Mahligai di Ufuk Timur
Oleh Irma di Eskrim Strawberry
Udah pernah baca novel Gadis Tangsi dan Kerajaan Raminem ? Di dua buku itu hidup Teyi susaaah banget. Gadis Tangsi bercerita kehidupan Teyi di tangsi Lorong Belawan, waktu ayahnya masih bekerja sebagai serdadu kumpeni. Raminem, ibunya, mewajibkan Teyi bekerja keras agar cita-citanya menjadi kaya tercapai. Semula Teyi mengeluh kenapa ia harus bangun pagi-pagi lalu keliling tangsi jualan pisang goreng, sementara teman-temannya asik bermain-main sepanjang hari. Ternyata gemblengan keras dari ibunya justru membentuk Teyi menjadi pribadi yang tegar, kuat dan mandiri.
Ayahnya meninggal sesaat sebelum Jepang masuk ke Indonesia. Teyi beserta ibu dan adiknya, Tumpi, berusaha pulang ke kampung Raminem di Ngombol. Jauh dan susah perjalanan mereka tempuh dari Sumatra Utara hingga Jawa Tengah. Kehidupan di kampung begitu miskin karena petani wajib setor seperempat hasil panen kepada Jepang. Untung Teyi dan Raminem berhasil menyelamatkan uang dan perhiasan yang mereka kumpulkan selama hidup di tangsi. Harta itulah yang mereka gunakan untuk biaya hidup. Teyi cerdas mengelola uang sehingga akhirnya mereka berhasil memiliki tanah, sawah, dan pabrik beras. Mereka kaya. Cita-cita Raminem tercapai sudah.
Setelah mewujudkan cita-cita ibunya, Teyi merasa sudah waktunya mewujudkan cita-citanya sendiri : menemui Gusti Bandara Raden Mas Kus Bandarkum, kekasih hatinya di istana Jayaningratan Solo. Pertama kali mereka bertemu di Belawan, ketika Ndara Mas Kus berlibur ke rumah bibinya, Gusti Bandara Raden Ayu Putri Parasi Kusumastuti. Putri Parasi yang mendidik Teyi menjadi putri keraton. Beliau juga mengajarkan Teyi baca-tulis, membiasakan Teyi membaca karya sastra dunia, ngadi busana, ngadi salira, dan tatakrama kehidupan keraton lainnya. Siapa yang mengira kalau gadis tangsi itu di kemudian hari menjelma jadi putri keraton. Ibarat ulat bulu bermetamorfosis menjadi kupu-kupu cantik.
Di buku 1 – Gadis Tangsi – Suparto Brata menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa di Sumatra. Mereka tetap berbahasa Jawa (meskipun kasar), berpakaian layaknya orang Jawa (kain dan kebaya), dan kebiasaan orang Jawa lainnya. Pada buku 2 – Kerajaan Raminem – digambarkan kehidupan orang Jawa di pedesaan. Menanam padi, menangkap burung, melatih perkutut untuk dijual atau sekedar kesenangan, naik dokar. Sedangkan buku 3 ini bercerita kehidupan bangsawan Jawa dalam istana. Termasuk filosofi dan aturan-aturan yang dipegang teguh masyarakat Jawa. Baca buku ini irma serasa belajar jadi orang Jawa. Hehehe.
… and they live happily ever after … begitulah kehidupan Teyi dan Ndara Mas Kus di akhir cerita trilogi ini.
Ayahnya meninggal sesaat sebelum Jepang masuk ke Indonesia. Teyi beserta ibu dan adiknya, Tumpi, berusaha pulang ke kampung Raminem di Ngombol. Jauh dan susah perjalanan mereka tempuh dari Sumatra Utara hingga Jawa Tengah. Kehidupan di kampung begitu miskin karena petani wajib setor seperempat hasil panen kepada Jepang. Untung Teyi dan Raminem berhasil menyelamatkan uang dan perhiasan yang mereka kumpulkan selama hidup di tangsi. Harta itulah yang mereka gunakan untuk biaya hidup. Teyi cerdas mengelola uang sehingga akhirnya mereka berhasil memiliki tanah, sawah, dan pabrik beras. Mereka kaya. Cita-cita Raminem tercapai sudah.
Setelah mewujudkan cita-cita ibunya, Teyi merasa sudah waktunya mewujudkan cita-citanya sendiri : menemui Gusti Bandara Raden Mas Kus Bandarkum, kekasih hatinya di istana Jayaningratan Solo. Pertama kali mereka bertemu di Belawan, ketika Ndara Mas Kus berlibur ke rumah bibinya, Gusti Bandara Raden Ayu Putri Parasi Kusumastuti. Putri Parasi yang mendidik Teyi menjadi putri keraton. Beliau juga mengajarkan Teyi baca-tulis, membiasakan Teyi membaca karya sastra dunia, ngadi busana, ngadi salira, dan tatakrama kehidupan keraton lainnya. Siapa yang mengira kalau gadis tangsi itu di kemudian hari menjelma jadi putri keraton. Ibarat ulat bulu bermetamorfosis menjadi kupu-kupu cantik.
Di buku 1 – Gadis Tangsi – Suparto Brata menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa di Sumatra. Mereka tetap berbahasa Jawa (meskipun kasar), berpakaian layaknya orang Jawa (kain dan kebaya), dan kebiasaan orang Jawa lainnya. Pada buku 2 – Kerajaan Raminem – digambarkan kehidupan orang Jawa di pedesaan. Menanam padi, menangkap burung, melatih perkutut untuk dijual atau sekedar kesenangan, naik dokar. Sedangkan buku 3 ini bercerita kehidupan bangsawan Jawa dalam istana. Termasuk filosofi dan aturan-aturan yang dipegang teguh masyarakat Jawa. Baca buku ini irma serasa belajar jadi orang Jawa. Hehehe.
… and they live happily ever after … begitulah kehidupan Teyi dan Ndara Mas Kus di akhir cerita trilogi ini.
Tags:
Kata Mereka
Mencari Sarang Angin
Mencari Sarang Angin, Novel Perjuangan?
Oleh Sunaryono Basuki Ks
“Mencari Sarang Angin” (Grasindo, 2005, 726 hal) adalah novel karya Suparto Brata. Dalam pertemuan di Surabaya sebelum berangkat ke Konperensi Karyawan Pengarang se- Indonesia tahun 1964, dengan tegas Suparto mengatakan pada saya: “Jangan keliru menulis nama saya, Dik. Suparto Brata bukan Suparta.”
Ketika saya tanya kenapa dia menulis, dengan ringan dia katakan: “Cuma rasa gatal saja.”
Suparto Brata ( lahir di Surabaya 27 Februari 1932), putera pasangan Raden Suratman Bratatanaya dan ibu Raden Ajeng Jembawati, keturunan Pakubumono V dari Solo.
Dari garis keturunan ini dan juga karena dia dibesarkan ditengah keluarga ibunya, maka dalam berbagai novel yang dia tulis, latar keraton Surakarta menjadi tak asing. Salah satunya adalah “Mencari Sarang Angin” (Grasindo, 2005) yang berkisah tentang tokoh utama Darwan yang berasal dari kraton Solo namun berniat meninggalkan kehidupan kraton, menjadi rakyat jelata dan bekerrja mulai dari bawah walau punya pendidikan cukup tinggi waktu itu, dan juga sudah menjadi penulis cerita bersambung berbahasa Jawa Harian Dagblad Express.
Pergulatan Darwan dimulai pada kantor penerbit koran berbahasa Jawa Dagblad Express yang terletak di Jalan Embong Malang, Surabaya pada masa sebelum Jepang datang. Walau bercelana rapi gaya priyayi pribumi jaman Belanda serta punya kemapuan menulis bahkan sebuah cerita bersambung yang populer, dia masih mau bekerja mulai dari bawah sebagai pembantu tukang set koran. Pada masa itu koran kecil ini masih menggunakan letter press berupa huruf-huruf timah terbalik yang disusun kemudian diikat menjadi baris-baris sementara percetakan yang menerbitkan koran berbahasa Belanda di Surabaya sudah menggunakan mesin intertype.
Ternyata Dagblad Express bukan sekedar dipakai untuk menggambarkan pergulatan Darwan dalam bidang jurnalistik, tetapi menjadi pusat cerita seluruhnya. Artinya, sampai akhir novel ternyata orang-orang yang bekerja di penerbitan ini merupakan tokoh –tokoh kuncinya. Kisah dimulai pada jaman penjajahan Belanda, bergerak ke jaman penjajahan Jepang, lalu jaman Perang Kemerdekaan, sampai pecahnya pemberontakan PKI Madiun. Dengan cermat Suparto Brata menyusun kisahnya, membangun watak tokoh-tokohnya dari keadaan di penerbitan ini sejak awal.
Dari novel ini kita dapat belajar banyak hal: tentang kota Surabaya tempo dulu, tentang kebiasaan penduduknya, sistem transportasi dengan trem listrik Jurusan Jembatan Merah-Wonokromo, juga tentang perkembangan pers nasional, gerakan bawah tanah menuju kemerdekaan, perjuangan bersenjata melawan Belanda.Deskripsinya mengenai kota Surabaya dan kebiasaan penduduknya sangat cermat. Rakyatnya yang suka minum tuak dan bertaruh andhokan, lomba burung dara yang memang khas Surabaya, juga adat perkawinan cara Surabaya. Seorang pembaca ahli perkotaan pernah memuji kecermatan Suparto Brata melukiskan kota Solo di dalam salah satu novelnya.
Pada awalnya kita mengira para pekerja di koran ini tidak akan berperan penting. Rokhim alias Abdulrokhim yang cuma setter, Mas Slamet yang redaktur, Murdanu juga redaktur, Mbak Yayi yang kontributor serta Darwan sendiri. Mbak Yayi masih punya sepupu yakni Sajiwo yang kelak punya peran besar pula, sementara Rokhim punya keluarga, keluarga Jayajais dengan istri dan anaknya yang masih remaja awal: Rokhayah.
Kita tak sadar dari halaman ke halaman dituntun untuk menuju puncak yang disiapkan baik-baik. Sifat iri hati dan dengki Rokhim makin berkembang, dan saat mendapat pertolongan malah merasa pandai. Melihat hidupnya yang serba kekurangan, Darwan mencarikan pekejaan di sebuah pecetakan besar yang sudah menggunakan mesin intertype, milik Belanda. Menilik lokasinya percetakan ini menjadi sentra penerbitan pers di masa kemerdekaan, berlokasi di jalan Pahlawan, tempat sejumlah penerbitan pers, baik koran maupun majalah dicetak. Rokhim berhasil diterima sebagai setter di percetakan de Brantas.
Perkenalan Darwan dengan Stefie van Daal yang redaktur Het Soerabaiasch Nieuws Handelsblad juga bukan sekedar menceritakan perkembangan karir Darwan sebagai penulis kolom dalam bahasa Belanda yang membuatnya hidup berkecukupan. Diajaknya Darwan oleh Stefie van Daal menghadirri pengadilan soal penyelundupan radio di Gresik juga mempunyai makna tersendiri. Disana dia bertemu Slamet yang menyamar. Ternyata selain bekerja di Dagblad Express, Slamet juga pemasok info untuk Jepang yang tentu menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia. Mbak Yayi ternyata juga aktifis Yong Java yang membantu kegiatan Slamet.
Kisah diberi bunga percintaan Darwan dan Yayi namun tak terlaksana. Di akhir masa penjajahan Belanda Slamet dan Yayi menikah, namun kehidupan mereka terancam oleh ulah seseorang yang melapor kepada P.I.D. Mereka lari, mecari perlindungan ke rumah Darwan, yang menitipkan Slamet di rumah Rokhim dengan alasan betengkar dengan Yayi, istrinya. Sedangkan Yayi dikirim ke Solo untuk bersembunyi di istana ayahnya. Ternyata Darwan menitipkan Slamet di sarang macan. Slamet segera ditangkap P.I.D.
Jepang datang, banyak orang kehilangan pekerjaan termasuk Rokhim dan Darwan. Yayi datang besama rombongan pelukis dari Solo untuk berpameran. Rokhim bermain lagi, memfitnah Yayi yang ditangkap Turnadi, Kenpeihok yang membantu Kenpeitai. Turnadi, yang di dadanya tertulis namanya dalam huruf katakana : Torunadei. Saat Yayi sekarang karena siksaan dia menyampaikan pesan siapa penyiksanya dan Darwan mendengarnya sebagai Tirtonadi.
Jaman revolusi Rokhim makin oportunis, merasa dapat menyaingi Bung Tomo dan pemimpin-pemimpin lain karena suka menempel menteri yang datang ke Surabaya. Akhirnya dia menjadi tokoh PKI yang tertembak di hutan.
Novel ini, yang bermula dari kantor Dagblad Express berakhir dengan ajal sang oportunis Rokhim. Bukan hanya menceritakan kehidupan pers di Surabaya dan Yogyakarta, juga tentang budaya Surabaya, dan kisah para pejuang kemerdekaan. Suparto Brata pengarang tua yang sangat produktif, mulai dengan novel-novelnya berbahasa Jawa sampai yang berbahasa Indonesia. Selain buku-bukunya yangvterbit tahun 60an, 80an dan 90an, buku-buku novelnya yang baru antara lain:Trem ( 2002) Kremil (2002), Aurora Sang pengantin (2002),, Gadis Tangsi (2004), Saputangan Gambar Naga ( 2003), Donyane Wong Culika (2004). Semua buku itu tebalnya paling tidak 700 halaman, bukan pekerjaan main-main, dan rata-rata dirancang dengan sangat rapi, alur bergerak menuju akhir, semua masuk akal.
Layaklah kalau sastrawan Surabaya asal Solo ini mendapat berbagai penghargaan, termasuk Hadiah Rancage untuk karya sastranya berbahaya Jawa.*** Sunaryono Basuki Ks, sastrawan, tinggal di Singaraja.
Oleh Sunaryono Basuki Ks
“Mencari Sarang Angin” (Grasindo, 2005, 726 hal) adalah novel karya Suparto Brata. Dalam pertemuan di Surabaya sebelum berangkat ke Konperensi Karyawan Pengarang se- Indonesia tahun 1964, dengan tegas Suparto mengatakan pada saya: “Jangan keliru menulis nama saya, Dik. Suparto Brata bukan Suparta.”
Ketika saya tanya kenapa dia menulis, dengan ringan dia katakan: “Cuma rasa gatal saja.”
Suparto Brata ( lahir di Surabaya 27 Februari 1932), putera pasangan Raden Suratman Bratatanaya dan ibu Raden Ajeng Jembawati, keturunan Pakubumono V dari Solo.
Dari garis keturunan ini dan juga karena dia dibesarkan ditengah keluarga ibunya, maka dalam berbagai novel yang dia tulis, latar keraton Surakarta menjadi tak asing. Salah satunya adalah “Mencari Sarang Angin” (Grasindo, 2005) yang berkisah tentang tokoh utama Darwan yang berasal dari kraton Solo namun berniat meninggalkan kehidupan kraton, menjadi rakyat jelata dan bekerrja mulai dari bawah walau punya pendidikan cukup tinggi waktu itu, dan juga sudah menjadi penulis cerita bersambung berbahasa Jawa Harian Dagblad Express.
Pergulatan Darwan dimulai pada kantor penerbit koran berbahasa Jawa Dagblad Express yang terletak di Jalan Embong Malang, Surabaya pada masa sebelum Jepang datang. Walau bercelana rapi gaya priyayi pribumi jaman Belanda serta punya kemapuan menulis bahkan sebuah cerita bersambung yang populer, dia masih mau bekerja mulai dari bawah sebagai pembantu tukang set koran. Pada masa itu koran kecil ini masih menggunakan letter press berupa huruf-huruf timah terbalik yang disusun kemudian diikat menjadi baris-baris sementara percetakan yang menerbitkan koran berbahasa Belanda di Surabaya sudah menggunakan mesin intertype.
Ternyata Dagblad Express bukan sekedar dipakai untuk menggambarkan pergulatan Darwan dalam bidang jurnalistik, tetapi menjadi pusat cerita seluruhnya. Artinya, sampai akhir novel ternyata orang-orang yang bekerja di penerbitan ini merupakan tokoh –tokoh kuncinya. Kisah dimulai pada jaman penjajahan Belanda, bergerak ke jaman penjajahan Jepang, lalu jaman Perang Kemerdekaan, sampai pecahnya pemberontakan PKI Madiun. Dengan cermat Suparto Brata menyusun kisahnya, membangun watak tokoh-tokohnya dari keadaan di penerbitan ini sejak awal.
Dari novel ini kita dapat belajar banyak hal: tentang kota Surabaya tempo dulu, tentang kebiasaan penduduknya, sistem transportasi dengan trem listrik Jurusan Jembatan Merah-Wonokromo, juga tentang perkembangan pers nasional, gerakan bawah tanah menuju kemerdekaan, perjuangan bersenjata melawan Belanda.Deskripsinya mengenai kota Surabaya dan kebiasaan penduduknya sangat cermat. Rakyatnya yang suka minum tuak dan bertaruh andhokan, lomba burung dara yang memang khas Surabaya, juga adat perkawinan cara Surabaya. Seorang pembaca ahli perkotaan pernah memuji kecermatan Suparto Brata melukiskan kota Solo di dalam salah satu novelnya.
Pada awalnya kita mengira para pekerja di koran ini tidak akan berperan penting. Rokhim alias Abdulrokhim yang cuma setter, Mas Slamet yang redaktur, Murdanu juga redaktur, Mbak Yayi yang kontributor serta Darwan sendiri. Mbak Yayi masih punya sepupu yakni Sajiwo yang kelak punya peran besar pula, sementara Rokhim punya keluarga, keluarga Jayajais dengan istri dan anaknya yang masih remaja awal: Rokhayah.
Kita tak sadar dari halaman ke halaman dituntun untuk menuju puncak yang disiapkan baik-baik. Sifat iri hati dan dengki Rokhim makin berkembang, dan saat mendapat pertolongan malah merasa pandai. Melihat hidupnya yang serba kekurangan, Darwan mencarikan pekejaan di sebuah pecetakan besar yang sudah menggunakan mesin intertype, milik Belanda. Menilik lokasinya percetakan ini menjadi sentra penerbitan pers di masa kemerdekaan, berlokasi di jalan Pahlawan, tempat sejumlah penerbitan pers, baik koran maupun majalah dicetak. Rokhim berhasil diterima sebagai setter di percetakan de Brantas.
Perkenalan Darwan dengan Stefie van Daal yang redaktur Het Soerabaiasch Nieuws Handelsblad juga bukan sekedar menceritakan perkembangan karir Darwan sebagai penulis kolom dalam bahasa Belanda yang membuatnya hidup berkecukupan. Diajaknya Darwan oleh Stefie van Daal menghadirri pengadilan soal penyelundupan radio di Gresik juga mempunyai makna tersendiri. Disana dia bertemu Slamet yang menyamar. Ternyata selain bekerja di Dagblad Express, Slamet juga pemasok info untuk Jepang yang tentu menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia. Mbak Yayi ternyata juga aktifis Yong Java yang membantu kegiatan Slamet.
Kisah diberi bunga percintaan Darwan dan Yayi namun tak terlaksana. Di akhir masa penjajahan Belanda Slamet dan Yayi menikah, namun kehidupan mereka terancam oleh ulah seseorang yang melapor kepada P.I.D. Mereka lari, mecari perlindungan ke rumah Darwan, yang menitipkan Slamet di rumah Rokhim dengan alasan betengkar dengan Yayi, istrinya. Sedangkan Yayi dikirim ke Solo untuk bersembunyi di istana ayahnya. Ternyata Darwan menitipkan Slamet di sarang macan. Slamet segera ditangkap P.I.D.
Jepang datang, banyak orang kehilangan pekerjaan termasuk Rokhim dan Darwan. Yayi datang besama rombongan pelukis dari Solo untuk berpameran. Rokhim bermain lagi, memfitnah Yayi yang ditangkap Turnadi, Kenpeihok yang membantu Kenpeitai. Turnadi, yang di dadanya tertulis namanya dalam huruf katakana : Torunadei. Saat Yayi sekarang karena siksaan dia menyampaikan pesan siapa penyiksanya dan Darwan mendengarnya sebagai Tirtonadi.
Jaman revolusi Rokhim makin oportunis, merasa dapat menyaingi Bung Tomo dan pemimpin-pemimpin lain karena suka menempel menteri yang datang ke Surabaya. Akhirnya dia menjadi tokoh PKI yang tertembak di hutan.
Novel ini, yang bermula dari kantor Dagblad Express berakhir dengan ajal sang oportunis Rokhim. Bukan hanya menceritakan kehidupan pers di Surabaya dan Yogyakarta, juga tentang budaya Surabaya, dan kisah para pejuang kemerdekaan. Suparto Brata pengarang tua yang sangat produktif, mulai dengan novel-novelnya berbahasa Jawa sampai yang berbahasa Indonesia. Selain buku-bukunya yangvterbit tahun 60an, 80an dan 90an, buku-buku novelnya yang baru antara lain:Trem ( 2002) Kremil (2002), Aurora Sang pengantin (2002),, Gadis Tangsi (2004), Saputangan Gambar Naga ( 2003), Donyane Wong Culika (2004). Semua buku itu tebalnya paling tidak 700 halaman, bukan pekerjaan main-main, dan rata-rata dirancang dengan sangat rapi, alur bergerak menuju akhir, semua masuk akal.
Layaklah kalau sastrawan Surabaya asal Solo ini mendapat berbagai penghargaan, termasuk Hadiah Rancage untuk karya sastranya berbahaya Jawa.*** Sunaryono Basuki Ks, sastrawan, tinggal di Singaraja.
Tags:
Resensi
Penjaga Sastra Jawa
Meski usianya sudah senja, dia berusaha sekuat tenaga agar karya-karyanya bisa dicetak ke dalam buku. Atas kegigihannya itu, dua bukunya, Trem (2000) dan Donyane Wong Culiko (Dunia Orang Licik) (2004), telah mendapatkan hadiah dari Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikan Ajip Rosidi.
Bagi Suparto Brata, Rancage adalah penghargaan karya sastra daerah yang paling bergengsi. Menurut dia, derajat Rancage lebih tinggi dibanding penghargaan yang diberikan oleh wali kota atau gubernur. "Meski hadiahnya hanya Rp 5 juta, nilai Rancage melebihi hadiah uangnya," kata Suparto kepada Tempo, Selasa (15/2).
Dengan Rancage, kata Suparto, pengarang terpacu untuk menerbitkan buku. Menurut dia, sebelum ada Rancage, pengarang Jawa hanya puas jika karyanya dimuat di majalah atau surat kabar. Padahal jumlah media massa berbahasa Jawa sangat terbatas. Majalah Jawa yang kini masih bertahan adalah Panjebar Semangat, Jaya Baya (Surabaya), dan Jaka Lodang (Yogyakarta).
Sebelum ada hadiah Rancage, Suparto memang sudah sejak lama bergelut dengan sastra Jawa. Langkah Suparto menulis sastra dimulai pada l959. Pada 1962, karyanya berjudul Tanpa Tlacak dimuat majalah Panjebar Semangat. Suparto mengakui, ketertarikannya pada sastra Jawa karena sering membaca Panjebar Semangat dan diilhami novel detektif yang dibacanya. "Salah satunya adalah novel Agatha Cristie," ujarnya.
Sejak itu, karya-karyanya terus mengalir. Naskah cerita pendek dan novel, dalam bahasa Jawa atau Indonesia, lahir dari tangannya. "Dia pengarang yang sangat produktif," kata Budi Darma, sastrawan kondang asal Surabaya. Disebut produktif karena, selain karyanya banyak, Suparto mengerjakan naskahnya di sela-sela waktu luangnya sebagai pegawai Kantor Telegrap (l952-l960), Perusahaan Dagang Negara Djaya Bhakti (1960-1967), dan pegawai Humas Pemerintah Kota Surabaya (l971-l988).
Pada l968-l988 dia juga menjadi wartawan lepas di beberapa surat kabar. Keahliannya menulis juga diwujudkan dalam membuat buku sejarah yang dikerjakan dengan sejumlah pengarang di Surabaya. Setidaknya, Suparto ikut terlibat dalam penyusunan buku Pertempuran 10 November 1945, Sejarah Pers Jawa Timur, dan Sejarah Panglima Brawijaya. "Saya menulis artikel setelah pekerjaan utama saya selesai," pria kelahiran Surabaya [ada 1932 ini menambahkan.
Berkat keuletannya, Suparto telah menghasilkan 103 karya, termasuk cerita bersambung berbahasa Indonesia, Gadis Tangsi (l991) dan Kremil (l994). Novel Kremil, selain dimuat bersambung di Kompas, juga diterbitkan oleh Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Sebelum menulis Gadis Tangsi dan Kremil, pada l980 Suparto juga melahirkan novel Kunanti di Selat Bali yang kemudian mendapatkan hadiah pertama lomba novel majalah Putri Indonesia.
Meski produktif menulis sastra Indonesia, perhatian Suparto terhadap sastra Jawa tak pernah surut. Pada l989-l990, misalnya, dia diminta Arswendo Atmowolito untuk menerbitkan Praba, tabloid berbahasa Jawa di Yogyakarta. Tapi Praba tidak sempat beredar karena Arswendo keburu ditahan terkait kasus tabloid Monitor. Setelah itu, Suparto juga pernah mengelola tabloid berbahasa Jawa milik Jawa Pos. Namun, dia kemudian mengundurkan diri karena media tersebut berubah menjadi tabloid berbahasa Indonesia.
Dengan usianya yang terus bertambah, Suparto sadar tak mungkin bisa produktif lagi menulis sastra Jawa. Karena itu, kini perhatiannya dicurahkan untuk menerbitkan karya-karyanya ke dalam buku. Dan usahanya itu telah terbukti dengan telah selesainya penerbitan buku Donyane Wong Culiko, September, tahun lalu.
Suparto bercita-cita hadiah dari Rancage dari buku Donyane Wong Culiko yang akan diterimanya tahun ini akan dipakai untuk membiayai penerbitan buku pengarang muda dari Surabaya. Salah satu pengarang yang "dincarnya" adalah Sri Setyowati alias Trinil. Pengarang ini dinilai punya kekuatan karena berhasil memasukkan dialek Suroboyoan ke dalam karyanya.
"Jadi salah jika saya dianggap tidak memberikan kesempatan kepada yang muda," kata Suparto. zed abidien (surabaya)
Dari Korantempo.com tgl 28 Februari 2005
Bagi Suparto Brata, Rancage adalah penghargaan karya sastra daerah yang paling bergengsi. Menurut dia, derajat Rancage lebih tinggi dibanding penghargaan yang diberikan oleh wali kota atau gubernur. "Meski hadiahnya hanya Rp 5 juta, nilai Rancage melebihi hadiah uangnya," kata Suparto kepada Tempo, Selasa (15/2).
Dengan Rancage, kata Suparto, pengarang terpacu untuk menerbitkan buku. Menurut dia, sebelum ada Rancage, pengarang Jawa hanya puas jika karyanya dimuat di majalah atau surat kabar. Padahal jumlah media massa berbahasa Jawa sangat terbatas. Majalah Jawa yang kini masih bertahan adalah Panjebar Semangat, Jaya Baya (Surabaya), dan Jaka Lodang (Yogyakarta).
Sebelum ada hadiah Rancage, Suparto memang sudah sejak lama bergelut dengan sastra Jawa. Langkah Suparto menulis sastra dimulai pada l959. Pada 1962, karyanya berjudul Tanpa Tlacak dimuat majalah Panjebar Semangat. Suparto mengakui, ketertarikannya pada sastra Jawa karena sering membaca Panjebar Semangat dan diilhami novel detektif yang dibacanya. "Salah satunya adalah novel Agatha Cristie," ujarnya.
Sejak itu, karya-karyanya terus mengalir. Naskah cerita pendek dan novel, dalam bahasa Jawa atau Indonesia, lahir dari tangannya. "Dia pengarang yang sangat produktif," kata Budi Darma, sastrawan kondang asal Surabaya. Disebut produktif karena, selain karyanya banyak, Suparto mengerjakan naskahnya di sela-sela waktu luangnya sebagai pegawai Kantor Telegrap (l952-l960), Perusahaan Dagang Negara Djaya Bhakti (1960-1967), dan pegawai Humas Pemerintah Kota Surabaya (l971-l988).
Pada l968-l988 dia juga menjadi wartawan lepas di beberapa surat kabar. Keahliannya menulis juga diwujudkan dalam membuat buku sejarah yang dikerjakan dengan sejumlah pengarang di Surabaya. Setidaknya, Suparto ikut terlibat dalam penyusunan buku Pertempuran 10 November 1945, Sejarah Pers Jawa Timur, dan Sejarah Panglima Brawijaya. "Saya menulis artikel setelah pekerjaan utama saya selesai," pria kelahiran Surabaya [ada 1932 ini menambahkan.
Berkat keuletannya, Suparto telah menghasilkan 103 karya, termasuk cerita bersambung berbahasa Indonesia, Gadis Tangsi (l991) dan Kremil (l994). Novel Kremil, selain dimuat bersambung di Kompas, juga diterbitkan oleh Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Sebelum menulis Gadis Tangsi dan Kremil, pada l980 Suparto juga melahirkan novel Kunanti di Selat Bali yang kemudian mendapatkan hadiah pertama lomba novel majalah Putri Indonesia.
Meski produktif menulis sastra Indonesia, perhatian Suparto terhadap sastra Jawa tak pernah surut. Pada l989-l990, misalnya, dia diminta Arswendo Atmowolito untuk menerbitkan Praba, tabloid berbahasa Jawa di Yogyakarta. Tapi Praba tidak sempat beredar karena Arswendo keburu ditahan terkait kasus tabloid Monitor. Setelah itu, Suparto juga pernah mengelola tabloid berbahasa Jawa milik Jawa Pos. Namun, dia kemudian mengundurkan diri karena media tersebut berubah menjadi tabloid berbahasa Indonesia.
Dengan usianya yang terus bertambah, Suparto sadar tak mungkin bisa produktif lagi menulis sastra Jawa. Karena itu, kini perhatiannya dicurahkan untuk menerbitkan karya-karyanya ke dalam buku. Dan usahanya itu telah terbukti dengan telah selesainya penerbitan buku Donyane Wong Culiko, September, tahun lalu.
Suparto bercita-cita hadiah dari Rancage dari buku Donyane Wong Culiko yang akan diterimanya tahun ini akan dipakai untuk membiayai penerbitan buku pengarang muda dari Surabaya. Salah satu pengarang yang "dincarnya" adalah Sri Setyowati alias Trinil. Pengarang ini dinilai punya kekuatan karena berhasil memasukkan dialek Suroboyoan ke dalam karyanya.
"Jadi salah jika saya dianggap tidak memberikan kesempatan kepada yang muda," kata Suparto. zed abidien (surabaya)
Dari Korantempo.com tgl 28 Februari 2005
Tags:
Artikel
Rancage 2007
Dengan hormat,
Berikut ini kami sampaikan pengumuman Hadiah Sastra Rancage 2007, yang ditandatangani oleh Ajip Rosidi, Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage. Semoga informasi ini bermanfaat bagi masyarakat. Atas perhatian Anda semua, kami haturkan terima kasih.
Hormat kami,
Hawe Setiawan
Pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage
Keputusan
Hadiah Sastera "Rancagé" 2007
Dalam tahun 2006, Yayasan Kebudayaan "Rancagé" kehilangan tiga orang pendirinya. Mula-mula dua orang anggota Dewan Pembina, yaitu Prof. Dr. H. Ayatrohaédi (meninggal 18 Februari) dan Prof. Dr. H. Édi S. Ékadjati (meninggal 1 Juni) dan kemudian Ketua Dewan Pengurus Drs. H.R. Déddi Anggadiredja MBA (meninggal 4 November). Innalillahi wa innailaihi roji'un.
Semoga ketiganya mendapat ampunan Allah SWT, dosa dosanya dihapuskan, amal perbuatannya menjadi amal yang soléh, iman Islamnya diterima dengan iklas, dan arwahnya mendapat tempat yang mulia di hadirat Allahu Robbi. Amin ya Robbal'alamin.
Kepergian tiga orang pendirinya itu merupakan kehilangan besar bagi Yayasan Kebudayaan "Rancagé". Namun demikian usaha pemberian Hadiah Sastera "Rancagé", dengan bantuan berbagai pihak, insya Allah akan dapat dilanjutkan setiap tahun. Hadiah Sastera "Rancagé" tahun 2007 adalah yang ke-19 kalinya untuk sastera Sunda, yang ke-14 kalinya untuk sastera Jawa dan yang ke-10 kalinya untuk sastera Bali.
Untuk setiap bahasa disediakan dua macam hadiah, yaitu untuk karya yang diberikan kepada pengarang buku yang dianggap terbaik yang terbit tahun sebelumnya (2006) dan untuk jasa yaitu bagi orang atau lembaga yang dianggap besar jasanya bagi perkembangan bahasa ibu yang bersangkutan. Kalau ada yang terbit, disediakan pula Hadiah "Samsudi" bagi pengarang buku bacaan kanak-kanak dalam bahasa Sunda. Dalam tahun 2006, penerbitan buku dalam bahasa Sunda, Jawa dan Bali lebih marak daripada tahun-tahun sebelumnya. Dalam bahasa Sunda ada 30 judul (tahun 2005 ada 19 judul), dalam bahasa Jawa ada 16 judul (tahun 2005 ada 6 judul) dan dalam bahasa Bali ada 17 judul (tahun 2005 ada 5 judul). Mudah-mudahan kecenderungan kian banyaknya jumlah buku dalam bahasa ibu yang diterbitkan akan terus melanjut.
Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk bahasa Sunda Ke-30 judul buku bahasa Sunda yang terbit 2006 itu bukan hanya karya sastera, tetapi tidak termasuk buku ajar. Juga tidak semuanya buku baru, banyak yang cetak ulang.
Yang perlu mendapat perhatian khusus adalah penerbitan Kamus Basa Sunda susunan R.A. Danadibrata yang tebalnya 760 halaman format Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus ini disusun selama kl. 40 tahun bukan oleh ahli bahasa, dan semata didorong oleh cintanya kepada bahasa ibunya. Dan setelah naskahnya selesai menunggu lebih dari 30 tahun lagi sebelum terbit. Penyusunnya tak sempat menyaksikan hasil kerjanya terbit.
Buku bahasa Sunda yang terbit tahun 2006 ternyata banyak buku agama, ada yang merupakan terjemahan kitab Barjanzi (Maulid Barzanji Sunda terjemahan H. Sjamsul Arifien terbitan Al-Ma'arif), ada yang merupakan terjemahan Surat Yaa sin yang disertai dengan tilawah dalam bentuk pupuh (Surah Yaa Siin oleh Drs. H.R. Hidayat Suryalaga, KBU), ada yang merupakan terjemahan ayat Al-Qur-an dalam bentuk nadom (Nadoman Nurul Hikmah, oleh H. R. Hidayat Suryalaga, Yayasan Nurul Hidayah), ada kumpulan khutbah Jum'ah (Aweuhan ti Paimbaran, Khutbah Jum'ah & 'Idain, oleh Anwar Azmi dkk, Pustaka Fithri), ada yang berupa surat nasihat kepada anak (Anaking Pupujan Ati oleh H. Ingka Fakkuroqobah, Yayasan Bina Muda, Cicaléngka), dan kumpulan makalah dan bahasan (Ngamumulé Budaya Sunda, Nanjeurkeun Komara Agama, Perhimpunan KB PII Jawa Barat).
Maraknya penerbitan buku agama Islam dalam bahasa Sunda sangat menggembirakan karena khutbah Jum'at di masjid-masjid di Bandung dan daerah Jawa Barat lainnya kian kurang yang menggunakan bahasa Sunda. Padahal bahasa ibu lebih menyentuh kalau digunakan untuk menanamkan keimanan beragama.
Ada juga beberapa buku tentang tradisi masayarakat Sunda yang kian hilang, yaitu Sambel Jaér susunan Asép Ruhimat (PPN) dan Tatarucingan urang Sunda susunan Rachmat Taufiq Hidayat, dkk. (KBU), Nu sarimbag & Unak-anik dina Tembang Sunda susunan Apung S. Wiratmadja (PSTS).
Buku-buku itu niscaya akan bermanfaat bagi mereka yang hendak mengetahui tradisi budaya Sunda yang hampir tidak dikenal lagi. Begitu pula kumpulan tulisan almarhum Prof. Dr. H. Édi S. Ékadjati tentang tokoh-tokoh sejarah Sunda berjudul Nu Maranggung dina Sajarah Sunda (Yayasan Pusat Studi Sunda), sangat penting bagi orang-orang Sunda yang hendak mengenal tokoh-tokoh sejarahnya.
Yang istimewa ialah penerbitan UUD 1945 versi bahasa Sunda. Usaha demikian penting sekali, bukan saja karena akan memberi kesempatan bagi mereka yang kurang menguasai bahasa Indonesia untuk mengenal undang-undang dasarnya dalam bahasa ibu yang lebih dikuasainya, melainkan juga sebagai usaha mempergunakan bahasa Sunda untuk penulisan perihal hukum, artinya penggunaan bahasa Sunda sebagai bahasa ilmu (hukum).
Seharusnya setiap undang-undang dan peraturan pemerintah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa ibu yang terdapat di seluruh Indonesia agar dimengerti dengan cermat oleh seluruh bangsa. Sabagai suku bangsa yang terkenal suka bergurau, terbit pula dua buku kumpulan lelucon (Kéom sakedap susunan Syam Ridwan dan Dulag Nalaktak oleh Usép Romli HM, keduanya terbitan KBU).
Sedangkan buku-buku yang dapat digolongkan sebagai karya sastera yang merupakan cetak ulang ialah Béntang Pasantrén (Usép Romli, KBU), Buron (Aam Amilia, Pustaka Arnaldi), Nu Tareuneung (Ki Umbara, KBU), Silalatu Gunung Salak (6 jilid), Pasukan Siluman Haji Perwatasari (6 jilid) dan Album Carpon, ketiganya karya Aan Merdeka Permana.
Seperti telah diumumkan, karya cetak ulang tidak dinilai untuk memperoleh Hadiah "Rancagé". Begitu juga karya yang merupakan kumpulan bersama. Yang berupa kumpulan bersama itu ialah Néangan Bulan (Mencari Bulan) karya Chyé Rétty Isnéndés dkk, Surat keur Bandung karya Asép Zamzan Noor dkk, dan Mangsi Asih Kalam Tresna (Tinta Kasih Kalam Cinta) oleh Aam Amilia dkk.
Maka yang tahun ini dinilai untuk memperoleh Hadiah "Rancagé" 2007 ialah Lagu Liwung Urang Bandung kumpulan guguritan Apung S. Wiratmadja (KBU), Rambut Kasih (9 jilid) dan Keroncong ti Kutoarjo karya Aan Merdéka Permana (diterbitkan secara pribadi) dan Oleh-oleh Pertempuran kumpulan cerita pendek Rukmana HS (KBU). Lagu Liwung Urang Bandung (Lagu duka orang Bandung) adalah kumpulan dangding yang dapat dinyanyikan dengan lagu pupuh Tembang Sunda, isinya terutama mengenai kota Bandung, baik pujian maupun gambaran kritis mengenai keadaannya sekarang. Tetapi tak ada yang mendalam, hanya sekedar sentuhan selewat saja.
Cerita-cerita pendek Aan Merdeka Permana dalam Keroncong ti Kutoarjo (Keroncong dari Kutoarjo) merupakan sketsa dan cerita yang bersifat anekdotis yang ringan. Begitu juga cerita Rambut Kasih yang berjilid-jilid itu, merupakan cerita fantasi yang dibangun dengan latar belakang sejarah, namun hanya mementingkan jalan cerita yang tidak selalu ditopang oleh data yang meyakinkan dan kedalaman tukikan kejiwaan. Pengarangnya sendiri bermaksud sekedar menyusun cerita yang akan dapat menarik minat pembaca kepada bacaan bahasa Sunda.
Cerita-cerita pendek Rukmana Hs. Yang dimuat dalam Oleh-oleh Pertempuran menarik, karena dalam bahasa Sunda jarang ada cerita yang berlatar belakangkan revolusi kemerdekaan (1945-1949). Meskipun pada masa revolusi, pengarangnya baru berusia 10-14 tahun, namun karena sedikit banyak terlibat juga dalam perjuangan fisik, di samping banyak bergaul dengan tentara, maka cerita-ceritanya walaupun merupakan hasil imajinasi belaka, terasa meyakinkan. Di dalamnya, Rukmana juga mengetengahkan berbagai peristiwa historis yang selama ini hanya beredar secara lisan dengan latar yang wajar, seperti kiriman kosmetik kepada para pemuda Bandung dari para pemuda Surabaya yang mengejek karena dianggap tidak terjun berjuang, tetapi dibalas oleh para pemuda Bandung dengan mengirimkan kepala Gurkha.
Ada pula yang mengisahkan tentara Jepang yang setelah Kaisarnya bertekuk-lutut kepada Sekutu, tidak mau pulang ke negerinya, tetapi terus berjuang di pihak Indonesia melawan Belanda, merasa menjadi orang Sunda. Tragedi yang dialami oleh anggota TNI yang pada waktu pulang long march berpisah dengan isteri yang disangka tewas karena jembatan yang sedang dilintasinya dihancurkan oleh bom musuh, dilukiskan begitu hidup. Juga tentang pemberontakan Madiun yang melibatkan para prajurit TNI untuk menumpasnya, terdapat dalam cerita Rukmana. Cerita-cerita Rukmana berhasil menghidupkan kembali peristiwa sejarah orang-orang Sunda di Jawa Barat dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan tanahairnya baik pada masa pendudukan Jepang maupun pada masa perang kemerdekaan melawan tentara Belanda yang hendak menjajah kembali. Penggunaan istilah-istilah yang dipakai pada masa itu menyebabkan ceritanya kian hidup. Dengan demikian, Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk karya dalam bahasa Sunda dianggap patut diberikan kepada pengarang
Oleh-oleh Pertempuran Kumpulan cerita pendek Rukmana Hs. (lahir di Sumedang, 24 Oktober 1935) Terbitan Kiblat Buku Utama (KBU)
Kepada pengarangnya akan diserahkan Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk karya dalam bahasa Sunda berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Sedangkan orang yang dianggap berjasa dalam memelihara dan mengembangkan bahasa Sunda ialah
R. Rabindranat Hardjadibrata
(lahir di Bandung 22 Oktober 1933)
Sejak tahun 1964, Rabin menjadi dosen bahasa Indonesia di Departemen Bahasa Indonesia dan Malaya, Universitas Monash, Melbourne, Australia sampai pensiun (1996). Untuk mencapai gelar MA dia menulis tesis di Universitas Monash berjudul Sundanese: a Syntactical Analysis (1984). Ketika dia diminta mengajarkan bahasa Sunda oleh Prof. Dr. C. Skinner, untuk memenuhi kebutuhan pengajaran, dia dianjurkan untuk menyusun kamus Sunda-Inggris. Kamus Sunda-Inggris kedua setelah A Dictionary of Sunda Language yang disusun oleh Jonathan Rigg (1862) itu diberi judul Sundanese English Dictionary terbit tahun 2003, yaitu 141 tahun setelah yang pertama. Kamus susunan Rabin ini memuat jauh lebih banyak entri daripada kamus susunan Rigg. Penyusunan kamus yang memakan waktu
puluhan tahun itu, merupakan sumbangan Rabin sehingga bahasa Sunda terbuka buat mereka yang tidak mengetahui bahasa Sunda, Indonesia atau Belanda. Dengan demikian Rabin berhak menerima Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk jasa berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Hadiah sastera "Rancagé" 2007 untuk bahasa Jawa
Dalam bahasa Jawa selama tahun 2006 diterbitkan 16 judul buku sastera, sepuluh judul lebih banyak dari tahun sebelumnya. Hal itu bertalian dengan atau terdorong oleh diseleggarakannya Kongres Basa Jawa IV dan Kongres Sastera Jawa II di Semarang. Terdiri dari lima kumpulan cerita pendek (cerita cekak), tujuh kumpulan puisi (guritan), satu kumpulan cerita rakyat, satu kumpulan drama, dan dua roman. Tapi dari ke-16
judul itu, sebagian merupakan kumpulan bersama atau cetak ulang, sehingga tidak dinilai untuk memperoleh Hadiah Sastera "Rancagé" 2007.
Yang dinilai hanya tujuh judul, terdiri dari tiga kumpulan cerita pendek, dua
kumpulan sajak dan dua roman. Banjire wis Surut (Banjir sudah surut) karya J.F.X. Hoery (penerbit Narasi, Yogyakarta) memuat cerita-cerita pendek yang di antaranya indah serta menyentuh, ialah "Banjiré wis Surut", "Meja Kursi", "Cacat" dan "Gambaré Ora Dadi, Mas".
Keempatnya sangat kuat menggambarkan nasib orang kecil di tengah kehidupan sehari-hari yang keras, menggambarkan ketakberdayaan manusia menghadapi nasib. Keindahan yang berdasarkan situasi semacam itu biasanya mengharukan dan menimbulkan katarsis.
Kontrol kebahasaan yang kuat dan teliti dalam hampir semua cerita pendeknya menunjukkan kematangan dan penguasaan penulisnya akan bahasa standar Solo-Yogya. Kata-kata ditata dengan baik, tidak ada yang lepas kontrol karena dorongan emosi.
Dalam cerita "Méja Korsi" konflik yang bisa terbuka digambarkan menjadi konflik batin pada kedua tokohnya. Dalam cerita lainnya pun pengarang cenderung menghindarkan konflik terbuka, memilih penyelesaian dengan cara halus dan bijak mengajak kita merenungkan berbagai absurditas kehidupan.
Dalam cerita-cerita yang dimuat dalam Panggung Sandiwara (Penerbit Genta Mediatama, Sragén), Daniel Tito memperlihatkan keistimewaannya dalam teknik bercerita. Cerita-ceritanya pada umumnya bagus. Pengarang pandai membuat alur terasa dinamis. Di samping itu semua tegangan terpelihara dengan baik sehingga menimbulkan kejutan yang indah pada akhir alur. Kelemahannya yang menonjol ialah pada penggunaan tatabahasa dan ejaan bahasa Jawa. Timbul kesan ceroboh karena pengarang kurang memperhatikan pemutusan sukukata, seleksi tanda baca dan penulisan kata serapan. Struktur bahasa Indonesia sering tanpa disadari muncul dengan jelas.
Cerita-cerita pendek dalam Ajur! (Hancur, penerbit Gita Nagari, Yogyakarta) karya Akhir Laksono secara keseluruhan belum mampu meninggalkan kesan yang berarti. Cerita sering berakhir terlalu cepat dan pilihan kata dan penggunaan ejaan yang kurang dikuasai pengarangnya menyebabkan cerita kurang lancar dan alur tersendat.
Namun pengarangnya masih muda dan energik. Kalau terus menulis dengan meningkatkan penguasaan bahasa dan ketelitian ejaan, tidak mustahil ia akan mengembangkan teknik bercerita yang khas seperti nampak dalam cerita "Ahh...!" dan "Ning". Dua kumpulan puisi, yaitu Tanpa Mripat (Tanpa Penglihatan) karya Aming Aminoedhin dan Mampir Ngombé (Mampir minum) karya Indri S. Diarwati, diterbitkan oleh Forum Sastera Bersama, Surabaya. Dalam karyanya Aming banyak menulis tentang dirinya sendiri di tengah kebisingan kotanya, lukisan alam, kritik terhadap sikap hidup masyarakat yang dirasanya tidak berhati nurani, walaupun ada beberapa yang religius. Larik-larik puisinya seperti bercerita dengan pilihan metaforis yang transparan tapi tidak mengurangi keindahan karena penyair pandai menjaga jarak estetika. Indri S. Diarwati lebih kuat dalam menunjukkan gaya pengucapan, walaupun orientasi yang menonjol pada puisinya ialah ingin dekat dengan Sang Pencipta. Tapi gaya ekspresinya yang transparan menyiratkan jarak estetika terabaikan, padahal jarak estetika penting untuk membedakan ekspresi sastera dan bukan sastera. Imaji-imajinya yang kuat diwujudkan dalam puisi-puisinya yang pendek semacam epigram seperti "Tekané Candhil", "Pangrasa", "Dalan Sabrang" dll. Roman Dom Sumurup ing Banyu (Jarum menyusup ke dalam air) karya Suparto Brata (penerbit Narasi, Yogyakarta), sebelumnya pernah dimuat bersambung dalam Jaya Baya (Desember 1971-Maret 1972), dan pernah terbit dalam versi Indonesia berjudul Mata-mata (Pustaka Jaya, 1979).
Cerita yang mengambil latar masa revolusi itu tentang mata-mata yang dimasukkan Belanda ke daerah Republik, padahal dia adalah mata-mata Republik. Seperti dalam cerita Suparto Brata yang lain, roman ini tidak hanya memiliki kekuatan dalam penataan alur, melainkan juga pada kecermatan pelukisan latar dan perwatakan tokohnya. Ronggéng Dukuh Paruk Banyumasan adalah versi bahasa Banyumas yang dikerjakan oleh penulisnya sendiri dari triloginya dalam bahasa Indonesia. Tapi ini bukan terjemahan, melainkan hasil penulisan ulang dalam bahasa ibu pengarangnya.
Substansi cerita tidak berubah, tetapi penulisan kembali dalam bahasa ibu itu merupakan hasil transformasi dan dalam karya transformasi niscaya ada perubahan yang dalam hal ini nampak pada emosi pengarang sebagai penutur asli ragam bahasa Jawa Banyumasan yang meluncur dan mewarnai karya tersebut menjadi bernuansa khas, nuansa lokal. Dengan demikian Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan ini menjadi karya utuh dan menggambarkan satu sisi dari lokalitas daerah Banyumas.
Kehadiran karya Banyumasan ini menunjukkan bahwa bahasa Jawa itu tidaklah tunggal, yaitu bahasa Jawa Yogyakarta-Solo saja, tetapi beraneka karena setiap daerah memiliki kearifan lokal. Upaya menunjukkan kebinekaan bahasa Jawa sudah pernah dilakukan oleh para pengarang Jawa Timur antaranya oleh Suparto Brata dan Trinil.
Setelah dipertimbangkan dengan matang, maka Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk karya dalam bahasa Jawa, ditetapkan Ronggéng Dukuh Paruk Banyumasan Roman karya Ahmad Tohari (l. di Tinggarjaya, Jatilawang, 13 Juni 1948) Terbitan Yayasan Swarahati, Purwokerto
Kepada pengarangnya akan diserahkan Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk karya dalam bahasa Jawa berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta). Sedangkan yang dianggap patut menerima Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk jasa dalam bahasa Jawa ialah
Maria Kadarsih
(lahir di Yoygakarta, 6 April 1952)
Maria adalah penulis naskah drama berbahasa Jawa yang sangat produktif yang sejak 1983 sampai sekarang (23 tahun) menulis naskah drama radio, seluruhnya sudah ada 1196 judul, disiarkan setiap minggu oleh RRI Yogyakarta. Di samping itu ia pun menulis drama-seri seperti Misteri Pecut Agung, Nyai Sisik dll. untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Dia juga menulis dalam bahasa Indonesia. Kecuali aktif sebagai penulis, sutradara dan pemain sandiwara radio berbahasa Jawa di RRI Yogyakarta, Maria juga menangani kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan Jawa, khususnya pembinaan sastera Jawa. Dia berkali-kali
memperoleh penghargaan untuk kegiatannya menulis drama radio, berupa Penghargaan Swara Kencana dari Deppen (1985, 1993, 1997, 1998), penghargaan Seni dari Gubernur DI Yogyakarta (2001), dll. Kepada Mardia Kadarsih akan disampaikan Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk jasa dalam bahasa Jawa berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk bahasa Bali Dalam bahasa Bali selama tahun 2006 terbit 17 judul buku, 13 di antaranya karya Nyoman Manda. Jauh lebih banyak daripada buku yang terbit tahun sebelumnya (hanya 5 judul). Di samping itu mulai Agustus 2006, surat kabar terbesar di Bali, Bali Post, menerbitkan sisipan 4 halaman berbahasa Bali diberi nama "Bali Orti" yang terbit mingguan dan memuat berita, artikel dan karya sastera seperti cerita pendek, puisi dan
cerita bersambung. Penerbitan sisipan ini disambut baik oleh para sasterawan yang menulis dalam bahasa Bali. "Bali Orti" dengan demikian menambah jumlah kalawarta bahasa Bali yang sudah ada yaitu Buratwangi, Canangsari dan Satwa. Bulan Oktober 2006, diselenggarakan Kongres Bahasa Bali yang dalam kesimpulannya meminta pemerintah agar memberikan perhatian nyata terhadap penerbitan karya sastera Bali.
Ada tujuh kumpulan sajak, yang semuanya ditulis oleh Nyoman Manda yang telah dua kali memperoleh Hadiah "Rancagé" (untuk jasa dan untuk karya). Tiga di antaranya patut dicatat, yaitu Kabar Kabar Surat Kabar yang berisi kritik sosial dan isu aktual dalam masyarakat seperti banyak dimuat dalam surat kabar. Yang dua lagi ialah Niti Titi Puttaparthi dan Swara Cakra Kurushetra yang ditulis berdasarkan perjalanan spiritualnya
(tirta yatra) ke India.
Seperti umumnya karya-karya Nyoman Manda baik drama, cerpen maupun puisinya, bahasanya yang lugas dan temanya jelas. Bahasa yang lugas menyebabkan karyanya dengan mudah bisa dinikmati, termasuk oleh generasi muda yang sering dilanda mitos bahwa berbahasa Bali itu sulit.
Dalam hal estetika ekspresi, khusus dalam puisi, Nyoman Manda senang memanfaatkan bentuk repetisi untuk memperkuat arti kata. Kelugasan bahasa juga nampak dalam cerita-cerita pendek I.D.K. Raka Kusuma yaitu I Balar dan Ngambar Bulan (Menggambar Bulan). Perbedaan penggunaan bahasa terasa dalam cerita-cerita pendek I.A.O. Suwati Sideman yang dimuat dalam Ngelidin Lawat (Menghindari Bayangan) dan karya Made Suarsa dalam Gedé Ombak, Gedé Angin (Besar Ombak, Besar Angin) yang menggunakan bahasa tingkat menengah dan tinggi (halus).
Beberapa judul cerita Made Suarsa bahkan menggunakan bahasa Jawa Kuna. Bahasa demikian terasa indah, namun tidak mudah dipahami, khususnya oleh generasi muda. Hal ini sangat terasa pada karya I Made Suarsa yang oleh kritikus Nyoman Tusthi Eddy disebut sebagai karya prosa liris pertama dalam bahasa Bali modern.
Cerita-cerita pendek Raka Kusuma dan Suwati Sideman tampil dengan struktur naratif yang linear dan tema yang tunggal, sehingga cerita terasa kurang kompleks, kurang menantang untuk ditafsirkan. Mungkin sadar menulis untuk anak muda usia dan sadar hendak menyampaikan pesan tertentu, Suwati Sideman sengaja menjelaskan amanatnya pada setiap akhir cerita. Cerita-cerita pendek Made Suarsa selain tampil dengan bahasa yang indah, juga ditandai dengan struktur cerita yang relatif rumit, kompleks dan canggih. Walaupun konflik antar tokoh belum maksimal, struktur naratif yang ditandai dengan alur yang kompleks membuat cerita-ceritanya nikmat dibaca.
Persoalan yang digali juga terasa dalam dan disorot dari berbagai sudut. Dalam "Rasmining Monang Maning" misalnya, Suarsa melukiskan perbedaan persepsi publik tentang kualitas rumah perumnas dan arti hidup dalam kompleks perumahan yang tak pernah ada sebelumnya di Bali. Sikap realistis dalam era modern tercermin dalam cerita "Mangku Sonteng" yang melukiskan konflik antara tokoh yang mendukung dan yang menolak pembangunan sekolah di tempat yang dianggap angker.
Akhir cerita menunjukkan bahwa pembangunan sekolah di tempat yang diangap angker itu tidak berarti menghilangkan nilai kesakralan, sebaliknya pembangunan menawarkan bentuk kesejahteraan dan keharmonisan baru. Cerita-cerita pendek Made Suarsa merupakan bukti kemampuan pengarangnya dalam menggunakan bahasa Bali dan
sekaligus menujukkan potensi bahasa Bali itu sendiri dalam penciptaan prosa liris. Selama ini keindahan bahasa Bali nampak hanya dalam penulisan puisi tradisional (geguritan, kakawin), namun Made Suarsa membuktikan bahwa keindahan demikian dapat juga dicapai dalam
sastera Bali modern. Sehubungan dengan itu, Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk karya dalam bahasa Bali ditetapkan untuk Gedé Ombak Gedé Angin Kumpulan cerita pendek karya I Made Suarsa (lahir di Gianyar, 15 Mei, 1954) Kepada pengarangnya akan diserahkan Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk karya dlaam bahasa Bali berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta). Sedangkan Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk jasa dalam bahasa Bali disampaikan kepada
Ida Bagus Darmasuta
(lahir 10 April 1962)
Darmasuta menunjukkan komitmen yang sungguh-sungguh dan nyata dalam membina dan mengembangkan bahasa dan sastera Bali, khususnya ketika dia menjabat sebagai Kepala Balai Bahasa Denpasar
(1999-2005). Sejak masih mahasiswa di Fakultas Sastera UNUD, Denpasar, dia aktif dalam penulisan puisi dan kegiatan apresiasi dan penyelenggaraan lomba drama dan penulisan drama modern bahasa
Bali. Ketika dia baru diangkat menjadi Kepala Balai Bahasa, dia menyelenggarakan Temu Sastera Bali Modern (Desember 1999) yang dihadiri oleh para penulis sastera Bali modern dari seluruh pulau Bali.
Dalam acara itu diberikan penghargaan kepada para penulis dan kritikus dengan maksud merangsang pertumbuhan sastera Bali modern. Di samping itu diadakan diskusi yang membahas masa depan perkembangan
sastera Bali modern. Acara Temu Sastera itu berhasil mengakrabkan hubungan sesama penulis dan merangsang para penulis untuk aktif mencipta. Sebagai Kepala Balai Bahasa Darmasuta merancang program nyata dengan memberikan dukungan moral dan finansial
untuk penerbitan majalah sastera Bali seperti Buratwangi, Canang Sari dan Satwa. Dia juga menyelenggarakan lomba penulisan dalam bahasa Bali untuk remaja dan pelajar. Karya terpilih diterbitkan dan didiskusikan dalam kegiatan apresiasi sastera. Kumpulan karya terpilih yang sudah terbit adalah Sekar Jepun (hasil lomba 2001), Layu Setonden Kembang (hasil lomba 2002-2003) dan Purnama (lomba cipta puisi anak se-Bali,
2002).
Darmasuta juga membantu penerbitan buku karya sastera, sedikitnya ada 16 judul, berupa kumpulan sajak, roman dan materi Kongres Bahasa Bali V (2005). Tahun 2003 Darmasuta membentuk dan menjadi Ketua Forum Pencinta Sastera se-Bali yang anggotanya terdiri dari peminat sastera baik bahasa Indonesia maupun bahasa Bali. Setelah berhenti dari Balai Bahasa, dia menjadi Wakil Ketua Badan Pembina Bahasa, Aksara dan Sastera Bali yang melakukan pembinaan bahasa dan sastera Bali, antaranya memastikan palaksanaan Konggres Bahasa Bali setiap lima tahun. Kepada Darmasuta akan diserahkan Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk jasa dalam bahasa Bali berupa piagam dan uang (Rp.
5 juta).
Hadiah Samsudi
Karena dalam tahun 2006 bacaan anak-anak yang terbit hanya cetak ulang (Nu Ngageugeuh Legok Kiara karya Dadan Sutisna dan Jatining Sobat karya Samsudi) maka tahun ini hadiah tersebut tidak diberikan.
*
Upacara penyerahan Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 insya Allah akan
dilaksanakan melalui kerjasama Yayasan Kebudayaan "Rancagé" dengan Universitas Islam Bandung (Unisba) bertempat di kampus Unisba di jalan Taman Sari pada Saptu terakhir bulan Mei 2007.
Pabelan, 31 Januari 2007.
Yayasan Kebudayaan "Rancagé"
Ajip Rosidi
Ketua dewan Pembina
Berikut ini kami sampaikan pengumuman Hadiah Sastra Rancage 2007, yang ditandatangani oleh Ajip Rosidi, Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage. Semoga informasi ini bermanfaat bagi masyarakat. Atas perhatian Anda semua, kami haturkan terima kasih.
Hormat kami,
Hawe Setiawan
Pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage
Keputusan
Hadiah Sastera "Rancagé" 2007
Dalam tahun 2006, Yayasan Kebudayaan "Rancagé" kehilangan tiga orang pendirinya. Mula-mula dua orang anggota Dewan Pembina, yaitu Prof. Dr. H. Ayatrohaédi (meninggal 18 Februari) dan Prof. Dr. H. Édi S. Ékadjati (meninggal 1 Juni) dan kemudian Ketua Dewan Pengurus Drs. H.R. Déddi Anggadiredja MBA (meninggal 4 November). Innalillahi wa innailaihi roji'un.
Semoga ketiganya mendapat ampunan Allah SWT, dosa dosanya dihapuskan, amal perbuatannya menjadi amal yang soléh, iman Islamnya diterima dengan iklas, dan arwahnya mendapat tempat yang mulia di hadirat Allahu Robbi. Amin ya Robbal'alamin.
Kepergian tiga orang pendirinya itu merupakan kehilangan besar bagi Yayasan Kebudayaan "Rancagé". Namun demikian usaha pemberian Hadiah Sastera "Rancagé", dengan bantuan berbagai pihak, insya Allah akan dapat dilanjutkan setiap tahun. Hadiah Sastera "Rancagé" tahun 2007 adalah yang ke-19 kalinya untuk sastera Sunda, yang ke-14 kalinya untuk sastera Jawa dan yang ke-10 kalinya untuk sastera Bali.
Untuk setiap bahasa disediakan dua macam hadiah, yaitu untuk karya yang diberikan kepada pengarang buku yang dianggap terbaik yang terbit tahun sebelumnya (2006) dan untuk jasa yaitu bagi orang atau lembaga yang dianggap besar jasanya bagi perkembangan bahasa ibu yang bersangkutan. Kalau ada yang terbit, disediakan pula Hadiah "Samsudi" bagi pengarang buku bacaan kanak-kanak dalam bahasa Sunda. Dalam tahun 2006, penerbitan buku dalam bahasa Sunda, Jawa dan Bali lebih marak daripada tahun-tahun sebelumnya. Dalam bahasa Sunda ada 30 judul (tahun 2005 ada 19 judul), dalam bahasa Jawa ada 16 judul (tahun 2005 ada 6 judul) dan dalam bahasa Bali ada 17 judul (tahun 2005 ada 5 judul). Mudah-mudahan kecenderungan kian banyaknya jumlah buku dalam bahasa ibu yang diterbitkan akan terus melanjut.
Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk bahasa Sunda Ke-30 judul buku bahasa Sunda yang terbit 2006 itu bukan hanya karya sastera, tetapi tidak termasuk buku ajar. Juga tidak semuanya buku baru, banyak yang cetak ulang.
Yang perlu mendapat perhatian khusus adalah penerbitan Kamus Basa Sunda susunan R.A. Danadibrata yang tebalnya 760 halaman format Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus ini disusun selama kl. 40 tahun bukan oleh ahli bahasa, dan semata didorong oleh cintanya kepada bahasa ibunya. Dan setelah naskahnya selesai menunggu lebih dari 30 tahun lagi sebelum terbit. Penyusunnya tak sempat menyaksikan hasil kerjanya terbit.
Buku bahasa Sunda yang terbit tahun 2006 ternyata banyak buku agama, ada yang merupakan terjemahan kitab Barjanzi (Maulid Barzanji Sunda terjemahan H. Sjamsul Arifien terbitan Al-Ma'arif), ada yang merupakan terjemahan Surat Yaa sin yang disertai dengan tilawah dalam bentuk pupuh (Surah Yaa Siin oleh Drs. H.R. Hidayat Suryalaga, KBU), ada yang merupakan terjemahan ayat Al-Qur-an dalam bentuk nadom (Nadoman Nurul Hikmah, oleh H. R. Hidayat Suryalaga, Yayasan Nurul Hidayah), ada kumpulan khutbah Jum'ah (Aweuhan ti Paimbaran, Khutbah Jum'ah & 'Idain, oleh Anwar Azmi dkk, Pustaka Fithri), ada yang berupa surat nasihat kepada anak (Anaking Pupujan Ati oleh H. Ingka Fakkuroqobah, Yayasan Bina Muda, Cicaléngka), dan kumpulan makalah dan bahasan (Ngamumulé Budaya Sunda, Nanjeurkeun Komara Agama, Perhimpunan KB PII Jawa Barat).
Maraknya penerbitan buku agama Islam dalam bahasa Sunda sangat menggembirakan karena khutbah Jum'at di masjid-masjid di Bandung dan daerah Jawa Barat lainnya kian kurang yang menggunakan bahasa Sunda. Padahal bahasa ibu lebih menyentuh kalau digunakan untuk menanamkan keimanan beragama.
Ada juga beberapa buku tentang tradisi masayarakat Sunda yang kian hilang, yaitu Sambel Jaér susunan Asép Ruhimat (PPN) dan Tatarucingan urang Sunda susunan Rachmat Taufiq Hidayat, dkk. (KBU), Nu sarimbag & Unak-anik dina Tembang Sunda susunan Apung S. Wiratmadja (PSTS).
Buku-buku itu niscaya akan bermanfaat bagi mereka yang hendak mengetahui tradisi budaya Sunda yang hampir tidak dikenal lagi. Begitu pula kumpulan tulisan almarhum Prof. Dr. H. Édi S. Ékadjati tentang tokoh-tokoh sejarah Sunda berjudul Nu Maranggung dina Sajarah Sunda (Yayasan Pusat Studi Sunda), sangat penting bagi orang-orang Sunda yang hendak mengenal tokoh-tokoh sejarahnya.
Yang istimewa ialah penerbitan UUD 1945 versi bahasa Sunda. Usaha demikian penting sekali, bukan saja karena akan memberi kesempatan bagi mereka yang kurang menguasai bahasa Indonesia untuk mengenal undang-undang dasarnya dalam bahasa ibu yang lebih dikuasainya, melainkan juga sebagai usaha mempergunakan bahasa Sunda untuk penulisan perihal hukum, artinya penggunaan bahasa Sunda sebagai bahasa ilmu (hukum).
Seharusnya setiap undang-undang dan peraturan pemerintah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa ibu yang terdapat di seluruh Indonesia agar dimengerti dengan cermat oleh seluruh bangsa. Sabagai suku bangsa yang terkenal suka bergurau, terbit pula dua buku kumpulan lelucon (Kéom sakedap susunan Syam Ridwan dan Dulag Nalaktak oleh Usép Romli HM, keduanya terbitan KBU).
Sedangkan buku-buku yang dapat digolongkan sebagai karya sastera yang merupakan cetak ulang ialah Béntang Pasantrén (Usép Romli, KBU), Buron (Aam Amilia, Pustaka Arnaldi), Nu Tareuneung (Ki Umbara, KBU), Silalatu Gunung Salak (6 jilid), Pasukan Siluman Haji Perwatasari (6 jilid) dan Album Carpon, ketiganya karya Aan Merdeka Permana.
Seperti telah diumumkan, karya cetak ulang tidak dinilai untuk memperoleh Hadiah "Rancagé". Begitu juga karya yang merupakan kumpulan bersama. Yang berupa kumpulan bersama itu ialah Néangan Bulan (Mencari Bulan) karya Chyé Rétty Isnéndés dkk, Surat keur Bandung karya Asép Zamzan Noor dkk, dan Mangsi Asih Kalam Tresna (Tinta Kasih Kalam Cinta) oleh Aam Amilia dkk.
Maka yang tahun ini dinilai untuk memperoleh Hadiah "Rancagé" 2007 ialah Lagu Liwung Urang Bandung kumpulan guguritan Apung S. Wiratmadja (KBU), Rambut Kasih (9 jilid) dan Keroncong ti Kutoarjo karya Aan Merdéka Permana (diterbitkan secara pribadi) dan Oleh-oleh Pertempuran kumpulan cerita pendek Rukmana HS (KBU). Lagu Liwung Urang Bandung (Lagu duka orang Bandung) adalah kumpulan dangding yang dapat dinyanyikan dengan lagu pupuh Tembang Sunda, isinya terutama mengenai kota Bandung, baik pujian maupun gambaran kritis mengenai keadaannya sekarang. Tetapi tak ada yang mendalam, hanya sekedar sentuhan selewat saja.
Cerita-cerita pendek Aan Merdeka Permana dalam Keroncong ti Kutoarjo (Keroncong dari Kutoarjo) merupakan sketsa dan cerita yang bersifat anekdotis yang ringan. Begitu juga cerita Rambut Kasih yang berjilid-jilid itu, merupakan cerita fantasi yang dibangun dengan latar belakang sejarah, namun hanya mementingkan jalan cerita yang tidak selalu ditopang oleh data yang meyakinkan dan kedalaman tukikan kejiwaan. Pengarangnya sendiri bermaksud sekedar menyusun cerita yang akan dapat menarik minat pembaca kepada bacaan bahasa Sunda.
Cerita-cerita pendek Rukmana Hs. Yang dimuat dalam Oleh-oleh Pertempuran menarik, karena dalam bahasa Sunda jarang ada cerita yang berlatar belakangkan revolusi kemerdekaan (1945-1949). Meskipun pada masa revolusi, pengarangnya baru berusia 10-14 tahun, namun karena sedikit banyak terlibat juga dalam perjuangan fisik, di samping banyak bergaul dengan tentara, maka cerita-ceritanya walaupun merupakan hasil imajinasi belaka, terasa meyakinkan. Di dalamnya, Rukmana juga mengetengahkan berbagai peristiwa historis yang selama ini hanya beredar secara lisan dengan latar yang wajar, seperti kiriman kosmetik kepada para pemuda Bandung dari para pemuda Surabaya yang mengejek karena dianggap tidak terjun berjuang, tetapi dibalas oleh para pemuda Bandung dengan mengirimkan kepala Gurkha.
Ada pula yang mengisahkan tentara Jepang yang setelah Kaisarnya bertekuk-lutut kepada Sekutu, tidak mau pulang ke negerinya, tetapi terus berjuang di pihak Indonesia melawan Belanda, merasa menjadi orang Sunda. Tragedi yang dialami oleh anggota TNI yang pada waktu pulang long march berpisah dengan isteri yang disangka tewas karena jembatan yang sedang dilintasinya dihancurkan oleh bom musuh, dilukiskan begitu hidup. Juga tentang pemberontakan Madiun yang melibatkan para prajurit TNI untuk menumpasnya, terdapat dalam cerita Rukmana. Cerita-cerita Rukmana berhasil menghidupkan kembali peristiwa sejarah orang-orang Sunda di Jawa Barat dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan tanahairnya baik pada masa pendudukan Jepang maupun pada masa perang kemerdekaan melawan tentara Belanda yang hendak menjajah kembali. Penggunaan istilah-istilah yang dipakai pada masa itu menyebabkan ceritanya kian hidup. Dengan demikian, Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk karya dalam bahasa Sunda dianggap patut diberikan kepada pengarang
Oleh-oleh Pertempuran Kumpulan cerita pendek Rukmana Hs. (lahir di Sumedang, 24 Oktober 1935) Terbitan Kiblat Buku Utama (KBU)
Kepada pengarangnya akan diserahkan Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk karya dalam bahasa Sunda berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Sedangkan orang yang dianggap berjasa dalam memelihara dan mengembangkan bahasa Sunda ialah
R. Rabindranat Hardjadibrata
(lahir di Bandung 22 Oktober 1933)
Sejak tahun 1964, Rabin menjadi dosen bahasa Indonesia di Departemen Bahasa Indonesia dan Malaya, Universitas Monash, Melbourne, Australia sampai pensiun (1996). Untuk mencapai gelar MA dia menulis tesis di Universitas Monash berjudul Sundanese: a Syntactical Analysis (1984). Ketika dia diminta mengajarkan bahasa Sunda oleh Prof. Dr. C. Skinner, untuk memenuhi kebutuhan pengajaran, dia dianjurkan untuk menyusun kamus Sunda-Inggris. Kamus Sunda-Inggris kedua setelah A Dictionary of Sunda Language yang disusun oleh Jonathan Rigg (1862) itu diberi judul Sundanese English Dictionary terbit tahun 2003, yaitu 141 tahun setelah yang pertama. Kamus susunan Rabin ini memuat jauh lebih banyak entri daripada kamus susunan Rigg. Penyusunan kamus yang memakan waktu
puluhan tahun itu, merupakan sumbangan Rabin sehingga bahasa Sunda terbuka buat mereka yang tidak mengetahui bahasa Sunda, Indonesia atau Belanda. Dengan demikian Rabin berhak menerima Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk jasa berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Hadiah sastera "Rancagé" 2007 untuk bahasa Jawa
Dalam bahasa Jawa selama tahun 2006 diterbitkan 16 judul buku sastera, sepuluh judul lebih banyak dari tahun sebelumnya. Hal itu bertalian dengan atau terdorong oleh diseleggarakannya Kongres Basa Jawa IV dan Kongres Sastera Jawa II di Semarang. Terdiri dari lima kumpulan cerita pendek (cerita cekak), tujuh kumpulan puisi (guritan), satu kumpulan cerita rakyat, satu kumpulan drama, dan dua roman. Tapi dari ke-16
judul itu, sebagian merupakan kumpulan bersama atau cetak ulang, sehingga tidak dinilai untuk memperoleh Hadiah Sastera "Rancagé" 2007.
Yang dinilai hanya tujuh judul, terdiri dari tiga kumpulan cerita pendek, dua
kumpulan sajak dan dua roman. Banjire wis Surut (Banjir sudah surut) karya J.F.X. Hoery (penerbit Narasi, Yogyakarta) memuat cerita-cerita pendek yang di antaranya indah serta menyentuh, ialah "Banjiré wis Surut", "Meja Kursi", "Cacat" dan "Gambaré Ora Dadi, Mas".
Keempatnya sangat kuat menggambarkan nasib orang kecil di tengah kehidupan sehari-hari yang keras, menggambarkan ketakberdayaan manusia menghadapi nasib. Keindahan yang berdasarkan situasi semacam itu biasanya mengharukan dan menimbulkan katarsis.
Kontrol kebahasaan yang kuat dan teliti dalam hampir semua cerita pendeknya menunjukkan kematangan dan penguasaan penulisnya akan bahasa standar Solo-Yogya. Kata-kata ditata dengan baik, tidak ada yang lepas kontrol karena dorongan emosi.
Dalam cerita "Méja Korsi" konflik yang bisa terbuka digambarkan menjadi konflik batin pada kedua tokohnya. Dalam cerita lainnya pun pengarang cenderung menghindarkan konflik terbuka, memilih penyelesaian dengan cara halus dan bijak mengajak kita merenungkan berbagai absurditas kehidupan.
Dalam cerita-cerita yang dimuat dalam Panggung Sandiwara (Penerbit Genta Mediatama, Sragén), Daniel Tito memperlihatkan keistimewaannya dalam teknik bercerita. Cerita-ceritanya pada umumnya bagus. Pengarang pandai membuat alur terasa dinamis. Di samping itu semua tegangan terpelihara dengan baik sehingga menimbulkan kejutan yang indah pada akhir alur. Kelemahannya yang menonjol ialah pada penggunaan tatabahasa dan ejaan bahasa Jawa. Timbul kesan ceroboh karena pengarang kurang memperhatikan pemutusan sukukata, seleksi tanda baca dan penulisan kata serapan. Struktur bahasa Indonesia sering tanpa disadari muncul dengan jelas.
Cerita-cerita pendek dalam Ajur! (Hancur, penerbit Gita Nagari, Yogyakarta) karya Akhir Laksono secara keseluruhan belum mampu meninggalkan kesan yang berarti. Cerita sering berakhir terlalu cepat dan pilihan kata dan penggunaan ejaan yang kurang dikuasai pengarangnya menyebabkan cerita kurang lancar dan alur tersendat.
Namun pengarangnya masih muda dan energik. Kalau terus menulis dengan meningkatkan penguasaan bahasa dan ketelitian ejaan, tidak mustahil ia akan mengembangkan teknik bercerita yang khas seperti nampak dalam cerita "Ahh...!" dan "Ning". Dua kumpulan puisi, yaitu Tanpa Mripat (Tanpa Penglihatan) karya Aming Aminoedhin dan Mampir Ngombé (Mampir minum) karya Indri S. Diarwati, diterbitkan oleh Forum Sastera Bersama, Surabaya. Dalam karyanya Aming banyak menulis tentang dirinya sendiri di tengah kebisingan kotanya, lukisan alam, kritik terhadap sikap hidup masyarakat yang dirasanya tidak berhati nurani, walaupun ada beberapa yang religius. Larik-larik puisinya seperti bercerita dengan pilihan metaforis yang transparan tapi tidak mengurangi keindahan karena penyair pandai menjaga jarak estetika. Indri S. Diarwati lebih kuat dalam menunjukkan gaya pengucapan, walaupun orientasi yang menonjol pada puisinya ialah ingin dekat dengan Sang Pencipta. Tapi gaya ekspresinya yang transparan menyiratkan jarak estetika terabaikan, padahal jarak estetika penting untuk membedakan ekspresi sastera dan bukan sastera. Imaji-imajinya yang kuat diwujudkan dalam puisi-puisinya yang pendek semacam epigram seperti "Tekané Candhil", "Pangrasa", "Dalan Sabrang" dll. Roman Dom Sumurup ing Banyu (Jarum menyusup ke dalam air) karya Suparto Brata (penerbit Narasi, Yogyakarta), sebelumnya pernah dimuat bersambung dalam Jaya Baya (Desember 1971-Maret 1972), dan pernah terbit dalam versi Indonesia berjudul Mata-mata (Pustaka Jaya, 1979).
Cerita yang mengambil latar masa revolusi itu tentang mata-mata yang dimasukkan Belanda ke daerah Republik, padahal dia adalah mata-mata Republik. Seperti dalam cerita Suparto Brata yang lain, roman ini tidak hanya memiliki kekuatan dalam penataan alur, melainkan juga pada kecermatan pelukisan latar dan perwatakan tokohnya. Ronggéng Dukuh Paruk Banyumasan adalah versi bahasa Banyumas yang dikerjakan oleh penulisnya sendiri dari triloginya dalam bahasa Indonesia. Tapi ini bukan terjemahan, melainkan hasil penulisan ulang dalam bahasa ibu pengarangnya.
Substansi cerita tidak berubah, tetapi penulisan kembali dalam bahasa ibu itu merupakan hasil transformasi dan dalam karya transformasi niscaya ada perubahan yang dalam hal ini nampak pada emosi pengarang sebagai penutur asli ragam bahasa Jawa Banyumasan yang meluncur dan mewarnai karya tersebut menjadi bernuansa khas, nuansa lokal. Dengan demikian Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan ini menjadi karya utuh dan menggambarkan satu sisi dari lokalitas daerah Banyumas.
Kehadiran karya Banyumasan ini menunjukkan bahwa bahasa Jawa itu tidaklah tunggal, yaitu bahasa Jawa Yogyakarta-Solo saja, tetapi beraneka karena setiap daerah memiliki kearifan lokal. Upaya menunjukkan kebinekaan bahasa Jawa sudah pernah dilakukan oleh para pengarang Jawa Timur antaranya oleh Suparto Brata dan Trinil.
Setelah dipertimbangkan dengan matang, maka Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk karya dalam bahasa Jawa, ditetapkan Ronggéng Dukuh Paruk Banyumasan Roman karya Ahmad Tohari (l. di Tinggarjaya, Jatilawang, 13 Juni 1948) Terbitan Yayasan Swarahati, Purwokerto
Kepada pengarangnya akan diserahkan Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk karya dalam bahasa Jawa berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta). Sedangkan yang dianggap patut menerima Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk jasa dalam bahasa Jawa ialah
Maria Kadarsih
(lahir di Yoygakarta, 6 April 1952)
Maria adalah penulis naskah drama berbahasa Jawa yang sangat produktif yang sejak 1983 sampai sekarang (23 tahun) menulis naskah drama radio, seluruhnya sudah ada 1196 judul, disiarkan setiap minggu oleh RRI Yogyakarta. Di samping itu ia pun menulis drama-seri seperti Misteri Pecut Agung, Nyai Sisik dll. untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Dia juga menulis dalam bahasa Indonesia. Kecuali aktif sebagai penulis, sutradara dan pemain sandiwara radio berbahasa Jawa di RRI Yogyakarta, Maria juga menangani kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan Jawa, khususnya pembinaan sastera Jawa. Dia berkali-kali
memperoleh penghargaan untuk kegiatannya menulis drama radio, berupa Penghargaan Swara Kencana dari Deppen (1985, 1993, 1997, 1998), penghargaan Seni dari Gubernur DI Yogyakarta (2001), dll. Kepada Mardia Kadarsih akan disampaikan Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk jasa dalam bahasa Jawa berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk bahasa Bali Dalam bahasa Bali selama tahun 2006 terbit 17 judul buku, 13 di antaranya karya Nyoman Manda. Jauh lebih banyak daripada buku yang terbit tahun sebelumnya (hanya 5 judul). Di samping itu mulai Agustus 2006, surat kabar terbesar di Bali, Bali Post, menerbitkan sisipan 4 halaman berbahasa Bali diberi nama "Bali Orti" yang terbit mingguan dan memuat berita, artikel dan karya sastera seperti cerita pendek, puisi dan
cerita bersambung. Penerbitan sisipan ini disambut baik oleh para sasterawan yang menulis dalam bahasa Bali. "Bali Orti" dengan demikian menambah jumlah kalawarta bahasa Bali yang sudah ada yaitu Buratwangi, Canangsari dan Satwa. Bulan Oktober 2006, diselenggarakan Kongres Bahasa Bali yang dalam kesimpulannya meminta pemerintah agar memberikan perhatian nyata terhadap penerbitan karya sastera Bali.
Ada tujuh kumpulan sajak, yang semuanya ditulis oleh Nyoman Manda yang telah dua kali memperoleh Hadiah "Rancagé" (untuk jasa dan untuk karya). Tiga di antaranya patut dicatat, yaitu Kabar Kabar Surat Kabar yang berisi kritik sosial dan isu aktual dalam masyarakat seperti banyak dimuat dalam surat kabar. Yang dua lagi ialah Niti Titi Puttaparthi dan Swara Cakra Kurushetra yang ditulis berdasarkan perjalanan spiritualnya
(tirta yatra) ke India.
Seperti umumnya karya-karya Nyoman Manda baik drama, cerpen maupun puisinya, bahasanya yang lugas dan temanya jelas. Bahasa yang lugas menyebabkan karyanya dengan mudah bisa dinikmati, termasuk oleh generasi muda yang sering dilanda mitos bahwa berbahasa Bali itu sulit.
Dalam hal estetika ekspresi, khusus dalam puisi, Nyoman Manda senang memanfaatkan bentuk repetisi untuk memperkuat arti kata. Kelugasan bahasa juga nampak dalam cerita-cerita pendek I.D.K. Raka Kusuma yaitu I Balar dan Ngambar Bulan (Menggambar Bulan). Perbedaan penggunaan bahasa terasa dalam cerita-cerita pendek I.A.O. Suwati Sideman yang dimuat dalam Ngelidin Lawat (Menghindari Bayangan) dan karya Made Suarsa dalam Gedé Ombak, Gedé Angin (Besar Ombak, Besar Angin) yang menggunakan bahasa tingkat menengah dan tinggi (halus).
Beberapa judul cerita Made Suarsa bahkan menggunakan bahasa Jawa Kuna. Bahasa demikian terasa indah, namun tidak mudah dipahami, khususnya oleh generasi muda. Hal ini sangat terasa pada karya I Made Suarsa yang oleh kritikus Nyoman Tusthi Eddy disebut sebagai karya prosa liris pertama dalam bahasa Bali modern.
Cerita-cerita pendek Raka Kusuma dan Suwati Sideman tampil dengan struktur naratif yang linear dan tema yang tunggal, sehingga cerita terasa kurang kompleks, kurang menantang untuk ditafsirkan. Mungkin sadar menulis untuk anak muda usia dan sadar hendak menyampaikan pesan tertentu, Suwati Sideman sengaja menjelaskan amanatnya pada setiap akhir cerita. Cerita-cerita pendek Made Suarsa selain tampil dengan bahasa yang indah, juga ditandai dengan struktur cerita yang relatif rumit, kompleks dan canggih. Walaupun konflik antar tokoh belum maksimal, struktur naratif yang ditandai dengan alur yang kompleks membuat cerita-ceritanya nikmat dibaca.
Persoalan yang digali juga terasa dalam dan disorot dari berbagai sudut. Dalam "Rasmining Monang Maning" misalnya, Suarsa melukiskan perbedaan persepsi publik tentang kualitas rumah perumnas dan arti hidup dalam kompleks perumahan yang tak pernah ada sebelumnya di Bali. Sikap realistis dalam era modern tercermin dalam cerita "Mangku Sonteng" yang melukiskan konflik antara tokoh yang mendukung dan yang menolak pembangunan sekolah di tempat yang dianggap angker.
Akhir cerita menunjukkan bahwa pembangunan sekolah di tempat yang diangap angker itu tidak berarti menghilangkan nilai kesakralan, sebaliknya pembangunan menawarkan bentuk kesejahteraan dan keharmonisan baru. Cerita-cerita pendek Made Suarsa merupakan bukti kemampuan pengarangnya dalam menggunakan bahasa Bali dan
sekaligus menujukkan potensi bahasa Bali itu sendiri dalam penciptaan prosa liris. Selama ini keindahan bahasa Bali nampak hanya dalam penulisan puisi tradisional (geguritan, kakawin), namun Made Suarsa membuktikan bahwa keindahan demikian dapat juga dicapai dalam
sastera Bali modern. Sehubungan dengan itu, Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk karya dalam bahasa Bali ditetapkan untuk Gedé Ombak Gedé Angin Kumpulan cerita pendek karya I Made Suarsa (lahir di Gianyar, 15 Mei, 1954) Kepada pengarangnya akan diserahkan Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk karya dlaam bahasa Bali berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta). Sedangkan Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk jasa dalam bahasa Bali disampaikan kepada
Ida Bagus Darmasuta
(lahir 10 April 1962)
Darmasuta menunjukkan komitmen yang sungguh-sungguh dan nyata dalam membina dan mengembangkan bahasa dan sastera Bali, khususnya ketika dia menjabat sebagai Kepala Balai Bahasa Denpasar
(1999-2005). Sejak masih mahasiswa di Fakultas Sastera UNUD, Denpasar, dia aktif dalam penulisan puisi dan kegiatan apresiasi dan penyelenggaraan lomba drama dan penulisan drama modern bahasa
Bali. Ketika dia baru diangkat menjadi Kepala Balai Bahasa, dia menyelenggarakan Temu Sastera Bali Modern (Desember 1999) yang dihadiri oleh para penulis sastera Bali modern dari seluruh pulau Bali.
Dalam acara itu diberikan penghargaan kepada para penulis dan kritikus dengan maksud merangsang pertumbuhan sastera Bali modern. Di samping itu diadakan diskusi yang membahas masa depan perkembangan
sastera Bali modern. Acara Temu Sastera itu berhasil mengakrabkan hubungan sesama penulis dan merangsang para penulis untuk aktif mencipta. Sebagai Kepala Balai Bahasa Darmasuta merancang program nyata dengan memberikan dukungan moral dan finansial
untuk penerbitan majalah sastera Bali seperti Buratwangi, Canang Sari dan Satwa. Dia juga menyelenggarakan lomba penulisan dalam bahasa Bali untuk remaja dan pelajar. Karya terpilih diterbitkan dan didiskusikan dalam kegiatan apresiasi sastera. Kumpulan karya terpilih yang sudah terbit adalah Sekar Jepun (hasil lomba 2001), Layu Setonden Kembang (hasil lomba 2002-2003) dan Purnama (lomba cipta puisi anak se-Bali,
2002).
Darmasuta juga membantu penerbitan buku karya sastera, sedikitnya ada 16 judul, berupa kumpulan sajak, roman dan materi Kongres Bahasa Bali V (2005). Tahun 2003 Darmasuta membentuk dan menjadi Ketua Forum Pencinta Sastera se-Bali yang anggotanya terdiri dari peminat sastera baik bahasa Indonesia maupun bahasa Bali. Setelah berhenti dari Balai Bahasa, dia menjadi Wakil Ketua Badan Pembina Bahasa, Aksara dan Sastera Bali yang melakukan pembinaan bahasa dan sastera Bali, antaranya memastikan palaksanaan Konggres Bahasa Bali setiap lima tahun. Kepada Darmasuta akan diserahkan Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 untuk jasa dalam bahasa Bali berupa piagam dan uang (Rp.
5 juta).
Hadiah Samsudi
Karena dalam tahun 2006 bacaan anak-anak yang terbit hanya cetak ulang (Nu Ngageugeuh Legok Kiara karya Dadan Sutisna dan Jatining Sobat karya Samsudi) maka tahun ini hadiah tersebut tidak diberikan.
*
Upacara penyerahan Hadiah Sastera "Rancagé" 2007 insya Allah akan
dilaksanakan melalui kerjasama Yayasan Kebudayaan "Rancagé" dengan Universitas Islam Bandung (Unisba) bertempat di kampus Unisba di jalan Taman Sari pada Saptu terakhir bulan Mei 2007.
Pabelan, 31 Januari 2007.
Yayasan Kebudayaan "Rancagé"
Ajip Rosidi
Ketua dewan Pembina
Tags:
Catatan
Emprit Abuntut Bedhug :
SEBUAH ROMAN
DETEKTIF KARYA SUPARTO BRATA
Retno Asih Wulandari
Dimuat di
Masyarakat, Kebudayaan, dan Politik (majalah Unair)
Nomor 02, Vol. VII, Maret 1993
Dalam khasanah Kesusastraan Jawa banyak diciptakan karya sastra, baik dalam bentuk puisi maupun prosa. Sampai saat ini masih banyak ditemukan pengarang-pengarang Sastra Jawa yang tetap produktif menghasilkan karyanya. Salah satu pengarang Sastra Jawa yang cukup dikenal dan produktif, baik dalam dunia Sastra Indonesia maupun dunia Sastra Jawa adalah Suparto Brata.
Tema-tema novelnya dapat digolongkan ke dalam tiga golongan. Golongan pertama adalah novel-novel yang bertendens cinta, seperti Katresnan Kang Angker, Asmarani, Sanja Sangu Trebela, dan lain-lain. Golongan kedua adalah novel-novel yang bertemakan perjuangan, seperti Lara Lapane Kaum Republik, Kadurakan Ing Kidul Dringu, Kaduk Wani, dan lain-lain. Golongan ketiga adalah novel-novel yang bertemakan perjuangan atas kebenaran dan keadilan, dan tema ini dijalin oleh pengarang dalam bentuk cerita detektif, seperti Tanpa Tlacak, Tretes Tintrim, Emprit Abuntut Bedhug, dan lain-lain (Hutomo, 1975:63-4).
Suparto Brata merupakan pengarang yang paling banyak menghasilkan karya sastra yang bertema cerita detektif. Dapat dikatakan demikian, karena di dalam buku Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir, yang disunting oleh J.J.Ras, hanya ditemukan dua pengarang yang menghasilkan cerita detektif, yaitu Suparto Brata dan Any Asmara. Suparto Brata menghasilkan enam buah karya sastra (Ras, 1985:25), dan Any Asmara hanya menghasilkan dua buah karya sastra saja (Ras. 1985:23).
Selain dari pada itu, kelebihan pengarang Suparto Brata tampak dari caranya mengolah bahasa, dialog-dialog dan gaya penuturannya yang hidup, imajinasi dan kemampuannya membangun plot yang bagus membuatnya menjadi penulis novel Jawa terbaik pada zamannya. (Ras, 1985:25).
Tulisan ini membahas novel detektif Suparto Brata berjudul Emprit Abuntut Bedhug. Gaya cerita novel ini runtut, dan penuh ketegangan. Pembaca dibawa untuk mengetahui kejadian-kejadian yang akan terjadi selanjutnya.
Konvensi Roman Detektif.
Teeuw dalam bukunya Sastra Dan Ilmu Sastra menjelaskan kriteria roman detektif. Sebenarnya pendapat Teeuw ini lebih tepat disebut konvensi roman detektif, yang harus diketahui pembaca sebelum membaca roman detektif. Konvensi adalah cara penyajian yang menjadi alat pengungkapan yang mapan, yang akhirnya menjadi tehnik yang diterima umum (Sudjiman, 1984:43). Harapan pembaca akan sebuah cerita detektif yang sedang dihadapinya dapat dikatakan terpenuhi apabila: ada mayat atau orang yang terbunuh; ada keraguan yang disengaja tentang watak tokoh, penjahat atau manusia yang tak bersalah, tentang urutan dan ditel-ditel waktu, peristiwa dan hal-hal lain (pentingnya alibi); ada detektif yang lebih pintar dari semua pelaku: ada ketegangan yang terus menerus, dan puncaknya terpecahkannya teka-teki atau misteri yang ditunggu-tunggu pembaca (Teeuw, 1984:101-2).
Di sini tidak dibedakan pengertian novel dan roman, karena menurut Panuti Sudjiman, roman adalah istilah lain daripada novel, yang kedua-duanya mempunyai pengertian prosa rekaan yang panjang, yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun (Sudjiman, 1984:53).
Untuk membahas novel ini digunakan metode intrinsik. Pembahasan secara intrinsik adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan menerapkan teori dan kaidah sastra: penelaahan bertolak dari karya sastra itu sendiri (Sudjiman, 1984:6). Yang menjadi central atau pusat pembahasan hanya novel Emprit Abuntut Bedhug saja.
Emprit Abuntut Bedhug: Sebuah Roman Detektif.
Di muka telah diterangkan mengenai lima point konvensi roman detektif. Di bawah ini dibahas kelima point tersebut dalam novel Emprit Abuntut Bedhug.
1. Keberadaan mayat atau orang yang terbunuh.
Dalam novel ini tidak ditemukan adanya mayat atau pun orang yang terbunuh. Akan tetapi harapan pembaca agak terpenuhi dengan ditemukannya telapak tangan bercincin berlian, yang berlumuran darah. Ditemukannya telapak tangan yang sangat misterius itu merupakan awal teka-teki, yang membuat pembaca bertanya-tanya apa yang telah terjadi? Dan hal itu membuat pembaca ingin mengetahui kelanjutan cerita.
Telapak tangan yang ditemukan Jarot terbungkus rapi di dalam sebuah kantong plastik yang terjatuh dari sepeda seorang gadis berbaju kuning yang bersrempetan dengan Jarot. Akan tetapi gadis itu tidak mengaku ketika Jarot menyodorkan kantong plastik tersebut. Hal ini terungkap pada halaman 7-8:
“Dik, eh, dik! Kanthonge!” aloke Djarot. Swarane ketara jen ora sida muring.
Ing Surabaja lumrah wong nom-noman tepung sepisanan ora basan. Alok mengkono iku Djarot karo merlokake ndjupuk kanthong kang gumlethak mau lan diatjungake marang sing duwe.
Krungu aloke Djarot, wong wadon iku mung mbuwang rembug atos:
“Kuwi dudu duwekku!”
Secara logika memang terdapat kejanggalan, karena jelas-jelas kantong plastik itu berada di stang sepeda si gadis, akan tetapi ia tak mengakuinya. Akan tetapi hal ini malah membuat pembaca tergelitik ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Suparto Brata memang sebenarnya tidak murni memenuhi konvensi roman detektif yang baik, akan tetapi beliau cukup lihai dengan membuka sebuah misteri dengan ditemukannya telapak tangan berlumur darah. Dari judulnya pun pembaca dibuat bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan judul Emprit Abuntut Bedhug, dan apa kaitannya judul tersebut dengan isi cerita. Ternyata hal ini terjawab di halaman 26:
“Sara, Pip! Gak ngira aku. Permulaane tjuma srempetan le, ndadakna, berlarut-larut ngene! Mbok!” Djarot gedeg-gedeg karo mlaku metu menyang pekarangan omah.
“Jaiku beke sing djare wong tuwa-tuwa paribasane emprit abuntut bedug. Prekara sing disike sepele, gak ngretiya mburi-mburine dadi prekara kadurdjanan kang ruwet! Slameta ae, awakmu, Rot!” udjare Apip karo nguntabake tamu-tamune.
Jadi usaha Suparto Brata dalam membuat persoalan atau permasalahan tadi cukup baik. Walaupun di dalam novel ini hingga akhir cerita tak ditemukan mayat atau orang yang terbunuh. Secara tidak langsung Suparto Brata dalam novel ini dapat dikatakan membuat suatu terobosan atau inovasi, yang agak menyimpang dari konvensi roman detektif yang ada. Akan tetapi walaupun demikian, usaha Suparto Brata ini tak mengurangi kenikmatan membaca dari si pembaca, malah merupakan suatu misteri yang mengasyikkan, sehingga membuat pembaca ingin mengetahui kelanjutan ceritanya.
2. Adanya keraguan yang disengaja.
Di dalam novel ini banyak dijumpai keraguan-keraguan yang tampaknya memang disengaja oleh si pengarang. Mungkin dengan tujuan untuk mengecoh pembaca dan mengakibatkan pembaca penasaran akan kesudahan cerita. Hal ini tampak pada kedua tokoh Erawati dan Nusyirwan. Mereka berdua dilukiskan sangat meyakinkan sekali. Erawati tetap bersikeras bahwa ia tak mengenal Nusyirwan. Sebaliknya Nusyirwan merasa benar-benar pernah bertemu bahkan mengenal dengan baik Erawati. Konflik demikian ini mengundang keingintahuan pembaca. Sebenarnya siapa yang benar, di antara kedua tokoh tersebut. Siapakah di antara kedua tokoh itu yang berpura-pura, dan mempunyai niat yang buruk. Pembaca dibuat ragu, apa yang sebenernya terjadi. Erawati yang berpura-pura tak mengenal Nusyirwan, atau sebaliknya Nusyirwan yang berpura-pura mengenal Erawati. Hal inilah yang membuat pembaca tetap betah untuk melanjutkan bacaannya, untuk mengetahui apa sebenarnya yang ingin diceritakan oleh si pengarang.
“Aku ora rumangsa tepung kowe!” modjare Erawati kaja Srikandi nantang Bisma. “Saestu Mas Handaka. Kula mboten tepang kalijan pijambakipun!”
“Kowe ki piye, ta, Er?! Kok mentala muni mengkono?” panyarune wong bagus iku.
“Kowe kuwi sing kurang adjar, wong betjik-betjik arep kok sembranani! Mbok njawang predjengan sithik apaa, Rek!” Suwarane bantas, sikepe tjanthas!
“Anu, Mas. Leres kok, kula tepang lare punika. Jen mboten pitados kula aturi tindak grija kula. Ibu saha rentjang kula saged kangge seksi jen Dik Erawati punika njipeng ngantos kalih minggu wonten grija kula,” udjare wong bagus iku rada anjel marang sikepe Erawati (hal. 38-39).
Suparto Brata cukup cermat membuat keragu-raguan pembaca pada kedua tokoh ini. Seolah-oleh di satu pihak Erawati yang benar, namun Nusyirwan pun cukup meyakinkan dengan melibatkan Ibunya dan pembantunya sebagai saksi.
Demikian pula dengan peristiwa-peristiwa yang dilukiskan dalam novel ini banyak membuat pembaca ragu. Peristiwa-peristiwa yang diceritakan Nusyirwan, tentang pertemuannya dengan Erawati, dapat meragukan pembaca. Apakah itu merupakan cerita yang benar-benar telah dialami kedua tokoh tersebut, atau hanya dikarang-karang oleh Nusyirwan. Keraguan-raguan akan tokoh Nusyirwan agak berkurang dengan munculnya kutipan di bawah ini:
“Erawati! Sadjrone rong minggu tanggal enem nganti tanggal rongpuluh, bareng karo anane Erawati ing omah kene, kowe ana ngendi? Djadjal wangsulana!”
Mripate Erawati megar meleke, saja suwe saja amba menthelengi Handaka. Handaka ngrogoh sak klambine, bandjur ngetokake amplop isi lajang kertas djambon, diatjungake ing ngarepe Erawati.
“Mangsuli panjuwunku palilah mamitake kowe, direktris SGKP ndongakake muga-muga kowe ora kesuwen ninggal pamulangan maneh. Ing kene diterangake jen wis rong minggu murid-muridmu kapiran ora kok wulang. Bapak ing lurung Raden Saleh uga nerangake marang pulisi kang numpak sepedhah montor iki mau, jen kowe lunga rong minggu tanpa nerangake paranmu. Digoleki dajohmu pirang-pirang, ora ana? Tjoba wangsulana pitakonku, kowe menjang endi sadjrone rong minggu kuwi?!” (hal.55).
Keadaan ini cukup memberatkan Erawati, kemungkinan ia yang bersalah, besar sekali. Akan tetapi ternyata Erawati pun tidak dapat pula dicurigai, alibinya cukup kuat, ia berada di Semarang pada saat itu.
“Aku lunga menjang Semarang! Semaraaang!! Kandakna kantjamu jen arep kanda! Kandakna marang sekongkelanmu!! Aku lunga menjang Semaraaang!!” udjare Erawati djerit-djerit.
“Semarang, kampunge?! Kampunge ngendi? Alamat sing bener! Gage!”
“Sompok! Lurung Sompok! Tjulna akkuuu! Athooo, iki lara! Maattiikk aku! Atthooo!!”
“Nomer?! Alamat sing bener!”
“O, kok ja kebangeten timen, ta, ki! Athooo!! Embuh! Embuh aku ora ngreti. Aku lali!! Huh, huh, anu, ana Bratatenajan! Bratatenajan Sompok!!”
Panggudjere Handaka kawusanan. Erawati lemes, mlaku trantanan golek lungguhan. (hal. 57).
Suparto Brata cukup lihai dalam menimbulkan keraguan pada pembaca akan kedua tokoh ini. Suatu saat sepertinya Erawati yang jahat, dan Nusyirwan yang baik, atau sebaliknya.
3. Adanya detektif yang lebih pintar dari semua pelaku.
Dalam novel ini, detektif Handaka yang diserahi tugas oleh Inspektur Indra, untuk mengungkap masalah potongan tangan yang misterius itu jelas-jelas dilukiskan sebagai seorang detektif yang amat cerdik. Detektif Handaka dalam usahanya mengungkap misteri potongan tangan tersebut cukup runtut dalam melakukan penyelidikan-penyelidikan. Pertama-tama ia berusaha mendapatkan saksi yang melihat Jarot bersrempetan dengan si gadis berbaju kuning yang tak lain adalah Erawati. Karena dari saksi itulah penyelidikan bermula dan perlahan-lahan dapat mengungkap misteri itu. Kecerdikan detektif Handaka dapat terlihat pada halaman 32:
“Ora, dik. Aku kudu weruh reaksi sing wadjar. Nganggo ali-ali mau aku isih durung tjetha, djeng Era iki mung ethok-ethok ora ngreti, apa temenan ora ngreti bab kanthong saisine iku. Reaksi iku perlu kanggo panjelidikan,” udjare Handaka adreng. Lan gage mbungkus tangan tugel iku kanthi primpen terus dilebokake ing kanthong temon. (hal. 32)
Karena kecerdikan detektif Handaka, akhirnya dapat diketahui bahwa Erawati memang tidak mengetahui isi kantong yang berada di stang sepedanya. Masih ada lagi disebutkan kecerdikan-kecerdikan detektif Handaka dalam usahanya menyingkap tabir misteri potongan tangan itu. Dapat dicontohkan di sini seperti yang terdapat pada halaman 88 dan 91:
“Wiwit dik Nunus kanda jen Erawati sing nginep kene ngaku djeneng Erawati iku adedasar kebeneran, jaiku marga ngrembug bab SGKP. Mula dek djeng Era dak peksa ngaku deweke ana ngendi sadjrone rong minggu lan ngaku jen ngungsi menjang Semarang, enggal-enggal sopir pick-up dak kon ngurus ngubungi telex karo pulisi Semarang. Kelingan ora aku metu nalika kono lagi dong dansah? Ha iku aku aweh instruksi. Pulisi Semarang mbenerake keterangane djeng Era jen deweke sadjrone rong minggu ana Bratatenajan Sompok. Dadi nalika ing omah kene ana Erawati ing Sompok Semarang kana uga ana Erawati. Ana Erawati loro. Keterangane dik Nunus jen Erawati sing bijen dansahe ora pati wasis, dene sing saiki mate tjotjog, nandakake Erawati sing iki dudu sing bijen!” (hal. 88).
“Tjoba bajangna jen kowe Sutahal. Deweke kelangan djimating atine ana Mardi Busana, bandjur ketemu maneh sawise rong minggu ilang, ja ana kono. Terus kelakon mbuwang tugelan tangan sesukering atine uga ana toko rame iku. Apa mokal jen deweke tansah ngarep-arep bakal nemoni lelakon aneh maneh ing kono iku? Saora-orane krungu kabare bab tangan kang dibuwang iku? Mula aku ngira, deweke mesthi tansah glibat-glibet ana toko kono. Pangira iki kang dak dadekake tjobaning ichtijarku nangkep durdjana. (hal. 91).
Kecerdikan detektif Handaka ini pun telah diakui oleh Inspektur Indra.
“Bagus! Hèh, mas, niki ditepungke. Prekara sampejan kula pasrahke teng pembantu kula niki. Namine detektif Handaka. Sampejan saged ugi pun nate denger. Jen dereng denger kula elingake, ampun njobi slinthutan kalih tijang kuru niki, sanadjan awak sampejan sentosa. Deweke njambut damel mboten kalih niki (nuding spir lengen), nanging mawi niki (nuding bathuk). Pun kathah benggol djulig sing kawedar kadjuligane margi karjane detektif Handaka niki!” udjare Inspektur Indra marang Djarot. (hal 21).
Malahan Inspektur Indra, sebagai seorang polisi, digambarkan begitu dungunya, dibandingkan dengan detektif Handaka, hal ini tampak pada halaman 18 dan 20.
“Hèh! Apa iki?! Hèh, sampejan nemu teng pundi barang niku? Rak tangan jektos, ta, niku?! Eh, dik Handaka. Seksenana iki! Ewangana ngurus iki disik!” Inspektur Indra iku bengok-bengok kaya lagi duka lan gupuh. Ora sumbut karo umuke mau. Lan swarane pantjen bantas.
“Bingung aku. Bingung! Prekara sing sidji durung rampung, sidjine wis nusul!” Inspektur Indra gedeg-gedeg sadjak arep ngilangi sumpeging pikir. “”Hèh, dik! Dik Handaka ora kesusu kondur menjang Sala, ta? Dak sambati ngurus prekara iki, pije?”
4. Adanya ketegangan yang terus menerus.
Menurut Teeuw ketegangan itu merupakan hal yang penting dalam sebuah roman detektif. (Teeuw, 1984:102). Rasa tegang itu selalu diharapkan oleh pembaca roman detektif. Pembaca selalu dibuat ragu-ragu oleh sesuatu hal, apakah hal itu penting ataukah tidak dalam perkembangan alurnya. Panuti Sudjiman merumuskan istilah tegangan sebagai ketidak-pastian yang berkelanjutan atas suasana yang makin mendebarkan yang diakibatkan jalinan alur dalam cerita rekaan atau lakon. Tegangan ini menopang keingintahuan pembaca akan kelanjutan cerita (Sudjiman, 1984:74).
Tegangan merupakan salah satu bagian yang penting dalam sebuah alur (Saad, 1967:122). Selain dari pada itu menurutnya, alur yang tidak mempunyai tegangan atau alur yang kurang tegangannya, ataupun alur yang tidak terjaga ketegangannya, akan hambar sekali.
Alur sebagai salah satu unsur karya sastra yang cukup penting, mengungkap kejadian-kejadian pada kita, tidak hanya dalam susunan waktu, akan tetapi juga dalam hubungan sebab akibat. Alur membuat kita menyadari akan kejadian-kejadian yang tidak hanya sebagai unsur dalam urutan waktu, akan tetapi juga cara penulis menyusun kejadian-kejadian menurut hubungan sebab akibat. (Kenney, 1966: 13-14)
Menurut Tasrif, rangkaian pada alur suatu cerita menampilkan susunan pola yang terdiri dari lima bagian (Tasrif, 1960:17) yaitu:
a. Situation: pengarang mulai melukiskan suatu keadaan.
b. Generating circumstaces: peristiwa yang bersangkut paut mulai bergerak.
c. Rising action: keadaan mulai memuncak.
d. Climax: peristiwa-peristiwa mencapai klimaks.
e. Denouement: pengarang memberikan pemecahan soal dari semua peristiwa.
Akan digunakan kelima bagian pola alur di atas untuk melihat, apakah ketegangan yang terdapat dalam novel ini terjalin terus-menerus dalam alurnya.
4.1. Situation.
Di awal cerita terutama pada Bab 1, ditampilkan tokoh Jarot, yang menemukan potongan tangan berlumur darah. Penemuan Jarot ini sudah merupakan awal dari sebuah misteri, yang membuat pembaca merasa tegang. Suparto Brata telah membuka cerita dengan cukup mengundang pertanyaan di benak pembaca, dengan menampilkan suatu keadaan yang cukup menegangkan. Apalagi suasana yang digambarkan oleh pengarang cukup membuat bulu kuduk berdiri:
Barang ing kanthong digrajang, ditjekel tjek-gemek, terus ditarik metu. Rasane sadjak buntelan katju teles. Tekan ndjaba, barang wudar saka buntelan. Sanalika kemata. Pada sanalika kono Djarot ndjerit. Barang dikipatake ing nduwur medja. Djarot girap-girap, gigu, kirig-kirig.
Barang kang dietokake saka ndjero kanthong peni iku wudjut tangan. Tangan epek-epek tugel saugel-ugel, gubras getih kenthel! Tangan daging, daginge manungsa!
Ambune menjan kang durung ilang. Bengi iku malem Djumuah. (hal. 13).
4.2. Generating circumstances.
Peristiwa-peristiwa yang selanjutnya diceritakan oleh pengarang juga cukup menegangkan. Penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan detektif Handaka mulai mengalami kemajuan. Apalagi dengan mulai dimunculkannya tokoh Erawati dan Nusyirwan, terutama Nusyirwan yang tingkah lakunya sangat mencurigakan:
“Wiwit kala wingi, kok, rumaos kula menawi mlebet toko punika dipun ndugali dening tijang punika. Kala wau edan sanget, pijambakipun ngrantos wonten tjelak penitipan sepedah! Kula gigu sanget. Mila ladjeng ndjranthal kemawon, mboten mikiraken kedadosan saladjengipun. Waton enggal ontjat saking tijang ugal-ugalan punika, ngaten kemawon.”
“Kok eram emen. Sampejan dinapakake?” pitakone Handaka.
“”Nggih diruh-ruhi, didjawil-djawil padake tijang pelanjahan mawon!” udjare Erawati gigu sumengit.
“Ning sanes dik Djarot punika?”
“Oh, sanes. Larenipun gumagus kok. Mlinthi, pethitha pethithi!”
“Bagus? Rasukanipun abrit lorek-lorek?” pitakone Djarot ketrutjut.
“Inggih. Leres. Inggih, kemutan kula. Sonten wau pijambakipun mawi rasukan abrit lorek-lorek. Ndugal, ta, sampun!”
“Oh, wong sing ngetutake aku mau, mesthi!” potjapane Djarot kewetu. (hal. 30).
4.3. Rising action.
Peristiwa terus berlanjut dan memuncak pada saat Erawati dan Nusyirwan bersitegang, seakan-akan keduanya merasa benar, dan merasa dibohongi satu sama lainnya. Di satu saat Erawati seakan-akan yang benar dan Nusyirwan yang salah, akan tetapi di saat yang lain sebaliknya. Sehingga keadaan menjadi tegang, karena keterangan-keterangan yang diberikan kedua tokoh ini kepada detektif Handaka, tampaknya sama-sama meyakinkan. Hal ini terdapat pada Bab II dan Bab III.
4.4. Climax.
Klimaks dari jalinan cerita dalam novel ini terlihat pada Bab V, halaman 72. Pada saat itu muncul tokoh Sutahal. Kemunculan tokoh Sutahal itu makin membuat permasalahan semakin kompleks. Pembaca dibuat ingin tahu lebih lanjut, apa sebenarnya yang telah terjadi.
4.5. Denouement.
Akhirnya keingintahuan pembaca dapat terjawab pada Bab VI, di mana semuanya dijabarkan lewat tokoh Siti Respati dan detektif Handaka, tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Menurut penulis Bab VI ini dapat dinamakan sebagai kunci yang dapat membuka tabir misteri yang terdapat pada Bab I hingga Bab V.
Jadi jelaslah sudah dari keterangan di atas dapat terlihat bahwa Suparto Brata dapat menjaga ketegangan dalam bercerita. Dari awal cerita sampai akhir cerita, ketegangan yang cukup terjaga dan muncul terus menerus ini dapat membuat pembaca lebih ingin tahu lagi akan kelanjutan cerita.
Terpecahkannya teka-teki atau misteri.
Sebenarnya jawaban kriteria yang nomor lima ini telah disinggung di atas. Jelasnya misteri potongan tangan itu dapat terkuak, karena kejelian dan kecerdikan detektif Handaka. Hal ini terlihat pada Bab VI, yang seperti telah disebutkan tadi. Bab VI merupakan kunci dari misteri potongan tangan berlumur darah. Ternyata potongan tangan itu milik Siti Respati yang merupakan saudara kembar Erawati. Dan semua menjadi jelas, bahwa baik Erawati maupun Nusyirwan, kedua-duanya tak bersalah. Di antara mereka hanya ada kesalah-fahaman, akan tetapi justru itu merupakan konflik yang diciptakan Suparto Brata untuk mengecoh pembaca. Ternyata penjahatnya kemudian dapat ditemukan yaitu Sutahal.
Kesimpulan.
Novel buah karya Suparto Brata ini bagus. Ternyata setelah dibuktikan dengan kriteria-kriteria roman detektif yang baik menurut Teeuw, kriteria-kreteria itu terkandung di dalam novel Emprit Abuntut Bedhug.
Selain dari pada itu, yang tak kurang pentingnya, ketegangan yang timbul dari jalinan cerita dalam novel ini cukup terjaga dengan baik. Suparto Brata cukup ahli dalam mengatur jalinan cerita yang runtut dan penuh ketegangan, sehingga emosi pembaca dapat terkendali dan ikut larut dalam cerita yang dibacanya, hingga menyelesaikan bacaannya.
Daftar Pustaka.
Brata, Suparto, 1966. Emprit Abuntut Bedhug. Surabaya; Djajabaja.
Hutomo, Suripan Sadi, 1975. Telaah Kesusastraan Jawa Modern, Jakarta; Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Kenney, William, 1966. How to Analyze Fiction, New York; Monarch Press.
Ras, J.J, 1985. Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir. (Seri Terjemahan Javanologi). Jakarta;
Grafitipers.
Saad, M. Saleh, 1967, “Catatan Kecil Sekitar Penelitian Kesusastraan” dalam Lukman Ali (red).
Bahasa dan Kesusastraan Indonesia sebagai cermin Manusia Indonesia Baru, Jakarta; Gunung
Agung.
Sudjiman, Panuti (ed), 1984. Kamus Istilah Sastra. Jakarta; Gramedia.
Tasrif, S.S.H, 1960. “Beberapa Hal Tentang Cerita Pendek” dalam Mochtar Lubis (ed), Tehnik
Mengarang. Jakarta; Kurnia Esa.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Jakarta; Pustaka Jaya.
P.S. Novel Emprit Abuntut Bedhug diterbitkan lagi 2007 (seri Detektip Handaka) oleh Penerbit
NARASI, Jl. Irian Jaya D-24 Perum Nogotirto Elok II Yogyakarta 55292, Telp. (0274) 7103084,
Faks. (0274) 74863332.
DETEKTIF KARYA SUPARTO BRATA
Retno Asih Wulandari
Dimuat di
Masyarakat, Kebudayaan, dan Politik (majalah Unair)
Nomor 02, Vol. VII, Maret 1993
Dalam khasanah Kesusastraan Jawa banyak diciptakan karya sastra, baik dalam bentuk puisi maupun prosa. Sampai saat ini masih banyak ditemukan pengarang-pengarang Sastra Jawa yang tetap produktif menghasilkan karyanya. Salah satu pengarang Sastra Jawa yang cukup dikenal dan produktif, baik dalam dunia Sastra Indonesia maupun dunia Sastra Jawa adalah Suparto Brata.
Tema-tema novelnya dapat digolongkan ke dalam tiga golongan. Golongan pertama adalah novel-novel yang bertendens cinta, seperti Katresnan Kang Angker, Asmarani, Sanja Sangu Trebela, dan lain-lain. Golongan kedua adalah novel-novel yang bertemakan perjuangan, seperti Lara Lapane Kaum Republik, Kadurakan Ing Kidul Dringu, Kaduk Wani, dan lain-lain. Golongan ketiga adalah novel-novel yang bertemakan perjuangan atas kebenaran dan keadilan, dan tema ini dijalin oleh pengarang dalam bentuk cerita detektif, seperti Tanpa Tlacak, Tretes Tintrim, Emprit Abuntut Bedhug, dan lain-lain (Hutomo, 1975:63-4).
Suparto Brata merupakan pengarang yang paling banyak menghasilkan karya sastra yang bertema cerita detektif. Dapat dikatakan demikian, karena di dalam buku Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir, yang disunting oleh J.J.Ras, hanya ditemukan dua pengarang yang menghasilkan cerita detektif, yaitu Suparto Brata dan Any Asmara. Suparto Brata menghasilkan enam buah karya sastra (Ras, 1985:25), dan Any Asmara hanya menghasilkan dua buah karya sastra saja (Ras. 1985:23).
Selain dari pada itu, kelebihan pengarang Suparto Brata tampak dari caranya mengolah bahasa, dialog-dialog dan gaya penuturannya yang hidup, imajinasi dan kemampuannya membangun plot yang bagus membuatnya menjadi penulis novel Jawa terbaik pada zamannya. (Ras, 1985:25).
Tulisan ini membahas novel detektif Suparto Brata berjudul Emprit Abuntut Bedhug. Gaya cerita novel ini runtut, dan penuh ketegangan. Pembaca dibawa untuk mengetahui kejadian-kejadian yang akan terjadi selanjutnya.
Konvensi Roman Detektif.
Teeuw dalam bukunya Sastra Dan Ilmu Sastra menjelaskan kriteria roman detektif. Sebenarnya pendapat Teeuw ini lebih tepat disebut konvensi roman detektif, yang harus diketahui pembaca sebelum membaca roman detektif. Konvensi adalah cara penyajian yang menjadi alat pengungkapan yang mapan, yang akhirnya menjadi tehnik yang diterima umum (Sudjiman, 1984:43). Harapan pembaca akan sebuah cerita detektif yang sedang dihadapinya dapat dikatakan terpenuhi apabila: ada mayat atau orang yang terbunuh; ada keraguan yang disengaja tentang watak tokoh, penjahat atau manusia yang tak bersalah, tentang urutan dan ditel-ditel waktu, peristiwa dan hal-hal lain (pentingnya alibi); ada detektif yang lebih pintar dari semua pelaku: ada ketegangan yang terus menerus, dan puncaknya terpecahkannya teka-teki atau misteri yang ditunggu-tunggu pembaca (Teeuw, 1984:101-2).
Di sini tidak dibedakan pengertian novel dan roman, karena menurut Panuti Sudjiman, roman adalah istilah lain daripada novel, yang kedua-duanya mempunyai pengertian prosa rekaan yang panjang, yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun (Sudjiman, 1984:53).
Untuk membahas novel ini digunakan metode intrinsik. Pembahasan secara intrinsik adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan menerapkan teori dan kaidah sastra: penelaahan bertolak dari karya sastra itu sendiri (Sudjiman, 1984:6). Yang menjadi central atau pusat pembahasan hanya novel Emprit Abuntut Bedhug saja.
Emprit Abuntut Bedhug: Sebuah Roman Detektif.
Di muka telah diterangkan mengenai lima point konvensi roman detektif. Di bawah ini dibahas kelima point tersebut dalam novel Emprit Abuntut Bedhug.
1. Keberadaan mayat atau orang yang terbunuh.
Dalam novel ini tidak ditemukan adanya mayat atau pun orang yang terbunuh. Akan tetapi harapan pembaca agak terpenuhi dengan ditemukannya telapak tangan bercincin berlian, yang berlumuran darah. Ditemukannya telapak tangan yang sangat misterius itu merupakan awal teka-teki, yang membuat pembaca bertanya-tanya apa yang telah terjadi? Dan hal itu membuat pembaca ingin mengetahui kelanjutan cerita.
Telapak tangan yang ditemukan Jarot terbungkus rapi di dalam sebuah kantong plastik yang terjatuh dari sepeda seorang gadis berbaju kuning yang bersrempetan dengan Jarot. Akan tetapi gadis itu tidak mengaku ketika Jarot menyodorkan kantong plastik tersebut. Hal ini terungkap pada halaman 7-8:
“Dik, eh, dik! Kanthonge!” aloke Djarot. Swarane ketara jen ora sida muring.
Ing Surabaja lumrah wong nom-noman tepung sepisanan ora basan. Alok mengkono iku Djarot karo merlokake ndjupuk kanthong kang gumlethak mau lan diatjungake marang sing duwe.
Krungu aloke Djarot, wong wadon iku mung mbuwang rembug atos:
“Kuwi dudu duwekku!”
Secara logika memang terdapat kejanggalan, karena jelas-jelas kantong plastik itu berada di stang sepeda si gadis, akan tetapi ia tak mengakuinya. Akan tetapi hal ini malah membuat pembaca tergelitik ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Suparto Brata memang sebenarnya tidak murni memenuhi konvensi roman detektif yang baik, akan tetapi beliau cukup lihai dengan membuka sebuah misteri dengan ditemukannya telapak tangan berlumur darah. Dari judulnya pun pembaca dibuat bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan judul Emprit Abuntut Bedhug, dan apa kaitannya judul tersebut dengan isi cerita. Ternyata hal ini terjawab di halaman 26:
“Sara, Pip! Gak ngira aku. Permulaane tjuma srempetan le, ndadakna, berlarut-larut ngene! Mbok!” Djarot gedeg-gedeg karo mlaku metu menyang pekarangan omah.
“Jaiku beke sing djare wong tuwa-tuwa paribasane emprit abuntut bedug. Prekara sing disike sepele, gak ngretiya mburi-mburine dadi prekara kadurdjanan kang ruwet! Slameta ae, awakmu, Rot!” udjare Apip karo nguntabake tamu-tamune.
Jadi usaha Suparto Brata dalam membuat persoalan atau permasalahan tadi cukup baik. Walaupun di dalam novel ini hingga akhir cerita tak ditemukan mayat atau orang yang terbunuh. Secara tidak langsung Suparto Brata dalam novel ini dapat dikatakan membuat suatu terobosan atau inovasi, yang agak menyimpang dari konvensi roman detektif yang ada. Akan tetapi walaupun demikian, usaha Suparto Brata ini tak mengurangi kenikmatan membaca dari si pembaca, malah merupakan suatu misteri yang mengasyikkan, sehingga membuat pembaca ingin mengetahui kelanjutan ceritanya.
2. Adanya keraguan yang disengaja.
Di dalam novel ini banyak dijumpai keraguan-keraguan yang tampaknya memang disengaja oleh si pengarang. Mungkin dengan tujuan untuk mengecoh pembaca dan mengakibatkan pembaca penasaran akan kesudahan cerita. Hal ini tampak pada kedua tokoh Erawati dan Nusyirwan. Mereka berdua dilukiskan sangat meyakinkan sekali. Erawati tetap bersikeras bahwa ia tak mengenal Nusyirwan. Sebaliknya Nusyirwan merasa benar-benar pernah bertemu bahkan mengenal dengan baik Erawati. Konflik demikian ini mengundang keingintahuan pembaca. Sebenarnya siapa yang benar, di antara kedua tokoh tersebut. Siapakah di antara kedua tokoh itu yang berpura-pura, dan mempunyai niat yang buruk. Pembaca dibuat ragu, apa yang sebenernya terjadi. Erawati yang berpura-pura tak mengenal Nusyirwan, atau sebaliknya Nusyirwan yang berpura-pura mengenal Erawati. Hal inilah yang membuat pembaca tetap betah untuk melanjutkan bacaannya, untuk mengetahui apa sebenarnya yang ingin diceritakan oleh si pengarang.
“Aku ora rumangsa tepung kowe!” modjare Erawati kaja Srikandi nantang Bisma. “Saestu Mas Handaka. Kula mboten tepang kalijan pijambakipun!”
“Kowe ki piye, ta, Er?! Kok mentala muni mengkono?” panyarune wong bagus iku.
“Kowe kuwi sing kurang adjar, wong betjik-betjik arep kok sembranani! Mbok njawang predjengan sithik apaa, Rek!” Suwarane bantas, sikepe tjanthas!
“Anu, Mas. Leres kok, kula tepang lare punika. Jen mboten pitados kula aturi tindak grija kula. Ibu saha rentjang kula saged kangge seksi jen Dik Erawati punika njipeng ngantos kalih minggu wonten grija kula,” udjare wong bagus iku rada anjel marang sikepe Erawati (hal. 38-39).
Suparto Brata cukup cermat membuat keragu-raguan pembaca pada kedua tokoh ini. Seolah-oleh di satu pihak Erawati yang benar, namun Nusyirwan pun cukup meyakinkan dengan melibatkan Ibunya dan pembantunya sebagai saksi.
Demikian pula dengan peristiwa-peristiwa yang dilukiskan dalam novel ini banyak membuat pembaca ragu. Peristiwa-peristiwa yang diceritakan Nusyirwan, tentang pertemuannya dengan Erawati, dapat meragukan pembaca. Apakah itu merupakan cerita yang benar-benar telah dialami kedua tokoh tersebut, atau hanya dikarang-karang oleh Nusyirwan. Keraguan-raguan akan tokoh Nusyirwan agak berkurang dengan munculnya kutipan di bawah ini:
“Erawati! Sadjrone rong minggu tanggal enem nganti tanggal rongpuluh, bareng karo anane Erawati ing omah kene, kowe ana ngendi? Djadjal wangsulana!”
Mripate Erawati megar meleke, saja suwe saja amba menthelengi Handaka. Handaka ngrogoh sak klambine, bandjur ngetokake amplop isi lajang kertas djambon, diatjungake ing ngarepe Erawati.
“Mangsuli panjuwunku palilah mamitake kowe, direktris SGKP ndongakake muga-muga kowe ora kesuwen ninggal pamulangan maneh. Ing kene diterangake jen wis rong minggu murid-muridmu kapiran ora kok wulang. Bapak ing lurung Raden Saleh uga nerangake marang pulisi kang numpak sepedhah montor iki mau, jen kowe lunga rong minggu tanpa nerangake paranmu. Digoleki dajohmu pirang-pirang, ora ana? Tjoba wangsulana pitakonku, kowe menjang endi sadjrone rong minggu kuwi?!” (hal.55).
Keadaan ini cukup memberatkan Erawati, kemungkinan ia yang bersalah, besar sekali. Akan tetapi ternyata Erawati pun tidak dapat pula dicurigai, alibinya cukup kuat, ia berada di Semarang pada saat itu.
“Aku lunga menjang Semarang! Semaraaang!! Kandakna kantjamu jen arep kanda! Kandakna marang sekongkelanmu!! Aku lunga menjang Semaraaang!!” udjare Erawati djerit-djerit.
“Semarang, kampunge?! Kampunge ngendi? Alamat sing bener! Gage!”
“Sompok! Lurung Sompok! Tjulna akkuuu! Athooo, iki lara! Maattiikk aku! Atthooo!!”
“Nomer?! Alamat sing bener!”
“O, kok ja kebangeten timen, ta, ki! Athooo!! Embuh! Embuh aku ora ngreti. Aku lali!! Huh, huh, anu, ana Bratatenajan! Bratatenajan Sompok!!”
Panggudjere Handaka kawusanan. Erawati lemes, mlaku trantanan golek lungguhan. (hal. 57).
Suparto Brata cukup lihai dalam menimbulkan keraguan pada pembaca akan kedua tokoh ini. Suatu saat sepertinya Erawati yang jahat, dan Nusyirwan yang baik, atau sebaliknya.
3. Adanya detektif yang lebih pintar dari semua pelaku.
Dalam novel ini, detektif Handaka yang diserahi tugas oleh Inspektur Indra, untuk mengungkap masalah potongan tangan yang misterius itu jelas-jelas dilukiskan sebagai seorang detektif yang amat cerdik. Detektif Handaka dalam usahanya mengungkap misteri potongan tangan tersebut cukup runtut dalam melakukan penyelidikan-penyelidikan. Pertama-tama ia berusaha mendapatkan saksi yang melihat Jarot bersrempetan dengan si gadis berbaju kuning yang tak lain adalah Erawati. Karena dari saksi itulah penyelidikan bermula dan perlahan-lahan dapat mengungkap misteri itu. Kecerdikan detektif Handaka dapat terlihat pada halaman 32:
“Ora, dik. Aku kudu weruh reaksi sing wadjar. Nganggo ali-ali mau aku isih durung tjetha, djeng Era iki mung ethok-ethok ora ngreti, apa temenan ora ngreti bab kanthong saisine iku. Reaksi iku perlu kanggo panjelidikan,” udjare Handaka adreng. Lan gage mbungkus tangan tugel iku kanthi primpen terus dilebokake ing kanthong temon. (hal. 32)
Karena kecerdikan detektif Handaka, akhirnya dapat diketahui bahwa Erawati memang tidak mengetahui isi kantong yang berada di stang sepedanya. Masih ada lagi disebutkan kecerdikan-kecerdikan detektif Handaka dalam usahanya menyingkap tabir misteri potongan tangan itu. Dapat dicontohkan di sini seperti yang terdapat pada halaman 88 dan 91:
“Wiwit dik Nunus kanda jen Erawati sing nginep kene ngaku djeneng Erawati iku adedasar kebeneran, jaiku marga ngrembug bab SGKP. Mula dek djeng Era dak peksa ngaku deweke ana ngendi sadjrone rong minggu lan ngaku jen ngungsi menjang Semarang, enggal-enggal sopir pick-up dak kon ngurus ngubungi telex karo pulisi Semarang. Kelingan ora aku metu nalika kono lagi dong dansah? Ha iku aku aweh instruksi. Pulisi Semarang mbenerake keterangane djeng Era jen deweke sadjrone rong minggu ana Bratatenajan Sompok. Dadi nalika ing omah kene ana Erawati ing Sompok Semarang kana uga ana Erawati. Ana Erawati loro. Keterangane dik Nunus jen Erawati sing bijen dansahe ora pati wasis, dene sing saiki mate tjotjog, nandakake Erawati sing iki dudu sing bijen!” (hal. 88).
“Tjoba bajangna jen kowe Sutahal. Deweke kelangan djimating atine ana Mardi Busana, bandjur ketemu maneh sawise rong minggu ilang, ja ana kono. Terus kelakon mbuwang tugelan tangan sesukering atine uga ana toko rame iku. Apa mokal jen deweke tansah ngarep-arep bakal nemoni lelakon aneh maneh ing kono iku? Saora-orane krungu kabare bab tangan kang dibuwang iku? Mula aku ngira, deweke mesthi tansah glibat-glibet ana toko kono. Pangira iki kang dak dadekake tjobaning ichtijarku nangkep durdjana. (hal. 91).
Kecerdikan detektif Handaka ini pun telah diakui oleh Inspektur Indra.
“Bagus! Hèh, mas, niki ditepungke. Prekara sampejan kula pasrahke teng pembantu kula niki. Namine detektif Handaka. Sampejan saged ugi pun nate denger. Jen dereng denger kula elingake, ampun njobi slinthutan kalih tijang kuru niki, sanadjan awak sampejan sentosa. Deweke njambut damel mboten kalih niki (nuding spir lengen), nanging mawi niki (nuding bathuk). Pun kathah benggol djulig sing kawedar kadjuligane margi karjane detektif Handaka niki!” udjare Inspektur Indra marang Djarot. (hal 21).
Malahan Inspektur Indra, sebagai seorang polisi, digambarkan begitu dungunya, dibandingkan dengan detektif Handaka, hal ini tampak pada halaman 18 dan 20.
“Hèh! Apa iki?! Hèh, sampejan nemu teng pundi barang niku? Rak tangan jektos, ta, niku?! Eh, dik Handaka. Seksenana iki! Ewangana ngurus iki disik!” Inspektur Indra iku bengok-bengok kaya lagi duka lan gupuh. Ora sumbut karo umuke mau. Lan swarane pantjen bantas.
“Bingung aku. Bingung! Prekara sing sidji durung rampung, sidjine wis nusul!” Inspektur Indra gedeg-gedeg sadjak arep ngilangi sumpeging pikir. “”Hèh, dik! Dik Handaka ora kesusu kondur menjang Sala, ta? Dak sambati ngurus prekara iki, pije?”
4. Adanya ketegangan yang terus menerus.
Menurut Teeuw ketegangan itu merupakan hal yang penting dalam sebuah roman detektif. (Teeuw, 1984:102). Rasa tegang itu selalu diharapkan oleh pembaca roman detektif. Pembaca selalu dibuat ragu-ragu oleh sesuatu hal, apakah hal itu penting ataukah tidak dalam perkembangan alurnya. Panuti Sudjiman merumuskan istilah tegangan sebagai ketidak-pastian yang berkelanjutan atas suasana yang makin mendebarkan yang diakibatkan jalinan alur dalam cerita rekaan atau lakon. Tegangan ini menopang keingintahuan pembaca akan kelanjutan cerita (Sudjiman, 1984:74).
Tegangan merupakan salah satu bagian yang penting dalam sebuah alur (Saad, 1967:122). Selain dari pada itu menurutnya, alur yang tidak mempunyai tegangan atau alur yang kurang tegangannya, ataupun alur yang tidak terjaga ketegangannya, akan hambar sekali.
Alur sebagai salah satu unsur karya sastra yang cukup penting, mengungkap kejadian-kejadian pada kita, tidak hanya dalam susunan waktu, akan tetapi juga dalam hubungan sebab akibat. Alur membuat kita menyadari akan kejadian-kejadian yang tidak hanya sebagai unsur dalam urutan waktu, akan tetapi juga cara penulis menyusun kejadian-kejadian menurut hubungan sebab akibat. (Kenney, 1966: 13-14)
Menurut Tasrif, rangkaian pada alur suatu cerita menampilkan susunan pola yang terdiri dari lima bagian (Tasrif, 1960:17) yaitu:
a. Situation: pengarang mulai melukiskan suatu keadaan.
b. Generating circumstaces: peristiwa yang bersangkut paut mulai bergerak.
c. Rising action: keadaan mulai memuncak.
d. Climax: peristiwa-peristiwa mencapai klimaks.
e. Denouement: pengarang memberikan pemecahan soal dari semua peristiwa.
Akan digunakan kelima bagian pola alur di atas untuk melihat, apakah ketegangan yang terdapat dalam novel ini terjalin terus-menerus dalam alurnya.
4.1. Situation.
Di awal cerita terutama pada Bab 1, ditampilkan tokoh Jarot, yang menemukan potongan tangan berlumur darah. Penemuan Jarot ini sudah merupakan awal dari sebuah misteri, yang membuat pembaca merasa tegang. Suparto Brata telah membuka cerita dengan cukup mengundang pertanyaan di benak pembaca, dengan menampilkan suatu keadaan yang cukup menegangkan. Apalagi suasana yang digambarkan oleh pengarang cukup membuat bulu kuduk berdiri:
Barang ing kanthong digrajang, ditjekel tjek-gemek, terus ditarik metu. Rasane sadjak buntelan katju teles. Tekan ndjaba, barang wudar saka buntelan. Sanalika kemata. Pada sanalika kono Djarot ndjerit. Barang dikipatake ing nduwur medja. Djarot girap-girap, gigu, kirig-kirig.
Barang kang dietokake saka ndjero kanthong peni iku wudjut tangan. Tangan epek-epek tugel saugel-ugel, gubras getih kenthel! Tangan daging, daginge manungsa!
Ambune menjan kang durung ilang. Bengi iku malem Djumuah. (hal. 13).
4.2. Generating circumstances.
Peristiwa-peristiwa yang selanjutnya diceritakan oleh pengarang juga cukup menegangkan. Penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan detektif Handaka mulai mengalami kemajuan. Apalagi dengan mulai dimunculkannya tokoh Erawati dan Nusyirwan, terutama Nusyirwan yang tingkah lakunya sangat mencurigakan:
“Wiwit kala wingi, kok, rumaos kula menawi mlebet toko punika dipun ndugali dening tijang punika. Kala wau edan sanget, pijambakipun ngrantos wonten tjelak penitipan sepedah! Kula gigu sanget. Mila ladjeng ndjranthal kemawon, mboten mikiraken kedadosan saladjengipun. Waton enggal ontjat saking tijang ugal-ugalan punika, ngaten kemawon.”
“Kok eram emen. Sampejan dinapakake?” pitakone Handaka.
“”Nggih diruh-ruhi, didjawil-djawil padake tijang pelanjahan mawon!” udjare Erawati gigu sumengit.
“Ning sanes dik Djarot punika?”
“Oh, sanes. Larenipun gumagus kok. Mlinthi, pethitha pethithi!”
“Bagus? Rasukanipun abrit lorek-lorek?” pitakone Djarot ketrutjut.
“Inggih. Leres. Inggih, kemutan kula. Sonten wau pijambakipun mawi rasukan abrit lorek-lorek. Ndugal, ta, sampun!”
“Oh, wong sing ngetutake aku mau, mesthi!” potjapane Djarot kewetu. (hal. 30).
4.3. Rising action.
Peristiwa terus berlanjut dan memuncak pada saat Erawati dan Nusyirwan bersitegang, seakan-akan keduanya merasa benar, dan merasa dibohongi satu sama lainnya. Di satu saat Erawati seakan-akan yang benar dan Nusyirwan yang salah, akan tetapi di saat yang lain sebaliknya. Sehingga keadaan menjadi tegang, karena keterangan-keterangan yang diberikan kedua tokoh ini kepada detektif Handaka, tampaknya sama-sama meyakinkan. Hal ini terdapat pada Bab II dan Bab III.
4.4. Climax.
Klimaks dari jalinan cerita dalam novel ini terlihat pada Bab V, halaman 72. Pada saat itu muncul tokoh Sutahal. Kemunculan tokoh Sutahal itu makin membuat permasalahan semakin kompleks. Pembaca dibuat ingin tahu lebih lanjut, apa sebenarnya yang telah terjadi.
4.5. Denouement.
Akhirnya keingintahuan pembaca dapat terjawab pada Bab VI, di mana semuanya dijabarkan lewat tokoh Siti Respati dan detektif Handaka, tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Menurut penulis Bab VI ini dapat dinamakan sebagai kunci yang dapat membuka tabir misteri yang terdapat pada Bab I hingga Bab V.
Jadi jelaslah sudah dari keterangan di atas dapat terlihat bahwa Suparto Brata dapat menjaga ketegangan dalam bercerita. Dari awal cerita sampai akhir cerita, ketegangan yang cukup terjaga dan muncul terus menerus ini dapat membuat pembaca lebih ingin tahu lagi akan kelanjutan cerita.
Terpecahkannya teka-teki atau misteri.
Sebenarnya jawaban kriteria yang nomor lima ini telah disinggung di atas. Jelasnya misteri potongan tangan itu dapat terkuak, karena kejelian dan kecerdikan detektif Handaka. Hal ini terlihat pada Bab VI, yang seperti telah disebutkan tadi. Bab VI merupakan kunci dari misteri potongan tangan berlumur darah. Ternyata potongan tangan itu milik Siti Respati yang merupakan saudara kembar Erawati. Dan semua menjadi jelas, bahwa baik Erawati maupun Nusyirwan, kedua-duanya tak bersalah. Di antara mereka hanya ada kesalah-fahaman, akan tetapi justru itu merupakan konflik yang diciptakan Suparto Brata untuk mengecoh pembaca. Ternyata penjahatnya kemudian dapat ditemukan yaitu Sutahal.
Kesimpulan.
Novel buah karya Suparto Brata ini bagus. Ternyata setelah dibuktikan dengan kriteria-kriteria roman detektif yang baik menurut Teeuw, kriteria-kreteria itu terkandung di dalam novel Emprit Abuntut Bedhug.
Selain dari pada itu, yang tak kurang pentingnya, ketegangan yang timbul dari jalinan cerita dalam novel ini cukup terjaga dengan baik. Suparto Brata cukup ahli dalam mengatur jalinan cerita yang runtut dan penuh ketegangan, sehingga emosi pembaca dapat terkendali dan ikut larut dalam cerita yang dibacanya, hingga menyelesaikan bacaannya.
Daftar Pustaka.
Brata, Suparto, 1966. Emprit Abuntut Bedhug. Surabaya; Djajabaja.
Hutomo, Suripan Sadi, 1975. Telaah Kesusastraan Jawa Modern, Jakarta; Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Kenney, William, 1966. How to Analyze Fiction, New York; Monarch Press.
Ras, J.J, 1985. Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir. (Seri Terjemahan Javanologi). Jakarta;
Grafitipers.
Saad, M. Saleh, 1967, “Catatan Kecil Sekitar Penelitian Kesusastraan” dalam Lukman Ali (red).
Bahasa dan Kesusastraan Indonesia sebagai cermin Manusia Indonesia Baru, Jakarta; Gunung
Agung.
Sudjiman, Panuti (ed), 1984. Kamus Istilah Sastra. Jakarta; Gramedia.
Tasrif, S.S.H, 1960. “Beberapa Hal Tentang Cerita Pendek” dalam Mochtar Lubis (ed), Tehnik
Mengarang. Jakarta; Kurnia Esa.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Jakarta; Pustaka Jaya.
P.S. Novel Emprit Abuntut Bedhug diterbitkan lagi 2007 (seri Detektip Handaka) oleh Penerbit
NARASI, Jl. Irian Jaya D-24 Perum Nogotirto Elok II Yogyakarta 55292, Telp. (0274) 7103084,
Faks. (0274) 74863332.
Tags:
Lain-lain





