Novel Mencari Sarang Angin
NOVEL “MENCARI SARANG ANGIN”
SEJARAH SURABAYA VERSI SUPARTO BRATA
Oleh: Dahlan Iskan
CEO Jawa Pos
(Jawa Pos Minggu, 5 Juni 2005
Dua bulan terakhir ini banyak rapat yang harus saya batalkan. Juga banyak undangan makan siang atau makan malam yang saya tolak. Saya begitu kecanduan membaca novel. Tiga buah novel, yang semuanya tebal-tebal, saya habiskan dalam dua bulan ini. Yang dua novel asing. Yakni Da Vinci Code dn Angle & Demons (dua-duanya karya Dan Brown yang kontroversial itu). Satu lagi karya bangsa sendiri, Mencari Sarang Angin karya novelis Surabaya Suparto Brata.
Tiga-tiganya adalah novel yang bahan bakunya fakta-fakta: nama-nama tempat, orang dan sebagian pelakunya adalah sebuah kenyataan. Bedanya, yang karya Dan Brown berkisar pada gereja Katholik, sedangkan karya Suparto bercerita mengenai keadaan Surabaya di antara tahun 1935 sampai 1949.
Meski tiga-tiganya memberikan sumbangan pandangan yang luas pada saya, namun saya tidak ingin memasuki kontroversi karya-karya Dan Brown. Mencari Sarang Angin yang diterbitkan Grasindo, juga sangat menarik. Novel ini pernah dimuat secara bersambung di Jawa Pos 23 Oktober 1991 – 3 Februari 1992.
Inilah novel dengan setting Surabaya yang amat kuat. Suparto Brata telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi Surabaya lewat novelnya ini. Seperti juga lagu Gebyar-Gebyar-nya Gombloh yang posisi rielnya nyaris menggantikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mencari Sarang Angin bisa jadi akan jadi buku “sejarah” Surabaya, yang tentu, karena disusun dalam bentuk novel, akan lebih menarik, lebih merangsang dibaca, dan lebih melekat di persepsi.
Apalagi Suparto Brata mengemas “sejarah” Surabaya itu dengan roman yang menarik dan penuh dengan konflik: konflik antara feodalisme dan kerakyatan, dengan cinta segi-tiga, dengan kolonialis dan kampung, dengan politik dan perampokan, serta dengan spionase.
Lewat novelnya ini saya juga lebih tahu tentang “watak” orang Surabaya seasli-aslinya. Budaya adu doro, minum tuak, dan pengantin Surabaya digambarkannya dengan sangat menarik. Misalnya saja bagaimana pengantin lelaki harus diantar naik dokar ke rumah pengantin wanita justru pada malam pernikahan dan ditinggalkan di rumah calon peengantin wanita sendirian. Juga bagaimana pengantin laki-laki itu digiring sambil terus-menerus diminumi tuak agar ketika tiba di rumah calon pengantin wanita sudah dalam keadaan mabuk. Kalau rombongan pengantin pria sudah hampir tiba tapi sang mempelai belum juga mabuk, maka iring-iringan pun harus diputar-putarkan dulu di jalan-jalan kecil sekitar rumah pengantin wanita. Sambil dimabukkan wajah calon pengantin dicorengi hingga tidak berwujud. Bajunya, kopiahnya, dan badannya dibuat sampai lungset karena selama dalam iring-iringan terus diuyel-uyel.
Mula-mula saya merasa aneh, mengapa orang Surabaya yang religius ketika jadi pengantin harus diperlakukan seperti itu. Ternyata ada filsafat yang menarik di balik itu: agar pengantin wanita dan keluarganya menerima calon pengantin pria dalam keadaannya yang paling jelek. Ini untuk mempersiapkan mental calon istri bahwa mungkin saja dalam kehidupannya nanti memang akan sejelek itu.
Filsafat itu tentu bertolak belakang dengan, kalau saja, misalnya, di saat bersanding cantiknya (atau gantengnya) bukan main, tapi dalam kehidupannya nanti ternyata sangat buruk. Semacam terkandung filsafat blak-blakan, apa adanya, jangan ditutup-tutupi, sebagaimana yang selama ini memang kita kenal sangat hidup di masyarakat Surabaya.
Suparto Brata yang sehari-hari saya kenal sangat pendiam, sungguh menyadari benar syarat menulis novel agar menarik: dengan kesadaran penuh menyelipkan humor-humor yang dalam. Humor yang dihasilkan dari kelincahan menyusun kalimat.
Bagi saya peribadi, daya tarik itu lebih besar lagi karena pemeran utama dalam novel ini seorang penulis yang secara teguh dan konsisten menetapkan dirinya jadi wartawan. Saya jadi tahu bahwa koran harian pertama di Surabaya adalah Dagblad Express dengan alamat di Jalan Embong Malang 55 Surabaya. Juga bagaimana koran bahasa Belanda Het Soerabaiasch Nieuws-Handelsblad, koran bahasa Indonesia zaman Jepang Soeara Asia, koran zaman Revolusi Surabaya Soeara Rakjat, menjalani kehidupannya di Surabaya. Ini bukan hanya buku novel “sejarah Surabaya” tetapi juga “sejarah pers di Surabaya dan kehidupan wartawan” tahun 1935-1949.
Bahwa bagaimana saya tidak mau berhenti membaca novel setebal lebih dari 600 halaman ini karena memang saya sungguh terpikat dengan karya Suparto Brata ini secara keseluruhan: ya cara penulisannya, ya penting isinya.
SEJARAH SURABAYA VERSI SUPARTO BRATA
Oleh: Dahlan Iskan
CEO Jawa Pos
(Jawa Pos Minggu, 5 Juni 2005
Dua bulan terakhir ini banyak rapat yang harus saya batalkan. Juga banyak undangan makan siang atau makan malam yang saya tolak. Saya begitu kecanduan membaca novel. Tiga buah novel, yang semuanya tebal-tebal, saya habiskan dalam dua bulan ini. Yang dua novel asing. Yakni Da Vinci Code dn Angle & Demons (dua-duanya karya Dan Brown yang kontroversial itu). Satu lagi karya bangsa sendiri, Mencari Sarang Angin karya novelis Surabaya Suparto Brata.
Tiga-tiganya adalah novel yang bahan bakunya fakta-fakta: nama-nama tempat, orang dan sebagian pelakunya adalah sebuah kenyataan. Bedanya, yang karya Dan Brown berkisar pada gereja Katholik, sedangkan karya Suparto bercerita mengenai keadaan Surabaya di antara tahun 1935 sampai 1949.
Meski tiga-tiganya memberikan sumbangan pandangan yang luas pada saya, namun saya tidak ingin memasuki kontroversi karya-karya Dan Brown. Mencari Sarang Angin yang diterbitkan Grasindo, juga sangat menarik. Novel ini pernah dimuat secara bersambung di Jawa Pos 23 Oktober 1991 – 3 Februari 1992.
Inilah novel dengan setting Surabaya yang amat kuat. Suparto Brata telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi Surabaya lewat novelnya ini. Seperti juga lagu Gebyar-Gebyar-nya Gombloh yang posisi rielnya nyaris menggantikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mencari Sarang Angin bisa jadi akan jadi buku “sejarah” Surabaya, yang tentu, karena disusun dalam bentuk novel, akan lebih menarik, lebih merangsang dibaca, dan lebih melekat di persepsi.
Apalagi Suparto Brata mengemas “sejarah” Surabaya itu dengan roman yang menarik dan penuh dengan konflik: konflik antara feodalisme dan kerakyatan, dengan cinta segi-tiga, dengan kolonialis dan kampung, dengan politik dan perampokan, serta dengan spionase.
Lewat novelnya ini saya juga lebih tahu tentang “watak” orang Surabaya seasli-aslinya. Budaya adu doro, minum tuak, dan pengantin Surabaya digambarkannya dengan sangat menarik. Misalnya saja bagaimana pengantin lelaki harus diantar naik dokar ke rumah pengantin wanita justru pada malam pernikahan dan ditinggalkan di rumah calon peengantin wanita sendirian. Juga bagaimana pengantin laki-laki itu digiring sambil terus-menerus diminumi tuak agar ketika tiba di rumah calon pengantin wanita sudah dalam keadaan mabuk. Kalau rombongan pengantin pria sudah hampir tiba tapi sang mempelai belum juga mabuk, maka iring-iringan pun harus diputar-putarkan dulu di jalan-jalan kecil sekitar rumah pengantin wanita. Sambil dimabukkan wajah calon pengantin dicorengi hingga tidak berwujud. Bajunya, kopiahnya, dan badannya dibuat sampai lungset karena selama dalam iring-iringan terus diuyel-uyel.
Mula-mula saya merasa aneh, mengapa orang Surabaya yang religius ketika jadi pengantin harus diperlakukan seperti itu. Ternyata ada filsafat yang menarik di balik itu: agar pengantin wanita dan keluarganya menerima calon pengantin pria dalam keadaannya yang paling jelek. Ini untuk mempersiapkan mental calon istri bahwa mungkin saja dalam kehidupannya nanti memang akan sejelek itu.
Filsafat itu tentu bertolak belakang dengan, kalau saja, misalnya, di saat bersanding cantiknya (atau gantengnya) bukan main, tapi dalam kehidupannya nanti ternyata sangat buruk. Semacam terkandung filsafat blak-blakan, apa adanya, jangan ditutup-tutupi, sebagaimana yang selama ini memang kita kenal sangat hidup di masyarakat Surabaya.
Suparto Brata yang sehari-hari saya kenal sangat pendiam, sungguh menyadari benar syarat menulis novel agar menarik: dengan kesadaran penuh menyelipkan humor-humor yang dalam. Humor yang dihasilkan dari kelincahan menyusun kalimat.
Bagi saya peribadi, daya tarik itu lebih besar lagi karena pemeran utama dalam novel ini seorang penulis yang secara teguh dan konsisten menetapkan dirinya jadi wartawan. Saya jadi tahu bahwa koran harian pertama di Surabaya adalah Dagblad Express dengan alamat di Jalan Embong Malang 55 Surabaya. Juga bagaimana koran bahasa Belanda Het Soerabaiasch Nieuws-Handelsblad, koran bahasa Indonesia zaman Jepang Soeara Asia, koran zaman Revolusi Surabaya Soeara Rakjat, menjalani kehidupannya di Surabaya. Ini bukan hanya buku novel “sejarah Surabaya” tetapi juga “sejarah pers di Surabaya dan kehidupan wartawan” tahun 1935-1949.
Bahwa bagaimana saya tidak mau berhenti membaca novel setebal lebih dari 600 halaman ini karena memang saya sungguh terpikat dengan karya Suparto Brata ini secara keseluruhan: ya cara penulisannya, ya penting isinya.
Tags:
Kata Mereka
Mencari Sarang Angin, Sebuah analisis struktural genetik
NOVEL “MENCARI SARANG ANGIN” KARYA SUPARTO BRATA
SEBUAH ANALISIS STRUKTURAL GENETIK.
Oleh: Dwi Purwitasari, NIM C 0201027, 2005.
Skripsi Jurusan Sastra Indonesia,
Fakultas Sastra dan Seni Rupa,
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Abstrak.
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu: 1). Bagaimanakah struktur teks yang meliputi penokohan, latar, dan aspek tematis (tema dan amanat) dalam novel MSA; 2). Bagaimanakah hubungan antara novel MSA dan riwayat hidup pengarang, kondisi sosial historis zamannya, serta hubungan MSA dengan kelompok sosial dan pandangan dunia pengarangnya?; 3). Bagaimanakah genetik MSA?
Tujuan penelitian ini adalah: 1). Mendeskripsikan unsur struktur dalam novel MSA yang meliputi penokohan, latar, dan aspek tematis yang meliputi tema dan amanat sebagai langkah awal dalam analisis struktural genetik; 2). Mendeskripsikan hubungan antara MSA dengan riwayat hidup pengarang, MSA dengan kondisi sosial historis zamannya, serta MSA dengan kelompok sosial dan pandangan dunia pengarangnya; 3). Mendeskripsikan genetik MSA.
BAB VII
PENUTUP
(hal. 117 – 121)
A. Simpulan.
Dari analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Novel “Mencari Sarang Angin” Karya Suparto Brata: Sebuah Analisis Struktural Genetik meliputi analisis struktural dan analisis struktural genetik.
1. Analisis struktural genetik tidak meninggalkan teori struktural. Namun pengertian struktur dalam pembahasan struktural genetik bukanlah harus struktur secara utuh. Unsur-unsur struktural di sini tidak harus dikupas secara lengkap, tetapi cukup diambil pada unsur-unsur yang mempunyai relevansi dengan analisis struktural genetik. Dengan demikian unsur-unsur yang membangun secara instrinsik dapat dilihat koherensinya di dalam analisis struktural genetik sesuai dengan permasalahan yang dikerjakan.
Analisis struktural dipusatkan pada dua tokoh hero yaitu Darwan dan Yayi. Darwan adalah seorang keturunan bangsawan Surakarta Hadiningrat yang berpendidikan dan terpelajar, hidup merantau ke Surabaya menjadi penulis (wartawan) di percetakan di Surabaya dan hidup mandiri tanpa menggunakan sedikitpun kekayaan yang dimiliki orang tuanya dan meninggalkan gelar kebangsawanannya dan semua yang didapat selama hidup di Istana. Ia tergolong penulis (wartawan) yang sukses meskipun semasa perjalanan karirnya sempat mengalami jatuh bangun karena situasi perang dan revolusi yang terjadi pada saat itu (1935-1950). Yayi adalah seorang wanita pribumi yang cantik, modern, berpendidikan, dan hidup mandiri lepas dari orang tuanya karena dituduh sebagai pemberontak mengikuti organisasi nasional! Ia seorang yang menekuni profesinya sebagai wartawan. Kemudian kedua tokoh tersebut direlasikan dengan tokoh-tokoh yang lain sehingga akan tampak hubungan di antara tokoh hero dengan tokoh yang lain.
Latar Mencari Sarang Angin adalah Surabaya dan sekitarnya, Yogyakarta, dan Surakarta. Latar waktu menunjukkan rangkaian peristiwa dalam Mencari Sarang Angin yang terjadi pada tahun 1935-1950 ketika bangsa Indonesia diduduki Belanda, Jepang, dan masa revolusi. Sedangkan latar sosialnya adalah kehidupan kaum seni/sastra khususnya dunia jurnalis dan kehidupan berpolitik yaitu bangsa Indonesia saat itu berjuang mendapat dan mempertahankan kemerdekaan.
Tema dalam Mencari Sarang Angin adalah mengenai kehidupan seorang bangsawan yaitu Darwan dalam menghadapi hidup yang mandiri lepas dari kekayaan orang tua dan gelar kebangsawanannya serta mempertahankan karirnya sebagai penulis (wartawan) ketika negara sedang mengalami perang pada kurun waktu 1935-1950. Amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah agar pembaca dapat mengerti sejarah di masa lampau sehingga bisa menghargai perjuangan pejuang pada masa itu, dan diharapkan pembaca dapat menyiasati hidupnya yang terus aktif agar dapat menyelesaikan kesulitan yang dihadapi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengarang telah berhasil membangun unsur-unsur yang terdapat dalam Mencari Sarang Angin sebagai kesatuan makna totalitas. Masing-masing unsur saling mendukung satu sama lain.
2). Antara struktur karya sastra dengan struktur sosial terdapat hubungan karena keduanya merupakan produk dari aktivitas strukturasi yang sama. Akan tetapi hubungan antara struktur sosial dan struktur karya sastra tidak dipahami sebagai hubungan yang langsung melainkan diperantarai oleh pandangan dunia pengarang. Pengarang bukan individu yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari kelompok sosial tertentu dan pada masa tertentu pula. Dengan menangkap pandangan dunia pengarang, diharapkan mendapat pemahaman terhadap arti sebuah karya sastra sebagai usaha manusia memecahkan persoalan-persoalan kehidupan sosial yang nyata, dapat dimengerti secara mendalam.
Dalam analisis struktural genetik, dicari hubungan antara MSA dengan riwayat hidup pengarang (Suparto Brata) yaitu novel MSA sedikit banyak adalah penggambaran kehidupan Suparto pada saat di Istana sebagai seorang keturunan bangsawan dan hidup merantau menjadi penulis (wartawan) di Surabaya di surat kabar/majalah-majalah demi mencukupi kehidupannya dalam kurun waktu 1935-1950. Pada saat itu Suparto melihat, mendengar, dan merasakan sendiri peristiwa sejarah yang terjadi pada masa penjajahan Belanda, Jepang, Sekutu, dan pada masa Revolusi. Selain itu Suparto menulis buku tentang Sejarah Pers Jawa Timur (1987) didanai oleh SPS Jawa Timur, dan Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya (1986) didanai oleh Panitia Pelestarian Nilai-nilai Kepahlawanan 10 November 1945, yang diketuai oleh Blegoh Sumarto (ketua DPRD Jawa Timur). Penulisan kedua buku sejarah itu dikerjakan bersama teman-temannya melalui pencatatan/penulisan dari inventarisasi data, pengumpulan data, pengumpulan buku, wawancara terhadap pelaku/saksi sejarah, menyelenggarakan diskusi, seminar, revisi draft, dan lain-lain.
Hubungan antara MSA dengan kondisi sosial historis zamannya (Suparto Brata) juga tampak ada kaitannya. Setting, latar, waktu, dan peristiwa, serta penggambaran keadaan sosial pada waktu itu benar-benar ada dalam bukti sejarah, dan yang tidak bisa kita tinggalkan adalah Suparto sendiri merupakan saksi sejarah yang hidup pada kurun waktu 1935-1950.
Hubungan MSA dengan kelompok sosial dan pandangan dunia pengarangnya yaitu Suparto juga terlihat dalam MSA tersebut. Kelompok sosial yang turut mengkondisikan dalam MSA yaitu kelompok sosial seni/sastra (dunia jurnalis) dan kelompok sosial berpolitik. Sedangkan pandangan dunia Suparto adalah humanisme dan realistis. Dari semua hubungan yang ada tersebut maka genetik (asal-usul) novel MSA dapat dicari, yaitu MSA merupakan kesaksian hidup Suparto Brata yang mengalami peristiwa sejarah dalam kurun waktu 1935-1950 yang mengalami serta menyaksikan sendiri peristiwa sejarah seperti yang ada dalam MSA yang hidup dalam kelompok sosial seni/sastra (dunia jurnalis) dan politik sehingga pandangan dunia Suparto adalah humanisme dan realistis.
B. Saran.
Dalam kesempatan ini penulis bermaksud ingin menyampaikan beberapa saran yang sekiranya dapat memberikan manfaat. Adapun beberapa hal yang perlu penulis sarankan adalah sebagai berikut:
1. Karya sastra bukan hanya untuk dinikmati, tetapi karya sastra juga perlu dikaji dan diteliti untuk mengambil isi yang terkandung di dalamnya. Penelitian sastra dengan menerapkan pendekatan struktural genetik khususnya hendaknya dapat meningkatkan aspirasi masyarakat terhadap karya sastra, sebab banyak karya sastra merupakan potret kenyataan hidup yang sarat nilai-nilai yang berguna dalam kehidupan nyata.
2. Manfaat teoritis penelitian ini, kiranya dapat dijadikan penambah pengetahuan akan teori-teori sastra yang telah ada sebab keberadaan teori-teori sastra senantiasa mengalami perubahan, penambahan, dan pengembangan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
3. Banyak penikmat sastra yang tidak begitu suka dengan novel sejarah karena ceritanya dianggap kuno dan membosankan, padahal dari novel tersebut kita bisa banyak mengambil pelajaran dan mengetahui sejarah. Untuk itu diharapkan agar penikmat sastra untuk lebih menghargai novel sejarah.
4. Mengingat novel Mencari Sarang Angin karya Suparto Brata merupakan novel sejarah yang memuat masalah sosial, budaya, dan politik, maka untuk penelitian mendatang tidak menutup kemungkinan diteliti kembali oleh peneliti dengan pendekatan yang berbeda.
SEBUAH ANALISIS STRUKTURAL GENETIK.
Oleh: Dwi Purwitasari, NIM C 0201027, 2005.
Skripsi Jurusan Sastra Indonesia,
Fakultas Sastra dan Seni Rupa,
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Abstrak.
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu: 1). Bagaimanakah struktur teks yang meliputi penokohan, latar, dan aspek tematis (tema dan amanat) dalam novel MSA; 2). Bagaimanakah hubungan antara novel MSA dan riwayat hidup pengarang, kondisi sosial historis zamannya, serta hubungan MSA dengan kelompok sosial dan pandangan dunia pengarangnya?; 3). Bagaimanakah genetik MSA?
Tujuan penelitian ini adalah: 1). Mendeskripsikan unsur struktur dalam novel MSA yang meliputi penokohan, latar, dan aspek tematis yang meliputi tema dan amanat sebagai langkah awal dalam analisis struktural genetik; 2). Mendeskripsikan hubungan antara MSA dengan riwayat hidup pengarang, MSA dengan kondisi sosial historis zamannya, serta MSA dengan kelompok sosial dan pandangan dunia pengarangnya; 3). Mendeskripsikan genetik MSA.
BAB VII
PENUTUP
(hal. 117 – 121)
A. Simpulan.
Dari analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Novel “Mencari Sarang Angin” Karya Suparto Brata: Sebuah Analisis Struktural Genetik meliputi analisis struktural dan analisis struktural genetik.
1. Analisis struktural genetik tidak meninggalkan teori struktural. Namun pengertian struktur dalam pembahasan struktural genetik bukanlah harus struktur secara utuh. Unsur-unsur struktural di sini tidak harus dikupas secara lengkap, tetapi cukup diambil pada unsur-unsur yang mempunyai relevansi dengan analisis struktural genetik. Dengan demikian unsur-unsur yang membangun secara instrinsik dapat dilihat koherensinya di dalam analisis struktural genetik sesuai dengan permasalahan yang dikerjakan.
Analisis struktural dipusatkan pada dua tokoh hero yaitu Darwan dan Yayi. Darwan adalah seorang keturunan bangsawan Surakarta Hadiningrat yang berpendidikan dan terpelajar, hidup merantau ke Surabaya menjadi penulis (wartawan) di percetakan di Surabaya dan hidup mandiri tanpa menggunakan sedikitpun kekayaan yang dimiliki orang tuanya dan meninggalkan gelar kebangsawanannya dan semua yang didapat selama hidup di Istana. Ia tergolong penulis (wartawan) yang sukses meskipun semasa perjalanan karirnya sempat mengalami jatuh bangun karena situasi perang dan revolusi yang terjadi pada saat itu (1935-1950). Yayi adalah seorang wanita pribumi yang cantik, modern, berpendidikan, dan hidup mandiri lepas dari orang tuanya karena dituduh sebagai pemberontak mengikuti organisasi nasional! Ia seorang yang menekuni profesinya sebagai wartawan. Kemudian kedua tokoh tersebut direlasikan dengan tokoh-tokoh yang lain sehingga akan tampak hubungan di antara tokoh hero dengan tokoh yang lain.
Latar Mencari Sarang Angin adalah Surabaya dan sekitarnya, Yogyakarta, dan Surakarta. Latar waktu menunjukkan rangkaian peristiwa dalam Mencari Sarang Angin yang terjadi pada tahun 1935-1950 ketika bangsa Indonesia diduduki Belanda, Jepang, dan masa revolusi. Sedangkan latar sosialnya adalah kehidupan kaum seni/sastra khususnya dunia jurnalis dan kehidupan berpolitik yaitu bangsa Indonesia saat itu berjuang mendapat dan mempertahankan kemerdekaan.
Tema dalam Mencari Sarang Angin adalah mengenai kehidupan seorang bangsawan yaitu Darwan dalam menghadapi hidup yang mandiri lepas dari kekayaan orang tua dan gelar kebangsawanannya serta mempertahankan karirnya sebagai penulis (wartawan) ketika negara sedang mengalami perang pada kurun waktu 1935-1950. Amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang adalah agar pembaca dapat mengerti sejarah di masa lampau sehingga bisa menghargai perjuangan pejuang pada masa itu, dan diharapkan pembaca dapat menyiasati hidupnya yang terus aktif agar dapat menyelesaikan kesulitan yang dihadapi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengarang telah berhasil membangun unsur-unsur yang terdapat dalam Mencari Sarang Angin sebagai kesatuan makna totalitas. Masing-masing unsur saling mendukung satu sama lain.
2). Antara struktur karya sastra dengan struktur sosial terdapat hubungan karena keduanya merupakan produk dari aktivitas strukturasi yang sama. Akan tetapi hubungan antara struktur sosial dan struktur karya sastra tidak dipahami sebagai hubungan yang langsung melainkan diperantarai oleh pandangan dunia pengarang. Pengarang bukan individu yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari kelompok sosial tertentu dan pada masa tertentu pula. Dengan menangkap pandangan dunia pengarang, diharapkan mendapat pemahaman terhadap arti sebuah karya sastra sebagai usaha manusia memecahkan persoalan-persoalan kehidupan sosial yang nyata, dapat dimengerti secara mendalam.
Dalam analisis struktural genetik, dicari hubungan antara MSA dengan riwayat hidup pengarang (Suparto Brata) yaitu novel MSA sedikit banyak adalah penggambaran kehidupan Suparto pada saat di Istana sebagai seorang keturunan bangsawan dan hidup merantau menjadi penulis (wartawan) di Surabaya di surat kabar/majalah-majalah demi mencukupi kehidupannya dalam kurun waktu 1935-1950. Pada saat itu Suparto melihat, mendengar, dan merasakan sendiri peristiwa sejarah yang terjadi pada masa penjajahan Belanda, Jepang, Sekutu, dan pada masa Revolusi. Selain itu Suparto menulis buku tentang Sejarah Pers Jawa Timur (1987) didanai oleh SPS Jawa Timur, dan Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya (1986) didanai oleh Panitia Pelestarian Nilai-nilai Kepahlawanan 10 November 1945, yang diketuai oleh Blegoh Sumarto (ketua DPRD Jawa Timur). Penulisan kedua buku sejarah itu dikerjakan bersama teman-temannya melalui pencatatan/penulisan dari inventarisasi data, pengumpulan data, pengumpulan buku, wawancara terhadap pelaku/saksi sejarah, menyelenggarakan diskusi, seminar, revisi draft, dan lain-lain.
Hubungan antara MSA dengan kondisi sosial historis zamannya (Suparto Brata) juga tampak ada kaitannya. Setting, latar, waktu, dan peristiwa, serta penggambaran keadaan sosial pada waktu itu benar-benar ada dalam bukti sejarah, dan yang tidak bisa kita tinggalkan adalah Suparto sendiri merupakan saksi sejarah yang hidup pada kurun waktu 1935-1950.
Hubungan MSA dengan kelompok sosial dan pandangan dunia pengarangnya yaitu Suparto juga terlihat dalam MSA tersebut. Kelompok sosial yang turut mengkondisikan dalam MSA yaitu kelompok sosial seni/sastra (dunia jurnalis) dan kelompok sosial berpolitik. Sedangkan pandangan dunia Suparto adalah humanisme dan realistis. Dari semua hubungan yang ada tersebut maka genetik (asal-usul) novel MSA dapat dicari, yaitu MSA merupakan kesaksian hidup Suparto Brata yang mengalami peristiwa sejarah dalam kurun waktu 1935-1950 yang mengalami serta menyaksikan sendiri peristiwa sejarah seperti yang ada dalam MSA yang hidup dalam kelompok sosial seni/sastra (dunia jurnalis) dan politik sehingga pandangan dunia Suparto adalah humanisme dan realistis.
B. Saran.
Dalam kesempatan ini penulis bermaksud ingin menyampaikan beberapa saran yang sekiranya dapat memberikan manfaat. Adapun beberapa hal yang perlu penulis sarankan adalah sebagai berikut:
1. Karya sastra bukan hanya untuk dinikmati, tetapi karya sastra juga perlu dikaji dan diteliti untuk mengambil isi yang terkandung di dalamnya. Penelitian sastra dengan menerapkan pendekatan struktural genetik khususnya hendaknya dapat meningkatkan aspirasi masyarakat terhadap karya sastra, sebab banyak karya sastra merupakan potret kenyataan hidup yang sarat nilai-nilai yang berguna dalam kehidupan nyata.
2. Manfaat teoritis penelitian ini, kiranya dapat dijadikan penambah pengetahuan akan teori-teori sastra yang telah ada sebab keberadaan teori-teori sastra senantiasa mengalami perubahan, penambahan, dan pengembangan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
3. Banyak penikmat sastra yang tidak begitu suka dengan novel sejarah karena ceritanya dianggap kuno dan membosankan, padahal dari novel tersebut kita bisa banyak mengambil pelajaran dan mengetahui sejarah. Untuk itu diharapkan agar penikmat sastra untuk lebih menghargai novel sejarah.
4. Mengingat novel Mencari Sarang Angin karya Suparto Brata merupakan novel sejarah yang memuat masalah sosial, budaya, dan politik, maka untuk penelitian mendatang tidak menutup kemungkinan diteliti kembali oleh peneliti dengan pendekatan yang berbeda.
Tags:
Lain-lain
MENCARI SARANG ANGIN (NOVEL, 726 HALAMAN)
PT GRASINDO JAKARTA 2005
MODERNITAS DAN LOKALITAS DALAM
“MENCARI SARANG ANGIN” KARYA SUPARTO BRATA:
PERSPEKTIF PASCAKOLONIAL
(Modernity and Locality in “Mencari Sarang Angin” by Suparto Brata:
The Postcolonial Perspective)
Oleh: Lina Puryanti
(Dosen Jurusan Ilmu Sastra FISIP UNAIR)
Abstract:
The postcolonial discourse in the novel Mencari Sarang Angin (MSA) by Suparto Brata shows an ambivalence identity of the characters. In one side this novel welcomes the modernity offered by the colonizer ideology while, at the same, it also tries to build a local identity related with the matter of self-authenticity. Bhabha said this situation and the condition as the “location of culture” which shows in-between position of the subject. In this case, mimicry or imitation experienced by the postcolonial subject has put them as the mediator group between the colonizer’s interests in distributing its power towards the colonialized community. In spite of giving a heroic political resistance against the colonizer, the discourse of postcolonial tends to pay attention on the heritage of the realm of colonial in postcolonial period which is signified by the ambivalence and unstable meaning.
Latar Belakang.
Modernisasi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika terutama sejak penyebaran peluang mengenyam pendidikan Barat di bawah pemerintahan colonial, pada pertengahan abad ke-19 (atau, di Hindia Belanda pada dekade kedua abad ke-20) membawa, salah satunya, konsekuensi yang amat penting dalam wacana pascakolonial, sebagaimana pertama dikembangkan oleh Homi Bhabha, yaitu “mimikri” atau “peniruan” citra kaum penjajah oleh kaum yang dijajah. Penyebaran pendidikan Barat itu pada mulanya diciptakan untuk memperkukuh kekuasaan kolonial dengan menciptakan sebuah golongan dalam masyarakat jajahan yang mengindentifikasikan dirinya dengan budaya penjajah dan menganggap dirinya sebagai wakil budaya Barat di masyarakat terjajah. Harapan itu diungkapkan dalam Minute to Parliement, pernyataan terkenal Lord Macaulay di hadapan parlemen Inggris pada tahun 1835, yang menegaskan kebutuhan mendidik kelas baru cendekiawan “perantara” di India, tanah jajahan Inggris. Lord Macaulay menganjurkan terciptanya “kelas penerjemah yang menjadi perantara antara kita dan jutaan rakyat yang kita kuasai ~ yaitu satu kelas yang dalam hal warna kulit dan darah adalah orang India, tetapi dalam selera, opini, moralitas, dan intelektualitas, sepenuhnya orang Inggris.” Dalam konteks Indonesia (atau Hindia Belanda) pernyataan yang serupa baru dikemukakan pada tahun 1899 oleh T.Ch. van Deventer, salah satu perintis Politik Etis. Dengan angkuh van Deventer menyatakan “Tapi alangkah agung tujuan yang kita kejar! Pembentukan suatu lapisan sosial di Timur Jauh yang berutang budi pada Belanda karena memberi mereka kemakmuran dan budaya tinggi, dan mereka mau mengakui kenyataan tersebut.) *1)
Namun demikian, bagi penjajah perbedaan antara kaum penjajah dan yang dijajah harus tetap dipertahankan. Suatu golongan “perantara” yang menurut Macaulay masih berada di luar golongan penjajah. Bhabha menyatakan warga terjajah dididik untuk menjadi almost the same, but not quite, atau dengan ungkapan rasialis yang tepat, almost the same but not white (89). Manusia bukan Barat dapat diajar “meniru”, tetapi bagi penjajah, “peniruan” itu akan tetap terhambat oleh sifat-sifat “kodrati” yang selalu membedakan Barat dan bukan barat. Perbedaan yang secara sengaja dipertahankan ini berangkat dari kekhawatiran bahwa peniruan bisa menjadi ancaman bagi stabilitas pemerintah kolonial walaupun, pada saat yang bersamaan, juga menunjukkan betapa rapuhnya wacana sosio-budaya yang mempertahankan konsep perbedaan “kodrati” tersebut. Mimikri, menurut Bhabha, tidak pernah jauh dari “pengejekan”, karena kaum terjajah tidak pernah mereproduksi secara tepat nilai-nilai dan institusi-institusi yang mereka ambil dari Barat. Mimikri selalu menghasilkan salinan yang kabur (blurred copy) dari apa yang ditiru. Wacana ini juga sekaligus mengingatkan akan pentingnya hubungan antara kaum penjajah dan yang terjajah yang bersifat ambivalen dalam wacana pascakolonial. Bila wacana antikolonial mengacu kepada perlawanan kaum terjajah yang menentang situasi politik, ekonomi, dan budaya kolonial maka wacana pascakolonial lebih memperhatikan sifat-sifat dari alam kolonial dan warisannya di alam pascakolonial yang ditandai oleh perebutan, ambivalensi dan ketidakmampuan makna.*2)
Wacana pascakolonial sendiri sering dituduh “kabur”, tidak sanggup menghasilkan analisis atau kesimpulan yang “konkret”, bahkan boleh juga dianggap mengelabui perlawanan yang menjadi kenyataan objektif dalam eksploitasi colonial yang masih berlangsung. Tetapi sebenarnya, di alam bawah sadar pada perlawanan politik yang bersifat anti-kolonial selalu berseliweran hubungan budaya yang saling bertentangan atau pernah ambivalensi antara penjajah dan yang dijajah. Suatu hubungan budaya yang mulai dapat dipahami dengan bantuan beberapa konsep kunci wacana pascakolonial. Salah satu konsep kunci yang dapat dijadikan sebagai suatu strategi pembacaan teks-teks sastra dan non sastra yang dilahirkan di alam kolonial adalah “mimikri” yang digagas oleh Bhabha yang melahirkan banyak ambivalensi.
Dalam prosesnya di negara-negara jajahan peniruan tersebut mendapat tanggapan yang bermacam. Sebagian dengan gegap gembira menerimanya, sebagian yang lainnya menolak mentah-mentah, sementara juga terdapat kelompok yang terombang-ambing antara menerima dan menolak. Dalam konteks Indonesia gejala peniruan, khususnya dalam menanggapi sikap mendua golongan penjajah, juga mendapat tanggapan yang beragam. Sukarno (1963;5), misalnya, menempatkan pilihan akan ketimuran yang tetap berada dalam kerangka yang disebutnya sebagai “pengetahuan atas susunan ekonomi dunia dan riwayat”. Ki Hajar dewantara (1977;131-132) membangun sistem pendidikan nasional Taman Siswa, dengan diilhami oleh sistem pendidikan Montessori dan Tagore, yang merupakan jawaban atas semacam krisis dalam pendidikan modern Barat yang menjadikan manusia hanya sebagai mesin. Sutan Takdir Alisyahbana cenderung menempatkan kebudayaan modern sebagai puncak dari perkembangan sejarah peradaban Barat. Dengan kata lain, segala pilihan tersebut sebenarnya berada dalam hubungan yang tidak terpisahkan dari persoalan kekinian pascakolonial para subjeknya. Pilihan-pilihan tersebut menunjukkan adanya keinginan menjadi bagian dari sejarah dunia yang global serta ikut berpatisipasi di dalamnya, meskipun misalnya pilihan tersebut bisa cenderung menjadi pilihan yang bersifat anti Barat. Satu tanggapan yang secara jelas menempatkan pilihan dalam situasi pascakolonial ditunjukkan oleh Armijn Pane (1933a). Ia menyebut diri dan generasinya sebagai masyarakat yang hidup dalam “zaman kebimbangan”; ada yang bergerak ke masa lalu, ke masa kini, dan ke masa depan.*3)
Berkenaan dengan persoalan mimikri yang bersifat ambivalensi maka novel Mencari Sarang Angin (selanjutnya disebut MSA) karya pengarang asal Surabaya, Suparto Brata, akan dibahas dalam makalah ini. Pilihan ini berangkat dari asumsi bahwa MSA, dengan latar perkembangan jurnalisme di Kota Surabaya, yang disampaikan melalui narator Darwan Prawirakusuma pada masa sebelum kemerdekaan sampai dengan masa revolusi penuh dengan ambiguitas yang bertolak belakang dengan visi anti-kolonial yang amat tegas. Berlainan dengan mitos bahwa “perjuangan melawan penjajah” selalu bersifat heroik maka novel ini justru menunjukkan adanya “kekaburan makna” yang merupakan ciri khas wilayah pascakolonial sebagaimana yang disampaikan oleh Bhabha di atas. Persoalan mendasar yang akan dibahas adalah pergulatan antara modernitas (yang diasumsikan dibangun oleh nilai-nilai yang ditawarkan oleh wacana kolonial Belanda) dengan lokalitas yang dibawa melalui budaya etnis tradisional yang dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang sedang berkembang ke arah dunia modern. Dalam persoalannya dengan adat-istiadat juga ditunjukkan bagaimana lokalitas dua wilayah yang berbeda dalam adat dan kebiasaan (Surabaya dibandingkan dengan keningratan Surakarta), di tangan pengarangnya juga saling berebut memperlihatkan superioritasnya. Novel MSA menunjukkan bagaimana modernitas dan lokalitas yang acapkali diletakkan dalam kategori oposisi biner ternyata masih berbagi irisan, bukan pemisahan yang mutlak, berjalin berkelindan tak terpisahkan. Sebuah wilayah “antara” yang penuh misteri, the liminal space between cultures, di mana garis batasnya tidak pernah tetap dan tidak pernah bisa diketahui batas dan ujungnya.
Modernitas dan lokalitas.
Dalam wacana kolonial penguasa kolonial dengan segala gaya hidup dan sudut pandangnya selalu ditempatkan dalam posisi yang lebih superior dan mempunyai otoritas tertinggi dalam menentukan tinggi atau rendahnya martabat kelompok masyarakat yang dijajahnya. Wacana masyarakat terjajah sangat terikat pada perkembangan wacana yang diproduksi oleh masyarakat dan kebudayaan penguasa. Dan sudut pandang ini berkembanglah gagasan bahwa apabila ingin mendapat pengakuan sebagai bagian dari golongan yang mempunyai martabat tinggi, masyarakat yang terjajah perlu mengikuti arus wacana kolonial Barat yang mengglobal dengan cara melakukan peniruan terhadapnya. Arus wacana Barat ini, antara lain, terepresentasikan dalam ide-ide tentang demokrasi, persamaan hak, nasionalisme, sosialisme, lembaga perkawinan, dan sebagainya. Dalam hal ini Heather Sutherland (1983) berpendapat bahwa peniruan gaya hidup orang Eropa yang berkembang biak sejak pertengahan kedua abad XIX merupakan manifestasi dari hasrat masyarakat terjajah untuk menyesuaikan diri dengan “kehendak zaman”, mencapai kemajuan, dan menempatkan diri sama dengan bangsa penjajah.
Dalam prakteknya, acana kolonial ini bukanlah sebuah wacana yang sepenuhnya langsung disadari oleh masyarakat terjajah. Ia bisa hadir dalam konteks yang sangat simpatik dengan dukungan tokoh-tokoh yang simpatik pula sehingga semua gagasan, tujuan, maupun cita-citanya justru dapat dibenarkan dan, bahkan, diteladani dalam sebuah narasi. Apa yang nampak sangat “kolonialis” bagi pembaca bisa dimaknai sebagai “modernitas” di alam ceritanya. Kategori “kolonialis” tidak ada di benak pengarang dan pembaca yang ditujunya. Yang ada adalah dunia modern yang harus diperjuangkan di atas dunia etnis tradisional yang penuh dengan kekolotan dan suasana yang negatif. Wacana paling mendasar dalam struktur cerita MSA yang merepresentasikan keunggulan budaya Barat yang dikontraskan dengan nilai-nilai adat tradisional dapat mulai dilacak jejaknya dari judul novel ini sendiri, Mencari Sarang Angin. Novel ini dimulai dengan cerita tentang kepergian tokoh utama, Darwan Prawirakusuma, pewaris tahta istana yang mewah, Surakarta Hadiningrat, menuju Surabaya untuk mencari penghidupan sendiri lepas dari segala fasilitas yang menjadi haknya di istana tersebut. Sebuah kepergian yang diejek oleh saudara-saudaranya sebagai kepergian mencari sarang angin alias kepergian yang konyol karena akan menjadi sia-sia sebagaimana tidak mungkinnya mencari sarang angin dalam istilah yang harfiah. Dikisahkan pada awalnya kepergian Darwan ini disebabkan karena ia tidak tahan lagi dengan tuduhan telah jatuh cinta pada salah satu selir ayahnya sendiri, Kundarti, yang kebetulan namanya dijadikan tokoh utama cerita yang ditulis oleh Darwan, Prahara Ing Surakarta dan dimuat di Dagblad Expres, suratkabar harian yang terbit di Surabaya. Panggilan dari Tuan Ayat, redaktur suratkabar tersebut, kepada Darwan untuk menjadi wartawan di suratkabar ini menjadi alasan kepergian Darwan ke Surabaya dan sekaligus untuk membersihkan namanya dari tuduhan perselingkuhan dengan Kundarti. Beatrix, teman dekat Darwan yang orang Belanda, menghalangi kepergian ini dengan alasan bahwa sesungguhnya:
“seseorang tidak harus selalu wani ngalah luhur wekasane (berani ngalah bahagia pada akhirnya) seperti yang menjadi panutan orang Jawa, panutan ajaran hidup yang banyak didendangkan para abdi, para petani, juga para bangsawan, dan dianjurkan oleh para guru kepada murid-muridnya. Berbantah, melawan, bertindak kasar, itu suatu kekuatan jasmani yang perlu dimiliki seseorang dalam mempertahankan atau memperebutkan kedudukannya,” (p.82).
Ini artinya Darwan tidak seharusnya meninggalkan Surakarta karena tuduhan itu. Dia harus bertahan untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah tetapi justru sebaliknya Darwan tidak melakukannya. Ia memilih pergi karena tidak ingin berbantahan. Dalam narasi ini secara sangat sugestif ditunjukkan betapa nilai-nilai filsafat tradisional berupa pesan wani ngalah luhur wekasane yang menjadi panutan bagi hampir semua kalangan di Jawa mulai dipertanyakan, diinterogasi dan dipertentangkan dengan rasionalitas ala Barat (Belanda) tentang nilai-nilai bagaimana seseorang seharusnya mempertahankan haknya dan tidak mengalah begitu saja. Novel memperkuat kesan ini melalui uraian tokoh S. Darsono yang dimuat dalam Dagblad Expres. Tokoh S. Darsono ~ gembong Partai Komunis Indonesia yang terpaksa meninggalkan Indonesia karena tersangkut pemberontakan 1926 ~ membahas makna “wani ngalah luhur wekasane” yang terdapat pada dua susun syair tembang Mijil. Tembang itu berisi:
“Cilik mula, cilaka wak mami,
manggung dadi lakon.
Warna-warna wus nglakoni kabeh,
Amung loro sing durung nglakoni,
Mukti karo mati, paran marganipun.”
(Begini ceritanya.
Berbagai nasib semua telah kulakukan,
Hanya dua yang belum,
Mukti dan mati, bagaimana jalannya).
“Dedalane, guna lawan sekti,
Kudu andhap asor,
Wani ngalah luhur wekasane,
Tumungkula yen dipundukani,
Bapang den simpangi, ana catur mungkur.
(Jalan yang manfaat dan sakti,
haruslah sopan santun,
berani mengalah bahagia pada akhirnya,
menunduklah jika dimarahi,
kekerasan disingkiri, ngerumpi dihindari).
Menurut uraian S. Darsono di Dagblad Expres, dua susun tembang Mijil itu merupakan ajaran yang defaitist, inferieur, ngapesake awak, njalari kadang Jawa ngrasa sengsara terus, apes terus, ora nduweni rasa percaya dhiri (melumpuhkan, rendah diri, mencelakakan diri, membuat orang Jawa merasa sengsara terus, sial terus, tidak punya rasa percaya diri). Dikisahkan bahwa Darwan telah mendengar dan hapal tembang ini sejak dari kecil karena selalu diperdengarkan dan diajarkan di sekolah-sekolah sebagai ajaran hidup yang baik. Begitu populernya hingga Beatrix yang belajar bahasa dan budaya Jawa tidak melalui sekolah pun mengerti makna ajaran itu sampai bait-baitnya. Kalau Darwan baru mempelajari makna kelemahan ajaran itu setelah membaca ulasan S. Darsono, Beatrix sudah lebih dahulu tahu pengaruh ajaran itu terhadap orang Jawa. Oleh noni Belanda itu Darwan dituduh menjadi penganut ajaran itu dalam kasus dituduh dhemen Kundarti. Tidak bertindak keras membantah, tetapi tumungkul dan melarikan diri minggat ke Surabaya. (p. 84).
Kepergian Darwan sesungguhnya menunjukkan bagaimana tokoh ini tidak sepenuhnya bisa keluar dari nilai-nilai tradisi meski pada kutub yang lain Darwan amat memuja nilai-nilai modern yang didapatnya dari pendidikan kolonial yang diterimanya. Nilai-nilai yang terepresentasikan dalam pandangan-pandangannya, misalnya, tentang lembaga perkawinan. Hal tersebut juga mengisyaratkan betapa teks ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisi yang terepresentasikan dalam wani ngalah luhur wekasane tidak mampu lagi menjawab tuntutan zaman yang terus bergerak ke depan. Sebagai gantinya, nilai-nilai modern harus diserap karena lebih sesuai dengan perkembangan.
Di sisi yang lain, pada saat yang berbarengan dan dengan cara pembacaan yang berbeda, kepergian Darwan ini sebenarnya bisa dimaknai sebagai kemenangan modernitas melawan nilai-nilai tradisi. Dalam percakapan dengan ayahnya, Kanjeng Rama, ketika meminta ijin untuk pergi ke Surabaya, Sang Rama menganggap bahwa kepergian ini adalah bukti betapa pendidikan Belanda yang diperoleh Darwan telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang mandiri. Sebaliknya, tradisi lama seharusnya ditinggalkan apabila dianggap menghambat kemajuan diri seseorang.
“Di Eropa, anak juga harus keluar dari rumah orang tuanya dan mencari kehidupan sendiri kalau sudah berumur 21 tahun. Kamu berbuat begitu mungkin pengaruh pendidikanmu selama di Batavia. Aku bangga,” restu Kanjeng Rama. (p.174).
“Baiklah, Darwan. Kamu memang berpendidikan Belanda sejak semula, beta bisa merasakan bagaimana perasaan dan pikiranmu. Pergilah seperti burung bersayap. Ilmu dan pendidikan adalah sayapmu. Jangan pandang keagungan kebangsawananmu, jangan mengandalkan warisan kekayaanmu sebagai putraku, bahkan jangan kau ingat adat-istiadat kakek moyangmu kalau hal itu menghambat kemajuan hidupmu dan tidak sesuai dengan zaman. Budaya manusia terus mengalami perbaikan, menyesuaikan diri dengan keadaan alam setempat, alat-alat, dan sarana baru terus ditemukan maka hiduplah kamu dengan sarana budaya dan teknik modern. Tak usah mengenang, kecewa, dan menangisi yang agung pada zaman lampau”. (p.174).
Dalam konteks ini pendidikan Barat (Belanda) menjadi kata kunci yang amat penting dalam melihat proses transformasi seorang subjek pascakolonial. Pendidikan menjadi sebuah kendaraan bagi terciptanya sebuah golongan yang lebih ‘beradab’ dari sudut pandang kolonial, sebuah golongan kelas “perantara” yang menghubungkan golongan kolonial dengan masyarakat yang dijajahnya. Pendidikan yang mereka peroleh, termasuk di dalamnya penyerapan budaya “tiruan” ~ mimikri, memberikan mereka kesempatan untuk menjadi manusia baru yang ‘lebih beradab’ dari manusia tradisional. Budaya “tiruan” ini, antara lain, tercermin dalam gaya hidup serta pandangan-pandangan mereka tentang berbagai hal dalam kehidupan. Dalam kehidupan sang tokoh utama, mimikri ini bisa dilihat jejaknya dalam cara Darwan menata penampilan fisiknya yang berbeda dengan masyarakat jajahan secara umum, pandangan-pandangannya tentang lembaga perkawinan, sikapnya yang tidak terlalu heroik dalam menghadapi kaum penjajah karena baginya Belanda bukanlah musuh melainkan sumber inspirasi yang membebaskan. Unsur-unsur kebudayaan asing menjadi ternaturalisasi, menjadi bagian wajar dari kehidupan bermasyarakat di tanah jajahan yang tidak perlu lagi dipertanyakan asal-usul atau fungsi sosialnya.
…..Darwan menganggap bahwa sekolahnya yang bercampur dengan anak-anak Belanda ~ tidak seperti anak bangsawan Surakarta biasanya ~ dari Europese Lagere School di Surakarta sampai HBS di Batavia, merupakan modal hidup yang tak terhingga nilainya. Itu melebihi warisan harta benda dan darah biru kebangsawanannya. Darwan memutuskan untuk mengenyahkan serba kebendaan serta martabat keturunan yang ada pada Kanjeng Rama dan menggunakan segala yang telah diperoleh selama di sekolah untuk meniti jenjang kehidupannya. (p.27).
…..Dipilihnya pakaian cara Eropa. Hem dan pantaloon. Bukan kain, destar, dan baju surjan yang biasa dipakai di kalangan istana Surakarta Hadiningrat. Pakai sepatu, dan bukan selop. Karena, Darwan sadar ia pergi ke Surabaya ~ daerah gopermen ~ bukan mengembara mencari kehidupan di Kerajaan Surakarta Hadiningrat. (p.29).
.....Di sekolah Belanda, ia tidak boleh kaki telanjang dan tidak boleh mengenakan kain. Masuk di halaman sekolah, ia tidak boleh bicara bahasa Jawa, harus Belanda. Dan, memang tidak ada temannya yang orang Jawa ~ semua Belanda ~ hingga mengenakan sepatu serta berpakaian cara sinyo terus menjadi kebiasaannya sampai sekarang. Keluar dari rumah bepergian ke tempat umum, tidak enak rasanya apabila tidak “berpakaian lengkap”. (p.87).
.....Beda Darwan dengan para jejaka bangsawan lainnya mungkin karena pendidikan Darwan dari sejak semula adalah sekolah Belanda. Dan saat sekolah lanjutan atau pada pertumbuhan remajanya, ia hidup di luar Surakarta. Selama di HBS, Darwan masuk internaat di Kwitang, Batavia. Dan itu, Darwan yakin bisa membuat segalanya berbeda dengan saudara-saudaranya yang tinggal dan menetap di Prawirakusuman. (p.75-76).
Pandangan Darwan tentang makna lembaga perkawinan amat kentara juga dipengaruhi oleh pandangan kolonial yang berkelindan dengan ide tentang modernitas yang dianggap lebih baik daripada nilai tradisi. Pengarang memberikan ilustrasi bagaimana pandangan Barat demikian baiknya dalam memaknai lembaga perkawinan dibandingkan dengan kebobrokan kehidupan seksualitas di istana raja-raja Jawa. Nilai-nilai lama itu harus ditinggalkan karena tidak sesuai dengan nilai-nilai perikemanusiaan manusia modern. Secara simpatik narasi mengantarkan pembaca untuk berpihak pada pandangan baru ini.
Seperti bangsawan lain yang setingkat dengannya, tidak ada salahnya seumur dia mengambil selir perempuan cantik atau yang pintar menggoda, berapa orang pun jumlahnya. Nafsu keturunan ada, dan budaya serta adat istiadat memperkenankan. Hanya karena pendidikanlah maka ketika berkumpul kembali bersama kerabatnya di Surakarta, Darwan justru terkekang nafsu birahinya. (p.77).
Dalam tekadnya mencari kehidupan di luar Surakarta, usaha merombak budaya selir itu termasuk. Lembaga perkawinan itu harus suci dan bersih. Ini mungkin hasil persepsi Darwan berkumpul dengan orang-orang Belanda Katolik di Internaat. Tapi terutama Beatrix! Perkawinan bukan dinilai dari kaya-miskin, bangsawan-awam, pilihan orangtua, atau terpaksa bertanggung jawab. Perkawinan harus karena menurutkan kata hati nurani, suka sama suka, saling setia dalam sakit dan ceria. Tidak usah memilih karena pertimbangan bobot-bibit-bebet, tapi berdasarkan keterpikatan hatinya. (p.77).
Gundik atau selir adalah suatu budaya yang Darwan ingin hapuskan justru karena pelajaran yang diterima oleh Darwan selama bergaul dengan masyarakat Katolik Belanda di Batavia. Juga, pengaruh Kanjeng Rama sepulang dari Nederland, yaitu menghapus perseliran dengan menikahi para selirnya secara resmi, menurut agama. Tidak ada selir untuk dirinya. Yang ada perkawinan sejati. Darwan mengharap suatu perkawinan adalah hal yang sakral! Suci!
Darwan tidak berpekerti seperti kakak-kakaknya karena pendidikannya yang serba Belanda. Kebiasaan bergaul bebas, terbuka, lebih-lebih keakrabannya dengan Beatrix, mengendalikan jiwa Darwan untuk tidak liar, ngawur, berselera lain, berkemauan lain, dan bercita-cita lain dari kebanyakan bangsawan Jawa. Kebebasan Beatrix Vollentijn terhadapnya membuka pikiran Darwan untuk lebih mengenal lawan jenis dengan baik-baik, tidak keburu nafsu. (p.245).
Dalam tataran yang barangkali agak ekstrim keinginan menyerap budaya Belanda bahkan sampai pada tataran ingin sama sekali melupakan dan meninggalkan hal kodrati sebagai manusia Jawa. Hal tersebut bisa terlihat pada keputusan keluarga Darisman yang memutuskan untuk berpindah ke Negeri Belanda menyusul anak cucunya yang sebelumnya telah bermukim di sana. Dalam konteks ini teks MSA juga tidak menunjukkan sikap antikolonialnya, bahkan cenderung bersuara positif terhadap keputusan ini yang ditunjukkan melalui Darwan yang bersikap “biasa-biasa” saja alias memandangnya secara wajar bahkan cenderung memberikan apresiasi.
Mereka memang pasangan Jawa terakhir pada keluarganya, berniat benar mengikuti anak-anak keturunannya, terpaksa menyuruk hilang-hilang, memakan habis-habis, dan menghapuskan sisa-sisa Jawa-nya sedapat mungkin. (p.283).
Kadang-kadang Darwan berpendapat bahwa keberuntungan keluarga Darisman itu berawal dari kesombongan dan keinginan yang tertanam jadi keyakinan. Setelah yakin benar akan cita-cita mereka maka mereka meraih keinginannya tanpa ragu-ragu lagi. Segala pikiran dan tingkah laku tertuju ke sana, yaitu hidup menjadi orang Belanda. Tuan dan Nyonya Darisman selalu bicara Belanda kepada Darwan. Tidak terasa sayang sedikit pun meninggalkan bahasa Jawa. Memanggil Darwan lebih sering Darwantje atau Wantje daripada Nakmas. Maka akhirnya tercapailah mereka menjadi orang Belanda. (p.379-380).
Sebaliknya, berbagai pandangan yang bersuara positif terhadap budaya tiruan ini amat kontras dibandingkan dengan paparan suasana tradisi lokal Surabaya yang identik dengan kekasaran, main judi, minum-minuman keras, hidup yang tanpa cita-cita. Dalam MSA lokalitas yang ‘kurang beradab’ ini terepresentasikan pada tokoh antagonis Rokhim. Kebiasaan-kebiasaan Rokhim seperti judi dengan cara pertandingan burung dara, minum-minum, sikap kasar (juga dilakukan oleh banyak laki-laki di kampungnya), merendahkan perempuan dan oportunis. Gambaran ini mempengaruhi pembaca untuk memaknai budaya lokal ini dengan cara yang sama dengan naratornya yaitu betapa ‘kurang beradabnya’ budaya lokal Surabaya tersebut. Berikut ini ditunjukkan bagaimana teks merepresentasikan Rokhim yang amat kasar bersikap kepada adiknya, Rokhayah:
Celakanya, peristiwa Rokhayah memakai sabun milik Darwan itu oleh Ning Rokh diberitakan kepada suaminya dan Rokhim. Kedua laki-laki keluarga itu langsung marah-marah kepada Rokhayah. Rokhim bukan saja melontarkan kata-kata kotor, juga tangannya ikut menjambak rambut Rokhayah. Kepalanya didorong-dorong! Rokhayah tidak malu-malu berteriak sesambat kesakitan. Tetapi, tidak menangis:
“Kapok! Kapok, Cak! Aduh... aduh...aduuuuh! Lara iki (sakit ini), lo, Cak! Caaak!!”
“Kon takgibeng, sampek bathukmu mubeng, mene-mene maneh yek pokal-pokal gae sabune Darwan! Ngreti kon, ngono iku nggarahi awakmu matek dadi mbambungan! Mbok-nancuuuk!” (Kamu kutampar sehingga dahimu berputar, kapan-kapan lagi kalau akal-akal pakai sabun Darwan! Mengerti kamu, begitu itu membuat dirimu mati jadi gelandangan! Jahanam!) (p.133).
“Jamput. Perempuan kok gobloke gak mari-mari! (p.66).
“Arek kok gobloke setengah matek. (p.67).
“…..kamu, jancuuuk!” (p.69).
Sungguh hidup ini ringan saja bagi Rokhim. Tidak ada cita-cita, tidak ada beban tanggung jawab, dan tidak ada ujung pangkalnya. Yang dianutnya ilmu unggas, besok pagi ada hari, besok pagi mencotok makanan. Tidak perlu makanan itu ditabung-tabung untuk masa depan. Ingin punya uang banyak, ingin berpenghasilan besar, ia pun berhemat, menabung. Ingin cepat uangnya banyak, ya taruhan. Menang taruhan merupakan jalan pintas cepat memperbanyak lagi uang tabungannya. Main andhokan menjadi mata rantai siklus kehidupan bahagianya sehari-hari. Kalah atau menang, taruhan andhokan merpati itu tidak bisa lepas dari kehidupannya dan merupakan seni kenikmatan hidup….. Itulah seni hidup yang dijalani oleh Rokhim. Dilakoni sebagaimana teman-teman orang kampung lainnya juga melakukannya. Berputar terus sambung-menyambung tanpa ujung pangkal, tanpa berhenti, tanpa hari prei andhokan. (p.115).
Dalam sekilas Darwan cepat ambil kesimpulan bahwa Rokhim bukan orang yang sepaham atau cocok untuk dijadikan sahabat. Banyak perangainya tidak sesuai dengan kata hati Darwan. Tingkahnya kasar, mulutnya kotor, suka melontarkan sumpah-serapah, serakah, gemar menyiksa makhluk lain. Mau berbuat jasa dengan pamrih mendapat imbalan, memuji diri sendiri dan mencela orang lain. (p.82).
“Peniruan” tidak berarti “menjiplak” segala sesuatu yang terdapat dalam budaya kolonial. Darwan bukanlah gambaran “manusia terasing” yang kehilangan bumi berpijak di tanah leluhurnya sendiri. Darwan menyerap budaya kolonial bilamana perlu untuk memenuhi kemanusiaannya. Tetapi, di lain pihak, ia tetap digambarkan sebagai manusia Jawa, walaupun kategori ini sendiri juga cukup rumit untuk dijelaskan. MSA memberikan kesempatan kepada pembacanya untuk melihat, barangkali juga membandingkan kekontrasan, kebudayaan Surakarta dan Surabaya. Dalam hubungan dengan Rokhayah, adik Rokhim yang kemudian menjadi istri Darwan, digambarkan bagaimana Darwan amat menyukai kepolosan dan keterbukaan Rokhayah yang sangat khas Surabaya. Darwan juga amat mengagumi kemampuan Rokhayah yang secara amat spontan bisa membuat dan berdendang parikan, semacam gurindam, untuk mengungkapkan perasaannya. Darwan kemudian mengetahui bahwa perempuan Surabaya mudah sekali berdendang melontarkan parikan begitu, baik dinyanyikan maupun gancaran (tidak dilagukan). Rokhim mengatakan bahwa parikan seperti itu sangat lumrah didendangkan di pentas ludruk. Dari situlah mungkin perempuan-perempuan itu belajar. (p.136).
Di sisi yang lain, lokalitas Surabaya ini ternyata juga mendapat makna yang beragam, terutama bila diposisikan secara berhadapan dengan tradisi Istana Surakarta. Terdapat kecenderungan yang menempatkan Surakarta dalam posisi di tengah sementara Surabaya adalah pinggiran tak berbudaya yang harus tunduk pada kekuasaan tersebut. Dalam hubungannya dengan Rokhayah, misalnya, pengarang memilih kata-kata yang sangat sugestif menyuarakan hal tersebut. Kata-kata seperti “mengajarkan, membimbing, membina, sopan, patuh, bangsa Jawa yang luhur, dan sebagainya” menjadi pilihan kata-kata yang sangat patriarkhis, menempatkan Rokhayah (dengan budaya Surabayanya) sebagai bagian dan kelompok sosial yang tidak berdaya yang harus dibela dan bahkan dididik. Dengan kata lain hal tersebut sebenarnya juga mengisyaratkan adanya reproduksi yang terus-menerus dari gagasan mengenai arogansi dan superioritas. Suatu reproduksi yang pada mulanya diintrodusir oleh golongan penjajah dalam melihat atau menakar keberadaan masyarakat yang dijajahnya namun kemudian juga diteruskan oleh “golongan perantara” dalam memaknai kelompok sosial ini. Kepatuhan yang diperlihatkan oleh Rokhayah dan keluarganya, kecuali Rokhim, juga menunjukkan bagaimana kelas perantara ini, yang sebagian besar secara tradisional berasal dari strata masyarakat yang tinggi seperti keluarga bangsawan, juga mendapatkan pengistiwaan dari kelompok masyarakat biasa.
Bukan. Kampung bukan sarang kejahatan, bukan sarang kebodohan. Kalaupun benar begitu, setidaknya Darwan tidak akan ketularan. Ia berhasrat menulari perbuatannya yang baik. Darwan mau menuntun mereka ke dunia yang bersih, yang sehat……(p.74).
…..senyampang bergaul berdekatan ia hendak mengajarkan Rokhayah menjadi perempuan yang sederajat dengan tingkat pergaulan Darwan. “Sebaiknya dilatih berbahasa keraton,” saran Nyonya Darisman ini hendak dilaksanakan. (p.314).
Pelaksanaan niat Darwan membimbing dan membina Rokhayah ke tempat yang setingkat dengan dunia Darwan agaknya berjalan lancar. Tiap hari Rokhayah mengantar baju setrikaan, bertemu dengan Darwan, bergaul, dan di situlah Darwan mengajar Rokhayah berbuat, bertingkah, berbicara yang sopan dan benar menurut perasaan Darwan. Dan, Rokhayah dengan tekun dan patuh melaksanakan ajaran Darwan. (p.315-316).
Keberanian, kebiasaan, dan kebudayaan Rokhayah kian melaju mendekati keinginan Darwan. Juga, berbahasa keraton, secara aktif diajarkan oleh Darwan. Bahasa Jawa Surabayanya berangsur-angsur samar tiap kali masuk ke rumah Ketandan, berganti bahasa yang dikehendaki oleh Darwan. (p.316).
Setelah menikah dengan Rokhayah: “Mas. Panggillah aku ‘kangmas’. Aku panggil kau ‘diajeng’. Kita harus meningkatkan derajat keluarga kita, dimulai dari berbahasa. Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasamu sudah bagus, bukan Surabayan lagi. Kamu harus menyesuaikan diri mengimbangi kualitasku, kualitas bangsa Jawa yang luhur.” (p.584).
Pada bagian akhir cerita berupa bab dengan judul ‘Revolusi’ ambivalensi dari mimikri mendapatkan unsur cerita dengan bobot politik antikolonial yang lebih tegas. Dipengaruhi oleh semangat zaman yaitu perang kemerdekaan yang mamanggil setiap anak negeri untuk sama-sama berjuang, maka Darwan yang telah bertahun-tahun bergelut dalam dunia pers Jawa melihat hal tersebut sebagai kesempatan baik untuk mengembangkan pers berbahasa Jawa yang mulai dirintisnya sejak menjadi wartawan di Dagblad Expres sekaligus berkontribusi dalam memberitakan berbagai peristiwa penting di seputar perang kemerdekaan khususnya di Surabaya kepada khalayak ramai. Bagian ini amat menarik bagi pembaca yang ingin mengetahui saat-saat bersejarah sekitar perang 10 November 1945 di Surabaya. Tokoh-tokoh dengan peranannya, peristiwa, dan tempat-tempat penting yang tertulis maupun tidak dalam ‘sejarah formal’ dihidupkan dan diberi nyawa lagi secara amat deskriptif. Tetapi bila dibandingkan dengan pilihan Rokhim yang memilih untuk berdiri di garis keras berupa perjuangan mengangkat senjata, maka pilihan Darwan untuk tetap memilih menjadi wartawan bisa dibaca sebagai bentuk perjuangan yang kurang heroik. Di sisi yang lain, pilihan Darwan juga bisa dibaca sebagai pilihan yang amat strategis. Perjuangan kemerdekaan tidak hanya membutuhkan senjata tetapi juga berita. Pilihan ini menunjukkan bagaimana modernitas yang diwariskan dari alam kolonial yang ditandai dengan keberadaan dunia pers modern juga bisa menjadi senjata dalam usaha melawan penjajah.
Simpulan.
Berbeda dengan wacana antikolonial yang secara amat tegas menunjukkan garis pemisah antara kaum penjajah dengan golongan yang dijajahnya, wacana pascakolonial mengarahkan perhatiannya kepada interaksi yang penuh kontradiksi di antara keduanya. Wacana pascakolonial tidak meniadakan perjuangan antikolonial sebagaimana dicatat oleh sejarah, tetapi ia meragukan kemungkinan bahwa hubungan budaya yang tumbuh di alam kolonial dapat dihapuskan dari proses sejarah. Penjajah maupun yang dijajah tidak pernah luput dari hubungan yang penuh dengan ambivalensi. Modernitas yang merupakan nilai-nilai tradisional saling berkompetisi, bertanding memperebutkan makna. Dalam konteks novel MSA jati diri sang tokoh utama adalah jati diri seorang manusia modern yang bukan Jawa dan bukan Barat kolonial (Belanda) tetapi perpaduan antara keduanya. Sesungguhnya proses ini bukanlah sebuah proses yang mudah dilakukan. Subjek pascakolonial sering berada dalam kondisi “antara”, kondisi yang tidak bisa sepenuhnya meninggalkan nilai-nilai lama tapi juga tak bisa bersegera menerima wacana baru yang bernama modernitas. Ambivalensi identitas menjadi sebuah keniscayaan yang tidak terelakkan. Darwan adalah manusia pascakolonial.
*
Daftar Pustaka.
Ashcroft, Bill, Gareth Griffiths and Helen Tiffen: Key Concepts in Post-Colonial Studies. London and New York; Routledge.
Faruk. 1999. Mimikri Dalam Sastra Indonesia, Jurnal Kalam 14: Pascakolonialisme dan Sastra.
Foulcher, Keith. 1999. Mimikri “Siti Nurbaya”; Catatan untuk Faruk, Jurnal Kalam 14: Pascakolonialisme dan Sastra.
Bhabha, Homi K. 1994, The Location of Culture, London and New York: Routledge.
Sutherland, Heather. 1983. Terbentuknya Sebuah Elite Birokrasi, diterjemahkan oleh Sunarto. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.
Catatan kaki:
*1). Lihat tulisan Foulcher dalam Mimikri “Siti Nurbaya”: Catatan untuk Faruk dalam Jurnal Kalam 14, Pascakolonialisme dan Sastra, hal. 15-16.
*2) Lihat tulisan Foulcher dalam Mimikri “Siti Nurbaya”: Catatan untuk Farouk dalam Jurnal Kalam 14: Pascakolonialisme dan Sastra hal: 15-16.
*3). Lihat tulisan Faruk, 1999. Mimikri Dalam Sastra Indonesia, Jurnal Kalam 14: Pascakolonialisme dan Sastra, hal. 4-6.
PT GRASINDO JAKARTA 2005
MODERNITAS DAN LOKALITAS DALAM
“MENCARI SARANG ANGIN” KARYA SUPARTO BRATA:
PERSPEKTIF PASCAKOLONIAL
(Modernity and Locality in “Mencari Sarang Angin” by Suparto Brata:
The Postcolonial Perspective)
Oleh: Lina Puryanti
(Dosen Jurusan Ilmu Sastra FISIP UNAIR)
Abstract:
The postcolonial discourse in the novel Mencari Sarang Angin (MSA) by Suparto Brata shows an ambivalence identity of the characters. In one side this novel welcomes the modernity offered by the colonizer ideology while, at the same, it also tries to build a local identity related with the matter of self-authenticity. Bhabha said this situation and the condition as the “location of culture” which shows in-between position of the subject. In this case, mimicry or imitation experienced by the postcolonial subject has put them as the mediator group between the colonizer’s interests in distributing its power towards the colonialized community. In spite of giving a heroic political resistance against the colonizer, the discourse of postcolonial tends to pay attention on the heritage of the realm of colonial in postcolonial period which is signified by the ambivalence and unstable meaning.
Latar Belakang.
Modernisasi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika terutama sejak penyebaran peluang mengenyam pendidikan Barat di bawah pemerintahan colonial, pada pertengahan abad ke-19 (atau, di Hindia Belanda pada dekade kedua abad ke-20) membawa, salah satunya, konsekuensi yang amat penting dalam wacana pascakolonial, sebagaimana pertama dikembangkan oleh Homi Bhabha, yaitu “mimikri” atau “peniruan” citra kaum penjajah oleh kaum yang dijajah. Penyebaran pendidikan Barat itu pada mulanya diciptakan untuk memperkukuh kekuasaan kolonial dengan menciptakan sebuah golongan dalam masyarakat jajahan yang mengindentifikasikan dirinya dengan budaya penjajah dan menganggap dirinya sebagai wakil budaya Barat di masyarakat terjajah. Harapan itu diungkapkan dalam Minute to Parliement, pernyataan terkenal Lord Macaulay di hadapan parlemen Inggris pada tahun 1835, yang menegaskan kebutuhan mendidik kelas baru cendekiawan “perantara” di India, tanah jajahan Inggris. Lord Macaulay menganjurkan terciptanya “kelas penerjemah yang menjadi perantara antara kita dan jutaan rakyat yang kita kuasai ~ yaitu satu kelas yang dalam hal warna kulit dan darah adalah orang India, tetapi dalam selera, opini, moralitas, dan intelektualitas, sepenuhnya orang Inggris.” Dalam konteks Indonesia (atau Hindia Belanda) pernyataan yang serupa baru dikemukakan pada tahun 1899 oleh T.Ch. van Deventer, salah satu perintis Politik Etis. Dengan angkuh van Deventer menyatakan “Tapi alangkah agung tujuan yang kita kejar! Pembentukan suatu lapisan sosial di Timur Jauh yang berutang budi pada Belanda karena memberi mereka kemakmuran dan budaya tinggi, dan mereka mau mengakui kenyataan tersebut.) *1)
Namun demikian, bagi penjajah perbedaan antara kaum penjajah dan yang dijajah harus tetap dipertahankan. Suatu golongan “perantara” yang menurut Macaulay masih berada di luar golongan penjajah. Bhabha menyatakan warga terjajah dididik untuk menjadi almost the same, but not quite, atau dengan ungkapan rasialis yang tepat, almost the same but not white (89). Manusia bukan Barat dapat diajar “meniru”, tetapi bagi penjajah, “peniruan” itu akan tetap terhambat oleh sifat-sifat “kodrati” yang selalu membedakan Barat dan bukan barat. Perbedaan yang secara sengaja dipertahankan ini berangkat dari kekhawatiran bahwa peniruan bisa menjadi ancaman bagi stabilitas pemerintah kolonial walaupun, pada saat yang bersamaan, juga menunjukkan betapa rapuhnya wacana sosio-budaya yang mempertahankan konsep perbedaan “kodrati” tersebut. Mimikri, menurut Bhabha, tidak pernah jauh dari “pengejekan”, karena kaum terjajah tidak pernah mereproduksi secara tepat nilai-nilai dan institusi-institusi yang mereka ambil dari Barat. Mimikri selalu menghasilkan salinan yang kabur (blurred copy) dari apa yang ditiru. Wacana ini juga sekaligus mengingatkan akan pentingnya hubungan antara kaum penjajah dan yang terjajah yang bersifat ambivalen dalam wacana pascakolonial. Bila wacana antikolonial mengacu kepada perlawanan kaum terjajah yang menentang situasi politik, ekonomi, dan budaya kolonial maka wacana pascakolonial lebih memperhatikan sifat-sifat dari alam kolonial dan warisannya di alam pascakolonial yang ditandai oleh perebutan, ambivalensi dan ketidakmampuan makna.*2)
Wacana pascakolonial sendiri sering dituduh “kabur”, tidak sanggup menghasilkan analisis atau kesimpulan yang “konkret”, bahkan boleh juga dianggap mengelabui perlawanan yang menjadi kenyataan objektif dalam eksploitasi colonial yang masih berlangsung. Tetapi sebenarnya, di alam bawah sadar pada perlawanan politik yang bersifat anti-kolonial selalu berseliweran hubungan budaya yang saling bertentangan atau pernah ambivalensi antara penjajah dan yang dijajah. Suatu hubungan budaya yang mulai dapat dipahami dengan bantuan beberapa konsep kunci wacana pascakolonial. Salah satu konsep kunci yang dapat dijadikan sebagai suatu strategi pembacaan teks-teks sastra dan non sastra yang dilahirkan di alam kolonial adalah “mimikri” yang digagas oleh Bhabha yang melahirkan banyak ambivalensi.
Dalam prosesnya di negara-negara jajahan peniruan tersebut mendapat tanggapan yang bermacam. Sebagian dengan gegap gembira menerimanya, sebagian yang lainnya menolak mentah-mentah, sementara juga terdapat kelompok yang terombang-ambing antara menerima dan menolak. Dalam konteks Indonesia gejala peniruan, khususnya dalam menanggapi sikap mendua golongan penjajah, juga mendapat tanggapan yang beragam. Sukarno (1963;5), misalnya, menempatkan pilihan akan ketimuran yang tetap berada dalam kerangka yang disebutnya sebagai “pengetahuan atas susunan ekonomi dunia dan riwayat”. Ki Hajar dewantara (1977;131-132) membangun sistem pendidikan nasional Taman Siswa, dengan diilhami oleh sistem pendidikan Montessori dan Tagore, yang merupakan jawaban atas semacam krisis dalam pendidikan modern Barat yang menjadikan manusia hanya sebagai mesin. Sutan Takdir Alisyahbana cenderung menempatkan kebudayaan modern sebagai puncak dari perkembangan sejarah peradaban Barat. Dengan kata lain, segala pilihan tersebut sebenarnya berada dalam hubungan yang tidak terpisahkan dari persoalan kekinian pascakolonial para subjeknya. Pilihan-pilihan tersebut menunjukkan adanya keinginan menjadi bagian dari sejarah dunia yang global serta ikut berpatisipasi di dalamnya, meskipun misalnya pilihan tersebut bisa cenderung menjadi pilihan yang bersifat anti Barat. Satu tanggapan yang secara jelas menempatkan pilihan dalam situasi pascakolonial ditunjukkan oleh Armijn Pane (1933a). Ia menyebut diri dan generasinya sebagai masyarakat yang hidup dalam “zaman kebimbangan”; ada yang bergerak ke masa lalu, ke masa kini, dan ke masa depan.*3)
Berkenaan dengan persoalan mimikri yang bersifat ambivalensi maka novel Mencari Sarang Angin (selanjutnya disebut MSA) karya pengarang asal Surabaya, Suparto Brata, akan dibahas dalam makalah ini. Pilihan ini berangkat dari asumsi bahwa MSA, dengan latar perkembangan jurnalisme di Kota Surabaya, yang disampaikan melalui narator Darwan Prawirakusuma pada masa sebelum kemerdekaan sampai dengan masa revolusi penuh dengan ambiguitas yang bertolak belakang dengan visi anti-kolonial yang amat tegas. Berlainan dengan mitos bahwa “perjuangan melawan penjajah” selalu bersifat heroik maka novel ini justru menunjukkan adanya “kekaburan makna” yang merupakan ciri khas wilayah pascakolonial sebagaimana yang disampaikan oleh Bhabha di atas. Persoalan mendasar yang akan dibahas adalah pergulatan antara modernitas (yang diasumsikan dibangun oleh nilai-nilai yang ditawarkan oleh wacana kolonial Belanda) dengan lokalitas yang dibawa melalui budaya etnis tradisional yang dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang sedang berkembang ke arah dunia modern. Dalam persoalannya dengan adat-istiadat juga ditunjukkan bagaimana lokalitas dua wilayah yang berbeda dalam adat dan kebiasaan (Surabaya dibandingkan dengan keningratan Surakarta), di tangan pengarangnya juga saling berebut memperlihatkan superioritasnya. Novel MSA menunjukkan bagaimana modernitas dan lokalitas yang acapkali diletakkan dalam kategori oposisi biner ternyata masih berbagi irisan, bukan pemisahan yang mutlak, berjalin berkelindan tak terpisahkan. Sebuah wilayah “antara” yang penuh misteri, the liminal space between cultures, di mana garis batasnya tidak pernah tetap dan tidak pernah bisa diketahui batas dan ujungnya.
Modernitas dan lokalitas.
Dalam wacana kolonial penguasa kolonial dengan segala gaya hidup dan sudut pandangnya selalu ditempatkan dalam posisi yang lebih superior dan mempunyai otoritas tertinggi dalam menentukan tinggi atau rendahnya martabat kelompok masyarakat yang dijajahnya. Wacana masyarakat terjajah sangat terikat pada perkembangan wacana yang diproduksi oleh masyarakat dan kebudayaan penguasa. Dan sudut pandang ini berkembanglah gagasan bahwa apabila ingin mendapat pengakuan sebagai bagian dari golongan yang mempunyai martabat tinggi, masyarakat yang terjajah perlu mengikuti arus wacana kolonial Barat yang mengglobal dengan cara melakukan peniruan terhadapnya. Arus wacana Barat ini, antara lain, terepresentasikan dalam ide-ide tentang demokrasi, persamaan hak, nasionalisme, sosialisme, lembaga perkawinan, dan sebagainya. Dalam hal ini Heather Sutherland (1983) berpendapat bahwa peniruan gaya hidup orang Eropa yang berkembang biak sejak pertengahan kedua abad XIX merupakan manifestasi dari hasrat masyarakat terjajah untuk menyesuaikan diri dengan “kehendak zaman”, mencapai kemajuan, dan menempatkan diri sama dengan bangsa penjajah.
Dalam prakteknya, acana kolonial ini bukanlah sebuah wacana yang sepenuhnya langsung disadari oleh masyarakat terjajah. Ia bisa hadir dalam konteks yang sangat simpatik dengan dukungan tokoh-tokoh yang simpatik pula sehingga semua gagasan, tujuan, maupun cita-citanya justru dapat dibenarkan dan, bahkan, diteladani dalam sebuah narasi. Apa yang nampak sangat “kolonialis” bagi pembaca bisa dimaknai sebagai “modernitas” di alam ceritanya. Kategori “kolonialis” tidak ada di benak pengarang dan pembaca yang ditujunya. Yang ada adalah dunia modern yang harus diperjuangkan di atas dunia etnis tradisional yang penuh dengan kekolotan dan suasana yang negatif. Wacana paling mendasar dalam struktur cerita MSA yang merepresentasikan keunggulan budaya Barat yang dikontraskan dengan nilai-nilai adat tradisional dapat mulai dilacak jejaknya dari judul novel ini sendiri, Mencari Sarang Angin. Novel ini dimulai dengan cerita tentang kepergian tokoh utama, Darwan Prawirakusuma, pewaris tahta istana yang mewah, Surakarta Hadiningrat, menuju Surabaya untuk mencari penghidupan sendiri lepas dari segala fasilitas yang menjadi haknya di istana tersebut. Sebuah kepergian yang diejek oleh saudara-saudaranya sebagai kepergian mencari sarang angin alias kepergian yang konyol karena akan menjadi sia-sia sebagaimana tidak mungkinnya mencari sarang angin dalam istilah yang harfiah. Dikisahkan pada awalnya kepergian Darwan ini disebabkan karena ia tidak tahan lagi dengan tuduhan telah jatuh cinta pada salah satu selir ayahnya sendiri, Kundarti, yang kebetulan namanya dijadikan tokoh utama cerita yang ditulis oleh Darwan, Prahara Ing Surakarta dan dimuat di Dagblad Expres, suratkabar harian yang terbit di Surabaya. Panggilan dari Tuan Ayat, redaktur suratkabar tersebut, kepada Darwan untuk menjadi wartawan di suratkabar ini menjadi alasan kepergian Darwan ke Surabaya dan sekaligus untuk membersihkan namanya dari tuduhan perselingkuhan dengan Kundarti. Beatrix, teman dekat Darwan yang orang Belanda, menghalangi kepergian ini dengan alasan bahwa sesungguhnya:
“seseorang tidak harus selalu wani ngalah luhur wekasane (berani ngalah bahagia pada akhirnya) seperti yang menjadi panutan orang Jawa, panutan ajaran hidup yang banyak didendangkan para abdi, para petani, juga para bangsawan, dan dianjurkan oleh para guru kepada murid-muridnya. Berbantah, melawan, bertindak kasar, itu suatu kekuatan jasmani yang perlu dimiliki seseorang dalam mempertahankan atau memperebutkan kedudukannya,” (p.82).
Ini artinya Darwan tidak seharusnya meninggalkan Surakarta karena tuduhan itu. Dia harus bertahan untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah tetapi justru sebaliknya Darwan tidak melakukannya. Ia memilih pergi karena tidak ingin berbantahan. Dalam narasi ini secara sangat sugestif ditunjukkan betapa nilai-nilai filsafat tradisional berupa pesan wani ngalah luhur wekasane yang menjadi panutan bagi hampir semua kalangan di Jawa mulai dipertanyakan, diinterogasi dan dipertentangkan dengan rasionalitas ala Barat (Belanda) tentang nilai-nilai bagaimana seseorang seharusnya mempertahankan haknya dan tidak mengalah begitu saja. Novel memperkuat kesan ini melalui uraian tokoh S. Darsono yang dimuat dalam Dagblad Expres. Tokoh S. Darsono ~ gembong Partai Komunis Indonesia yang terpaksa meninggalkan Indonesia karena tersangkut pemberontakan 1926 ~ membahas makna “wani ngalah luhur wekasane” yang terdapat pada dua susun syair tembang Mijil. Tembang itu berisi:
“Cilik mula, cilaka wak mami,
manggung dadi lakon.
Warna-warna wus nglakoni kabeh,
Amung loro sing durung nglakoni,
Mukti karo mati, paran marganipun.”
(Begini ceritanya.
Berbagai nasib semua telah kulakukan,
Hanya dua yang belum,
Mukti dan mati, bagaimana jalannya).
“Dedalane, guna lawan sekti,
Kudu andhap asor,
Wani ngalah luhur wekasane,
Tumungkula yen dipundukani,
Bapang den simpangi, ana catur mungkur.
(Jalan yang manfaat dan sakti,
haruslah sopan santun,
berani mengalah bahagia pada akhirnya,
menunduklah jika dimarahi,
kekerasan disingkiri, ngerumpi dihindari).
Menurut uraian S. Darsono di Dagblad Expres, dua susun tembang Mijil itu merupakan ajaran yang defaitist, inferieur, ngapesake awak, njalari kadang Jawa ngrasa sengsara terus, apes terus, ora nduweni rasa percaya dhiri (melumpuhkan, rendah diri, mencelakakan diri, membuat orang Jawa merasa sengsara terus, sial terus, tidak punya rasa percaya diri). Dikisahkan bahwa Darwan telah mendengar dan hapal tembang ini sejak dari kecil karena selalu diperdengarkan dan diajarkan di sekolah-sekolah sebagai ajaran hidup yang baik. Begitu populernya hingga Beatrix yang belajar bahasa dan budaya Jawa tidak melalui sekolah pun mengerti makna ajaran itu sampai bait-baitnya. Kalau Darwan baru mempelajari makna kelemahan ajaran itu setelah membaca ulasan S. Darsono, Beatrix sudah lebih dahulu tahu pengaruh ajaran itu terhadap orang Jawa. Oleh noni Belanda itu Darwan dituduh menjadi penganut ajaran itu dalam kasus dituduh dhemen Kundarti. Tidak bertindak keras membantah, tetapi tumungkul dan melarikan diri minggat ke Surabaya. (p. 84).
Kepergian Darwan sesungguhnya menunjukkan bagaimana tokoh ini tidak sepenuhnya bisa keluar dari nilai-nilai tradisi meski pada kutub yang lain Darwan amat memuja nilai-nilai modern yang didapatnya dari pendidikan kolonial yang diterimanya. Nilai-nilai yang terepresentasikan dalam pandangan-pandangannya, misalnya, tentang lembaga perkawinan. Hal tersebut juga mengisyaratkan betapa teks ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisi yang terepresentasikan dalam wani ngalah luhur wekasane tidak mampu lagi menjawab tuntutan zaman yang terus bergerak ke depan. Sebagai gantinya, nilai-nilai modern harus diserap karena lebih sesuai dengan perkembangan.
Di sisi yang lain, pada saat yang berbarengan dan dengan cara pembacaan yang berbeda, kepergian Darwan ini sebenarnya bisa dimaknai sebagai kemenangan modernitas melawan nilai-nilai tradisi. Dalam percakapan dengan ayahnya, Kanjeng Rama, ketika meminta ijin untuk pergi ke Surabaya, Sang Rama menganggap bahwa kepergian ini adalah bukti betapa pendidikan Belanda yang diperoleh Darwan telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang mandiri. Sebaliknya, tradisi lama seharusnya ditinggalkan apabila dianggap menghambat kemajuan diri seseorang.
“Di Eropa, anak juga harus keluar dari rumah orang tuanya dan mencari kehidupan sendiri kalau sudah berumur 21 tahun. Kamu berbuat begitu mungkin pengaruh pendidikanmu selama di Batavia. Aku bangga,” restu Kanjeng Rama. (p.174).
“Baiklah, Darwan. Kamu memang berpendidikan Belanda sejak semula, beta bisa merasakan bagaimana perasaan dan pikiranmu. Pergilah seperti burung bersayap. Ilmu dan pendidikan adalah sayapmu. Jangan pandang keagungan kebangsawananmu, jangan mengandalkan warisan kekayaanmu sebagai putraku, bahkan jangan kau ingat adat-istiadat kakek moyangmu kalau hal itu menghambat kemajuan hidupmu dan tidak sesuai dengan zaman. Budaya manusia terus mengalami perbaikan, menyesuaikan diri dengan keadaan alam setempat, alat-alat, dan sarana baru terus ditemukan maka hiduplah kamu dengan sarana budaya dan teknik modern. Tak usah mengenang, kecewa, dan menangisi yang agung pada zaman lampau”. (p.174).
Dalam konteks ini pendidikan Barat (Belanda) menjadi kata kunci yang amat penting dalam melihat proses transformasi seorang subjek pascakolonial. Pendidikan menjadi sebuah kendaraan bagi terciptanya sebuah golongan yang lebih ‘beradab’ dari sudut pandang kolonial, sebuah golongan kelas “perantara” yang menghubungkan golongan kolonial dengan masyarakat yang dijajahnya. Pendidikan yang mereka peroleh, termasuk di dalamnya penyerapan budaya “tiruan” ~ mimikri, memberikan mereka kesempatan untuk menjadi manusia baru yang ‘lebih beradab’ dari manusia tradisional. Budaya “tiruan” ini, antara lain, tercermin dalam gaya hidup serta pandangan-pandangan mereka tentang berbagai hal dalam kehidupan. Dalam kehidupan sang tokoh utama, mimikri ini bisa dilihat jejaknya dalam cara Darwan menata penampilan fisiknya yang berbeda dengan masyarakat jajahan secara umum, pandangan-pandangannya tentang lembaga perkawinan, sikapnya yang tidak terlalu heroik dalam menghadapi kaum penjajah karena baginya Belanda bukanlah musuh melainkan sumber inspirasi yang membebaskan. Unsur-unsur kebudayaan asing menjadi ternaturalisasi, menjadi bagian wajar dari kehidupan bermasyarakat di tanah jajahan yang tidak perlu lagi dipertanyakan asal-usul atau fungsi sosialnya.
…..Darwan menganggap bahwa sekolahnya yang bercampur dengan anak-anak Belanda ~ tidak seperti anak bangsawan Surakarta biasanya ~ dari Europese Lagere School di Surakarta sampai HBS di Batavia, merupakan modal hidup yang tak terhingga nilainya. Itu melebihi warisan harta benda dan darah biru kebangsawanannya. Darwan memutuskan untuk mengenyahkan serba kebendaan serta martabat keturunan yang ada pada Kanjeng Rama dan menggunakan segala yang telah diperoleh selama di sekolah untuk meniti jenjang kehidupannya. (p.27).
…..Dipilihnya pakaian cara Eropa. Hem dan pantaloon. Bukan kain, destar, dan baju surjan yang biasa dipakai di kalangan istana Surakarta Hadiningrat. Pakai sepatu, dan bukan selop. Karena, Darwan sadar ia pergi ke Surabaya ~ daerah gopermen ~ bukan mengembara mencari kehidupan di Kerajaan Surakarta Hadiningrat. (p.29).
.....Di sekolah Belanda, ia tidak boleh kaki telanjang dan tidak boleh mengenakan kain. Masuk di halaman sekolah, ia tidak boleh bicara bahasa Jawa, harus Belanda. Dan, memang tidak ada temannya yang orang Jawa ~ semua Belanda ~ hingga mengenakan sepatu serta berpakaian cara sinyo terus menjadi kebiasaannya sampai sekarang. Keluar dari rumah bepergian ke tempat umum, tidak enak rasanya apabila tidak “berpakaian lengkap”. (p.87).
.....Beda Darwan dengan para jejaka bangsawan lainnya mungkin karena pendidikan Darwan dari sejak semula adalah sekolah Belanda. Dan saat sekolah lanjutan atau pada pertumbuhan remajanya, ia hidup di luar Surakarta. Selama di HBS, Darwan masuk internaat di Kwitang, Batavia. Dan itu, Darwan yakin bisa membuat segalanya berbeda dengan saudara-saudaranya yang tinggal dan menetap di Prawirakusuman. (p.75-76).
Pandangan Darwan tentang makna lembaga perkawinan amat kentara juga dipengaruhi oleh pandangan kolonial yang berkelindan dengan ide tentang modernitas yang dianggap lebih baik daripada nilai tradisi. Pengarang memberikan ilustrasi bagaimana pandangan Barat demikian baiknya dalam memaknai lembaga perkawinan dibandingkan dengan kebobrokan kehidupan seksualitas di istana raja-raja Jawa. Nilai-nilai lama itu harus ditinggalkan karena tidak sesuai dengan nilai-nilai perikemanusiaan manusia modern. Secara simpatik narasi mengantarkan pembaca untuk berpihak pada pandangan baru ini.
Seperti bangsawan lain yang setingkat dengannya, tidak ada salahnya seumur dia mengambil selir perempuan cantik atau yang pintar menggoda, berapa orang pun jumlahnya. Nafsu keturunan ada, dan budaya serta adat istiadat memperkenankan. Hanya karena pendidikanlah maka ketika berkumpul kembali bersama kerabatnya di Surakarta, Darwan justru terkekang nafsu birahinya. (p.77).
Dalam tekadnya mencari kehidupan di luar Surakarta, usaha merombak budaya selir itu termasuk. Lembaga perkawinan itu harus suci dan bersih. Ini mungkin hasil persepsi Darwan berkumpul dengan orang-orang Belanda Katolik di Internaat. Tapi terutama Beatrix! Perkawinan bukan dinilai dari kaya-miskin, bangsawan-awam, pilihan orangtua, atau terpaksa bertanggung jawab. Perkawinan harus karena menurutkan kata hati nurani, suka sama suka, saling setia dalam sakit dan ceria. Tidak usah memilih karena pertimbangan bobot-bibit-bebet, tapi berdasarkan keterpikatan hatinya. (p.77).
Gundik atau selir adalah suatu budaya yang Darwan ingin hapuskan justru karena pelajaran yang diterima oleh Darwan selama bergaul dengan masyarakat Katolik Belanda di Batavia. Juga, pengaruh Kanjeng Rama sepulang dari Nederland, yaitu menghapus perseliran dengan menikahi para selirnya secara resmi, menurut agama. Tidak ada selir untuk dirinya. Yang ada perkawinan sejati. Darwan mengharap suatu perkawinan adalah hal yang sakral! Suci!
Darwan tidak berpekerti seperti kakak-kakaknya karena pendidikannya yang serba Belanda. Kebiasaan bergaul bebas, terbuka, lebih-lebih keakrabannya dengan Beatrix, mengendalikan jiwa Darwan untuk tidak liar, ngawur, berselera lain, berkemauan lain, dan bercita-cita lain dari kebanyakan bangsawan Jawa. Kebebasan Beatrix Vollentijn terhadapnya membuka pikiran Darwan untuk lebih mengenal lawan jenis dengan baik-baik, tidak keburu nafsu. (p.245).
Dalam tataran yang barangkali agak ekstrim keinginan menyerap budaya Belanda bahkan sampai pada tataran ingin sama sekali melupakan dan meninggalkan hal kodrati sebagai manusia Jawa. Hal tersebut bisa terlihat pada keputusan keluarga Darisman yang memutuskan untuk berpindah ke Negeri Belanda menyusul anak cucunya yang sebelumnya telah bermukim di sana. Dalam konteks ini teks MSA juga tidak menunjukkan sikap antikolonialnya, bahkan cenderung bersuara positif terhadap keputusan ini yang ditunjukkan melalui Darwan yang bersikap “biasa-biasa” saja alias memandangnya secara wajar bahkan cenderung memberikan apresiasi.
Mereka memang pasangan Jawa terakhir pada keluarganya, berniat benar mengikuti anak-anak keturunannya, terpaksa menyuruk hilang-hilang, memakan habis-habis, dan menghapuskan sisa-sisa Jawa-nya sedapat mungkin. (p.283).
Kadang-kadang Darwan berpendapat bahwa keberuntungan keluarga Darisman itu berawal dari kesombongan dan keinginan yang tertanam jadi keyakinan. Setelah yakin benar akan cita-cita mereka maka mereka meraih keinginannya tanpa ragu-ragu lagi. Segala pikiran dan tingkah laku tertuju ke sana, yaitu hidup menjadi orang Belanda. Tuan dan Nyonya Darisman selalu bicara Belanda kepada Darwan. Tidak terasa sayang sedikit pun meninggalkan bahasa Jawa. Memanggil Darwan lebih sering Darwantje atau Wantje daripada Nakmas. Maka akhirnya tercapailah mereka menjadi orang Belanda. (p.379-380).
Sebaliknya, berbagai pandangan yang bersuara positif terhadap budaya tiruan ini amat kontras dibandingkan dengan paparan suasana tradisi lokal Surabaya yang identik dengan kekasaran, main judi, minum-minuman keras, hidup yang tanpa cita-cita. Dalam MSA lokalitas yang ‘kurang beradab’ ini terepresentasikan pada tokoh antagonis Rokhim. Kebiasaan-kebiasaan Rokhim seperti judi dengan cara pertandingan burung dara, minum-minum, sikap kasar (juga dilakukan oleh banyak laki-laki di kampungnya), merendahkan perempuan dan oportunis. Gambaran ini mempengaruhi pembaca untuk memaknai budaya lokal ini dengan cara yang sama dengan naratornya yaitu betapa ‘kurang beradabnya’ budaya lokal Surabaya tersebut. Berikut ini ditunjukkan bagaimana teks merepresentasikan Rokhim yang amat kasar bersikap kepada adiknya, Rokhayah:
Celakanya, peristiwa Rokhayah memakai sabun milik Darwan itu oleh Ning Rokh diberitakan kepada suaminya dan Rokhim. Kedua laki-laki keluarga itu langsung marah-marah kepada Rokhayah. Rokhim bukan saja melontarkan kata-kata kotor, juga tangannya ikut menjambak rambut Rokhayah. Kepalanya didorong-dorong! Rokhayah tidak malu-malu berteriak sesambat kesakitan. Tetapi, tidak menangis:
“Kapok! Kapok, Cak! Aduh... aduh...aduuuuh! Lara iki (sakit ini), lo, Cak! Caaak!!”
“Kon takgibeng, sampek bathukmu mubeng, mene-mene maneh yek pokal-pokal gae sabune Darwan! Ngreti kon, ngono iku nggarahi awakmu matek dadi mbambungan! Mbok-nancuuuk!” (Kamu kutampar sehingga dahimu berputar, kapan-kapan lagi kalau akal-akal pakai sabun Darwan! Mengerti kamu, begitu itu membuat dirimu mati jadi gelandangan! Jahanam!) (p.133).
“Jamput. Perempuan kok gobloke gak mari-mari! (p.66).
“Arek kok gobloke setengah matek. (p.67).
“…..kamu, jancuuuk!” (p.69).
Sungguh hidup ini ringan saja bagi Rokhim. Tidak ada cita-cita, tidak ada beban tanggung jawab, dan tidak ada ujung pangkalnya. Yang dianutnya ilmu unggas, besok pagi ada hari, besok pagi mencotok makanan. Tidak perlu makanan itu ditabung-tabung untuk masa depan. Ingin punya uang banyak, ingin berpenghasilan besar, ia pun berhemat, menabung. Ingin cepat uangnya banyak, ya taruhan. Menang taruhan merupakan jalan pintas cepat memperbanyak lagi uang tabungannya. Main andhokan menjadi mata rantai siklus kehidupan bahagianya sehari-hari. Kalah atau menang, taruhan andhokan merpati itu tidak bisa lepas dari kehidupannya dan merupakan seni kenikmatan hidup….. Itulah seni hidup yang dijalani oleh Rokhim. Dilakoni sebagaimana teman-teman orang kampung lainnya juga melakukannya. Berputar terus sambung-menyambung tanpa ujung pangkal, tanpa berhenti, tanpa hari prei andhokan. (p.115).
Dalam sekilas Darwan cepat ambil kesimpulan bahwa Rokhim bukan orang yang sepaham atau cocok untuk dijadikan sahabat. Banyak perangainya tidak sesuai dengan kata hati Darwan. Tingkahnya kasar, mulutnya kotor, suka melontarkan sumpah-serapah, serakah, gemar menyiksa makhluk lain. Mau berbuat jasa dengan pamrih mendapat imbalan, memuji diri sendiri dan mencela orang lain. (p.82).
“Peniruan” tidak berarti “menjiplak” segala sesuatu yang terdapat dalam budaya kolonial. Darwan bukanlah gambaran “manusia terasing” yang kehilangan bumi berpijak di tanah leluhurnya sendiri. Darwan menyerap budaya kolonial bilamana perlu untuk memenuhi kemanusiaannya. Tetapi, di lain pihak, ia tetap digambarkan sebagai manusia Jawa, walaupun kategori ini sendiri juga cukup rumit untuk dijelaskan. MSA memberikan kesempatan kepada pembacanya untuk melihat, barangkali juga membandingkan kekontrasan, kebudayaan Surakarta dan Surabaya. Dalam hubungan dengan Rokhayah, adik Rokhim yang kemudian menjadi istri Darwan, digambarkan bagaimana Darwan amat menyukai kepolosan dan keterbukaan Rokhayah yang sangat khas Surabaya. Darwan juga amat mengagumi kemampuan Rokhayah yang secara amat spontan bisa membuat dan berdendang parikan, semacam gurindam, untuk mengungkapkan perasaannya. Darwan kemudian mengetahui bahwa perempuan Surabaya mudah sekali berdendang melontarkan parikan begitu, baik dinyanyikan maupun gancaran (tidak dilagukan). Rokhim mengatakan bahwa parikan seperti itu sangat lumrah didendangkan di pentas ludruk. Dari situlah mungkin perempuan-perempuan itu belajar. (p.136).
Di sisi yang lain, lokalitas Surabaya ini ternyata juga mendapat makna yang beragam, terutama bila diposisikan secara berhadapan dengan tradisi Istana Surakarta. Terdapat kecenderungan yang menempatkan Surakarta dalam posisi di tengah sementara Surabaya adalah pinggiran tak berbudaya yang harus tunduk pada kekuasaan tersebut. Dalam hubungannya dengan Rokhayah, misalnya, pengarang memilih kata-kata yang sangat sugestif menyuarakan hal tersebut. Kata-kata seperti “mengajarkan, membimbing, membina, sopan, patuh, bangsa Jawa yang luhur, dan sebagainya” menjadi pilihan kata-kata yang sangat patriarkhis, menempatkan Rokhayah (dengan budaya Surabayanya) sebagai bagian dan kelompok sosial yang tidak berdaya yang harus dibela dan bahkan dididik. Dengan kata lain hal tersebut sebenarnya juga mengisyaratkan adanya reproduksi yang terus-menerus dari gagasan mengenai arogansi dan superioritas. Suatu reproduksi yang pada mulanya diintrodusir oleh golongan penjajah dalam melihat atau menakar keberadaan masyarakat yang dijajahnya namun kemudian juga diteruskan oleh “golongan perantara” dalam memaknai kelompok sosial ini. Kepatuhan yang diperlihatkan oleh Rokhayah dan keluarganya, kecuali Rokhim, juga menunjukkan bagaimana kelas perantara ini, yang sebagian besar secara tradisional berasal dari strata masyarakat yang tinggi seperti keluarga bangsawan, juga mendapatkan pengistiwaan dari kelompok masyarakat biasa.
Bukan. Kampung bukan sarang kejahatan, bukan sarang kebodohan. Kalaupun benar begitu, setidaknya Darwan tidak akan ketularan. Ia berhasrat menulari perbuatannya yang baik. Darwan mau menuntun mereka ke dunia yang bersih, yang sehat……(p.74).
…..senyampang bergaul berdekatan ia hendak mengajarkan Rokhayah menjadi perempuan yang sederajat dengan tingkat pergaulan Darwan. “Sebaiknya dilatih berbahasa keraton,” saran Nyonya Darisman ini hendak dilaksanakan. (p.314).
Pelaksanaan niat Darwan membimbing dan membina Rokhayah ke tempat yang setingkat dengan dunia Darwan agaknya berjalan lancar. Tiap hari Rokhayah mengantar baju setrikaan, bertemu dengan Darwan, bergaul, dan di situlah Darwan mengajar Rokhayah berbuat, bertingkah, berbicara yang sopan dan benar menurut perasaan Darwan. Dan, Rokhayah dengan tekun dan patuh melaksanakan ajaran Darwan. (p.315-316).
Keberanian, kebiasaan, dan kebudayaan Rokhayah kian melaju mendekati keinginan Darwan. Juga, berbahasa keraton, secara aktif diajarkan oleh Darwan. Bahasa Jawa Surabayanya berangsur-angsur samar tiap kali masuk ke rumah Ketandan, berganti bahasa yang dikehendaki oleh Darwan. (p.316).
Setelah menikah dengan Rokhayah: “Mas. Panggillah aku ‘kangmas’. Aku panggil kau ‘diajeng’. Kita harus meningkatkan derajat keluarga kita, dimulai dari berbahasa. Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasamu sudah bagus, bukan Surabayan lagi. Kamu harus menyesuaikan diri mengimbangi kualitasku, kualitas bangsa Jawa yang luhur.” (p.584).
Pada bagian akhir cerita berupa bab dengan judul ‘Revolusi’ ambivalensi dari mimikri mendapatkan unsur cerita dengan bobot politik antikolonial yang lebih tegas. Dipengaruhi oleh semangat zaman yaitu perang kemerdekaan yang mamanggil setiap anak negeri untuk sama-sama berjuang, maka Darwan yang telah bertahun-tahun bergelut dalam dunia pers Jawa melihat hal tersebut sebagai kesempatan baik untuk mengembangkan pers berbahasa Jawa yang mulai dirintisnya sejak menjadi wartawan di Dagblad Expres sekaligus berkontribusi dalam memberitakan berbagai peristiwa penting di seputar perang kemerdekaan khususnya di Surabaya kepada khalayak ramai. Bagian ini amat menarik bagi pembaca yang ingin mengetahui saat-saat bersejarah sekitar perang 10 November 1945 di Surabaya. Tokoh-tokoh dengan peranannya, peristiwa, dan tempat-tempat penting yang tertulis maupun tidak dalam ‘sejarah formal’ dihidupkan dan diberi nyawa lagi secara amat deskriptif. Tetapi bila dibandingkan dengan pilihan Rokhim yang memilih untuk berdiri di garis keras berupa perjuangan mengangkat senjata, maka pilihan Darwan untuk tetap memilih menjadi wartawan bisa dibaca sebagai bentuk perjuangan yang kurang heroik. Di sisi yang lain, pilihan Darwan juga bisa dibaca sebagai pilihan yang amat strategis. Perjuangan kemerdekaan tidak hanya membutuhkan senjata tetapi juga berita. Pilihan ini menunjukkan bagaimana modernitas yang diwariskan dari alam kolonial yang ditandai dengan keberadaan dunia pers modern juga bisa menjadi senjata dalam usaha melawan penjajah.
Simpulan.
Berbeda dengan wacana antikolonial yang secara amat tegas menunjukkan garis pemisah antara kaum penjajah dengan golongan yang dijajahnya, wacana pascakolonial mengarahkan perhatiannya kepada interaksi yang penuh kontradiksi di antara keduanya. Wacana pascakolonial tidak meniadakan perjuangan antikolonial sebagaimana dicatat oleh sejarah, tetapi ia meragukan kemungkinan bahwa hubungan budaya yang tumbuh di alam kolonial dapat dihapuskan dari proses sejarah. Penjajah maupun yang dijajah tidak pernah luput dari hubungan yang penuh dengan ambivalensi. Modernitas yang merupakan nilai-nilai tradisional saling berkompetisi, bertanding memperebutkan makna. Dalam konteks novel MSA jati diri sang tokoh utama adalah jati diri seorang manusia modern yang bukan Jawa dan bukan Barat kolonial (Belanda) tetapi perpaduan antara keduanya. Sesungguhnya proses ini bukanlah sebuah proses yang mudah dilakukan. Subjek pascakolonial sering berada dalam kondisi “antara”, kondisi yang tidak bisa sepenuhnya meninggalkan nilai-nilai lama tapi juga tak bisa bersegera menerima wacana baru yang bernama modernitas. Ambivalensi identitas menjadi sebuah keniscayaan yang tidak terelakkan. Darwan adalah manusia pascakolonial.
*
Daftar Pustaka.
Ashcroft, Bill, Gareth Griffiths and Helen Tiffen: Key Concepts in Post-Colonial Studies. London and New York; Routledge.
Faruk. 1999. Mimikri Dalam Sastra Indonesia, Jurnal Kalam 14: Pascakolonialisme dan Sastra.
Foulcher, Keith. 1999. Mimikri “Siti Nurbaya”; Catatan untuk Faruk, Jurnal Kalam 14: Pascakolonialisme dan Sastra.
Bhabha, Homi K. 1994, The Location of Culture, London and New York: Routledge.
Sutherland, Heather. 1983. Terbentuknya Sebuah Elite Birokrasi, diterjemahkan oleh Sunarto. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.
Catatan kaki:
*1). Lihat tulisan Foulcher dalam Mimikri “Siti Nurbaya”: Catatan untuk Faruk dalam Jurnal Kalam 14, Pascakolonialisme dan Sastra, hal. 15-16.
*2) Lihat tulisan Foulcher dalam Mimikri “Siti Nurbaya”: Catatan untuk Farouk dalam Jurnal Kalam 14: Pascakolonialisme dan Sastra hal: 15-16.
*3). Lihat tulisan Faruk, 1999. Mimikri Dalam Sastra Indonesia, Jurnal Kalam 14: Pascakolonialisme dan Sastra, hal. 4-6.
Tags:
Lain-lain
Novel Kremil dalam Teori Seksualitas Freud
KREMIL (NOVEL 782 HALAMAN)
PUSTAKA PELAJAR YOGYA 2002
1. Pendahuluan.
Makalah ini mencoba menginterpretasikan Kremil dengan teori Freud tentang seksualitas. Kremil merupakan lokalisasi, tempat para wanita tuna susila dilokalisasi dalam melakukan transaksi seksual dalam arti genital atau setidaknya hubungan seksual dengan lawan jenis. Dalam novel ini terdapat seorang tokoh wanita yang tinggal di Kremil dalam rangka memenuhi kebutuhannya atau kepuasannya, bukan dalam hal kepuasan seksual melainkan kepuasan mencari pembunuh keluarganya. Kejadian-kejadian di seputar kehidupan tokoh wanita tadi adalah hal-hal yang selalu berhubungan dengan seksualitas genital tetapi tidak membuat si wanita menjadi orang yang terjerumus dalam kehidupan seksual tersebut. Dengan demikian pemuasan nafsu mencari pembunuh keluarganya disandingkan dengan pemuasan nafsu seksual (senggama).
Berdasarkan pemikiran Freud tersebut makalah ini mencoba memperhatikan novel Kremil karya Suparto Brata, terbitan Pustaka Pelajar, 2002.
Suyati #Tidak bisa bertemu dengan Marah. Bertemu/menemukan
keluarganya karena Datang ke Kremil untuk mencari pembunuh keluarganya.
keluarganya dibunuh orang. pembunuh keluarganya.
Berdampingan dengan aktivitas
seksual genital.
Kedua tokoh terseut, Suyati dan Ningsih merupakan individu-individu yang mengalami kekecewaan berat akibat terputus dengan sesuatu yang membuat mereka bahagia (baca: puas). Mereka sedang dalam masa peralihan dari masa kanak-kanak, remaja, menuju dewasa atau dalam istilah Victor Turner mereka sedang dalam kawasan liminal dari dunia yang berbeda. Suyati atau Marini yang sudah rindu ingin bertemu dengan keluarganya tidak kesampaian, maka pemberontakan timbul dari dalam dirinya. Demikian halnya dengan Ningsih yang sedang berada dalam masa pacaran/bersenang-senang dengan keluarga dan lawan jenis yang dicintainya harus tertahan dan terhambat karena ibunya memaksanya kawin dengan orang yang tidak dicintainya. Ibu yang seharusnya menjadi curahan kasih sayang, pelindung, dan tempat menumpahkan segala kerinduannya tiba-tiba menjadi seorang yang menjengkelkan dan mengerikan. Situasi yang dihadapi Ningsih dan Marini ini sebenarnya pernah mereka rasakan pada saat mereka terputus dari ASI untuk pertama kali. Saat itu mereka hanya bisa menangis dan meronta. Namun kali ini mereka mampu berbuat lain. Pelarian Ningsih ke pelacuran merupakan pengembalian wujud hakikat seksualitas. Dokter Naek L. Tobing dalam salah satu wawancara di sebuah stasiun televisi pernah mengatakan bahwa ada sebagian orang yang ketika mengalami stress, bingung ataupun sedang menghadapi masalah besar, mereka melakukan hubungan seksual (melakukan aktivitas seksual genital) untuk mengurangi ketegangan. Demikian halnya dengan Ningsih.
PUSTAKA PELAJAR YOGYA 2002
Novel KREMIL dalam Teori Seksualitas Freud
Oleh: Ratun Untoro
Mahasiswa Program Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Oleh: Ratun Untoro
Mahasiswa Program Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
1. Pendahuluan.
Karya sastra adalah hasil karya orang-orang yang mampu mengkreasikan sebuah ide yang ada dalam pikirannya dengan realita dalam masyarakat. Demikian lebih kurangnya pengertian yang disampaikan Aristoteles dalam menanggapi teori Plato yang menyebutkan bahwa karya seni (sastra) adalah tiruan dari tiruan ide. Karena karya sastra adalah hasil olahan pemikiran manusia maka kahadirannya pun sedikit banyak menyangkut kehidupan manusia sebagai pengarang maupun sebagai masyarakat. Oleh karenanya karya sastra yang dihasilkan mempunyai tanda-tanda sosial masyarakat dari masyarakat yang mempengaruhi pemikiran pengarang.
Karya sastra yang telah sampai pada masyarakat yang juga mempunyai latar belakang sosial diinterpretasikan sesuai dengan latar belakang dan kemampuannya menginterpretasikan sebuah karya. Pada saat itu pembaca (masyarakat) dapat menginterpretasikan karya sastra jauh melebihi maksud pengarang ataupun sama sekali melenceng/tidak sesuai dengan maksud pengarang. Hal tersebut sangat wajar karena karya sastra yang telah disampaikan kepada masyarakat telah meninggalkan pengarangnya (the dead of the author). Makalah ini menyajikan interpretasi sebuah novel berjudul Kremil karya Suparto Brata yang menonjolkan kehidupan di daerah pelacuran. Dengan memberi judul Kremil agaknya pengarang ingin memikat pembaca dengan sesuatu yang berbau seksual. Seolah-olah pengarang sadar bahwa Id di kalangan pembaca kita masih menonjol daripada superego. Suparto Brata tidak mengambil judul Dendam atau Pencarian Seorang Pembunuh atau yang lain untuk novel ini. Selain karena novel detektif kurang begitu populer di khasanah sastra Jawa, Kremil atau Kremil daerah pelacuran terkenal di Surabaya ini lebih merangsang untuk dibaca atau lebih dilirik di toko buku, setidaknya bagi mereka yang sudah pernah mendengar, mengenal, melihat atau bahkan mengunjunginya.
Karya sastra yang telah sampai pada masyarakat yang juga mempunyai latar belakang sosial diinterpretasikan sesuai dengan latar belakang dan kemampuannya menginterpretasikan sebuah karya. Pada saat itu pembaca (masyarakat) dapat menginterpretasikan karya sastra jauh melebihi maksud pengarang ataupun sama sekali melenceng/tidak sesuai dengan maksud pengarang. Hal tersebut sangat wajar karena karya sastra yang telah disampaikan kepada masyarakat telah meninggalkan pengarangnya (the dead of the author). Makalah ini menyajikan interpretasi sebuah novel berjudul Kremil karya Suparto Brata yang menonjolkan kehidupan di daerah pelacuran. Dengan memberi judul Kremil agaknya pengarang ingin memikat pembaca dengan sesuatu yang berbau seksual. Seolah-olah pengarang sadar bahwa Id di kalangan pembaca kita masih menonjol daripada superego. Suparto Brata tidak mengambil judul Dendam atau Pencarian Seorang Pembunuh atau yang lain untuk novel ini. Selain karena novel detektif kurang begitu populer di khasanah sastra Jawa, Kremil atau Kremil daerah pelacuran terkenal di Surabaya ini lebih merangsang untuk dibaca atau lebih dilirik di toko buku, setidaknya bagi mereka yang sudah pernah mendengar, mengenal, melihat atau bahkan mengunjunginya.
Makalah ini mencoba menginterpretasikan Kremil dengan teori Freud tentang seksualitas. Kremil merupakan lokalisasi, tempat para wanita tuna susila dilokalisasi dalam melakukan transaksi seksual dalam arti genital atau setidaknya hubungan seksual dengan lawan jenis. Dalam novel ini terdapat seorang tokoh wanita yang tinggal di Kremil dalam rangka memenuhi kebutuhannya atau kepuasannya, bukan dalam hal kepuasan seksual melainkan kepuasan mencari pembunuh keluarganya. Kejadian-kejadian di seputar kehidupan tokoh wanita tadi adalah hal-hal yang selalu berhubungan dengan seksualitas genital tetapi tidak membuat si wanita menjadi orang yang terjerumus dalam kehidupan seksual tersebut. Dengan demikian pemuasan nafsu mencari pembunuh keluarganya disandingkan dengan pemuasan nafsu seksual (senggama).
2. Landasan Teori.
Freud, dengan segala bantahan atau bahkan kecaman, melontarkan sebuah pemikiran bahwa segala sesuatu tingkah laku manusia berawal dari naluri seksualitas. Hal tersebut berlaku pada setiap manusia bahkan pada anak-anak. Seksualitas dalam pemikiran Freud adalah bukan sekedar seksualitas genitas, yaitu semua yang berhubungan dengan fungsi-fungsi organ pengembangbiakan (Freud, 1992:104). Bagi Freud naluri seksual adalah sesuatu hal yang jauh lebih luas dan jauh lebih tua daripada seksualitas genitas.
Naluri seksualitas yang muncul adalah akibat dorongan Id yang bekerja berdasarkan kepentingan kesenangan. Untuk mencapai pemuasan kesenangan akibat dorongan Id, manusia karena dibatasi oleh superego yang merupakan perwakilan dari berbagai nilai dan norma yang ada dalam masyarakat, mengalihkan naluri seksualnya kepada obyek-obyek lain yang tidak bertentangan dengan superego (LPUI, 2000:4). Sifat energi (dorongan Id) yang lentur memungkinkannya untuk selalu mencari obyek pemuas pengganti atau pemindahan (displacement).
Freud membuktikan bahwa pulsi seksual berdiri sendiri, artinya lepas dari setiap usaha menemukan makhluk dari jenis kelamin berlawanan dan dari tujuannya, yaitu lepas dari penyatuan seksual seperti yang dikenal orang selama ini.
Pemindahan dorongan/naluri seksual kepada obyek-obyek yang tidak berhubungan sama sekali dengan masalah genital merupakan wujud kreativitas yang luar biasa. Dorongan tersebut diinvestasikan dalam obyek pemuas tertentu. Freud yakin bahwa seluruh peradaban manusia seperti terwujud dalam seni, politik, ekonomi dan lain-lain adalah hasil dari proses pemindahan naluri hidup atau naluri seks dan cinta.
Pemindahan dorongan/naluri seksual kepada obyek-obyek yang tidak berhubungan sama sekali dengan masalah genital merupakan wujud kreativitas yang luar biasa. Dorongan tersebut diinvestasikan dalam obyek pemuas tertentu. Freud yakin bahwa seluruh peradaban manusia seperti terwujud dalam seni, politik, ekonomi dan lain-lain adalah hasil dari proses pemindahan naluri hidup atau naluri seks dan cinta.
3. Analisis.
Berdasarkan pemikiran Freud tersebut makalah ini mencoba memperhatikan novel Kremil karya Suparto Brata, terbitan Pustaka Pelajar, 2002.
Kremil berlatar belakang kehidupan sosial pada masa pemberontakan PKI Madiun dan sesudahnya (hal. 114-117). Marini adalah anak seorang yang membenci PKI (hal. 115). Suatu ketika Marini tahu bahwa Ayah, ibu dan adik-adiknya telah dibunuh PKI (hal. 119). Cerita selanjutnya adalah usaha Marini dalam mencari pembunuh keluarganya. Dalam pencariannya Marini memakai berbagai nama samaran antara lain Suyati. Pencariannya difokuskan di kompleks pelacuran antara lain di Silir dan Kremil. Novel ini banyak menceritakan kehidupan orang-orang di kompleks pelacuran daripada kehidupan Suyati sendiri. Seolah-olah pengarang ingin mengekspos kehidupan di sebuah kompleks pelacuran*1), baik mengenai pelacurnya, induk semangnya, maupun keluarga induk semang yang terdiri dari suami, anak, dan pembantunya.
Suyati tinggal di Kremil dalam rangka melampiaskan nafsunya mencari pembunuh keluarganya. Dia menyamar menjadi seorang gadis yang lugu dan tidak memahami kehidupan kompleks pelacuran. Dalam keluguannya, Suyati mencoba mengorek keterangan dan memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang datang ke Kremil. Dengan tingkah laku yang lugu, Suyati berhasil hidup di Kremil tanpa harus turut menjajakan diri. Sampai akhir cerita, Suyati masih suci, belum terjamah laki-laki (hal. 746).
“Aku belum pernah menerima tamu!.... aku selamat bertempat tinggal di kompleks pelacuran, tetapi tidak melacurkan diri.”
(Hal. 772).
Pengarang seolah-olah memaksakan diri untuk membawa Suyati menuju Kremil. Tanpa ada cerita pendahuluan bahwa pembunuhnya sering menuju ke tempat pelacuran, pengarang tiba-tiba menggambarkan bahwa Suyati dalam pencariannya selalu keluar masuk kompleks pelacuran. Alasan satu-satunya yang diungkapkan adalah bahwa orang yang dicurigai membunuh, Busro alias Sugeng yang tidak lain adalah sepupunya dan Herman selalu mencari tempat penginapan aman di tempat lokalisasi WTS. Hal tersebut berdasarkan pemikiran Suyati sendiri dan tidak diperkuat dengan cerita lain yang mendukung pemikiran Suyati. Alasan tersebut kurang kuat mengingat masih banyak tempat yang lebih aman dibandingkan lokalisasi WTS. Selain itu tidak disebutkan pula bagaimana Suyati bisa tahu bahwa Busro sering menginap di lokalisasi. Pengarang seakan-akan mengajak kepada sebuah pemikiran bahwa segala sesuatu tindakan manusia akan bersinggungan dengan kehidupan seksual dalam arti seksualitas genital.
(Hal. 772).
Pengarang seolah-olah memaksakan diri untuk membawa Suyati menuju Kremil. Tanpa ada cerita pendahuluan bahwa pembunuhnya sering menuju ke tempat pelacuran, pengarang tiba-tiba menggambarkan bahwa Suyati dalam pencariannya selalu keluar masuk kompleks pelacuran. Alasan satu-satunya yang diungkapkan adalah bahwa orang yang dicurigai membunuh, Busro alias Sugeng yang tidak lain adalah sepupunya dan Herman selalu mencari tempat penginapan aman di tempat lokalisasi WTS. Hal tersebut berdasarkan pemikiran Suyati sendiri dan tidak diperkuat dengan cerita lain yang mendukung pemikiran Suyati. Alasan tersebut kurang kuat mengingat masih banyak tempat yang lebih aman dibandingkan lokalisasi WTS. Selain itu tidak disebutkan pula bagaimana Suyati bisa tahu bahwa Busro sering menginap di lokalisasi. Pengarang seakan-akan mengajak kepada sebuah pemikiran bahwa segala sesuatu tindakan manusia akan bersinggungan dengan kehidupan seksual dalam arti seksualitas genital.
Pengarang--------Seksualitas----------Pembaca
-pemikiran
-tindakan
-pemikiran
-tindakan
Suyati sadar betul bahwa pencariannya harus melalui pelacuran atau setidaknya melalui tempat pelacuran. Dia tidak berpikir untuk mencari tempat di mana PKI berkumpul atau mencari informasi pada orang-orang yang tahu tentang gerakan PKI. Pada pikirnya terarah pada hal-hal yang berbau seks. Padahal jelas diketahui bahwa Suyati tidak berpengalaman dalam bidang seksualitas sama halnya dengan ketidaktahuannya tentang dunia politik. Dia hanyalah anak seorang aktivis PNI yang pada saat itu masih sekolah. Pola pikir yang dekat sebenarnya lebih kepada pencarian di tempat-tempat lain yang jauh dari hal-hal yang berbau seks.
Dengan demikian jelas bahwa kepergian Suyati ke Kremil adalah ambisi pengarang yang dipaksakan untuk mendekatkan setiap sisa kegiatan manusia kepada naluri seksualitas. Di dalam novel tersebut juga diceritakan bahwa orang yang datang ke Kremil bervariasi mulai dari wartawan, sarjana, orang asing, polisi, pegawai negeri dan lain-lain. Selain itu diceritakan bahwa Kremil bukan hanya tempat mencari rezeki bagi saudagar seks, perempuan jalang. Kremil juga tempat mencari rezeki bagi pedagang yang jujur, hidup suci dan suka bekerja, jual-beli sesuatu yang sesuai dengan hukum ekonomi. Pengarang mencoba mendekatkan lagi kreatifitas seseorang yang menuju kepada pemuasan ke obyek lain dibawa kepada hal-hal yang berdekatan dengan seksualitas.
Obyek Nongenital
Naluri Seksual
Tindakan-tindakan
tokoh dalam Kremil
Naluri Seksual
Tindakan-tindakan
tokoh dalam Kremil
Suyati mempunyai ambisi, mempunyai hasrat, mempunyai nafsu untuk mencari pembunuh keluarganya. Nafsu dan hasrat tersebut berasal dari Id yang menurut Freud adalah penjelmaan dari naluri seksualitas. Keluarga Suyati, ayah, ibu dan adiknya merupakan orang-orang yang mampu memuaskan libidonya atau energi seksualnya. Ibu adalah salah satu orang yang menjadi tumpuan pelepasan libidonya pada saat prenatal sampai dia terlahir, bahkan sampai ia dewasa dengan melalui sejumlah tahapan psikoseksual. Pada setiap tahapan perkembangan libido harus tersalurkan lewat daerah erogen tertentu. Suyati yang saat itu sekolah di Madiun yang jauh dari rumah orang tuanya merasa rindu untuk segera bertemu (hal. 101-102). Kerinduannya pada orang-orang yang bisa dijadikan curahan libidonya setelah melalui proses pengalihan dari ketergantungannya kepada ibu, terhambat ketika mengetahui bahwa keluarganya tidak ada. Suyati yang masih usia sekolah itu masih memerlukan pemuasan yang lebih dari orang tua dan keluarganya tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang menghalanginya (anti kateksis). Hal tersebut membuat dia frustrasi dan menimbulkan investasi libido berlebih pada daerah erogen bersangkutan*2). Investasi yang berlebih tersebut kemudian muncul berupa dendam kesumat pada orang-orang yang telah menghalangi/memutus hubungannya dengan obyek pemuasnya. Hal ini seolah-olah mengulang kejadian pada saat bayi ketika pertama kali dia diputus dengan ASI (air susu ibu) atau tidak boleh menetek lagi. Frustrasinya pada saat itu diwujudkan dalam tangisan yang keras dan akhirnya mendapat obyek pemuas lain berupa dot.
Dendam kesumat Suyati yang merupakan wujud dan terhambatnya penyaluran libido yang merupakan penjabaran dari naluri seksualnya dimanfaatkan oleh pengarang untuk dijadikan alasan mendekatkan Suyati ke kompleks pelacuran. Pengarang mengajak pembaca untuk mengembalikan hakikat dendam kesumat kepada naluri seksualitas dalam arti genital. Sebagian besar novel menceritakan kehidupan di Kremil tempat Suyati berada. Meskipun Suyati tidak menjadi pelacur, tetapi dari tingkah lakunya dan tingkah laku orang-orang di sekitarnya membuat pembaca berasumsi bahwa pada akhirnya nanti Suyati pasti akan terjerumus menjadi pelacur.
“Tapi jangan dulu dikaryakan, lo, tante. Saya masih.....!” sela Sueb
(Hal. 5).
“Saya melihat wajah ayu di balik rambutnya yang kusut dengan pita merahnya yang kusam. Makanya aku tadi langsung terima. Ia bakal menjadi bunga yang molek,” ujar Bu Tinny.
(Hal. 8).
Perkataan Sueb, orang yang mengatur Suyati ke Kremil dan Bu Tinny, pemilik kedai tersebut membawa asumsi bahwa kelak Suyati akan dikaryakan.
“Tapi jangan dulu dikaryakan, lo, tante. Saya masih.....!” sela Sueb
(Hal. 5).
“Saya melihat wajah ayu di balik rambutnya yang kusut dengan pita merahnya yang kusam. Makanya aku tadi langsung terima. Ia bakal menjadi bunga yang molek,” ujar Bu Tinny.
(Hal. 8).
Perkataan Sueb, orang yang mengatur Suyati ke Kremil dan Bu Tinny, pemilik kedai tersebut membawa asumsi bahwa kelak Suyati akan dikaryakan.
Asumsi tersebut tidak berlebihan mengingat ada beberapa tokoh yang terjerumus dalam pelacuran karena frustrasi atau akibat dari adanya anti kateksis. Seperti halnya tokoh Ningsih. Dia melakukan kegiatan pelacuran karena dipaksa menikah oleh ibunya yang berarti dia harus menyalurkan libidonya pada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Penyaluran libido yang ditahan dan ditekan ini akhirnya menumpuk dan dibawanya ke Kremil untuk dilampiaskan. Libido yang diinginkan Ningsih pada saat itu mungkin bukan dalam arti seksual genital (sayang tidak diketahui usia Ningsih sehingga tidak bisa menentukan tahap perkembangan psikoseksualnya), tetapi begitu menumpuk, oleh pengarang dibawa kepada asal muasal yaitu pemuasan dalam arti seksual genital. Ningsih melampiaskan frustrasinya kepada pemuasan seksual (senggama). Ada hal menarik dalam novel ini sehubungan dengan psikoseksual yaitu ketika Ningsih bertemu dengan ayahnya, Brono, untuk yang pertama kali setelah sekian lama tidak berjumpa.
Ningsih menyerbu, menubruk, memeluk, menciumi, segala hal yang selama ini dianggap aneh, tak masuk akal bakal terjadi......
Brono lupa segala ikatan sopan santun, tiba-tiba membalas pelukan Ningsih dengan ganti memeluk, dan menciumi wajah itu. Ningsih tidak mencegah atau menghindar, bahkan memacu. Boleh! Tidak ada yang melarang! Brono menemukan kenikmatan luar biasa. Bukankah bertemu putrinya itu yang dirindukannya selama ini? Ingin bertemu, melihat, berdekatan, berbincang, bersentuhan, memeluknya, menciumnya, menjilatnya, menggigitnya, menelannya. Oh, inilah buah rindu. Ketika bibir mereka bersentuhan, Ningsih menyerang mengecupnya, dan Brono menyerang juga, menyedot dan mencepitnya..... Dengan gerakan dan perbuatannya seperti yang dilakukannya sekarang, ia menemukan kepuasan.
(Hal. 462)
Tindakan yang dilakukan anak-bapak tersebut adalah pelampiasan dari penumpukan libido yang terhambat sekian lama yaitu berupa keinginan atau nafsu untuk bertemu dengan ayah/anaknya. Libido atau nafsu untuk berjumpa yang pada dasarnya adalah pemindahan atas obyek pemuas selain seksual tersebut ketika keduanya bertemu, menemukan obyek pemuasnya, maka terjadilah perbuatan atau tindakan yang mirip dengan tingkah laku pemuasan seksual genital. Ayahnya yang merupakan pemindahan obyek pemuasan setelah ibunya tidak lagi bisa dijadikan curahan pemuasan karena memaksanya menikah telah dia temukan setelah sekian lama tertahan. Hubungan ayah dan anak telah dikaburkan menjadi hubungan lawan jenis yang merupakan sasaran utama energi seksual sebelum dipindahkan kepada pemuas lain selain seks. Ningsih yang sudah lama melacur dan ayah yang sudah lama tidak melakukan hubungan seksual semenjak istrinya meninggal adalah orang-orang yang sedang dalam tahap perkembangan psikoseksual genital. Mereka adalah sosok manusia paling sempurna dalam teori Freudian (LPUI, 2000:6). Mereka dengan karakter ini telah berhasil mengembangkan hubungan sosial-seksual yang matang dalam cinta heteroseksual. Tindakan Ningsih dan ayahnya ini semata-mata memuaskan libido/nafsu ingin bertemu tetapi karena keduanya telah mencapai pada tahap genital maka tindakannya seolah-olah merupakan tindakan hubungan seksual. Pemuasan untuk bertemu telah dikalahkan oleh kekuatan naluri seksualnya. Ningsih yang saat menjalani tahap laten adalah frustrasi terhadap ibunya mengarahkan tumpukan libidonya ke Kremil sehingga pada saat dewasa, pribadi yang terbentuk adalah pemuasan libido melalui hubungan seksual (senggama). Hal itu terwujud dalam hampir setiap segi hidupnya, bahkan kepada ayahnya sendiri. Mengenai hubungan antara anak perempuan dengan orangtua laki-laki Freud telah membahasnya dalam kerangka Oedipus.
Ningsih menyerbu, menubruk, memeluk, menciumi, segala hal yang selama ini dianggap aneh, tak masuk akal bakal terjadi......
Brono lupa segala ikatan sopan santun, tiba-tiba membalas pelukan Ningsih dengan ganti memeluk, dan menciumi wajah itu. Ningsih tidak mencegah atau menghindar, bahkan memacu. Boleh! Tidak ada yang melarang! Brono menemukan kenikmatan luar biasa. Bukankah bertemu putrinya itu yang dirindukannya selama ini? Ingin bertemu, melihat, berdekatan, berbincang, bersentuhan, memeluknya, menciumnya, menjilatnya, menggigitnya, menelannya. Oh, inilah buah rindu. Ketika bibir mereka bersentuhan, Ningsih menyerang mengecupnya, dan Brono menyerang juga, menyedot dan mencepitnya..... Dengan gerakan dan perbuatannya seperti yang dilakukannya sekarang, ia menemukan kepuasan.
(Hal. 462)
Tindakan yang dilakukan anak-bapak tersebut adalah pelampiasan dari penumpukan libido yang terhambat sekian lama yaitu berupa keinginan atau nafsu untuk bertemu dengan ayah/anaknya. Libido atau nafsu untuk berjumpa yang pada dasarnya adalah pemindahan atas obyek pemuas selain seksual tersebut ketika keduanya bertemu, menemukan obyek pemuasnya, maka terjadilah perbuatan atau tindakan yang mirip dengan tingkah laku pemuasan seksual genital. Ayahnya yang merupakan pemindahan obyek pemuasan setelah ibunya tidak lagi bisa dijadikan curahan pemuasan karena memaksanya menikah telah dia temukan setelah sekian lama tertahan. Hubungan ayah dan anak telah dikaburkan menjadi hubungan lawan jenis yang merupakan sasaran utama energi seksual sebelum dipindahkan kepada pemuas lain selain seks. Ningsih yang sudah lama melacur dan ayah yang sudah lama tidak melakukan hubungan seksual semenjak istrinya meninggal adalah orang-orang yang sedang dalam tahap perkembangan psikoseksual genital. Mereka adalah sosok manusia paling sempurna dalam teori Freudian (LPUI, 2000:6). Mereka dengan karakter ini telah berhasil mengembangkan hubungan sosial-seksual yang matang dalam cinta heteroseksual. Tindakan Ningsih dan ayahnya ini semata-mata memuaskan libido/nafsu ingin bertemu tetapi karena keduanya telah mencapai pada tahap genital maka tindakannya seolah-olah merupakan tindakan hubungan seksual. Pemuasan untuk bertemu telah dikalahkan oleh kekuatan naluri seksualnya. Ningsih yang saat menjalani tahap laten adalah frustrasi terhadap ibunya mengarahkan tumpukan libidonya ke Kremil sehingga pada saat dewasa, pribadi yang terbentuk adalah pemuasan libido melalui hubungan seksual (senggama). Hal itu terwujud dalam hampir setiap segi hidupnya, bahkan kepada ayahnya sendiri. Mengenai hubungan antara anak perempuan dengan orangtua laki-laki Freud telah membahasnya dalam kerangka Oedipus.
Tindakan pertemuan Ningsih dan ayahnya dalam memuaskan libidonya tersebut ternyata berbeda dengan Suyati ketika bertemu dengan Busro dan Herman. Hal ini dapat dilihat pada masa tahap laten keduanya yang memang berbeda. Suyati dan Ningsih ketika mengalami pemutusan hubungan dengan obyek pemuasnya sama-sama dalam masa tahap laten yaitu tahap yang tidak terlalu berhubungan dengan erogen tertentu tetapi merupakan tahap yang penting sebagai penentu tindakan atau sifat kepribadian selanjutnya ~ dewasa. Perbedaannya adalah pada tindakan dalam rangka mencari obyek pemuas pengganti. Kalau Ningsih menyalurkan kekecewaannya pada hubungan seksual, bukan pada yang menghambat ~ ibunya, sedangkan Suyati melampiaskannya pada dendam kesumat yang diarahkan pada orang yang membunuh ayahnya ~ orang yang menghambat.
Suyati yang tinggal di Kremil akhirnya tidak menjadi pelacur karena memang kepuasannya tidak diarahkan ke seksual melainkan kepada balas dendam.
Maka pertemuan antara Suyati dengan Busro dan Herman sangat berkebalikan dengan pertemuan antara Ningsih dan ayahnya.
Suyati yang berteriak-teriak telah sampai di halaman, mengejar becak-becak, terus kian mendekat…
… Suro yang tinggi besar, menyentak melepaskan diri dari polisi, langsung menyerang Suyati yang kecil mungil. Heru berbuat sama membantu menyerang Suyati. Suro hampir saja menggapai dan mencekik leher Suyati. Tetapi Suyati bukan perempuan yang lemah mulus. Bagaikan terbang ia menyepak kemaluan Suro, dan saat berikutnya ia menjatuhkan diri kakinya menggait kaki Heru. Suro mundur sejajar kesakitan memegangi pangkal pahanya, dan Heru jatuh terjerembab mencium tanah. Keduanya tidak mengira bakal mendapat perlawanan begitu ganas. Polisi segera bertindak menangkapnya. Tapi sebelum tawanan tertangkap, terdengar tembakan pistol dua kali. Suro menggeliat, dan jatuh terduduk. Kaki dan lututnya kena tembak. Berdarah. Lumpuh.
(Hal. 745 – 746)
Demikianlah pertemuan Suyati dengan Busro dan Herman yang menyamar menjadi Suro dan Heru. Sangat berbeda dengan pertemuan antara Ningsih dan ayahnya meskipun keduanya sama-sama puas. Sama-sama melepaskan libidonya yang selama ini tertahan. Meskipun berbeda, tetapi Ningsih dan Suyati sama-sama tinggal di Kremil, tempat pelampiasan nafsu seksual. Dengan demikian keduanya tidak berada jauh dari kehidupan naluri seksual genital.
Dari sudut pengarang dapat ditafsirkan bahwa pengarang ingin mengajak pembaca untuk melihat bahwa setiap segi kehidupan baik itu ekonomi, politik, sosial selalu berdekatan dengan naluri seksual seperti penjabaran Freud tentang teori seksualitas. Hal demikian diakui oleh pengarang dengan menuliskan bahwa Kremil (baca: Naluri Seksual) adalah tempat manusia-manusia yang kalah dan tersingkir dari percaturan hidup (terhambat dalam upaya mencapai pemuasannya), tetapi mereka tidak menyerah dan berjuang untuk tetap hidup senang dan damai (mencari obyek pemuas lain, displacement).
Suyati yang tinggal di Kremil akhirnya tidak menjadi pelacur karena memang kepuasannya tidak diarahkan ke seksual melainkan kepada balas dendam.
Maka pertemuan antara Suyati dengan Busro dan Herman sangat berkebalikan dengan pertemuan antara Ningsih dan ayahnya.
Suyati yang berteriak-teriak telah sampai di halaman, mengejar becak-becak, terus kian mendekat…
… Suro yang tinggi besar, menyentak melepaskan diri dari polisi, langsung menyerang Suyati yang kecil mungil. Heru berbuat sama membantu menyerang Suyati. Suro hampir saja menggapai dan mencekik leher Suyati. Tetapi Suyati bukan perempuan yang lemah mulus. Bagaikan terbang ia menyepak kemaluan Suro, dan saat berikutnya ia menjatuhkan diri kakinya menggait kaki Heru. Suro mundur sejajar kesakitan memegangi pangkal pahanya, dan Heru jatuh terjerembab mencium tanah. Keduanya tidak mengira bakal mendapat perlawanan begitu ganas. Polisi segera bertindak menangkapnya. Tapi sebelum tawanan tertangkap, terdengar tembakan pistol dua kali. Suro menggeliat, dan jatuh terduduk. Kaki dan lututnya kena tembak. Berdarah. Lumpuh.
(Hal. 745 – 746)
Demikianlah pertemuan Suyati dengan Busro dan Herman yang menyamar menjadi Suro dan Heru. Sangat berbeda dengan pertemuan antara Ningsih dan ayahnya meskipun keduanya sama-sama puas. Sama-sama melepaskan libidonya yang selama ini tertahan. Meskipun berbeda, tetapi Ningsih dan Suyati sama-sama tinggal di Kremil, tempat pelampiasan nafsu seksual. Dengan demikian keduanya tidak berada jauh dari kehidupan naluri seksual genital.
Dari sudut pengarang dapat ditafsirkan bahwa pengarang ingin mengajak pembaca untuk melihat bahwa setiap segi kehidupan baik itu ekonomi, politik, sosial selalu berdekatan dengan naluri seksual seperti penjabaran Freud tentang teori seksualitas. Hal demikian diakui oleh pengarang dengan menuliskan bahwa Kremil (baca: Naluri Seksual) adalah tempat manusia-manusia yang kalah dan tersingkir dari percaturan hidup (terhambat dalam upaya mencapai pemuasannya), tetapi mereka tidak menyerah dan berjuang untuk tetap hidup senang dan damai (mencari obyek pemuas lain, displacement).
Suyati #Tidak bisa bertemu dengan Marah. Bertemu/menemukan
keluarganya karena Datang ke Kremil untuk mencari pembunuh keluarganya.
keluarganya dibunuh orang. pembunuh keluarganya.
Berdampingan dengan aktivitas
seksual genital.
Kedua tokoh terseut, Suyati dan Ningsih merupakan individu-individu yang mengalami kekecewaan berat akibat terputus dengan sesuatu yang membuat mereka bahagia (baca: puas). Mereka sedang dalam masa peralihan dari masa kanak-kanak, remaja, menuju dewasa atau dalam istilah Victor Turner mereka sedang dalam kawasan liminal dari dunia yang berbeda. Suyati atau Marini yang sudah rindu ingin bertemu dengan keluarganya tidak kesampaian, maka pemberontakan timbul dari dalam dirinya. Demikian halnya dengan Ningsih yang sedang berada dalam masa pacaran/bersenang-senang dengan keluarga dan lawan jenis yang dicintainya harus tertahan dan terhambat karena ibunya memaksanya kawin dengan orang yang tidak dicintainya. Ibu yang seharusnya menjadi curahan kasih sayang, pelindung, dan tempat menumpahkan segala kerinduannya tiba-tiba menjadi seorang yang menjengkelkan dan mengerikan. Situasi yang dihadapi Ningsih dan Marini ini sebenarnya pernah mereka rasakan pada saat mereka terputus dari ASI untuk pertama kali. Saat itu mereka hanya bisa menangis dan meronta. Namun kali ini mereka mampu berbuat lain. Pelarian Ningsih ke pelacuran merupakan pengembalian wujud hakikat seksualitas. Dokter Naek L. Tobing dalam salah satu wawancara di sebuah stasiun televisi pernah mengatakan bahwa ada sebagian orang yang ketika mengalami stress, bingung ataupun sedang menghadapi masalah besar, mereka melakukan hubungan seksual (melakukan aktivitas seksual genital) untuk mengurangi ketegangan. Demikian halnya dengan Ningsih.
***
Daftar Pustaka
Brata, Suparto 2002. Kremil. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hartono, Budi. 2000. “Dasar-Dasar Psikoanalisa Freudian” dalam Bahan
Pelatihan Psikoanalisa. Jakarta: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.
Max Milner. 1992. Freud dan Interpretasi Sastra. Jakarta: Intermasa.
Sumber lain.
Catatan kaki:
*1) Istilah pelacur dan pelacuran sebenarnya tidak begitu pantas ditulis dalam makalah ini karena mengandung suasana emotif dan menjaga jarak. Namun karena sulitnya mencari padanan kata yang ringkas maka kata ini digunakan dengan kesadaran penuh tanpa suasana emosi.
*2) Manurut teori Freud usia seumuran Suyati pada saat ia pulang sekolah tersebut termasuk dalam tahap perkembangan psikoseksual laten, yaitu usia 6 atau 7 tahun hingga awal masa remaja. Sayangnya Freud mengatakan bahwa pada tahap ini tidak terkait dengan daerah erogen tertentu. Namun Freud menyatakan bahwa tahap ini adalah tahap yang penting karena merupakan tanggul penentu kehidupan selanjutnya.
Hartono, Budi. 2000. “Dasar-Dasar Psikoanalisa Freudian” dalam Bahan
Pelatihan Psikoanalisa. Jakarta: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.
Max Milner. 1992. Freud dan Interpretasi Sastra. Jakarta: Intermasa.
Sumber lain.
Catatan kaki:
*1) Istilah pelacur dan pelacuran sebenarnya tidak begitu pantas ditulis dalam makalah ini karena mengandung suasana emotif dan menjaga jarak. Namun karena sulitnya mencari padanan kata yang ringkas maka kata ini digunakan dengan kesadaran penuh tanpa suasana emosi.
*2) Manurut teori Freud usia seumuran Suyati pada saat ia pulang sekolah tersebut termasuk dalam tahap perkembangan psikoseksual laten, yaitu usia 6 atau 7 tahun hingga awal masa remaja. Sayangnya Freud mengatakan bahwa pada tahap ini tidak terkait dengan daerah erogen tertentu. Namun Freud menyatakan bahwa tahap ini adalah tahap yang penting karena merupakan tanggul penentu kehidupan selanjutnya.
Tags:
Lain-lain
KONTELASI DONYANE WONG CULIKA DALAM DUNIA PENERBITAN SASTRA JAWA
DONYANE WONG CULIKA, NOVEL BHS JAWA 537 HALAMAN
(NEGERINYA ORANG-ORANG CULAS). NARASI YOGJA. 2004
Dalam sejarahnya, sastra Jawa dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan dunia (Hindu, Islam, dan Barat). Beberapa kebudayaan itu dapat diasimilasikan sehingga keberadaannya menjadi lebih semarak. Hasil karya sastra Jawa yang terpengaruh oleh kebudayaan Hindu terdapat di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada masa ini, muncul parwa-parwa dan kakawin Mahabarata dan Ramayana dengan bahasa Jawa Kuna. Periode ini meliputi zaman Sindok, Airlangga, Mamenang, Jenggala, dan Singasari.
Pada abad ke-14 Masehi, terus mengalami perkembangan. Pada kurun waktu tersebut, sastra Jawa memasuki Zaman Pertengahan dan unsur-unsur baru mulai berpengaruh (di samping kebudayaan Hindu). (Darusuprapta, 1990;76). Hasil karya sastra Jawa yang muncul pada masa ini, antara lain Nagarakartagama karya Prapanca, Arjunawijaya karya Tantular, Pararaton. Ketika Islam mulai masuk ke Jawa (sekitar abad ke-15 Masehi), khazanah sastra Jawa pun terpengaruh oleh kebudayaan Islam. Pada masa ini, muncul karya sastra Jawa berupa suluk dan kitab-kitab keagamaan Islam, misalnya Serat Suluk karya para wali.
Pada zaman Mataram, kurang lebih abad ke-17 Masehi, sastra Jawa makin berkembang. Tidak hanya para pujangga, tetapi para bangsawan juga banyak yang menggubah karya sastra dengan bermacam-macam isi. Pengaruh sastra Jawa pada masa ini menembus ke tanah Pasundan, Cirebon, Banten, dan Madura. Karya-karya sastra yang lahir pada zaman ini, misalnya Nitipraja, karya Sultan Agung, Pranacitra karya Ranggajanur.
Memasuki akhir abad ke-19 Masehi, khazanah sastra Jawa memasuki babak baru, terutama karena pengaruh kebudayaan Barat (Eropa) dan kemudian lebih dikenal sebagai masa sastra Jawa modern. Pada masa sastra Jawa modern ini, sastra Jawa dibagi dalam dua masa, yaitu masa kebangkitan dan masa kemerdekaan. Masa kebangkitan dimulai tahun 1832 sampai dengan tahun 1945, yaitu ketika Institut Bahasa Jawa (lembaga pendidikan bahasa Jawa formal yang pertama kali, bertempat di Surakarta) memulai kegiatannya dengan menerbitkan tulisan C.F.Winter, Candranegara, Suryawijaya, Padmasusastra (Darusuprapta, 1990;72). Kegiatan kebahasaan dan kesastraan Jawa kemudian berlanjut sampai dengan masa penerbit Balai Pustaka, yang sebelumnya bernama Commissie voor de inslandsche School en Volkslectuur (didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908). Penerbit tersebut sangat besar peranannya dalam perkembangan sastra Jawa. Namun, pengaruh itu, sedikit demi sedikit menyurut seirama dengan perubahan zaman, khususnya semenjak Indonesia merdeka.
Pada masa kemerdekaan, sastra Jawa memasuki periode perkembangan bebas ditandai dengan berkembangnya novel, cerita pendek, puisi bebas. Pada tataran ini, sastra Jawa didukung oleh angkatan kasepuhan (sebelum 1945), angkatan perintis (tampil 1945), dan angkatan penerus (tampil 1960). Kemudian tahap berikutnya, yaitu periode sastra majalah (1966). Dengan kata lain, pada tahapan ini sastra Jawa lebih bertumpu pada majalah dan surat kabar, karena penerbit buku (terutama Balai Pustaka) sudah tidak mempedulikan lagi keberadaan sastra Jawa (lihat Hutomo, 1975). Antara tahun 1966 – 1970-an, sastra Jawa mengalami masa kritis, khususnya setelah terjadinya pembreidelan buku sastra Jawa oleh Komres Surakarta (Operasi Tertib Remaja II Sala) pada tahun 1971 *1). Dalam catatan sejarah sastra Jawa, pembreidelan itu muncul sebagai akibat adanya penilaian (oleh pihak aparat keamanan negara-polisi) bahwa buku-buku sastra Jawa yang beredar dinilai meresahkan masyarakat karena isinya dinilai berbau pornografi. Keadaan ini membuat kegiatan sastra Jawa agak sepi. Tamsir AS (1991;4) mengatakan bahwa pengarang yang mempunyai kekuatan pena di masa-masa setelah kejadian itu mulai berkurang, misalnya Poerwadie Atmodiharjo, Sri Hadidjojo, Any Asmara, Widi Widayat, Esmiet, Suparto Brata, dan beberapa orang penulis lain yang sesekali muncul kemudian tenggelam tidak ada kabar beritanya.
Bangkitnya kembali sastra Jawa setelah masa suram itu didukung oleh hasil Sarasehan Sastra Jawa di Sasanamulya Surakarta, pada awal dekade 1980-an. Pada dekade 1980-an sampai menjelang akhir dekade 1990-an pertumbuhan sastra dan pengarang Jawa justru sangat pesat. Hal ini dapat dilacak lewat tulisan di berbagai media massa berbahasa Jawa yang masih bertahan hidup (Penjebar Semangat, JayaBaya, Djaka Lodang, Mekar Sari, Jawa Anyar, Panakawan, Pustaka Candra, dsb) *2) maupun lewat penerbitan-penerbitan buku sastra Jawa oleh penerbit yang masih “peduli” terhadap sastra Jawa *3). Karya sastra Jawa yang diterbitkan dalam bentuk buku, meliputi jenis prosa (gancaran) yang berbentuk novel, kumpulan cerita pendek, dan drama, serta yang berjenis puisi (geguritan), baik yang diterbitkan oleh penerbit komersial maupun penerbit pribadi.
Penerbitan pribadi? Dibiayai pribadi oleh si pengarang? Ya. Memang itu yang terjadi sekarang dalam dunia sastra Jawa. Mengapa dapat terjadi?
Merunut kembali keadaan perbukuan sastra Jawa, kita dapat menengok kembali beberapa tahun yang lalu. Sekitar akhir tahun 1980-an, maecenas penerbitan sastra daerah (termasuk sastra Jawa) di Indonesia ~ Balai Pustaka ~ sudah tidak lagi terlibat aktif penerbitan buku-buku sastra daerah. Badan penerbitan milik pemerintah Republik Indonesia itu, lebih condong menerbitkan buku-buku berbahasa Indonesia atau buku-buku pelajaran. Hal itu dapat dimengerti karena setiap penerbit (walaupun milik pemerintah RI) tetap tidak mau merugi, walau demi memajukan kebudayaan bangsanya. Barangkali, menerbitkan buku-buku sastra Jawa artinya sama dengan membuat proyek merugi. Akhirnya, dalam jangka sepuluh tahun kemudian, sastra daerah ~ termasuk Jawa ~ benar-benar sudah tidak lagi menarik Balai Pustaka. Saat itulah para pengarang sastra Jawa mulai merasakan bahwa kehidupan perbukuan sastra sudah berakhir. Mereka menganggap dunia penerbitan yang dikelola swasta tentu tidak akan mau mengambil resiko merugi dengan menerbitkan sastra Jawa, karena penerbit yang dibiayai pemerintah saja sudah enggan dengan sastra Jawa. Pilihan satu-satunya bagi pengarang sastra Jawa dalam mempublikasikan sastra Jawa hanya tinggal di majalah berbahasa Jawa (jenis cetak) dan di radio (untuk lisan). Penerbitan seperti ini tentu sifatnya hanya sesaat.
Peristiwa yang sama diulanginya lagi ketika ia menerbitkan Donyane Wong Culika. Buku ini dimodali Suparto Brata sebesar 8.000.000,00 rupiah. Diterbitkan oleh Penerbit Narasi, Yogyakarta. Kedua penerbit itu, sama-sama mengaku tidak berani menerbitkan buku sastra Jawa, karena dinilai tidak komersial dan sulit dijual *5). Ketakutan ini juga sangat disadari oleh Suparto brata. Oleh karena itu, ia berusaha untuk tidak tenggelam dalam dunia penerbitan buku walaupun para penerbit buku sudah “enggan bersahabat” dengan sastra Jawa. Dalam salah satu suratnya kepada saya, beliau menyampaikan alasan mengapa bersedia “bersusah-payah” untuk merugi demi sastra Jawa:
“Kula kedah tanggung jawab. Salah satunggilipun ngudi nerbitaken buku sastra Jawa. Ngantos sapriki pranyata taksih angel sanget para penerbit ingkang kersa nerbitaken buku sastra Jawa. Margi sastra Jawi pancen mboten kumedol, para penerbit mesthi rugi. Mila kula lan Mas Hoery *6) lajeng kumawantun sarana wudhu kangge nerbitaken buku sastra Jawa menika….. Kula langkung ngajengaken sastra Jawi menika ugi sastra dunia, sageda dipunwaos tiyang sakdonya. Kanthi mekaten, sastra Jawi tetep eksis ing saputeripun donya abad menika. Pramila, mugi-mugi penjenengan taksih kemutan, Donyane Wong Culika rumiyin kula suwun dipuntawekaken dhateng Pak Mas’ud, margi Pak Mas’ud sampun berjasa nerbitaken Trem ingkang pranyata sampun beredar bawera….. Ingkang pokok, nyebaraken buku menika sabawera-baweranipun. Kula betah para maos. Yen namung saged mbandhani nanging mboten saged nggiyaraken, rak sami kaliyan Parikesit.” *7)
Dari paparan tersebut, tampak bahwa Suparto Brata dalam menerbitkan buku-bukunya, baik Trem maupun Donyane Wong Culika, bukan karena uang atau hadiah, tetapi keinginannya untuk mewujudkan sastra Jawa sebagai sastra buku dan sastra dunia. Jika dilihat dari kacamata saat ini, tindakannya tersebut dapat dinilai sebagai suatu langkah “gila” dan tak masuk akal. Jika kebanyakan pengarang Jawa (maupun pengarang Indonesia) sibuk mencari honor, sebaliknya Suparto Brata sibuk “membuang” uangnya demi sastra Jawa. Suatu langkah berani Suparto Brata melawan arus zaman yang tidak memihak kepada sastra Jawa di era kapitalisme.
Suparto Brata, lewat Donyane Wong Culika telah mampu membangun “suatu dunia yang sosiologis” dalam karya sastra. Bahkan, ia telah mampu “merekam” suatu dunia pedesaan Jawa di Pesisir Selatan Tanah Jawa (Kedu, Purworejo). Saya, yang tempat tinggalnya di pedesaan dan bersebelahan dengan desa-desa yang menjadi latar Donyane Wong Culika, cukup memuji hal ini. Suparto Brata, dengan jeli mencatat desa Bangkuning, Sruwoh, Grabag, Jombang, Purwodadi, Magersari, Sangubanyu, Bagelen, Jenar, Kecamatan Ngombol, Pasar Njasa, Sungai Bogawanta, dan sebagainya sebagai kawasan yang pernah menjadi “daerah tragedi” sewaktu Partai Komunis sedang berkibar dan mengganas. Novel ini, dari sisi literer, menjadi sebuah “saksi dan catatan” tentang polah tingkah organ-organ Partai Komunis yang sangat menakutkan, misalnya BTI (Barisan Tani Indonesia):
“La ing kono Tukinem weruh Susmanta. Aktip. Ora aweh katrangan bab pigunane rabuk ZA maneh, ora menganggo sarwa putih maneh, nanging menganggo klambi sarwa ireng, kalungan kacu abang, menehi aba-aba baris pambengoke bantas, “Ganyang Kabir!” Susmanta nglatih baris ing Ngombol, pasukane pijer wira-wiri antarane Bangkuning-Magersari. Liwat Omah Cekli, liwat ngarepe tokone Tukinem. Pirang-pirang sore wong kuwi mimpin baris ing kono, kaya-kaya pamer kekuwatane, panguwasane. Wis pira wae dibon pidhato ing rapat raseksa neng Purwodadi, Jenar, Ngombol, Sruwoh. Biyen ngancam marang sing sok sapaa ora gelem tuku rabuk ZA ing Padi Sentra. Saiki ngancam wong sugih-sugih sing ora gelem ngedum sawahe marang rakyat! Semangate makantar-kantar. Jenenge sangsaya kerep disebut-sebut. Embuh kapan dadi petani, nanging dheweke kondhang dadi pengarepe Barisan Tani Indonesia (BTI). Dheweke ngojok-ojoki rakyat sing miskin, sing ora duwe tanah, dikon ngrebut tanahe wong sugih sing ora gelem mlebu dadi anggota barisane para tani sing dikuwasani lan diayomi! Tanah kuwi bandhane wong tani. Sing duwe asale ya wong tani. Mula kudu dadi kekuwatane wong tani mbangun uripe. Asile dipangan bebarengan sapadha-padha. Kahanane saiki ora mengkono, ora adil. Mula kudu direbut, diadili. Sing sugih kuwi wong-wong borjuis-kapitalis, wong srakah, kudu direncak. Rakyat nuntut keadilan!”
(DWC, hlm. 148)
Kawasan di beberapa desa yang disebutkan tersebut memang daerah pertanian yang dikenal dengan kejahatannya hingga saat ini. Jika tahun 1960-an karena ulah orang-orang Partai Komunis, sekarang karena ulah berandalan. Kawasan tersebut memang kawasan pertanian yang dapat dikatakan tidak surplus. Melalui Donyane Wong Culika, kita semua seperti diingatkan bahwa sebuah kawasan miskin dan jauh dari gemerlapan kota besar pun memiliki pesona ketika diangkat menjadi latar sebuah novel Jawa modern. Suasana yang dibangun di dalam novel itu juga terasa dan tercium baunya sebagai khas novel Jawa. *8).
(NEGERINYA ORANG-ORANG CULAS). NARASI YOGJA. 2004
KONTELASI DONYANE WONG CULIKA
DALAM DUNIA PENERBITAN SASTRA JAWA:
SEBUAH KEBERANIAN SUPARTO BRATA
Oleh
Drs. Dhanu Priyo Prabowo, M. Hum.
(Balai Bahasa Yogyakarta)
I.
DALAM DUNIA PENERBITAN SASTRA JAWA:
SEBUAH KEBERANIAN SUPARTO BRATA
Oleh
Drs. Dhanu Priyo Prabowo, M. Hum.
(Balai Bahasa Yogyakarta)
I.
Dalam sejarahnya, sastra Jawa dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan dunia (Hindu, Islam, dan Barat). Beberapa kebudayaan itu dapat diasimilasikan sehingga keberadaannya menjadi lebih semarak. Hasil karya sastra Jawa yang terpengaruh oleh kebudayaan Hindu terdapat di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada masa ini, muncul parwa-parwa dan kakawin Mahabarata dan Ramayana dengan bahasa Jawa Kuna. Periode ini meliputi zaman Sindok, Airlangga, Mamenang, Jenggala, dan Singasari.
Pada abad ke-14 Masehi, terus mengalami perkembangan. Pada kurun waktu tersebut, sastra Jawa memasuki Zaman Pertengahan dan unsur-unsur baru mulai berpengaruh (di samping kebudayaan Hindu). (Darusuprapta, 1990;76). Hasil karya sastra Jawa yang muncul pada masa ini, antara lain Nagarakartagama karya Prapanca, Arjunawijaya karya Tantular, Pararaton. Ketika Islam mulai masuk ke Jawa (sekitar abad ke-15 Masehi), khazanah sastra Jawa pun terpengaruh oleh kebudayaan Islam. Pada masa ini, muncul karya sastra Jawa berupa suluk dan kitab-kitab keagamaan Islam, misalnya Serat Suluk karya para wali.
Pada zaman Mataram, kurang lebih abad ke-17 Masehi, sastra Jawa makin berkembang. Tidak hanya para pujangga, tetapi para bangsawan juga banyak yang menggubah karya sastra dengan bermacam-macam isi. Pengaruh sastra Jawa pada masa ini menembus ke tanah Pasundan, Cirebon, Banten, dan Madura. Karya-karya sastra yang lahir pada zaman ini, misalnya Nitipraja, karya Sultan Agung, Pranacitra karya Ranggajanur.
Memasuki akhir abad ke-19 Masehi, khazanah sastra Jawa memasuki babak baru, terutama karena pengaruh kebudayaan Barat (Eropa) dan kemudian lebih dikenal sebagai masa sastra Jawa modern. Pada masa sastra Jawa modern ini, sastra Jawa dibagi dalam dua masa, yaitu masa kebangkitan dan masa kemerdekaan. Masa kebangkitan dimulai tahun 1832 sampai dengan tahun 1945, yaitu ketika Institut Bahasa Jawa (lembaga pendidikan bahasa Jawa formal yang pertama kali, bertempat di Surakarta) memulai kegiatannya dengan menerbitkan tulisan C.F.Winter, Candranegara, Suryawijaya, Padmasusastra (Darusuprapta, 1990;72). Kegiatan kebahasaan dan kesastraan Jawa kemudian berlanjut sampai dengan masa penerbit Balai Pustaka, yang sebelumnya bernama Commissie voor de inslandsche School en Volkslectuur (didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908). Penerbit tersebut sangat besar peranannya dalam perkembangan sastra Jawa. Namun, pengaruh itu, sedikit demi sedikit menyurut seirama dengan perubahan zaman, khususnya semenjak Indonesia merdeka.
Pada masa kemerdekaan, sastra Jawa memasuki periode perkembangan bebas ditandai dengan berkembangnya novel, cerita pendek, puisi bebas. Pada tataran ini, sastra Jawa didukung oleh angkatan kasepuhan (sebelum 1945), angkatan perintis (tampil 1945), dan angkatan penerus (tampil 1960). Kemudian tahap berikutnya, yaitu periode sastra majalah (1966). Dengan kata lain, pada tahapan ini sastra Jawa lebih bertumpu pada majalah dan surat kabar, karena penerbit buku (terutama Balai Pustaka) sudah tidak mempedulikan lagi keberadaan sastra Jawa (lihat Hutomo, 1975). Antara tahun 1966 – 1970-an, sastra Jawa mengalami masa kritis, khususnya setelah terjadinya pembreidelan buku sastra Jawa oleh Komres Surakarta (Operasi Tertib Remaja II Sala) pada tahun 1971 *1). Dalam catatan sejarah sastra Jawa, pembreidelan itu muncul sebagai akibat adanya penilaian (oleh pihak aparat keamanan negara-polisi) bahwa buku-buku sastra Jawa yang beredar dinilai meresahkan masyarakat karena isinya dinilai berbau pornografi. Keadaan ini membuat kegiatan sastra Jawa agak sepi. Tamsir AS (1991;4) mengatakan bahwa pengarang yang mempunyai kekuatan pena di masa-masa setelah kejadian itu mulai berkurang, misalnya Poerwadie Atmodiharjo, Sri Hadidjojo, Any Asmara, Widi Widayat, Esmiet, Suparto Brata, dan beberapa orang penulis lain yang sesekali muncul kemudian tenggelam tidak ada kabar beritanya.
II.
Bangkitnya kembali sastra Jawa setelah masa suram itu didukung oleh hasil Sarasehan Sastra Jawa di Sasanamulya Surakarta, pada awal dekade 1980-an. Pada dekade 1980-an sampai menjelang akhir dekade 1990-an pertumbuhan sastra dan pengarang Jawa justru sangat pesat. Hal ini dapat dilacak lewat tulisan di berbagai media massa berbahasa Jawa yang masih bertahan hidup (Penjebar Semangat, JayaBaya, Djaka Lodang, Mekar Sari, Jawa Anyar, Panakawan, Pustaka Candra, dsb) *2) maupun lewat penerbitan-penerbitan buku sastra Jawa oleh penerbit yang masih “peduli” terhadap sastra Jawa *3). Karya sastra Jawa yang diterbitkan dalam bentuk buku, meliputi jenis prosa (gancaran) yang berbentuk novel, kumpulan cerita pendek, dan drama, serta yang berjenis puisi (geguritan), baik yang diterbitkan oleh penerbit komersial maupun penerbit pribadi.
Penerbitan pribadi? Dibiayai pribadi oleh si pengarang? Ya. Memang itu yang terjadi sekarang dalam dunia sastra Jawa. Mengapa dapat terjadi?
Merunut kembali keadaan perbukuan sastra Jawa, kita dapat menengok kembali beberapa tahun yang lalu. Sekitar akhir tahun 1980-an, maecenas penerbitan sastra daerah (termasuk sastra Jawa) di Indonesia ~ Balai Pustaka ~ sudah tidak lagi terlibat aktif penerbitan buku-buku sastra daerah. Badan penerbitan milik pemerintah Republik Indonesia itu, lebih condong menerbitkan buku-buku berbahasa Indonesia atau buku-buku pelajaran. Hal itu dapat dimengerti karena setiap penerbit (walaupun milik pemerintah RI) tetap tidak mau merugi, walau demi memajukan kebudayaan bangsanya. Barangkali, menerbitkan buku-buku sastra Jawa artinya sama dengan membuat proyek merugi. Akhirnya, dalam jangka sepuluh tahun kemudian, sastra daerah ~ termasuk Jawa ~ benar-benar sudah tidak lagi menarik Balai Pustaka. Saat itulah para pengarang sastra Jawa mulai merasakan bahwa kehidupan perbukuan sastra sudah berakhir. Mereka menganggap dunia penerbitan yang dikelola swasta tentu tidak akan mau mengambil resiko merugi dengan menerbitkan sastra Jawa, karena penerbit yang dibiayai pemerintah saja sudah enggan dengan sastra Jawa. Pilihan satu-satunya bagi pengarang sastra Jawa dalam mempublikasikan sastra Jawa hanya tinggal di majalah berbahasa Jawa (jenis cetak) dan di radio (untuk lisan). Penerbitan seperti ini tentu sifatnya hanya sesaat.
Bagaimana dengan yang lebih bersifat monumental (buku)? Peristiwa inilah yang membuat dunia sastra Jawa menjadi menarik dan menantang bagi sebagian sangat kecil pengarang Jawa, sebagaimana yang dilakukan oleh Suparto Brata *4) ketika menerbitkan Trem (2000). Pada tahun itu, dengan merogoh kantongnya sendiri sebesar 2.500.000,00 rupiah, ia dapat menerbitkan kumpuilan cerkak-nya itu di penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Dengan uang sebesar itu, ia memperoleh 300 eksemplar (dengan kata lain, sebenarnya sang pengarang telah membeli buku terbitannya sendiri). Langkah ini, jika tidak dilakukannya, karena ia berkeyakinan, pasti tidak akan dapat mempublikasikan bukunya. Namun, pada tahun yang sama, bukunya Trem memperoleh hadiah Rancagé.
Peristiwa yang sama diulanginya lagi ketika ia menerbitkan Donyane Wong Culika. Buku ini dimodali Suparto Brata sebesar 8.000.000,00 rupiah. Diterbitkan oleh Penerbit Narasi, Yogyakarta. Kedua penerbit itu, sama-sama mengaku tidak berani menerbitkan buku sastra Jawa, karena dinilai tidak komersial dan sulit dijual *5). Ketakutan ini juga sangat disadari oleh Suparto brata. Oleh karena itu, ia berusaha untuk tidak tenggelam dalam dunia penerbitan buku walaupun para penerbit buku sudah “enggan bersahabat” dengan sastra Jawa. Dalam salah satu suratnya kepada saya, beliau menyampaikan alasan mengapa bersedia “bersusah-payah” untuk merugi demi sastra Jawa:
“Kula kedah tanggung jawab. Salah satunggilipun ngudi nerbitaken buku sastra Jawa. Ngantos sapriki pranyata taksih angel sanget para penerbit ingkang kersa nerbitaken buku sastra Jawa. Margi sastra Jawi pancen mboten kumedol, para penerbit mesthi rugi. Mila kula lan Mas Hoery *6) lajeng kumawantun sarana wudhu kangge nerbitaken buku sastra Jawa menika….. Kula langkung ngajengaken sastra Jawi menika ugi sastra dunia, sageda dipunwaos tiyang sakdonya. Kanthi mekaten, sastra Jawi tetep eksis ing saputeripun donya abad menika. Pramila, mugi-mugi penjenengan taksih kemutan, Donyane Wong Culika rumiyin kula suwun dipuntawekaken dhateng Pak Mas’ud, margi Pak Mas’ud sampun berjasa nerbitaken Trem ingkang pranyata sampun beredar bawera….. Ingkang pokok, nyebaraken buku menika sabawera-baweranipun. Kula betah para maos. Yen namung saged mbandhani nanging mboten saged nggiyaraken, rak sami kaliyan Parikesit.” *7)
Dari paparan tersebut, tampak bahwa Suparto Brata dalam menerbitkan buku-bukunya, baik Trem maupun Donyane Wong Culika, bukan karena uang atau hadiah, tetapi keinginannya untuk mewujudkan sastra Jawa sebagai sastra buku dan sastra dunia. Jika dilihat dari kacamata saat ini, tindakannya tersebut dapat dinilai sebagai suatu langkah “gila” dan tak masuk akal. Jika kebanyakan pengarang Jawa (maupun pengarang Indonesia) sibuk mencari honor, sebaliknya Suparto Brata sibuk “membuang” uangnya demi sastra Jawa. Suatu langkah berani Suparto Brata melawan arus zaman yang tidak memihak kepada sastra Jawa di era kapitalisme.
Kehadiran novel Donyane Wong Culika tidak hanya sebagai langkah yang penuh keberanian, tetapi juga suatu tindakan “spektakuler” dan monumental. Jika kebanyakan buku-buku sastra Jawa modern terbit maksimal hanya 150 halaman, Donyane Wong Culika hadir dengan ketebalan 553 halaman. Belum pernah ada sastra Jawa modern terbit dengan jumlah halaman sebanyak itu. Bukan hanya hal-hal tersebut, yang membuat Donyane Wong Culika menjadi menarik untuk disimak, tetapi juga karena gaya bercerita Suparto Brata yang lihai. Kemampuannya sebagai penulis cerita detektif telah mengalirkan kisah “tragedi” manusia pasca-G-30-S PKI sebagai bacaan yang menggoda untuk disuntuki hingga habis. Pertanyaan yang akan muncul jika tidak membaca secara runtut dari awal hingga akhir adalah: apakah yang dimaksudkan pengarang dengan “dunia (atau negeri, atau kekayaan budaya) orang-orang culas” itu. Itulah, salah satu hal, yang menjadikan novel itu mempunyai kekuatan. Kemampuan menulis dengan suspens yang menggoda dalam sastra Jawa hanya dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Dan, salah seorang itu adalah Suparto Brata.
Suparto Brata, lewat Donyane Wong Culika telah mampu membangun “suatu dunia yang sosiologis” dalam karya sastra. Bahkan, ia telah mampu “merekam” suatu dunia pedesaan Jawa di Pesisir Selatan Tanah Jawa (Kedu, Purworejo). Saya, yang tempat tinggalnya di pedesaan dan bersebelahan dengan desa-desa yang menjadi latar Donyane Wong Culika, cukup memuji hal ini. Suparto Brata, dengan jeli mencatat desa Bangkuning, Sruwoh, Grabag, Jombang, Purwodadi, Magersari, Sangubanyu, Bagelen, Jenar, Kecamatan Ngombol, Pasar Njasa, Sungai Bogawanta, dan sebagainya sebagai kawasan yang pernah menjadi “daerah tragedi” sewaktu Partai Komunis sedang berkibar dan mengganas. Novel ini, dari sisi literer, menjadi sebuah “saksi dan catatan” tentang polah tingkah organ-organ Partai Komunis yang sangat menakutkan, misalnya BTI (Barisan Tani Indonesia):
“La ing kono Tukinem weruh Susmanta. Aktip. Ora aweh katrangan bab pigunane rabuk ZA maneh, ora menganggo sarwa putih maneh, nanging menganggo klambi sarwa ireng, kalungan kacu abang, menehi aba-aba baris pambengoke bantas, “Ganyang Kabir!” Susmanta nglatih baris ing Ngombol, pasukane pijer wira-wiri antarane Bangkuning-Magersari. Liwat Omah Cekli, liwat ngarepe tokone Tukinem. Pirang-pirang sore wong kuwi mimpin baris ing kono, kaya-kaya pamer kekuwatane, panguwasane. Wis pira wae dibon pidhato ing rapat raseksa neng Purwodadi, Jenar, Ngombol, Sruwoh. Biyen ngancam marang sing sok sapaa ora gelem tuku rabuk ZA ing Padi Sentra. Saiki ngancam wong sugih-sugih sing ora gelem ngedum sawahe marang rakyat! Semangate makantar-kantar. Jenenge sangsaya kerep disebut-sebut. Embuh kapan dadi petani, nanging dheweke kondhang dadi pengarepe Barisan Tani Indonesia (BTI). Dheweke ngojok-ojoki rakyat sing miskin, sing ora duwe tanah, dikon ngrebut tanahe wong sugih sing ora gelem mlebu dadi anggota barisane para tani sing dikuwasani lan diayomi! Tanah kuwi bandhane wong tani. Sing duwe asale ya wong tani. Mula kudu dadi kekuwatane wong tani mbangun uripe. Asile dipangan bebarengan sapadha-padha. Kahanane saiki ora mengkono, ora adil. Mula kudu direbut, diadili. Sing sugih kuwi wong-wong borjuis-kapitalis, wong srakah, kudu direncak. Rakyat nuntut keadilan!”
(DWC, hlm. 148)
Kawasan di beberapa desa yang disebutkan tersebut memang daerah pertanian yang dikenal dengan kejahatannya hingga saat ini. Jika tahun 1960-an karena ulah orang-orang Partai Komunis, sekarang karena ulah berandalan. Kawasan tersebut memang kawasan pertanian yang dapat dikatakan tidak surplus. Melalui Donyane Wong Culika, kita semua seperti diingatkan bahwa sebuah kawasan miskin dan jauh dari gemerlapan kota besar pun memiliki pesona ketika diangkat menjadi latar sebuah novel Jawa modern. Suasana yang dibangun di dalam novel itu juga terasa dan tercium baunya sebagai khas novel Jawa. *8).
III.
Kehadiran Donyane Wong Culika semakin mengukuhkan keberadaan Suparto Brata sebagai pengarang Jawa. Produktivitasnya menempatkan dirinya secara mantap dalam dunia sastra Jawa modern. Karya-karyanya selalu menekankan pada perjuangan hidup secara realistis melalui penggambaran tokoh-tokohnya. Dalam setiap karyanya, Suparto Brata jarang menampilkan sosok hitam putih. Artinya, tokohnya tidak selalu menggambarkan sosok hero, gagah, dan selalu menang. Cara penggambaran tentang masalah ini didasari oleh pemahaman bahwa dalam mencipta karya sastra tokohnya tidak selalu harus menang. Hal ini didasari oleh pemahaman bahwa kelemahan manusia pun dapat menjadi sumber dalam penokohan.
Apa yang dibutuhkan oleh cerita berbahasa Jawa saat itu adalah keanekaragaman lakon. Di dunia ini banyak lelakon atau gerak pergeseran hubungan antara manusia di luar hubungan cinta asmara yang bisa menarik untuk diceritakan. Mengapa hubungan cinta asmara mesti dijadikan pokok cerita? Mengapa bukan hubungan dan pergeseran yang lain itu dijadikan masalah? Cinta asmara bisa hanya dijadikan bumbu penyedap cerita. Mengapa tidak diambil tema ketakutan seseorang? Ketakutan! Rasa takut seseorang menjadi tulang punggung ceritaku. Aku cari sebab-sebab ketakutan seseorang. Orang yang dihinggapi rasa takut bukanlah mesti seorang perempuan atau anak kecil, tetapi juga seorang laki-laki yang bersenjata pula. Zaman yang baru saja lewat, yang juga kualami, masih tandas mengesan di hatiku. Mudah mencari laki-laki dewasa ketakutan pada zaman perang, ketika peluru nyasar mudah mengoyak dada manusia dan menerbangkan nyawa pejuang Indonesia. Nah, pilihan tokohnya sudah kutemukan. Seorang pejuang Indonesia masuk kota pendudukan Belanda dan terjebak oleh pertempuran sehingga harus terperangkap di daerah musuh. Lalu? Mesti ada bumbu cinta asmara. Pejuang yang terjebak itu harus kupertemukan dengan seorang gadis remaja. Tidak mungkin aku ambil tokoh begitu saja seperti ambil wayang dari kotaknya, kumainkan di atas layar, dan nanti setelah tidak diperlukan kembali kumasukkan kotak! Tokoh perempuan itu harus punya latar belakang kehidupan sebagaimana manusia wajarnya. Jadi kurekalah peri kehidupan si gadis: asal-usul dari keluarganya. Ia juga harus punya kisah tersendiri mengapa sampai di rumah tempat pejuang tadi terjebak!”
(Jatuh Bangun Bersama Sastra Jawa, 1981;19-20)
Ungkapan Suparto Brata di atas menampakkan mengenai jati dirinya dalam memandang persoalan sastra Jawa. Ia berani menyimpang dari “kebiasaan” yang berlangsung dalam sastra Jawa, yaitu penulisan kisah asmara yang dangkal dan penggambaran tokoh cerita yang serba hitam-putih. Dari ungkapannya itu pula tampak bahwa sistem kepengarangannya tidak terpola seperti pengarang-pengarang yang lain (tidak ingin berlaku seperti dalang wayang kulit). Demikianlah dengan tokoh-tokoh Kasminta, Tukinem, Pratinah, Guru Kardi yang akhirnya terlibat dalam keculasan.
***
Apa yang dibutuhkan oleh cerita berbahasa Jawa saat itu adalah keanekaragaman lakon. Di dunia ini banyak lelakon atau gerak pergeseran hubungan antara manusia di luar hubungan cinta asmara yang bisa menarik untuk diceritakan. Mengapa hubungan cinta asmara mesti dijadikan pokok cerita? Mengapa bukan hubungan dan pergeseran yang lain itu dijadikan masalah? Cinta asmara bisa hanya dijadikan bumbu penyedap cerita. Mengapa tidak diambil tema ketakutan seseorang? Ketakutan! Rasa takut seseorang menjadi tulang punggung ceritaku. Aku cari sebab-sebab ketakutan seseorang. Orang yang dihinggapi rasa takut bukanlah mesti seorang perempuan atau anak kecil, tetapi juga seorang laki-laki yang bersenjata pula. Zaman yang baru saja lewat, yang juga kualami, masih tandas mengesan di hatiku. Mudah mencari laki-laki dewasa ketakutan pada zaman perang, ketika peluru nyasar mudah mengoyak dada manusia dan menerbangkan nyawa pejuang Indonesia. Nah, pilihan tokohnya sudah kutemukan. Seorang pejuang Indonesia masuk kota pendudukan Belanda dan terjebak oleh pertempuran sehingga harus terperangkap di daerah musuh. Lalu? Mesti ada bumbu cinta asmara. Pejuang yang terjebak itu harus kupertemukan dengan seorang gadis remaja. Tidak mungkin aku ambil tokoh begitu saja seperti ambil wayang dari kotaknya, kumainkan di atas layar, dan nanti setelah tidak diperlukan kembali kumasukkan kotak! Tokoh perempuan itu harus punya latar belakang kehidupan sebagaimana manusia wajarnya. Jadi kurekalah peri kehidupan si gadis: asal-usul dari keluarganya. Ia juga harus punya kisah tersendiri mengapa sampai di rumah tempat pejuang tadi terjebak!”
(Jatuh Bangun Bersama Sastra Jawa, 1981;19-20)
Ungkapan Suparto Brata di atas menampakkan mengenai jati dirinya dalam memandang persoalan sastra Jawa. Ia berani menyimpang dari “kebiasaan” yang berlangsung dalam sastra Jawa, yaitu penulisan kisah asmara yang dangkal dan penggambaran tokoh cerita yang serba hitam-putih. Dari ungkapannya itu pula tampak bahwa sistem kepengarangannya tidak terpola seperti pengarang-pengarang yang lain (tidak ingin berlaku seperti dalang wayang kulit). Demikianlah dengan tokoh-tokoh Kasminta, Tukinem, Pratinah, Guru Kardi yang akhirnya terlibat dalam keculasan.
***
DAFTAR PUSTAKA
Brata, Suparto, 1981, Jatuh Bangun Bersama Sastra Jawa. Jakarta: Proyek Penulisan dan Penerbitan/- majalah Pengetahuan Umum dan Profesi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Hamangkubuwana X, Sri Sultan. 1998. “Refleksi Sastra” Dalam Caraka (edisi khusus), Oktober.
Hutomo, Suripan Sadi, 1975. Telaah Kesusastraan Jawa Modern. Jakarta; Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Suryadi Ag., Linus, 1995. Dari Pujangga ke Penulis Jawa. Yogyakarta; Pustaka Pelajar.
Tamsir AS. 1991. “Sanggar Sastra Jawa sebagai Benteng Pelestarian Sastra Jawa” Makalah Kongres Bahasa Jawa I. Juli.
Catatan kaki:
*1) Tamsir As (1991;4) menyebut peristiwa pembreidelan itu suatu petaka bagi sastra Jawa. Sementara itu, majalah Mekar Sari, Yogja, 1 Februari 1967, X, No. 23, membeberkan judul buku yang dilarang (dibeslah), yaitu: (1) Asmara Tanpa Weweka, (2) Cahyaning Asmara, (3) Godhane Prawan Indo, (4) Jeng Any Prawan, (5) Aboting Kecantol Kenya Sala, (6) Asmara ing Warung Lotis, (7) Pangurbanan, (8) Kabuncanging Sepi, (9) Nyaiku, (10) Tape Ayu, (11) Tumetesing Luh, (12) Sih Katresnan Jati, (13) Wanita Methakil, (14) Ketangkep Teles, (15) Gerombolan Gagak Mataram, (16) Peteng Lelimengan, (17) Rebutan Putri Semarang, (18) Lara Branta, (19) Macan Tutul, (20) Lagune Putri Kasmaran, dan (21) Gara-Gara Rok Mepet Rambut Sasak.
*2) Majalah merupakan sarana yang paling efektif bagi publikasi sastra Jawa. Kenyataan ini semakin tampak setelah penerbit-penerbit buku tidak lagi tertarik untuk mempublikasikan sastra Jawa karena nilai komersialnya tidak dapat diandalkan.
*3) Pada tahun 1980-an muncul novel (1) Mendhung Kasaput Angin (1980), karya Ag. Suharti; (2) Guntur Geni Manggalayudha (1982), karya Any Asmara; (3) Trajumas (1986), karya Imam Sarjono (Is. Jon); (4) Dokter Wulandari (1987), karya Yunani; (5) Daradasih (1980), karya Sudibyo Z. Hadisutjipto, dan (6) Krikil-krikil Pesisir (1988) karya Tamsir As. Pada tahun 1990-an terbit novel (1) Wong Wadon Dinarsih (1991); (2) Ombak Sandyakalaning (1991), karya Tamsir As; (3) Pacar Gadhing (1991), (4) Bumerang (1991), karya Ardhini Pangastuti; (5) Sumpahku-Sumpahmu (1993) karya Nanik PM (PC. Pamudji); (6) Sintru oh Sintru (1993), karya Suryadi WS; (7) Nalika Prau Gonjing (1993), karya Ardhini Pangastuti; (8) Kerajut Benang Ireng (1993), karya Harwimuka; (9) Kembang Alang-alang (1993), karya Margaretha Widhie Pratiwi; (10) Kubur Ngemut Wewadi (1993); (11) Lintang Saka Padhepokan Gringsing (1994), karya AY Suharyono; (12) Timbreng (1994), karya Satim Kadaryono; (13) Nalika Langite Obah (1997), karya Esmiet; (14) Pethite Nyai Blorong (1996); (15) Sanja sangu Trebela (1996); (16) Astirin Mbalela (1995), karya Pèni (Suparto Brata); (17) Lintang (1997), karya Ardhini Pangastuti, dan (18) Pupus kang Pepes (1998), karya Suharmono Kasiyun.
Antologi cerita pendek (yang tidak digabungkan dengan geguritan), yaitu (1) Usaha Kang Pungkasan (1987) karya Sukardo Hadisukarno; (2) Byar (1992) karya Sanggar Triwida; (3) Niskala (1993), (4) Jangkar (1994); (5) Mutiara Sagegem (1995) karya Suwardi Endraswara; (6) Nalika Srengenge Durung Angslup (1996) karya Ardhini Pangastuti; (7) Sajak (1997) karya Wakidi, dan (8) Ratu (1995) karya Krishna Mihardja. Di pihak lain, antologi gabungan antara cerita pendek Jawa dan geguritan, di antaranya (1) Saroja Mekar (1986) karya Subagio Ilham Notodidjojo; (2) Antologi Geguritan dan Crita Cekak (1991) oleh Taman Budaya Yogyakarta; (3) Rembulan Padhang ing Ngayogyakarta (1992); (4) Cakramanggilingan (1993); (4) Pangilon (1994); (5) Pisusung (1997) editor Dhanu Priyo Prabowo; (6) Anak Lanang (1993) karya Raminah Baribin; (7) Pesta Emas (1995) editor Dhanu Priyo Prabowo dan Linus Suryadi Ag.; (8) Pemilihan Lurah (1996) editor H. Mardianto dkk, dan (9) Lion Tembang Prapatan (1999) oleh Taman Budaya Yogyakarta; dan Trem; Antologi Crita Cekak (2000) karya Suparto Brata.
Antologi puisi Jawa modern (geguritan) juga muncul pada dekade 1980-1990-an. Karya puisi yang diterbitkan dalam bentuk buku, yaitu (1) Kidung Awang-uwung (1981), karya A. Nugroho dkk.; (2) Geguritan: Antologi Puisi Jawa Modern (1940-1980),editor Suripan Sadi Hutomo (1985); (3) Angin Sumilir: Kumpulan Guritan 1967-1982 (1988), karya Suripan Sadi Hutomo; (4) Kalung Barleyan (1988), editor Suripan Sadi Hutomo; (5) Paseksen: Guritan Gagrak Anyar (1989), karya Wieranto; (6) Kalabendu (1991); (7) Pajar Sumiyar ing Adikarta (1992), karya Suryanto Sastroatmodjo dkk.; (8) Gurit Panantang (1993), karya Widodo Basuki, (9) Lading (1994), karya Bene Sugiarto, (10) Kristal Emas (1994), karya Suwardi Endraswara, (11) Festival Penyair Sastra Jawa Modern (1995), oleh Sanggar Triwida; (12) Drona Gugat (1995), editor Sugeng Wiyadi dan Widodo Basuki; (13) Guru Rong Puluh (1995) karya Budi Palopo; (14) Pisusung (1995), editor Sugeng Wiyadi; (15) Cuwilan Urip Jro Tembung (1996), Keluwarga Mahasiswa Sastra Jawa FSUI; (16) Siter Gadhing (1996), karya Djaimin K.; (17) Potret Reformasi dalam Puisi Tegalan (1998), editor Endy Kepanjen CS dkk.; (18) Ruwat Desa (1998), editor Lanang Setiawan; (19) Layang Saka Tlatah Wetan (1999), karya Widodo Basuki; (20) Kirab Gurit 45 (1999); (21) Paseksen Anake Ki Suto Kluthuk (1999); dan (22) Kirab Gurit 53, karya Diah Hadaning.
Di samping itu, juga terbit kumpulan naskah drama sayembara tahun 1979 yang berjudul Pengurbanan (1980), karya Aryono KD; Kali Ciliwung (1980), karya Moch. Nursyahid P.; Sacuwil Ati lan Wengi karya Suliyanto (1980); Gandrung Kecepit (1981), karya Sarwoko Tesar (kumpulan naskah drama); Tugas (1981), karya Soetiatmi; Tumiyuping Angin Wengi (1981), karya Aryono KD.; dan Gapit (1998), karya Bambang Widoyo Sp.
*4) Novel-novel Suparto Brata yang dimuat secara bersambung di majalah berbahasa Jawa, yaitu (1) “Kaduk Wani” (Terlanjur Berani), 1966, Jaya Baya, (2) “Kena Pulut” (Terkena Getah Lengket), 1967, Jaya Baya, (3) “Titising Sepata” (Ketepatan Bicara), 1966, Jaya Baya, (4) “Sala Lelimengan” (Solo Gelap Gulita), 5 April – 15 Agustus 1965, Panjebar Semangat; (5) “November Abang” (November Merah), 1965, Jaya baya; (6) “Jaring Kalamangga” (Jaring Kalamangga), Januari-Maret, 1966, Jaya Baya; (7) “Nyawa 28” (Nyawa 28, dengan nama samaran Eling Jatmika), 1967, Jaya baya; (8) “Luwih Becik Neraka” (Lebih Baik Neraka Daripada Kolonialisme, naskah ini diganti judulnya oleh redaksi menjadi “Tangise Prawan Sundha”, Tangis perawan Sunda), 1970, Panjebar Semangat; (9) “Dlemok-dlemok Ireng” (Noda-noda Hitam, naskah ini diganti judulnya oleh redaksi menjadi “Ngebut”, Ngebut), 1971, Jaya Baya; (10) “Dom Sumurup Ing Banyu” (Jarum Menyusup Ke Air), 5 Desember 1971 – 8 Maret 1972, Jaya Baya; (11) “Jemini” (Jemini, dengan nama samaran Pèni), 1972, Jaya Baya; (12) “Fantasi” (Fantasi), 1972, Jaya Baya; (13) “Nglacak Ilange Sedulur Ipe” (Melacak Hilangnya Saudara Ipar, naskah ini diubah judulnya oleh redaksi “Kepelet”, Terculik), 1973, Jaya Baya; (14) “Garuda Putih” (Garuda Putih), 1974, Panjebar Semangat; (15) “Ngingu Kutuk ing Suwakan” (Memelihara Ikan Kutuk di Kubangan) 1975, Panjebar Semangat; (16) “Rembulan Kasmaran” (Rembulan Jatuh Cinta), 1977, Jaya Baya; (17) “Nona Sekretaris” (Nona Sekretaris, dengan nama samaran Pèni), 9 Januari – 5 Agustus 1984, Jaya Baya; (18) “’t Spookhuis” (Rumah Hantu), 1991, Panjebar Semangat; (19) “Kunarpa Tan Bisa Kandha” (Mayat Tak Bisa Bicara), 17 November 1991 – 8 Maret 1992, Jaya Baya; (20) “Astirin Mbalela” (Astirin Berontak), dengan nama samaran Pèni, 27 Maret – 10 Juli 1993, Djaka Lodang (naskah ini kemudian dicetak menjadi buku oleh Lembaga Studi Jawa Jogyakarta pada tahun 1995); (21) “Dahuru Ing Loji Kepencil” (Gejolak di Gedung Terpencil), 1993, Jawa Anyar; (22) “Clemang-Clemong” (Asal Bicara), 4 Agustus – 22 Desember 1996, Jaya Baya; (23) “Pariwara Mini” (Iklan Mini), 25 Oktober – 15 November 1998, Djaka Lodang; (24) “Pacare Udin” (Pacarnya Udin), 2 Januari – 10 April 1999, Panjebar Semangat; (25) “Bekasi Remeng-remeng” (Bekasi Remang-remang), 2000, dengan nama samaran Pèni, Panjebar Semangat; (26) “Keluwarga Pejuwang” (Keluarga Pejuang), 2002, dengan nama samaran Pèni, Panjebar Semangat; (27) “Cintrong Traju Papat” (Cinta Segi Empat), 2006, Panjebar Semangat; (28) “Ser! Ser! Plong!” (Dag-dig-dug), 2006, Jaya Baya; (29) “Mbok Randha Saka Jogja” (Janda dari Jogja), 2006, Djaka Lodang; (30) “Cocak Nguntal Elo” (Pipit Menelan Jagung), 2007, Damar Jati.
Karya-karya Suparto Brata berbahasa Jawa yang berbentuk novel dan kumpulan cerita pendek yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku, yaitu (1) Kadurakan Ing Kidul Dringu (Kedurhakaan di Selatan Dringu), 1964, Ariyati Surabaya; (2) Lara Lapane Kaum Republik (Suka Duka Kaum Republik), 1965, Penerbit Jaya Baya, Surabaya; (3) Tanpa Tlacak (Tiada Bekasnya), 1962, CV. Setia Kawan, Surabaya; (4) Katresnan Kang Angker (Cinta Yang Angker), 1962, CV. Setia Kawan, Surabaya; (5) Pethite Nyai Blorong (Ekornya Nyai Blorong), 1965, dengan nama samaran Pèni, CV. Ariyati Surabaya; (6) Emprit Abuntut Bedhug (Pipit Berekor Bedug), 1966, CV Ariyati, Surabaya; (7) Tretes Tintrim (Tretes Sepi Senyap), 1965, CV Ariyati Surabaya; (8) Asmarani , 1983, dengan nama samaran Pèni, Bina Ilmu Surabaya; (9) Pawestri Telu (Tiga Orang Perempuan), 1983, Bina Ilmu Surabaya; (10) Sanja Sangu Trebela (Bertandang Bawa Peti Mati), 1967, CV. Ariyati Surabaya; (11) Patriot-patriot Kasmaran (Patriot Yang Jatuh Cinta), 1966, CV. Gema Surakarta (punya Khoo Ping Hoo); (12) Lintang Panjer Sore (Bintang Berkelip Sore Hari), 1966, CV. Gema Surakarta; (13) Dinamit, 1966, CV Gema Surakarta; (14) Astirin Mbalela (Astirin Berontak), 1995, Lembaga Studi Jawa, Yogyakarta (dengan samaran Pèni, naskah ini pernah dimuat di Djaka Lodang, 27 Maret – 10 Juli 1993; (15) Trem (kumpulan cerita pendek Jawa 1960-1993), 2000, Pustaka Pelajar Yogyakarta. (16) Donyane Wong Culika, 2004, Narasi Yogyakarta, (17) Lelakone Si Lan Man (kumpulan cerita pendek Jawa 1960-2003), 2005, Narasi Yogyakarta, (18) Dom Sumurup Ing Banyu, (Jarum Menyusup ke Air) 2006, Narasi Yogyakarta; (19). Cintrong Traju Papat Lan Babare Lomba Esai PS 2006, 2007, Panjebar Semangat Surabaya. (20) Suparto Brata’s Omnibus, 2007, Narasi Yogyakarta.
*5) Hal ini terjadi karena pembaca Jawa semakin berkurang bersamaan dengan semakin menurunnya kemampuan berbahasa Jawa. Di samping itu, muncul asumsi di kalangan pembaca Jawa bahwa buku-buku sastra Jawa mengalami kemerosotan mutu.
*6) J.F.X.Hoery pada tahun 2003 menerbitkan sebuah karyanya yang berbentuk antologi geguritan berjudul Pagelaran, (mendapat hadiah Rancagé 2003). Dengan merogoh uang kantongnya sendiri, ia berhasil membuat sebuah buku perjalanan hidupnya dalam mencipta puisi selama 30 tahun.
*7) Parikesit adalah sebuah majalah berbahasa Jawa yang baru saja terbit (tahun 2003) di Jakarta. Majalah ini formatnya mirip dengan majalah Intisari. Diterbitkan dan dibiayai oleh Bambang Sadono. Namun, majalah ini pemasarannya sangat tidak diperhatikan sehingga tidak dapat tersebar luas ke tengah masyarakat. Dilihat dari bahasanya, majalah ini jauh lebih baik dibandingkan majalah-majalah lain yang saat ini masih terbit. Isinya pun lumayan bagus.
*8) Sesudah pujangga R. Ng. Ranggawarsita yang adalah pengarang, seorang pengarang, menurut pandangan Jawa, keahliannya hanya menciptakan karya sastra saja. Istilah ini umumnya dikenakan jauh sebelum itu, dikenakan pada murid R. Ng. Ranggawarsita yang bernama Ki Padmosusastro (Hutomo, 1990;8). Kenyataan ini dipertegas oleh pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwana X (1998) yang menyatakan bahwa dari pemahaman perkembangan sastra Jawa masa kini bukan lagi bersumber dari sastra kraton sebagai sastra adiluhung atau susastra. Oleh karena perkembangan kemasyarakatan, keberadaan pujangga keraton menjadi semakin lemah sehingga peranannya digantikan oleh penulis di masyarakat. Akibatnya, terjadilah keterputusan interaksi antara sastra yang disebut sebagai sastra adiliuhung dengan sastra rakyat. Ironisnya, sastra Jawa yang ditulis oleh rakyat tidak atau kurang mendapat sambutan dari rakyat Jawa saat ini. Suryadi Ag (1995;7) menyatakan bahwa pengarang sastra Jawa modern tidak berasal dari lingkungan keraton, juga bukan pula berdarah pujangga keraton. Akan tetapi, mereka berasal dari wilayah pedesaan. Sesuai dengan trend zaman, mereka pun bergulat dalam kehidupan dan tantangan konkret sehingga predikat yang tersemat dibahunya lebih tepat bila dikatakan sebagai pengarang urban. Mereka tidak memakai bahasa Sanskerta, tidak pula memakai bahasa Jawa Kuna atau Kawi. Bahkan, huruf yang dipakai untuk menulis pun bukan huruf Jawa melainkan huruf Latin. Bahasa ekspresinya adalah bahasa Jawa modern, atau Jawa ngoko atau Jawa Krama, yang dengan deras pula menerima masukan kosakata dari bahasa Indonesia dan Inggris. Orientasi budaya yang ditatap bukan lagi keraton tradisional Jawa (karena sudah tidak menjanjikan apa-apa), egaliter, yang sekuler dan belum tertata dengan baik dan mapan. Para pengarang sastra Jawa sebagian besar hidup di kota kecil dan pedesaan. Oleh karena itu, letak geografis tempat tinggal para pengarang sastra Jawa sebagian besar tercermin dalam karya-karyanya. Akibat dari sebagian besar karya-karya mereka menggambarkan masyarakat pedesaan atau kota kecil, karya-karya tersebut lebih cenderung dinilai sebagai sastra ndesa (sastra desa). Namun, Suparto Brata lain. Walaupun ia bukan berasal dari desa, tetapi kemampuannya menyelami kehidupan desa benar-benar menjadikan novel Donyane Wong Culika menjadi kuat warna kedesaannya.
Hamangkubuwana X, Sri Sultan. 1998. “Refleksi Sastra” Dalam Caraka (edisi khusus), Oktober.
Hutomo, Suripan Sadi, 1975. Telaah Kesusastraan Jawa Modern. Jakarta; Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Suryadi Ag., Linus, 1995. Dari Pujangga ke Penulis Jawa. Yogyakarta; Pustaka Pelajar.
Tamsir AS. 1991. “Sanggar Sastra Jawa sebagai Benteng Pelestarian Sastra Jawa” Makalah Kongres Bahasa Jawa I. Juli.
Catatan kaki:
*1) Tamsir As (1991;4) menyebut peristiwa pembreidelan itu suatu petaka bagi sastra Jawa. Sementara itu, majalah Mekar Sari, Yogja, 1 Februari 1967, X, No. 23, membeberkan judul buku yang dilarang (dibeslah), yaitu: (1) Asmara Tanpa Weweka, (2) Cahyaning Asmara, (3) Godhane Prawan Indo, (4) Jeng Any Prawan, (5) Aboting Kecantol Kenya Sala, (6) Asmara ing Warung Lotis, (7) Pangurbanan, (8) Kabuncanging Sepi, (9) Nyaiku, (10) Tape Ayu, (11) Tumetesing Luh, (12) Sih Katresnan Jati, (13) Wanita Methakil, (14) Ketangkep Teles, (15) Gerombolan Gagak Mataram, (16) Peteng Lelimengan, (17) Rebutan Putri Semarang, (18) Lara Branta, (19) Macan Tutul, (20) Lagune Putri Kasmaran, dan (21) Gara-Gara Rok Mepet Rambut Sasak.
*2) Majalah merupakan sarana yang paling efektif bagi publikasi sastra Jawa. Kenyataan ini semakin tampak setelah penerbit-penerbit buku tidak lagi tertarik untuk mempublikasikan sastra Jawa karena nilai komersialnya tidak dapat diandalkan.
*3) Pada tahun 1980-an muncul novel (1) Mendhung Kasaput Angin (1980), karya Ag. Suharti; (2) Guntur Geni Manggalayudha (1982), karya Any Asmara; (3) Trajumas (1986), karya Imam Sarjono (Is. Jon); (4) Dokter Wulandari (1987), karya Yunani; (5) Daradasih (1980), karya Sudibyo Z. Hadisutjipto, dan (6) Krikil-krikil Pesisir (1988) karya Tamsir As. Pada tahun 1990-an terbit novel (1) Wong Wadon Dinarsih (1991); (2) Ombak Sandyakalaning (1991), karya Tamsir As; (3) Pacar Gadhing (1991), (4) Bumerang (1991), karya Ardhini Pangastuti; (5) Sumpahku-Sumpahmu (1993) karya Nanik PM (PC. Pamudji); (6) Sintru oh Sintru (1993), karya Suryadi WS; (7) Nalika Prau Gonjing (1993), karya Ardhini Pangastuti; (8) Kerajut Benang Ireng (1993), karya Harwimuka; (9) Kembang Alang-alang (1993), karya Margaretha Widhie Pratiwi; (10) Kubur Ngemut Wewadi (1993); (11) Lintang Saka Padhepokan Gringsing (1994), karya AY Suharyono; (12) Timbreng (1994), karya Satim Kadaryono; (13) Nalika Langite Obah (1997), karya Esmiet; (14) Pethite Nyai Blorong (1996); (15) Sanja sangu Trebela (1996); (16) Astirin Mbalela (1995), karya Pèni (Suparto Brata); (17) Lintang (1997), karya Ardhini Pangastuti, dan (18) Pupus kang Pepes (1998), karya Suharmono Kasiyun.
Antologi cerita pendek (yang tidak digabungkan dengan geguritan), yaitu (1) Usaha Kang Pungkasan (1987) karya Sukardo Hadisukarno; (2) Byar (1992) karya Sanggar Triwida; (3) Niskala (1993), (4) Jangkar (1994); (5) Mutiara Sagegem (1995) karya Suwardi Endraswara; (6) Nalika Srengenge Durung Angslup (1996) karya Ardhini Pangastuti; (7) Sajak (1997) karya Wakidi, dan (8) Ratu (1995) karya Krishna Mihardja. Di pihak lain, antologi gabungan antara cerita pendek Jawa dan geguritan, di antaranya (1) Saroja Mekar (1986) karya Subagio Ilham Notodidjojo; (2) Antologi Geguritan dan Crita Cekak (1991) oleh Taman Budaya Yogyakarta; (3) Rembulan Padhang ing Ngayogyakarta (1992); (4) Cakramanggilingan (1993); (4) Pangilon (1994); (5) Pisusung (1997) editor Dhanu Priyo Prabowo; (6) Anak Lanang (1993) karya Raminah Baribin; (7) Pesta Emas (1995) editor Dhanu Priyo Prabowo dan Linus Suryadi Ag.; (8) Pemilihan Lurah (1996) editor H. Mardianto dkk, dan (9) Lion Tembang Prapatan (1999) oleh Taman Budaya Yogyakarta; dan Trem; Antologi Crita Cekak (2000) karya Suparto Brata.
Antologi puisi Jawa modern (geguritan) juga muncul pada dekade 1980-1990-an. Karya puisi yang diterbitkan dalam bentuk buku, yaitu (1) Kidung Awang-uwung (1981), karya A. Nugroho dkk.; (2) Geguritan: Antologi Puisi Jawa Modern (1940-1980),editor Suripan Sadi Hutomo (1985); (3) Angin Sumilir: Kumpulan Guritan 1967-1982 (1988), karya Suripan Sadi Hutomo; (4) Kalung Barleyan (1988), editor Suripan Sadi Hutomo; (5) Paseksen: Guritan Gagrak Anyar (1989), karya Wieranto; (6) Kalabendu (1991); (7) Pajar Sumiyar ing Adikarta (1992), karya Suryanto Sastroatmodjo dkk.; (8) Gurit Panantang (1993), karya Widodo Basuki, (9) Lading (1994), karya Bene Sugiarto, (10) Kristal Emas (1994), karya Suwardi Endraswara, (11) Festival Penyair Sastra Jawa Modern (1995), oleh Sanggar Triwida; (12) Drona Gugat (1995), editor Sugeng Wiyadi dan Widodo Basuki; (13) Guru Rong Puluh (1995) karya Budi Palopo; (14) Pisusung (1995), editor Sugeng Wiyadi; (15) Cuwilan Urip Jro Tembung (1996), Keluwarga Mahasiswa Sastra Jawa FSUI; (16) Siter Gadhing (1996), karya Djaimin K.; (17) Potret Reformasi dalam Puisi Tegalan (1998), editor Endy Kepanjen CS dkk.; (18) Ruwat Desa (1998), editor Lanang Setiawan; (19) Layang Saka Tlatah Wetan (1999), karya Widodo Basuki; (20) Kirab Gurit 45 (1999); (21) Paseksen Anake Ki Suto Kluthuk (1999); dan (22) Kirab Gurit 53, karya Diah Hadaning.
Di samping itu, juga terbit kumpulan naskah drama sayembara tahun 1979 yang berjudul Pengurbanan (1980), karya Aryono KD; Kali Ciliwung (1980), karya Moch. Nursyahid P.; Sacuwil Ati lan Wengi karya Suliyanto (1980); Gandrung Kecepit (1981), karya Sarwoko Tesar (kumpulan naskah drama); Tugas (1981), karya Soetiatmi; Tumiyuping Angin Wengi (1981), karya Aryono KD.; dan Gapit (1998), karya Bambang Widoyo Sp.
*4) Novel-novel Suparto Brata yang dimuat secara bersambung di majalah berbahasa Jawa, yaitu (1) “Kaduk Wani” (Terlanjur Berani), 1966, Jaya Baya, (2) “Kena Pulut” (Terkena Getah Lengket), 1967, Jaya Baya, (3) “Titising Sepata” (Ketepatan Bicara), 1966, Jaya Baya, (4) “Sala Lelimengan” (Solo Gelap Gulita), 5 April – 15 Agustus 1965, Panjebar Semangat; (5) “November Abang” (November Merah), 1965, Jaya baya; (6) “Jaring Kalamangga” (Jaring Kalamangga), Januari-Maret, 1966, Jaya Baya; (7) “Nyawa 28” (Nyawa 28, dengan nama samaran Eling Jatmika), 1967, Jaya baya; (8) “Luwih Becik Neraka” (Lebih Baik Neraka Daripada Kolonialisme, naskah ini diganti judulnya oleh redaksi menjadi “Tangise Prawan Sundha”, Tangis perawan Sunda), 1970, Panjebar Semangat; (9) “Dlemok-dlemok Ireng” (Noda-noda Hitam, naskah ini diganti judulnya oleh redaksi menjadi “Ngebut”, Ngebut), 1971, Jaya Baya; (10) “Dom Sumurup Ing Banyu” (Jarum Menyusup Ke Air), 5 Desember 1971 – 8 Maret 1972, Jaya Baya; (11) “Jemini” (Jemini, dengan nama samaran Pèni), 1972, Jaya Baya; (12) “Fantasi” (Fantasi), 1972, Jaya Baya; (13) “Nglacak Ilange Sedulur Ipe” (Melacak Hilangnya Saudara Ipar, naskah ini diubah judulnya oleh redaksi “Kepelet”, Terculik), 1973, Jaya Baya; (14) “Garuda Putih” (Garuda Putih), 1974, Panjebar Semangat; (15) “Ngingu Kutuk ing Suwakan” (Memelihara Ikan Kutuk di Kubangan) 1975, Panjebar Semangat; (16) “Rembulan Kasmaran” (Rembulan Jatuh Cinta), 1977, Jaya Baya; (17) “Nona Sekretaris” (Nona Sekretaris, dengan nama samaran Pèni), 9 Januari – 5 Agustus 1984, Jaya Baya; (18) “’t Spookhuis” (Rumah Hantu), 1991, Panjebar Semangat; (19) “Kunarpa Tan Bisa Kandha” (Mayat Tak Bisa Bicara), 17 November 1991 – 8 Maret 1992, Jaya Baya; (20) “Astirin Mbalela” (Astirin Berontak), dengan nama samaran Pèni, 27 Maret – 10 Juli 1993, Djaka Lodang (naskah ini kemudian dicetak menjadi buku oleh Lembaga Studi Jawa Jogyakarta pada tahun 1995); (21) “Dahuru Ing Loji Kepencil” (Gejolak di Gedung Terpencil), 1993, Jawa Anyar; (22) “Clemang-Clemong” (Asal Bicara), 4 Agustus – 22 Desember 1996, Jaya Baya; (23) “Pariwara Mini” (Iklan Mini), 25 Oktober – 15 November 1998, Djaka Lodang; (24) “Pacare Udin” (Pacarnya Udin), 2 Januari – 10 April 1999, Panjebar Semangat; (25) “Bekasi Remeng-remeng” (Bekasi Remang-remang), 2000, dengan nama samaran Pèni, Panjebar Semangat; (26) “Keluwarga Pejuwang” (Keluarga Pejuang), 2002, dengan nama samaran Pèni, Panjebar Semangat; (27) “Cintrong Traju Papat” (Cinta Segi Empat), 2006, Panjebar Semangat; (28) “Ser! Ser! Plong!” (Dag-dig-dug), 2006, Jaya Baya; (29) “Mbok Randha Saka Jogja” (Janda dari Jogja), 2006, Djaka Lodang; (30) “Cocak Nguntal Elo” (Pipit Menelan Jagung), 2007, Damar Jati.
Karya-karya Suparto Brata berbahasa Jawa yang berbentuk novel dan kumpulan cerita pendek yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku, yaitu (1) Kadurakan Ing Kidul Dringu (Kedurhakaan di Selatan Dringu), 1964, Ariyati Surabaya; (2) Lara Lapane Kaum Republik (Suka Duka Kaum Republik), 1965, Penerbit Jaya Baya, Surabaya; (3) Tanpa Tlacak (Tiada Bekasnya), 1962, CV. Setia Kawan, Surabaya; (4) Katresnan Kang Angker (Cinta Yang Angker), 1962, CV. Setia Kawan, Surabaya; (5) Pethite Nyai Blorong (Ekornya Nyai Blorong), 1965, dengan nama samaran Pèni, CV. Ariyati Surabaya; (6) Emprit Abuntut Bedhug (Pipit Berekor Bedug), 1966, CV Ariyati, Surabaya; (7) Tretes Tintrim (Tretes Sepi Senyap), 1965, CV Ariyati Surabaya; (8) Asmarani , 1983, dengan nama samaran Pèni, Bina Ilmu Surabaya; (9) Pawestri Telu (Tiga Orang Perempuan), 1983, Bina Ilmu Surabaya; (10) Sanja Sangu Trebela (Bertandang Bawa Peti Mati), 1967, CV. Ariyati Surabaya; (11) Patriot-patriot Kasmaran (Patriot Yang Jatuh Cinta), 1966, CV. Gema Surakarta (punya Khoo Ping Hoo); (12) Lintang Panjer Sore (Bintang Berkelip Sore Hari), 1966, CV. Gema Surakarta; (13) Dinamit, 1966, CV Gema Surakarta; (14) Astirin Mbalela (Astirin Berontak), 1995, Lembaga Studi Jawa, Yogyakarta (dengan samaran Pèni, naskah ini pernah dimuat di Djaka Lodang, 27 Maret – 10 Juli 1993; (15) Trem (kumpulan cerita pendek Jawa 1960-1993), 2000, Pustaka Pelajar Yogyakarta. (16) Donyane Wong Culika, 2004, Narasi Yogyakarta, (17) Lelakone Si Lan Man (kumpulan cerita pendek Jawa 1960-2003), 2005, Narasi Yogyakarta, (18) Dom Sumurup Ing Banyu, (Jarum Menyusup ke Air) 2006, Narasi Yogyakarta; (19). Cintrong Traju Papat Lan Babare Lomba Esai PS 2006, 2007, Panjebar Semangat Surabaya. (20) Suparto Brata’s Omnibus, 2007, Narasi Yogyakarta.
*5) Hal ini terjadi karena pembaca Jawa semakin berkurang bersamaan dengan semakin menurunnya kemampuan berbahasa Jawa. Di samping itu, muncul asumsi di kalangan pembaca Jawa bahwa buku-buku sastra Jawa mengalami kemerosotan mutu.
*6) J.F.X.Hoery pada tahun 2003 menerbitkan sebuah karyanya yang berbentuk antologi geguritan berjudul Pagelaran, (mendapat hadiah Rancagé 2003). Dengan merogoh uang kantongnya sendiri, ia berhasil membuat sebuah buku perjalanan hidupnya dalam mencipta puisi selama 30 tahun.
*7) Parikesit adalah sebuah majalah berbahasa Jawa yang baru saja terbit (tahun 2003) di Jakarta. Majalah ini formatnya mirip dengan majalah Intisari. Diterbitkan dan dibiayai oleh Bambang Sadono. Namun, majalah ini pemasarannya sangat tidak diperhatikan sehingga tidak dapat tersebar luas ke tengah masyarakat. Dilihat dari bahasanya, majalah ini jauh lebih baik dibandingkan majalah-majalah lain yang saat ini masih terbit. Isinya pun lumayan bagus.
*8) Sesudah pujangga R. Ng. Ranggawarsita yang adalah pengarang, seorang pengarang, menurut pandangan Jawa, keahliannya hanya menciptakan karya sastra saja. Istilah ini umumnya dikenakan jauh sebelum itu, dikenakan pada murid R. Ng. Ranggawarsita yang bernama Ki Padmosusastro (Hutomo, 1990;8). Kenyataan ini dipertegas oleh pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwana X (1998) yang menyatakan bahwa dari pemahaman perkembangan sastra Jawa masa kini bukan lagi bersumber dari sastra kraton sebagai sastra adiluhung atau susastra. Oleh karena perkembangan kemasyarakatan, keberadaan pujangga keraton menjadi semakin lemah sehingga peranannya digantikan oleh penulis di masyarakat. Akibatnya, terjadilah keterputusan interaksi antara sastra yang disebut sebagai sastra adiliuhung dengan sastra rakyat. Ironisnya, sastra Jawa yang ditulis oleh rakyat tidak atau kurang mendapat sambutan dari rakyat Jawa saat ini. Suryadi Ag (1995;7) menyatakan bahwa pengarang sastra Jawa modern tidak berasal dari lingkungan keraton, juga bukan pula berdarah pujangga keraton. Akan tetapi, mereka berasal dari wilayah pedesaan. Sesuai dengan trend zaman, mereka pun bergulat dalam kehidupan dan tantangan konkret sehingga predikat yang tersemat dibahunya lebih tepat bila dikatakan sebagai pengarang urban. Mereka tidak memakai bahasa Sanskerta, tidak pula memakai bahasa Jawa Kuna atau Kawi. Bahkan, huruf yang dipakai untuk menulis pun bukan huruf Jawa melainkan huruf Latin. Bahasa ekspresinya adalah bahasa Jawa modern, atau Jawa ngoko atau Jawa Krama, yang dengan deras pula menerima masukan kosakata dari bahasa Indonesia dan Inggris. Orientasi budaya yang ditatap bukan lagi keraton tradisional Jawa (karena sudah tidak menjanjikan apa-apa), egaliter, yang sekuler dan belum tertata dengan baik dan mapan. Para pengarang sastra Jawa sebagian besar hidup di kota kecil dan pedesaan. Oleh karena itu, letak geografis tempat tinggal para pengarang sastra Jawa sebagian besar tercermin dalam karya-karyanya. Akibat dari sebagian besar karya-karya mereka menggambarkan masyarakat pedesaan atau kota kecil, karya-karya tersebut lebih cenderung dinilai sebagai sastra ndesa (sastra desa). Namun, Suparto Brata lain. Walaupun ia bukan berasal dari desa, tetapi kemampuannya menyelami kehidupan desa benar-benar menjadikan novel Donyane Wong Culika menjadi kuat warna kedesaannya.
Tags:
Lain-lain





