Home » » Kisah Spionase Ontran-Ontran Madiun

Kisah Spionase Ontran-Ontran Madiun

Kisah Spionase Ontran-Ontran Madiun



Judul Buku : Dom Sumurup Ing Banyu
Penulis : Suparto Brata
Penerbit : Narasi, Jogjakarta
Cetakan : Pertama, 2006
Tebal : iv + 238 Halaman

ENERGI menulis Suparto Brata masih menyala terang di usianya yang ke-74 sekarang. Novel berbahasa Jawa Dom Sumurup ing Banyu ini dengan lincah berkisah tentang kecerdikan seorang mata-mata di zaman perjuangan. Latar belakangnya cukup langka diungkap di novel-novel, yakni saat terjadi ontran-ontran PKI/FDR di Madiun pada 1948 melawan pemerintahan Soekarno-Hatta.

Jarum kreativitas Suparto cukup rapi menjahit kisah yang menegangkan dan berliku-liku ini. Sosok sentral dalam kisah ini adalah Herlambang, seorang mata-mata utusan Belanda, yang diperintahkan menyusup ke pabrik mesiu milik republik di Batu Jamus, di lereng barat Lawu.

Reputasi Herlambang cukup hebat. Yakni, pernah membantu mengumpulkan informasi sebelum pasukan AS, yang dipimpin Jenderal McArthur, mendarat di Saipan, Mariane, Iwo Jima, Tarakan, dan Luzon. Kemampuan Herlambang untuk opnemem (memotret dengan detail informasi lewat mata dan daya ingat yang tajam) memudahkan sang jenderal besar itu menghancurkan pertahanan Jepang di Perang Dunia II.

Untuk menuju Gunung Lawu, Herlambang memulai perjalanan dari Mojokerto, dari Restoran Tong Sien. Dari kota yang dikuasai Belanda itu dia menerima perintah dari perwira Belanda, van Grinsven. Saat memulai operasi, di dalam jeep yang disediakan perwira Belanda itu, ternyata ada perempuan muda, Dyah Ngesthireni namanya.

Perempuan bangsawan ini dititipkan orang Inggris kepada Herlambang, agar dia bisa bareng untuk bertemu keluarganya di Solo. Di zaman Jepang yang bengis, Ngesthireni ditipu dan dibawa ke Pulau Seram, dijadikan jugun ianfu, pemuas nafsu tentara Jepang. Setelah Jepang dikalahkan dia ingin kembali ke tanah kelahirannya.

Perjalanan Herlambang dan Ngesthireni bergulir cepat dan penuh kejutan. Mula-mula keduanya berpakaian sebagai orang pro-Belanda di wilayah Belanda. Ketika masuk desa, di wilayah gerilyawan republik, mereka berganti rupa. Mengaku sebagai suami istri pengantin baru yang akan meminta restu orang tua di wilayah Mojoagung.

Mereka diinterogasi macam-macam. Sampai akhirnya mereka disertai seorang tentara republik, Kiswanta, anggota intelijen wilayah barat yang waktu itu bertugas di Mojokerto. Sang tentara mendapat bocoran adanya mata-mata Belanda yang menyusup ke wilayah republik. Waktu itu republik sangat terjepit setelah perjanjian Renville.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi selama perjalanan dari Mojokerto ke arah barat ini menjadikan cerita berjalan seru. Terlebih peristiwa-peristiwa itu jalin-berjalin di dalam suasana kota yang muram. Kalau malam redup, karena pasokan listrik yang kurang. Dengan berbagai kejutan, termasuk perkelahian, tembak-tembakan, ledakan, dan pembunuhan --Herlambang, Ngesthireni dan Kiswanta terus melaju menuju barat, ke Batu Jamus.

Meski berjalan bareng, ketiga orang ini mempunyai alasan untuk mencurigai satu sama lain. Sehingga perjalanan berlangsung tegang. Adanya benih cinta yang tumbuh di antara mereka, selain persaingan diam-diam, menjadikan perjalanan ini makin kaya dengan warna konflik.

Ngesthireni dan Herlambang sempat meninggalkan Kiswanta dari Jombang menuju Madiun, setelah terjadi ketegangan maut. Kejutan terus berlangsung sampai mereka di Madiun. Suasana Madiun saat itu sedang ’’hamil tua’’. Orang berbondong-bondong ke alun-alun untuk mendengarkan agitasi Musso, tokoh PKI yang baru pulang dari Moskow. Sementara, Solo menjadi wilayah koboi liar, terlebih setelah terbunuhnya komandan militer pro-kiri, Kolonel Sutarto.

Ketegangan suasana ini sekaligus meningkatkan serunya perjalanan ketiga lakon itu menuju Gunung Lawu, puncak peristiwa dan novel ini. Di sanalah mereka bertemu orang-orang misterius yang berkait dengan peristiwa-peristiwa yang dikisahkan di babak-babak awal novel ini.

Kisah mata-mata, yang dalam bahasa Jawa disebut dom sumurup ing banyu alias jarum yang menelusup di air, ini sangat menegangkan. Tapi, novel ini sesekali tetap memancing senyum, bahkan tawa kecil, karena Suparto cukup pas menaburkan adegan-adegan anekdotsal nakal di sana-sini. Misalnya, bagaimana dia menggambarkan kekenesan perempuan ’’ban serep’’ yang jadi teman sopir di Madiun. Pembaca bisa terkikik sendiri.

Novel ini hanya sedikit bergeronjal saat menceritakan keterkaitan antar-berbagai peristiwa yang dengan lancar diceritakan di saat awal. Penceritaan di bagian akhir agak kurang landai. Ada pula yang agak berlebihan ketika Suparto menceritakan pesta kaum intelijen dan di sana orang-orang ramai saling bercerita. Padahal, komunitas para telik sandi tentu sangat rapat menjaga kerahasiaan satu sama lain.

Dalam novel yang digarap kurang dari sebulan ini, Suparto Brata masih sangat tangkas dalam menonjolkan kekuatan cerita. Cerita mengalir lancar dan makin lama makin menambah tanda tanya. Rasa penasaran terus digoda dan dikitik-kitik. Jalannya cerita sangat sulit ditebak.
Suasana yang dibangun kian berwarna, karena setting saat ’’terjadinya’’ novel ini dikuasai dengan detail yang memikat. Rupanya, Suparto benar-benar memadukan antara informasi yang diperoleh lewat bacaannya yang luas serta pengalaman pribadinya sewaktu kecil. Empu sastra Jawa dari Jawa Timur ini memang selalu menganjurkan membaca. Di mana pun forumnya, dia tak bosan-bosan mengajak semua orang untuk bertekun dengan buku.

Sedangkan pengalamannya waktu kecil ikut memperkaya setting novel ini, karena sastrawan kelahiran Sragen 1932 ini juga mengalami pontang-panting bersama ibunya di zaman Perang Kemerdekaan dari Jateng ke Jatim.

Nuansa orisinal novel ini tetap kuat. Meski sangat produktif meluncurkan banyak novel, cerita bersambung, dan cerpen, karya Suparto memang tak tergelincir menjadi kacangan. Di antara karyanya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa yang sangat banyak itu, dua novel lain juga diterbitkan penerbit Narasi, yakni Donyane Wong Culika (2004), dan Lelakone si Lan Man (2005). Selain berupa novel yang dibukukan, Suparto masih rutin menulis cerita bersambung untuk majalah-majalah berbahasa Jawa.

Selain novel Dom, tahun ini novel Suparto lain juga sudah terbit, yakni Kerajaan Raminem. Ini trilogi kedua dari novel Gadis Tangsi. Yang ketiga yang masih akan terbit adalah Mahligai di Ufuk Timur.

Secara keseluruhan novel ini ikut memperkaya khazanah kisah dari episode bangsa kita yang belum banyak diangkat jadi setting kreativitas sastra Indonesia. Termasuk peristiwa pemberontakan PKI di Madiun. Dalam novel ini pula bisa dibayangkan kira-kira bagaimana reaksi orang kecil, seperti penjual soto atau pedagang kecil di Madiun, atas berkecamuknya perang saudara yang kejam itu. Selama ini, sejarah selalu menceritakan para tokoh di panggung kekuasaan dan melupakan jeritan orang-orang kecil di jalanan.

Suparto Brata memang empu besar sastra yang sumur kreativitasnya tak pernah kering. ’’Mumpung masih diberi sisa hidup,’’ katanya ketika saya tanya bagaimana dia tak pernah kehilangan semangat menulis. Dan, dengan terus berkarya dan membaca, sosok langsing ini mengatakan tak pernah sakit berat.

Rasanya, tak banyak sastrawan yang kinerjanya seperti ini di Indonesia. (*Rohman Budijanto,Wartawan Jawa Pos)

Diambil dari Pos Metro, Balikpapan,Minggu, 29 Oktober 2006 selengkapnya klik disini

Tags:

0 comments to "Kisah Spionase Ontran-Ontran Madiun"

Leave a comment