Dari lomba menulis essay hingga PELUNCURAN BUKU SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT
Di Jawa Pos awal Februari 2009, ada iklan: Lomba Menulis Essay SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT. Persyaratannya antara lain: maksimal 2.500 kata. Penyelenggara Charles98, Charles Honoris Center. Topik-topiknya: 1. Pengentasan kemiskinan, 2. Upaya mengurangi pengangguran, 3. Peningkatan kualitas sistem pendidikan, 4. Layanan kesehatan murah dan layak bagi masyarakat, 5. Pemberantasan korupsi. Saat diiklankan komputer saya sedang macet, pada hal saya sudah lama punya gagasan bagaimana peningkatan kualitas sistem pendidikan hingga dapat “mencerdaskan bangsa” yang sudah ketinggalan selama 25 abad dari bangsa-bangsa cerdas di dunia. Gagasan yang sangat perlu untuk diketahui dan sistemnya harus dilaksanakan oleh pejabat pendidikan penyelenggara negara. Suatu kesempatan besar kalau saya bisa mengikuti lomba itu yang langsung tertuju para wakil rakyat yang tentunya akan menjadi pejabat penyelenggara negara.
Kebetulan beberapa hari kemudian komputer saya selesai diperbaiki dan bisa dipakai. Dengan cepat saya menulis gagasan saya itu, dan sebelum hari akhir penerimaan naskah lomba sudah saya kirimkan ke alamat penyelenggara lomba.
Di Jawa Pos Sabtu 14 Maret 2009 terpampang iklan PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA MENULIS ESSAY. Nama saya terpampang sebagai salah satu dari 25 pemenang. Saya senang.
Setelah beberapa kali menerima telepon dari penyelenggara lomba perihal kepemenangan saya, baik menanyakan nomer HP, nama saya, alamat rumah maupun dari editor pencetakan buku, akhirnya saya menerima undangan (tertulis) bahwa tanggal 22 Maret 2009 jam 1500, buku SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT diluncurkan di Balai Andhika Hotel Majapahit Jl.Tunjungan 65 Surabaya, yang juga akan dihadiri oleh Soetrisno Bachir, (Ketua Umum Partai Amanat Nasional), Effendi Ghazali, Phd (Pakar Kumunikasi UI - Republik Mimpi). Beberapa kali sebelum hari H saya ditelepon menanyakan apa sudah terima undangan, apa pasti bisa hadir, dan di sana nanti saya menerima hadiah buku dan lain-lain sebagai pemenang. Saya merasa diperhatikan sungguh-sungguh, maka tentu saja saya usahakan bisa hadir. Lama sebelum pemberangkan saya dari rumah, saya sudah bersiap-siap mengenakan baju batik yang terbaik, pakai sepatu segala. Ini menghindari protes anak-anak dan menantu saya, karena ketika mau menghadiri talk show TV-One sebagai blogger tertua di Jakarta, saya tidak sangu sepatu, sehingga spontan dibelikan sepatu oleh anak saya. Saya berangkat ke Hotel Majapahit diantar mobil oleh Tera, anak perempuan saya.
Saya datang awal, dan duduk di deretan kursi paling belakang, di mana para wartawan pada berkumpul dan berceloteh. Kursi tengah sampai depan masih kosong. Jadi dengan duduk di belakang begitu saya dapat menyemak siapa saja yang datang. Tidak ada yang saya kenal, dan tidak ada yang mengenali saya. Baru menjelang acara dimulai, menyapa dan lalu duduk di samping saya Endang Irowati, wartawati majalah basa Jawa Jaya Baya yang aktif.
Setelah urut-urutan acara mulai, dari lantunan lagu-lagu oleh penyanyi cantik-cantik, kata pengantar oleh yang punya gawe Charles Honoris, Soetrisno Bachir (yang juga membacakan sajak), lalu proses penjurian yang diutarakan oleh Pak Suko Widodo (dosen Fisip Unair). Kata beliau, begitu bervariasinya peserta lomba yang masuk (sebanyak 538 naskah), ada dokter, ada pedagang ikan asin di pasar, naskahnya ditulis dengan tangan, ada yang alamatnya peserta tidak jelas pada hal naskahnya menang hingga mencari alamat peserta memerlukan kesibukan tersendiri, ada peserta yang tidak punya HP (hari gini tidak punya HP), ada yang dari luar Jawa, ada yang KTP-nya di Cirebon, ternyata dosen di Jogyakarta. Ada yang menulisnya terlalu amat panjang, pada hal syaratnya maksimal 2.500 kata. Melihat antusiasnya peserta lomba (surat untuk wakil rakyat), maka tergambar betapa kegelisahan rakyat saat ini ingin menyampaikan unek-uneknya kepada para wakil rakyat, yang kini sedang bercaleg bakal mewakili rakyat masa depan.
Setelah itu, maka pengumuman hasil lomba. Presenter yang mengumumkan selain menyebutkan nama, asal dan jatidirinya (misalnya dari sekolah mana di Malang), juga subjudul naskahnya. Pembawa acara juga mengomentari segalanya yang diketahui (sudah dicatat olehnya) apa saja yang aneh atau hebat dari jatidiri pemenang maupun karangannya. Hadirnya para pemenang (entah dari samping kiri atau kanan) pasti diiringi tepuk tangan oleh para hadirin. Begitu dipanggil, para pemenang diharapkan naik pentas di depan. Pengumumannya dari kategori pelajar (siswa SMA dan SMP Sederajad), lalu kategori Mahasiswa, dan akhirnya kategori Umum. Kategori Pelajar ada 8 orang, mahasiswa 8 orang, maka di pentas sudah berderet para pemenang memenuhi pentas. Untuk pemenang kategori umum (sebanyak 11 orang), karena pentas sudah penuh, ditempatkan di depan pentas, di lantai yang lebih rendah. Pengumuman akhir itu tidak saya semak, karena jantung saya sudah deg-degan, bahwa saya akan dipanggil. Dan ketika disebut nama saya pada urutan nomer 8 dari 11 orang tadi, saya merasa tepuk tangan hadirin begitu bergemuruh. Saya tidak mendengar komentar pembawa acara, namun dari tepuktangan yang saya rasa lebih riuh dari yang sebelumnya, para hadirin sudah banyak yang mengenal saya. Bukan hanya tepuk tangan dan komentar pembawa acara, tetapi juga celoteh hadirin saya dengar. Sehingga waktu saya maju ke depan, tidak tahu harus bertempat di mana, saya naik ke pentas di mana sudah penuh ditempati oleh pemenang kategori mahasiswa. Baru sadar ketika ada yang mengomentari, “Pak Parto agaknya mau kepingin jadi mahasiswa lagi”. Saya pun turun menempati urutan kategori umum. Setelah saya, dipanggil berikutnya Zoya Herawati. Dia seorang pengarang yang handal, buku novelnya antara lain Derak-derak, yang mengisahkan realita sejarahperistiwa G30S/PKI. Kami sangat akrab, karena sama-sama pengarang Surabaya saat ini.
Lalu dilaksanakan penyerahan hadiah, sekali gus dilakukan oleh Charles Honoris dan Soetrisno Bachir. Para nyamuk pers pada meliput ramai-ramai. Setelah itu, sebelum para pemenang dibubarkan, para tamu penting pada berjabatan tangan. Salah satu yang saya ingat ucapan Pak Effendi Ghazali, “Saya kok sering mendengar nama Anda, ya. Di mana?” Dan juga yang menyambut hangat adalah Pak Sidarta, beliau sangat hafal dengan nama saya. Selain mengucapkan selamat, beliau juga mengatakan sering menyumbuhkan nama saya dengan Dr. Suparto Wijaya, juga seorang intelektual Surabaya saat ini.
Setelah itu, maka ada acara kata-kata komentar baik dari undangan yang khusus (Effendi Ghazali), Suko Widodo sebagai pembawa acara, dan komentar hadirin baik mengenai acara peluncuran buku, suasana negeri menjelang pemilihan caleg, mau segalanya yang berhubungan dengan keadaan bangsa. Effendi Ghazali menceloteh tentang iklan caleg dan capres di televisi. Paling mengena memang iklan Parpol Garindra. Penonton TV tercekam dengan iklannya. Tapi masyarakat diingatkan, bahwa yang akan dipilih bukan pengiklan yang baik, tapi calon pemimpin bangsa yang baik. Dia juga mengharapkan bahwa orang umum bukan anggota parpol mau caleg, berani pasang iklan yang memberi informasi yang benar tentang karakter para caleg maupun capres sejujurnya. Dia mencontohkan iklan Obama melawan iklan capres saingannya. Obama mengatakan bahwa cridit pemilikan rumah bagi rakyat kecil dapat diperoleh secara mudah, tetapi dalam perjalanan memiliki rumah rakyat tidak mampu lagi memenuhi angsurannya sehingga bank merampas kembali rumah-rumah mereka. Sedang saingan Obama jadi capres, orang yang kaya raya, rumahnya 8 buah. Jangan memilih capres yang seperti itu karena orang seperti itu tidak mengerti kesulitan warga Amerika untuk memiliki rumah di kalangan masyarakat bawah.
Saya memang tidak begitu bisa mengikuti acara, karena setelah mengerti bahwa saya sebagai pemenang di lomba ini, banyak wartawan mewawancarani saya. Jadinya saya tidak cermat lagi mengikuti acara.
Jam 1800 acara selesai. Saya nyelonong keluar hotel, menapaki kaki lima yang indah Jalan Tunjungan, sepi karena banyak bangunan tidak diberdayakan, menuju ke ujung jalan sebelah selatan, di jembatan penyeberangan. Saya mencegat bemo (angkutan kota) lyn RT YKP di situ, yang akan membawa pulang saya ke Rungkut. Mengapa tidak di depan hotel, toh bemo RT juga lewat di sana. Tidak, sebab saat itu lampu kendaraan sudah menyala, dan mata saya silau, tidak bisa memilih jenis kendaraan yang mau saya tumbangi. Sedang kalau di dekat penyeberangan, biasanya bemo-bemo yang lewat sana pada berhenti ngetem mencari penumpang tambahan. Dengan begitu saya bisa jelas menitipriksa bemo lyn RT YKP yang ketika lewat pasti berhenti ngetem di situ, maskipun sejenak. Sepuluh menit di situ, akhirnya saya dapat bemo yang saya butuhkan.
Sampai di rumah, baru saya bukai buku SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT yang baru diluncurkan. Terutama tentu saja karanganku sendiri. Ternyata, tulisan saya di situ dipotong banyak sekali, sehingga apa yang saya curahkan gagasan saya untuk dibaca oleh para wakil rakyat, tidak tercapai maksudnya. Memang di antara telepon-telepon yang saya terima sebelum pencetakan buku, ada editor yang minta diperkenankan mengedit karangan saya, karena syaratnya 2.500 kata maksimum, karangan saya lebih dari 3.000 kata. Memang ketika mencurahkan tenaga dan pikiran untuk menulis itu saya tidak mengingat batasan banyaknya kata-kata, yang paling penting gagasan saya tercurahkan. Saya mempersilakan saja mengeditnya sesuai syarat-syaratnya lomba. Ternyata jadinya begini. Jadi, kalau para wakil rakyat terpilih nanti membaca buku ini, tentulah kurang bisa mencerna gagasanku mengenai meningkatkan kualitas sistem pendidikan putera bangsa agar menjadi cerdas dan tidak menerima nasibnya seperti fitrah kodratnya. Oleh karena itu, maka segera saja menulis blog ini. Dan memaparkan naskah asli yang saya kirimkan ke panitia lomba. Mudah-mudahan mereka yang telah memiliki dan membaca karangan saya di buku hijau muda SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT, maupun yang belum membaca tapi berhasil menjadi wakil rakyat, bisa membaca naskah saya yang utuh, sehingga bisa mencerna, memahami serta melaksanakan gagasan saya itu dengan membaca naskah asli saya yang saya pasang di www.supartobrata.com. Semoga sampai kepada wakil rakyat beneran.
Kebetulan beberapa hari kemudian komputer saya selesai diperbaiki dan bisa dipakai. Dengan cepat saya menulis gagasan saya itu, dan sebelum hari akhir penerimaan naskah lomba sudah saya kirimkan ke alamat penyelenggara lomba.
Di Jawa Pos Sabtu 14 Maret 2009 terpampang iklan PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA MENULIS ESSAY. Nama saya terpampang sebagai salah satu dari 25 pemenang. Saya senang.
Setelah beberapa kali menerima telepon dari penyelenggara lomba perihal kepemenangan saya, baik menanyakan nomer HP, nama saya, alamat rumah maupun dari editor pencetakan buku, akhirnya saya menerima undangan (tertulis) bahwa tanggal 22 Maret 2009 jam 1500, buku SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT diluncurkan di Balai Andhika Hotel Majapahit Jl.Tunjungan 65 Surabaya, yang juga akan dihadiri oleh Soetrisno Bachir, (Ketua Umum Partai Amanat Nasional), Effendi Ghazali, Phd (Pakar Kumunikasi UI - Republik Mimpi). Beberapa kali sebelum hari H saya ditelepon menanyakan apa sudah terima undangan, apa pasti bisa hadir, dan di sana nanti saya menerima hadiah buku dan lain-lain sebagai pemenang. Saya merasa diperhatikan sungguh-sungguh, maka tentu saja saya usahakan bisa hadir. Lama sebelum pemberangkan saya dari rumah, saya sudah bersiap-siap mengenakan baju batik yang terbaik, pakai sepatu segala. Ini menghindari protes anak-anak dan menantu saya, karena ketika mau menghadiri talk show TV-One sebagai blogger tertua di Jakarta, saya tidak sangu sepatu, sehingga spontan dibelikan sepatu oleh anak saya. Saya berangkat ke Hotel Majapahit diantar mobil oleh Tera, anak perempuan saya.
Saya datang awal, dan duduk di deretan kursi paling belakang, di mana para wartawan pada berkumpul dan berceloteh. Kursi tengah sampai depan masih kosong. Jadi dengan duduk di belakang begitu saya dapat menyemak siapa saja yang datang. Tidak ada yang saya kenal, dan tidak ada yang mengenali saya. Baru menjelang acara dimulai, menyapa dan lalu duduk di samping saya Endang Irowati, wartawati majalah basa Jawa Jaya Baya yang aktif.
Setelah urut-urutan acara mulai, dari lantunan lagu-lagu oleh penyanyi cantik-cantik, kata pengantar oleh yang punya gawe Charles Honoris, Soetrisno Bachir (yang juga membacakan sajak), lalu proses penjurian yang diutarakan oleh Pak Suko Widodo (dosen Fisip Unair). Kata beliau, begitu bervariasinya peserta lomba yang masuk (sebanyak 538 naskah), ada dokter, ada pedagang ikan asin di pasar, naskahnya ditulis dengan tangan, ada yang alamatnya peserta tidak jelas pada hal naskahnya menang hingga mencari alamat peserta memerlukan kesibukan tersendiri, ada peserta yang tidak punya HP (hari gini tidak punya HP), ada yang dari luar Jawa, ada yang KTP-nya di Cirebon, ternyata dosen di Jogyakarta. Ada yang menulisnya terlalu amat panjang, pada hal syaratnya maksimal 2.500 kata. Melihat antusiasnya peserta lomba (surat untuk wakil rakyat), maka tergambar betapa kegelisahan rakyat saat ini ingin menyampaikan unek-uneknya kepada para wakil rakyat, yang kini sedang bercaleg bakal mewakili rakyat masa depan.
Setelah itu, maka pengumuman hasil lomba. Presenter yang mengumumkan selain menyebutkan nama, asal dan jatidirinya (misalnya dari sekolah mana di Malang), juga subjudul naskahnya. Pembawa acara juga mengomentari segalanya yang diketahui (sudah dicatat olehnya) apa saja yang aneh atau hebat dari jatidiri pemenang maupun karangannya. Hadirnya para pemenang (entah dari samping kiri atau kanan) pasti diiringi tepuk tangan oleh para hadirin. Begitu dipanggil, para pemenang diharapkan naik pentas di depan. Pengumumannya dari kategori pelajar (siswa SMA dan SMP Sederajad), lalu kategori Mahasiswa, dan akhirnya kategori Umum. Kategori Pelajar ada 8 orang, mahasiswa 8 orang, maka di pentas sudah berderet para pemenang memenuhi pentas. Untuk pemenang kategori umum (sebanyak 11 orang), karena pentas sudah penuh, ditempatkan di depan pentas, di lantai yang lebih rendah. Pengumuman akhir itu tidak saya semak, karena jantung saya sudah deg-degan, bahwa saya akan dipanggil. Dan ketika disebut nama saya pada urutan nomer 8 dari 11 orang tadi, saya merasa tepuk tangan hadirin begitu bergemuruh. Saya tidak mendengar komentar pembawa acara, namun dari tepuktangan yang saya rasa lebih riuh dari yang sebelumnya, para hadirin sudah banyak yang mengenal saya. Bukan hanya tepuk tangan dan komentar pembawa acara, tetapi juga celoteh hadirin saya dengar. Sehingga waktu saya maju ke depan, tidak tahu harus bertempat di mana, saya naik ke pentas di mana sudah penuh ditempati oleh pemenang kategori mahasiswa. Baru sadar ketika ada yang mengomentari, “Pak Parto agaknya mau kepingin jadi mahasiswa lagi”. Saya pun turun menempati urutan kategori umum. Setelah saya, dipanggil berikutnya Zoya Herawati. Dia seorang pengarang yang handal, buku novelnya antara lain Derak-derak, yang mengisahkan realita sejarahperistiwa G30S/PKI. Kami sangat akrab, karena sama-sama pengarang Surabaya saat ini.
Lalu dilaksanakan penyerahan hadiah, sekali gus dilakukan oleh Charles Honoris dan Soetrisno Bachir. Para nyamuk pers pada meliput ramai-ramai. Setelah itu, sebelum para pemenang dibubarkan, para tamu penting pada berjabatan tangan. Salah satu yang saya ingat ucapan Pak Effendi Ghazali, “Saya kok sering mendengar nama Anda, ya. Di mana?” Dan juga yang menyambut hangat adalah Pak Sidarta, beliau sangat hafal dengan nama saya. Selain mengucapkan selamat, beliau juga mengatakan sering menyumbuhkan nama saya dengan Dr. Suparto Wijaya, juga seorang intelektual Surabaya saat ini.
Setelah itu, maka ada acara kata-kata komentar baik dari undangan yang khusus (Effendi Ghazali), Suko Widodo sebagai pembawa acara, dan komentar hadirin baik mengenai acara peluncuran buku, suasana negeri menjelang pemilihan caleg, mau segalanya yang berhubungan dengan keadaan bangsa. Effendi Ghazali menceloteh tentang iklan caleg dan capres di televisi. Paling mengena memang iklan Parpol Garindra. Penonton TV tercekam dengan iklannya. Tapi masyarakat diingatkan, bahwa yang akan dipilih bukan pengiklan yang baik, tapi calon pemimpin bangsa yang baik. Dia juga mengharapkan bahwa orang umum bukan anggota parpol mau caleg, berani pasang iklan yang memberi informasi yang benar tentang karakter para caleg maupun capres sejujurnya. Dia mencontohkan iklan Obama melawan iklan capres saingannya. Obama mengatakan bahwa cridit pemilikan rumah bagi rakyat kecil dapat diperoleh secara mudah, tetapi dalam perjalanan memiliki rumah rakyat tidak mampu lagi memenuhi angsurannya sehingga bank merampas kembali rumah-rumah mereka. Sedang saingan Obama jadi capres, orang yang kaya raya, rumahnya 8 buah. Jangan memilih capres yang seperti itu karena orang seperti itu tidak mengerti kesulitan warga Amerika untuk memiliki rumah di kalangan masyarakat bawah.
Saya memang tidak begitu bisa mengikuti acara, karena setelah mengerti bahwa saya sebagai pemenang di lomba ini, banyak wartawan mewawancarani saya. Jadinya saya tidak cermat lagi mengikuti acara.
Jam 1800 acara selesai. Saya nyelonong keluar hotel, menapaki kaki lima yang indah Jalan Tunjungan, sepi karena banyak bangunan tidak diberdayakan, menuju ke ujung jalan sebelah selatan, di jembatan penyeberangan. Saya mencegat bemo (angkutan kota) lyn RT YKP di situ, yang akan membawa pulang saya ke Rungkut. Mengapa tidak di depan hotel, toh bemo RT juga lewat di sana. Tidak, sebab saat itu lampu kendaraan sudah menyala, dan mata saya silau, tidak bisa memilih jenis kendaraan yang mau saya tumbangi. Sedang kalau di dekat penyeberangan, biasanya bemo-bemo yang lewat sana pada berhenti ngetem mencari penumpang tambahan. Dengan begitu saya bisa jelas menitipriksa bemo lyn RT YKP yang ketika lewat pasti berhenti ngetem di situ, maskipun sejenak. Sepuluh menit di situ, akhirnya saya dapat bemo yang saya butuhkan.
Sampai di rumah, baru saya bukai buku SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT yang baru diluncurkan. Terutama tentu saja karanganku sendiri. Ternyata, tulisan saya di situ dipotong banyak sekali, sehingga apa yang saya curahkan gagasan saya untuk dibaca oleh para wakil rakyat, tidak tercapai maksudnya. Memang di antara telepon-telepon yang saya terima sebelum pencetakan buku, ada editor yang minta diperkenankan mengedit karangan saya, karena syaratnya 2.500 kata maksimum, karangan saya lebih dari 3.000 kata. Memang ketika mencurahkan tenaga dan pikiran untuk menulis itu saya tidak mengingat batasan banyaknya kata-kata, yang paling penting gagasan saya tercurahkan. Saya mempersilakan saja mengeditnya sesuai syarat-syaratnya lomba. Ternyata jadinya begini. Jadi, kalau para wakil rakyat terpilih nanti membaca buku ini, tentulah kurang bisa mencerna gagasanku mengenai meningkatkan kualitas sistem pendidikan putera bangsa agar menjadi cerdas dan tidak menerima nasibnya seperti fitrah kodratnya. Oleh karena itu, maka segera saja menulis blog ini. Dan memaparkan naskah asli yang saya kirimkan ke panitia lomba. Mudah-mudahan mereka yang telah memiliki dan membaca karangan saya di buku hijau muda SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT, maupun yang belum membaca tapi berhasil menjadi wakil rakyat, bisa membaca naskah saya yang utuh, sehingga bisa mencerna, memahami serta melaksanakan gagasan saya itu dengan membaca naskah asli saya yang saya pasang di www.supartobrata.com. Semoga sampai kepada wakil rakyat beneran.
Tags:
Catatan
BLOGGER TERTUA DI TV-ONE
Hari Jumat siang 9 Januari 2009 saya dapat telepon dari David, mengaku dari TV-One, mengatakan bahwa menurut riset saya adalah Blogger Tertua di Indonesia. Oleh sebab itu TV-One ingin mengadakan Talk Show dengan saya sebagai pesertanya. Saya diharapkan sampai Jakarta hari Minggu (11 Januari) atau Senin (12 Januari), karena acaranya pada hari Senin sore.
Hari Minggu 11 Januari 2009 saya terbang ke Jakarta, ke anak saya Mas Tatit di Rawalumbu Bekasi. Kebetulan punya gawe selamatan 7 bulan adiknya (Mbak Juli). Setelah acara slametan, saya dibawa oleh anak saya bungsu Mas Tenno ke rumahnya di BSD City Tangerang. Di sana kami dapat kabar dari David TV-One bahwa acara talk-show akan disiarkan langsung di Hotel Nikko, Senin 12 Januari 2009 jam 19.00, dengan acara baru judulnya Atas Nama Rakyat. Acara Atas Nama Rakyat akan dilanjut tiap hari Senin jam 19.00 dengan para Menteri atau pucuk pemerintahan sebagai narasumber utama diwawancarai oleh Direktur Utama TV-One (Pak Karni Ilyas) serta para undangan yang berhubungan dengan Menteri yang ditokohkan. Acara Atas Nama Rakyat yang pertama itu, yang saya diundang untuk serta hadir sebagai blogger tertua, tokoh Menteri yang pertama adalah Menteri Infocom, Muhamad Nuh (rumahnya di Rungkut Asri, Surabaya tetangga saya).Saya di Jakarta cukup lama, karena sebelum ada telepon dari David TV-One anak saya Tera sekeluarga (termasuk saya) ingin melihat rumah anak saya Tenno yang di BSD-City, karena begitu jauh belum pernah dikunjungi. Rencananya naik mobil, berangkat dari Surabaya Senin 19 Januari 2009, pulang lewat Bandung-Purworejo-Jogja Jumat-Sabtu 23-24 Januari 2009. Jadi akhirnya saya meninggalkan rumah Surabaya cukup lama, tanggal 10 – 25 Januari 2009.
HUT Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta ke-18
Perjalanan pulang naik mobil Jakarta-Bandung-Purworejo, sampai di Ngombol hari Kamis 22 Januari 2009 jam 04.00. Sudah berencana bertemu dengan Mas Dhanu dari Balai Bahasa Jogya di Ngombol (kampung halaman isteri saya almarhumah). Mas Dhanu datang jam 11 pagi. Waktu itu Tera sekeluarga diantar oleh Bu Bambang (nyonya rumah) pesiar ke pantai dan Jogya. Jadi setelah Tera sekeluarga berangkat, saya pun digonceng motor Mas Dhanu ke rumah Mas Dhanu di Wates, mampir dulu ke pantai Laut Selatan (Congot) yang sedang disiapkan jadi taman wisata. Selanjutnya nanti pulang ke Surabaya pisah dengan Tera sekeluarga. Saya menginap di rumah Mas Dhanu di Wates. Malam harinya banyak tamu di rumah Mas Dhanu yang memang dirancang bertemu dengan saya, yaitu Mas Atas S.Dhanusubroto (pengarang buku Trah, novel basa Jawa).
Jumat, 23 Januari 2009 digonceng Mas Dhanu ke Balai Bahasa Jogya, bertemu Bu Widati dan lain-lain. Dengar kabar bahwa hari Minggu 25 Januari ada peringatan ulang tahun Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta dirayakan di Balai Bahasa. Mas Dhanu sudah janjian mau mengantar saya ke Narasi. Di sana sebelum Jumaatan. Kami bertemu dengan Mas Indra dan Mas Yogaswara, kami membicarakan buku-buku bahasa Jawa yang mestinya terbit tahun 2008, tetapi tidak terbit. Jadinya dijanjikan mau terbit tahun 2009. Malam itu saya kembali menginap di Mas Dhanu, Wates. Malam harinya Mas Bambang Nurdiansah (pengelola seni di Jogya, juga penyair, dan puterinya yang masih kecil pun penyair) bertamu ke Mas Dhanu, menginap juga. Mas Bambang menceritakan bahwa isterinya sedang diopname di rumah sakit di Boyolali (kangker payudara). Bertamu juga Mas Budi (guru), Mas Sarworo (penggiat sastra Jawa/wartawan KR). Kami berbincang sampai jam 03.00. Tamu baru pada pulang.
Hari Sabtu 24 Januari saya di rumah Mas Dhanu. Hari itu HUT Mas Tatit. Rancangan semula selain mengunjungi rumah Tenno di BSD bersama, juga merayakan HUT Mas Tatit di BSD. Tapi kelaksanaannya berubah. Baru sore hari saya dibonceng Mas Dhanu pergi tamasya ke Waduk Sermo, di pegunungan. Sayang hari mendung, dan kami kehujanan.
Hari Minggu 25 Januari 2009, menghadiri HUT ke 18 SSJY di Balai Bahasa Yogyakarta. Acaranya meriah, saya jadi narasumber. Saya ikut membidani lahirnya SSJY 1991 ketika saya bekerja jadi pemimpin redaksi Majalah Tabloid Praba. Acara masih berlanjut, tetapi saya harus pulang naik bus ke Surabaya sebelum jam 13.00 agar sampai di Surabaya tidak terlalu malam (perjalanan bus Jogya – Surabaya 8 jam). Mas Sarworo datang, dan dengan sangat ikhlas mengantarkan saya ke terminal bus, menunggui sampai bus saya berangkat. Terimakasih, Mas Sarworo. Sampai di Surabaya jam 22.00. Ada Tenno di rumah.
Komputer Macet.
Hari Senin 26 Januari 2009, pagi-pagi saya hidupkan komputer, ternyata macet. Tidak mau menyala. Mas Yudi dan Mas Tenno sudah coba ngutak-utik tetep tidak jalan. Pada hal akan banyak sekali garapan yang harus saya kerjakan, termasuk perjalanan jadi blogger tertua dan ke Jogja. Terbengkalai tidak tercatat secara rinci di blog ini.
Komputer mogok sampai 5 Februari 2009.Pada hal dalam jangka waktu itu kejadian penting yang saya alami, setidaknya bisa saya tulis di blog ini. Misalnya tanggal 29 Januari, dapat telepon dari Bu Lina (dosen Unair). Minta saya mengirimkan secepatnya buku-buku saya yang bisa dibawa ke Malaysia, kalau bisa hari itu juga. Karena itu hari terakhir Bu Lina dan Bu Hadi sebagai utusan dari Fakultas Sastra Budaya Unair ke Malaysia. Saya pun mengemas buku: 1. Gadis Tangsi, 2. Kerajaan Raminem, 3. Mahligai Di Ufuk Timur, 4. Mencari Sarang Angin, 5. Suparto Brata’s Omnibus, 6. Donyane Wong Culika, 7. Tokoh-tokoh Surabaya. Langsung saya bawa ke Unair setelah melayat Pak Slamet Wartono yang pagi tadi meninggal dunia. Saya bawa ke Jurusan Inggris. Dan ketemu dengan Bu Lina, Bu Hadi. Juga ada undangan (penting) dari Ubaya, untuk menghadiri Deseminasi Hasil Penelitian dan Membangun Kolaborasi untuk penanganan Masalah Urban di Surabaya di Hotel Novotel Minggu 1 Februari 2009. Padahal deseminasi itu penting sekali, selain para dosen Ubaya seperti Siti Mazdefiaha, Ss.Mws, Endah Truwiyati, Spi. Ma, Yusti Probowati, Psi juga mendatangkan (dihadirkan) Prof. Dr.Irwanto dari Atmajaya Jakarta, Prof. Dr. Soetandya Wignyosoebroto, MPA, Unair, Dr. Puji Lestari psichologi Unair (Dr Puji ini kenal saya betul karena dia adalah teman Mas Neo di SMA 5 Surabaya), reviewer Dr. Lean Heng Chan dari Malaysia. Topiknya juga amat penting, rehabilitasi psikologis anak hunian di lapas anak Blitar, hunian rumah susun di Surabaya, anak-anak jalanan di Surabaya, dan perubahan pekerti anak muda dalam buku-buku sastra ciklit. Selain itu ada pula Konvensi Dewan Kesenian Surabaya 18 Februari 2009.
Semua terbengkalai tidak tercatat di blog ini.
Komputer baru selesai 8 Februari 2009. Meskipun konvensi DKS diselenggarakan ketika komputerku sudah baik, namun karena saya harus mengejar ketinggalan tidak menulis novel hampir selama satu bulan, maka tentang DKS juga terlewat dari blog ini.
Ini sekedar catatan singkat apa yang terlewat ketika komputerku macet. Peristiwa selanjutnya sangat padat. Saya kebanjiran surat dari kaum tua yang menanyakan novel-novel saya jaman dulu (1960-an) yang pernah dibacanya, di manakan sekarang bisa memperoleh bukunya. Mereka ada yang langsung mengirimkan uang pembeli bukunya. Karena buku bahasa Jawa saya banyak diterbitkan oleh Narasi Jogyakarta, maka mereka saya suruh menghubungi Penerbit Narasi Jogyakarta, alamat Jalan Irian Jaya D-24,Perum Nogotirto Elok II Yogyakarta 55292, Telepon (0274)7103084. Saya sarankan buku basa Jawa apa saja yang ada dan berapa harganya.
Selain penggemar buku saya bahasa Jawa, juga banyak mahasiswa dari Sejarah Unair, sastra Jawa Unesa, AWS dan ITS pada datang ke rumah. Mereka berorientasi mau menempuh skripsinya, masing-masing dengan berbagai bidang studynya.
Mendatang akan saya tulis tentang Lomba Penulisan Essay yang diselenggarakan oleh Charles Honoris di Surabaya, yang baru tadi siang (22 Maret 2009 jam 15.00) saya sebagai salah satu pemenang dari 25 pemenang lainnya di Hotel Majapahit Tunjungan Surabaya, yang juga dihadiri oleh Ketua PAN Pak Soetrisno Bachier.
Hari Minggu 11 Januari 2009 saya terbang ke Jakarta, ke anak saya Mas Tatit di Rawalumbu Bekasi. Kebetulan punya gawe selamatan 7 bulan adiknya (Mbak Juli). Setelah acara slametan, saya dibawa oleh anak saya bungsu Mas Tenno ke rumahnya di BSD City Tangerang. Di sana kami dapat kabar dari David TV-One bahwa acara talk-show akan disiarkan langsung di Hotel Nikko, Senin 12 Januari 2009 jam 19.00, dengan acara baru judulnya Atas Nama Rakyat. Acara Atas Nama Rakyat akan dilanjut tiap hari Senin jam 19.00 dengan para Menteri atau pucuk pemerintahan sebagai narasumber utama diwawancarai oleh Direktur Utama TV-One (Pak Karni Ilyas) serta para undangan yang berhubungan dengan Menteri yang ditokohkan. Acara Atas Nama Rakyat yang pertama itu, yang saya diundang untuk serta hadir sebagai blogger tertua, tokoh Menteri yang pertama adalah Menteri Infocom, Muhamad Nuh (rumahnya di Rungkut Asri, Surabaya tetangga saya).Saya di Jakarta cukup lama, karena sebelum ada telepon dari David TV-One anak saya Tera sekeluarga (termasuk saya) ingin melihat rumah anak saya Tenno yang di BSD-City, karena begitu jauh belum pernah dikunjungi. Rencananya naik mobil, berangkat dari Surabaya Senin 19 Januari 2009, pulang lewat Bandung-Purworejo-Jogja Jumat-Sabtu 23-24 Januari 2009. Jadi akhirnya saya meninggalkan rumah Surabaya cukup lama, tanggal 10 – 25 Januari 2009.
HUT Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta ke-18
Perjalanan pulang naik mobil Jakarta-Bandung-Purworejo, sampai di Ngombol hari Kamis 22 Januari 2009 jam 04.00. Sudah berencana bertemu dengan Mas Dhanu dari Balai Bahasa Jogya di Ngombol (kampung halaman isteri saya almarhumah). Mas Dhanu datang jam 11 pagi. Waktu itu Tera sekeluarga diantar oleh Bu Bambang (nyonya rumah) pesiar ke pantai dan Jogya. Jadi setelah Tera sekeluarga berangkat, saya pun digonceng motor Mas Dhanu ke rumah Mas Dhanu di Wates, mampir dulu ke pantai Laut Selatan (Congot) yang sedang disiapkan jadi taman wisata. Selanjutnya nanti pulang ke Surabaya pisah dengan Tera sekeluarga. Saya menginap di rumah Mas Dhanu di Wates. Malam harinya banyak tamu di rumah Mas Dhanu yang memang dirancang bertemu dengan saya, yaitu Mas Atas S.Dhanusubroto (pengarang buku Trah, novel basa Jawa).
Jumat, 23 Januari 2009 digonceng Mas Dhanu ke Balai Bahasa Jogya, bertemu Bu Widati dan lain-lain. Dengar kabar bahwa hari Minggu 25 Januari ada peringatan ulang tahun Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta dirayakan di Balai Bahasa. Mas Dhanu sudah janjian mau mengantar saya ke Narasi. Di sana sebelum Jumaatan. Kami bertemu dengan Mas Indra dan Mas Yogaswara, kami membicarakan buku-buku bahasa Jawa yang mestinya terbit tahun 2008, tetapi tidak terbit. Jadinya dijanjikan mau terbit tahun 2009. Malam itu saya kembali menginap di Mas Dhanu, Wates. Malam harinya Mas Bambang Nurdiansah (pengelola seni di Jogya, juga penyair, dan puterinya yang masih kecil pun penyair) bertamu ke Mas Dhanu, menginap juga. Mas Bambang menceritakan bahwa isterinya sedang diopname di rumah sakit di Boyolali (kangker payudara). Bertamu juga Mas Budi (guru), Mas Sarworo (penggiat sastra Jawa/wartawan KR). Kami berbincang sampai jam 03.00. Tamu baru pada pulang.
Hari Sabtu 24 Januari saya di rumah Mas Dhanu. Hari itu HUT Mas Tatit. Rancangan semula selain mengunjungi rumah Tenno di BSD bersama, juga merayakan HUT Mas Tatit di BSD. Tapi kelaksanaannya berubah. Baru sore hari saya dibonceng Mas Dhanu pergi tamasya ke Waduk Sermo, di pegunungan. Sayang hari mendung, dan kami kehujanan.
Hari Minggu 25 Januari 2009, menghadiri HUT ke 18 SSJY di Balai Bahasa Yogyakarta. Acaranya meriah, saya jadi narasumber. Saya ikut membidani lahirnya SSJY 1991 ketika saya bekerja jadi pemimpin redaksi Majalah Tabloid Praba. Acara masih berlanjut, tetapi saya harus pulang naik bus ke Surabaya sebelum jam 13.00 agar sampai di Surabaya tidak terlalu malam (perjalanan bus Jogya – Surabaya 8 jam). Mas Sarworo datang, dan dengan sangat ikhlas mengantarkan saya ke terminal bus, menunggui sampai bus saya berangkat. Terimakasih, Mas Sarworo. Sampai di Surabaya jam 22.00. Ada Tenno di rumah.
Komputer Macet.
Hari Senin 26 Januari 2009, pagi-pagi saya hidupkan komputer, ternyata macet. Tidak mau menyala. Mas Yudi dan Mas Tenno sudah coba ngutak-utik tetep tidak jalan. Pada hal akan banyak sekali garapan yang harus saya kerjakan, termasuk perjalanan jadi blogger tertua dan ke Jogja. Terbengkalai tidak tercatat secara rinci di blog ini.
Komputer mogok sampai 5 Februari 2009.Pada hal dalam jangka waktu itu kejadian penting yang saya alami, setidaknya bisa saya tulis di blog ini. Misalnya tanggal 29 Januari, dapat telepon dari Bu Lina (dosen Unair). Minta saya mengirimkan secepatnya buku-buku saya yang bisa dibawa ke Malaysia, kalau bisa hari itu juga. Karena itu hari terakhir Bu Lina dan Bu Hadi sebagai utusan dari Fakultas Sastra Budaya Unair ke Malaysia. Saya pun mengemas buku: 1. Gadis Tangsi, 2. Kerajaan Raminem, 3. Mahligai Di Ufuk Timur, 4. Mencari Sarang Angin, 5. Suparto Brata’s Omnibus, 6. Donyane Wong Culika, 7. Tokoh-tokoh Surabaya. Langsung saya bawa ke Unair setelah melayat Pak Slamet Wartono yang pagi tadi meninggal dunia. Saya bawa ke Jurusan Inggris. Dan ketemu dengan Bu Lina, Bu Hadi. Juga ada undangan (penting) dari Ubaya, untuk menghadiri Deseminasi Hasil Penelitian dan Membangun Kolaborasi untuk penanganan Masalah Urban di Surabaya di Hotel Novotel Minggu 1 Februari 2009. Padahal deseminasi itu penting sekali, selain para dosen Ubaya seperti Siti Mazdefiaha, Ss.Mws, Endah Truwiyati, Spi. Ma, Yusti Probowati, Psi juga mendatangkan (dihadirkan) Prof. Dr.Irwanto dari Atmajaya Jakarta, Prof. Dr. Soetandya Wignyosoebroto, MPA, Unair, Dr. Puji Lestari psichologi Unair (Dr Puji ini kenal saya betul karena dia adalah teman Mas Neo di SMA 5 Surabaya), reviewer Dr. Lean Heng Chan dari Malaysia. Topiknya juga amat penting, rehabilitasi psikologis anak hunian di lapas anak Blitar, hunian rumah susun di Surabaya, anak-anak jalanan di Surabaya, dan perubahan pekerti anak muda dalam buku-buku sastra ciklit. Selain itu ada pula Konvensi Dewan Kesenian Surabaya 18 Februari 2009.
Semua terbengkalai tidak tercatat di blog ini.
Komputer baru selesai 8 Februari 2009. Meskipun konvensi DKS diselenggarakan ketika komputerku sudah baik, namun karena saya harus mengejar ketinggalan tidak menulis novel hampir selama satu bulan, maka tentang DKS juga terlewat dari blog ini.
Ini sekedar catatan singkat apa yang terlewat ketika komputerku macet. Peristiwa selanjutnya sangat padat. Saya kebanjiran surat dari kaum tua yang menanyakan novel-novel saya jaman dulu (1960-an) yang pernah dibacanya, di manakan sekarang bisa memperoleh bukunya. Mereka ada yang langsung mengirimkan uang pembeli bukunya. Karena buku bahasa Jawa saya banyak diterbitkan oleh Narasi Jogyakarta, maka mereka saya suruh menghubungi Penerbit Narasi Jogyakarta, alamat Jalan Irian Jaya D-24,Perum Nogotirto Elok II Yogyakarta 55292, Telepon (0274)7103084. Saya sarankan buku basa Jawa apa saja yang ada dan berapa harganya.
Selain penggemar buku saya bahasa Jawa, juga banyak mahasiswa dari Sejarah Unair, sastra Jawa Unesa, AWS dan ITS pada datang ke rumah. Mereka berorientasi mau menempuh skripsinya, masing-masing dengan berbagai bidang studynya.
Mendatang akan saya tulis tentang Lomba Penulisan Essay yang diselenggarakan oleh Charles Honoris di Surabaya, yang baru tadi siang (22 Maret 2009 jam 15.00) saya sebagai salah satu pemenang dari 25 pemenang lainnya di Hotel Majapahit Tunjungan Surabaya, yang juga dihadiri oleh Ketua PAN Pak Soetrisno Bachier.
Tags:
Wawancara
HIKAJAT SOERABAIA
“Mari kawan, jangan menganggur. Mari cari kerja. Cari kerja jadi pegawai susah, aku jualan singkong goreng. Di tengah kota banyak saingan, aku jual di pinggiran. Yang beli sedikit, lebihnya banyak. Sayang busuk dibuang, aku makan sampai kekenyangan. Modalnya tak kembali, aku bangkrut. Ada teman bernasihat, jualan saja barang yang awet tidak busuk. Dan kalau tidak laku bisa dipakai sendiri. Ikut nasihat teman aku jualan peti mati. Dengan pikiran barangnya awet, tidak membusuk. Dan kalau tidak laku bisa kupakai sendiri. Aku buat peti mati hari Rabu, hari Kamis selesai. Hari Jumat ibuku sakit, hari Minggu meninggal dunia. Peti mati belum laku, ibuku sendiri yang pakai.....”
Kisah itu diceritakan lisan di pentas, dengan gaya pantun atau bersyair “kidungan” atau “gandhangan” ludruk bahasa Surabaya. Ritme dan lirisnya pas. Misalnya bait awal ada kata Kamis, bait akhir ada kata menangis. Cara mendeklamasikan lancar, diiringi gamelan gendhing jula-juli. Yang punya kisah dan berpantun adalah Cak Kartolo, pemain ludruk warga Surabaya yang sangat populer saat ini. Digandhangkan di Gedung Cak Durasim Jl. Genteng Kali 85 Surabaya, Sabtu siang tanggal 21 Februari 2009.
Lanjutnya di pentas muncul pula Cak Sapari. Berdua berdialog dan juga berbuat lucu, penonton terbahak-bahak. “Mengapa kamu di sini? Diundang Pak Dukut, untuk peluncuran bukunya Hikayat Surabaya Tempo Dulu. Diberi honor berapa? Wah, kata orang Pak Dukut ini pelit, honornya sedikit. Lo, orangnya di sini, mari kita tanyakan, kita panggil naik pentas.”
Dukut Imam Widodo naik pentas, memakai celana dan jas hitam parlente.
“Anu, Pak. Kalau jasnya nanti mengkerut, berikan saja kepada saya, pas, Pak. Daripada dikatai Sapari katanya Pak Dukut pelit. Aku tahu kok, Pak Dukut tidak pelit. Ketemu di pasar Blawuran menyapa, Hei, Kartolo, dagangannya bagaimana? Kurang laku, Pak. Aku diberi Rp 50.000,00. Lain hari ketemu di pasar Keputran. Dagangan masih kurang laku, aku diberi Rp 100.000,00. Begitu kok dikatai pelit. Sebulan kemudian ketemu di pasar Wonokromo. Gimana dagangannya? Wah, lumayan laku, Pak. La kalau begitu kembalikan uangku dulu itu. Semuanya ditambah bunganya 15%....!”
Dukut Imam Widodo, penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe, Grissee Tempo Doeloe, Malang Tempo Doeloe, hari itu menyelenggarakan acara peluncuran bukunya yang baru, Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe. Acaranya ketat dengan peristiwa-peristiwa yang mempesona didukung teknis penyelenggaraan pentas yang profesional. Ada pengiring musik hidup yang melagukan lagu-lagu khas tentang Kota Surabaya, pembawa acaranya dua bahasa, Indonesia dan Inggris, latar pentasnya sorot tentang buku yang diluncurkan dan gambar Kota Surabaya lama, ada layar besar lain yang digunakan memutar video, pembicara penyambutnya: Wawali Surabaya Arif Afandi, Sekjen Dewan Kota Surabaya Pinky Saptandari, sastrawan Surabaya Budi Darma. Para pengunjung diikat sampai akhir acara dengan door-prize barang berharga dan berguna (misalnya sepeda) yang nomornya dapat prize ditaruh di kardus suguhan yang diterima pengunjung waktu mendaftar di buku tamu, dan juga ada kuis yang ditanyakan setiap ganti acara.
Acara pertama diputarkan video perkenalan siapa Dukut Imam Widodo, di mana lahir, apa yang dikerjakan. Di akhir acara nanti juga diputarkan video lagi, tentang kegigihan Dukut Imam Widodo menyusun buku-bukunya, mencari bahan, koleksi barang-barang aseli di Surabaya zaman dulu (misalnya kayu ukir hiasan kisi-kisi pintu rumah, ukirannya beda dengan ukiran di Solo atau Jogya, agak kasar tapi khas berjiwa dinamis Surabaya), uang zaman dulu, pengering tinta yang ada merknya Boekhandel van Dorp Soerabaia, pernik-pernik lain misalnya gelas minum dengan merk Hotel Oranje Toendjoengan Soerabaia, botol obat dengan merk Aphoteek Rathkam Soerabaia, dan kumpulan foto-foto. Baik narasi video, maupun teknik pemutarannya telah disiapkan dengan sebaik-baiknya, sehingga penonton seperti menonton TV saja, tidak terganggu kesalahan teknik maupun “menunggu waktu”.
Wawali Arif Afandi bicara tanpa teks, mengungkapkan “How to Read, and How to Write”.Dulu dia melihat Surabaya zaman dulu adalah Wonokromo, yaitu karena membaca novel Pramudya Ananta Tur. Itulah kekurangan kita. Yaitu tidak ada buku sejarah yang ditulis, dan tidak banyak orang Surabaya sekarang yang membaca buku sejarah. Misalnya tentang Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Orang tahunya hanya Bung Tomo. Padahal kan banyak pejuang yang ikut jadi pahlawan dalam peristiwa itu? Buku Pak Dukut adalah sumbangan yang sangat berharga untuk mengenang, mempelajari, dan memberi pelajaran bagi generasi sekarang dan yang akan datang tentang sejarah Surabaya. Namun, buku Pak Dukut yang lalu-lalu dinilai terlalu berat. Berat narasinya, berat bukunya, dan berat harganya, sehingga pembacanya sangat terbatas. Buku yang diluncurkan hari ini sudah mencair lebih gampang dicapai makna bacaannya, maupun harganya. Mudah-mudahan laris.
Dalam sambutannya Sekjen Dewan Kota Surabaya Pinky Saptandari mengatakan Kota Surabaya merupakan kota besar sekaligus kota berusia tua yang lengkap, tampil sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, pembawa perubahan nilai-nilai sosial, penyedia ruang dan juga sebagai pemelihara warisan budaya yang telah ada sejak tempo doeloe. Sejarah perjalanan kota Surabaya sejak tempo doeloe sebagai kota dagang, kota budaya, ataupun kota pahlawan merupakan informasi yang menarik untuk diketahui, terutama untuk generasi penerus bangsa. Buku “Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe” garapan Dukut Imam Widodo menjadi referensi penting bagi mereka yang ingin mengenal kota Surabaya secara utuh sejak tempo doeloe. Tidak saja sejarah secara fisik, juga aspek sosial budaya hikayat tempo doeloe, menarik untuk diketahui dalam konteks pembangunan kota Surabaya kini dan masa depan. Sayangnya karena buku sejarah Kota Surabaya sangat jarang ditulis oleh bangsa kita, dan putra bangsa pun tidak punya budaya membaca buku, maka tentang perjuangan Dr. Soetomo (yang masih leluhur Bu Pinky) sebagai tokoh Kebangkitan Nasional Indonesia pun tidak banyak yang tahu. Di mana Gedung Nasional Indonesia yang dibangun oleh Parindra yang terletak di Surabaya pun generasi sekarang tidak tahu. Sangat sayang, tidak banyak orang seperti Pak Dukut Imam Widodo. Bu Pinky menutup sambutannya dengan parikan seperti yang dipantunkan oleh Cak Kartolo: Belanja duku ke pasar Kalasan. Banyak baca buku menambah wawasan. Ada cocak dan perkutut, terbang melesat ke angkasa raya, memang hebat Cak Dukut, mengangkat sejarah Kota Surabaya.
Sastrawan Budi Darma merasa sangat bahagia dengan adanya buku-buku sejarah garapan Dukut Imam Widodo. Merasa bersyukur bahwa ada bangsa kita yang mau dengan tekun menulis buku sejarah. Tempo dulu memang sudah ada sastrawan yang menulis tentang Surabaya, misalnya Idrus dengan novelnya “Surabaya” yang menceritakan perjuangan Arek-arek yang tidak berpengalaman perang melawan pasukan Inggris Oktober-November 1945, Idrus menyebut pejuang-pejuang itu sebagai cowboy, Dan waktu ini ada penulis asing yang sedang menulis buku tentang Surabaya, yaitu Ms. Judith M. Heimann (Amerika) tentang Surabaya tahun 1962, ketika kita sedang merebut Irian Jaya. Ya menerbitkan buku sejarah, itulah yang sangat kita perlukan. Hanya dengan menerbitkan buku sejarah peradaban itu bisa dipelajari, ditilik, dan dijadikan sumber penataan peradaban masa depan. Masyarakat membaca buku adalah masyarakat transisi, yang membawakan/aspirasi masa lalu ke inpirasi masa depan. Pak Dukut dengan rendah hati tidak mau disebut ahli sejarah. Menilik kedudukannya di masyarakat, dia tidak punya pendidikan akademi sejarah, memang patut dia menyebutkan dirinya sebagai “pemulung data sejarah”, bukan ahli sejarah. Tetapi apa yang telah diperbuat dengan buku-bukunya “Soerabaia Tempo Doeloe”, “Grissee Tempo Doeloe”, “Malang Tempo Doeloe” adalah suatu prestasi besar. Kecintaannya mengumpulkan data dan kemudian menyusunnya jadi buku, merupakan achievement yang sangat tinggi kualitasnya. Dukut, dalam bukunya yang diluncurkan sekarang ini, tidak saja mendata benda-benda mati seperti benda kuno di museum, melainkan dia menghidupkan kembali karakter-karakter yang dijumpai dalam tokoh masa lalu. Dengan kepiawainya sebagai penulis novel (Dukut juga telah menulis beberapa buku novel), Dukut memberikan narasi temuannya dengan lelucon-lelucon yang menggelitik, membuat pembacanya sering tersenyum atau bahkan tertawa bahak-bahak. Misalnya terbaca dalam bab “Monggo Dipun Sruput, Embong Mambeng, Ulang Taune Ratu Landa”, dan sebagainya. Buku “Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe” sangat cair, pembacanya tidak mengerutkan dahi, tidak membosankan.
Dalam sambutan lisan penutup acaranya Dukut menjelaskan, ia kelahiran Malang, pergi ke Surabaya bukan dengan cita-cita menulis buku atau menjadi novelis. Menjadi novelis karena kepepet. Sebenarnya ia ingin melukis. Tetapi pengalaman membuktikan bahwa dia menjadi penulis buku sejarah. Dia bersemangat mengumpulkan data sejarah selanjutnya berhasil menerbitkan buku seperti sekarang ini antara lain dipicu oleh teman-teman wartawan yang selalu mendukung kreativitasnya, antara lain Rudi Zaki, Imung Mulyanto, Lufti Subagyo, Arif Santosa, Kiki Irnawati. Dukut menghaturkan terima kasih kepada mereka.
Di antara jeda pergantian acara disela pengumuman door-prize, suatu acara yang tentu diminati pengunjung, dan kuis pertanyaan dengan hadiah langsung. Pertanyaan kuis yang dibagi dalam beberapa jeda, antara lain: “Siapakah nama kecil Sawunggaling? (Joko Berek); Jalan Basuki Rakhmat dulu namanya jalan apa? (Embong Kaliasin); Balai Pemuda dulu namanya apa? (Simpang Sociëteit); Jalan Walikota Mustajab, dulu namanya apa? (Ondomohen); Surabaya Plaza dulu namanya apa? (CBZ=Centrale Burgere Ziekenhuis = Rumah Sakit Umum Pusat); Jembatan Petekan dulu...yang membuat siapa? (namanya Velwerda-burg, insinyirnya tidak terjawab); Walikota Surabaya bangsa Indonesia yang pertama siapa? (banyak yang menyebut Dul Arnowo, tetapi yang benar adalah Rajamin Nasution).” Dari pertanyaan itu yang dijawab benar oleh orang muda hanyalah pertanyaan pertama, Sawunggaling nama kecilnya siapa? (Joko Berek). Sedang yang lain terjawab oleh orang yang lanjut usia. Jalan Basuki Rakhmat dan Balai Pemuda terjawab oleh Cak Kadaruslan (78 tahun), Surabaya Plaza dan Walikota Surabaya pertama oleh Suparto Brata (77 tahun). Jembatan Petekan, tidak ada yang bisa menjawab.
Buku “Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe” ini menurut pengakuan Dukut bukan buku sejarah, melainkan buku hiburan yang mencerdaskan. Tebalnya 825 halaman dicetak dalam 3 jilid dengan hiasan ratusan foto Surabaya tempo dulu. Pengerjaan buku tadi berlangsung selama 20 tahun.
Anda kepingin memiliki? Sudah banyak beredar di toko buku dan bahkan restoran atau hotel di Surabaya, Malang, Sidoarjo, Gresik. Atau kirim uang Rp 300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) ke: Dukut Imam Widodo, Jl. Wiguna Tengah IX/7 Surabaya 60294, Anda dapat satu set buku “Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe” (tiga jilid).
Suparto Brata
Surabaya, 24 Februari 2009.
Kisah itu diceritakan lisan di pentas, dengan gaya pantun atau bersyair “kidungan” atau “gandhangan” ludruk bahasa Surabaya. Ritme dan lirisnya pas. Misalnya bait awal ada kata Kamis, bait akhir ada kata menangis. Cara mendeklamasikan lancar, diiringi gamelan gendhing jula-juli. Yang punya kisah dan berpantun adalah Cak Kartolo, pemain ludruk warga Surabaya yang sangat populer saat ini. Digandhangkan di Gedung Cak Durasim Jl. Genteng Kali 85 Surabaya, Sabtu siang tanggal 21 Februari 2009.
Lanjutnya di pentas muncul pula Cak Sapari. Berdua berdialog dan juga berbuat lucu, penonton terbahak-bahak. “Mengapa kamu di sini? Diundang Pak Dukut, untuk peluncuran bukunya Hikayat Surabaya Tempo Dulu. Diberi honor berapa? Wah, kata orang Pak Dukut ini pelit, honornya sedikit. Lo, orangnya di sini, mari kita tanyakan, kita panggil naik pentas.”
Dukut Imam Widodo naik pentas, memakai celana dan jas hitam parlente.
“Anu, Pak. Kalau jasnya nanti mengkerut, berikan saja kepada saya, pas, Pak. Daripada dikatai Sapari katanya Pak Dukut pelit. Aku tahu kok, Pak Dukut tidak pelit. Ketemu di pasar Blawuran menyapa, Hei, Kartolo, dagangannya bagaimana? Kurang laku, Pak. Aku diberi Rp 50.000,00. Lain hari ketemu di pasar Keputran. Dagangan masih kurang laku, aku diberi Rp 100.000,00. Begitu kok dikatai pelit. Sebulan kemudian ketemu di pasar Wonokromo. Gimana dagangannya? Wah, lumayan laku, Pak. La kalau begitu kembalikan uangku dulu itu. Semuanya ditambah bunganya 15%....!”
Dukut Imam Widodo, penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe, Grissee Tempo Doeloe, Malang Tempo Doeloe, hari itu menyelenggarakan acara peluncuran bukunya yang baru, Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe. Acaranya ketat dengan peristiwa-peristiwa yang mempesona didukung teknis penyelenggaraan pentas yang profesional. Ada pengiring musik hidup yang melagukan lagu-lagu khas tentang Kota Surabaya, pembawa acaranya dua bahasa, Indonesia dan Inggris, latar pentasnya sorot tentang buku yang diluncurkan dan gambar Kota Surabaya lama, ada layar besar lain yang digunakan memutar video, pembicara penyambutnya: Wawali Surabaya Arif Afandi, Sekjen Dewan Kota Surabaya Pinky Saptandari, sastrawan Surabaya Budi Darma. Para pengunjung diikat sampai akhir acara dengan door-prize barang berharga dan berguna (misalnya sepeda) yang nomornya dapat prize ditaruh di kardus suguhan yang diterima pengunjung waktu mendaftar di buku tamu, dan juga ada kuis yang ditanyakan setiap ganti acara.
Acara pertama diputarkan video perkenalan siapa Dukut Imam Widodo, di mana lahir, apa yang dikerjakan. Di akhir acara nanti juga diputarkan video lagi, tentang kegigihan Dukut Imam Widodo menyusun buku-bukunya, mencari bahan, koleksi barang-barang aseli di Surabaya zaman dulu (misalnya kayu ukir hiasan kisi-kisi pintu rumah, ukirannya beda dengan ukiran di Solo atau Jogya, agak kasar tapi khas berjiwa dinamis Surabaya), uang zaman dulu, pengering tinta yang ada merknya Boekhandel van Dorp Soerabaia, pernik-pernik lain misalnya gelas minum dengan merk Hotel Oranje Toendjoengan Soerabaia, botol obat dengan merk Aphoteek Rathkam Soerabaia, dan kumpulan foto-foto. Baik narasi video, maupun teknik pemutarannya telah disiapkan dengan sebaik-baiknya, sehingga penonton seperti menonton TV saja, tidak terganggu kesalahan teknik maupun “menunggu waktu”.
Wawali Arif Afandi bicara tanpa teks, mengungkapkan “How to Read, and How to Write”.Dulu dia melihat Surabaya zaman dulu adalah Wonokromo, yaitu karena membaca novel Pramudya Ananta Tur. Itulah kekurangan kita. Yaitu tidak ada buku sejarah yang ditulis, dan tidak banyak orang Surabaya sekarang yang membaca buku sejarah. Misalnya tentang Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Orang tahunya hanya Bung Tomo. Padahal kan banyak pejuang yang ikut jadi pahlawan dalam peristiwa itu? Buku Pak Dukut adalah sumbangan yang sangat berharga untuk mengenang, mempelajari, dan memberi pelajaran bagi generasi sekarang dan yang akan datang tentang sejarah Surabaya. Namun, buku Pak Dukut yang lalu-lalu dinilai terlalu berat. Berat narasinya, berat bukunya, dan berat harganya, sehingga pembacanya sangat terbatas. Buku yang diluncurkan hari ini sudah mencair lebih gampang dicapai makna bacaannya, maupun harganya. Mudah-mudahan laris.
Dalam sambutannya Sekjen Dewan Kota Surabaya Pinky Saptandari mengatakan Kota Surabaya merupakan kota besar sekaligus kota berusia tua yang lengkap, tampil sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, pembawa perubahan nilai-nilai sosial, penyedia ruang dan juga sebagai pemelihara warisan budaya yang telah ada sejak tempo doeloe. Sejarah perjalanan kota Surabaya sejak tempo doeloe sebagai kota dagang, kota budaya, ataupun kota pahlawan merupakan informasi yang menarik untuk diketahui, terutama untuk generasi penerus bangsa. Buku “Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe” garapan Dukut Imam Widodo menjadi referensi penting bagi mereka yang ingin mengenal kota Surabaya secara utuh sejak tempo doeloe. Tidak saja sejarah secara fisik, juga aspek sosial budaya hikayat tempo doeloe, menarik untuk diketahui dalam konteks pembangunan kota Surabaya kini dan masa depan. Sayangnya karena buku sejarah Kota Surabaya sangat jarang ditulis oleh bangsa kita, dan putra bangsa pun tidak punya budaya membaca buku, maka tentang perjuangan Dr. Soetomo (yang masih leluhur Bu Pinky) sebagai tokoh Kebangkitan Nasional Indonesia pun tidak banyak yang tahu. Di mana Gedung Nasional Indonesia yang dibangun oleh Parindra yang terletak di Surabaya pun generasi sekarang tidak tahu. Sangat sayang, tidak banyak orang seperti Pak Dukut Imam Widodo. Bu Pinky menutup sambutannya dengan parikan seperti yang dipantunkan oleh Cak Kartolo: Belanja duku ke pasar Kalasan. Banyak baca buku menambah wawasan. Ada cocak dan perkutut, terbang melesat ke angkasa raya, memang hebat Cak Dukut, mengangkat sejarah Kota Surabaya.
Sastrawan Budi Darma merasa sangat bahagia dengan adanya buku-buku sejarah garapan Dukut Imam Widodo. Merasa bersyukur bahwa ada bangsa kita yang mau dengan tekun menulis buku sejarah. Tempo dulu memang sudah ada sastrawan yang menulis tentang Surabaya, misalnya Idrus dengan novelnya “Surabaya” yang menceritakan perjuangan Arek-arek yang tidak berpengalaman perang melawan pasukan Inggris Oktober-November 1945, Idrus menyebut pejuang-pejuang itu sebagai cowboy, Dan waktu ini ada penulis asing yang sedang menulis buku tentang Surabaya, yaitu Ms. Judith M. Heimann (Amerika) tentang Surabaya tahun 1962, ketika kita sedang merebut Irian Jaya. Ya menerbitkan buku sejarah, itulah yang sangat kita perlukan. Hanya dengan menerbitkan buku sejarah peradaban itu bisa dipelajari, ditilik, dan dijadikan sumber penataan peradaban masa depan. Masyarakat membaca buku adalah masyarakat transisi, yang membawakan/aspirasi masa lalu ke inpirasi masa depan. Pak Dukut dengan rendah hati tidak mau disebut ahli sejarah. Menilik kedudukannya di masyarakat, dia tidak punya pendidikan akademi sejarah, memang patut dia menyebutkan dirinya sebagai “pemulung data sejarah”, bukan ahli sejarah. Tetapi apa yang telah diperbuat dengan buku-bukunya “Soerabaia Tempo Doeloe”, “Grissee Tempo Doeloe”, “Malang Tempo Doeloe” adalah suatu prestasi besar. Kecintaannya mengumpulkan data dan kemudian menyusunnya jadi buku, merupakan achievement yang sangat tinggi kualitasnya. Dukut, dalam bukunya yang diluncurkan sekarang ini, tidak saja mendata benda-benda mati seperti benda kuno di museum, melainkan dia menghidupkan kembali karakter-karakter yang dijumpai dalam tokoh masa lalu. Dengan kepiawainya sebagai penulis novel (Dukut juga telah menulis beberapa buku novel), Dukut memberikan narasi temuannya dengan lelucon-lelucon yang menggelitik, membuat pembacanya sering tersenyum atau bahkan tertawa bahak-bahak. Misalnya terbaca dalam bab “Monggo Dipun Sruput, Embong Mambeng, Ulang Taune Ratu Landa”, dan sebagainya. Buku “Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe” sangat cair, pembacanya tidak mengerutkan dahi, tidak membosankan.
Dalam sambutan lisan penutup acaranya Dukut menjelaskan, ia kelahiran Malang, pergi ke Surabaya bukan dengan cita-cita menulis buku atau menjadi novelis. Menjadi novelis karena kepepet. Sebenarnya ia ingin melukis. Tetapi pengalaman membuktikan bahwa dia menjadi penulis buku sejarah. Dia bersemangat mengumpulkan data sejarah selanjutnya berhasil menerbitkan buku seperti sekarang ini antara lain dipicu oleh teman-teman wartawan yang selalu mendukung kreativitasnya, antara lain Rudi Zaki, Imung Mulyanto, Lufti Subagyo, Arif Santosa, Kiki Irnawati. Dukut menghaturkan terima kasih kepada mereka.
Di antara jeda pergantian acara disela pengumuman door-prize, suatu acara yang tentu diminati pengunjung, dan kuis pertanyaan dengan hadiah langsung. Pertanyaan kuis yang dibagi dalam beberapa jeda, antara lain: “Siapakah nama kecil Sawunggaling? (Joko Berek); Jalan Basuki Rakhmat dulu namanya jalan apa? (Embong Kaliasin); Balai Pemuda dulu namanya apa? (Simpang Sociëteit); Jalan Walikota Mustajab, dulu namanya apa? (Ondomohen); Surabaya Plaza dulu namanya apa? (CBZ=Centrale Burgere Ziekenhuis = Rumah Sakit Umum Pusat); Jembatan Petekan dulu...yang membuat siapa? (namanya Velwerda-burg, insinyirnya tidak terjawab); Walikota Surabaya bangsa Indonesia yang pertama siapa? (banyak yang menyebut Dul Arnowo, tetapi yang benar adalah Rajamin Nasution).” Dari pertanyaan itu yang dijawab benar oleh orang muda hanyalah pertanyaan pertama, Sawunggaling nama kecilnya siapa? (Joko Berek). Sedang yang lain terjawab oleh orang yang lanjut usia. Jalan Basuki Rakhmat dan Balai Pemuda terjawab oleh Cak Kadaruslan (78 tahun), Surabaya Plaza dan Walikota Surabaya pertama oleh Suparto Brata (77 tahun). Jembatan Petekan, tidak ada yang bisa menjawab.
Buku “Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe” ini menurut pengakuan Dukut bukan buku sejarah, melainkan buku hiburan yang mencerdaskan. Tebalnya 825 halaman dicetak dalam 3 jilid dengan hiasan ratusan foto Surabaya tempo dulu. Pengerjaan buku tadi berlangsung selama 20 tahun.
Anda kepingin memiliki? Sudah banyak beredar di toko buku dan bahkan restoran atau hotel di Surabaya, Malang, Sidoarjo, Gresik. Atau kirim uang Rp 300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) ke: Dukut Imam Widodo, Jl. Wiguna Tengah IX/7 Surabaya 60294, Anda dapat satu set buku “Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe” (tiga jilid).
Suparto Brata
Surabaya, 24 Februari 2009.
Tags:
Catatan





