragu-ragu melihat intensitas serangan pasukan Belanda dengan senjata yang lebih lengkap dengan maju menghadapi hujan peluru pasukan Belanda yg mencoba menguasai kembali Indonesia setelah Jepang kalah. Salah satu perjuangan paling sengit demi kemerdekaan dalam sejarah Indonesia terjadi disitu. Abdul Rachman wafat dengan banyak peluru bersarang di dahi dan tubuhnya.
Abdul Rachman adalah orang Jepang yang aslinya bernama Ichiki Tatsuo. Pemuda ini mendapatkan respect dari orang Indonesia dan nama Abdul Rachman diberikan H. Agus Salim. Pemuda ini tidak terkenal di Jepang maupun di Indonesia, sampai sebuah essay dengan otoritas barat karangan orang Jepang juga (Kenichi Goto) terbit. Kenichi melakukan studi tentang orang-orang Jepang yang membelot dan mengikuti hati nuraninya membela negeri yang dijajah negerinya sendiri.
Kita tidak familiar dengan Boetje nya Pak Brata dan Abdul Rachmannya Kenichi sampai sejarah lokal kita benar-benar "beres" dalam bekerja dan mempublikasikan essay yang berotoritas. Untuk masyarakat yang tidak menulis dan tidak membaca dan tidak peduli sejarah, sejarah versi mereka tidak akan pernah ada. Pak Brata memberikan sejarah lokal dalam perspektif penduduk Ambon di Surabaya, tinggal kita cari versi yang lain untuk memperlengkap wawasaan kita dan membekali penilaian kita akan sejarah negeri kita sendiri.
Meskipun versi Pak Brata adalah fiksi, mereka yang melakukan studi literatur tahu bahwa fiksi adalah media paling ampuh dalam menyajikan sejarah yang berotoritas. Membaca STD nya Pak Brata, kita melihat pengarang yang meskipun tidak ambisius, karyanya mewakili pengetahuan dan kebijakan akan sejarah. Tidak ada satu bagian yang tidak kongruen dengan narasi utama sejarah itu sendiri. Buku ini tidak dikarang oleh penulis yang berimajinasi dan tiba-tiba duduk mengarang novel sejarah, tapi oleh pengarang dengan pemikiran orisinil , problem pribadi, dengan studi atau recall his own memories or experience. Buku ini buku tipis ringan namun berbobot.
2010
Diambil dari Surabaya Tempo Dulu
Beberapa Komentar :
Nikki Putrayana ada jg novel beliau yg berjudul mencari sarang angin. Ini jg bersetting cerita surabaya sblm kedatangan jepang, PD II, perang kemerdekaan. Dari sudut pandang seorang jurnalis.
Bambang Irawan wah nanti harus dicari tuh, thx infonya Nikki, ada karya apa lagi yg bersetting sby?
SUPARTO BRATA : Seorang Sejarawan
Oleh: R. Nugroho Bayu Aji (Alumnus Depatremen Ilmu Sejarah Unair, Kontributor buku Tempo Doeloe Selaloe Aktoeal, Pemerhati sejarah dan sastra)
Pada tanggal 12 Oktober sastrawan dari Surabaya, Suparto Brata mendapatkan penghargaan SEA (South East Asia) dari Kerajaan Thailand karena dedikasi dan integritasnya sebagai seorang sastrawan yang pruduktif berkarya. Suatu prestasi yang patut dibanggakan bagi sastrawan, mengingat penghargaan tulis-menulis ini bertaraf internasional. Kehadiran Suparto Brata dengan karya sastranya sangatlah fenomenal. Bukan hanya karya sastra murni yang dia hasilkan.
Ada beberapa informasi penuh makna sejarah bahkan rekonstruksi kehidupan sosial di Surabaya dalam karyanya. Artinya, karya sastra yang ditulis oleh Suparto Brata bisa dijadikan acuan untuk menjelaskan seperti apa sejarah kota Surabaya dari jaman kolonial Hindia-Belanda, masa-masa pendudukan Jepang serta awal kemerdekaan Indonesia.
Karya-karya tersebut antara lain Kremil, Saksi Mata, Mencari Sarang Angin. Dalam karyanya yang berjudul Kremil, dikisahkan bagaimana belitan permasalahan ekonomi kota Surabaya sehingga mengakibatkan penjualan gadis oleh tetangganya dalam dunia prostitusi. Dari Kremil inilah narasi terajut yang kemudian membekali keberadaan Dolly sebagai tempat prostitusi terbesar yang dimiliki oleh Surabaya.
Dalam novel Saksi Mata terlihat bagaimana situasi Surabaya ketika diduduki oleh Jepang (1944). Tokoh Kuntara (12 tahun) mengalami sebuah pergulatan batin-jiwa ketika mengetahui kebiasaan tentara Jepang untuk memiliki gadis pribumi (Bulik Rum) sebagai simpanan dan pemuas nafsu. Keluarga Bulik Rum, Wiradad (suami) dan ayahnya tidak kuasa mencegah keinginan Ichiro Nishizawa serta Okada untuk menikmati tubuh Bulik Rum.
Selain itu digambarkan pula setting kota Surabaya tahun 1944, yakni daerah Pacarkeling dengan suasana Hindia-Belanda karena banyak jalan-jalan yang masih menggunakan bahasa Belanda. Ada pula bungker-bungker sebagai perlindungan dari serangan udara akibat dampak dari PD II. Tidak lupa dalam karya tersebut disertai juga lagu-lagu propaganda Jepang dan juga lampiran peta.
Berkat karya Saksi Mata ini, Suparto Brata mendapat undangan khusus dalam Semiloka Kota dan Karya Sastra dalam Studi Sejarah atas permintaan Dr. Freek Colombijn dan Els Bogaerts dari NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie). Hal ini bukan tanpa alasan karena Saksi Mata termasuk karya sastra yang mencatat sejarah. Selain itu, Saksi Mata juga mengantarkan Suparto mendapat SEA Write Award dari Kerajaan Thailand (Jawa Pos, 15 Oktober 2007).
Tulisan-tulisan Suparto Brata berawal dari pengalaman yang pernah dia saksikan ataupun didengarnya dari orang lain, serta ditambah dengan pengetahuan dari buku-buku sastra dan sejarah. Pengalaman tersebut dia rasakan karena hidup dalam tiga jaman yakni kolonial Hindia-Belanda, Jepang dan Kemerdekaan. Pengalaman itu, kemudian mengilhaminya untuk menyelesaikan karyanya yang berjudul Mencari Sarang Angin.
Terdapat fakta dan data sejarah dalam karya Mencari Sarang Angin tersebut, yakni mulai dari sejarah pers di Surabaya 1936-1945, sejarah pertempuran 10 November 1945 sampai pemberontakan PKI Madiun 1948. Selain itu dipaparkan pula berbagai macam kebiasaan orang Surabaya antara lain: adu doro, minum tuak dan arak-arakan ketika hendak merayakan pernikahan.
Selain setting kota Surabaya, Suparto Brata juga memiliki karya monumental dalam trilogi novel Gadis Tangsi, Kerajaan Raminem, serta Mentari di Ufuk Timur Indonesia. Trilogi tersebut mengisahkan perjalanan hidup tokoh Tetti dan Raminem yang berlatar pada masa pendudukan Dai Nippon di Nusantara.
Karya Sastra dan Sejarah
Sebagian besar sejarawan mengatakan bahwa karya sastra merupakan “alat bantu” dari ilmu sejarah. Akan tetapi, tidak bisa kita pungkiri bahwa karya sastra mempunyai sumbang sih besar untuk sejarawan dan historiografi. Dari karya sastra bisa diambil pengetahuan dan informasi yang tak dimiliki oleh dokumen tertulis maupun arsip yang berperspektif pemerintah.
Dengan demikian, kita bisa menerobos ruang kosong yang tak dimiliki arsip maupun dokumen. Sehingga sebuah peristiwa sejarah semakin dinamis dengan pendekatan dari arus bawah masyarakat yang terpinggirkan oleh sejarah dan kekuasaan (history from bellow).
Lebih lanjut lagi, karya sastra baik novel dan yang lainnya menjadi lebih dari sekedar “alat bantu” karena bisa menjelaskan lebih detail dinamika yang terjadi dalam peristiwa sejarah. Artinya, karya sastra merupakan sahabat untuk berdialektika dalam sejarah dengan semangat zaman (zeit gheist) yang terkandung didalamnya.
Sejarawan Kuntowijoyo yang akrab dengan dunia karya sastra mengatakan bahwa sastra dan sejarah pada era sekarang sangat tipis sekali bedanya. Bahkan tidak sedikit pula karya sastra seperti novel memuat fakta-fakta dalam suatu peristiwa sejarah. Hal itu seakan-akan menunjukkan sastra dan sejarah mempunyai hubungan yang erat diantara keduanya.
Karya sastra merupakan simbol verbal dengan beberapa peranan antara lain, sebagai cara pemahaman (mode of comprehension), cara perhubungan (mode of cumunication), serta cara pencipta (mode of creation). Kajian karya sastra tertumpu pada realitas. Ketika realitas itu merupakan peristiwa sejarah, maka paling tidak ada tiga hal yang bisa dibahasakan dan diinformasikan melalui karya sastra.
Pertama, karya sastra dapat mencoba untuk menterjamahkan suatu peristiwa melalui bahasa imaginer yang bermaksud untuk menerangkan serta memahami peristiwa sejarah tersebut. Kedua, karya sastra dapat menjadikan penulisnya untuk mengeluarkan perasaan, fikiran dan tanggapan dalam peristiwa sejarah.
Ketiga, layaknya sebuah historiografi (karya sejarah), karya sastra dapat dijadikan sebagai sarana untuk merekonstruksi (membangun kembali) sebuah peristiwa sesuai dengan pendekatan, pengetahuan serta daya imaginasi dari seorang penulis (Kuntowijoyo, 1999: 127).
Dengan penghargaan SEA Write Award atas dedikasinya dalam tulis-menulis dari Kerajaan Thailand, tidaklah berlebihan apabila kita memberikan apresiasi kepada Suparto Brata untuk dijadikan sebagai sejarawan. Meskipun tidak mengenyam pendidikan formal sejarah ataupun berprofesi sebagai seorang sejarawan, karyanya banyak membantu dalam historiografi kota Surabaya.
Saat ini, Surabaya memang membutuhkan sejarawan-sastrawan (sejarawan-nyastra) yang bisa menyampaikan fakta sejarah kepada masyarakat awam. Kecenderungan gaya bahasa sastra dalam bentuk novel, roman, atau cerita akan lebih mudah untuk dipahami oleh masyarakat awam.
Beda halnya ketika peristiwa sejarah dibahasakan dengan tulisan akademis, bukanlah suatu perkara yang mudah untuk memahaminya. Bahkan seseorang yang sedang mempelajari sejarah (mahasiswa ilmu sejarah) serta sekelas akademisi pun terkadang sulit untuk memahami sejarah.
Akan lebih bijaksana apabila sejarawan lebih bisa membumikan sejarah kepada keseluruhan masyarakat. Sehingga perkataan sejarawan Taufik Abdullah bisa terealisasikan yakni sejarawan tidak boleh berada di menara gading karena sejarah tidak bersifat elitis. Sejarah harus berada di tengah-tengah masyarakatnya.
Bukankah itu yang kita inginkan agar kita tidak sampai amnesia sejarah karena sudah banyak sejarawan masa kini yang mempunyai hubungan intim dengan elit kekuasaan dan lupa dengan masyarakat.
Dikuti dari "Belajarsejarah.com"
Mahligai di Ufuk Timur

Selesai sudah proyek 2 buku Trilogi Gadis Tangsi sekaligus selesai sudah peran seorang Teyi dalam novel budaya Jawa ini. Diluar pakem yang kuperkirakan, tak seperti Kuartet Pulau Buru-nya Pramoedya Ananta Tour, Trilogi Gadis Tangsi ini ditutup dengan happy ending. Satu orang tokoh pejuang nasional atau pejuang kemerdekaan lebih tepatnya kukira masuk pula dalam novel terakhir ini, memang Suparto Brata menyebut tokoh tersebut dengan nama berbeda namun kukira maksudnya tidak salah adalah Jenderal Ahmad Yani, mengingat settingnya di Purworejo; kalau tidak salah adalah tempat kelahiran sang jenderal pahlawan revolusi itu dan dalam novel ini tercatat berlatar masa pra kemerdekaan ketika beliau masih aktif di PETA.
"Mahligai di Ufuk Timur" judul ini begitu pas menggambarkan isi dari akhir buku trilogi ini. Cita-cita seorang Teyi yang telah berhasil menjadi Den Rara Teyi membangun kokohnya Kerajaan Raminem untuk mencari jodohnya, menemukan cintanya, melanjutkan pemikiran besarnya serta menepati janjinya bertemu Ndara Mas Kus Bandarkum di Istana Jayaningratan Surakarta. Kisah percintaan dalamhingar bingar rindu suasana pertemuan dan diskusi panjang mengungkap tuntas kebudayaan bangsa Jawa secara gamblang. Cerita ini berlatar tahun 1940-an ketika pendudukan bangsa Jepang dimana rakyat Jawa hidup dalam masa kekurangan sandang dan kemunduran budaya, diperparah lagi warisan Belanda yang tidak membekaskan gores pendidikan baca tulis sama sekali bagi rakyat kebanyakan. Budaya unggah-ungguh Keraton Surakarta yang begitu adiluhung pun mulai tersapu, oleh karena itu persatuan kedua insan ini dinyatakan sebagai perkawinan di awal zaman laksana terbitnya matahari di ufuk timur. Budaya Jawa yang harus diselamatkan kelestariannya dengan munculnya zaman modern, sehingga mau tidak mau harus segera bertindak memberikan pendidikan baca tulis pada generasi itu sebanyak-banyaknya demi lestarinya budaya adiluhung bangsa Jawa dan mempersiapkan diri menjadi bangsa Indonesia yang merdeka.
Roman "bumbu" cerita yang menceritakan pergaulan dan keadaan umum masyarakat desa jawa saat itu tetap begitu mengalir enak diikuti dalam buku terakhir ini. Menyenangkan juga ada novel yang akhirnya menghukum yang jahat dan mengangkat derajad yang benar seperti karya Suparto Brata ini. Tanpa mengurangi sisi intelektualitasnya, buku ini memang buku cerita murni yang begitu lugas apa adanya, tebal tapi ringan, ceritanya ringan tapi muatan moralnya begitu dalam. Pesan moral yang dilesakkan Suparto Brata dalam karya ini begitu sederhana, mudah dimengerti dan sangat luar biasa terutama bagi orang Jawa asli seperti saya.
Pesan moral yang saya tangkap "sopo nandur kebecikan, bakal ngunduh wohing pekerti." Teruslah berjuang, bekerja keraslah, ringan tanganlah terhadap sesama, hapuslah kata dendam dalam hati, belajarlah terus menuju tiap tingkatan kepintaran baru dalam hidup dan jangan lupa luaskan jejaring kebaikan....
Diambil dari "Evolusi dan Revolusi Manusia"
Gadis Tangsi

“…..Trukbyangane……apik tenan critane….”! Gadis Tangsi adalah Novel seri ke-1 dari trilogi yang ditulis oleh Suparto Brata. Cerita dalam buku ini memang ada dalam keseharian kita. Penulis menuangkan cerita ini dalam novel dengan bahasa yang sangat lugas – kromo inggil, makian dalam bahasa jawa ‘ngoko’, bahkan dalam bahasa Belanda – yang dengan mudah kita mengerti. Dengan setting cerita jama pendudukan Belanda di Indonesia dengan mengambil lokasi di daerah Sumatera (Medan), pikiran saya ikut terbawa ketika membaca novel ini.
Teyi, si gadis tangsi, hidup dalam kekerasan disiplin si-mbok, bukan dalam kekerasan hidup di tangsi itu sendiri. Hidup dalam keluarga yang sangat sederhana dalam rumah kecil dilingkungan tangsi; dengan seorang bapak dengan pangkat sersan yang ikut kumpeni dan si-mbok yang punya obsesi jadi orang kaya raya hanya karena ingin menunjukkan pada ipar-nya yang telah melecehkan. Setiap pagi terbangun karena “kebocoran” ompol adiknya yang tidur di ambin.Teyi kecil sudah harus bangun pagi disaat teman-teman sebayanya masih terlelap; dia harus membantu si mbok berjualan pisang goreng keliling tangsi disaat teman-teman sebayanya bermain; dan dia akan merasa terbebas jika bisa ikut dalam grup mencari kutu sambil bergosip.
Teyi dibesarkan dalam ke-nyinyiran si mbok; dengan batasan-batasan yang dia sendiri sesungguhnya tidak mengerti. Dididik dalam aturan sopan-santun yang menurut si mbok benar. Disaat teman-temannya sudah mengerti apa itu “menyukai” dan “disukai” lawan jenis, dia bahkan mengira bahwa dia kena tulah karena memanjat pohon tanpa pakaian ketika dia menemukan temannya pacaran dikamar mandi umum – haid – itulah tulah yang harus diterima; si mbok jadi bertambah sayang karena mengetahui si gadis sudah haid – ini membuat Teyi bingung. Ada saat dimana membuat Teyi jenuh, lelah, bosan dan ingin lari dari kesehariannya – jualan pisang goreng dan mendengarkan ocehan si mbok yang tidak habis-habisnya – akhirnya jalan kaki sampai Medan. Dia harus digelandang keluar toko karena mengagumi pita dan ngotot ingin membeli pita dengan uang jualan pisangnya; akhirnya diantar pulang oleh Ndara Tuan Kapten Sarjubehi.
Teyi menemukan dirinya ketika dia berkenalan dengan Gusti Putri Parasi di rumah Loji – yang adalah istri dari Sarjubehi – yang jatuh hati pada kesopanannya. Dengan sabar Putri Parasi mengajar sopan santun dan tata krama. Putri Parasi merasa sembuh ketika berdekatan dengan Teyi; Teyi adalah semangat hidupnya. Putri Parasi bercita-cita menjadikan Teyi orang yang pantas untuk mendapatkan jodoh dari kraton; Teyi dipersiapkan untuk itu, dipersiapkan untuk dibawa ke keraton ketika Putri Parasi cuti. Cinta kasih Putri Parasi bertambah ketika Teyi berhasil menyelamatkan nyawanya pada waktu Putri Parasi terkapar tidak sadarkan diri karena penyakitnya tiba-2 kambuh. Teyi bahkan dibekali dengan keahlian berbahasa Belanda, sehingga dia tidak canggung menghadapi rekan-rekan Ndara Tuan Kapten Sarjubehi yang kebanyakan dari kalangan atas dan bahkan berkomunikasi dengan bahasa Belanda terhadap Putri Parasi dan suaminya. Teyi bersungguh-sungguh dalam persiapan dirinya untuk keluar dari tangsi menuju dunia yang lebih beradab baginya. Dia sudah menguasai ngadi busana dan ngadi salira juga pandai berbahasa Belanda – baca, tulis dan berbicara; sudah menutup hati buat laki-laki tangsi yang menyukai kecantikannya.
Kedekatannya dengan keluarga keluarga Putri Parasi itu menebarkan gosip bahwa dia akan di”munci” oleh Sarjubehi. Akan tetapi Teyi harus mengubur semua cita-cita untuk pergi ikut Putri Parasi ke tanah Jawa, ke keraton, mendapatkan jodoh orang keraton ketika tiba-tiba sang junjungannya pergi untuk selamanya. Sejak saat itu sudah tidak ada yang harus disembunyikan dari si mbok yang selalu melarang dia untuk bermain ke rumah loji. Hasi didikan sang guru membuat Teyi menjadi pribadi yang kuat tapi rapuh; kuat dalam meyakinkan si mbok bahwa dia akan baik-baik saja membantu tuan Sarjubehi dan tidak akan menjadi munci sang Ndara Tuan; tapi juga lemah karena sebetulnya dia sudah mulai terbiasa dengan keseharian sang tuan, dia juga tertarik dan suka dengan si tuan ini. Tapi Teyi sangat ingat pesan Gusti, “…pas op Teyi, meneer is niet de man voor jou! Absoluut niets! (Hati-hati Teyi, Tuan Sarjubehi bukan laki-laki untukmu, sama sekali bukan…”). Dia menghormati pesan itu, sehingga pada waktu Teyi diminta untuk mencarikan pembantu dan si tuan memilih Dumilah yang selain menjadi pembantu juga menjadi munci, Teyi tidak dapat berkata “tidak”. Dia hanya menangis kesal dan sesal; akhirnya dia memutuskan untuk bersedia nikah dengan Sapardal, orang yang tidak pernah dicintainya. Satu hari menikah langsung minta cerai ketika dia bertemu dengan Ndara Mas Kus Bandarkum, yang adalah keponakan Putri Teyi yang memang seyogyanya akan dijodohkan dengan Teyi. Dia merasa sudah mengenal Ndara Mas Kus lama hanya karena cerita-cerita dari Putri Parasi. Teyi, si gadis lugu tapi keras hati, yang sudah berusaha menuruti semua kehendak si mbok, yang selalu kalah karena mempertahankan sesuatu yang baik, akhirnya “menyerahkan” dirinya pada sang Ndara Mas Kus; akhirnya Teyi berpikir bahwa dia tidak berbeda dengan Keminik, yang sudah mengenal seks dari masih belia, bahkan tidak peduli berbuat kesetanan seperti si Mopi, anjing tuan Davenpoort. Teyi merasa bahwa apa yang dia perbuat ini adalah merupakan sifat dasar; kenikmatan sekaligus pemberontakan untuk memenangkan masa depan ……!”
“ trukbyangane……”! Rasanya ingin segera baca seri ke-2 dari trilogi Pak Suparto Brata ini.
(Resensi ditulis oleh Esthy Jonathan)
Respon pembaca :
nug
Trilogi Gadis Tangsi "Kerajaan Raminem"

Rentang baca buku ini pun cukup lama untuk kelas buku cerita yang asyik, sebagai perbandingan saya lahap Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata cukup 2 malam, lanjut dengan Edensor 3 hari, trus waiting list Maryamah Karpov dan begitu ada di tangan tak sampai 5 hari terlahap tanpa sisa. Memang belum langsung "tunjeb poin" awalnya dengan bentuk cerita, tokoh, alur, setting kota Sumatra dan misi penulis sendiri. Tapi begitu sampai pada halaman diatas 79, langsung tancap gas meneer, tutur ceritanya yang gemlundung apa adanya begitu enak diikuti dan diselingi dengan beberapa istilah Belanda jadi daya tarik tersendiri. Berikutnya adalah cara Suparto Brata sendiri dalam menghidangkan kehidupan begitu khas "Jowo Tengahan" guyon-gemuyonannya, clathu-clathuane, pisuh-pisuhan, ular-ular, sampai dalam hal kegiatan ranjang pun demikian khas "wong ndeso". Aku sebagai orang Jawa pun seperti terseret ke masa kecil dulu di kampung Mlowo Karangtalun dan Pojok, Purwodadi Grobogan sana, dimana kebudayaan dan pola pergaulan orang-orangnya ya sama persis seperti dalam buku ini.
Dimulai dari kegegeran Tangsi Belawan yang harus segera dikosongkan oleh para kumpeni berikut istri dan anak-anaknya, karena serangan Nippon sudah dekat. Sampai akhirnya terdampar di Tangsi Lawe Sagala-gala dan balik lagi ke Tangsi Kabanjahe, pertengkaran dan pertikaian perempuan jawa bodho yang sangat kental disuguhkan dengan apik,diselingi juga dengan gugon tuhon dan kisah filosofis pewayangan. Sampai akhirnya kehidupan para pelaku yang semakin melarat karena Nippon benar-benar berkuasa. Uang Belanda menjadi tidak laku lagi di Medan, masing-masing pun harus mengenakan identitas tulisan huruf kanji yang tidak boleh lepas dari badan agar aman ketika diverifikasi oleh tentara bertubuh kate itu.
Tokoh utama dalam sekuel Kerajaan Raminem adalah Raminem sendiri dan kedua anak perempuannya; Teyi yang cerdik, cantik dan pekerja keras serta adiknya Tumpi yang masih polos. Keinginan ketiganya untuk pulang ke tanah kelahirannya di Ngombol, Purworejo, Kedu Selatan, Tanah Jawa Dwipa akhirnya terlaksana dengan bantuan Manguntaruh (adik Wongsodirjo, sekaligus pembunuh Wongsodirjo, karena gandrung dengan Raminem). Dengan kerja keras dan keuletan tiga tokoh utama ini akhirnya "Kerajaan Raminem" itu berdiri kokoh di Desa Ngombol, kemaslahatan warga Ngombol juga ikut terangkat dengan berdirinya kerajaan ini.
Penokohan dan alur cerita sastra Jawa yang kental di buku ini tak sedikitpun mengurangi muatan filosofis dan pesan moral yang diusung Suparto Brata. Kehidupan memang keras, orang mau mukti tidak bisa dicapai dengan ongkang-ongkang sikil trus mak gedabruss gludak langsung mukti, sopo nandur kebecikan yo bakal ngunduh kamukten (siapa menanam kebaikan maka beitu pula akan menuai kebahagiaan). Kepahitan memang jadi daya lecut untuk lebih cepat bergerak tanpa niat menghalalkan segala cara apalagi sampai gawe cacating liyan. Teyi pun masih bisa menyisihkan rizkinya pada Pakde, Mbokde dan Lik Sumi tanpa roso eman saat masih njejegke cagak "Kerajaan Raminem". Sastra dan nilai adiluhung Kejawen terangkat tinggi dalam novel ini, gak peduli dia Islam, Abangan atau gak nggenah padane pun akan dapat pangestunipun Gusti Allah jika niatnya tulus, baik lan ora gawe sengsarane liyan.
"Ketidakadilan itu hanya milik Tuhan" inilah ucapan Teyi yang melekat di hati saya. Kita hidup cenderung melihat dari sisi gelapnya, "alah...paling-paling dapat warisan, pelihara Tuyul kali", itulah jamak lumrahnya komentar, setiap kesuksesan selalu dilihat dari sisi paling sederhana dari sudut pandang instant. Cobalah lihat lebih dalam, pasti prosesnya tidak segampang membalik telapak tangan dan dalam perjalanannya pasti ada saja riak-riak kecil cobaan, kebingungan, sinisme sesama, iri dengki atau srengki kata orang Jawa dan pelajaran-pelajaran yang terus bisa digunakan sebagai batu pijakan yang lebih kokoh. Disitulah kemuliaan manusia teruji dan terseleksi, apakah dia bibit unggul yang bisa terus dilestarikan zaman ataukah mung pah-poh "pupuk bawang" thok yang akan terlahap zaman. Satu analogi sederhana Teyi begini, kita lihat Gunung Merbabu dari Salatiga pasti orang Salatiga akan bilang Gunung Merbabu ada di sebelah Selatan. Sedangkan orang Magelang bilang ada di sisi Timur dan orang Kaliurang Yogyakarta akan bilang Gunung Merbabu ada di sisi utara. Coba kalau kita orang Klaten memaksa orang Salatiga untuk menerima nalar bahwa Gunung Merbabu iku ning sisih Kulon (di sebelah Barat), opo rak yo bubrah tatanane (apa ya nggak rusak kehidupan pergaulan masyarakatnya. Itulah kehidupan, kepenak ora kepenak tergantung dari mana kita memandang, menyikapi dan mensyukurinya. Jangan mengeluh dan merasa tidak dipedulikan oleh Tuhan sebelum anda benar-benar lumpuh tak berdaya menjentikkan jari.
Terima kasih Pak Suparto Brata atas karya emasnya, lanjut pada cita-cita Teyi berikutnya dalam mencari pegangan hidup (cinta sejatinya ke Kasunanan Kartosuro) pada sekuel ketiga "Mahligai di Ufuk Timur". Semoga bermanfaat dan njunjung dhuwur (mengangkat tinggi) nilai-nilai luhur nan adiluhung filosofis ajaran dan sastra Jowo.
Diambil dari "Evolusi & Revolusi Manusia"
Mencari Sarang Angin
Beberapa komentar setelah membaca buku saya yang berjudul "Mencari Sarang Angin"
Marjo :
saya sangat senang membaca novel mencari sarang angin. selama ini saya kira yg berjuang itu adalah mereka yang ikut dalam medan perang. ternyata seorang jurnalis dan penulis pun memiliki peranan yg penting….
sangat menginspirasi sekali..
–Terimakasih–
Vavai :
Saya sudah selesai menamatkan buku Mencari Sarang Angin. Bagus sekali pak. Sayang sungguh disayang mengapa Yayi harus tewas dibunuh kempeitai, padahal saya berpengharapan agar Yayi yang menjadi isteri Darwan, bukan Rokhayah. Saya berandai-andai, setting ceritanya berbelok, saat dalam perjalanan ke pameran, Yayi tak sengaja memeriksa tas dan menemukan emblem yang berbahaya tersebut dan kemudian menginsyafi bahwa Yayi dan Darwan harus lebih waspada.
Saya sampai tidak bisa tidur, kasihan pada Yayi :-). Jadi ingat buku bapak yang Saksi Mata, yang tokoh sentralnya juga terbunuh diawal cerita.
Jika membandingkan buku Mencari Sarang Angin dengan buku Mahligai di Ufuk Timur, saya kok mendapat kesan bapak terburu mengakhiri cerita.
Jalinan kisah diakhir cerita kurang sekompleks dan kurang sehalus diawal dan tengah cerita. Mencari Sarang Angin diakhir cerita misalnya, menjadikan Darwan terlalu lemah dan terkesan kurang menghargai pengorbanan Yayi yang harus meninggal karena disiksa Kempetai. Mohon maaf, ini adalah daya tangkap saya, mungkin bapak punya pertimbangan lain yang saya belum dapat memaknainya.
Oh ya, kalau ada pembaca blog bapak yang datang dari Planet Terasi, itu adalah artikel yang saya tulis tentang bapak. Saya ingin lebih banyak orang yang bisa mendengar, membaca dan mengapresiasi tulisan bapak. Sedikit banyak saya yakin akan bisa membantu Indonesia kearah perbaikan.
Salam Hormat dan Terima Kasih
Suparto Brata: Blogger Sepuh Crita Nyembrèt Kutang
Sepuluh dina kepungkur, aku olèh kanugrahan saka Pangèran Ta’ala. Nyowani Pak Harsoyo alias Pak Arjo jalaran wis suwé ora ketemu, rasané aku kaya njegur ana sajroning Umbul Mantèn ing Janti, Polanharjo. Banyuné bening, tansah anyep lan seger kanggo ciblon. Ndilalah kersaning Allah, mungkasi jagongan wong loro iku, Pak Arjo nuduhaké buku ngenani Jawa lan basa Jawa, sing pirang-pirang cacahé.
Gandhèng lagi kemecer ajar basa Jawa, aku nyilih siji. Dom Sumurup Ing Banyu (DSIB), novel anggitané Pak Suparto Brata dakgawa mulih, perluné arep dakwaca kanggo nyocokaké, mbokmenawa tulisan-tulisanku isih akèh sing klèru. Saliyané iku, aku butuh golèk panutan supaya tulisan-tulisanku bisa mundhak apik lan tembungé karoncé kanthi becik lan trep. Asmané Pak Parto wis suwé dakrungu, nanging durung ngerti kaya apa kara-karyané.
Mula, Dom Sumurup Ing Banyu banjur bisa sinebut dadi novel basa Jawa sing sepisanan dakwaca. Yèn crita cekak utawa tulisan-tulisan popilèr nganggo basa Jawa, aku wis tau kenal saka majalah Jaya Baya, Panyebar Semangat utawa rubrik basa Jawa ana koran-koran. Nanging, iku wis biyèn mula wektu aku isih SMP, rikala pamanku sing ngasta guru SD isih sugeng.
Lagi mbukak pirang-pirang kebèt, aku wis ngrasakaké ceblok dhemen marang tulisané Pak Parto. Juanggkrik! Dhahsyat tenan! Aluré dramatiké kepénak, lan ana pérangan-pérangan sing meksa aku kudu ngguyu ngakak. Kaya déné nonton filem James Bond, ana DSIB aku nemoni adegan wong lanang nyembrèt kutang, banjur tangané ngraman lakang, alesané sandhangan jerohan kang bahané saka nilon iku ora pantes diagem déning putri rekiblik. Mèmper-mèmper nggunakaké sèntimèn antinéolib yèn nganggo tembung cara saiki.
Kamangka, olèhé nyembrèt kutang lan grayangan menyang lakang kuwi mau mung kanggo perlu sing mligi lan sawiji, nuntasaké brahi! (Yèn kemecer pingin maca, mangga golèk dhéwé bukuné).
Saka Pak Arjo sing sejatiné jagoan sastra Jawa, aku ora mung ditepungaké Pak Parto lumantar bukuné. Ndilalah, dina Ngad utawa Akad, 14 Juni, Pak Parto dirawuhaké ing Sala déning Galeri Soedjatmoko dadi salah sawijiné pujangga Jawa kontemporèr ana diskusi babagan budaya Jawa kang jejuluk Wong Jawa Ilang Jawané.
Ésuk ketemu ana papan diskusi, benginé aku nemoni Pak Parto ana dalemé Pak Lis utawa Suliyanto DS, seniman kang naté nggedhèkaké paguyuban sandiwara basa Jawa sing wis kondhang kawentar ing nuswantara, yaiku Téater Gapit. Critané akèh, manékawarna. Aku ngangsu sakèh-akèhé, mumpung ketemu suhu, nyecep ilmuné guru.
Sing tansah dakéling-éling, Pak Parto ngendikakaké perluné maca lan nulis. Tekun maca tundhané olèh kepinteran, déné baud nulis bakalé bisa nglestarèkaké lan nularaké crita lan ilmu kanggo sapa waé, ora mung ing wektu saiki nanging tekan tembé, embuh kapané.
Awit bocah jaman urip ing Sragèn, mangkono ngendikané Pak Parto, wis dhemen maca buku. Pindhah Surabaya semono uga, kepénginané malah sansaya werna-werna lan kepinterané cepet ngrembaka. Buku-buku wacan basa Inggris lan Walanda, kabèh diwaca. Sekèh buku, ora mbédak-mbédakaké sanajan miturut ngendikané luwih seneng crita detektip. Sepisanan, buku-bukuné Agatha Christie terbitan Penguin sing akèh dilalap.
Saking senengé maca lan nulis, saka sakjam ngendikané wektu sapejagong karo aku lan kancaku, bengi iku, aku rumangsa wis éntuk ilmu akèh banget. Meneng-meneng, nyimak saka kabèh critané malah isin dhéwé. Sing dakwaca durung apa-apa, sing dakngerteni ora ana sakuku irengé. Puokoké, wuisin pol! Coba, priyayi wis yuswa 77 taun kok isih kersa maos Laskar Pelangi-ne Andrea Hirata barang, iku ora klebu ‘kurang gawéyan’? Andhap asor tenan, Pak Parto iku.
Sadurungé pamit mulih, aku disangoni ilmu awujud buku, uga crita detèktip, kang judhulé Kunarpa Tan Bisa Kandha. Timbang isin ngaku cubluk nanging tambah bodho, tur ora ana wong akèh, aku banjur wani takon marang Pak Parto: kunarpa niku napa ta, Pak?
Pak Parto banjur njlentrèhaké, yèn sing diarani kunarpa iku ora liya ya jisin, jasad utawa mayit, racaké kanggo nyebut korban rajapati. Kira-kira, kaya mayit sing ditliti para dokter forènsik jalaran sédané ninggal teka-teki.
Oh, iya, siji manèh sing perlu dakcritakaké ana kéné. Sanajan wis sepuh, Pak Parto isih rajin korespondhènsi lumantar émail. Tepungané akèh, ana negara ngendi waé ana. Aku seneng, aku bungah. Apa manèh, Pak Parto iku duwé kesenengan kaya aku, yaiku nge-blog. Nganyari posting diayahi dhéwé, njawab émail uga trengginas. Dikirimi SMS waé uga cepet anggoné mangsuli.
Jiaaaannnn, Pak Parto iku pancèn pantes dadi idhola, kanggo panutan sapa waé. Blog-é lumayan aktip yaiku http://supartobrata.com/ lan http://supartobrata.blogspot.com/.
Anané aku nulis ana kéné, jalaran Pak Parto nitipaké weling marang aku, kan ditulis ana buku sing diparingaké marang aku: Mas Blonthang (nganggo th lan g), yèn èlèk critakna marang aku, yèn apik critakna marang wong liya. (sajaké, Pak Parto kerep mlebu rumah makan Padang)
Pak Parta, kula sampun netepi dhawuh panjenengan. Nyuwun pangestu, kula badhé ngangsu……………. Nuwun.
Suparto Brata, Selingkuhanku dengan Pramoedya
Novel baru, semangat baru, pandangan baru. Ya …. ditengah – tengah penantian akan pembelian novel Pramoedya, saya coba untuk mengubek – ubek isi lemari perpustakaan Pemkot Surabaya lagi. Pilihan saya kali ini tertuju pada pengarang Suparto Brata. Pernah juga saat mencari koleksi Pram, tangan saya menyentuh novel ini tapi saya urungkan karena tebalnya lebih dari 700 halaman. Tentu ini butuh waktu luang untuk membacanya karena dikejar masa pinjam. Sampai akhirnya seminggu yang lalu saya menemukan lagi bukunya yang memang mudah ditemukan ditumpukkan karena tebalnya itu.
Novel Suparto Brata ini berjudul Mencari Sarang Angin. Kalau membaca uraian singkat dibelakang novelnya maka mungkin orang akan salah kira dengan isinya. Uraiannya mungkin akan dimaknai bahwa buku ini buku berat yang berisi pesan hidup budaya Jawa. Bagaimana tidak kata – kata awalnya saja wani ngalah luhur wekasane. Covernya juga tidak terlalu provokatif seperti buku kebangsaan Pram. Orang mungkin akan bisa juga salah arti ini novel berisi pesan – pesan budaya Jawa. Ternyata, seperti kata pepatah “Don’t Judge a book by the cover”.
Buku ini sungguh memukau. Novel ini tidak hanya bercerita tentang tokohnya Darwan sebagai wartawan. Anda pembacanya dibawa kealam Nederland Indische, satu masa sedikit didepan Tetralogi buru Pramoedya sampai masa – masa kemerdekaan ketika Pram bertutur di Bukan Pasar malam dan juga Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Novel ini sungguh lengkap bercerita. Mulai dari dunia wartawan, anda akan diajak berkenalan pada masa – masa penerbitan koran masih serba manual. Bercerita sejarah kota Surabaya dengan lengkap, bagi anda warga Surabaya maka anda bisa ikut merasakan suasana kota itu dimasa lampau. Bercerita tentang budaya sosial masyarakat Surabaya, sehingga anda yang bukan warga, pendatang baru maupun penduduk asli Surabaya dapat menyelami lebih dalam budaya Surabaya. Pencinta sejarah perjuangan bangsa Indonesia di Surabaya maupun Jawa akan terpuaskan disini, ini semua karena mana yang fiksi dan non fiksi sejarah sangat tipis sekali bedanya. Tidak lupa intrik, asmara, pandangan kebangsaan, dan juga pesan – pesan budaya Jawa dijlentrehkan secara apik dan memukau. Kita akan dibuat lupa akan tebalnya buku yang 726 halaman.
Ini semua memang tidak lepas dari pengarang Novel yang memang hidup pada jamannya, bekerja sebagai wartawan, dan sebagai wong Suroboyo. Novel Mencari Sarang Angin memang sudah pernah diterbitkan di koran Jawa Pos sebagai cerita bersambung. Suparto Brata tidak hanya mencipta Mencari Sarang Angin, ada beberapa novel lain yaitu Kremil (2002), Saputangan Gambar Naga (2003) Gadis Tangsi (2004) dan banyak lagi novel sebelum itu. Lain kali ketika saya sudah baca lagi karya beliau yang lain akan saya bagikan perasaan saya. Sehingga bagi pencinta novel dari Pramoedya Ananta Toer bolehlah “melirik” buku ini, tresna jalarane soko kulino.
Diambil dari : The Otherside Vers. 2
Suparto Brata, Penulis Sepuh yang Sangat Produktif

Hampir setiap hari saya mengintip http://www.supartobrata.blogspot.com/ atau http://www.supartobrata.com/ untuk mengetahui apakah Pak Brata ini mengeluarkan buku baru. Pak Brata (76), meskipun usianya sudah sepuh begitu sangat produktif menulis. Saya pernah mendapatkan balasan e-mail dari beliau, yang menginformasikan mestinya tahun 2007 lalu ada beberapa bukunya yang diterbitkan oleh Grasindo, tapi tertunda karena alasan sesuatu dan lain sebab sehingga sampai sekarang belum muncul di toko buku langganan saya. Pasti banyak penggemar Pak Brata yang menantikan buku-buku baru karangannya.
Dari sekian banyak buku karangan Suparto Brata, yang sudah menjadi koleksi perpustakaan pribadi saya yaitu :
1. Saksi Mata – Kompas
2. Gadis Tangsi – Kompas
3. Kerajaan Raminem – Kompas
4. Maghligai di Ufuk Timur – Kompas
5. Donyane Wong Culika – Narasi
6. Mencari Sarang Angin – Grasindo
7. Sapu Tangan Gambar Naga – Grasindo
8. Aurora Sang Pengantin – Grasindo
9. Lelakone Si lan Man – Narasi
10. Dom Sumurup Ing Banyu – Narasi
11. Suparto Brata’s Omnibus – Narasi
12. Jaring Kalamangga – Narasi
13. Emprit Abuntut Bedhug – Narasi
Tokoh dalam novel-novel karya Pak Brata diceritakan secara detil, sehingga saya kadang ikut terlarut ke dalam perasaan si tokoh. Satu hal yang tidak pernah ditinggalkan Pak Brata dalam setiap bukunya yaitu menyampaikan pesan betapa pentingnya membaca buku dan menghargai sastra. Dengan membaca wawasan akan terbuka semakin luas, dan dengan sastra akan membentuk budi pekerti yang baik.
Menurut saya, novel-novel Pak Brata yang berbahasa Jawa lebih terasa sastranya, dibandingkan karyanya yang berbahasa Indonesia.
Saya menjadi lebih tahu tentang kondisi negeri ini ketika masih dijajah Belanda atau Jepang dulu. Di zaman itu saya belum lahir dan mengetahuinya dari membaca buku sejarah. Tapi dengan membaca novel Pak Brata, di mana di novel itu diceritakan dengan begitu detil bagaimana di zaman tersebut dengan sendirinya pikiran saya melayang ke pusaran waktu yang diceritakan Pak Brata. Apalagi, dengan pintarnya Pak Brata ini menyelipkan cerita romantisme di dalam novelnya.
Sampai sekarang saya masih memburu novelnya yang berjudul Trem dan Kremil, bahkan sampai ke pasar loak, tapi saya belum mendapatkannya.
Diambil dari :Agus Sukarno Suryatmojo's Blog
"Donyane Wong Culika", Kita lan "Beban Sejarah", (1), (2), (3), lan (4)
Dari Yosep Bambang's weblog
1. Pambuka
SASTRA Jawa (modern) lagi ‘kewahyon.’ Lagi bae penulis rampung ngrembug novel Chandikala Kapuranta (Sugiarta Sriwibawa, 2002) ing PS No. 39-41, 2004, kanthi pangajab amrih sawise novel iki banjur ana novel basa Jawa sing kandel, lha kok mak brol, panyuwun iki keturutan. Ora ngenteni ganti minggu paribasane, penulis oleh pawarta yen tanggal 13 Oktober 2004, manggon ing Pusat Kebudayaan Perancis ing Surabaya, dianakake launching utawa ‘peluncuran’ Donyane Wong Culika (DWC), sawijining novel karyane ‘Bapa’ Suparto Brata. Tanpa ngurangi ‘apresiasi’ marang kabeh sastrawan Jawa kang tansah sengkud makarya kanggo nyipta karya sastra kang ‘bermutu,’ DWC cetha-cetha ngangkat drajade Sastra Jawa saengga kita kabeh kang isih tresna lan duwe kawigaten marang sastra Jawa bisa melu ngrasakake marem. Gampange kandha, publik sastra Jawa saiki ora perlu isan-isin mbiwarakake marang sak sapaa bae yen isih seneng maca sastra Jawa, utamane sawise maca DWC. Samono uga, para sastrawan Jawa bisa ‘duduk sama rendah, berdiri sama tinggi’ karo sastrawan liyane. Yen iki dianggep pangalembana marang DWC pancen bener---amarga pancen pantes nampa pangalembana, nanging pangalembana marang DWC ora mung mligi kanggo novel iki lan pengarange, nanging bisa sumrambah marang sastra Jawa secara umum. (Ing perangan pungkasan saka tulisan iki, penulis bakal ngrembug perkara ‘momentum’ kang didarbeni dening sastra Jawa ing wektu iki amarga kababare DWC.)
Pangalembanane penulis marang DWC ora mung amarga novel iki kandel (mbokmanawa mujudake novel Jawa paling kandel), nanging luwih-luwih amarga isine. Ngengingi perkara kandele novel, iki ya ana sing narik kawigaten kanggo dirembug. Sing cetha kita kabeh bisa ndeleng blegere, ngrasakake antebe, lan mbokmanawa krasa ‘pedhes’ mripat kita amarga ora entek-entek kaca mbaka kaca kita bukaki sajroning maca novel iki. Nanging mripat kang ‘pedhes’ iki oleh ijol ati lan pikiran kang sigrak, amarga novel iki bisa mbukak ati lan pikiran kita ngengingi akeh perkara. Mula, perkara isining novel iki kang banget wigati kanggo diudhari. Sanajan akeh perkara penting ing DWC, ing tulisan iki penulis ora bisa ngrembug kabeh mau. Bab-bab sing penulis rembug ing kene ing antarane: Sepisan, ‘kurun wektu’ penulisan DWC kang luwih saka 20 (rong puluh taun). Kapindo, ‘tegangan’ ing antarane crita lan gagasan. Cethane, Suparto Brata ora mung crita ing novel iki, nanging akeh ngudhar gagasan wigati liwat para paraga utawa tokoh-tokohe. Kaping telune, perkara ‘beban sejarah’ kang kita sandhang---ora mung minangka wong Jawa nanging minangka wong Indonesia. Kaping pat, penulis bakal ngrembug bab ‘momentum’ sing pas kanggo ‘revitalisasi’ sastra Jawa kanthi terbite DWC.
‘Kurun wektu’ ciniptane DWC
Miwiti maca DWC, sadurunge crita kawiwitan, ana perangan kang banget narik kawigaten ing kaca sawise sawatara ‘komentar’ saka para winasis tumrap Suparto Brata. Sengaja ing kene penulis nyuplik kanthi wutuh perangan kang nuduhake kapan DWC iki wiwit katulis nganti rampung: Katulis ing Surabaya, 16 – 26 Desember 1979. Kabecikake ing Surabaya, 7 September – 28 September 1992. Diketik komputer lan disampurnakake ing Surabaya 18 September – 5 Desember 2000. Dikoreksi kawasanan, 15 Maret 2001. Gunggung kepruk, Suparto Brata mbutuhake wektu kurang-luwih 22 taun kanggo nyampurnakake DWC sadurunge diterbitake dening Penerbit Narasi, Yogyakarta, ing taun 2004. Pitakon sing tuwuh saka wektu kang suwe iki: apa pancen Suparto Brata mbutuhake wektu kang samono suwene kanggo ngrampungake novel siji? Yen ora, geneya lagi saiki DWC diterbitake?
Mbokmanawa pitakon ing dhuwur bisa bae ora ana pedahe arepa diwangsuli kanthi dawa. Tegese, bisa bae bab iki mung perkara lumrah. Nanging, kosok baline, pitakon iki bisa banget narik kawigaten---lan pancen penting, mbuh kuwi saka ‘sudut pandang’ sejarah, sosiologi pembaca sastra, ekonomi apa dene ‘sudut pandang’ sosial-politik ing negara kita. Sing cetha, penulis ora percaya yen mung kanggo ngrampungake novel siji, Suparto Brata mbutuhake wektu kang samono suwene. Apa maneh yen nitik saka ‘derese’ karya-karyane sasuwene iki. Karomaneh, nitik saka lancare alur crita, sadurunge lair dadi tulisan, crita iki kaya-kaya wis mateng ana ing ciptane pengarange. Utawa, kanthi tembung liya, Suparto Brata wis ‘nggarbini tuwa’ mung kari nglairake critane ing tulisan. Kanthi pawadan ‘asumsi’ kang kaya mangkene, mula penulis ngudarasa bab ‘suwene’ novel iki sadurunge kababar.
Diwawas saka ‘sudut pandang’ sosiologi pembaca sastra Jawa, apa kira-kira Suparto Brata ngenteni anane ‘minat baca’ sing dhuwur ing kalanganing wong Jawa sadurunge nerbitake novele? Kita kabeh mangerteni, sing jenenge sastra sacara umum kuwi dudu barang penting kanggone bebrayan kita. Sing seneng maca sastra ya mung pengarang, saperangan ‘kalangan akademik,’ lan wong-wong sing pancen seneng sastra sing gunggunge ora sepiraa. Sajroning puluhan taun kok kaya-kaya ora ana owah-owahan gedhe ing babagan iki. Apa maneh ing donyane sastra Jawa, wiwit ndhisik tumeka saiki ‘grafik’ gunggunge pembaca iki mbokmanawa ora munggah-munggah; nanging padha bae utawa malah kepara mudhun. Mula saka kuwi, yen anggone Suparto Brata mbutuhake wektu sing suwe kanggo mbabar DWC amarga ngenteni ‘melek sastra’ ing kalanganing wong Jawa, kok kira-kira alesan iki ora bener. Cethane, dudu merga perkara iki DWC lagi saiki kababar.
Kepriye yen saka ‘sudut pandang’ ekonomi? Mesthi bae bab iki tetep gegayutan karo perkara sosiologis. Sacara umum, ekonomine bebrayan Jawa luwih apik yen katandhingake karo kahanan ing pungkasaning taun-taun 1970-an utawa wiwitan 1980-an. Nanging kahanan ekonomi sing luwih becik iki ora ateges wong Jawa dadi luwih sregep tuku buku lan banjur maca buku. Ora bisa dianggep mangkono. Akeh wong duwe dhuwit, akeh wong sugih, nanging ora padha gelem maca. Apa maneh maca sastra Jawa. Mula saka kuwi, ‘daya beli yang meningkat’ babar pisan ora bisa diwaca minangka luwih payune buku-buku sastra Jawa. Kajaba saka kuwi, tumeka saiki ya tetep langka penerbit sing wani nerbitake buku-buku sastra Jawa. (DWC didhuwiti dhewe dening Suparto Brata---iki keterangan sing bisa penulis mangerteni saka makalah “Konstelasi Donyane Wong Culika Dalam Dunia Penerbitan Sastra Jawa: Sebuah Keberanian Suparto Brata” (Dhanu Priyo Prabowo, 2004). Kanthi mangkono, padha karo sudut pandang sosiologis, alesan ekonomi iki kira-kira ya dudu sebab penting kena ngapa DWC lagi kababar saiki.
Banjur, apa amarga ‘faktor’ sosial-politik? Iki pancen ‘menarik’ dirembug. Akeh pitakon sing bisa kita ajokake ing perangan iki. Umpamane, apa kira-kira Suparto Brata pancen ngenteni ambruke rejim Orde Baru? Sak sapaa bae kang kepengin naliti DWC ing gegayutane karo sejarah lan kahanan sosial-politik ing Indonesia, umpamane,---kajaba kudu maca novel iki kanthi njlimet--- mesthi bae mbutuhake katerangan langsung saka pengarange. Tegese, ing kene pancen apa sing dadi pamikire Suparto Brata ngengingi kahanan sosial-politik lan sejarah bangsa iki uga kudu dibabar. Geneya penulis duwe panemu sing kaya mangkene, marga sawuse rampung maca, penulis mikir-mikir yen novel iki terbit ing jaman Orde Baru, DWC bisa mujudake novel kang banget ‘sensitif.’ Bisa-bisa nasibe kaya saperangan karya sastra sing banjur ‘dilarang beredar’ dening Kejaksaan Agung. Mbokmanawa iki sing dadi ‘faktor penentu’ geneya lagi ing taun 2004 Suparto Brata nerbitake DWC, ora ing taun-taun nalika Orde Baru isih meger-meger nyekel panguwasa ana ing negara kita. Kanthi pawadan iki uga, mula penulis milih sesirah (judul) ing dhuwur. Cethane, tumeka dina iki, kita minangka bangsa Indonesia pancen isih nyandhang ‘beban sejarah’ kanthi anane prastawa G 30 S PKI utawa Gestok. Tumeka dina iki kita ora ngerti persis pira cacahing jiwa kang dadi banten ing prastawa iku. ‘Beban’ liyane sing kita sandhang, kita uga ora mangerteni kanthi cetha jan-jane sapa sing salah, sapa sing bener, sapa sing dadi pahlawan, lan sapa sing dadi ‘pengkhianat.’ Utawa, sapa sing sak jane culika? Kita ora mangerteni kanthi trawaca. Sing kita mangerteni, tumeka saiki, donya (Indonesia?) iki wis dadi ‘donyane wong culika.’ Iki sing kanthi cetha diwartakake dening Suparto Brata liwat DWC. Bab iki bakal penulis rembug maneh ing perangan ngisor kanthi luwih dawa.
Kanthi ngaturake bab-bab ing dhuwur---geneya DWC butuh wektu nganti luwih saka 20 taun sadurunge terbit---kita bisa nduweni ‘kesimpulan’ yen sastra---kang serius mesthi bae---mujudake karya seni kang ‘rumit’. Akeh ‘faktor’ utawa tetimbangane pengarang kanggo nerbitake karyane. Samono uga, karya sastrane dhewe, ora bisa uwal saka kahanan lan ombyaking jaman lan masyarakate. DWC mujudake karya sing kaya mangkene iki. Mula bareng terbit, DWC mujudake novel Jawa kang pancen ‘kompleks’ banget. Penulis yakin yen tulisan iki mengko mung bakal dadi tintingan kang mung sepala bae ora. Tegese, yen kandele DWC 535 kaca, ‘kajian’ utawa tintingan sing bakal bisa katulis dening sapa bae ing tembe bisa tikel-tekuk kandele. Lan bab tintingan (utawa kritik utawa apresiasi) iki dudu krana kandele DWC nanging luwih-luwih amarga isine sing kompleks kuwi mau. Kita darbe akeh conto karya sastra kang tansah oleh tintingan tumeka kapan bae.
Sing cetha, wektu rong dasa warsa luwih kang dibutuhake dening Suparto Brata kanggo ngrampungake lan nerbitake DWC dudu wektu kang muspra. Malah kosok baline. Saka ide utawa gagasan, novel iki ‘mateng.’ Saka critane, peni. Saka teknik critane, uga mujudake novel kang beda saka salumrahe novel. Mula saka kuwi, ing perangan ngisor mengko kanthi mligi penulis uga bakal ngrembug perkara ‘tegangan ing antarane crita lan gagasan.’ Kajaba saka iku, ing ‘daya kreativitas’-e Suparto Brata, sepisan maneh kita ngadhepi bukti nyata yen basa Jawa kuwi pancen basa kang endah. Para winasis ing babagan ilmu bahasa (linguistik) bisa nganakake panaliten kanthi njlimet ngengingi basa Jawa ing novel iki. Gandheng penulis ora pana ing babagan iki (amarga dudu bidange penulis), penulis mung bisa ngaturake yen DWC bisa dianggep minangka ‘revitalisasi basa Jawa tulis.’ Sapa bae sing sasuwene iki nguwatirake mblerede basa Jawa tulis, sawise maca DWC ora perlu was-sumelang maneh. Basa Jawa tetep bisa dienggo nulis crita kang dawa, tetep bisa dienggo ngudhar lan mbabar ide utawa gagasan-gagasan kang penting. Lan penulis kira ora ana salahe yen basa Jawa uga pantes kanggo sarana nulis ‘ilmiah.’ Basa Jawa ora mung kanggo ular-ular temanten apa kethoprakan utawa dhagelan. (Nuwun sewu, yen tetep ana sing durung mantep, mangga maos kemawon DWC). Muga-muga ing tulisan iki isih ana papan kanggo ngrembug bab endahing basa Jawa ---sanadyan mung sethithik.
Kanthi apa sing wis penulis aturake ing dhuwur, penulis uga kepengin mratelakake yen sing jenenge karya sastra pranyata bisa ‘dikoreksi’ sadurunge siap terbit. DWC malah dikoreksi makaping-kaping. ‘Konsekuensine,’ pancen dibutuhake wektu kang suwe kanggo sampurnane. Nanging bab iki uga ana risikone. Kanthi anane owah-owahan jaman lan tatanan, bisa bae DWC malih saka crita kawitan. Utawa ‘jalan cerita’ sing dikarepake pengarange bisa dadi beda banget. Iki bisa mujudake ‘pelajaran’ penting marang kita kabeh: yen kita kepengin ngasilake karya sing mateng, ya pancen kudu dibelani rekasa. Pitakon sing ana: saliyane Suparto Brata, sapa ya sing gelem ngoreksi karyane dhewe makaping-kaping lan nganti taunan sadurunge karya mau diterbitake? Iki pitakon kang banget penting amarga, kita kabeh ing pungkasan mangerteni, yen karya kang digarap kanthi tumemen bakal ora nguciwani. Kanthi terbite DWC, sepisan maneh penulis ambali, para sastrawan lan pembaca sastra Jawa mesthi melu ngrasakake kumandhange.
2. ‘Tegangan’ ing antarane crita lan gagasan
KITA mesthi sarujuk yen ing mula buka, novel kuwi crita. Tegese, kasil lan orane utawa apik lan orane sawijining novel gumantung marang critane. Yen critane apik, digarap kanthi becik, perangan-perangan (unsur-unsur) liyane sing mbangun novel mau uga apik. Ing bab crita, DWC nengsemake. Maca critane, kita bisa ngrasakake saiba rasa-pangrasa kita kasendhal-sendhal: kadhangkala kita ngrasakake seneng, kadhang nelangsa. Ing sawijining perangan kita melu ‘emosional,’ ing perangan liyane kita bisa bae mesem kecut. Bisa uga kita duwe pangigit-igit amarga ana paraga kang kejem miturut ukuran lumrah. Nanging ora mung sepisan utawa kaping pindho bathuk kita njengkerut amarga mikir banter ngengingi sawijining perkara kang kababar dening Suparto Brata.
DWC critane ‘kompleks.’ Crita sing ruwet-njlimet iki njupuk setting papan ing tlatah Purworejo lan sakupenge, setting wektune taun-taun sadurunge lan sawise dahuru geger PKI taun 1965. Iki papan lan wektu sing baku sing dadi rangkane novel. Nanging, gandheng critane njlimet nyangkut paraga kang akeh banget lan perkara kang amba bawera, mula DWC uga ngengingi wektu-wektu kepungkur suwe sadurunge prastawa 1965 dumadi lan sawise prastawa kasebut. Ngengingi setting papan crita, Jakarta, Surakarta, Yogyakarta lan sawatara papan liyane ya melu katut ngrenggani isining novel. Paragane akeh, saengga angel kita temtokake sak jane sapa ta paraga utamane novel iki: Kasminta? Tukinem? Pratinah? Apa Den Darmin? Apa Sukardi Pak Guru? Kabeh paraga iki penting. Kajaba kuwi isih akeh maneh paraga liyane sing uga penting.
Sing narik kawigaten, Suparto Brata mara novel kang kandele 535 kaca iki mung dadi telung bab (perangan); Bab I: Kasminta, Bab II: Tukinem, lan Bab III: Pratinah. Saka ‘teknik bercerita,’ Suparto Brata bisa dikandhakake rada ngowahi pakem. Umume, alur crita sawijining novel iku maju, utawa mundur, utawa campuran. Nanging ing DWC iki, apa sing wis dicritakake ing perangan siji banjur dicritakake maneh ing perangan loro lan telu kanthi ‘sudut pandang’ kang beda. Mesthi bae ora persis padha, ana sing ditambah ana sing disuda ing kana-kene. Ana uga bab-bab anyar sing durung dibabar ing perangan siji utawa loro banjur lagi dicritakake ing perangan telu. Kanthi teknik crita kang kaya mangkene, bab sing paling nengsemake ya kuwi kita bisa ‘mbiji’ sawijining paraga, umpamane Kasminta; ora mung saka ‘satu sudut pandang’ nanging uga saka pandang liya. Cekake, gambaran ngengingi pribadine Kasminta, Tukinem, apadene Pratinah, lagi lengkap kita mangerteni sawise rampung anggon kita maca novel kanthi tuntas. Ora bisa kita ndeleng Kasminta mung saka perangan utawa bab I, umpamane.
Kanthi migunakake Kasminta, Tukinem, apadene Pratinah minangka sesirah utawa judul perangan I, II, lan III, bisa dikandhakake yen sarining crita pancen ana ing paraga telu iki. Kasminta sawijining paraga sing ambyur dadi anggota PKI lan sawutuhe ngrumansani yen PKI bakal dadi dalan kanggo kamulyane rakyat cilik. Dheweke wis bosen dadi wong mlarat. Dheweke lunga saka ndesane, Dhukuh Bangkuning, ‘berjuang’ minangka anggota PKI. Bareng PKI kalah Kasminta banjur bali mulih menyang ndesane kepengin miwiti urip anyar. Dene Tukinem, sawijining guru kang banjur leren anggone dadi guru sawise omah-omah karo Sukardi, kang uga guru, wis mangerteni Kasminta wiwit cilikane. Tukinem bisa dikandhakake dadi antagonis-e Kasminta amarga dheweke anti-PKI. Lan Pratinah, anake Dhalang Pratignya kang omah-omah karo Srimadu, dadi wong sing bisa ‘memanfaatkan’ kisruhe swasana sosial-politik jaman semana kanggo ngeruk keuntungane awake dhewe. Kajaba saka iku, isih akeh maneh paraga penting liyane, kayata Sukardi, Den Darmin, Ki Pratignya, Srimadu, Ndara Kanjeng Jodi, Susmanta, Saksana lan sateruse.
Tukinem sekolah ana kutha Sala banjur sesambungan raket karo Sukardi; sawise padha lulus banjur omah-omah lan dadi guru ana desane Tukinem. Pratinah sing dadi muride Sukardi banjur nresnani gurune, nanging ora kasembadan. Kasminta dhewe tau arep tumindak keladuk lan murang tata marang Tukinem sing banjur ndadekake Tukinem sengit salawase urip marang Kasminta. Kasminta dhewe ya duwe ati marang Pratinah lan sengit marang Tukinem apadene Sukardi. Pratinah banjur oncat saka desa amarga kepedhotan tresna, lunga menyang Jakarta sesambungan karo priya sing pranyata gawe wirang-isin ibune nalika isih mudha. Ing Jakarta Pratinah malih dadi ‘gadis metropolitan’ sing wasis-pinter ing samubarang. Ing pungkasan dheweke bali menyang desa mburu katresnane marang Guru Kardi. Ing pungkasan crita, Pratinah pralaya ing tangane Guru Kardi sing pranyata mung gagah dedeg-piadege nanging wong lanang kang ora nglanangi. Guru Kardi dhewe mati ngendhat, dene Kasminta ambyar angen-angene olehe arep mbangun urip anyar amarga kapikut dening punggawa negara lan konangan yen dheweke anggota PKI.
Saka critane, DWC pancen muyeg. Nanging kekuwatane novel iki ora mung ana ing crita. Saka gandheng-ceneng ing antarane paraga siji lan sijine, ing antarane prastawa siji lan liyane, Suparto Brata nyelipake gagasan-gagasan utawa ide-ide ngengingi maneka-warna perkara: perkara urip bebrayan agung, perkara moralitas, sesambungan ing antarane negara lan rakyat, perkara agama lan religiositas (agama lan religiositas manut andharane swargi Romo Mangunwijaya ing buku Sastra dan Religiositas kuwi ora padha). Kajaba saka iku, Suparto Brata uga duwe gagasan-gagasan ngengingi militer (tentara) ing negara kang lagi perang lan ora perang, uga gagasan kang magepokan karo sastra lan seni, lan uga saiba bangsa iki (bangsa Indonesia) ora bisa sinau saka sejarah; ana maneh perkara gender lan liya-liyane. Akehing gagasan utawa ide iki ndadekake DWC sawijining novel kang ‘kenthel’ utawa ‘pekat.’
Mung emane (apa pancen disengaja?), kabeh gagasan iki mau kawedharake dening akeh paraga. Bisa dikandhakake yen Suparto Brata ntlusup mlebu ing pikirane para paraga ing DWC. Pratinah, umpamane, sanadyan pendhidhikan formal-e mung SMP, dheweke wasis crita ing samubarang: perkara seni, sastra, kabudayan, politik lan isih akeh maneh. ‘Pergaulan’ ibu kota nyulap Pratinah dadi wanita pinter basa manca, utamane Inggris lan Perancis, pinter nembang, nyanyi, njoged, dansa. Dheweke tansah eling marang piwulang luhur saka ibune, Srimadu, nanging uga nindakake urip kang bebas sak bebas-bebase. Samono uga, gagasan-gagasan utawa ide-idene pengarang kababar liwat paraga-paraga liyane, umpamane liwat Den Darmin, Sukardi, Ndara Kanjeng Jodi, Saksana, lan uga liwat Srimadu.
Kenapa bisa mangkono, iki uga sing narik kawigaten. Bisa bae bab iki pancen disengaja dening Suparto Brata. Amarga, kanthi akehing gagasan utawa ide, rasane pancen angel banget yen kabeh gagasan kuwi mau mung kababar liwat salah sijining paraga. Srimadu, umpamane, gandheng dheweke duwe trah kraton, mula baud ing seni lan budaya. Perkara loro iki pancen dipredi tenan saengga dheweke wasis ing bab seni lan kabudayan Jawa. Dene perkara-perkara kemiliteran (tentara) dibabar liwat Den Darmin, sawijining pensiunan tentara (pensiun amarga karepe dhewe---sawise perang nglawan penjajah rampung dheweke emoh maneh dadi tentara sebab manut pamikire, yen negara ora duwe mungsuh paling-paling tentara bakal mbedhili bangsane dhewe). Bab wawasan-wawasan global lan modernisasi, umpamane, kababar liwat sawijining dhokter, yakuwi Dokter Stefi Tjia, ndhisike anggota TP sing banjur sinau kedokteran ing Amerika Serikat sawise perang rampung. Ya nalika urip bareng karo dhokter iki (tanpa ningkah!) Pratinah sinau basa lan seni budaya manca. Bisa uga, gagasan-gagasane Suparto Brata ‘mengalir’ ngono bae sairing karo menggak-menggoke crita, saengga saben paraga gelem ora gelem kudu nggawa ‘beban’ medhar gagasan kuwi mau. Yen iki sing dumadi, tegese pancen ora bisa diendhani. Mung bae, banjur ana ‘kesan’ yen para paraga iki manungsa-manungsa kang lantip, pinunjul, lan wasis ing samubarang. Gelem ora gelem ‘pembaca’ bakal mikir yen para paraga iki mau mujudake ‘representasi’ pengarange ing babagan ngandharake gagasan-gagasane. Nanging sacara umum, ing pungkasan---utawa sawuse rampung maca novel---bab iki mau ora pati penting. Sing luwih wigati, DWC mujudake crita kang muyeg lan kebak ing gagasan-gagasan penting kuwi mau.
Mokal ing tulisan iki penulis ngrembug kabeh gagasan penting sing ana. Amarga papan kang cumpen, penulis mung bisa ngaturake sawatara gagasan pentinge pengarang. Ing bab kabudayan, umpamane, ana perkara penting kudu kepriye kita wong Jawa iki nduweni ‘sikap’ ing jaman modern iki. Nalika Kasminta ngrasani Guru Kardi geneya marem duwe bojo Tukinem sing ora bisa duwe turun---tegese minangka wanita Jawa Tukinem ora komplit bisa macak, masak, manak (ing pungkasan crita kita mangerteni pranyata Sukardi sing ora sampurna olehe dadi wong lanang), Pratinah kandha:
“… Pikirane wong lanang Jawa waras sing modern wis ora ngono maneh. Manut Tuwan Cheng Hoo, cekelan urip sing modern kuwi wis beda, wis owah, wis diwori pikiran cara urip sing nyocogi kahanan anyar. Tegese kecampuran cara uripe wong Landa, Cina, Arab, kang mlebu mrene sarana liwat teknologi, ekonomi, agama, lan sapanunggalane. Kabeh diurap dadi pikiran modern, bisa nglakoni urip kepenak ngadhepi jaman anyar, sarana ngecakake teknologine wong Jerman, ekonomine wong Cina, agamane wong Arab, kabudayane wong Jawa aseli. Kudu gelem campur lan nyampur, lan ora bisa mung nengenake sing mligi, sing aseli, sing murni, upamane mung nengenake kabudayane wong Jawa thok, sing liya prek! …” (kaca: 75-76).
Den Darmin, ‘tokoh kontroversial’ sing pungkasane dipateni dening PKI ing tengah sawah (lan amarga saka kuwi anake wedok Den Mintarti dadi owah pikirane), pilih metu ora dadi tentara sawise rampung perang. Nalika Guru Kardi takon geneya metu olehe dadi tentara, dheweke wangsulan mangkene:
“Lha wong ora ana perang. Tentara kuwi gunane rak perang, mbelani negara, mbelani bangsa. Lha yen bangsa wis ora duwe mungsuh, rak ya prajurite kudu leren. … Eman, ta, yen manungsa kaya aku ngene nganggur ngethekur dadi prajurit, lan kudu dibayari negara. Prajurit ora jaman perang rak nganggur, nanging tetep dibayari negara, didulang negara. Kuwi wong sing ora produktip. Yen wong nganggur nggawa bedhil ing negarane dhewe sing ora perang, mesthi sing dibedhili ya bangsane dhewe! Mesthi! Lha kuwi sing aku emoh! Nyawijine bangsa iki tumrapku kang utama kudu daklabuhi ing sajrone ngaurip. Anggonku nyawijekake sarana labuh ngusir penjajah wong manca, dakrewangi toh pati. Nanging yen wong manca wis lunga, cara nyawijekake bangsa kuwi aja kasaran, aja nganti peksan, aja ndhesegake benere dhewe. Apa maneh nganggo mbedhili bangsa dhewek. Oo, kuwi dosa gedhe!” (kaca 129).
Ing perangan-perangan liyane ing DWC, gagasan-gagasane Den Darmin kang kaya mangkene iki akeh. Salah sijine sing penulis pethal ing kene yakuwi: “Mula rampung perang karo Landa, Indonesia mardika satus prosen, aku njaluk metu saka tentara. Yen terus dadi tentara, aku kuwatir kudu ngayahi prentah kaya neng Ngawi kuwi, mbedhili bangsaku dhewek. Kamangka Indonesia wis mardika, ora duwe mungsuh tentara manca. Aku metu saka tentara kanthi rumangsa dosa. Dosa mateni bangsa dhewek. Sanajan kuwi wong komunis. Aku ora tega. (kaca 149).
Liwat paraga Den Darmin, mesthine bisa bae kita darbe ‘interpretasi’ yen kanggone Suparto Brata cara-cara ‘kekerasan militer’ kanggo merangi utawa mbedhili bangsa dhewe kuwi mesthine ora katindakake. Nanging kita mangerteni, sajroning pirang-pirang puluh taun bab iki tetep bae dumadi ing negara kita. Iki sing mujudake salah sijining ‘beban sejarah’ kang bakal penulis rembug ing ngisor.
Isih akeh gagasan-gagasan penting liyane ing DWC. Gandheng ora bisa dibabar kabeh ana ing kene, becik kita tandhesake maneh yen kanggone Suparto Brata, novel ora mung perkara gawe crita sing apik, sing gayeng, utawa sing rame. Luwih saka kuwi. Nanging novel uga mujudake sarana kanggo menehi ‘sumbangan pemikiran’ marang bebrayan agung bangsa iki. Nitik saka wektu kang suwe kanggo nyampurnakake DWC, Suparto Brata mesthine kepengin supaya DWC iki duwe ‘makna nyata’ kanggo urip bebrayan kang luwih becik, ora mung dadi sawijining novel Jawa kang gampang dilalekake. Ing mula buka novel pancen crita, nanging ing pungkasan novel mujudake crita kang duwe ‘makna’ kuwi mau.
3. Kita lan ‘beban sejarah’
JAN-JANE kepriye prastawa G 30 S PKI kuwi? Sapa sing merjaya para jenderal? Apa bener PKI? Yen ora banjur sapa? Akeh maneh pitakon ngengingi salah sijining dahuru paling nggegirisi ing negara kita iki. Tumeka saiki, isih ana panemu sing beda-beda ing antarane para sejarawan. Mula kuwi saperangan gedhe ing antarane kita dhewe ya melu-melu ora ngerti. Sanajan ing tulisan iki penulis ora arep ngrembug sejarah, nanging sastra---utamane DWC, ana becike ing kene penulis miwiti saka bab iki amarga ‘isu sentral’ ing novel iki pancen ngengingi urip lan panguripaning wong akeh amarga anane geger ing taun 1965 iki. Bali marang ‘interpretasi’ sapa ta jan-jane sing merjaya para jenderal sing banjur dadi geger nggegirisi kuwi, penulis kepengin nyuplik panemune sawatara ahli sejarah saka Amerika Serikat iki:
“The crisis burst before dawn on October 1, 1965, when a group of middle-rank officers assassinated six senior generals and proclaimed their own assumption of power under Sukarno’s aegis. In Indonesia the coup is officially attributed to the PKI; foreign scholars diverge widely in their interpretations. At any rate it was the aftermath of the coup---suppressed within a day by forces shrewdly deployed by General Suharto---that was decisive” (In Search of Southeast Asia: A Modern History dening David Joel Steinberg, ed., 1987: 424).
Pethikan iki menehi gambaran yen jan-jane pancen isih tetep ana ‘misteri’ ing suwaliking prastawa ing taun 1965 kasebut. Resmine (versi pemerintah Orde Baru), ing Indonesia sing kadakwa nindakake raja pati kuwi mau pancen PKI. Nanging Steinberg lan para kolegane ya nandhesake yen ing antarane para sarjana manca ana ‘interpretasi’ kang maneka warna utawa beda-beda. Ya iki sing dadi sanggan utawa ‘beban’ sejarah kita kabeh minangka bangsa. Ora anane ‘kepastian’ iki ndadekake kita mung bisa ‘meraba-raba dalam kegelapan’. Sing luwih ‘misterius’ maneh, Sejarah Indonesia Modern ya ora bisa menehi ‘kepastian’ ngengingi pira nyawa sing dadi banten ing geger gedhe kuwi. David Joel Steinberg lan para kancane sing nulis buku kasebut mung bisa ngandhakake yen “Hundreds of thousands were massacred, systematically and---most awfully---without resistance. (Estimates of the number of victims range, shakily, from fewer than a hundred thousand to a million …)” (In Search of Southeast Asia, 1987: 424). Sauntara kuwi Dr. Asvi Warman Adam, ing perangan “Epilog” ing buku Memoar Pulau Buru (Hersri Setiawan, 2004: 593) nyebutake “Jumlah korban tewas dalam pembantaian itu berkisar dari 78.000 orang (menurut Fact Finding Commission) sampai 3 juta jiwa seperti diakui Komandan RPKAD Sarwo Edhi.”
Ing kene kita bisa duwe dudutan yen sakjane sejarah kuwi ora mung perkara ‘fakta’ nanging uga perkara ‘interpretasi.’ Isih ditambah maneh karo sapa sing nyekel panguwasa, amarga panguwasa iki sithik-akeh sing nemtokake sejarah. Kajaba saka kuwi, kadhang kala ing antarane sejarah karo fiksi kuwi angel dibedakake. Novelis Saskia Wieringa, sing uga ilmuwan sosial, ing perangan “Kata Pengantar” novele kang asesirah Lubang Buaya (2003) malah nulis mangkene: “Fiksi atau sejarah? Banyak sejarawan masa kini berpendapat bahwa semua sejarah adalah fiksi. Tak ada fakta, hanya diskursus yang selalu berubah dan dipengaruhi oleh kekuasaan.” (Novel iki asline ditulis ing basa Walanda lan dijarwakake mring basa Indonesia dening Tatiana Utomo).
Resmine, Suparto Brata dudu sejarawan. Nanging DWC mujudake sumbangan penting tumrap sejarahe bangsa iki. Minangka salah sijining warga negara kang melu dadi seksi geger taun 1965, mesthi akeh perkara penting kang ora luput saka panggraitane. Gandheng Suparto Brata sawijining sastrawan, mula wis trep yen sing dicipta kuwi novel, dudu buku sejarah. DWC kang multi interpretable (nduweni makna utawa teges maneka warna gumantung sapa sing maca) ing kene mujudake salah sijining ‘interpretasi’ tumrap prastawa-prastawa sejarah kuwi mau. Mulane penulis ngaturake ing dhuwur yen novel iki penting saka ‘sudut pandang’ sejarah. Pentinge ya kuwi amarga novel kang kaya mangkene iki bisa dikandhakake bisa ngisi ‘lubang-lubang sejarah’ sing isih kosong. Kepriyea bae teks-teks sejarah ora bisa nyakup kabeh ‘fakta’ lan kabeh ‘interpretasi,’ saengga DWC bisa dadi salah sijining alternatif---sanadyan sifate literer.
Sing bisa kita semak, apa sing kababar ing DWC mujudake kahanan urip lan panguripaning manungsa Jawa sing langsung utawa ora langsung ana gegayutane karo prastawa taun 1965. Para paragane kanthi cetha menehi gemgambaran marang kita ing bab iki. Kasminta sing mlarat gampang diobong dening para pimpinan PKI supaya brontak, amarga mung kanthi brontak rakyat cilik sing mlarat duwe keyakinan bakal ndarbeni negara lan bisa makmur. Bisa bae jan-jane dheweke ora ngerti apa ta tegese dadi PKI utawa apa ta tegese ‘berjuang.’ Nanging, gandheng kahanan---mlarat lan rekasa sing ora ana enteke---dheweke melu-melu. ‘Pelajaran’ penting ing kene: wong-wong kaya Kasminta (wong cilik) kuwi gampang diobong. Mula banjur uga katelah akar rumput. Om Son, utawa Kapten Saksana nalika semana, mujudake gegambaran sawijining anggota militer kang banjur urip enak-kepenak sawise PKI kabrasta. Kita bisa ndeleng-nyekseni dhewe yen akeh jenderal lan petinggi militer urip mubra-mubru tumeka dinane iki amarga puluhan taun nyekel panguwasa (nanging Den Darmin emoh!). Dene Pratinah mujudake gegambaran ngengingi sapa bae sing pinter ‘memanfaatkan kesempatan’ saka situasi lan kondisi sing semrawut lan ora karu-karuan. Kajaba saka iku, Suparto Brata uga mbabar urip lan panguripaning wong akeh liyane sing panggaotan lan drajade beda-beda. Kanthi cekak, bisa dikandhakake yen kanthi anane geger PKI taun 1965 ora ana anggota masyarakat sing ora kena ‘dampake,’ (mbokmanawa) tumeka dinane iki. Ana sing untung utawa diuntungake, ana sing cilaka utawa digawe cilaka. Lan, sing mesthi: akeh wong culika! Kaya-kaya donya iki wis dadi donyane wong culika!
Sing uga bisa kita semak, Suparto Brata ora nduweni ‘tendensi’ utawa ‘pretensi’ menghakimi ana ing DWC. Ana upaya ing novel iki yen pengarang kepengin ngadeg ing tengah-tengah, dudu ‘ekstrim kanan’ utawa ‘ekstrim kiri’ (yen istilah iki pas). Sejarah versi pemerintah (Orde Baru), cetha: PKI kuwi kudu dibrasta, kudu cures, amarga elek. Malah anak-turune wong-wong sing pancen dadi anggota PKI klebu sing mung dianggep PKI isih ngrasakake ‘stigma’ kaya ngene iki tumeka saiki. Lan ora ana sing wani ngaku sedulur utawa permili marang anake PKI. Ing DWC dhewe ana perangan kang kanthi cetha nuduhake bab iki, yakuwi nalika Mbok Sali lan Kasminta rembugan bab Painem, sawijining bocah lola:
“Terus wong tuwane Painem?” Kasminta kelingen biyene. Mbok Sali yen ngomong mesthi muter-muter ora karuwan, sok nganti lali pokok omongane sakawit.
“Kiye wong pasir. Wong tuwane biyen galake eram, melu bengok-bengok baris. Melu kuwasa. Bareng dina piwalesan, bapake ilang. Emboke gemluntung ing pinggir segara. Painem nangis kekintrang nunggoni biyunge sing wis tanpa nyawa. Ora ana sing wani nglaruhi. Terus, aku pinuju golek iwak ing segara. Melas weruh bocah cilik nangis mbrengengeng. Banjur, banjur dakgawa mulih mbrene. Akeh wong sing ngelikake, kuwi anake PKI, aja diopeni, mengkone bakal dadi bibit ala maneh. Nanging aku mesakake. Dakopeni sabisa-bisaku. Saprene.”
“Ora diurus karo permiline?”
“Ora ana sing ngaku permili, wong anake PKI. Ya saprene ngono kuwi, wong aku dhewe ya dadi wong kesrakat.” (kaca 13)
Gandheng ‘stigma’ iki ditanemake krana sistematis sajroning puluhan taun marang bangsa iki, mula bangsa Indonesia dhewe kaya-kaya pancen ya nduweni anggepan kang mangkono. Ing ngendi papan, wong sing isih tedhak turune anggota PKI utawa sing dianggep PKI mesthi ngrasakake beban sejarah iki. Kosok baline, para sing langsung utawa ora langsung nyengkuyung PKI, duwe versi yen Pemerintah Orde Baru kuwi elek, ora ngregani ajining manungsa. Kita bisa nyemak bab iki umpamane saka Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995) karangane Pramoedya Ananta Toer lan uga Memoar Pulau Buru (2004) karangane Hersri Setiawan. Buku loro iki padha-padha nyritakake pengalamane pengarange ing Pulo Buru. Bedane, ‘vonis’-e Pramoedya yen Orde Baru kuwi elek luwih krasa tinimbang Hersri. Sing padha ing antarane Pemerintah Orde Baru lan Pramoedya utawa Hersri: loro-lorone ora ngandhakake eleke dhewe, nanging apike dhewe.
Lha, Suparto Brata dhewe ing DWC, kaya sing penulis aturake, ngupaya ana ing tengah-tengah. Kejeme tentara anggone mbedhili bangsane dhewe kuwi ora apik, ora perlu ditindakake. Samono uga, organisasi-organisasi bawahane PKI sing baris pendhak bengi ngrusak katentremane bebrayan desa ya ora becik. Cara nggayuh kamulyan ora grudag-grudug kaya ngono kuwi, ora meksa lan merjaya. Loro-lorone---Orde Baru lan PKI---ana eleke, ana kejeme. Penulis kira minangka salah sawijining seksi geger PKI, Suparto Brata---kaya kita kabeh---duwe beban sejarah sing ora entheng. Yen novel iki wiwit katulis ing taun 1979, tegese wis pirang taun Suparto Brata nyunggi ‘beban’ iki? Kita kabeh---sepisan maneh---darbe beban sejarah iki. Geger taun 1965 ngowahi tatananing urip bebrayan agung kita minangka bangsa. Urip dadi ireng-putih, ala-apik, aku-kowe, panguwasa-sing dikuwasani lan sapanunggalane. Cilakane maneh, saperangan gedhe bebrayan kita ora mangerteni kanthi trawaca endi sing bener, sejarah sing bener. Kabeh sarwa peteng, utawa saora-orane remeng-remeng. Mula kanthi kababare DWC, novel iki bisa dadi alternatif ndeleng lan ngrasakake prastawa taun 1965 saka ‘perspektif’ liya, tegese dudu saka perspektif pemerintah Orde Baru apadene PKI.
Bisa uga Suparto Brata krasa lega sawise sampurna nulis novel iki. Sanggan kang abot paling ora bisa dadi rada entheng. Bisa uga kita uga ngrasakake mangkono. Nanging kita ora kena lali yen mbokmanawa wis dadi sipate bangsa kita sing pancen seneng padudon, crah, rebut kuwasa, rebut bener lan sateruse. Ing pewayangan, kita bisa sinau yen sawise perang gedhe Baratayuda, kahanan donya banjur dadi sirep. Manungsa padha lerem. Yen geger PKI taun 1965 bisa kita anggep minangka perang Baratayuda, kudune bubar kuwi bangsa iki tentrem. Nanging kanyatane ora. Edrek-edrekan rebutan apa bae isih tetep dumadi ing negara kita tumeka dinane iki. Ing kene cetha yen bangsa kita pancen ora bisa sinau saka sejarah: yen perang sedulur kuwi tundhone mung bakal gawe bubrahe tatanan urip. Perang sedulur ora kudu bedhil-bedhilan utawa paten-patenan (sanajan teka saiki tetep bae ana ing negara kita), nanging uga perang paham, ngelek-elek golongan liya mung ngapik-apik golongane dhewe. Perkara penting iki uga kang dadi rembug ana ing DWC. Lan mesthi bae kahanan kang kaya mangkene iki bakal gawe pitunane wong akeh utawa rakyat. Wong-wong kang culika kaya-kaya ora saya suda nanging malah saya tambah. Sing narik kawigaten, Suparto Brata percaya banget yen seni budaya, utamane sastra, jan-jane bisa gawe manungsa duwe bebuden kang apik. Emane, ngandhani para pemimpin bangsa iki ngengingi pentinge sastra paribasane kaya wong bengok-bengok ing ara-ara kang sepi samun.
Bali marang beban sejarah sing kita sandhang, kita ora mangerteni kapan sejarah sing bener bakal kawiyak. Bisa bae ora bakal dumadi. Sak-obyektif-obyektif-e sejarah, isih tetep subyektif, gumantung sapa sing nulis lan sapa sing kuwasa. Sak-obyektif-obyektif-e sastrawan sing migunakake prastawa sejarah minangka rangkaning crita, uga isih nduweni sudut pandang sing subyektif. Mbokmanawa bangsa iki pancen ora bakal uwal saka beban sejarah. Nanging paling ora, kaya sing penulis babar ing dhuwur, DWC bisa dadi salah sijining cara kanggo ndeleng lan ngrasakake prastawa-prastawa sejarah taun 1965, sadurunge lan sawuse, kanggo ngrasakake ruwet-rentenging manungsa kang kena ‘dampak’ prastawa mau, tumeka dinane iki.
4. DWC: ‘Momentum revitalisasi’ Sastra Jawa?
TEMBUNG ‘revitalisasi’ sing penulis karepake ing kene tegese dudu nguripake maneh sastra Jawa---wong nyatane sastra Jawa ora tau mati; nanging nyegerake, menehi ‘semangat’ anyar. Arep menehi teges ‘renaisans’ kok penulis ora wani, sanajan tembung iki bisa uga nduweni teges mangkono. Ing ‘konteks’ sastra Jawa klasik, istilah ‘renaisans’ iki pancen nate dienggo dening salah sijining ahli saka Walanda, Th. Pigeaud. Kanthi nyuplik Pigeaud, S. Margana, ing bukune kang asesirah Pujangga Jawa dan Bayang-bayang Kolonial (2004: 47-48), mratelakake yen ‘periode renaisans’ iki dening Pigeaud kasebut kanthi istilah ‘restorasi’ nalika jaman kraton Surakarta sawise taun 1745. Ing jaman iki akeh sastra Jawa klasik kang kajarwakake mring basa Jawa anyar (modern) lan uga ciniptane sawetara karya sastra anyar. Soebardi, sawijining ahli liya---mangkono S. Margana mratelakake---negesi ‘renaisans’ ora mung ‘kebangkitan kembali’ sastra Jawa nanging uga sumrambah marang kabudayan Jawa umume. Nanging uga perlu kita cathet yen istilah iki uga nuwuhake ‘pro’ lan ‘kontra’ (keterangan sawutuhe bisa diwaos ing buku kasebut).
Banjur kepriye sastra Jawa saiki? Apa pancen perlu ‘revitalisasi’? Kanggone penulis, wangsulane perlu lan banget. Mesthi bae iki sawijining usulan; ditampa apa ora kuwi gumantung para sastrawan Jawa dhewe amarga para sastrawan sing lelumban ing jagading ‘penciptaan.’ Kena ngapa ‘revitalisasi’ sastra Jawa ana perlune? Kanthi kababare DWC, kita bisa duwe akeh ‘argumentasi.’
Kanggo penulis pribadi, bleger-wadhag buku dadi ‘daya tarik’ sing penting banget. Ndeleng buku sing kandel, kacithak kanthi becik, iki wis bisa nuwuhake rasa kepengin ngerti (curiosity) sing gedhe. Banjur maca sakebet, rong kebet, kok apik, nyenengake; ya wis, tegese buku kuwi ‘enak dibaca dan perlu’ (melu-melu semboyane majalah Tempo). Nalika sepisanan ndeleng blegere DWC, penulis kaya-kaya ora percaya---nanging nyata. Bareng rampung maca, komplit wis rasa marem. Sastra Jawa seger sumyah!
Wis suwe tradisi sastra buku ing sastra Jawa nemahi kahanan stagnant utawa mandheg. Buku-buku sastra Jawa sing kasil penulis waca yen ora mujudake owah-owahan wujud saka crita sambung ya kumpulan cerkak utawa kumpulan geguritan. Golek buku drama seprana-seprene mung oleh siji, Gapit: 4 Naskah Drama Berbahasa Jawa (Bambang Widoyo SP, 1998). Dene novel sing asli novel kang tegese ora tau dipacak minangka crita sambung ing kalawarti bisa dietung nganggo driji---iku bae mung tangan siji, kang tegese arang banget. Mula kanthi kababare DWC, penulis kira iki bisa dadi ‘momentum revitalisasi’ sastra Jawa. Yen ana novel kaya DWC sepuluh iji bae, kahanan sastra Jawa mesthi bakal beda banget saka saiki!
Pepalang pancen isih akeh; sing mesthi, golek penerbit sing gelem nerbitake. Iki pancen angel. Ngaca saka sing dumadi tumrap DWC---sing didhuwiti dhewe dening Suparto Brata---mesthine ora akeh pengarang sastra Jawa sing wani nekad. Nanging bab iki penulis kira tetep ana dalan utawa carane (ing kalodhangan liya penulis kepengin ngrembug perkara iki kanthi mligi). Yen wis kasil terbit, sawijining buku sastra Jawa durung mesthi payu. Mula kita tunggu bae, kepriye ‘nasibe’ DWC. Ning pangirane penulis, yen masyarakat Jawa pancen ngarep-arep anane karya kang saka critane ‘menghibur’ lan penting saka segi isi lan tema-ne, Suparto Brata ora bakal rugi sacara ekonomis sanajan penulis yakin, dudu perkara ekonomi kang dadi tetimbangane pengarange saengga wani nerbitake DWC. Nanging becik kita tunggu kepriye ‘respons’ masyarakat Jawa. Gandheng saiki basa Jawa dadi ‘mata pelajaran wajib’ wiwit SD nganti SMA, mesthine (ing angen-angene penulis) saben perpustakaan SMA (durung ngetung SMP apadene SD) ing Jawa Tengah, Jawa Timur, apadene DIY nduweni novel iki. Yen pancen mangkono, sedhela bae DWC bakal ‘cetak ulang.’
Nanging, sing kepengin penulis tandhesake ing kene, perkara bisa terbit apa ora, payu apa ora mbokmanawa pancen becik dipikir keri. Sing luwih penting, para sastrawan Jawa kudu gumregah mikirake nyipta karya kang temen-temen ‘layak jual.’ Nanging perkara iki pancen ora gampang. Kita kabeh mangerteni, akeh-akehe para sastrawan Jawa anggone padha nyipta sastra (nulis) kuwi mung samben. Iki penulis kira uga mujudake salah sijining ‘hambatan’ kena ngapa tumeka saiki tradisi sastra buku ing sastra Jawa tetep durung katon manjila. Penulis yakin, para sastrawan Jawa mesthi ya padha durung ‘puas’ kanthi nyipta geguritan lan cerkak, mesthi ya padha kepengin nyipta novel (lan drama?). Mula kanthi terbite DWC, kita kabeh bisa oleh tambahan semangat. Kanggone para sastrawan, terbite DWC mesthine bisa ‘memotivasi’ kanggo ngasilake karya kang luwih apik, dene kanggone pembaca menehi grengseng kanggo luwih sregep maca sastra Jawa.
Mula ing wektu-wektu kang bakal teka, becik kita pikirake perkara iki. Pentinge sastra Jawa wis akeh kababar dening para ahli. Suparto Brata dhewe ing DWC ya akeh ngandharake perkara iki. Karo ngupaya kepriye wong Jawa padha seneng maneh maca sastrane dhewe, penulis kira para sastrawan Jawa kudu wiwit cepak-cepak ngupayakake ‘revitalisasi’ karya-karyane. Yen sasuwene iki isih akeh pengarang sing gumantung marang kalawarti (sing ora sepiraa cacahe) kanggo nerbitake karyane, wiwit saiki becik duwe ‘orientasi’ kanggo nerbitake buku. Tegese, perlu mikir-mikir kepriye amrih bisa nyipta novel. Bab wektu sing suwe kanggo nulis novel mesthine ora dadi masalah. Nulis cerkak mbokmanawa bisa sedina rong dina dadi, apa malah mbokmanawa ana sing mung butuh wektu rong jam utawa telum jam. Dene nyipta geguritan, mbokmanawa bisa luwih cepet maneh (ana sawijining panggurit sing tau ngendika marang penulis yen sedina kadhang bisa nyipta geguritan cacah telu, papat, utawa lima). Nanging kanggo nyipta novel? Suparto Brata butuh 22 taun kanggo nyampurnakake DWC! Mesthi bae saben pengarang duwe endurance (‘daya tahan’) lan ‘vitalitas’ dhewe-dhewe. Mbokmanawa ana sing mung butuh wektu setengah taun utawa setaun kanggo ngrampungake novel siji. Kabeh gumantung marang ‘permasalahan’ sing digarap lan wektu longgare saben pengarang.
Perkara penting maneh saka DWC kang bisa kita semak yakuwi ‘pengembangan topik’ crita. Ing kene kita dadi ngerti saiba Suparto Brata mujudake a real story teller, ahli crita sing apik tenan. Kanthi paraga pokok telu, Kasminta, Tukinem, lan Pratinah---sing tetelune wong ndesa, critane bisa dawa ora entek-entek. Nanging crita sing ora entek-entek kuwi mau pranyata ora mung ‘sekedar cerita’ kaya sing wis penulis rembug ing dhuwur. Cakupan utawa realm perkara-perkara sosial, kultural, sejarah, politik bisa dicampur kanggo mujudake crita sing peni kuwi mau. Sepisan maneh keparenga penulis nyuplik andharane Dr. Budi Darma (yen ora kleru ing majalah Horison taun 1980-an---nuwun sewu persise penulis lali) yen salah sijining ‘kelemahan’ sing diduweni pengarang Indonesia kuwi jare ora prigel ‘mengembangkan permasalahan’ kuwi mau. Penulis kira, salah sijining cara sing apik kanggo latihan ya maca crita-crita sing apik, karyane pengarang-pengarang kawentar. Kanthi mangkono, crita-crita sing penulis bayangake ing wektu-wektu kang bakal teka ora mung ngrembug perkara-perkara rumah-tangga utawa kanthi ‘ruang-lingkup’ sak RT utawa sak kalurahan, nanging ngengingi bebrayan agung, mligine Jawa lan Indonesia umume apa malah perkara-perkara donya (global). Lan ‘peluang’ iki pancen ana tur gedhe. Jaman saiki jaman ‘informasi,’ jaman apa bae kang dumadi ing perangan donya ing ngendi bae bisa kita mangerteni kanthi cepet lan ‘akurat.’ Mula kanggo gawe crita mesthi akeh ‘bahan.’ Nuwun sewu, kabeh iki mau usulan; amarga pancen penulis kepengin maca sastra Jawa kaya sastra Indonesia (paling ora) utawa sastra Inggris, sastra Amerika lan liya-liyane.
‘Beban sejarah’ ing bab ‘dunia sastra Jawa’ iki pancen abot. Mataun-taun kita tansah dielingake mbuh dening para panguwasa negara utawa para sesepuh lan pinisepuh bebrayan Jawa bab endah-adi-luhunge sastra klasik karyane para pujangga. Kabeh mau pancen bener, nanging ora perlu ndadekake kita kudu nyipta sastra kaya sastra Jawa klasik. Gelem ora gelem nyatane sastra Jawa modern wis pedhot sesambungan klawan sastra Jawa klasik ing akeh perkara. Mula, tinimbang tansah ‘mengenang kejayaan masa lalu’, ngeling-ngeling jaman semana, luwih becik mikir perkara saiki (sanajan ‘masa lalu’ sastra Jawa tetep penting). Sing ngandhut piwulang ora mung sastra klasik, nanging uga sastra modern. Sing endah edi ora mung sastra klasik, nanging uga sastra modern. Mula yen para pengarang Jawa saiki bisa maneh miwiti sastra buku, piwulang becik kang kinandhut ing karya sastra lan kaendahane bakal luwih gampang diwaca maneh, dieling-eling, didongengake marang anak-putu lan sapanunggalane. Basa Jawa sing apik, becik, lan endah ora mung basa Jawa kuna, nanging uga basa Jawa modern. Penulis percaya, cara mulang basa Jawa sing paling apik marang bocah-bocah lan generasi mudha dudu ana ing njeron ruangan kelas nanging kanthi maca karya-karya sastra kang apik. Mula ing dhuwur penulis nganggep perlu yen saben perpustakaan sekolah ing Jawa Tengah, Jawa Timur lan DIY duwe ‘koleksi’ karya-karya sastra Jawa, ora mung DWC.
Kanthi apa sing penulis aturake ing dhuwur, pentinge ‘revitalisasi’ sastra Jawa pancen kudu dipikir. Ya saiki iki ‘momentum’ sing pas. Yen Suparto Brata bisa nglairake DWC, penulis yakin pengarang Jawa liyane ya bakal bisa. Ing sastra Indonesia, buku-buku sastra sing ‘sak bantal-bantal’ kandele mung kari milih sing endi sing disenengi. Nanging ing sastra Jawa? Kandele buku paling ora nuduhake: ‘daya tahan’ nulis, mbabar apa sing dadi pamikiran lan angen-angen (imajinasi), lan ‘keseriusan.’ Ora ana lupute DWC dadi sawijining milestone, utawa tandha tumuju marang ‘revitalisasi’ sastra Jawa. Perkara bisa terbit apa ora, akeh sing maca apa ora bisa dipikir bareng-bareng, mesthi ana cara. Sing penting krenteg luwih dhisik.
Panutup
APA sing penulis aturake kabeh ing dhuwur bisa dikandhakake miwiti ngudhari utawa ngrembug novel DWC. Tintingan liya marang novel iki mesthi bakal akeh---paling ora kanggo bahan skripsi utawa tesis mahasiswa. Nanging sing luwih penting---kaya sing wis karembug ing dhuwur---yen kanthi terbite DWC iki banjur para pengarang liyane padha melu-melu nerbitake karyane kang kaya mangkene, DWC pancen nggawa berkah kanggo sastra Jawa. Dadi pentinge DWC ora mung amarga saka crita lan isine, nanging bisa ‘membakar’ semangate para pengarang liya kanggo ngasilake karya sastra kang luwih saka pantes diwaca lan diwaca maneh, dieling-eling, lan dibiwarakake marang sapa bae.
Suwalike, yen tumeka mbesuk DWC tetep ngijeni---tegese novel-novel Jawa racake isih panggah kuru-aking tipis-tipis, ya kita tetep kudu nampa yen sastra Jawa pancen anane ya kaya ngono kuwi. Mbokmanawa pancen ora ana sing perlu digelani. Karo maneh, kita wong Jawa rak pancen tansah nrima ing pandum, nampa takdir lan pepesthen. Yen sastra kita pancen kudu ngono, ya piye maneh. Kudu ditampa ta? Yen ana siji loro sing beda, iku dianggep berkah, kanugrahan kanggo kita kabeh: tegese kita wis melu handarbeni. Sumangga.
Pucang Gading, pungkasan Januari – wiwitan Februari 2005
(Kapacak ing Panjebar Semangat No. 10, 11, 12, & 13, 2005)






Suparto Brata sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis cerita – cerita jawa.Dari sisi ini tentunya sesuatu yg mnarik untuk melihat bagaimana penulis jawa menulis roman dalam bahasa Indonesia.
………..“…pas op Teyi, meneer is niet de man voor jou! Absoluut niets! (Hati-hati Teyi, Tuan Sarjubehi bukan laki-laki untukmu, sama sekali bukan…”)……
Hartonocepetan aja baca Kerajaan Raminem dan Mahligai Di Ufuk Timur Bu,… ntar pasti makna kalimat Putri Parasi di atas bukan seperti yang anda bayangkan setelah membaca roman ini…
Melihat cover roman ini, mengingatkan orang pada novel tetralogi Bumi Manusia karya Pram. Suparto Brata bisa mulai tancap gas, menghasilkan berderet seri trilogi atau tetralogi, untuk menggantikan posisi Pram yang kini tak bisa lagi melahirkan karya-karya masterpiece-nya.
Maju terus Pak Brata!
Diambil dari : "Rumah Baca"