Srawungku Karo Sastra Jawa

Home » » HM CHENG HOO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN

HM CHENG HOO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN

Kula aturi rawuh peluncuran buku Djadi Galajapo, Jumat 19 Sept 08, di metropolis room Graha Pena lt 3 pukul 15.00 thit, bonari, yg ikut menulis buku tsb. Suwun. Harus mendaftar? Khusus Pak Parto tanpa harus ndhaftar.

Begitulah SMS yang kuterima. Djadi Galajapo, saya tahu itu nama kelompok pelawak di Surabaya. Beredar setelah saya pensiun, (artinya saya sudah tidak giat nyemak secara fisik maupun sosial perkembangan kota Surabaya lagi, saya sama sekali sudah tidak mendengarkan radio lagi, kurang sekali menonton TV, tidak suka telepon-teleponan hingga pulsa HP saya bertumpuk tak terpakai, kurang sekali membaca koran), jadi tidak pernah melihat atau mendengarkan banyolan kelompok Galajapo. Tetapi kalau acara tentang buku, saya usahakan selalu bisa mengikuti. Diah Pitaloka, Dewi Lestari, Pipiet Senja, Andrea Hirata, Lan Fang, Shoim Anwar, Amang Mawardi, Akhudiat, Widodo Basuki, Siti Aminah, Elizabeth D. Inandiak, Hersri Setiawan, Asvi Warman Adam, Agus Wahyudi, Agus Mustofa, Murakami Saki, Yayasan Karmel, Ary Nurdiana, Freek Colombijn, GM Sidarta, Bugilbaca, itu beberapa nama yang saya hafal luar kepala ketika bedah atau diskusi bukunya yang saya (perlukan) hadiri. Saya banyak mengambil manfaat dari situ untuk ibadah, karena tentang buku (membudayakan menulis, membaca, memahami, menerbitkan, membeli, menjual, menyiarkan) saya memang belum mau pensiun, saya anggap amanah Allah. Jadi, bukan hanya karena undangan lewat SMS Mas Bonari itu, saya juga secara resmi juga mendaftar akan hadir peluncuran buku HM Cheng Ho Djadi Galajapo itu.. Saya datang 30 menit sebelum acara peluncuran buku Djadi Galajapo dimulai.

Begitu masuk lantai 3, saya bertemu Prof.Dr.Sam Abede Pareno, dan selanjutnya bersama dia. Dia begitu akrab dengan forum, sedang saya merasa asing. Orang-orang muda yang menyapa dia juga menyapa saya, saya kira karena dialah saya ikut disapa. Tapi, mereka kok ya menyebut nama saya (tentulah sudah mengenal betul saya). Salah seorang berbaju putih-putih, kepalanya agak gundul, menyalami dan mempersilakan kami berdua masuk ruangan Metropolis room yang masih kosong dengan cara begitu akrab. Tapi kami berdua milih kursi paling belakang, karena Pak Sam tidak bisa tinggal sampai buka puasa, karena ada acara lain. Jadi kalau acara sedang berjalan Pak Sam bisa dengan diam-diam tidak mengganggu acara meninggalkan ruangan. Di latar belakang podium tertulis jelas: HM Cheng Ho Djadi Galajapo, NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN. Pembicara: Bagong Suyanto dan Suko Widodo.

Selain nama dosen-dosen UNAIR itu kemudian mengisi ruangan orang-orang terkenal lainnya: Wakil Walikota Surabaya Arif Afandi, perwakilan Honda Motor (sponsor penerbit buku), Kurniawan Muhammad, Bonari Nabonenar, Sabrot D.Malioboro, Cak Kadaruslan, Kartolo dan istri, Djoko Pitono, RM Yunani, dan orang-orang aktif di Surabaya saat ini (maaf, tidak bisa saya sebut semuanya, meskipun sangat penting pada acara ini). Dan nanti setelah acara berjalan terungkap pula orang-orang dekat (sesama pelawak) Djadi, seperti Didik Mangkuprojo (ini saya kenal), Hunter Parabola, Adenan, Lutfi (teman main di Galajapo) dan Insaf Andi Lah Yaw. O, ya, dan Cak Kobar, anak muda berambut brukoli yang menjadi moderator acara, yang tidak lain juga pembawa acara Becak (Berita Kocak) JTV (TV-nya Jawa Pos). Saya menonton TV sangat saya batasi, sehingga juga tidak pernah mengenali Cak Kobar. Ternyata orang akrab berbaju putih yang agak gundul tadi yang punya gawe siang itu, HM Cheng Ho Djadi Galajapo.

Dia membuka acara dengan kidungan: “Semangka siji sega dijangkepi, sing teka dina iki takdongakna akeh rejeki”. Meskipun profesinya kental sebagai pelawak, dengan menerbitkan buku ini dia tidak guyon, meskipun bukan sastrawan beneran dia serius menerbitkan bukunya. Artinya isinya benar dan jujur. Lalu dengan terampil dia menyampaikan terimakasih atas kedatangan dan jasa-jasanya “memberdayakan” grup pelawak Galajapo. Terampil, cekatan, bebas tanpa ikatan tradisi, bergairah dan lucu. Bicaranya disela pihak lain ya ditanggapi dengan enak, kreatif, cerdas dan lucu. Ucapan terimakasih ditujukan kepada Jawa Pos (a.l. Wawali Surabaya Arif Afandi, Sam Abede Pareno, Kurniawan Muhammad) dan para tamu yang hadir, masing-masing disebut namanya dan jasanya. Misalnya Abah Kartolo disebut sebagai gurunya yang paling senior (karena itu dipanggil Abah).

Lalu sambutan-sambutan. Wawali Surabaya, Suwito M., Sam Abede Pareno, Cak Kadaruslan, Kurniawan Muhammad, Cak Kartolo, Sabrot D. Malioboro, Lufti, Bonari, Bu Yati.

Oleh Wawali Surabaya Arif Afandi, disindir nama HM Cheng Ho, HM-nya berbau promosi Honda Motor yang menyeponsori penerbitan bukunya, ya diterima Djadi jegegesan, mengakui memangnya Pak Suwito M, Direktur PT MPM Motor Main Dealer Motor Honda Jawa Timur dan NTT 5 tahun terakhir ini sering memberi job.

Suwito M. ketika giliran menyambut mengatakan, acara-acara promosi Honda sering dipercayakan kepada Cak Djadi Galajapo, baik individual maupun group. Cak Djadi joke-jokenya spontanitas cerdas, product knowledge-nya kena, ditunjang karakter yang kuat, wawasan yang luas, banyolannya bernas, seringkali religius. Pak Suwito sangat berkesan dengan nyanyian kanak-kanak TK yang telah diubah syairnya spontan oleh Djadi, Satu-satu, jangan jangan pakai shabu, dua-dua jangan pakai ganja, tiga-tiga jangan pakai narkotika, satu-dua-tiga pakai Honda saja”.

Sam Abede Pareno memulai dengan judul buku yang dibedah, merepotkan toko buku. Ini akan diletakkan di buku Agama, atau Masak-masakan? Judulnya kan Neraka dan Kue Terang Bulan? Selanjutnya dia menceritakan ketika menjadi staf wartawan di Jawa Pos tahun 1980-an, dirasakan tidak banyak pelawak Jawa Timur yang bisa berbicara di tingkat nasional. Di situlah Jawa Pos mengadakan semacam audisi pelawak. Dan ditemukan berkarakter sendiri-sendiri Djadi, Priyo dan Lufti. Lalu ada ide menggabungkan mereka jadi satu kelompok, yaitu Galajapo, singkatan dari Gabungan Lawak Jawa Pos. (Ide yang membidani dan getol mencarikan job adalah Pak Kris Maryono, wartawan RRI Surabaya, juga hadir di situ, kala itu nama Galajapo diciptakan pada zaman banyak kata gala diedarkan seperti Galatama, Galarama, Galatawa. Galajapo, Japo-nya diartikan Jawa Pos, memang diharapkan grup lawak itu nantinya menjadi anak asuh Jawa Pos. Tetapi Galajapo juga bisa diartikan kependekan dari nama-nama anggota grup itu, yaitu Gabungan Lutfie, Djadi, Priyo). Pak Sam tidak lupa mengatakan bahwa menyeponsori penerbitan buku itu suatu pekerjaan mulia dan mendidik, maka berharap Honda jangan hanya menyeponsori penerbitan bukunya sastrawan bukan beneran, sastrawan yang beneran seperti Suparto Brata itu juga bukunya disponsori diterbitkan.

Cak Kartolo agak alot ketika disuruh menyambut maju ke depan. Tidak punya persiapan. Sebagai pelawak yang handal, Cak Kartolo kalau mau pentas, pasti jauh sebelumnya sudah merencanakan ide-ide yang mau dipentaskan, dihafalkan dan dilatih sampai pada waktunya pentas. Pasti ada persiapan, kalau mungkin pelatihan sebelum pentas. Kini tidak ada persiapan ngomong, maka alot untuk maju ke depan. Sudah berdiri, duduk lagi. Apalagi sementara itu Cak Djadi ngomong terus, memuji-muji kehebatan Cak Kartolo. Karena lama Cak Kartolo tidak mau ke depan, Cak Djadi bilang, “Mosok, Rêk, nyang mrene mik perlune kate mangan-mangan buka pasa?”. Cak Kartolo sampai di depan, terus saja ngomong sambil menunjuk bibir Cak Djadi, “Iku lambe tah kitiran!?” Dalam sambutannya yang serius, Cak Kartolo tidak mau kalah, sama-sama pelawak Cak Kartolo juga mau menerbitkan buku seperti Djadi Galajapo. “Buku utang piutang.”

Cak Kadaruslan menceritakan pengalamannya, pernah dipisuhi “Jancuk! Jancuk!” oleh Grup Galajapo. Yaitu sebagai pecinta seni, Cak Kadaruslan menyelenggarakan pagelaran seni, tetapi grup pelawak tidak dikatutkan. Itu salah tangkap. Sebab untuk pelawak, oleh Cak Kadar sudah disiapkan untuk digelar di luar. Sebagai pelawak, mestinya tidak boleh cepat emosi, marah-marah. Pelawak itu memberikan hiburan kepada khalayak, tidak memarahi khalayak. Cak Djadi sungguh mengaku khilaf soal peristiwa itu. Dulu sudah minta maaf, sekali ini juga sungguh-sungguh minta maaf.

Suko Widodo sebagai pembicara resmi tentang buku ini, sangat mendukung seorang person menerbitkan buku, siapa pun dia, bagaimana nasibnya, perjuangan hidupnya, apa profesinya, apalagi “punya nama”, punya track-record aktivitas seperti Djadi Galajapo di Surabaya. Tapi harus jujur, sebab bagaimana pun juga bukunya itu akan merupakan gambaran sejarah kehidupan bangsa waktu buku itu ditulis, yang bisa dijadikan pembelajaran bagi generasi pembaca untuk menyiasati kehidupan masa depan yang lebih baik. Melihat sekejab bukunya (karena baru diberi ketika masuk ruangan itu) Pak Suko mengeritik tentang banyaknya sanjungan-sanjungan, puji-pujian di buku tadi, terutama 50 halaman terakhir (dari 146 halaman). Tapi juga memuji Cak Djadi, sebagai pelawak dia juga memperhatikan profesi sosial yang lain dijadikan bahan memperkuat melawaknya, misalnya mau berdakwah sementara pentas, juga memperhatikan profesi guru (Cak Djadi lulusan IKIP Surabaya, pernah ditugaskan sebagai guru pns di Pacitan, tapi mengundurkan diri karena pns kan singkatan dari penghasilanipun namung sekedhik). Dengan perhatiannya pada profesi lain, maka di mana pun dia naik pentas menjalani profesinya sebagai pelawak, dia bisa bicara lucu tepat pada profesi lain tadi dan diterima oleh publik profesi itu.

Sabrot D. Malioboro dapat giliran tampil, dengan lebih dahulu disanjung oleh Cak Djadi karena terus-terangnya berani mengeritik sikap atau tingkah Cak Djadi langsung di hadapannya. Cak Djadi sangat aprisiate menerima kritik seperti itu. Dengan menerima kritik dia menjadi lebih sadar dan dewasa ketika pentas menjalani profesinya sebagai pelawak. Sedangkan kalau hanya menerima puji-pujian seperti yang dituturkan Pak Suko Widodo, ia bisa mabuk kepayang, terlena, kurang berkualitas. Sabrot menceritakan ketika Cak Djadi jadi MC di acara kampanye Walikota Blitar. Walikota Blitar berkampanye politik pidato berapi-api. Lalu sebagai MC Cak Djadi bicara sela acara, juga berapi-api seolah-olah terseret virus politik Walikota Blitar. Sabrot memperhatikan peristiwa itu dari Surabaya. Ketika bertemu di Balai Pemuda, Sabrot langsung bilang kepada Cak Djadi. “Kamu ini pelawak. Jangan ikut-ikutan di bidang politik. Tekunilah profesimu, maka kamu akan bahagia!”

Bagong Suyanto membuka bicaranya menuduh Djadi tidak jujur apa yang ditulis (diceritakan) pada peristiwa mendapat job bersama aktris, lalu sampai berduaan saja dengan aktris itu, tapi peristiwanya berakhir dengan menutup perut perempuan tadi dengan handuk. Apa betul-betul peristiwanya berakhir sampai di situ, apa yang ditutup hanya perutnya, itu yang disangsikan oleh Pak Bagong. Bahwa peristiwa semacam itu termasuk kehidupan para seniman panggung, bisa dimengerti. Langsung dijawab oleh Cak Djadi peristiwa dan akhirnya persis seperti itu. Kalau tidak, bukankah itu rahasia kejelekan peribadi, mengapa diceritakan? Intinya, begitulah godaan di profesinya, namun Cak Djadi (dan banyak orang berprofesi seperti itu juga) bisa tetap hidup suci.

Orang Cina itu kurang diterima baik oleh masyarakat Jawa. Seringkali Pak Bagong berjalan-jalan dengan istrinya, kemudian ditegur oleh teman bermata sipit, istrinya melengos dengan ucapan bernada menghindar, “Cina ngono, lo!” Istrinya tidak sadar bahwa Pak Bagong itu juga Cina. Itulah gambaran yang diberikan oleh Pak Bagong bahwa pada umumnya orang Cina tidak diterima dengan rela hati oleh masyarakat Jawa. Untuk bisa diterima banyak sekali orang Cina harus mengganti namanya dengan nama Jawa, termasuk Pak Bagong Suyanto. Banyak (sekali) orang Cina untuk berasosiasi dengan orang Jawa mengganti namanya dengan nama Jawa, tetapi Pak Bagong belum pernah dengar orang Jawa yang mengubah namanya dengan nama Cina. Orang Jawa yang memberi namanya dengan nama Belanda, nama Arab, nama Buda, banyak. Tapi menggunakan nama Cina, Pak Bagong tidak pernah dengar. Ya baru HM Cheng Ho Djadi Galajapo ini. Itupun dulu, ketika Cak Djadi memberitahu bahwa kalau dia berhasil naik haji mau menambah resmi namanya dengan Haji Mohammad Cheng Ho, Pak Bagong juga tidak percaya. “Ya, kalau memilih nama Cheng Ho sebaiknya minta izin dulu sama yang berwenang, karena nama Cheng Ho sudah jadi nama masjid di Surabaya,” saran Pak Bagong ketika itu, ragu-ragu, tak percaya. Ternyata benar, Cak Djadi yang semula dikenal oleh Pak Bagong bernama asli Jawa Sudjadi yang kelahiran Dadap Kuning Cerme Kabupaten Surabaya itu setelah naik haji namanya ditambah Haji Mohammad Cheng Ho. Nama Cheng Ho dipilih setelah Cak Djadi mendengar keheranan Pak Bagong tentang nama orang Jawa yang suka mengubah namanya jadi nama Arab atau Belanda, tapi tidak ada yang mengubah namanya dengan nama Cina. Waktu mendengar itu, Cak Djadi bilang, wajar saja begitu, karena orang Jawa kan kebanyakan orang Islam, jadi ingin menandaskan keislamannya dengan nama Arab. “Itu pikiran kurang pas,” ujar Pak Bagong. “Karena orang Cina yang islam juga banyak, dan bahkan yang membawa Islam ke Tanah Jawa, adalah orang Cina. Yaitu Laksamana Cheng Ho.” Terobsesi oleh percakapan tadi, maka ketika Cak Djadi berhasil menunaikan ibadah haji, maka mengubah namanya ditambah Haji Mohammad Cheng Ho Djadi Galajapo.

Diskusi ini juga disela pembagian buku HM Cheng Ho Djadi Galajapo NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN. Mereka yang mendapat diundi melalui door-prize. Yang namanya disebut, segera maju ke depan menerima bukunya dari Cak Djadi. Hampir terakhir, namaku disebut. Mengerti namaku dan tempatku (di kursi belakang) Cak Djadi tidak memanggil saya, tetapi dia yang datang membawa bukunya ke tempat saya duduk. “Terima kasih, Cak Djadi, saya dapat kehormatan begitu.”

Setelah sambutan-sambutan orang-orang penting, maka ditawarkan para hadirin yang mau bertanya. Banyak yang angkat tangan, tetapi karena waktu mendekati magerip, hanya tiga orang dipersilakan. Seorang ibu mendapat prioritas bicara, karena sejak tadi yang ngomong laki-laki. “Judul bukunya kok NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN, apa maknanya dan diilhami dari mana?”

Cak Djadi menjawab (ceritanya juga ditulis di bukunya), bahwa kakeknya yang semula menekuni penghayatan Sapta Darma, menyuruh Djadi rajin mengaji di surau dekat rumahnya. Kemudian setelah Djadi bertambah besar dan rajinnya mengaji di masjid, kakeknya juga berangsur-angsur mengikuti sholat di masjid, dan simbul-simbul Sapta Darmanya (misalnya gambar wayang Semar) hilang dari rumahnya. Namun kelakuan Djadi untuk naik pentas menjadi pelawak, tidak berubah. Tiap ada kesempatan (misalnya perayaan 17 Agustusan) Djadi pasti naik pentas melawak. Ini membuat kakeknya malu. “Koën iku gak isin, tah, modhuk teka masjid terus mbanyol ndhuk panggung? Wong lèk mbanyol gawe guyu wong liya iku mbesuke mlebu ndhuk Neraka Wail!” Dari pemahaman begitu akhirnya dengan keras kakeknya melarang Djadi naik pentas melawak. Djadi jadi kepikiran. Ingin terus meraih cita-citanya (yang sudah jadi kebiasaannya) dengan melawak, tapi kalau ketahuan kakeknya, dimarahi. Pada hal cita-citanya jadi pelawak sudah mulai mendapatkan hasil, kalau naik panggung dapat uang. Djadi putar otak, bagaimana supaya kakeknya tidak melarang dia naik panggung. Djadi tahu kakeknya sore hari suka minum kopi dengan nyamikan. Yang paling suka kue terang bulan (nama kue di Surabaya, di Jawa Tengah mungkin namanya srabi bandung, di Jakarta Timur martabak manis). Maka, ketika Djadi dapat tanggapan dan dapat hr, ia membelikan kue terang bulan. Waktu sore kakeknya minum kopi, kue terang bulan dihidangkan. Dimakan oleh kakeknya sampai habis. Ketika ditanya dari mana dapat terang bulan, dijawab dari hasil melawak naik panggung. Sang kakek skak mat! Djadi sudah bisa berdalih, bahwa dia seringkali mendengarkan ceramah ustad yang disela guyonan gar-ger.Ceramah ustad dengan melawak, menjadi segar dan tidak masuk neraka wail. Djadi juga berdalih, bahwa nanti ketika melawak di pentas, ia juga akan sertamerta berdakwah. Jadi juga tidak masuk Neraka Wail! Sang kakek menerima.

Diskusi diakhiri karena azan magerip, dan selesai setelah pengunjung buka puasa di ruang sebelah.

Tidak ada sahabat dekat, usai berbuka puasa saya pulang. Menunggu lift buka, saya dengar percakapan di belakang saya (juga menunggu lift tentunya) jawaban perempuan mengatakan bahwa dia baru habis bertugas dari Pasuruan, mengunjungi keluarga penerima zakat yang kena musibah itu. Saya menolih. “Pak Parto, ya? Mengapa, Pak, di sini?” Siapa, ta? “Nani,” jawabnya. Oh, Nani Wijaya! Saking terharuku hampir saja dia kurangkul. Tampak lebih cantik, karena rambutnya lebih panjang, tidak jongen-kop seperti yang saya kenal sebagai direktrisku ketika saya ditugasi menjadi pemimpin redaksi tabloid Jawa Anyar di Solo. Waktu itu saya (dengan Mas Bonari Nabonenar juga) banyak dapat bimbingan dan arahan cara menyelenggarakan penerbitan tabloid dari Bu Nani Wijaya ini, sangat bermanfaat sekali.

Di rumah buku saya baca. Hampir tergelak saya membacanya. Bukan karena isinya yang lucu karena menceritakan riwayat perjuangan seorang pelawak, tetapi habitat tempatnya hidup sejak kecil, adalah lingkungan habitat yang saya kenali benar. Pasar Pacarkeling, Pacarkembang, TK Megawati, Jedong, RGS dengan penyiarnya Supangat, SMPN 9. Itu habitatku sejak zaman Jepang tahun 1942 (rumahku di Kalasan 31, teman sekolahku anak-anak SS-Pacarkeling, Oro-oro, Jedong, Ploso, Rangkah, Bogen, Tambaksari, Karanggayam, sekolahku di Jalan Mundu. Sampai pensiun tahun 1988, rumahku di Rangkah, bekerja di Pemkot, RGS pimpinan Pak Indiarto saya kenal benar, bahkan seorang penyiarnya Mas Soekardjito (dengan istrinya) jadi pegawai Humas sekamar kantor dengan saya. Cak Djadi memilih hari tanggal lahir 6-7 bulan sebelum 1 September 1965, adalah 8 Maret 1965, anak saya nomer 2 lahir 29 Maret 1965, jadi sebarakan dengan Cak Djadi. Sekolah Cak Djadi di SMPN 9, dua anak saya kelahiran tahun 1969 dan 1971 juga sekolah di sana (mestinya adiknya Cak Djadi).

Dalam buku itu ditulis bahwa orangtua Cak Djadi hidup di desa (Creme, Gresik), tetapi Cak Djadi sejak kecil hidup ikut kakek-neneknya di Surabaya. Neneknya tiap hari jual sayur-mayur (wlija) yang kulaknya di pasar Pacarkeling, dijajakan seputar kampung-kampung situ. Si bocah kecil Djadi sering disuruh ikut bekerja belanja sayur oleh neneknya, dan karena penghasilannya kecil dia disekolahkan di TK Megawati, muridnya kebanyakan juga anak-anak orang yang berjualan di pasar.

Membaca buku itu tentang masa kecil HM Cheng Ho Djadi Galajapo, saya jadi terbayang-bayang benar masa kanak-kanakku sendiri di sana. Tempat-tempat itu sudah terlalu sering saya jadikan back-ground novel saya atau tulisan saya yang lain, misalnya: Oh, Surabaya (CV Bina Ilmu, 1975), Surabaya Tumpah Darahku (bersambung di koran Kompas November 1973, CV Bina Ilmu 1978), Saksi Mata (bersambung di koran Kompas November 1997, Penerbit Buku Kompas 2002), Surabaya Zaman Jepang (Surabaya no Monogatari) (Penerbit Jawa Pos 1983), Kremil (bersambung di koran Kompas November 1994, Pustaka Pelajar Yogyakarta 2002).

Tags: