Showing posts with label Sarasehan. Show all posts
PENGARANG ITU BERNAMA SUPARTO BRATA.
Beberapa hari yang lalu saya memenuhi undangan J.F.X Hoery (penyair sastra Jawa) yang kini menetap di Padangan (Bojonegoro) untuk mengikuti acara Kemah Budaya Jawa 2009. Acara diselenggarakan selama 3 hari, tanggal 27 s/d 29 Oktober 2009 mengambil tempat di Taman Tata Wana, Dander, BojonegoroKendati acara diselenggarakan di bawah kemah (yang kalau siang hari panasnya bukan main, dan kalau malam hari jenes dan dingin karena diguyur hujan yang cukup lebat), saya cukup senang mengikuti acara tersebut. Sebagimana yang sudah-sudah, acara diisi dengan sarasehan-sarasehan,. Hebohnya, panitia masih menjamu peserta kemah dengan beberapa pagelaran seni: cokekan, oklik, athiririt, wayang tobos dan wayang thengul. Spektakuler, memang.
Namun yang membuat saya terkesan, adalah pertemuan dengan beberapa sastrawan Jawa modern yang menurut saya masih menunjukkan semangat berjuang menegakkan panji-panji sastra Jawa di tengah serbuan budaya pop (audio visual) yang terus menerus menggerus budayaa baca tulis. Mereka bertemu, saling menyapa, berbincang membicarakan sastra Jawa (yang tetap berjalan di tempat). Ada yang mengeluh, putus asa dan akhirnya mencoba survival dengan beralih ke sastra Indonesia. Namun ruh mereka tetap. Mereka tetap pejuang sastra Jawa yang militan.
Salah seorang pejuang sastra Jawa itu adalah Suparto Brata. Sudah sepuh memang. Namun energi kepenulisannya tiada tara. Saya sudah cukup lama mengenal suparto Brata. beberapa kali berbincang deengan pengarang sepuh itu. Namun perbincangan paling mengesankan baru terjadi di Bojonegoro kali ini. saya benar-benar kagum dengan semangat beliau dalam menulis. Tiada hari tanpa menulis. Konon beliau menetapkan harus menulis sebanyak 8 halaman setiap hari. Kalau satu hari tidak dapat melakukan maka ia harus membayarnya di lain waktu.
Apa sih yang membuat Pak Parto demikian dahsyat nguri-uri semangat menulis, tanya saya. Menurut beliau, kalau orang mau disebut modern, maka ia harus mau meninggalkan tradisi omong dan jagongan. Itu tradisi kuno. Tradisi bangsa primitif. Bangsa modern sudah tidak membiasakan diri dengan budaya omong-omong dan jagongan. Bangsa modern harus membiasakan diri deengan budaya membaca dan menulis. Semua profesi membutuhkan tulisan. Seorang sarjana, mahasiswa, dosen, semua harus menulis untuk menunjukkan profesi mereka, katanya dengan senyum.
Sudah barang tentu saya tidak menyindir kawan-kawan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa. Mungkin kata-kata Suparto Brata itu betul. Kita memang ditakdirkan sebagai seorang dosen. Menjadi agak bermasalah kalau sebagai seorang dosen sudah tidak suka menulis atau tidak bisa menulis. Menjadi sangat bermasalah kalau seorang dosen hanya suka omong dan jagongan ke mana-mana. Sarasehan memang sebuah omong-omong dan jagongan, namun sarasehan merupakan sebuah iplementasi dari kebiasaan membaca dan menulis sebelumnya. Kalau waktu habis hanya dipakai untuk omong dan jagongan, kata-kata Suparto Brata mungkin benar. Kita adalah orang primitif. Orang yang tidak suka menulis, dan tidak bisa menulis.
Salam.
Wiranta.
Dikutip dari MAJALAH ILMIAH HALUAN SASTYRA BUDAYA no. 55 Th. XXVII Nopember 2009.
diterbitkan Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret.
Suparto Brata: Jangan Sekadar Datang di Acara Buku!
Diambil dari Indonesiabuku.comMalam itu dia datang seorang diri saja. Dengan kaos kebesarannya yang bertuliskan www.supartobrata.com Dan seperti biasa, beliau membaur dengan anak-anak muda yang mengerumuninya. Tawa yang sumringah membuatnya terlihat bugar dan penuh semangat.
Suparto Brata bukan hanya seorang yang tekun menulis, ia juga tekun hadir di acara-acara buku. Dan ia bukan hanya sekedar hadir, ia juga tekun menyimak. Karenanya ia tak suka jika ada yang tidak menyimak alur diskusi di forum.
Tadi malam, 29 Juni 2009, di acara peluncuran buku Para penggila Buku karya Muhidin M dahlan dan Diana AV Sasa, beliau membuat kuis kecil untuk nge-tes konsentrasi dan ingatan peserta diskusi. Pertanyaannya sederhana: Di mana pertama kali Cak Giryadi (salah satu pembicara, redaktur buku harian Surabaya Post) pertamakali belajar menulis di media masa? Dan ternyata nyaris semua peserta terdiam.
Hanya ada satu bapak yang mengacungkan tangan. Namanya Pak Jamal, seorang tukang becak yang cinta buku dan tekun pula hadir di acara buku. Maka beruntunglah Pak Jamal mendapatkan hadiah buku terbaru Suparto Brata sebagai buah ketekunan, keseriusan dan daya ingatnya.
Pelajaran berharga bagi setiap pecinta buku. Jika datang di acara buku, memang semestinya menjadi peserta aktif, tidak hanya sekadar datang dan bersapa halo ria. Menurut Pak Parto, forum ini menjadi ajang kesempatan belajar dan berbagi pengalaman, jadi jangan disia-siakan. (DS)
MENUMBUHKEMBANGKAN KEHIDUPAN SASTRA JAWA
Seminar Sehari Sastra Jawa
Taman Budaya Jawa Tengah
Solo, 13 Juli 2008
Tahun 2003 Ayip Rosidi berceramah di Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta, bahwa kemungkinan buku sastra Jawa bisa banyak terjual, karena penutur bahasa Jawa 70 juta orang. Tahun 2006, William P. Tuchrello, Field Director Library of Congress Office Southeast Asia, datang ke rumah saya langsung bertanya, penutur bahasa Jawa ada 80 juta orang, tetapi mengapa tidak ada bukunya? Dia mencari buku bahasa Jawa tidak ada. Apakah saya bisa menerangkan? Tahun 2008, di hadapan 200 kepala sekolah SD-SMP-SMK-SMA Negeri dan Swasta se Surabaya mengatakan, bahwa menurut UNESCO penutur bahasa Jawa sekarang 90 juta orang lebih.
Dari tahun ke tahun, jumlah penutur bahasa Jawa ternyata terus bertambah. Tidak susut. Dan itu jumlahnya sangat besar. Ada yang berkata: Penutur bahasa Jawa masuk nomer 8 terbanyak dituturkan orang di dunia saat ini.
Sebenarnya orang Jawa tidak perlu minder bicara bahasa Jawa.
Namun puluhan tahun terakhir ini para penutur/pemerhati/penggemar/pejuang bahasa Jawa prihatin, karena bahasa Jawa gejalanya kian hari kian tidak digunakan sebagai alat komunikasi antarkeluarga Jawa. Lebih-lebih di kota besar. Anak-anak (generasi muda) sudah tidak lagi berbicara bahasa Jawa. Kebanyakan orang Jawa hanya bisa mengeluh, dan merasa tidak berdaya lagi mencegah kemerosotan ini, dan membiarkan perkembangan melenyapkan bahasa Jawa tadi. Membiarkan, karena perkembangan pelenyapan bahasa Jawa itu TIDAK MERUGIKAN perkembangan anak-anak (generasi muda) dalam menghayati hdupnya.
Keterpurukan ini terjadi karena: Orang Jawa sudah tidak HANDARBĒNI lagi bahasa Jawa, tidak bangga dengan bahasa Jawa, dan ORA TRIMA ditakdirkan Allah sebagai orang Jawa. Gusti Allah disalahkan.
Beberapa gejala dari sikap tadi bisa disemak dari KENDALA berikut ini:
Kendala
* Mengeluh, mengkhawatirkan bahasa Jawa akan lenyap. Membiarkan, karena sudah sewajarnya mengikuti zamannya.
* Tidak merugikan perkembangan generasi muda. (Gak ngomong basa Jawa gak pathèken).
* 726 bahasa daerah ditengarai terancam punah akibat globalisasi teknologi yang semakin canggih dan meluas.
* Kurikulum 1975 yang mengharuskan sekolah dari TK sampai PT hanya berbahasa Indonesia. (Bahasa daerah hilang dari sekolah).
* Perkembangan TV swasta 1990 yang berpancar sepanjang hari hanya berbahasa Indonesia. (Mengurangi berbicara dan mendengar tuturan bahasa Jawa setiap waktu setiap tempat ada TV di dekatnya. Padahal, bocah Jawa di rumah tidak bisa lepas dari menonton TV).
* Departemen Pendidikan mendirikan Balai Penelitian Bahasa di Yogyakarta (daerah bahasa Jawa).
* Tahun 1970-an ada kegiatan PKJT di Sasana Mulya Solo dipimpin Bp. Gendon Humardani, yang menyelenggarakan kegiatan serba seni bahasa Jawa, seperti pagelaran wayang singkat, pentas drama bahasa Jawa, penulisan sastra Jawa beserta diskusi problem-problemnya..
* Tahun 1991, prakarsa Gubernur Jawa Tengah Pak Ismail menyelenggarakan Konggres Bahasa Jawa.
* Konggres-konggres bahasa Jawa tiap 5 tahun sekali diselenggarakan di 3 provinsi penutur bahasa Jawa (Jawa Tengah, DIJ, Jawa Timur).
* Peraturan daerah melaksanakan hasil-hasil Kongres. Sifatnya memperhatikan, mendukung, memberi kemudahan, mencari jalan untuk menumbuhkembangkan bahasa Jawa.
* Misalnya Jawa Timur baru-baru ini (Juni 2008) Biro Mental Spiritual Propinsi menyelenggarakan Semiloka Menanggulangi Lunturnya Bahasa Daerah dan Sastra Jawa Propinsi Jawa Timur 2008.
* Pusat Bahasa (Jakarta) bersama Balai Bahasa (di daerah-daerah) dan Perguruan Tinggi melaksanakan pemetaan bahasa daerah (sebanyak 746). Akan diluncurkan pada Konggres IX Bahasa Indonesia 28 Oktober – 1 November 2008 di Jakarta. Peta bahasa daerah diharapkan membantu peran Pemerintah Daerah dalam upaya pelestarian /pertumbuhan bahasa daerah di wilayahnya.
* Sejak berlakunya otonomi daerah, upaya pengembangan dan pembinaan bahasa mengalami desentralisasi. Kebijakan mengenai bahasa Indonesia dan asing tetap menjadi wewenang Pemerintah Pusat. Sedang kebijakan bahasa daerah menjadi wewenang Pemerintah daerah.
Kegiatan masyarakat
* Adanya pentas-pentas kesenian yang menggunakan bahasa Jawa.
* Tumbuh perkumpulan/sanggar pengguna bahasa Jawa, seperti perkumpulan macapatan, pendidikan upacara adat Jawa, sanggar-sanggar sastra Jawa.
* Stasiun TV dan radio swasta menggunakan bahasa Jawa.
Sastra Jawa
* Segala sesuatu yang dilihat dan didengar dengan cara indrawi atau kodrati, akan luntur, akan hilang, tidak bisa dialihkan kepada orang lain lebih-lebih alih generasi. Jadi apa yang kita saksikan sekarang, apa yang kita lihat dan dengar sekarang, tidak bisa dilestarikan dan tidak bisa dikembangkan. Begitu juga bahasa tuturnya yang kita ucapkan dan dengar sekarang, akan selesai riwayatnya apabila tidak dituliskan. Tulisan bahasa tutur adalah sastra. Maka sastra adalah sarana untuk melestarikan dan mengembangkan bahasa. Sastra Jawa adalah pelestarian dan pengembangan bahasa Jawa tutur atau lisan.
* Sastra Jawa tidak mati. Sampai sekarang ada yang menulis (berkarya), ada yang menerbitkan karya sastranya, ada pembacanya.
* Sastra Jawa modern, konvensinya: ditulis dengan huruf ABC, bahasa narasinya ngoko, tanpa guru gatra, guru lagu, guru wilangan (gancaran).
* Sastra Jawa modern tumbuh bongsai karena ladangnya hanya di majalah bahasa Jawa. Umurnya pendek, begitu dipublikasikan, majalah nomor yang baru terbit, selesai riwayatnya. Namun pengarang sastra Jawa hilang tumbuh silih berganti, tetap ada sulih generasinya.
* Untuk menumbuhkembangkan dan melestarikan bahasa Jawa perlu sastra Jawa, untuk menumbuhkembangkan dan melestarikan sastra Jawa lebih lanjut perlu karya sastra Jawa diterbitkan jadi buku. SASTRA ITU BUKU, ilmu pengetahuan apa saja itu buku. Kiat hidup modern itu membaca buku dan menulis buku.
Buku Sastra Jawa Modern
* Menerbitkan buku ada dua tujuan utama, SANAK dan SATAK. Buku diterbitkan untuk dibaca, dinikmati isinya (tujuan sanak). Buku diterbitkan untuk barang komoditi, laku dijual, untuk mencapai keuntungan finansial (tujuan satak).
* Karena peminat baca buku sastra Jawa sangat kurang, maka buku sastra Jawa untuk diperdagangkan mencapai keuntungan finansial (sebagai benda komoditi) tidak diminati oleh penerbit komersial/profesional dan instansional (pemerintah).
* Oleh karena itu sejauh ini penerbitan buku sastra Jawa hanya atas prakarsa dan dorongan pengarangnya sendiri, umumnya dibeayai oleh pengarangnya sendiri. Untuk memperoleh keuntungan finansial (satak) atau setidaknya kembali modal (ROMI = return of marketing investment) pengarang/penerbit buku biasanya bertindak KKN. Menghubungi teman atau instansi suruh membeli bukunya. Cara ini selain sangat amatir juga tujuan pertama penerbitan buku (sanak) tidak tercapai. Buku tidak dibutuhkan dan tidak dibaca oleh pembelinya. Ya kalau buku sastra Jawa tidak dibaca, ya sama saja sastra Jawa tidak berkembang dihayati oleh masyarakatnya.
* Punya gambaran wujud dan tebalnya buku. Standar buku komoditi ukuran 13X19Cm, tebal minimum 100 halaman.
* Sekat-sekatlah isi cerita dengan subjudul (bab).
* Hindarilah penulisan kalimat yang terlalu panjang. Hindari juga penulisan alinea yang terlalu panjang.
* Jangan terlalu panjang menulis pikiran tokoh. Jangan terlalu panjang menulis suasana. Lebih baik menuliskan gerakan tokoh, disela dialog, disekat ganti suasana atau ganti jalan cerita (misalnya disela flash-back). Menuliskan dialog pun jangan terlalu panjang berhalam-halaman.
* Jangan terlalu sering mengulang kata yang sama. Usahakanlah penyebutan kata yang sama artinya dengan padanannya, sehingga pembaca selalu menemukan kata yang baru, segar.
* Usahakan jangan menggurui pembaca. Sastra itu dulce et utile. Jangan menyiksa pembaca dengan pemikiran-pemikiran yang rumit. Hiburlah pembaca.
* Banyak pengarang sastra Jawa yang romantisme menjadi unsur pokok jatidirinya, sehingga menceritakan polisi jatuh cinta sama dengan dokter jatuh cinta. Lebih cenderung menceritakan perasaannya. Sangat jarang menyusun cerita yang profesi tokoh menjadi sebab dan akibatnya lakon. Karena itu pengarang sastra Jawa harus menguasai banyak profesi-profesi untuk dijadikan bahan ceritanya.
* Tulislah masalah yang wajar dengan cara yang tidak wajar, dan masalah yang tidak wajar dengan cara yang wajar (bisa dinalar).
* Untuk memperbaiki kualitas dan memperkaya ilham, pengarang sastra Jawa harus terus-menerus belajar, membaca buku orang lain, mempelajari teori sastra dan kritik sastra. Juga selalu memaksa diri menulis dengan memperhatikan konvensi-konvensi baku dalam penulisan cerita, ejaan, bahasa dan lain-lain. Kirimkanlah hasil karya itu kepada redaksi mass-media atau orang yang kritis menekuni sastra Jawa. Hasil tinjauan orang lain atas karyanya dijadikan pembelajaran diri sendiri. Menjadi pintar dari nasihat atau meniru orang lain itu bijak, menjadi pintar atas usaha dirinya sendiri itu munafik dan seringkali sesat.
* Judul pada sampul depan harus ditulis jelas. Kata yang aneh, kontroversial, menggelitik ditonjolkan. Selain judul dan nama pengarang, bisa dituliskan keberhasilan buku tadi pada sampul depan, tapi singkat-singkat saja, jangan terlalu panjang.
* Untuk novel, sampul depan buku seyogyanya ada gambar tokoh wanita yang jadi lakon. Syukur sedang eksyen, tidak still life. Sampul depan sebaiknya tata-warna.
* Sampul belakang luar buku dituliskan kehebatan buku itu. Tentang ceritanya, tentang pengarangnya, tentang pujian yang disampaikan para pakar.
* Memasarkan buku sastra Jawa agar memenuhi sasaran sanak, sebaiknya melalui pemasaran buku yang profesional, yaitu punya gerai atau toko buku. Di situ jelas yang membeli buku adalah yang butuh membaca atau ingin tahu isinya buku tersebut. Buku bakal dinikmati isinya. Kalau yang dibeli di toko buku sastra Jawa, ya sastra Jawa tumbuh berkembang (ada pengarangnya, ada bukunya, ada pembacanya, dan pembacanya bisa bertambah – sejilid buku dibaca oleh beberapa orang bergantian, disawalakan, -- dan bisa beralih generasi juga).
* Dipasarkan melalui iklan. Siapa yang membeli buku karena iklan tentu ingin tahu isinya, ingin membacanya. Sanak dan satak tercapai. Dalam hal perniagaan, biaya iklan biasanya 25% dari modal produksi. Tentu saja ini terlalu susah ditempuh oleh pengarang sastra Jawa yang menerbitkan bukunya dengan beaya sendiri, karena beaya iklan pada sehalaman di majalah untuk bukunya sama dengan beaya iklan memasarkan real estate.
* Mendorong penulis lain untuk meresensi bukunya di koran atau mass-media lainnya.
* Mengadakan bedah buku atau diskusi tentang bukunya.
* Teknik baru memasarkan buku (juga buku sastra Jawa) dengan Ebook (buku elektronik). Yaitu memasarkan buku seutuhnya melalui internet. Dalam hal ini pengarang bisa langsung memasarkan bukunya kepada pembaca, menghubungi pembacanya melalui internet. Berarti pengarang melakukan self-publishing. Pengarang mengetik bukunya, mengedit, membuat cover, persis seperti apa buku yang dicetak oleh penerbit, lalu menjualnya melalui internet. Untuk pengarang sastra Jawa teknik ini tentulah masih belum tercapai (penguasaan), tetapi teknik self-publishing ini kemudian hari pasti juga harus ditempuh kalau pengarang sastra Jawa ingin melestarikan dan mengembangkan sastra Jawa. Untuk belajar self-publishing, kemarin (3 Agustus 2008) saya menghadiri lokakarya self-publishing yang diselenggarakan di Gedung IKA-ITS Surabaya, diasuh oleh Sdr. Agus Harian, yang bisa dikunjungi juga di www.AyoMenulis.com/selfpublishing.
Identitas bangsa adalah budaya. Budaya bangsa tanpa kesenian tradisional akan lenyap. Kesenian tanpa bahasa daerah akan lenyap. Bahasa daerah tanpa sastra tulis, akan lenyap. Sastra tulis tanpa buku akan lenyap. Ada buku tidak dibaca, ya akan lenyap tak berguna. Buku tidak dibaca adalah benda mati. BUKU YANG DIBACA, DIBACA, DIBACA LAGI DAN DITULIS LAGI, DIBACA LAGI BERKALI-KALI ADALAH PERTAHANAN IDENTITAS BANGSA YANG PALING HANDAL.
(menanggulangi segala macam globalisasi)
Jadi keterpurukan berbahasa Jawa (identitas bangsa terluhur) bangsa kita tersendat pada ketidakberbudayanya bangsa membaca buku dan menulis buku.
KEPADA FITRAHNYA
Membaca buku dan menulis buku adalah SARANA (jalan, infrastruktur) untuk menerima lalu lintas kendaraan (muatan ilmu yang diajarkan di sekolah). Oleh karena itu kalaupun muatan ilmu pengetahuan diperbaharui, dipermodern, dipercepat, diperindah, namun kalau sarana jalannya alamiah menurut kodratnya (murid menerima hanya dengan melihat dan mendengar --- kodrati) sarana jalannya tidak disentuh pembangunan (membaca buku dan menulis buku), maka segala ilmu pengetahuan yang dilewatkan jalan tadi pasti terperosok, dan tidak sampai pada sasaran tujuannya.
Karena itu, ajarkanlah, latihlah terus-menerus tiap hari di sekolah, sejak usia dini, sehingga putra bangsa ketika dewasa berkebudayaan meembaca buku dan menulis buku. Dengan berbudaya membaca buku dan menulis buku putra bangsa punya kiat hidup modern, sanggup menanggulangi segala macam gelombang globalisasi, kreatif, inovatif dan mandiri. Termasuk penguasaan bahasa Jawa.
Mengembalikan fitrah sekolah sebagai tempat membudayakan putra bangsa membaca buku dan menulis buku adalah rediscovery masa lampau yang hilang, perlu sekali ditambahkan pada tugas pendidikan yang telah diselenggarakan pada masa lampau.
Segala ilmu pengetahuan sudah direkam dalam buku. Dan akan terus ditulis dalam buku. Dalam segala bahasa dunia, termasuk bahasa Jawa. Untuk menguasai ilmu apa saja, harus punya budaya membaca buku dan menulis buku. Termasuk sastra Jawa, bahasa Jawa. SASTRA ITU BUKU.
EKONOMI = BUKU. POLITIK = BUKU
Untuk mengemudikan mobil, bermain piano, membaca buku dan menulis buku, diperlukan perkenalan dengan barangnya (alat) dan berlatih cara menggunakannya (pikiran). Itulah tandanya bahwa makhluk itu manusia, bukan binatang.
Untuk mengemudikan mobil, manusia harus berlatih seminggu dua minggu, maka mahir mengemudikan mobil. Syarat utamanya ia harus dewasa. Untuk bermain piano, manusia harus berlatih setahun dua tahun membunyikan alat itu, baru mahir main piano. Syarat utamanya harus punya bakat. Kalau tidak punya bakat mungkin sudah berlatih 10 tahun, tetap saja tidak mahir main piano. Bakat itu bukan kodrat, oleh karena itu untuk mengembangkan bakat harus ada perkenalan dengan alatnya dan pelatihan terus menerus.
Membaca buku dan menulis buku itu juga bukan kodrat. Untuk menguasai atau berbudaya membaca buku dan menulis buku harus diperkenalkan dengan buku bacaan, dan menulis buku. Syaratnya? Untuk membudayakan tidak mungkin hanya sebulan dua bulan seperti kalau mahir mengemudikan mobil. Harus dilatih tiap hari membaca buku dan menulis buku setiap hari, selama bertahun-tahun, sehingga mahir benar (berbudaya) membaca buku dan menulis buku. Di mana? Di rumah? Tidak mungkin. Di rumah ada TV, ada playstation yang bisa menyedot waktu anak (3 tahun s/d lulus SMA) 12 jam lebih seharian nyemak TV (jam 05.00-20.00) tanpa jeda. Ada yang mengatakan, TV bagi putra bangsa Indonesia adalah kenikmatan hidup yang utama, TV adalah guru budaya yang utama, mubalig, dan cendela hidup di dunia. TV adalah hidup itu sendiri bagi putra bangsa Indonesia, sedang aktivitas lain (termasuk mandi, sholat, mengerjakan PR sekolah, pergi ke les bimbingan belajar, pergi ke sekolah, diajak ortu arisan keluarga, dan lain sebagainya yang bisa mengurangi jam menonton TV) adalah gangguan hidup. Cara menontonnya dekat sekali kurang dari 2 meter (TV 20”), bunyinya keras sekali. Kalau aktivitas gangguan hidup itu dipaksakan (disuruh berhenti nonton TV agar sholat dulu, misalnya), itu merupakan hukuman.
Di Bekasi bulan lalu (Juni 2008) ada seorang laki-laki menumpang menonton TV di rumah tetangga. Suaranya begitu keras. Ditegur oleh nyonya rumah, bunyinya jangan terlalu keras. Lalu nyonya rumahnya dibunuh, suaminya juga dibunuh sekalian oleh laki-laki penumpang menonton TV tersebut. Maka berhati-hatilah melarang atau menegur mereka (anak-anak atau orang dewasa) yang asyik menonton TV.
Jadi di mana putra bangsa untuk dibudayakan membaca buku dan menulis buku? Di tempat yang putra bangsa bisa lepas dari menonton TV. Yang paling tepat ya di sekolah. Di sekolah ada guru, ada buku, ada kebersamaan, jauh dari TV. Rumah sekolah memang sejak zaman Plato (428 -399 SM) mendirikan academus dibangun sebagai sistem tempat anak manusia dibudayakan membaca buku dan menulis buku. Dan sejak itu membaca buku dan menulis buku menjadi kiat hidup modern.
Maka sangat naif, kalau bangsa Indonesia yang hidup di zaman modern ini (abad XXI, 25 abad setelah Plato) tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku. Pendidikan sekolah 12 tahun Indonesia keluar dari sistem.
Padahal, mengajarkan anak manusia membaca buku dan menulis buku itu tidak sulit dan tidak mahal. Tidak perlu si murid harus berpakaian seragam baru, bukunya tidak perlu ganti-ganti, gurunya tidak perlu harus sarjana S2. Cukup seorang adik yang belum bisa membaca buku, ada buku, ada seorang mbakyu yang bisa mengajari membaca buku, meskipun di perkemahan pengungsian tsunami Aceh, bisa. Yang penting terus-menerus sepanjang tahun-tahun sekolah tiap hari dilatih, dilatih, dilatih, dilatih.
Begitulah. Semoga ceramah ini bermanfaat. Amin.
MACA BUKU LAN NULIS BUKU
Mugi sadaya karahayon, katentreman miwah kanugrahaning Pangeran sami kasalira dening kita sami.
Ing ngarsa kula ngaturaken gunging panuwun, dene ing pepanggihan menika kula angsal kanugrahan ingkang kinurmat, kadhapuk dados pamedhar wicara, ngaturaken ular-ular bab sinau ngarang lan maca susastra Jawi.
Kula ngaturaken maturnuwun sanget. Kula sanes guru, dados sanajan ngaturi ular-ular bab pasinaon, sampun kasengguh kula ngguroni. Nanging imbal wacana kemawon.
Imbal wacana tegesipun kita sami-sami sinau, panjenengan mirengaken kula, lan kula inggih kepengin ngretos kadospundi panguwaosan panjenengan bab sastra Jawi modern.
Ing ular-ular menika kula namung badhe maparaken sakdumil pengalaman kula bab ngengarang sastra Jawi modern, margi ing tataran menika pengalaman saha lelabetan kula langkung kathah katimbang panjenengan sadaya.
Selengkapnya dapat dibaca disini





