Riwayat Hidup
Ayah Raden Suratman, asal Surakarta Hadiningrat. Setelah menikah namanya Raden Suratman Bratatanaya. Meninggal di Probolinggo 1945 (umur 55 tahun).
Ibu Bandara Raden Ajeng Jembawati, ndara canggah (keturunan ke 5 dari raja) dari Paku Buwana V, raja di Surakarta Hadiningrat. Meninggal di Surabaya, 1966 (umur 70 tahun).
Pada umur 6 bulan dibawa ibu ke Surakarta, karena ketika itu ayah tidak punya pekerjaan, dan tidak punya tempat tinggal, namun tetap berusaha mencari pekerjaan di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Selanjutnya tidak pernah berkumpul dengan ayah.
Oleh Ibu, ketika masih bayi, saya dibawa hidup berkumpul di rumah paman, yakni Kanjeng Pangeran Hariya Jayadiningrat di Kampung Gajahan Surakarta, tempat sejak kecil ibu bertempat tinggal dan bermain dengan putri paman . (tahun 1932 – 1935). Ketika putri paman diboyong sang suami, Kanjeng Pangeran Hariya Suryabrata, ke istananya di Gading Kulon, Saya dan ibu pun ikut pindah tinggal di istana tadi ( tahun 1935 – 1937). Selama hidup bersama di rumah pangaeran-pangeran tadi ibu tidak bekerja apa-apa, hidup bersama ya hanya karena ada hubungan keluarga saja.
Ibu Wiryopuspito, kakak perempuan ayah, ikut anak lelakinya yang bekerja jadi sipir penjara di Sragen, punya rumah sendiri di Kampung Pasar Kebo. Karena hidup sendiri, ia membujuk-bujuk ibu (iparnya) agar pindah saja ke Sragen berkumpul dengannya. Karena ingin menunjukkan masih cinta dengan keluarga suaminya, maka pindahlah ibu membawa saya ke Pasar Kebo, Sragen (tahun 1937).
Tahun 1938, ibu mendapat warisan rumah di Kedunglumbu Surakarta dari kakek (R.M. Ng. Wirosaroyo), dibagi dua dengan seorang saudarinyan (Salmah Darmosaroyo). Karena bertempat tinggal di Sragen, maka hak rumah warisan tadi dijual kepada adiknya, dan uangnya dibelikan tanah pekarangan di sebelah rumah yang ditinggali bersama iparnya (Wiryopuspito). Dengan begitu saya oleh ibu mendekat kepada keluarga ayah. Saya pun menjadi anak desa, bermain di sawah, lading, sungai dengan anak-anak desa. Saya dimasukan sekolah desa oleh ibu, yaitu Sekolah Anga Loro di Sragen Wetan (sekarang jadi terminal bis Martonegaran (tahun 1938-1942).
Di pekarangan ibu didirikan rumah-rumah, dipetak-petak, disewakan sepetak dua sen sehari. Yang menyewa kebanyakan perempuan yang hidup mandiri. Ada penjual sayur, karang kitri, jual panganan, ledek. Karena dekat Pasar Kebo, ada juga yang menjual diri. Saya waktu kecil, bermain sangat akrab dengan para perempuan penyewa, sering diajak bermain ketoprak-ketoparakan diantara mereka. Karena tingkahnya lucu, para perempuan ayu penyewa rumah sering gemes dan memeluk erat-erat si kecil.
Tahun 1940, budhe Wiryopuspito pindah ke Pati ikut anaknya yang jadi sipir. Maka saya dan ibu menempati rumah di Pasar Kebo sendirian. Pada hal ibunya tidak punya penghasilan apa-apa. Paling dari sewa rumah petaknya, yang sering saja penyewa sulit ditagih. Penghasilan terbesar menggadaikan atau menjual benda-benda peninggalan harta warisan, mulai tempat sirih sampai almari pakaian. Sampai hutang pada Cina mindring, untuk modal jual nasi pecel, ya kurang laku.
Tahun 1941, terdengar akan datang perang, Ibu takut. Mau kembali ke Surakarta tidak mungkin, karena saya sudah sekolah. Maka diputuskan menjadi PRT pada Kanjeng Bupati Sragen, Mr. Wongsonegoro. Saya yang sudah klas 3, mau naik klas 4, ikut ibu ke rumah Bupati Wongsonegoro. Di situ terjadi perubahan hidup saya yang paling hebat. Sari semula seorang desa yang bergaul dengan anak-anak tani, cari cengkerik di sawah, cari ikan, mandi di sungai, cari tebu, naik lori pengangkut tebu, nonton wayng di desa-desa, masuk ke rumah bupati, mengenal rumah tangga bupati, bergaul dengan putra-putri sang bupati yang sekolah Belanda. Saya mulai mengenal kehidupan orang mapan dan kuasa, mengenal buku-buku bahasa Belanda yang beredar bebas di rumah bupati itu, belajar menari Jawa, memukul gamelan, melihat dan mendengarkan vergadering (rapat di kabupaten), mendengarkan siaran radio. Dan, menyaksikan perubahan jaman, yaitu bagaimana kehidupan bupati di jaman Belanda, dan bagaimana ketika Jepang masuk menduduki Pulau Jawa.
Setelah Jepang masuk, keadaan kabupaten kacau, ibu tidak kerasan lagi. Maka pergi ke Surabaya, maksudnya lebih mendekati keluarga bapak. Tetapi Bapak tetap tidak bisa menampung. Konon sudah kawin lagi, dan bekerja di Probolinggo. Kebetulan anak perempuan Pageran Suryabrata, Bandara Raden Ajeng Sarwosri, yang telah saya dan ibu kenal ketika diam serumah di Gading Kulon, telah menikah dengan Raden Suryohartono, asisten bupati di Surabaya, rumahnya di Van Strippiaan Leusesstraaat 31 (kini Jalan Kalasasan), membutuhkan pembantu untuk mengasuh bayinya. Maka saya dan ibu pun hidup bertempat tinggal disitu. Saya klas 4, dari Sragen dipindah ke Surabaya, dapat sekolah di Jalan Mundu. Sekolah itu bukaan baru, murid-muridnya anak-anak kampung sekitar Tambaksari, Jagiran, Pacarkeling. Tahun 1943 seluruh sekolah dipindah ke Tambak Dukuh, berbatasan dengan tembok utara THR sekarang (tahun 1942 – 1945).
Tahun 1945 Bapak meninggal dunia di Probolinggo. Kakak saya, Raden Mas Soewondo yang umurnya 10 tahun lebih tua dari saya, pergi ke Probolinggo dan mendapat pekerjaan di kantor listrik di sana. November 1945 ketika Surabaya digempur Inggris, saya dan ibu pergi mengungsi, menyusul Soewondo, dan membangun rumah tangga di Probolinggo. Saya klas 6, dan lalu naik ke SMP di Probolinggo jaman Republik (tahun 1945 – 1947).
Tahun 1947 Probolinggo diduduki oleh Belanda. Keluarga Soewondo buyar. Saya lari ke pedalaman (Sragen, kembali ke Pasar Kebo ikut Budhe Wirypuspito yang kembali tinggal disana). Ibu ke Sidoarjo ikut kenalan lama. Kakak saya ke Surabaya entah ke mana. Tapi tahun 1948, Soewondo dapat pekerjaan di Philips Surabaya, merekrut ibu dan saya ke Surabaya, menempati rumah Bu Sri (adik bapaknya) di Gersikan 2/23, yang kosong ditinggal mengungsi. saya sekolah di Middelbare School, klas 2, yang kemudian berubah menjadi SMPN 2 Jl. Kepanjen 1 Surabaya, lulus 1950
Awal tahun 1950, kedaulatan RI sudah kembali, Bu Sri dan keluarga sudah kembali ke rumahnya di Gersikan, kakak saya, Soewondo mendapat bea siswa dari Philips ke Eindhoven, ibu kembali ke Surakarta ikut keluarganya. saya harus menyelesaikan sekolah, dan harus membeayai sendiri. Saya menjadi loper suratkabar Djawa Pos untuk pelanggan di daerah Ampel. Ketika lulus sekolah dan mendapat ijasah, saya tidak dapat memberikan tanggal hari lahirnya, (tidak ada yang bisa ditanyai), maka dikarang sendiri lahir pada tanggal 16 Oktober 1932. Tanggal tersebut terus tercantum di ijasah, surat-surat kepegawaian, pensiun dan KTP seumur hidup.
Lulus SMP menyusul ibu ke Solo. Ibu mondok-mondok di rumah keluarga yang mampu, bekerja sebagai baby sister dan buruh batik yang dibawa di rumah. Saya meneruskan sekolah di SMA Katholik St. Joseph (1951-1952). Karena tidak dapat pekerjaan dan penghasilan ibunya tidak mencukupi, maka saya naik sepeda ke Surabaya, lalu mencari pekerjaan di sana. Dapat pekerjaan di Rumah Sakit Kelamin Jl. Dr. Sutomo. Pekerjaan memeriksa serum darah para pasien yang dikumpulkan di rumah-rumah sakit di Surabaya. Karena belum kuat kost, maka saya mondok di rumah Pak Kir, Jl. Jasem 19 Sidoarjo, gratis. Tiap hari pergi bekerja di Surabaya naik sepeda. Tahun itu juga (1952) ketika ada iklan penerimaan bekerja sebagai operator teleprinter, saya pun melamar dan setelah dikursus setahun, diterima sebagai pegawai tetap di Kantor Telegrap Jl. Niaga 1 (sekarang Jl. Veteran)Surabaya. Saya bisa kost di Surabaya, di Jl. Jagiran 35, lalu pindah Jl. Undaan Kulon 109 Surabaya, yaitu rumah-rumah bekas temannya di SMP. Teman-teman tadi waktu itu bisa melanjutkan sekolah SMA (1953 – 1954). Tahun 1954 Soewondo pulang dari Negeri Belanda, lalu bertiga dengan Ibu dan saya menyewa rumah di Rangkah 5/23B Surabaya. Tahun 1955 Soewondo pindah ke Bandung, saya menempati rumah itu sendiri, lalu sambil bekerja dia sekolah lagi di SMAK St. Louis Jl. Dr. Sutomo 7 (tahun 1954 -1956). Menempati rumah itu hingga menikah dengan Rr. Ariyati (1962), dan punya anak. Ibu, sempat menimang cucu anak ke 2. Ibu meninggal dunia di rumah itu tahun 1966. Selagi tidak punya pekerjaan tetap, tahun 1967-1968, bapak mertua yang sakit diboyong ke rumah sana. Dan meninggal tahun 1968. Tahun 1969, saya berhasil membangun rumah sendiri di tetangga rumah kontrakan, yaitu di Rangkah 5/25A, dan ditempati tahun 1970 – 1988.
Istri saya, Rr. Ariyati, anak seorang petani kaya di Ngombol, Porwerejo (Jawa Tengah). Menikah tanggal 22 Mei 1962, mempunyai anak 4 orang, yaitu Tatit Merapi Brata (1963), Teratai Ayuningtyas (1965), Neograha Semeru Brata (1969), Tenno Singgalang Brata (1971). Tahun 1988 saya pensiun sebagai pegawai negeri, rumahnya pindah ke Rungkut Asri III / 12 Perum YKP RL I-C 17 Surabaya. Istri meninggal 2 Juni 2002. Anak-anaknya sudah sarjana semua, punya istri, anak, rumah, kendaraan, pekerjaan. Sekarang saya Brata hidup serumah dengan anak-cucu dan menantu, keluarga Ir. Wahyudi Ramadani, MMT .
Setelah Kongres Sastra Jawa, Mau apa?
Kisah Spionase Ontran-Ontran Madiun

Judul Buku : Dom Sumurup Ing Banyu
Penulis : Suparto Brata
Penerbit : Narasi, Jogjakarta
Cetakan : Pertama, 2006
Tebal : iv + 238 Halaman
ENERGI menulis Suparto Brata masih menyala terang di usianya yang ke-74 sekarang. Novel berbahasa Jawa Dom Sumurup ing Banyu ini dengan lincah berkisah tentang kecerdikan seorang mata-mata di zaman perjuangan. Latar belakangnya cukup langka diungkap di novel-novel, yakni saat terjadi ontran-ontran PKI/FDR di Madiun pada 1948 melawan pemerintahan Soekarno-Hatta.
Jarum kreativitas Suparto cukup rapi menjahit kisah yang menegangkan dan berliku-liku ini. Sosok sentral dalam kisah ini adalah Herlambang, seorang mata-mata utusan Belanda, yang diperintahkan menyusup ke pabrik mesiu milik republik di Batu Jamus, di lereng barat Lawu.
Reputasi Herlambang cukup hebat. Yakni, pernah membantu mengumpulkan informasi sebelum pasukan AS, yang dipimpin Jenderal McArthur, mendarat di Saipan, Mariane, Iwo Jima, Tarakan, dan Luzon. Kemampuan Herlambang untuk opnemem (memotret dengan detail informasi lewat mata dan daya ingat yang tajam) memudahkan sang jenderal besar itu menghancurkan pertahanan Jepang di Perang Dunia II.
Untuk menuju Gunung Lawu, Herlambang memulai perjalanan dari Mojokerto, dari Restoran Tong Sien. Dari kota yang dikuasai Belanda itu dia menerima perintah dari perwira Belanda, van Grinsven. Saat memulai operasi, di dalam jeep yang disediakan perwira Belanda itu, ternyata ada perempuan muda, Dyah Ngesthireni namanya.
Perempuan bangsawan ini dititipkan orang Inggris kepada Herlambang, agar dia bisa bareng untuk bertemu keluarganya di Solo. Di zaman Jepang yang bengis, Ngesthireni ditipu dan dibawa ke Pulau Seram, dijadikan jugun ianfu, pemuas nafsu tentara Jepang. Setelah Jepang dikalahkan dia ingin kembali ke tanah kelahirannya.
Perjalanan Herlambang dan Ngesthireni bergulir cepat dan penuh kejutan. Mula-mula keduanya berpakaian sebagai orang pro-Belanda di wilayah Belanda. Ketika masuk desa, di wilayah gerilyawan republik, mereka berganti rupa. Mengaku sebagai suami istri pengantin baru yang akan meminta restu orang tua di wilayah Mojoagung.
Mereka diinterogasi macam-macam. Sampai akhirnya mereka disertai seorang tentara republik, Kiswanta, anggota intelijen wilayah barat yang waktu itu bertugas di Mojokerto. Sang tentara mendapat bocoran adanya mata-mata Belanda yang menyusup ke wilayah republik. Waktu itu republik sangat terjepit setelah perjanjian Renville.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi selama perjalanan dari Mojokerto ke arah barat ini menjadikan cerita berjalan seru. Terlebih peristiwa-peristiwa itu jalin-berjalin di dalam suasana kota yang muram. Kalau malam redup, karena pasokan listrik yang kurang. Dengan berbagai kejutan, termasuk perkelahian, tembak-tembakan, ledakan, dan pembunuhan --Herlambang, Ngesthireni dan Kiswanta terus melaju menuju barat, ke Batu Jamus.
Meski berjalan bareng, ketiga orang ini mempunyai alasan untuk mencurigai satu sama lain. Sehingga perjalanan berlangsung tegang. Adanya benih cinta yang tumbuh di antara mereka, selain persaingan diam-diam, menjadikan perjalanan ini makin kaya dengan warna konflik.
Ngesthireni dan Herlambang sempat meninggalkan Kiswanta dari Jombang menuju Madiun, setelah terjadi ketegangan maut. Kejutan terus berlangsung sampai mereka di Madiun. Suasana Madiun saat itu sedang ’’hamil tua’’. Orang berbondong-bondong ke alun-alun untuk mendengarkan agitasi Musso, tokoh PKI yang baru pulang dari Moskow. Sementara, Solo menjadi wilayah koboi liar, terlebih setelah terbunuhnya komandan militer pro-kiri, Kolonel Sutarto.
Ketegangan suasana ini sekaligus meningkatkan serunya perjalanan ketiga lakon itu menuju Gunung Lawu, puncak peristiwa dan novel ini. Di sanalah mereka bertemu orang-orang misterius yang berkait dengan peristiwa-peristiwa yang dikisahkan di babak-babak awal novel ini.
Kisah mata-mata, yang dalam bahasa Jawa disebut dom sumurup ing banyu alias jarum yang menelusup di air, ini sangat menegangkan. Tapi, novel ini sesekali tetap memancing senyum, bahkan tawa kecil, karena Suparto cukup pas menaburkan adegan-adegan anekdotsal nakal di sana-sini. Misalnya, bagaimana dia menggambarkan kekenesan perempuan ’’ban serep’’ yang jadi teman sopir di Madiun. Pembaca bisa terkikik sendiri.
Novel ini hanya sedikit bergeronjal saat menceritakan keterkaitan antar-berbagai peristiwa yang dengan lancar diceritakan di saat awal. Penceritaan di bagian akhir agak kurang landai. Ada pula yang agak berlebihan ketika Suparto menceritakan pesta kaum intelijen dan di sana orang-orang ramai saling bercerita. Padahal, komunitas para telik sandi tentu sangat rapat menjaga kerahasiaan satu sama lain.
Dalam novel yang digarap kurang dari sebulan ini, Suparto Brata masih sangat tangkas dalam menonjolkan kekuatan cerita. Cerita mengalir lancar dan makin lama makin menambah tanda tanya. Rasa penasaran terus digoda dan dikitik-kitik. Jalannya cerita sangat sulit ditebak.
Suasana yang dibangun kian berwarna, karena setting saat ’’terjadinya’’ novel ini dikuasai dengan detail yang memikat. Rupanya, Suparto benar-benar memadukan antara informasi yang diperoleh lewat bacaannya yang luas serta pengalaman pribadinya sewaktu kecil. Empu sastra Jawa dari Jawa Timur ini memang selalu menganjurkan membaca. Di mana pun forumnya, dia tak bosan-bosan mengajak semua orang untuk bertekun dengan buku.
Sedangkan pengalamannya waktu kecil ikut memperkaya setting novel ini, karena sastrawan kelahiran Sragen 1932 ini juga mengalami pontang-panting bersama ibunya di zaman Perang Kemerdekaan dari Jateng ke Jatim.
Nuansa orisinal novel ini tetap kuat. Meski sangat produktif meluncurkan banyak novel, cerita bersambung, dan cerpen, karya Suparto memang tak tergelincir menjadi kacangan. Di antara karyanya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa yang sangat banyak itu, dua novel lain juga diterbitkan penerbit Narasi, yakni Donyane Wong Culika (2004), dan Lelakone si Lan Man (2005). Selain berupa novel yang dibukukan, Suparto masih rutin menulis cerita bersambung untuk majalah-majalah berbahasa Jawa.
Selain novel Dom, tahun ini novel Suparto lain juga sudah terbit, yakni Kerajaan Raminem. Ini trilogi kedua dari novel Gadis Tangsi. Yang ketiga yang masih akan terbit adalah Mahligai di Ufuk Timur.
Secara keseluruhan novel ini ikut memperkaya khazanah kisah dari episode bangsa kita yang belum banyak diangkat jadi setting kreativitas sastra Indonesia. Termasuk peristiwa pemberontakan PKI di Madiun. Dalam novel ini pula bisa dibayangkan kira-kira bagaimana reaksi orang kecil, seperti penjual soto atau pedagang kecil di Madiun, atas berkecamuknya perang saudara yang kejam itu. Selama ini, sejarah selalu menceritakan para tokoh di panggung kekuasaan dan melupakan jeritan orang-orang kecil di jalanan.
Suparto Brata memang empu besar sastra yang sumur kreativitasnya tak pernah kering. ’’Mumpung masih diberi sisa hidup,’’ katanya ketika saya tanya bagaimana dia tak pernah kehilangan semangat menulis. Dan, dengan terus berkarya dan membaca, sosok langsing ini mengatakan tak pernah sakit berat.
Rasanya, tak banyak sastrawan yang kinerjanya seperti ini di Indonesia. (*Rohman Budijanto,Wartawan Jawa Pos)
Diambil dari Pos Metro, Balikpapan,Minggu, 29 Oktober 2006 selengkapnya klik disini
Basa Jawa tau dadi basa modern
Judul tersebut dapat dibaca disini
Sastra Jawa Go International !
Suparto Brata, sastrawan yang hingga kini tetap produktif menulis novel berbahasa Jawa dan Indonesia, bertekad untuk menjadikan karya sastra Jawa sebagai sumber bacaan yang mendunia.
Sketsa Tokoh Suroboyo
Saturday, November 18, 2006, 09:43 AM -

Sketsa Tokoh Suroboyo
Mbandani Sastra Jawa, sapa wani?
Selengkapnya ada Suara Merdeka Online dirubrik Kejawan, klik disini
University of Washington Libraries
Judul cerita pendek
Layar Terkembang / Ksah no. 5 th I. November 1953
Di Tepi Bengawan Solo / Mimbar Indonesia no. 5 th VIII, 30 Januari 1954
Kembali ke Pangkalan / Gelanggang Siasat no. 357 th VIII, 11 April 1954
Lari Dari Penjara / Roman no. 1 th I. Oktober 1954
Gadis dan Janda / Roman no. 1 th II, Januari 1955
Rumah Hantu / Roman no. 1 th II. Januari 1955
Mencari Rangka / Majalah Indonesia no. 2 th VI., Februari 1955
Lahirnya Tuhan / Roman no. 5 th II, Mei 1955
Arang / Siasat no. 419 th X, 19 Juni 1955
Per / Kisah no. 5 th IV, Mei 1956
Pes / Kisah no. 10, th IV. Oktober 1956
Hilangnya Dunia Asti / Sadar no. 39 th. VIII, 30 Desember 1956
Mengatur Perabot Rumah / Mimbar Indonesia no. 13 th XI, 13 Maret 1957
Gembala Kambing / Siasat no. 520 th XI, 29 Mei 1957
Pohon Tomat / Siasat no. 548 th XI, 11 Desember 1957 dan Siasat no. 549 th XI, 18 Desember 1957
Cyrano Kami / Aneka no. 8 th IX, 10 Mei 1957
Menanti Lahirnya Napoleon / Sarinah no. 2 th I, Juli 1958
Dansawan Baru / Aneka no. 28 th IX, 1 Desember 1958
Amarah Seorang Jurutulis / Roman no. 3 tha VI, Maret 1959
Dendam Kesepian / Hidangan (Jogjakarta) no. 10 th IV, 20 Maret 1959
Dendam Seorang Bandol / Roman no. 3 th VI, Maret 1959
Penjual Kue Dan Tumbuhan Durian / Roman no. 8 th VI, Agustus 1959
Kupu-kupu Di Tengah Padang / Aneka no. 17 th X, 15 Agustus 1959
Malam Tidak Jahanam / Aneka no. 32 th X, 10 Januari 1960
Dua Asmarawan / Hidangan (Jogjakarta) no. 13 th V Maret 1960, Harian Surabaya Post no. 117 th IX, 29 Mei 1961, Harian Umum no. 199 th XII, 1 Juni 1961 dan Majalah Gelora no. 13/14 th II Juli 1961
Tak ada Nasi Lain / Aneka no. 3 th XI, 21 Maret 1960
Hadaninggar / Majalah Indah (Surabaya) No. 37 th IV, Agustus 1960
Gara-Gara / Majalah Indah no. 40 th IV, November 1960
Daun Keladi / Gelora no. 4/5 th III, 20 November / 5 Desember 1960
Kena Getah / Surabaya Post no. 168 th IX, 18 September 1961
Kurang Bulang / Tanahair (Surabaya) no. 12 th XV, 1962
Pencuri Dompet / Tanahair no. 3 th XVI, 1962
Laboratorium Kasih / Tanahair no. 7 th XVI, 1962
Langkah-langkah Berpeluh / Tanahair no. 1 th XVIII, 1964
Buronan Si Mata Merah / Tanahair no. 5 th XVIII, 1964
Surabaya Tumpah Darahku / Majalah Gapura no. 1 th I, April 1968
Dibayangi Tali Gantungan / Harian Indonesia Raya, 5 April 1970
Jatuhnya Seorang Nyonya Besar / Harian Kompas, 25 Mei 1970
Mreteli Roda Mobilnya / Harian Indonesia Raya, 19 Juli 1970
Semalam Dengan Titisari / Harian Indonesia Raya, 16 Agustus 1970
Penyamun Anak Perawan / Harian Kompas, 13 Oktober 1970
Interogasi / Harian Kompas, 30 Januari 1971
Bertamu / Harian Kompas, 5 Juni 1971
Orang Baru / Harian Sinar Harapan, Sabtu 15 Januari 1972
Asia No Yoi Kodomo / Harian Kompas, 9 Mei 1972
Cover Story / Majalah Senyum, 7 Januari 1973
Karya Sastra / Harian Kompas, 1 Juli 1979
Menjepret Hantu / Puteri Indonesia no. 74, 25 Agustus – 7 September 1981
Pasien Terakhir / Kartini no. 199, 21 Juni – 4 Juli 1982
Pengantin Baru / Kartini no. 216, 14-27 Februari 1983
Saksi Dari Menara / Harian Kompas, 5 Juni 1983
Laki-laki Pergi Sendiri / Majalah Sarinah, 13 Juni 1983
Dendam Kesumat / Surabaya Post, 7 Agustus 1988
Limau Walikota / Surabaya Post, 24 September 1989
Pangilon Sang Walikota / Surabaya Post, 5 Agustus 1990
Empat / Harian Suara Pembaruan, 9 Juni 1991
Kereta Jenasah / Harian Kompas, 8 November 1992
Paman Doblang Vs Mbah Jambrot / Surabaya Post, 14 Agustus 1994
Perempuan 01 / Surabaya Post (Minggu), 1 September 2002
Didaftar tanggal 20 Juli 2005
Saksi Mata
Judul Buku : Saksi Mata (Sebuah Novel)
Penulis : Suparto Brata
Penerbit : Penerbit Buku KOMPAS
Tahun : Januari 2002
Tebal : x + 434 halaman
Setelah menyelesaikan novel yang sangat tebal ini, saya jadi teringat dengan novel Mencoba Tidak Menyerah-nya Yudhistira A.N. Massardhie dan juga novel Ca Bau Kan-nya Remy Sylado. Dalam novel Mencoba Tidak Menyerah, yang menjadi tokoh sentralnya adalah bocah laki-laki berusia sepuluh tahun sedangkan dalam novel Ca Bau Kan yang telah diangkat ke layar lebar, digambarkan bagaimana keadaan Jakarta Kota era zaman penjajahan Belanda dengan sangat detail. Lalu apa hubungannya dengan novel Saksi Mata karya Suparto Brata ini? Dalam Saksi Mata, yang menjadi "jagoan" alias tokoh utamanya adalah bocah berusia dua belas tahun bernama Kuntara, seorang pelajar sekolah rakyat Mohan-gakko dan mengambil setting kota Surabaya di zaman penjajahan Jepang dengan penggambaran yang sangat apik, detail dan sangat memikat. Novel setebal 434 halaman ini sendiri sebenarnya merupakan cerita bersambung yang dimuat di Harian Kompas pada rentang waktu 2 November 1997 hingga 2 April 1998.
Kisah berawal saat Kuntara secara tidak sengaja memergoki buliknya Raden Ajeng Rumsari alias Bulik Rum tengah bercinta dengan Wiradad di sebuah bungker perlindungan-belakangan baru diketahui oleh Kuntara kalau Wiradad adalah suami sah dari Bulik Rum. "Pemandangan" yang luar biasa itu dan belum patut untuk disaksikan oleh Kuntara membuat perasaan hatinya berkecamuk. Kuntara pun masygul dengan apa yang dilakukan oleh Bulik Rum yang selama ini selalu dihormatinya. Namun ia bisa mengerti kalau ternyata Bulik Rum yang cantik ini menyembunyikan sejuta kisah yang tak bakal disangka-sangka.
Bulik Rum adalah "wanita simpanan" tuan Ichiro Nishizumi, meski pekerjaan sehari-harinya bekerja di pabrik karung Asko. Mau tidak mau Bulik Rum harus melayani nafsu Ichiro Nishizumi kapan saja. Sebenarnya Bulik Rum sudah menikah dengan Wiradad tetapi tuan Ichiro Nishizumi tidak peduli dengan semua itu dan memboyongnya ke Surabaya. Baik Wiradad maupun ayah Bulik Rum sendiri tidak mampu mencegah keinginan Ichiro Nishizawa yang sangat berkuasa ini. Tetapi Wiradad tidak mau menyerah begitu saja dan segera menyusul Bulik Rum ke Surabaya.
Saat Wiradad akan bertemu dengan Bulik Rum inilah terjadi sesuatu yang diluar dugaan. Okada yang merupakan guru Kuntara di sekolah rakyat Mohan-gakko berupaya untuk melampiaskan nafsunya kepada Bulik Rum, yang dengan tegas menolak keinginan Okada. Okada yang gelap mata ini segera menikamkan samurai kecilnya hingga akhirnya Bulik Rum terbunuh di bungker perlindungan. Okada yang selama ini sangat dihormati oleh Kuntara tenyata memiliki tabiat tidak beda dengan Tuan Ichiro Nishizawa, sama-sama doyan tidur dengan berbagai macam perempuan.
Dari sinilah awal kisah "petualangan" Kuntara dalam mengungkap kasus terbunuhnya Bulik Rum hingga upaya untuk membalas dendamnya bersama dengan Wiradad kepada tuan Ichiro Nishizawa dan juga Okada. Sejak kasus terbunuhnya Bulik Rum ini, keluarga Suryohartanan--tempat Kuntara dan ibunya menetap--mulai terlibat dengan berbagai kejadian yang mengikutinya. Kuntara yang tidak menginginkan keluarga ini terlibat dengan permasalahan yang terjadi dengan sengaja menyembunyikannya. Dengan segala "kecerdikan" ala detektif cilik Lima Sekawan Kuntara berupaya menyelesaikan kasus ini bersama dengan Wiradad.
****
Sangat jarang sekali novel-novel "serius" di Indonesia yang terbit dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir yang menggunakan tokoh utama seorang anak kecil, selain dari novel Mencoba Tidak Menyerah-nya Yudhistira ANM, mungkin hanya novel Ketika Lampu Berwarna Merah karya cerpenis Hamsad Rangkuti. Adalah hal yang menarik apabila membaca cerita sebuah novel "serius" dengan tokoh utama seorang anak kecil karena ia memiliki perspektif atau pandangan berbeda mengenai dunia dan segala sesuatu yang terjadi, bila dibandingkan dengan orang dewasa. Kita bisa membayangkan bagaimana seorang Kuntara yang baru berusia dua belas tahun menanggapi berbagai peristiwa yang terjadi dengan diri, keluarga, dan lingkungan sekitarnya pada masa penjajahan Jepang dan dengan "kepintarannya" ia mencoba untuk memecahkan persoalan tersebut. Meski menarik tetap saja akan memunculkan pertanyaan bagaimana bisa bocah dua belas tahun menjadi "sangat pintar"?
Keunggulan lain dari novel ini adalah penggambaran suasana yang detail mengenai kota Surabaya di tahun 1944 (zaman pendudukan Jepang), malah ada lampiran petanya segala! Suasana kota Surabaya di zaman itu juga "direkam" dengan indah oleh Suparto Brata. Kita bisa membayangkan bagaimanan keadaan kampung SS Pacarkeling yang kala itu masih "berbau" Hindia Belanda karena nama-nama jalannya masih menggunakan nama-nama Belanda. Juga tentang bungker-bungker perlindungan yang digunakan untuk bersembunyi kala ada serangan udara--kebetulan saat itu tengah berkecamuk Perang Dunia II. Tidak ketinggalan juga tentang stasiun kereta api Gubeng yang tersohor itu.
Sebagai arek Suroboyo yang tentunya mengenal seluk beluk kota Buaya ini, Suparto Brata jelas tidak mengalami kesulitan untuk melukiskan keadaan ini. Apalagi ia adalah penulis yang hidup dalam tiga zaman--kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang dan era kemerdekaan. Penggambaran suasana yang detail ini juga berkonsekuensi kepada cerita yang cukup panjang meski tetap tanpa adanya maksud untuk bertele-tele.
Novel ini juga diperkaya dengan adanya kosakata dan lagu-lagu Jepang yang makin menghidupkan suasana zaman pendudukan balatentara Jepang di Indonesia. Tetapi uniknya, tidak ada satupun terjemahan untuk kosakata Jepang tersebut. Jadi bagi yang tidak mengerti bahasa Jepang, seperti saya juga, ya tebak-tebak saja sendiri.
Judul Buku
SI GADIS DATANG, (drama), 18-26 Desember 1958, dimainkan oleh SGTK Surabaya. 1958, dimainkan oleh Sandradikta Surabaya, ditayangkan di TVRI Pusat Jakarta. 1973, memperkenalkan Eva Rosdiana Dewi.
CINTA DAN PENGHARGAANNYA, (drama). Pemenang Harapan I penulisan naskah drama Dept. P & K. Yogya 1958. (pemenang I Malam Jahanam/ Motinggo Busye).
KAUM REPUBLIK, 33 hal, pemenang pertama Sayembara cerita sambung Panjebar Semangat. Dimuat Panjebar Semangat 1959, judul diganti oeh Redaksi JIWA REPUBLIK. Diterbitkan oleh CV. Ariyati 1965, dengan judul LARA LAPANE KAUM REPUBLIK.
TANPA TLACAK, Seri Detektip Handaka 1959. Dipacak Panjebar Semangat 4 Maret-6 Mei 1961 (9X). Dibukukan oleh CV. Setia Kawan Surabaya 1962.
KAUM REPUBLIK, (drama), dimuat bersambung di Majalah Aneka (Jakarta) No. 6 TH. X 10 Mei 1960 – No. 4 Th XI 10 Juli 1960 (9X).
KATRESNAN KANG ANGKER, (dengan nama samaran Peni), 20 Juli-10 Agustus 1961. 52 hal. Dimuat bersambung di Penjebar Semangat No. 7 Th 29, 17 Februari 1962- No. 19 Th 29, 2 Juni 1962. (13X). Dibukukan Setia Kawan Surabaya 1962. Dimainkan jadi drama di FKIP Sanata Dharma Yogyakarta oleh Rama Th. Koendjono S.J. 1963.
PETHITE NYAI BLORONG, (dengan nama samaran Peni), 24 Januari-12 Februari 1962, 60 hal (ide cerita Mignon G. Eberhart :While The Patient Slept). Dimuat bersambung di Panjebar Semangat 1962. Dibukukan oleh CV. Ariyati Surabaya, 1965. Dibukukan ulang oleh Yayasan Penerbitan Djojobojo Surabaya 1996.
EMPRIT ABUNTUT BEDHUG, seri Detektip Handaka. Agustus 1962, 60 hal dimuat bersambung Panjebar Semagat 1963. Dibukukan oleh CV. Ariyati Surabaya, 1966.
KADUK WANI, seri Wiradi, 1962, 48 hal. Dimuat bersambung Jaya Baya, 1966.
KENA PULUT, seri Wiradi, 1963, 50 hal. Dimuat bersambung Jaya Baya, 1967.
KAUM REPUBLIK, KADUK WANI, KENA PULUT (seri Wiradi) digabung jadi novel trilogi, dengan judul KELANGAN SATANG, belum diterbitkan
MULAI DENGAN SUNYUM, (drama), dimuat bersambung di Majalah Gapura Surabaya 1963.
KADURAKAN ING KIDUL DRINGU, Oktober 1963. 64 hal. Dimuat bersambung Panyebar Semangat, 1963. Dibukukan CV. Ariyati Surabaya, 1965.
TITISAN SEPATA, 24 Januari 1964, 116 hal. Belum pernah terbit. Dipetik sebagai cerkak (fragmen) di Jaya Baya 1966, dengan judul : WONG WADON NARUMINI.
TRETES TINTRIM, seri Detektip Handaka, 1-27 Agustus 1964. Dimuat bersambung di Jaya Baya, 1964. Dibukukan oleh CV. Ariyati Surabaya, 1965
ASMARANI, (dengan nama samaran Peni), dimuat bersambung Jaya Baya 1964. Dibukukan oleh PT. Bina Ilmu Surabaya, 1983.
PAWESTRI TELU, (dengan naman samaran Peni), Agustus – September 1964. Dimuat bersambung Jaya Baya, 1964. Dibukukan oleh PT. Bina Ilmu Surabaya 1983.
SANJA SANGU TREBELA, (dengan nama samaran Peni), 6 Oktober 1964, 64 hal. Ide cerita Friedrich Duerrenmatt, dari naskah drama Die Besuch der Alten Dame. Dimuat bersambung Panyebar Semangat. 1965. Dibukukan oleh CV. Ariyati Surabaya, 1967. Diterbitkan ulang oleh Yayasan Penerbit Djojobojo Surabaya, Juli 1996.
SALA LELIMENGAN, 24 Januari 1965, 65 hal. Dimuat bersambung Panjebar Semangat 15 April – 15 Agustus 1965 (18X)
GURU SANGTANU, Maret-Juni 1966. 400 hal. Tidak selesai, belum terbit.
NOVEMBER ABANG, 7 September-16 Oktober 1965, 56 hal. Dimuat bersambung Jaya Baya, 1965.
JARING KALAMANGGA, seri Detektip Handaka, Januari-Maret 1966, 83 hal. Dimuat bersambung Jaya Baya, 1966.
PATRIOT-PATRIOT KASMARAN, 29 April 1966, 25 hal. Diterbitkan buku oleh CV. Gema Solo, 1966.
LINTANG PANJER SORE, 17 Juli 1966, 32 hal. Diterbitkan buku oleh CV. Gema Solo, 1966.
DINAMIT, 19 September 1966, 36 hal. Diterbitkan buku oleh CV. Gema Solo, 1966.
PENDEKAR BANJARAGAM, cerita silat, Diterbitkan buku oleh CV. Gema Solo, 1966-1967, 6 jilid.
GEMPAR DJOJOCOROKO, 18 Juni 1967. Diterbitkan buku oleh CV. Gema Solo, 1967.
BOYOLALI RICUH, 1967. Diterbitkan buku oleh CV. Gema Solo, 1978.
ASMARA JAHANAM, seri Mubagus, 1967. Diterbitkan buku oleh CV. Gema Solo, 1967
CLURIT BATAPUTIH, 1967. Diterbitkan buku oleh CV. Gema Solo, 1967. Dimuat bersambung oleh Jawa Pos, 1982
NYAWA 28, (dengan nama samaran Eling Jatmika). Dimuat bersambung Jaya Baya 1967.
GEMPUR-GEMPURAN DI LERENG LAWU, seri Mubagus. 26 Oktober 1968. Diterbitkan buku oleh CV. Gema Solo, 1968.
ASMARA TERPENDAM, 1968. Naskah / dokumen hilang. Belum diterbitkan
BIDADARI CEMARASEWU, seri Mubagus, 1968. Diterbitkan buku oleh CV. Gema Solo, 1968.
KUCING ITEM TERGENCET, seri Mubagus, 1968. Diterbitkan buku oleh CV. Gema Solo, 1968.
LUWIH BECIK NERAKA, 1970. dimuat bersambung di Panjerbar Semangat, 1970. Judul diganti oleh Redaksi : TANGISE PRAWAN SUNDHA.
DLEMOK-DLEMOK IRENG, 1971, 51 hal. Dimuat bersambung Jaya Baya, 1971. Judul diganti oleh Redaksi : NGEBUT.
DOM SUMURUPING BANYU, 1971, 51 hal. Dimuat bersambung Jaya Baya No. 14 tahun 26, 5 Desember 1971 – 8 Maret 1972 (14X)
JEMINI, (dengan nama samaran Peni), 1971, 86 hal. Ide cerita Lin Scholte. Dimuat bersambung Jaya Baya no. 28 Th. XXVI Maret 1972 (14X) langsung nomer setelah DOM SUMURUPING BANYU habis.
JARING KALAMANGGA, diindonesiakan dari judul sama. Diterbitkan CV. Bina Ilmu Surabaya, 1972 (dapat Inpres untuk bacaan SMA)
MALAM PENGANTIN, 2 Agustus 1972, 50 hal. Cerita film untuk Basuki Film.
FANTASI, 1 Oktober 1972. Dimuat bersambung Panjebar Semangat No. 44 th. 38- 24 November 1972 (12X)
ASAP HITAM, 2 Oktober – 6 November 1972. Belum diterbitkan
SANG AJUDAN, 2 Januari – 10 Februari 1973. Belum diterbitkan
BIBIT DIMANTREN, 26 Februari – 26 Maret 1973. Belum diterbitkan
KEPELET, (dengan nama Peni), 18 Januari 1973. 56 hal. Dimuat bersambung Jaya Baya no. 47/XXVII, 29 Juli 1973, judul diganti Redaksi : NGLACAK ILANGE SEDULUR IPE. (8X).
SURABAYA TUMPAH DARAHKU, 1973. Dimuat bersambung Kompas, 10 November 1973 (37X). Dibukukan oleh CV. Bina Ilmu Surabaya, 1978.
GARUDA PUTIH, seri Detektip Handaka, 5 Januari 1974. Dimuat bersambung Panjebar Semangat, 31 Januari 1974. (11X).
SISA-SISA KEMARIN, 1974. Pemenang Harapan I, sayembara menulis novel DKJ 1974.
NGINGU KUTUK ING SUWAKAN, 1974, 52 hal. Dimuat bersambung di Panjebar Semangat, 15 Maret 1975 (11X)
HARI JADI KOTA SURABAYA, 682 TAHUN SURA ING BAYA. Karya bersama Kolonel Laut Dokter Sugiyarto Tirtoatmojo, diterbitkan Pemda II Kotamadya Surabaya, 1975.
GILA DI ABUN-ABUN. April-Juli 1975, 206 hal. Belum diterbitkan
HARIMAU MATI MENINGGALKAN BELANG, Desember 1975. Diterbitkan oleh CV. Bina Ilmu Surabaya, 1978.
OH, SURABAYA, 1975. Diterbitkan CV. Bina Ilmu Surabaya. (Inpres SD. 1975)
DAMARWULAN, 29 Maret 1976. Diterbitkan PT. Gramedia Jakarta. 1976. (Inpres SD)
MATA-MATA, Juni-Agustus 1976. 143 hal. Diterbitkan oleh PT. Dunia Pustaka Jaya, 1976. Diindonesiakan dari DOM SUMURUPING BANYU.
SAYEMBARA DI MAMENANG, 11 November 1976. Diterbitkan oleh PT. Dunia Pustaka Jaya, 1977. Digubah ulang 25 Mei 2004, 100 hal. Ditawarkan ke PT. Grasindo.
ALI BABA, 15 Januari 1977. Diterbitkan oleh PT. Gramedia Jakarta. 1977
REMBULAN KASMARAN, 28 Januari 1977, 100 hal. Dimuat bersambung Jaya Baya, 1977
HISAPLAH MADUKU, LALU CAMPAKAN, 18 Agustus 1977, 50 hal. Diindonesiakan dari DLEMOK-DLEMOK IRENG. Diterbitkan sebagai booklet VISTA 1979.
TERJERAT BUIH PANTAI SELATAN, 22 Maret 1977, 50 hal. Diindonesiakan dari KEPELET, diterbitkan oleh CV. Surya Raya Surabaya, 1978.
HANCURKANLAH PASUKAN TARTAR ITU, 1978. Diterbitkan CV. Surya Raya, 1978.
REMBULAN KASMARAN, 22 Agustus 1978, 140 hal. Diindonesiakan dari REMBULAN KASMARAN, dibukukan oleh PT. Cita Bandung, 1980.
GENERASI YANG HILANG, 1979. Pemenang II sayembara menulis novel Kartini, 1979. Dibukukan oleh Kartini Group, 1980.
PANJI GADRUNG ANGGRAENI, 1979. 100 hal. Diterbitkan oleh PT. Bina Ilmu Surabaya 1981.
KOTA ANGIN TERCINTA, Januari-September 1979. 197 hal. Dimuat bersambung oleh Jawa Post, Februari-April 1987.
DONYANE WONG CULIKA, 16 Oktober- 26 Desember 1979. Pemenang Harapan I novel PKJT 1979. Belum pernah disiarkan. Diperbaiki 7-28 September 1992, 18 September-5 Desember 2000, dikoreksi 15 Maret 2001, 518 hal. Dibukukan oleh Narasi Yogya 2004, 534 hal. Dapat hadiah Rancage 2005.
JATUH BANGUN BERSAMA SASTRA JAWA, Oktober 1980. Pemenang Harapan I naskah bacaan mahasiswa Dept. P & K 1980. Dibukukan Dept. P & K Jakarta. 1982.
KUNANTI DI SELAT BALI, 29 Oktober-21 November 1980. Pemenang I Novel Majalah Putri Indonesia, 1981. Dibukukan Kartini Group, 1981. Disadur oleh Prof. Madya Ju San Yuan dan diterbitkan dalam bahasa Cina di RRC, 1989 (berita Tempo, 11 Agustus 1990)
PACARKU DI BIS KOTA, 18-23 April 1981, 33 hal. Dibukukan PT. Bina Ilmu, 1995.
KEKENESAN PARTIYEM. Terdiri dari dua bagian. Bagian Pertama dimuat Kartini bersambung dengan judul: TANAHKU, DARAHKU, (1981). Bagian kedua dimuat Sarinah bersambung dengan judul: DALAM IRAMA MUSIM, (Desember 1985). 224 hal.
MEMPEREBUTKAN PUSAKA JENGGALA, 13 Oktober 1982, 67 hal. Dibukukan oleh PT. Bina Ilmu, 1982.
SURABAYA NO MONOGATARI (Surabaya Zaman Jepang), Mei 1983. Dimuat bersambung Jawa Pos, 30 Mei-21 Juni 1983 (20X)
SUGRIWO SUBALI, 1983, 100 hal. Dibukukan Tga A Solo, 1983
NONA SEKRETARIS, (dengan nama samaran Peni), ide cerita Jacqueline Susann : Valley of the Dolls, 1966. 15 Desember 1983 – 24 Mei 1984. 150 hal. Dimuat bersambung Jaya Baya no. 19/XXXVIII 9 Januari 1984-5 Agustus 1984 (28X)
NOVEMBER MERAH. Diindonesiakan dari NOVEMBER ABANG. Dibukukan oleh PT. Bina Ilmu, 1984.
PAHLAWAN NOVEMBER, Pemenang I Lomba naskah buku anak-anak Penerbit IK Bandung. Dibukukan oleh PT. Bina Ilmu, 1985.
MEMBAKAR SURABAYA, skenario sinetron, 1986. 108 hal.
GEGER JAYACARAKA. Dari judul GEMPAR DJOJOCOROKO, 1967. Dimuat bersambung Surabaya Post, 1986
PERTEMPURAN 10 NOVEMBER 1945. Buku sejarah karya bersama diterbitkan oleh Panitia Pelestarian Nilai-nilai Kepahlawanan 10 November 1945 di Surabaya, diketuai oleh Blegoh Soemarto (Ketua DPRD I Jawa Timur), 1985.
DIMANA KAMU, YUSMAN? 10 September 2988, 109 hal. Diindonesiakan dari KEPELET. Belum terbit.
DOKOH JANTUNG HATI. Dari judul BOYOLALI RICUH (1967). Dimuat bersambung Surabaya Post, November 1988-Januari 1989.
SEJARAH PERS JAWA TIMUR. 1988. Karya bersama, Panitia SPS Jawa Timur
SEJARAH PANGLIMA-PANGLIMA BRAWIJAYA (sampai Majen Sugeng Subroto), Karya bersama Panita LIPI Jakarta dan Seksi Sejarah Kodam V Brawijaya. 1988
BURON PAPAT., 1989. Skenario ludruk untu TVRI Stasiun Surabaya
MEMBAKAR SURABAYA, Oktober 1989-Desember 1989. 204 hal. Dimuat bersambung Surya, November-Desember 1989. (Penerbitan awal Harian Surya)
TOKOH HITAM PUTIH, Oktober 1989, 42 hal. Skenario TV, seri Polwan Citra
IKLAN. November 1989. 30 hal. Skenario TV, seri Polwan Citra
PACAR SI UDIN, 8 Desember 1989, 39 hal. Skenario TV, seri Polwan Citra
SAPUTANGAN GAMBAR NAGA, Februari-April 1989. Dimuat bersambung Surabaya Post, 17 April – 6 September 1990. Diterbitkan buku PT. Grasindo Jakarta, Desember 2003, 405 halaman
‘tSPOOKHUIS, 28 Agustus 1990, 59 hal. Dimuat bersambung Panyebar Semangat, no. 6 2 Februari 1991-no. 16, 16 April 1991 (11X)
MENCARI SARANG ANGIN, 27 Januari 1991 – 26 April 1991, 286 hal. Dimuat bersambung Jawa Pos, 23 Oktober 1991 – 26 Desember 1991. Digubah kembali di komputer 17 Januari – 26 April 2004, 530 hal. Diterbitkan Grasindo Jakarta, Desember 2004, 727 hal.
KUNARPA TAN BISA KANDHA, seri Detektip Handaka, 20 Juni 1991, 81 hal. Dimuat bersambung Jaya Baya no. 12/17 November 1991 n0. 28/8 Maret 1992. (17X)
DETEKTIF, 16 Agustus 1991. 30 hal. Skenario TV, seri Melati Mekar Setangkai.
GADIS TANGSI, 2 September- 1 Oktober 1991. 150 hal. Dimuat bersambung Jawa Pos, 16 Januari – 8 April 1994 (71X)
TERJEBAK DI MONITOR, 4-27 November 1991. Pemenang Harapan II Sayembara menulis novel Kartini 1991. 108 hal. Dimuat bersambung Kartini, Oktober 1992. Digubah kembali di komputer 10 Juni-4 Agustus 2004, 204 hal, ditawarkan ke PT. Grasindo Jakarta, dengan nama samaran Elizabeth Tan.
ASTIRIN MBALELA, (dengan nama samaran Peni), 6 Januari – 22 Maret 1992. 100 hal. Dimuat bersambung Djaka Lodang Yogyakarta, 27 Maret-10 Juli 1993 (16X)
AURORA, SANG PENGANTIN, 13 Juni-24 Juli 1992. 133 hal. Dimuat bersambung Surabaya Post, 27 Agustus – 22 November 1992 (86X). Diterbitkan buku PT. Gransindo Jakarta, April 2003, 270 halaman.
DAHURU ING LOJI KEPENCIL, 29 Juli 1993. 40 hal. Dimuat bersambung Jawa Anyar 21 Juni – 1 September 1993.
TREM, antopologi crita cekak 1960-1993, 250 hal. Diterbitkan jadi buku oleh Pustaka Pelajar Yogayakarta November 2000. Dapat hadiah Rancage 2001.
SURABAYA, DISANALAH AKU BERDIRI, September – 11 November 1994. 303 hal. Sebuah catatan. Belum disiarkan
KREMIL, 11 November 1994 – Maret 1995. 273 hal. Dimuat bersambung Kompas 7 Agustus 1995 – 9 Januari 1996. (151X). Diterbitkan buku oleh Pustaka Pelajar Yogyakarta (782 halaman) Juli 2002.
SOLO GELAP GULITA. Diindonesiakan dari SOLO LELIMENGAN (1965). 13 Juni-13 Juli 1995. Dimuat bersambung Republika, 2 Oktober – 3 Desember 1995 (77X). Judul diganti Redaksi : BUKU HARIAN SEORANG PERWIRA.
CLEMANG-CLEMONG, 8-31 Agustus, 95 hal. Dimuat bersambung Jaya Baya 4 Agustus – 22 Desember 1996 (21 X).
SAKSI MATA, 7 Oktober – 3 Desember 1995. 253 hal. Dimuat bersambung Kompas 2 November 1997 – 2 April 1998 (145X), diterbitkan buku oleh Penerbit buku Kompas (432 halaman) Januari 2002.
DINAMIT, 8 Desember 1995 – 12 Januari 1996, 150 hal. Dimuat bersambung Surabaya Post, 8 September 1996 – 27 November 1996. (81X).
TEYI SI TEGAR HATI, (perbaikan dari GADIS TANGSI) 14 Februari 1996 – 1 Oktober 1996, 475 hal. Belum disiarkan.
PARIWARA MINI, 25 Oktober – 15 November 1998. 44 hal. Dibuat bersambung Djaka Lodang, 13 Maret 1999 – 15 Mei 1999 (10X)
PACARE UDIN, 25 November – 20 Desember 1998, 62 hal. Dimuat bersambung Panjebar Semangat, 2 Januari 1999 – 10 April 1999. (15X)
BEKASI REMANG-REMANG, 20 Maret – 12 April 2000. 65 hal. Dimuat bersambung Panjebebar Semangat, 8 Juli 2000 – 30 September 2000 (13X)
LELAKONE SI LAN MAN, kumpulan critta cekak 1960 – 2003, 218 hal. Diterbitkan Narasi Yogya, Februari 2005. (384 hal).
INTEROGASI, kumpulan cerita pendek, 188 hal. Diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jawa Timur Surabaya, Agustus 2001.
KELUWARGA PEJUWANG, 21 Nov 2001 – 21 Januari 2002, 119 hal. Dimuat bersambung Panjebar Semangat No. 9 2 Maret 2002 – N0. 27 6 Juli 2002.
SRAWUNGKU KARO SASTRA JAWA, 27 Februari – 16 November 2002, 253 hal. Masih dicarikan penerbit.
GADIS TANGSI (versi baru ), 30 September 2002 20 Januari 2003, 408 halaman, diterbitkan Penerbit buku Kompas, 373 halaman, Februari 2004.
KERAJAAN RAMINEM (sambungan Gadis Tangsi ), 1 Februari – 21 Mei 2003, 450 hal. Diterbitkan Penerbit Buku Kompas, Januari 2006.
MAHLIGAI DI UFUK TIMUR (sambungan Kerajaan Raminem), 4 Juli – 16 Desember 2003, 428 hal. Ditawarkan ke Penerbit Buku Kompas
REPUBLIK JUNGKIR BALIK, 21 Agustus 2004 – 10 Juli 2005, 350 hal. Akan diterbitkan Penerbit LKIS Yogya, 2006.
SUPARTO BRATA’S OMNIBUS (JAWA), 29 September 2005, 450 hal. Dicarikan penerbit.
CINTRONG TRAJU PAPAT, 21 September – 16 Oktober 2005, 139 halaman. Dimuat bersambung Panjebar Semangat 2006.
SER ! SER! PLONG!, 1 – 8 November 2005, 66 halaman. Ditawarkan ke Majalah Jaya Baya (Surabaya)
COCAK NGUNTAL ELO, 23 November – 10 Desember 2005, 80 hal. Ditawarkan ke Majalah Damar Jati Jakarta
MBOK RANDHA SAKA JOGJA, 4 Januari – 8 Februari 2006, 98 halaman. Dipacak Djaka Lodang jogyakarta, sejak No. 11, 12 Agustus 2006
KELANGAN SATANG, (trilogy seri Wiradi), 25 Okt. 2005 – 10 April 2006, 176 halaman. Dicarikan penerbit.
Judul yang berwarna coklat bahasa Jawa.
Daftar akan diteruskan
Dicatat Surabaya, 28 Agusutus 2006
Tentang Saya
Tempat/tanggal lahir : Rumah Sakit Simpang Surabaya (sekarang Gedung Surabaya Plaza), Sabtu Legi, 27 Februari 1932 (sama dengan Elizabeth Taylor), atau 19 Sawal 1862, Je (1350 Hijriah). Di ijazah/KTP, 16 Oktober 1932.
Sekolah :
Sekolah Rakjat, SR VI Jl. Laut Probolinggo, lulus 1946.
Sekolah Menengah Pertama, SMPN II Jl. Kepanjen Surabaya, lulus 1950
Sekolah Menengah Atas, SMAK St. Louis Jl. Dr. Sutomo Surabaya, lulus 1956.
Pekerjaan :
Pegawai Kantor Telegrap PTT, Jl. Niaga I Surabaya (1952-1960).
Karyawan Perusahaan Dagang Negara Djaya Bhakti, Jl. Rajawali 54 Surabaya (1960-1967)
Wartawan freelancer (membantu bertita/artikel/foto di Jaya Baya, Surabay Post, Indonesia Raya, Sinar Harapan, Kompas, Suara Karya)( 1968-1988).
Pegawai Negeri Pemda II Kotamadya Surabaya, Bagian Hubungan Masyarakat (HUMAS) (1971-1988/pensiun).
Pengarang merdeka (1988-sekarang).
Keluarga :
Lahir dari Bapak/Ibu Raden Suratman Bratanaya – Raden Ajeng Jembawati (keduanya dari Surakarta Hadiningrat).
Menikah dengan Rara Ariyati (lahir di Meurudu Aceh, 27 Desember 1940) di Ngombol Purworejo Kedu, 22 Mei 1962 (wafat di Surabaya 2 Juni 2002).
Anak-anak :
Tatit Merapi Brata, lahir Surabaya 24 Januari 1963. Lulus Sarjana Pertanian (Insinyur) UNIBRAW Malang, 1988. Nikah dengan Sandra Aprilianti, SE (Sarjana Ekonomi UNIBRAW Malang, 1989), di Blitaar 10 Juli 1991. anak-anak : 1. Enggar Diwangkara Brata, lahir di Bekasi 22 Januari 1993. 2 Aditya Bhaswara Brata, lahir di Bekasi 16 Juli 1996. Sekarang Tatit bekerja di PT. Beckjorindo Paryaweksana Jakarta, Sandra di Exportir Tekstil Mangga Dua Jakarta. Tinggal di Rawa lumbu, Bekasi.
Teratai Ayuningtyas, lahir Surabaya 29 Maret 1965. Lulus Akademi Sekretaris Universitas Katholik Widya Mandala Surabaya, 1985. Nikah dengan Ir. Wahyudi Ramadani, MMT (Sarjana Teknik Sipil ITS Surabaya 1988, S2-nya Magister Manajemen Teknologi ITS 2002) di Surabaya 27 Juli 1989. Anak-anak : Kapita Babullah Wicaksana, lahir di Surabaya 14 April 1992. 2. Wildan Rachmad Firdausi, lahir di Surabaya, 20 April 1994. 3 Yafi Nabil Pradibta, lahir di Surabaya 20 Juni 2001. Sekarang Wahyudi bekerja di PT. Surabaya Industrial Estate Rungkut (PT. SIER, Kabag Pengendali Lingkungan), tinggal di Rungkut Asri III/12 Surabaya 60293.
Neo Semeru Brata, lahir 1969, Sarjana Teknik Elektro Komputer Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, 1994. Menikah tahun 1996 dengan Yetty Kusumawati (Sarjana Teknik Elektro Telekomunikasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, 1994. Neo bekerja di Schlumberger - Oil Services Company dan Yetty bekerja di Telkomsel - GSM operator. Anak-anak: 1. Innocentia Alifia Putri (1997) dan Evelio Excellenta Brata (2002). Mereka tinggal di Jakarta Timur.
Tenno Singgalang Brata, lahir Surabaya 3 Desember 1971. Sarjana Teknik Lingkungan ITS Surabaya, 1995. Nikah dengan Pierlyta Dewi Sumantri, SE, MM di Tangerang 1 September 2002. Anak : Glanz Einstern Brata, lahir di Tangerang 28 Mei 2003. Sekarang bekerja dan tinggal di PT. Feeport Tembagapura.
Alamat : Rungkut Asri III / 12 Perum YKP RL IC/17 Surabaya 60293
Telepon (031) 8702759. Email : sbrata@yahoo.com
Karya tulis :
Menulis berita, feature, ulasan, artikel dan cerita fiksi sejak 1951, di muat di Majalah Siasat Mimbar Indonesia, Indonesia, Kisah, Seni, Buku Kita, Sastra, Aneka, Vista, Sarinah, Kartini, Putri Indonesia, dan lain-lain. Juga di surat kabar : Surabaya Post, Harian Umum, Suara Rakyat, Pikiran Rakyat, Trompet Masyarakat, Jawa Pos, Sinar Harapan, Indonesia Raya, Kompas, Suara Karya, Republika. (Hampir semua yang pernah dimuat di majalah/surat kabar di klipping baik. Pernah di fotocopy oleh Labrousse, Perancis, 1982).
Menulis bahasa Jawa sejak 1958, dimuat di Penyebar Semangat, Mekara Sari, Jaya Baya, Djaka Lodang, Jawa Anyar, Dharma Nyata.
Menulis cerita pendek, novel, drama, naskah sinetron, buku sejarah, dalam bahasa Jawa dan Indonesia (lihat judul buku)
Beberapa tulisan dikerjakan bersama dan dengan riset :
Risalah/proses Hari Jadi Kota Surabaya. Bersama dengan Kolenel Laut Dokter Sugiyarti Tirtomojo. Tim riset dan penulisan buku atas prakarsa dan dibiayai oleh Pemda Tk. II Kotamadya Surabaya. 1975.
Buku Master Plan Surabaya 2000, bersama Ir. Johan Silas. Tim diketuai oleh Kolenel Imam Sudrajat, dibiayai oleh Pemda Tk. II Kotamadya Surabaya. 1976.
Menulis buku Pertempuran 10 November 1945, bersama Drs. Aminuddin Kasdi, Drs. Soedjijo. Tim diprakarsai dan dibiayai oeh Panitia Pelestarian Nilai-nilai Kepahlawanan 10 November 1945 di Surabaya, 1986, diketuai oleh Blegoh Soemaro (Ketua DPRD Tk. I Jawa Timur)
Menulis Sejarah Pers Jawa Timur, bersama Drs. Mochtar, Drs. Anshari Thoyib, Soemijatno, Drs. Issatriadi. Diprakarsai dan dibiayai oleh Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Jawa Timur. 1987.
Menulis Sejarah Panglima-panglima Brawijaya (1945-1990), bersama Drs. Nurinhwa, Drs. Wawan Setiawan, Dr. Wuri Sudjatmiko. Prakarsa dan biaya oleh LIPI Jakarta dan Kodam Brawijaya. 1988.
Lain – lain :
Namanya telah tercatat dalam buku Five Thousand Personalities of the World Sixth Edition, 1998 terbitan The American Biographical Institute, Inc, 5126 Bur Oak Circle, P.O. Box 31226, Raleigh, North Carolina 27622 USA, dengan teks sebagai berikut :
BRATA, Suparto oc/Writer, ad/JL. Rungkut Asri III/12 RL-I-C 17, Surabaya 60293 Indonesia, pa/Story Writer, Public Servant, 1971 – 1988, Freelance Journalist, 1967 – 72 Operator/Teleprinter, Government Commerce Office, PDN Djaya Bhakti 1960 -67, Government Telegraph Office 1952 – 60, cw/Author, Eye Witness 1995, No Other Rice 1958, Co-Author, The Histories of the Commanders Brawijaya Division 1988, The History of the Press in East Java 1987, The Battle of Surabaya on November 1945, 1986. Ho/Numerous Award for Publications.
Mendapat Hadiah Rancage 2000 sebagai jasanya mengembangkan sastra dan bahasa Jawa. Hadiah Rancage 2001, karena telah membuktikan kreatifitasnya dalam sastra Jawa dengan terbitnya buku Trem karangannya. Hadiah Rancage 2005, karena terbitnya buku Donyane Wong Culika.
Kerajaan Raminem
Semangat Hidup Wong Cilik dalam Kerajaan Raminem

Judul : Kerajaan Raminem
Pengarang : Suparto Brata
Cetakan : Pertama, Januari 2006
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tebal : 470 halaman
ISBN: 979-709-238-0
Republik Jungkir Balik di Kompas
Suparto Brata dan Republik Jungkir Balik
SURABAYA, KAMIS - Sastrawan senior Surabaya yang sangat dikenal sebagai penulis sastra Jawa akan meluncurkan novel terbarunya berbahasa Indonesia berjudul "Republik Jungkir Balik".
"Seharusnya novel dengan seting cerita sejarah itu sudah terbit, tapi karena ada gempa Jogja akhirnya ditunda. Mudah-mudahan akhir tahun ini sudah bisa terbit," kata Suparto Brata, di Surabaya, Kamis (26/10).
Sastrawan berusia 74 tahun yang tetap produktif menulis itu menjelaskan, rencana penerbitan itu tertunda karena kantor LKIS juga menjadi korban gempa.
Menurut dia, novel Republik Jungkir Balik merupakan novel dengan bingkai sejarah tahun 1947. Novel itu menceritakan situasi di Kota Probolinggo dan Indonesia pada umumnya yang rakyatnya menghadapi perang melawan penjajah Belanda.
"Pada novel itu ada cerita pembunuhan, pelacuran dan lainnya sebagai dampak dari peperangan. Novel itu banyak melibatkan tokoh berasal dari berbagai etnis, termasuk Madura, Jawa dan Tionghoa," ujar pria kelahiran Surabaya yang pernah lama tinggal di Probolinggo karena mengungsi itu.
Ia menceritakan tokoh-tokoh utama dalam novelnya kali ini tidak selalu menjadi pahlawan. Mereka terdiri atas rakyat sipil yang ikut terlibat dalam peperangan melawan Belanda di wilayahnya.
Ditanya apakah novel itu untuk menyindir kondisi Indonesia saat ini, Suparto menjawab, novel itu betul-betul novel sejarah dengan latar belakang cerita di jaman Republik Indonesia kacau balau atau tidak menentu.
"Itu merupakan pengalaman yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan dan juga dari membaca. Meskipun ada latar sejarahnya, tapi unsur fiksinya tetap menonjol. Karenanya novel ini tidak bisa dijadikan sebagai rujukan sejarah. Ini karena memang tidak bersifat akademis," ujarnya.
Penulis: Ima
Artikel di Sinar Harapan
Kebanyakan orang umumnya membayangkan bisa tinggal menikmati hidup di usia lanjut. Tidak demikian halnya dengan Suparto Brata. Pensiunan pegawai negeri sipil Pemkot Surabaya ini, pada usianya yang 74 tahun, masih sibuk berkarya.
Suparto Brata dikenal sebagai penulis cerita bersambung dan cerita pendek berbahasa Jawa. Ia juga menulis novel berbahasa Indonesia. Di tengah-tengah berkarya, ia acap menerima peneliti, mulai dari mahasiswa yang menyusun skripsi dan tesis, sampai peneliti bahasa Jawa dari luar negeri. Di antaranya Rob van Albada, Sekretaris Stichting Indonesiche Lexicografie Leiden, Belanda (2005), dan William P Tuchrello, Field Director Library of Congress Office of South East Asia American Embassy (2006).
Sekalipun sudah menghasilkan lebih dari 180 karya tulis sejak 1953, mulai dari cerita pendek berbahasa Indonesia (60 judul), cerita bersambung, dan novel berbahasa Indonesia dan Jawa, naskah sinetron, film, ia menilai masih belum cukup. "Sastra Jawa tidak boleh terbatas pada cerita bersambung dan cerita pendek di majalah dan surat kabar, tetapi harus diterbitkan menjadi buku agar menjangkau khalayak lebih banyak, karena pembaca majalah berbahasa Jawa sangat terbatas," katanya.
Membaca dan menulis buku cerita itu penting sekali untuk pendidikan iman, akhlak, dan pengabdian hidup antarmanusia. Novel juga harus mengedepankan materi yang memberi pendidikan iman, akhlak, menumbuhkan pengabdian hidup.
"Negara yang warganya mempunyai budaya membaca dan menulis buku, peradaban, iman, dan kehidupan sangat tertata baik, rukun damai, dan filosofis," kata Suparto yang pensiun pada 1988 setelah bekerja 17 tahun sebagai redaksi di majalah internal.
"Melalui karya tulis, kita bisa membayangkan, merasakan seperti pengalaman yang ditulis pengarangnya terhadap suatu peristiwa. Tapi sayangnya, siswa-siswa kita tidak mendapatkan pelajaran membaca dan menulis, beda jauh dengan masa kecil saya dulu, anak-anak terbiasa memperbincangkan buku-buku sastra," ujarnya.
Itulah sebabnya, ada dua pengalaman hidup yang mempengaruhi Suparto Brata dalam menulis novel. Pengalaman hidup secara fisik melalui melihat dan mendengar serta membaca dan menulis buku. Novel Saksi Mata serta Gadis Tangsi dan Kerajaan Raminem, hampir seluruhnya atas dasar kesaksian Suparto Brata dari melihat dan mendengar. Kerajaan Raminem, ditulis berdasarkan penuturan ayah mertuanya mengenai istrinya selama di perantauan. Gadis Tangsi menceritakan kehidupan perempuan di tangsi, sementara Kerajaan Ranimen menceritakan perempuan bangsawan.
Penghargaan
Suparto Brata menempatkan perempuan dalam novel-novel menjadi protagonis-antagonis (lakon utama dan penantangnya). Sejak kecil ia selalu dekat dengan perempuan, mulai ibu, emban, abdi dalem istana, putra-putri bangsawan, teman sekolah, teman menari, istri, dan mertua.
Suparto kecil tinggal bersama pamannya, Kanjeng Pangeran Hariya Jayadiningrat di Kampung Gajahan Surakarta, tempat ibunya saat kecil bertempat tinggal (1932-1935). Kemudian, di rumah putri pamannya saat diboyong suami, Kanjeng Pangeran Hariya Suryabrata, ke istananya Gading Kulon, (1935-1937).
Novel-novel bahasa Jawa yang berkualitas, baik itu kadar sastra, bentuk buku, peredaran dan promosinya, diharapkan bisa menarik orang-orang muda, orang pintar, orang kaya, dan orang yang berkuasa. "Tidak banyak penerbit mau menerbitkan novel berbahasa Jawa. Takut rugi. Saya terpaksa merogoh uang sendiri untuk patungan dengan penerbitnya," kata Suparto Broto sambil menyebutkan mengeluarkan uang sebesar Rp 8 juta untuk menerbitkan novel Donyane Wong Culiko (Dunia Orang Curiga, 2005).
Ia kembali membiayai ongkos produksi bersama penerbitnya untuk sebuah novelnya berbahasa Jawa tahun ini. Pada 2007, ia menerbitkan dua novel berbahasa Jawa, juga dengan ongkos patungan.
Ketika pertama kali menerima Hadiah Rancage I/2000 untuk pembina bahasa dan sastra Jawa, Suparto Brata menyebutnya salah kedaden, meminjam istilahnya dalam bahasa Jawa. Setahun berikutnya, ia menerima Hadiah Rancage II melalui hasil karya buku Trem. Pada 2005, ia kembali menerima Hadiah Rancage III untuk bukunya Donyane Wong Culika.
"Yang pertama jelas salah kedaden (salah alamat, Red), saya bukan guru, bukan pemimpin redaksi surat kabar bahasa Jawa," tuturnya.
Trem ditulisnya pada 1960 sampai 1993, sementara Donyane Wong Culika, ditulisnya 1979-2001.Tidak sembarang novel Jawa diterbitkannya. Suparto benar-benar mengingat nasihat Arswendo Atmowiloto, ketika memberinya tugas menerbitkan Tabloid Praba di Yogya pada 1990. "Aja ngedol sing kowe bisa gawe, nanging gawea sing kowe biso ngedol (Jangan menjual apa yang bisa kamu buat, tetapi buatlah sesuatu yang layak jual, Red)."
Dari hadiah-hadiah uang yang diterimanya, sebagian malah dijadikan hadiah untuk pemenang karya esai tentang cerita bersambungnya yang dimuat di majalah berbahasa Jawa di Surabaya.
Nama Suparto Brata tercatat dalam buku Five Thousand Personalities of The World, edisi keenam (1998) yang diterbitkan The American Biographical Institute, Inc.
Di belakang namanya, tertulis bermacam profesinya, mulai dari penulis sejarah, wartawan freelance, operator teleprinter, serta penulis sejumlah karya sastra Jawa serta buku-buku sejarah Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, sejarah para panglima Kodam V/Brawijaya sebelum tahun 1988, sejarah penerbitan pers di Jatim (1987). Sebagai pewawancara tokoh-tokoh pelaku perjuangan 10 November 1945, ia bisa menjadi kamus hidup.
Tulisan fiksi (cerita pendek) pertamanya dimuat di Majalah Garuda terbitan Jakarta pada 25 Oktober 1953 dengan judul Miss Rika di Angkasa. Sementara novel pertamanya, Tak Ada Nasi Lain (1958) diterbitkan sebagai cerita bersambung di Kompas (1990). Karya pertamanya berbahasa Jawa Kaum Republik, menjadi juara pertama sayembara penulisan cerita bersambung majalah berbahasa Jawa, Panyebar Semangat di Surabaya (1958).
"Website" Pribadi
Suparto membiayai sendiri uang sekolahnya hingga lulus SMP tahun 1950, dengan menjadi loper koran Jawa Pos. Ia menyelesaikan pendidikan lanjutan atas di SMAK St Louis Surabaya (1954-1956). Ia terbiasa bersekolah sambil bekerja sebagai operator teleprinter Jawatan Pos dan Telegraf sampai tahun 1960. Sambil bekerja sebagai operator teleprinter, Suparto yang pernah bekerja di Rumah Sakit Kelamin di Jln Dr Soetomo Surabaya, melanjutkan kebiasaan menulis di majalah dan surat kabar di Surabaya, kendati tidak ada honorariumnya.
Bertandang ke rumahnya, ia dengan senang hati menunjukkan ruang kerjanya, yang menyatu dengan tempat tidurnya. Ada lemari penuh dengan kliping karya tulisnya sejak 1952, dan tumpukan buku di tiga meja.
Suparto Brata dilahirkan di Rumah Sakit Simpang Surabaya, pada 27 Februari 1932. Ayahnya Raden Suratman Bratatanaya dan ibunya Raden Ajeng Jembawati, keduanya dari Surakarta Hadiningrat.
Dari pernikahannya dengan Rara Ariyati, kelahiran Aceh, pada 1962 di Purworejo, Kedu, Suparto Brata dikaruniai empat putra, yakni Tatit Merapi Brata (1963), Teratai Ayuningtyas (1965), Neo Semeru Brata (1969), Tenno Singgalang Brata (1971). Tidak seorang pun yang mengikuti jejaknya. Tiga putranya memilih bidang teknik. Ada yang bekerja di perusahaan penambangan besar di Irian, ada yang bekerja di perusahaan migas asing milik perusahaan Prancis, sedangkan satu-satunya putri menjadi ibu rumah tangga yang bersuamikan seorang insinyur.
Suparto sangat terkesan dengan ujaran penulis Mary Higgins Clark, "Kalau kepingin hidup bahagia setahun menangkanlah kuis, kalau kamu kepingin hidup bahagia selama hidup tekunilah pekerjaanmu selamanya."
Itu sebabnya ia terus berkarya. "Karena itu pekerjaan saya, berkah sekaligus amanah Allah kepada saya," kata Suparto Brata, yang ditinggalkan istrinya berpulang pada 2002. Ia kini ditemani satu-satunya anak perempuannya, dengan suaminya, serta dua cucunya.
Masih ada angan-angan yang bakal diwujudkan dengan bantuan putra-putrinya, yakni mem- buat website tentang dirinya dan karya-karyanya, agar karya-karya dapat dinikmati lebih banyak orang. [Pembaruan/Edi Soetedjo]
Last modified: 18/11/06
Republik Jungkir Balik
Kamis, 26 Oktober 2006 11:59 WIB
HUMANIORA - Kebudayaan
Suparto Brata Luncurkan Novel ‘Republik Jungkir Balik’
"Seharusnya novel dengan seting cerita sejarah itu sudah terbit, tapi karena ada gempa Yogya akhirnya ditunda. Mudah-mudahan akhir tahun ini sudah bisa terbit," kata Suparto di Surabaya, Kamis.
Sastrawan berusia 74 tahun yang tetap produktif menulis itu menjelaskan, rencana penerbitan itu tertunda karena kantor LKIS juga menjadi korban gempa.
Menurut dia, novel Republik Jungkir Balik merupakan novel dengan bingkai sejarah tahun 1947. Novel itu menceritakan situasi di Kota Probolinggo dan Indonesia pada umumnya yang rakyatnya menghadapi perang melawan penjajah Belanda.
"Pada novel itu ada cerita pembunuhan, pelacuran dan lainnya sebagai dampak dari peperangan. Novel itu banyak melibatkan tokoh berasal dari berbagai etnis, termasuk Madura, Jawa dan Tionghoa," ujar pria kelahiran Surabaya yang pernah lama tinggal di Probolinggo karena mengungsi itu.
Ia menceritakan tokoh-tokoh utama dalam novelnya kali ini tidak selalu menjadi pehlawan. Mereka terdiri atas rakyat sipil yang ikut terlibat dalam peperangan melawan Belanda di wilayahnya.
Ditanya apakah novel itu untuk menyindir kondisi Indonesia saat ini? Suparto menjawab, novel itu betul-betul novel sejarah dengan latar belakang cerita di jaman Republik Indonesia kacau balau atau tidak menentu.
"Itu merupakan pengalaman yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan dan juga dari membaca. Meskipun ada latar sejarahnya, tapi unsur fiksinya tetap menonjol. Karenanya novel ini tidak bisa dijadikan sebagai rujukan sejarah. Ini karena memang tidak bersifat akademis," ujarnya. (Ant/OL-06





