20 November 2009

JAGONGAN BUDAYA TVRI JATIM

Jagongan Budaya adalah Program Dewan Kesenian Jawa Timur bekerjasama dengan TVRI Jawa Timur bertujuan untuk mengkaji dan mensosialisasikan potensi ekonomi dan budaya yang dimiliki Propinsi Jawa Timur kepada masyarakat melalui media Televisi. Program ini ditayangkan setiap hari Minggu mulai pukul 18.00 hingga 19.00 WIB setiap 2 (dua) minggu sekali. Berkaitan dengan hal tersebut, untuk mengisi program tadi pada Hari Minggu tanggal 15 November 2009 di Studio I TVRI Jawa Timur membahas “Spirit Kerpahlawanan Dalam Seni Budaya di Jawa Timur” dengan narasumber Bapak Kadaruslan, Suparto Brata, Taufik Monyong, Sherly Yuliana Molle, dan Meimura. Pemandu acara Mas Tris dari TVRI.

Acara dibuka dengan permainan monoply orkes bambu wukir, oleh pencipta alat musik bambu wukir itu sendiri, bernama Wukir. Alat musik yang sedang dipatentkan hak ciptanya itu terdiri dari sepotong buluh bambu sepanjang 1,5 meter, dipenuhi dengan senar-senar begitu rupa, cara membunyikannya ya memetik senar-senar tadi seperti halnya memetik senar gitar, dilakukan oleh seorang juga. Dengan alat musik yang bentuknya lain daripada yang sudah ada, dan bunyinya pun beda pula (punya ciri sendiri), maka sepantasnya alat musik bambu wukir diusahakan hak patent ciptanya.

Pentas merupakan tempat cangkrukan. Di tengah ada meja, di atasnya terhidang makanan ringan pada beberapa piring, serta beberapa cangkir berisi teh. Para narasumber duduk di bangku di kiri dan kanan meja tadi.

Dengan santai Mas Tris membuka acara dengan melemparkan pertanyaan kepada narasumber dicoba urut tua, yaitu dari Bapak Kadaruslan. Pertanyaannya mengenai semangat kepahlawanan Surabaya, dari zaman pengalaman orang tua seperti Kadaruslan (Cak Kadar) sampai saat ini.

Saripati (tidak kronologis dan terperinci lengkap) obrolan mereka seperti berikut:
Kadaruslan (seorang patriot Surabaya, pernah menjadi ketua Pusura beberapa periode, sangat populer sebagai pemacu menyemangati gerakan Arek-arek Surabaya sejak zaman dahulu sampai sekarang terutama di kalangan seniman/budayawan Surabaya): “Waktu 10 November 1945 saya baru beranjak remaja, umur 14 tahun, bukan pelaku. Tapi peristiwa 10 November 1945 di Surabaya adalah gerakan perang rakyat. Siapa pun orang Surabaya kalau mendengar “Siaaap! Siaap!” saat itu pasti bergerak menyerbu musuh. Orang Surabaya berperang tanpa komando, tanpa surat pengangkatan resmi ini-itu. Begitu rupa bisa melumpuhkan kekuatan pasukan Inggris yang dipimpin oleh Brigadir Mallaby. Karena tergencet Mallaby minta dengan sangat agar Bung Karno sebagai Presiden Republik Indonesia didatangkan ke Surabaya untuk menghentikan tembak-menembak. Sedetik saja kedatangan rombongan Presiden Soekarno terlambat, pasukan Inggris di Surabaya pasti hancur. Bung Tomo yang pidatonya menggelorakan semangat Arek-arek Surabaya supaya maju bertempur, awal pidatonya pasti, ‘Saudara-saudaraku tukang becak! Rakyat jelata!’ Yang diajak berjuang itu rakyat biasa! Karena itu, pertempuran 10 Novembeer 1945 di Surabaya itu adalah perang perlawanan rakyat.”

Mas Tris: “Bagaimana Pak Parto? Ini giliran yang tua-tua. Setelah itu giliran para angkatan muda. Yaitu narasumber yang paling cantik malam ini, Sherly Yuliana Molle, yang duduk di samping Pak Parto, kelihatannya sebaya saja sebagai cucu Pak Parto.”

Suparto Brata (satu alumni SMPN 2 Surabaya 1950 dengan Kadaruslan): “Saya diakui sebagai seniman/budayawan Surabaya karena menulis buku. Seniman sastra. Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya adalah yang pertama kalinya di dunia bangsa yang dijajah bertempur bersenjata melawan bangsa yang telah menjajahnya selama ratusan tahun, dan berakhir menang, Indonesia merdeka. Dan setelah perlawanan bersenjata 10 Noveember 1945 di Surabaya tadi bangsa Indonesia berhasil merdeka, maka bangsa-bangsa terjajah lainnya di Asia dan Afrika meniru seperti Arek-arek Surabaya, dan berhasil juga jadi bangsa yang merdeka. Andaikata tidak terjadi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, mungkin bangsa Indonesia ini tidak merdeka. Sebab persenjataan rakyat waktu itu bambu runcing, sangat sederhana dibandingkan dengan meriam, tank, pesawat terbang. Akan tumpas dalam sekejab. Tapi karena perlawanan itu bergerak dari hati nurani rakyat Indonesia, seperti yang dikatakan Cak Kadar tadi, maka Indonesia akhirnya merdeka. Tanpa pertempuran 10 November 1945, mungkin juga Indonesia merdeka, tetapi tidak dengan perlawanan terhadap penjajah, melainkan merdekanya karena mendapat hadiah dari Ratu Belanda yang namanya sama dengan cucu saya di samping saya ini (menunjuk Sherly Yuliana Molle yang duduk di sebelahnya).”

Mas Tris: “Apa yang Pak Parto tulis pada buku-buku Pak Parto?”

Suparto Brata: “Antara lain, saya menulis buku Pertempuran 10 November 1945, bersama Dr. Aminuddin Kasdi. Buku itu saya tulis atas perintah yang tidak boleh saya tolak dari Bapak Blegoh Soemarto, Ketua DPRD Jawa Timur 1986, atas prakarsanya membentuk Panitia Pelestarian Nilai-nilai Kepahlawanan 10 November 1945 di Surabaya. Cara penulisannya menghimpun tulisan-tulisan (perpustakaan) yang masuk kepada kami, serta mewawancarai para pelaku peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Ketika itu Panitia sempat mengadakan seminar dengan mengundang para pelaku peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, antara lain: Roeslan Abdulgani, Lukitaningsih, M.Yasin, Abdulsyukur, M. Radjab, Wiwiek Hidayat, Gatot Kusumo, Barlan Setiadijaya dan lain-lain. Dalam wawancara khusus dengan Pak Roeslan Abdulgani, beliau menjawab, ‘Kalau wawancara dengan orang tua seperti saya, jangan lalu percaya begitu saja. Sebab orang tua seperti saya ketika diwawancarai, menjawabnya mungkin: (1). Ingin dirinya menjadi pahlawan, karena itu jawabannya rekayasa yang menguntungkan dirinya; (2). Tidak melakoni peristiwa itu sendiri, tetapi mendengar dari orang lain, lalu memasukkan dirinya menjadi pelaku; (3) Jawabannya bukan pengalamannya, melainkan pemikirannya, sehingga mengubah peristiwa sejarah yang sejati; (4) Untuk komersialisasi dirinya’.”

Mas Tris: “Apa tanggapan Pak Parto tentang penyobekan bendera di Oranje Hotel?”

Suparto Brata: “Sulit saya memaparkan kejadian yang sesungguhnya. Saya bukan pelaku dan bukan saksi dalam peristiwa itu. Namun saya mendengar hebohnya peristiwa itu karena waktu itu saya juga di Surabaya. Ketika saya bertugas menulis sejarah (1986) saya sudah menemukan orang maupun tulisannya yang mengaku dirinya ikut peristiwa penyobekan warna biru bendera itu. Mengingat nasihat Pak Ruslan, nama-nama mereka yang mengaku tadi tidak semuanya saya masukkan dalam buku yang saya tulis itu. Meskipun pengakuannya begitu meyakinkan dengan membawa saksi-saksi. Saya pilihi, misalnya Bung Tomo pidato di atap kantornya Jalan Tunjungan 100, saya tulis.”

Kadaruslan (menyela): “Mungkin Bung Parto bisa menyebutkan nama orangnya karena kesaksiannya begitu meyakinkan, namun tidak ditulis dalam buku sejarahnya, tapi itu justru menunjukkan pada tulisannya bahwa apa yang terjadi sangat heboh peristiwa penyobekan bendera di Oranje Hotel itu adalah perlawanan Arek-arek Surabaya, rakyat banyak, yang bergerak untuk membela Indonesia Merdeka ini. Rakyat, bukan pejabat, atau atas komandonya, atau atas nama perorangan. Itulah perang rakyat yang saya maksudkan tadi. Penyobekan bendera 19 Oktober 1945 di Surabaya itu dilaksanakan oleh keroyokan rakyat banyak!”

Suparto Brata: “Itulah sebabnya saya tidak heran kalau baru-baru ini di suratkabar di Surabaya heboh karena ada pengakuan orang-perorang yang mengomando penyobekan bendera di Oranje Hotel, seolah-olah pembaca suratkabar itu menemukan sosok pahlawan. Juga ada yang mengaku-ngaku sebagai orang yang menolong berenang seorang pejabat yang terjun ke Kalimas di Jembatan Merah dalam peristiwa terbunuhnya Brigadir AWS Mallaby. Sebagai penulis buku sejarah, dari bahan pustaka yang resmi, saya tahu nama-nama lengkap anggota Kontak Biro baik dari Indonesia maupun Inggris yang kemudian berombongan menganjurkan pengehentian tembak-menembak di Gedung Internatio, yang berakhir dengan tewasnya Mallaby. Nama penolong pejabat yang tidak bisa berenang di Kalimas itu tidak ada. Tidak terdaftar pada dokumen-dokumen/pustaka yang harus saya tulis dalam buku sejarah itu. Seperti halnya tentang peristiwa penyobekan bendera, waktu saya menulis buku sejarah tadi juga banyak orang-perorang yang mengaku sebagai pembunuh Brigadir Mallaby. Ada yang dari Ampel berkisah langsung di depan saya. Ada mengirimkan sobekan koran yang mengisahkan dialah pembunuhnya seperti yang dimuat di sobekan koran itu (saya ingat, nama pengirim sobekan koran itu Ooq Hendronoto, seorang pelukis kartoon yang terkenal saat saya masih pelajar). Dan banyak lagi. Ragu dengan pengakuan-pengakuan tadi, saya tanya langsung kepada Pak Roeslan, apa, bagaimana dan siapakah sebenarnya pembunuh Mallaby. Jawab Pak Roeslan, sudah diarsipkan dengan baik, baru nanti 50 tahun kemudian setelah peristiwanya bisa diumumkan secara resmi. Jadi, 9 tahun lagi dari penulisan buku sejarah saya, baru tahu dan diakui secara resmi.

“Namun, sekali lagi kembali tentang penyobekan bendera di Oranje Hotel, selama ini beredar foto peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, terhitung foto penyobekan bendera di Oranje Hotel. Saya ingatkan nasihat Pak Roeslan. Jangan langsung percaya dengan foto-foto itu, bahwa itu dijepret pada tahun 1945. Harap diingat bahwa ketika merdeka 17 Agustus 1945 – 10 November 1945 keadaan rakyat Indonesia miskin benar karena dijajah oleh Jepang. Pakaian saja kita tidak punya rangkap. Senjata saja kita hanya punya bambu runcing. Apa kita punya alat-alat fotografi, dan sempat-sempatnya pejuang kita memotret dengan baik pertempuran di Jembatan Merah? Foto mobil Mallaby dengan papan nama tulisan begitu bagus? Tidak mungkin. Corat-coret memang ada, tetapi ya dengan tulisan asal-asalan, asal coret seperti tangan jahil, yang menulisnya harus cepat dan ditempatkan pada tempat yang strategis seperti dinding-dinding gerbong keretaapi. Tidak dengan cara pasang baliho dengan tulisan rapi seperti iklan kampanye pilkada begitu. Sekali lagi, baik foto maupun film, atau cerita orang tua yang mengaku-ngaku dirinya pelaku 10 November 1945 di Surabaya, jangan begitu saja dipercayai. Foto-foto itu tidak dijepret tahun 1945, melainkan tahun-tahun 1952-1953. Sebab ketika merayakan peristiwa 10 November 1945 di Surabaya tahun 1952 (atau 1953) seluruh orang di Surabaya disuruh berpakaian seperti zaman tahun 1945. Tembok-tembok yang sudah bersih, dicorat-coret lagi seperti zaman 1945. Tram listrik (kendaraan umum paling murah yang melintas tengah kota) yang sudah berjalan dan dicat bersih, dicorat-coret lagi. Dan semua itu oleh Panitia Peringatan 10 November, dibuat film, dipotreti. Jadi, hati-hatilah, meskipun berujud foto, jangan begitu saja percaya bahwa itu peristiwa yang sejatinya tahun 1945. Sangat mungkin itu foto rekayasa.”

Mas Tris: “Bagaimana agar kita yang muda-muda ini percaya?”

Suparto Brata: “Baca buku. Sayangnya bangsa Indonesia ini 90% kiat hidupnya mengandalkan bahasa lisan melulu seperti halnya orang primitip zaman sebelum diperkenalkan buku. Tidak berbudaya membaca buku. Jadi ya tidak bisa melihat sejarah masa lalu yang sejatinya, yang (membaca buku) juga meliputi sosialisasi potensi ekonomi, politik, budaya, pembangunan kota, kesejahteraan masyarakat dan kehidupan modern (tidak primitip) yang lain. Generasi muda Indonesia ini membangun kehidupan masa depan hanya dengan cara bertutur verbal, (karena tidak dilandasi budaya membaca buku) dengan cara primitip. Keagungan nilai-nilai kepahlawanan 10 November 1945 di Surabaya ya percaya saja sama bahasa tutur orang (mendengar dan melihat), padahal (ingat nasihat Pak Roeslan) boleh jadi sangat menyesatkan.”

Kadaruslan (menanggapi): “Saya setuju dengan Bung Parto. Di perpustakaan Pusura banyak buku karangan Bung Parto. Tetapi sekian lama di situ, buku itu juga rapi bagus-bagus saja. Tidak ada yang membacanya. Berbudaya membaca buku ini sudah saya lihat pada para seniman yang sering berada di Balai Pemuda. Dulu, para seniman di DKS itu terlihat banyak yang tekun membaca buku. Sekarang tidak. Dulu, waktu masih sekolah di zaman Belanda maupun Jepang, di sekolah diajari membaca cepat, membaca batin, bersama-sama di kelas. Dulu, anak bangsa (yang terjajah) ini dibudayakan membaca buku di sekolah, sehingga setelah besar seperti saya, suka membaca buku. Tapi sekarang di sekolah rasanya putera bangsa tidak dibudayakan membaca buku. Jadi meskipun sekarang ini ditargetkan harga buku di sekolah murah, tapi yang membaca tetap tidak ada. Murid tidak punya budaya membaca buku. Jadi banyaknya buku yang beredar di toko buku, di perpustakaan, di sekolah, mubajir. Tidak dibaca oleh generasi muda Indonesia, alasannya harga buku itu mahal. Padahal, yang sesungguhnya karena tidak punya budaya membaca buku. Harga rokok itu juga mahal, tapi toh bangsa Indonesia tidak mengeluh membeli rokok untuk dikonsumsi. Karena punya budaya merokok. Ke mana mau memberantas kebodohan, kemiskinan, kecarutmarutan politik, kalau rakyat kita tidak berbudaya membaca buku? Rakyat masih hidup dengan berbudaya seperti orang primitif? Ajarkanlah putera bangsa berbudaya membaca buku itu di sekolah dan selama bersekolah sejak awal, biar kiat hidupnya tidak primitip lagi.”

Mas Tris: “Bagaimana tanggapan Mbak Sherly, anak muda zaman sekarang?”

Sherly Yuliana Molle (mahasiswi Fakultas Hukum Ubaya, Miss Campus Jawa Pos 2008, Puteri Persahabatan Puteri Indonesia 2007 Seleksi Jatim, Mootcourt and English Debater): “Saya setuju dengan penulisan buku sejarah. Karena itu merupakan dokumen. Bangsa Indonesia sangat abai menyimpan dokumen. Untunglah saya juga banyak membaca buku, dokumen sejarah, sehingga tidak luntur pengetahuan saya tentang sejarah. Misalnya saya hayati pidato Bung Karno. Rakyat Indonesia di mana saja, dan kapan pun juga, harus berjuang untuk menegakkan Republik Indonesia Kesatuan. Ini saya maknai bahwa untuk menjadi pahlawan bangsa, putera bangsa tidak harus perang menggunakan senjata melawan musuh. Dan tidak harus pada waktu perang dulu itu, seetelah tewas dimakamkan lalu dijuluki pahlawan. Pahlawan bangsa terjadi di mana saja dan terjadi tiap saat. Di zaman “aman” tanpa prajurit bersenjata seperti zaman sekarang, anak muda sekarang pun bisa jadi pahlawan bangsa. Apa yang kita (generasi muda) diperbuat? Berilah sesuatu jasa kepada negara dan bangsa sesuai dengan kemampuan positif kekaryaanmu. Misalnya seperti Mas Tris, melakukan sebaik mungkin profesinya sebagai presenter. Itu suatu jasa positif mempersatukan bangsa dan negara. Jangan justru menjadi presenter digunakan kesempatan untuk mengoncor-oncori konflik bangsa, mengadudomba masyarakat. Begitu juga guru, puteri Indonesia, seniman drama. Kalau mereka melakukan profesinya dengan baik, memberi karya dan jasa positif kepada negara dan bangsa, pastilah mereka menjadi pahlawan bangsa. Berbuatlah sekarang, jangan menunggu kesempatan lain yang mungkin tidak akan datang (misalnya menunggu kesempatan datangnya perang atau konflik).”

Taufik Monyong: “Bung Tomo dulunya juga penyiar radio. Akhirnya juga jadi pahlawan karena pidatonya di radio. Mungkin Mas Tris juga akan dicatat jadi pahlawan penyiar radio zaman sekarang!”

Mas Tris: “Lalu, bagaimana tanggapan dan apa yang bisa diberikan kepada negara dan bangsa oleh generasi muda seperti seorang Taufik Monyong? Saya lihat pada skuter yang dinaiki (dipasang di pentas jagongan TVRI) ditulisi: Surabaya Berjuang. Mestinya ada kegiatan secara kasat mata yang berhubungan dengan Hari Pahlawan di Surabaya 2009.”

Taufik Monyong (seorang dramawan terkenal di Surabaya, aktif bergolak sejak di kampusnya sehingga pernah mendekam di penjara 1966): “Sebagai dramawan saya juga hafal untuk menirukan pidato Bung Karno seperti yang dikatakan Sherly. Saya mengagumi betul pahlawan-pahlawan pendiri negeri ini, dan agar tidak luntur, kisah-kisah pahlawan itu saya pentaskan (kembali) dalam seni pertunjukan. Misalnya saya jadi panitia aktip dalam peringatan hari Pahlawan kemarin, dengan menggerakkan pawai budaya. Tiap peserta berpakaian seperti zaman perang 10 November 1945. Saya ingat (saya masih aktifis kampus) hal seperti itu juga pernah diselenggarakan panitia yang dipimpin oleh Sam Abede Pareno dengan sukses. Hal itu memotivasi saya untuk terus mengumandangkan gerak kepahlawanan di Surabaya, dengan berkarya nyata. Berkarya, berkarya dan berkarya. Saya harap sepanjang tahun-tahun mendatang kegiatan menggelorakan jiwa kepahlawanan 10 November 1945 ini akan terus dikumandangkan, baik di ranah kesenian, kebudayaan, politik, ekonomi, pembangunan kota di Surabaya di segala bidang. Jiwa-jiwa kepahlawanan 10 November 1945 di Surabaya tidak akan luntur pada jiwa pemuda, terus berdenyut dari generasi ke generasi. Semoga. Merdeka!”

Jagongan Budaya malam itu juga banyak disambut oleh para pemirsa TVRI Jawa Timur, melalui hubungan telepon langsung. Banyak saran yang harus diapresiasi oleh generasi muda dan para pejabat yang sedang berkuasa di Surabaya maupun pejabat negara. Jagongan Budaya juga disela dengan pembacaan puisi “Kabut Rakyat” karya sastrawan Hartojo Andangjaya oleh Meimura (wakil dari Dewan Kesenian Jawa Timur, yang jadi tuan rumah dalam acara itu). Dan ditutup dengan permainan orkes tunggal bambu wukir.
Selanjutnya - JAGONGAN BUDAYA TVRI JATIM

Sabarudin

From: oce joserizal Subject: salut pak suparto
To: sbrata@yahoo.com
Date: Wednesday, November 18, 2009, 3:55 PM

pak Suparto, sebagai anak muda yang lahir di Madura sekarang tinggal di Jakarta. Saya banyak memperoleh informasi soal perjuangan Sabaruddin. Saya kebetulan panitia pencari makam Tan Malaka. Saya masih ragu, apa betul ada orang batak atau aceh berani sadis di Surabaya. Masa orang sadis punya pangkat perwira tinggi waktu itu.

Saya kira sabarudin korban Belanda. Yang saya baca dia pernah KNIL dan ditulisan bapak dia orang peta. Pada saat Agresi II apa betul Sabarudin dari
peta pro Belanda.Kasihan loh pak yang berjuang ikhlas malah dihukum gara gara saingan antar teman dan lalu dihukum oleh sejarah.

Matur suwun.
Erwin Meduro
Selanjutnya - Sabarudin

12 November 2009

Buku Donyane Wong Culika

From: M Iskandar Zulkarnain
Subject: Nyuwun pirsa
To: sbrata@yahoo.com
Date: Tuesday, November 10, 2009, 6:38 AM

Katur
Bapa Suparto Brata ingkang kinurmat,

Nuwun,

Kawula rumaos bingah bilih ing toko buku wonten buku-buku seratan Panjenengan, utaminipun seri Detektif Handaka.

Nanging ngantos sepriki kula dereng mrangguli buku Bapak ingkang mawa irah-irahan "Donyaning Wong Culika". Buku punika mila dereng ka-ecap punapa sampun telas ing pasaran.

Menawi sampun ka-ecap, wonten pundi kawula saged pikantuk buku punika.

Wasana cekap semanten, matur nuwun kawigatosanipun Bapak.

Salam,

Iskandar
Selanjutnya - Buku Donyane Wong Culika

06 November 2009

Buku Kremil

From: Herwin Bharata
Subject: Kremil
To: sbrata@yahoo.com
Date: Thursday, November 5, 2009, 10:14 AM



Pak Suparto Brata,

Setelah menunggu dan mencari selama setahun, ahirnya saya bisa dapatkan buku KREMIL, di toko buku online SOLO AGENCY BARU, hardcover, cetakan pertama.

Sewaktu saya beli awal bulan ini, mereka bilang punya sekitar 40 buku, jadi kalau ada penggemar bapak yang mencari buku ini, mungkin bapak bisa merekomendasikannya ke toko buku diatas.

Salam,

Herwin Bharata
Selanjutnya - Buku Kremil

02 October 2009

Mencari Sarang Angin

From: Achmad Wirono
Subject: MSA lagi
To: sbrata@yahoo.com
Date: Thursday, October 1, 2009, 11:41 AM


Bp.Suparto Brata yth.,


Mohon dimaafkan kalau saya baru sekarang dapat menulis.Waktu saya menulis "seprti buku baru ...dan tidak disentuh", bayangan saya, sbg buku obralan tapi masih utuh dan tidak lusuh/koyak sebagaimana biasanya terjadi pada buku-buku bekas yang diperdagangkan lagi.


Saya tertarik pada MSA terutama terdorong oleh judulnya yang sangat menggelitik. Langsung mengingatkan saya akan kisah Dewa Ruci yang intinya juga mengandung kisah pencarian jatidiri yang sebenarnya juga renungan si tokoh dengan nuraninya sendiri.


Saya menyimak MSA selama lima hari berturut-turut – inipun hanya terlaksana di siang hari karena harus menunggu selesainya kacamata bifocal yang perlu diganti. Seperti ulasan pak Basoeki Soenaryono, saya juga terkesan atas KECERMATAN BP MENYUSUN KISAH, MEMBANGUN WATAK tokoh-tokohnya..." sehingga pembaca enggan memutus pembacaan.

Kesan saya, dalam pembangunan watak tokoh terungkap pula betapa gambaran utuh tokoh di akhir cerita menjadi jelas dan tajam karena dalam prosesnya tersirat adanya hubungan erat antara sifat alami diri si tokoh dan pengalaman yang diperoleh dalam seluruh perjalanan hidup si tokoh.


Menurut pak Quinn, The Novel in Javanese,1992, Bapak sudah merintis masalah ini (dan juga analisis masalah-masalah sosial) sejak tahun 60an. Sayangnya saya tidak tahu sudah/belum beliau mengulas masterpiece Bapak, Donyane Wong Culika, atau barangkali malah sudah membicarakannya langsung dengan Bapak sendiri waktu berkunjung ke Surabaya, kalau tidak salah, pada th. 2008 y.l. Ada kesan saya yang lain, yaitu mengenai dialog antar tokoh dalam MSA yang terasa lebih wajar dan memperlancar pembacaan jika dibanding dengan dialog berpantun dalam Mahligai di Ufuk Timur.


Demikianlah Pak, semoga tanggapan pendek ini berkenan dihati.


Teriring salam takzim, Wirono
Selanjutnya - Mencari Sarang Angin

03 September 2009

Mahligai di Ufuk Timur


Selesai sudah proyek 2 buku Trilogi Gadis Tangsi sekaligus selesai sudah peran seorang Teyi dalam novel budaya Jawa ini. Diluar pakem yang kuperkirakan, tak seperti Kuartet Pulau Buru-nya Pramoedya Ananta Tour, Trilogi Gadis Tangsi ini ditutup dengan happy ending. Satu orang tokoh pejuang nasional atau pejuang kemerdekaan lebih tepatnya kukira masuk pula dalam novel terakhir ini, memang Suparto Brata menyebut tokoh tersebut dengan nama berbeda namun kukira maksudnya tidak salah adalah Jenderal Ahmad Yani, mengingat settingnya di Purworejo; kalau tidak salah adalah tempat kelahiran sang jenderal pahlawan revolusi itu dan dalam novel ini tercatat berlatar masa pra kemerdekaan ketika beliau masih aktif di PETA.

"Mahligai di Ufuk Timur" judul ini begitu pas menggambarkan isi dari akhir buku trilogi ini. Cita-cita seorang Teyi yang telah berhasil menjadi Den Rara Teyi membangun kokohnya Kerajaan Raminem untuk mencari jodohnya, menemukan cintanya, melanjutkan pemikiran besarnya serta menepati janjinya bertemu Ndara Mas Kus Bandarkum di Istana Jayaningratan Surakarta. Kisah percintaan dalamhingar bingar rindu suasana pertemuan dan diskusi panjang mengungkap tuntas kebudayaan bangsa Jawa secara gamblang. Cerita ini berlatar tahun 1940-an ketika pendudukan bangsa Jepang dimana rakyat Jawa hidup dalam masa kekurangan sandang dan kemunduran budaya, diperparah lagi warisan Belanda yang tidak membekaskan gores pendidikan baca tulis sama sekali bagi rakyat kebanyakan. Budaya unggah-ungguh Keraton Surakarta yang begitu adiluhung pun mulai tersapu, oleh karena itu persatuan kedua insan ini dinyatakan sebagai perkawinan di awal zaman laksana terbitnya matahari di ufuk timur. Budaya Jawa yang harus diselamatkan kelestariannya dengan munculnya zaman modern, sehingga mau tidak mau harus segera bertindak memberikan pendidikan baca tulis pada generasi itu sebanyak-banyaknya demi lestarinya budaya adiluhung bangsa Jawa dan mempersiapkan diri menjadi bangsa Indonesia yang merdeka.

Roman "bumbu" cerita yang menceritakan pergaulan dan keadaan umum masyarakat desa jawa saat itu tetap begitu mengalir enak diikuti dalam buku terakhir ini. Menyenangkan juga ada novel yang akhirnya menghukum yang jahat dan mengangkat derajad yang benar seperti karya Suparto Brata ini. Tanpa mengurangi sisi intelektualitasnya, buku ini memang buku cerita murni yang begitu lugas apa adanya, tebal tapi ringan, ceritanya ringan tapi muatan moralnya begitu dalam. Pesan moral yang dilesakkan Suparto Brata dalam karya ini begitu sederhana, mudah dimengerti dan sangat luar biasa terutama bagi orang Jawa asli seperti saya.

Pesan moral yang saya tangkap "sopo nandur kebecikan, bakal ngunduh wohing pekerti." Teruslah berjuang, bekerja keraslah, ringan tanganlah terhadap sesama, hapuslah kata dendam dalam hati, belajarlah terus menuju tiap tingkatan kepintaran baru dalam hidup dan jangan lupa luaskan jejaring kebaikan....


Diambil dari "Evolusi dan Revolusi Manusia"

Selanjutnya - Mahligai di Ufuk Timur

02 September 2009

Gadis Tangsi


“…..Trukbyangane……apik tenan critane….”! Gadis Tangsi adalah Novel seri ke-1 dari trilogi yang ditulis oleh Suparto Brata. Cerita dalam buku ini memang ada dalam keseharian kita. Penulis menuangkan cerita ini dalam novel dengan bahasa yang sangat lugas – kromo inggil, makian dalam bahasa jawa ‘ngoko’, bahkan dalam bahasa Belanda – yang dengan mudah kita mengerti. Dengan setting cerita jama pendudukan Belanda di Indonesia dengan mengambil lokasi di daerah Sumatera (Medan), pikiran saya ikut terbawa ketika membaca novel ini.

Teyi, si gadis tangsi, hidup dalam kekerasan disiplin si-mbok, bukan dalam kekerasan hidup di tangsi itu sendiri. Hidup dalam keluarga yang sangat sederhana dalam rumah kecil dilingkungan tangsi; dengan seorang bapak dengan pangkat sersan yang ikut kumpeni dan si-mbok yang punya obsesi jadi orang kaya raya hanya karena ingin menunjukkan pada ipar-nya yang telah melecehkan. Setiap pagi terbangun karena “kebocoran” ompol adiknya yang tidur di ambin.Teyi kecil sudah harus bangun pagi disaat teman-teman sebayanya masih terlelap; dia harus membantu si mbok berjualan pisang goreng keliling tangsi disaat teman-teman sebayanya bermain; dan dia akan merasa terbebas jika bisa ikut dalam grup mencari kutu sambil bergosip.

Teyi dibesarkan dalam ke-nyinyiran si mbok; dengan batasan-batasan yang dia sendiri sesungguhnya tidak mengerti. Dididik dalam aturan sopan-santun yang menurut si mbok benar. Disaat teman-temannya sudah mengerti apa itu “menyukai” dan “disukai” lawan jenis, dia bahkan mengira bahwa dia kena tulah karena memanjat pohon tanpa pakaian ketika dia menemukan temannya pacaran dikamar mandi umum – haid – itulah tulah yang harus diterima; si mbok jadi bertambah sayang karena mengetahui si gadis sudah haid – ini membuat Teyi bingung. Ada saat dimana membuat Teyi jenuh, lelah, bosan dan ingin lari dari kesehariannya – jualan pisang goreng dan mendengarkan ocehan si mbok yang tidak habis-habisnya – akhirnya jalan kaki sampai Medan. Dia harus digelandang keluar toko karena mengagumi pita dan ngotot ingin membeli pita dengan uang jualan pisangnya; akhirnya diantar pulang oleh Ndara Tuan Kapten Sarjubehi.

Teyi menemukan dirinya ketika dia berkenalan dengan Gusti Putri Parasi di rumah Loji – yang adalah istri dari Sarjubehi – yang jatuh hati pada kesopanannya. Dengan sabar Putri Parasi mengajar sopan santun dan tata krama. Putri Parasi merasa sembuh ketika berdekatan dengan Teyi; Teyi adalah semangat hidupnya. Putri Parasi bercita-cita menjadikan Teyi orang yang pantas untuk mendapatkan jodoh dari kraton; Teyi dipersiapkan untuk itu, dipersiapkan untuk dibawa ke keraton ketika Putri Parasi cuti. Cinta kasih Putri Parasi bertambah ketika Teyi berhasil menyelamatkan nyawanya pada waktu Putri Parasi terkapar tidak sadarkan diri karena penyakitnya tiba-2 kambuh. Teyi bahkan dibekali dengan keahlian berbahasa Belanda, sehingga dia tidak canggung menghadapi rekan-rekan Ndara Tuan Kapten Sarjubehi yang kebanyakan dari kalangan atas dan bahkan berkomunikasi dengan bahasa Belanda terhadap Putri Parasi dan suaminya. Teyi bersungguh-sungguh dalam persiapan dirinya untuk keluar dari tangsi menuju dunia yang lebih beradab baginya. Dia sudah menguasai ngadi busana dan ngadi salira juga pandai berbahasa Belanda – baca, tulis dan berbicara; sudah menutup hati buat laki-laki tangsi yang menyukai kecantikannya.

Kedekatannya dengan keluarga keluarga Putri Parasi itu menebarkan gosip bahwa dia akan di”munci” oleh Sarjubehi. Akan tetapi Teyi harus mengubur semua cita-cita untuk pergi ikut Putri Parasi ke tanah Jawa, ke keraton, mendapatkan jodoh orang keraton ketika tiba-tiba sang junjungannya pergi untuk selamanya. Sejak saat itu sudah tidak ada yang harus disembunyikan dari si mbok yang selalu melarang dia untuk bermain ke rumah loji. Hasi didikan sang guru membuat Teyi menjadi pribadi yang kuat tapi rapuh; kuat dalam meyakinkan si mbok bahwa dia akan baik-baik saja membantu tuan Sarjubehi dan tidak akan menjadi munci sang Ndara Tuan; tapi juga lemah karena sebetulnya dia sudah mulai terbiasa dengan keseharian sang tuan, dia juga tertarik dan suka dengan si tuan ini. Tapi Teyi sangat ingat pesan Gusti, “…pas op Teyi, meneer is niet de man voor jou! Absoluut niets! (Hati-hati Teyi, Tuan Sarjubehi bukan laki-laki untukmu, sama sekali bukan…”). Dia menghormati pesan itu, sehingga pada waktu Teyi diminta untuk mencarikan pembantu dan si tuan memilih Dumilah yang selain menjadi pembantu juga menjadi munci, Teyi tidak dapat berkata “tidak”. Dia hanya menangis kesal dan sesal; akhirnya dia memutuskan untuk bersedia nikah dengan Sapardal, orang yang tidak pernah dicintainya. Satu hari menikah langsung minta cerai ketika dia bertemu dengan Ndara Mas Kus Bandarkum, yang adalah keponakan Putri Teyi yang memang seyogyanya akan dijodohkan dengan Teyi. Dia merasa sudah mengenal Ndara Mas Kus lama hanya karena cerita-cerita dari Putri Parasi. Teyi, si gadis lugu tapi keras hati, yang sudah berusaha menuruti semua kehendak si mbok, yang selalu kalah karena mempertahankan sesuatu yang baik, akhirnya “menyerahkan” dirinya pada sang Ndara Mas Kus; akhirnya Teyi berpikir bahwa dia tidak berbeda dengan Keminik, yang sudah mengenal seks dari masih belia, bahkan tidak peduli berbuat kesetanan seperti si Mopi, anjing tuan Davenpoort. Teyi merasa bahwa apa yang dia perbuat ini adalah merupakan sifat dasar; kenikmatan sekaligus pemberontakan untuk memenangkan masa depan ……!”

trukbyangane……”! Rasanya ingin segera baca seri ke-2 dari trilogi Pak Suparto Brata ini.

(Resensi ditulis oleh Esthy Jonathan)


Respon pembaca :

nug

Suparto Brata sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis cerita – cerita jawa.Dari sisi ini tentunya sesuatu yg mnarik untuk melihat bagaimana penulis jawa menulis roman dalam bahasa Indonesia.

………..“…pas op Teyi, meneer is niet de man voor jou! Absoluut niets! (Hati-hati Teyi, Tuan Sarjubehi bukan laki-laki untukmu, sama sekali bukan…”)……
cepetan aja baca Kerajaan Raminem dan Mahligai Di Ufuk Timur Bu,… ntar pasti makna kalimat Putri Parasi di atas bukan seperti yang anda bayangkan setelah membaca roman ini…

Hartono

Melihat cover roman ini, mengingatkan orang pada novel tetralogi Bumi Manusia karya Pram. Suparto Brata bisa mulai tancap gas, menghasilkan berderet seri trilogi atau tetralogi, untuk menggantikan posisi Pram yang kini tak bisa lagi melahirkan karya-karya masterpiece-nya.

Maju terus Pak Brata!

Diambil dari : "Rumah Baca"



Selanjutnya - Gadis Tangsi

Trilogi Gadis Tangsi "Kerajaan Raminem"


Tak sengaja saya beli buku ini, waktu itu mau pulang ke Bogor, sengaja mampir di tukang jual buku "lapak tepatnya" di bawah fly over Cawang UKI. Tak ada niat beli malahan sebenarnya, ya pengin lihat-lihat saja, bosen dengan buku manajemen dan motivasi yang selama ini selalu mengisi tas dan terbawa kemana-mana, eh..lha kok ada buku serial murah. Coba balik resensi di cover belakang ternyata bagian kedua dari trilogi gadis tangsi, pernah dengar sih sebelumnya tapi tak kenal itu siapa Suparto Brata, kalau ahlinya ...logi-logian ya Pramoedya Ananta Tour lah, atau yang baru ngepop dari ranah Belitong Andrea Hirata. Yah...itung-itung buang kejenuhan dengan referensi manajemen dan motivasi lah, ambil 2 buah Kerajaan Raminem dan Mahligai di Ufuk Timur, sayank memang tidak diawali dari seri pertama.

Rentang baca buku ini pun cukup lama untuk kelas buku cerita yang asyik, sebagai perbandingan saya lahap Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata cukup 2 malam, lanjut dengan Edensor 3 hari, trus waiting list Maryamah Karpov dan begitu ada di tangan tak sampai 5 hari terlahap tanpa sisa. Memang belum langsung "tunjeb poin" awalnya dengan bentuk cerita, tokoh, alur, setting kota Sumatra dan misi penulis sendiri. Tapi begitu sampai pada halaman diatas 79, langsung tancap gas meneer, tutur ceritanya yang gemlundung apa adanya begitu enak diikuti dan diselingi dengan beberapa istilah Belanda jadi daya tarik tersendiri. Berikutnya adalah cara Suparto Brata sendiri dalam menghidangkan kehidupan begitu khas "Jowo Tengahan" guyon-gemuyonannya, clathu-clathuane, pisuh-pisuhan, ular-ular, sampai dalam hal kegiatan ranjang pun demikian khas "wong ndeso". Aku sebagai orang Jawa pun seperti terseret ke masa kecil dulu di kampung Mlowo Karangtalun dan Pojok, Purwodadi Grobogan sana, dimana kebudayaan dan pola pergaulan orang-orangnya ya sama persis seperti dalam buku ini.

Dimulai dari kegegeran Tangsi Belawan yang harus segera dikosongkan oleh para kumpeni berikut istri dan anak-anaknya, karena serangan Nippon sudah dekat. Sampai akhirnya terdampar di Tangsi Lawe Sagala-gala dan balik lagi ke Tangsi Kabanjahe, pertengkaran dan pertikaian perempuan jawa bodho yang sangat kental disuguhkan dengan apik,diselingi juga dengan gugon tuhon dan kisah filosofis pewayangan. Sampai akhirnya kehidupan para pelaku yang semakin melarat karena Nippon benar-benar berkuasa. Uang Belanda menjadi tidak laku lagi di Medan, masing-masing pun harus mengenakan identitas tulisan huruf kanji yang tidak boleh lepas dari badan agar aman ketika diverifikasi oleh tentara bertubuh kate itu.

Tokoh utama dalam sekuel Kerajaan Raminem adalah Raminem sendiri dan kedua anak perempuannya; Teyi yang cerdik, cantik dan pekerja keras serta adiknya Tumpi yang masih polos. Keinginan ketiganya untuk pulang ke tanah kelahirannya di Ngombol, Purworejo, Kedu Selatan, Tanah Jawa Dwipa akhirnya terlaksana dengan bantuan Manguntaruh (adik Wongsodirjo, sekaligus pembunuh Wongsodirjo, karena gandrung dengan Raminem). Dengan kerja keras dan keuletan tiga tokoh utama ini akhirnya "Kerajaan Raminem" itu berdiri kokoh di Desa Ngombol, kemaslahatan warga Ngombol juga ikut terangkat dengan berdirinya kerajaan ini.

Penokohan dan alur cerita sastra Jawa yang kental di buku ini tak sedikitpun mengurangi muatan filosofis dan pesan moral yang diusung Suparto Brata. Kehidupan memang keras, orang mau mukti tidak bisa dicapai dengan ongkang-ongkang sikil trus mak gedabruss gludak langsung mukti, sopo nandur kebecikan yo bakal ngunduh kamukten (siapa menanam kebaikan maka beitu pula akan menuai kebahagiaan). Kepahitan memang jadi daya lecut untuk lebih cepat bergerak tanpa niat menghalalkan segala cara apalagi sampai gawe cacating liyan. Teyi pun masih bisa menyisihkan rizkinya pada Pakde, Mbokde dan Lik Sumi tanpa roso eman saat masih njejegke cagak "Kerajaan Raminem". Sastra dan nilai adiluhung Kejawen terangkat tinggi dalam novel ini, gak peduli dia Islam, Abangan atau gak nggenah padane pun akan dapat pangestunipun Gusti Allah jika niatnya tulus, baik lan ora gawe sengsarane liyan.

"Ketidakadilan itu hanya milik Tuhan" inilah ucapan Teyi yang melekat di hati saya. Kita hidup cenderung melihat dari sisi gelapnya, "alah...paling-paling dapat warisan, pelihara Tuyul kali", itulah jamak lumrahnya komentar, setiap kesuksesan selalu dilihat dari sisi paling sederhana dari sudut pandang instant. Cobalah lihat lebih dalam, pasti prosesnya tidak segampang membalik telapak tangan dan dalam perjalanannya pasti ada saja riak-riak kecil cobaan, kebingungan, sinisme sesama, iri dengki atau srengki kata orang Jawa dan pelajaran-pelajaran yang terus bisa digunakan sebagai batu pijakan yang lebih kokoh. Disitulah kemuliaan manusia teruji dan terseleksi, apakah dia bibit unggul yang bisa terus dilestarikan zaman ataukah mung pah-poh "pupuk bawang" thok yang akan terlahap zaman. Satu analogi sederhana Teyi begini, kita lihat Gunung Merbabu dari Salatiga pasti orang Salatiga akan bilang Gunung Merbabu ada di sebelah Selatan. Sedangkan orang Magelang bilang ada di sisi Timur dan orang Kaliurang Yogyakarta akan bilang Gunung Merbabu ada di sisi utara. Coba kalau kita orang Klaten memaksa orang Salatiga untuk menerima nalar bahwa Gunung Merbabu iku ning sisih Kulon (di sebelah Barat), opo rak yo bubrah tatanane (apa ya nggak rusak kehidupan pergaulan masyarakatnya. Itulah kehidupan, kepenak ora kepenak tergantung dari mana kita memandang, menyikapi dan mensyukurinya. Jangan mengeluh dan merasa tidak dipedulikan oleh Tuhan sebelum anda benar-benar lumpuh tak berdaya menjentikkan jari.

Terima kasih Pak Suparto Brata atas karya emasnya, lanjut pada cita-cita Teyi berikutnya dalam mencari pegangan hidup (cinta sejatinya ke Kasunanan Kartosuro) pada sekuel ketiga "Mahligai di Ufuk Timur". Semoga bermanfaat dan njunjung dhuwur (mengangkat tinggi) nilai-nilai luhur nan adiluhung filosofis ajaran dan sastra Jowo.

Diambil dari "Evolusi & Revolusi Manusia"
Selanjutnya - Trilogi Gadis Tangsi "Kerajaan Raminem"

01 September 2009

Wong Jawa

Oleh BANDUNG MAWARDI

“Siapa saja yang ingin menjadi wong Jawa harus membaca buku dan menulis buku.” Kalimat dengan pesan imperatif ini disampaikan secara kalem oleh Suparto Brata dalam diskusi Wong Jawa Ilang Jawane di Solo pada 14 Juni 2009. Laku membaca buku dan menulis buku diklaim Suparto Brata sebagai pengalaman jadi wong Jawa. Ungkapan rasional tentang Wong Jawa dengan tradisi membaca buku dan menulis buku memang cukup mencengangkan pada hari ini, ketika sekian orang sibuk mencari definisi, memerkarakan identitas hibrida atau tafsir klise tentang takdir kekuasaan Jawa.


Apakah ciri substansi orang Jawa adalah membaca buku dan menulis buku? Pertanyaan ini muncul oleh pengakuan Suparto sebagai pengarang mumpuni dengan puluhan buku sastra dalam bahasa Indonesia dan Jawa. Afirmasi sebagai wong Jawa terselamatkan dan menjadi produktif ketika orang mau menekuni tradisi membaca buku dan menulis buku. Kebenaran memang terkandung dalam ungkapan kalem itu jika publik mau membuka kembali lembaran-lembaran kepustakaan Jawa dari zaman kakawin, babad, serat, kidung, sampai adopsi dan eksplorasi terhadap struktur tulisan modern dari peradaban Timur dan Barat.


*


Peran dan kerja keras PJ. Zoetmulder pantas dijadikan sebagai bukti kesuntukan pujangga Jawa untuk mencatatkan konstruksi wong Jawa dalam arus zaman. Penulisan teks-teks sastra dan sejarah membuat pelacakan terhadap deskripsi dan analisis tentang wong Jawa memiliki jejak dan tanda. Laku para pujangga merepresentasikan nubuat untuk generasi lanjutan mengenai kodrat menemukan biografi historis dan kultural dalam konteks Jawa. Pembacaan terhadap teks-teks lawas tentu jadi mekanisme untuk menghidupkan memori kolektif dengan impresi dan implikasi.


Buku Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (1983) merupakan buku babon untuk penelusuran teks-teks Jawa dalam dialektika zaman. Zoetmulder telaten mengurusai naskah-naskah Jawa kuno untuk ikhtiar merekonstruksi jagat kultural dan estetika Jawa melalui bahasa tulisan. Naskah tertua diperkirakan muncul pada abad IX dalam bentuk kakawin tentang epos Ramayana. Naskah-naskah kuno menjadi “monumen bahasa” untuk dinikmati dengan laku membaca dan menulis. Monumen bahasa lalu terwariskan dalam tingkat keawetan yang mungkin melebihi candi, rumah, gapura, atau prasasti.


Zoetmulder menghadirkan kepada pembaca daftar panjang tentang laku kreatif pujangga-pujangga Jawa untuk mengungkapkan ide-ide religiusitas, estetika, etika, politik, dan kultural. Pilihan terhadap bahasa tulis membuktikan bahwa tradisi aksara sejak lama hidup dan disemaikan di Jawa sebagai bentuk konsekuensi menggerakkan peradaban. Pengekalan jejak historis dan nubuat dalam naskah adalah pertaruhan diri untuk menjadi manusia. Menulis buku merepresentasikan kesadaran dan strategi kultural untuk pengukuhan eksistensi dan pengajuan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan zaman.


Publik perlu membuka kembali khazanah Jawa dalam naskah Ramayana, Arjunawiwaha, Gatotkaca sraya, Samardahana, Bhomantaka, Arjunawijaya, Sutasoma, Negarakretagama, Lubdhaka, dan lain-lain. Naskah-naskah kuno itu mengandung informasi fiksionalitas dan fakta mengenai lakon manusia dalam dialektika zaman. Kehadiran naskah tentu membuat ingatan atas sejarah atau identitas biografi kultural menemukan titik sambung pembayangan terhadap asal usul dalam keterpengaruhan peradaban-peradaban besar di Tanah Jawa. Pengaruh peradaban India tampak kentara dalam naskah-naskah Jawa kuno. Perjumpaan peradaban membuat konstruksi identitas tak permanen, tapi inklusif untuk perubahan. Laku para pujangga membuktikan, ada karakter elegan untuk menjalani lakon kultural dalam tegangan otentisitas dan akulturalisme. Jejak panjang pengaruh India terus terasakan sampai hari ini. Pembacaan atas naskah-naskah Jawa kuno tentu mengesankan bahwa ada kemungkinan kerepotan menguraikan ambiguitas wong Jawa dan kerumitan dalam pewarisan identitas kultural Jawa.


*


Orang Jawa hari ini justru dihadapkan pada pilihan tema-tema besar dan kuasa teks dari pelbagai sumber Timur dan Barat. Teks ikut menentukan kehadiran wong Jawa dan proses kehilangan kejawaan melalui negasi dan afirmasi dari progresivitas peradaban global. Pemahaman identitas lokal menjelma sebagai tema pinggiran dan lekas terhapuskan oleh konsensus tentang manusia kosmopolitan. Pengesahan kerepotan merumuskan identitas manusia hari ini kentara ditentukan oleh kuasa teks, permainan tafsir, dan operasionalisasi ideologi teks melalui ranah politik, ekonomi, teknologi, atau seni.


Perkara identitas orang Jawa pada hari ini mengandung dilema dan ambiguitas dalam batas tegangan tradisionalitas dan modernitas. Pengajuan jawab melalui jejak dan tanda tradisi kelisanan tentu tidak menjadi rumusan utuh. Kesadaran atas tradisi pustaka adalah penggenapan untuk membaca ulang dan merumuskan diri kembali sesuai dengan takdir zaman. Kesadaran pustaka justru melemah karena kelengahan dalam menghadapi mode zaman. Fase tulisan seperti diloncati dengan kultur audiovisual untuk penguatan tradisi kelisanan. Barangkali godaan besar ini mengakibatkan wacana wong Jawa Ilang Jawane kehilangan jejak referensial melalui teks kultural.


Dokumentasi pustaka sebagai sumber pengetahuan menjadi keniscayaan untuk tak sekadar menerima kodrat normatif. Suparto Brata mengistilahkan sebagai kodrat weruh lan krungu (melihat dan mendengar). Menulis adalah strategi ampuh untuk sadar pengetahuan. Kesadaran ini dibuktikan oleh kerja keras para pujangga Jawa meski dalam fragmen zaman ini kerap terlupakan atau sekadar dijadikan album nostalgia lama tanpa pesan kontekstual. Pesimisme atas peran kepustakaan dalam pawacanaan identitas kultural Jawa perlu diklarifikasi dengan kehadiran data dan tafsir mutakhir.


*


Ikhtiar menghidupkan kerja literer pujangga Jawa pernah dibuktikan oleh Poerbatjaraka dan Tardjan Hadidjaja dalam buku Kepustakaan Jawa (1952). Buku ini menghadirkan sinopsis atas teks-teks literer Jawa lama dan ulasan pendek. Peran buku ini signifikan untuk pengekalan dan pewacanaan atas tradisi aksara dalam peradaban Jawa. Ensiklopedia naskah Jawa membuktikan, tingkat peradaban dan karakteristik orang Jawa terhadap eksplorasi lakon hidup dalam aksara. Tradisi itu mengalami tragedi ketika zaman berubah dalam kecepatan tinggi dan dijalankan dengan hukum dominasi. Kepustakaan Jawa lalu jadi bab kecil di antara bab-bab besar jagat teks kontemporer.


Ungkapan wong Jawa ilang Jawane mungkin menemukan pembenaran ketika tradisi membaca buku dan menulis buku memang diabaikan dan hilang. Kesadaran akan aksara ini mengalami titik kritis ketika kebijakan politik kebudayaan dari negara tidak memberikan akses dan merestui tradisi membaca buku dan menulis buku. Pemanjaan kultural dalam ideologi konsumsi justru melemahkan kepemilikan identitas kultural Jawa. Menulis bisa jadi subversi untuk tak kalah atau terkooptasi oleh kuasa zaman. Barangkali, untuk menjadi wong Jawa, diperlukan syarat kunci dalam laku membaca buku dan menulis buku. Begitukah?


*


BANDUNG MAWARDI, peneliti Kabut Institut Solo.


Sumber: Jawa Pos, Minggu 30 Agustus 2009.
Selanjutnya - Wong Jawa

31 August 2009

Eksperimen Suparto Brata


FORUM

Eksperimen Suparto Brata
Oleh BENI SETIA

Ada seniman yang kukuh bahwa dunia ini (baca: Bumi) datar dan tidak bulat seperti yang dinyatakan ilmu pengetahuan. “Jare sapa?” katanya, “Saat berdiri dan berjalan, kita tidak terpeleset seperti berdiri di atas bola.” Saya tidak tahu harus omong apa. Kebenaran ilmu selalu dinyatakan agar tap orang menguji dan menemukan hal sama saat melakukan tindakan sama dengan tertib urutan sama.

Kebenaran subyektif tidak bisa membantah kebenaran fakta obyektif. Cukup dengan mengambil jarak dan mengambang, kita sudah menemukan bukti bahwa Bumi bulat. Dalam termin psikologi fenomenologik yang sering dikutip MAW Brouwer, “ikan bisa melihat, menyadari dan mengapresiasi segala hal selain fakta air yang menyebabkannya ada dan hidup.” Dan, fenomena pengamat yang terlalu lekat dengan media hidup sehingga tidak bisa mengambil jarak juga terlihat dalam kreasi inovatif Suparto Brata, yang ingin menunjukkan kemodernan wong Jawa pada kumpulan tiga novelet berbahasa Jawa (lihat Ser! Randha Cocak, Narasi, Yogyakarta, 2009).

Sebuah buku yang menampung tiga novelet—pengarang menyebutnya roman—panglipur wuyung yang ditulis untuk menunjukkan wong Jawa bisa menjadi manusia modern di bidnag formal diplomasi dan direktur serta koreografer (novelet Ser! Ser! Plong!) lantar terbiasa naik pesawat terbang, dansa, dan pergaulan metropolis rangkul-cium. Atau eksekutif perusahaan EMKL yang berhubungan dengan klien asing, yang membuat si bersangkutan pandai bicara bahasa Inggris atau Jepang (novelet Mbok Randha saka Yogya) dan hafal tata cara makan internasional. Atau si pengusaha real estat, yang naik pesawat dan memakai jasa bank serta ATM (novelet Cocak Nguntal Elo) sehingga terlatih debat saham dan legalitas tindakan perdata.

Pilihan latar (setting)—dikatakan sendiri oleh Suparto Brata—yang diambil sebagai upaya terobosan di jagat kreatif penulisan sastra prosa Jawa, yang selama ini selalu berkutat di sekitar pribadi dan lingkup latar intim pengarang. Ini dengan menghadirkan dunia metropolis dansa dan pergaulan kosmopolitan dengan orang asing lewat komunikasi dalam bahasa asli klien, dengan kritik yang mendorong inisiatif untuk melakukan investigasi pribadi demi kebenaran sejati ala detektif tidak sengaja film Barat. Semua tokoh yang dipilih merupakan manusia ideal Jawa modern yang bisa mengakomodasi dan mengadaptasi tuntutan zaman.

Ihwal dalam satu percakapan peribadi yang bermakna membebaskan karakter, latar, dan lokasi cerita baru dari pengulangan melulu tentang para guru atau priyayi rendahan yang bergaul dengan orang yang berprofesi ndesa dan terjadi di desa. Bagi si pengarang, riset dansa dan macam dansa, hadirnya orang Jawa yang menunjukkan kepahaman akah hal itu di satu sisi, serta lokasi cerita yang merujuk ke perkantoran modern, rumah makan kelas atas, dan mobil mewah di Jakarta (Ser! Ser! Plong! Dan Mbok Randha saka Yogya atau di Surabaya (Cocak Nguntal Elo) di sisi lain akan menunjukkan wong Jawa bisa modern. Dengan penghadiran itu, citra wong Jawa tinggal di desa dan ndhesit punah. Namun, apa sesederhana itu?
Keutamaan Suparto Brata adalah teknik bercerita yang lancar, mengalir, dan ringan renyah seperti keripik kentang. Hal yang sangat mendukung upaya penceritaan, yang diandaikan dilakukan penuturu di beranda, sambil menunggu kopi dan pisang goreng mendingin pada senja hari. Sebelum TV menghadirkan berita petang atau sesaat setelah percintaan sebelum kantuk tiba—modal bagus buat cerita panglipur wuyung.

Dalam beberapa hal, itu mirip teknik adegan sinetron Indonesia: selalu menghadirkan rumah mutakhir, pakaian bagus, mobil mewah, dan rias lengkap meski untuk mengantar suami ke toilet. Semuanya membuat resep dilihat, ditonton, dan dibayangkan. Semua diadaptasi dan diakomodasi untuk menunjukkan bahwa wong Jawa juga modern.
Suparto Brata lihati memotret semua itu karena bisa melihat semua itu. Semua, kecuali pembiasaan dan keterbiasaan membangun karakter serta menciptakan konflik dari cerita cq tokoh-tokoh cerita, yang ternyata masih ada di kawasan 1950. Ser! Ser! Plong! Bercerita tentang diplomat muda yang harus segera menikah sesuai dengan keinginan ibu, sementara Mbok Randha saka Yogya bercerita tentang ibu yang ingin punya cucu, upaya untuk menjodohkan anaknya yang eksekutif muda, dan bagaimana intrik untuk memenangi suami dengan menaklukkan calon mertua. Cocak Nguntal Elo bercerita tentang mengawini anak direktur agar menguasai harta direktur seperti ilusi dikawini direktur muda agar jadi bagian dari kelas menengah atas.

Kekuatan Suparto Brata selalu merujuk pada manusia, latar, dan lokasi dekade 1940, 1950, serta 1960-an, seperti yang diperlihatkan Saksi Mata, Gadis Tangsi, atau Donya Wong Culika. Dengan senantiasa intens kreatif mengeksploitasi periode itu akan melahirkan teks sastra yang penuh dengan detail faktual sejarah dan sosial yang teramat berguna bagi ilmu sosial. Bagi saya, Suparto Brata yang senantiasa intenseif mengungkapkan apa yang dia ketahui tentang masa itu jauh lebih penting dari sekedar menghadirkan latar sinetron sok kota masa kini. Milo!

BENI SETIA
Pengarang, Tinggal di Caruban


Sumber:
Kompas Jawa Timur, Rabu, 27 Agustus 2009, hal. D.
Selanjutnya - Eksperimen Suparto Brata