Home » » SUPRIYADI

SUPRIYADI


SUPRIYADI
Perancang Pemberontakan Tentara Peta Daidan Blitar
Disampaikan oleh:
Dukut Imam Widodo
Dukut Imam Widodo adalah penulis buku-buku: Soerabaia Tempo Doeloe, Malang Tempo Doeloe, Grissee Tempo Doeloe, Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe, Soerabaia In The Olden Days, Monggo Dipun Badhok, Sidoardjo Tempo Doeloe, The World Belongs to the Sower, dll.
Blitar, dinihari 14 Februari 1945:
Malam itu suasana mencekam dan gelap gulita.
Komandan Peleton, Syodancho Supriyadi menerima laporan dan lalu memberi perintah pada Komandan Regu Bundancho Sudarmo, “Hajime!” (mulai!).
Kemudian Sudarmo mendekati dua orang Prajurit Sukarela Giyuhei, yang bernama Katam dan Tukiman. Sejurus kemudian terdengarlah aba-aba yang keluar dari mulut Sudarmo, “Utet!!!” (tembak!!!).
Menggelegarlah peluru-peluru mortir yang diarahkan ke Hotel Sakura yang terletak di dalam kota. Tidak ada seorang opsir Jepangpun yang menjadi korban. Kerena para perwira Jepang yang tinggal di hotel itu sudah mengungsi ke tempat lain. Markas Kempeitai (Polisi Rahasia Jepang) yang terletak di samping ksatrian kemudian diserbu. Ternyata markas itu dalam keadaan kosong! Berarti memang benar, bahwa rencana pemberontakan itu telah bocor ke pihak Jepang!
Beberapa saat kemudian sesuai rencana semula, para pemberontak itu bergerak meninggalkan kota Blitar. Mereka terbagi dalam 4 group. Yang ke Utara dipimpin oleh Syudancho Sunarjo. Yang ke arah Timur dipimpin oleh Budancho Sunanto. Kedua rombongan itu nanti akan dipimpin langsung oleh Syudancho Supriyadi.
Para pemberontak yang menuju ke arah Barat, dipimpin oleh 3 orang Syudancho, yaitu Munadi, Suparyono dan S.Jono. Pasukan ini yang membawa peralatan perang yang paling lengkap.
Sedangkan rombongan terbesar adalah yang menuju ke arah Selatan, dipimpin oleh Syudaancho Dasrip dan Bundancho Imam Bakri dan Tarmudji.
Itulah awal mula meletusnya Pemberontakan Tentara Peta di Ksatrian Daidan Blitar. Para pelaku pemberontakan ini adalah para prajurit muda yang usianya rata-rata masih 22 tahun!
Pemberontakan Tentara Peta:
Pada tgl. 3 Oktober 1943, Panglima Tentara Keenambelas Kemaharajaan Jepang yang menduduki P.Jawa dan Madura, mengeluarkan Osamu Seirei (Peraturan Pemerintah Balatentara Jepang) No.44, tentang pembentukan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (Peta) di Tanah Jawa.
Pada akhir tahun 1943 mulailah pembentukan daidan (batalyon) Tentara Peta di seluruh Jawa, Madura dan Bali. Jadi di dalam setiap kabupaten terdapat satu daidan. Dan dalam satu karesidenan terdapat 2 sampai 5 daidan. Masing-masing daidan berdiri sendiri di bawah komando Balatentara Jepang setempat. Jadi satu sama lain tidak ada komunikasi sama sekali. Hal ini memang sengaja dibuat demikian oleh pihak Jepang. Hubungan antara daidan satu dengan yang lain, walaupun berada dalam satu karesidenan tidak mungkin terjadi. Perwira-perwira Indonesia yang ditempatkan di masing-masing daidan itu sebelumnya menerima pendidikan dalam Korps Latihan Perwira di Bogor. Di mana pelantikan mereka dilaksanakan di Lapangan Ikada Jakarta pada tanggal 8 Desember 1943.
Daidan Blitar:
Daidan (batalyon) Blitar adalah bagian dari Daidan Kediri. Tempatnya di bekas Gedung Mosvia di Desa Bendogerit, tapal batas Timur kota. Selama 3 bulan pertama, para prajurit Peta di Daidan Blitar menerima latihan dasar kemiliteran. Untuk itu mereka harus tinggal di asrama dengan sendirinya terpisah dari keluarganya.
Dari pagi hingga larut malam, mereka menjalani latihan fisik yang amat berat. Mereka juga tidak memperoleh cuti. Namun pada suatu ketika mereka diberi waktu untuk cuti. Dan para prajurit Peta itupun kembali ke kampung halamannya buat melepas rindu pada keluarganya.
Kala itulah mereka baru mengetahui bahwa semenjak Balatentara Dai Nippon menguasai negeeri ini, sesungguhnya kehidupan masyarakat menjadi sangat menderita, termasuk keluarga mereka sendiri.
Kelaparan dan kemelaratan melanda di mana-mana. Para petani dipaksa untuk menjual hasil panennya pada kumiai-kumiai (organisasi yang menangani pembelian padi) melebihi jatah yang telah disepakati. Akibatnya para petani sendiri tidak memiliki beras sama sekali. Banyak orang-orang desa yang hanya makan sekali dalam sehari, karena ketidakmampuan mereka. Hewan ternak dirampasi, katanya untuk tentara Peta, padahal kenyataannya untuk konsumsi makan serdadu Jepang. Sedangkan prajurit Peta hanya diberi makan grontol tanpa lauk apapun! Perhiasan milik pendudukpun dirampas, katanya untuk biaya perang. Anak-anak remaja perempuan diambil paksa dari orangtuanya. Katanya akan dikirim ke Tokyo untukdisekolahkan, namun nyatanya mereka dikirim ke Surabaya untuk dijadikan juugun ianfu (wanita penghibur) serdadu Jepang. Kemelaratan ada di mana-mana di seluruh negeri. Bahkan banyak penduduk yang hanya mengenakan celana dan baju dari.... bagor!
Kaum lelaki juga banyak yang dijadikan romusha. Mereka yang oleh pihak Jepang digembar-gemborkan sebagai pahlawan pekerja, sebenarnya tak lebih dari budak belian belaka. Puluhan ribu pendudukpun mati karena dijadikan romusha.....
Para anggota teentara Peta pun juga merasakan betapa rendahnya martabat mereka jika dibandingkan dengan tentara Jepang. Walaupun mereka berpangkat lebih tinggi, namun mereka dipaksa untuk memberi penghormatan pada serdadu Jepang yang pangkatnya lebih rendah. Prajurit Peta pun juga sering mendapat perlakuan yang tidak senonoh dari tentara Jepang.
Tekat Mulai Membulat:
Sementara itu Balatentara Jepang mengalami kekalahan di mana-mana dari Sekutu. Pihak Jepang mulai merayu rakyat negeri ini bahwa kelak Jepang akan memberikan kemerdekaan bagi Indonesia di kemudian hari.
Para anggota tentara Peta di Daidan Blitar akhirnya mendengar juga tentang janji kemerdekaan itu. Mereka sudah haus dan rindu akan kemerdekaan. Namun bukan kemerdekaan yang dijanjikan, tapi kemerdekaan yang telah bertahun-tahun diperjuangkan oleh bangsa Indonesia sendiri. Yang diinginkan oleh para anggota tentara Peta itu adalah kemerdekaan bagi pembebasan penderitaan rakyat, kemerdekaan bagi romusha, pembebasan dari penghinaan karena diperintah oleh orang asing. Kemerdekaan dari lahirnya martabat dan harga diri bangsa.
Ketika para anggota tentara Peta itu kembali ke Daidan Blitar, mereka telah menjadi orang lain! Dengan mata kepala sendiri mereka melihat betapa balatentara pendudukan Jepang telah menipu mereka mentah-mentah. Di desa-desa banyak kaum lelaki yang tewas karena dijadikan romusha. Akhirnya dipekerjakanlah romusha-romusha wanita. Ternyata para romusha wanitapun banyak yang tewas juga. Banyak anak-anak yang menjadi yatim piatu. Rasa amarah para anggota Daidan Blitar itu sudah mencapai puncaknya. Merekapun bertekad untuk berontak!
Ucapan “Bersiaplah!” yang semula hanya berupa bisik-bisik saja, lama kelamaan menjalar ke mana-mana.
Pemberontakan Mulai Dirancang:
Tidak ada kodumen tertulis yang dibuat oleh para anggota tentara Peta ketika menyusun rencana pemberontakan itu. Namun para anggota tentara Peta Daidan Blitar yang ikut dalam pemberontakan itu menyatakan bahwa Syodancho Supriyadi-lah yang menjadi penggagas dan pencetus pemberontakan itu. Di samping itu juga ada Syodancho Muradi, Budancho Halir Mangkudijaya dan Budancho Sunanto. Mereka semua adalah anak-anak muda yang usianya sekitar 22 tahun. Dan sebagai sesepuh diangkatlah Cudancho Dr.Ismangil.
Rapat pertama dilaksanakan di kamar tidur Halir Mangkudijaya. Rapat ini dihadiri oleh 6 Syodancho dan 6 Budancho. Rapat pertama kemudian disusul dengan rapat-rapat berikutnya. Dan akhirnya diambillah keputusan, di antaranya adalah:
· Mereka akan mengadakan perebutan senjata sebanyak-banyaknya dari balatentara Jepang.
· Setelah mengadakan perebutan senjata, mereka akan mengadakan konsolidasi antar-Daidan.
· Jika tidak bisa bertahan di dalam kota, mereka akan mengadakan perang gerilya di hutan-hutan.
· Mereka akan menghubungi para pemimpin bangsa, terutama Ir Soekarno agar segera mencetuskan kemerdekaan negeri ini.
Dalam kenyataannya, keputusan itu mengalami banyak perubahan. Permasalahan utama karena mereka tidak bisa mengadakan kontak dengan daidan-daidan lainnya. sementara itu ada kekhatiran bahwa rencana pemberontakan itu akan bocor ke pihak Kempeitai (Polisi Rahasia Jepang)
Menghadapi kenyataan ini Supriyadi dan kawan-kawannya menghadapi pilihan yang sulit:
· Mereka akan menunggu sampai pihak Jepang mengetahui rencana pemberontakan ini. Atau:
· Pemberontakan itu segera dilaksanakan, walaupun persiapan belum matang. Akhirnya diputuskanlah untuk melaksanakan alternative yang ke dua, dengan alasan:
· Mereka tidak mau ditangkap oleh Jepang dengan percuma.
· Jika mereka tertangkap, kemungkinan untuk hidup sangat kecil, mengingat keganasan Kempeitai.
· Dengan dikobarkannya pemberontakan itu, diharapkan daidan-daidan lain akan ikut pula berontak.
· Seluruh orang Jepang yang ditemui harus dibunuh! Tapi anggota tentara Peta dilarang keras membunuh bangsa sendiri, apapun alasannya.
Tanggal 13 Februari 1945 diadakan rapat yang terakhir. Supriyadi tidak ikut dalam rapat itu, ia menyembunyikan diri karena dicari-cari Kempeitai. Bahkan ketika pemberontakan sudah meletus, ia tidak bisa bergabung dengan pasukannya.....
Gagal:
Mengapa pemberontakan Peta Daidan Blitar ini gagal? Secara fisik gerakan pemberontakan ini memang gagal. Namun secara psikhologis pemberontakan ini membawa dampak luar biasa di seluruh daidan yang ada di Tanah Jawa dan Madura.
Berikut ini analisanya:
· Permasalahan utama kegagalan pemberontakan ini karena tidak adanya pimpinan tertinggi dalam tentara Peta yang bisa memberi komando. Para Daidancho (Komandan Batalyon) maupun Cudancho (Komandan Kompi) yang juga orang-orang Indonesia dan lebih senior, walaupun bersimpati dengan gerakan pemberontakan ini, namun mereka lebih suka bersikap hati-hati, sehingga tidak terkesan mendukung pemberontakan tersebut. Dengan begitu maka para Daidancho dan Cudancho tersebut di mata para Syudancho ke bawah dianggap sebagai orang-orang tua saja dan tidak revolusioner.
· Tidak ada komunikasi sama sekali antardaidan (batalyon) ketika pemberontakan Peta Daidan Blitar itu meletus. Sekiranya seluruh daidan di Tanah Jawa ini mengetahui dan kompak untuk berontak, tentu ceritanya akan lain.
· Harus diakui perencanaan pemberontakan ini kurang matang. Belum apa-apa rencana pemberontakan itu sudah terbongkar dan diketahui oleh Kempeitai. Dan ketika pemberontakan ini meletus, tidak ada satupun perwira Jepang yang menjadi korban, karena mereka semua telah bersembunyi ke tempat lain ketika Hotel Sakura dihujani mortir.
Penyelesaian Pemberontakan dan Hukuman Yang Ditimpakan:
Nyaris tidak ada perang frontal dalam pemberontakan itu. Walaupun pihak Jepang mengerahkan tank-tank dan juga panser, namun para pemberontak itu tidak diapa-apakan! Yang disuruh maju justru prajurit-prajurit Peta dari Kediri bersama Daidancho maupun para Cudancho-nya yang juga orang-orang Indonesia. Namun mereka tidak diperintahkan untuk merampas, tapi merayu para pemberontak itu agar mau menyerah dan kembali ke Ksatrian Daidan Blitar.
Namun begitu mereka masuk ke dalam ksatrian, langsung mereka ditangkap oleh Kempeitai dan dihajar habis-habisan.
Persidangan terhadap mereka adalah persidangan militer ala Jepang. Mereka tinggal mendengarkan segala macam tuduhan itu dan menjalani hukuman yang sudah diputuskan. Ada yang dihukum mati antara lain: Cudancho Dr.Ismangil, Syudancho Muradi, Suparyono, Budancho Sunanto, Halir dan Sudarmo.
Ada juga yang dihukum mulai dari 2 tahun hingga 15 tahun.
Beruntunglah bahwa Jepang akhirnya menyerah kalah pada Sekutu dan Indonesia pun merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Jadi merekapun dibebaskan dari hukuman.
Jadi Menteri:
Akan halnya Syodancho Supriyadi, sesudah Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, jadi kurang lebih 6 bulan setelah meletusnya pemberontakan yang gagal itu, oleh Presiden Soekarno ia diangkat sebagai Menteri Keamanan RI yang pertama pada tanggal 5 September 1945. Namun dalam pelantikan kabinet ia tidak hadir, begitu pula setelah itu.
Pemanggilan sudah berkali-kali dilakukan oleh Pemerintah Pusat di Jakarta melalui telegram, radiogram atau surat khusus yang dibawa ke Blitar.
Ke mana perginya Supriyadi? Ia seakan-akan lenyap bagai ditelan bumi.
Presiden Soekarno kemudian menunjuk Suyoadikusumo sebagai Menteri Keamanan RI yang kedua. Sulyoadikusumo sebelumnya pernah menjabat sebagai Daidancho (Komandan Batalyon) Peta di Madiun. Ia termasuk orang yang paling tidak disukai Jepang karena bersimpati dengan Pemberontakan Peta Blitar.
Sulyoadikusumo kemudian diganti oleh Soedirman sebagai Panglima Besar TKR berpangkat Jenderal. Salah satu alasannya adalah karena keberhasilan Soedirman ketika merebut persenjataan Jepang di Purwqokerto, serta keberhasilan Soedirman mengusir tentara Inggris di Ambarawa.
Ke mana Supriyadi?
Ada beberapa pendapat mengenai hilangnya Supriyadi:
· Sebenarnya Supriyadi mati dibunuh oleh Jepang secara diam-diam dan mayatnyapun dilenyapkan! Pembunuhan terhadap Supriyadi ini benar-benar dirahasiakan, agar supaya tidak menimbulkan reaksi rakyat terhadap balatentara Jepang. Apalagi kemudian sampai ada pemujaan terhadap dirinya sebagai pahlawan.
· Karena semasa hidupnya ia dikenal nglakoni kehidupan spiritual Jawa, seperti semedi maka disebarkan desas-desus bahwa Supriyadi telah mukswa.Dalam kehidupan masyarakat Jawa (terutama di Karesidenan Kediri) memang ada keyakinan, bahwa seseorang yang memiliki kelebihan dan kesaktian tertentu bisa mukswa, yang maksudnya adalah melenyapkan dirinya sendiri, tapi bukan bunuh diri.
· Sejak saat itu (mulai sekitar tahun 1960-an) sudah b eberapa kali ada orang yang ngaku-aku bahwa dirinya adalah Supriyadi! Namun setelah dikonfrontir dengan para bekas anggota tentara Peta Blitar, mereka tidak mengakui itu Supriyadi yang dikenalnya di Daidan Peta Blitar.
Demikian sekelumit cerita tentang Supriyadi, perancang pemberontakan tentara Peta Daidan Blitar, yang pemberontakannya dicetuskan sekitar 6 bulan sebelum Kemerdekaan NKRI diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945. Semoga cerita ini bisa menambah spirit para generasi emas 100 tahun NKRI untuk memakmurkan NKRI masa kini dan masa depan. Amin.

Tags:

1 comments to "SUPRIYADI "

  1. Anonymous says:

    Terima kasih pak atas artikel di atas. Agak membingungkan memang, ada tulisan yang saya temukan dalam buku Documenta Historica, Sedjarah Dokumenter dari Pertumbuhan dan Perdjuangan Negara Republik Indonesia" karangan Osman Rabily, terbitan 1953.
    Dalam buku tersebut, di halaman 62 :
    OKTOBER 22 (1945) Suprijadi, panglima Tentara Keamanan Rakjat dari NRI, terbang ke Semarang dari Djakarta guna berembuk dengan pimpinan tentera Inggeris disama tentang perlutjutan sendjata. Persetujuan diperoleh untuk melutjutkan persendjataan penduduk preman, terketjuali polisi.
    Mohon tanggapan.

Leave a comment