Srawungku Karo Sastra Jawa

Home » » Dari lomba menulis essay hingga PELUNCURAN BUKU SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT

Dari lomba menulis essay hingga PELUNCURAN BUKU SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT

Di Jawa Pos awal Februari 2009, ada iklan: Lomba Menulis Essay SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT. Persyaratannya antara lain: maksimal 2.500 kata. Penyelenggara Charles98, Charles Honoris Center. Topik-topiknya: 1. Pengentasan kemiskinan, 2. Upaya mengurangi pengangguran, 3. Peningkatan kualitas sistem pendidikan, 4. Layanan kesehatan murah dan layak bagi masyarakat, 5. Pemberantasan korupsi. Saat diiklankan komputer saya sedang macet, pada hal saya sudah lama punya gagasan bagaimana peningkatan kualitas sistem pendidikan hingga dapat “mencerdaskan bangsa” yang sudah ketinggalan selama 25 abad dari bangsa-bangsa cerdas di dunia. Gagasan yang sangat perlu untuk diketahui dan sistemnya harus dilaksanakan oleh pejabat pendidikan penyelenggara negara. Suatu kesempatan besar kalau saya bisa mengikuti lomba itu yang langsung tertuju para wakil rakyat yang tentunya akan menjadi pejabat penyelenggara negara.
Kebetulan beberapa hari kemudian komputer saya selesai diperbaiki dan bisa dipakai. Dengan cepat saya menulis gagasan saya itu, dan sebelum hari akhir penerimaan naskah lomba sudah saya kirimkan ke alamat penyelenggara lomba.
Di Jawa Pos Sabtu 14 Maret 2009 terpampang iklan PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA MENULIS ESSAY. Nama saya terpampang sebagai salah satu dari 25 pemenang. Saya senang.


Setelah beberapa kali menerima telepon dari penyelenggara lomba perihal kepemenangan saya, baik menanyakan nomer HP, nama saya, alamat rumah maupun dari editor pencetakan buku, akhirnya saya menerima undangan (tertulis) bahwa tanggal 22 Maret 2009 jam 1500, buku SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT diluncurkan di Balai Andhika Hotel Majapahit Jl.Tunjungan 65 Surabaya, yang juga akan dihadiri oleh Soetrisno Bachir, (Ketua Umum Partai Amanat Nasional), Effendi Ghazali, Phd (Pakar Kumunikasi UI - Republik Mimpi). Beberapa kali sebelum hari H saya ditelepon menanyakan apa sudah terima undangan, apa pasti bisa hadir, dan di sana nanti saya menerima hadiah buku dan lain-lain sebagai pemenang. Saya merasa diperhatikan sungguh-sungguh, maka tentu saja saya usahakan bisa hadir. Lama sebelum pemberangkan saya dari rumah, saya sudah bersiap-siap mengenakan baju batik yang terbaik, pakai sepatu segala. Ini menghindari protes anak-anak dan menantu saya, karena ketika mau menghadiri talk show TV-One sebagai blogger tertua di Jakarta, saya tidak sangu sepatu, sehingga spontan dibelikan sepatu oleh anak saya. Saya berangkat ke Hotel Majapahit diantar mobil oleh Tera, anak perempuan saya.


Saya datang awal, dan duduk di deretan kursi paling belakang, di mana para wartawan pada berkumpul dan berceloteh. Kursi tengah sampai depan masih kosong. Jadi dengan duduk di belakang begitu saya dapat menyemak siapa saja yang datang. Tidak ada yang saya kenal, dan tidak ada yang mengenali saya. Baru menjelang acara dimulai, menyapa dan lalu duduk di samping saya Endang Irowati, wartawati majalah basa Jawa Jaya Baya yang aktif.

Setelah urut-urutan acara mulai, dari lantunan lagu-lagu oleh penyanyi cantik-cantik, kata pengantar oleh yang punya gawe Charles Honoris, Soetrisno Bachir (yang juga membacakan sajak), lalu proses penjurian yang diutarakan oleh Pak Suko Widodo (dosen Fisip Unair). Kata beliau, begitu bervariasinya peserta lomba yang masuk (sebanyak 538 naskah), ada dokter, ada pedagang ikan asin di pasar, naskahnya ditulis dengan tangan, ada yang alamatnya peserta tidak jelas pada hal naskahnya menang hingga mencari alamat peserta memerlukan kesibukan tersendiri, ada peserta yang tidak punya HP (hari gini tidak punya HP), ada yang dari luar Jawa, ada yang KTP-nya di Cirebon, ternyata dosen di Jogyakarta. Ada yang menulisnya terlalu amat panjang, pada hal syaratnya maksimal 2.500 kata. Melihat antusiasnya peserta lomba (surat untuk wakil rakyat), maka tergambar betapa kegelisahan rakyat saat ini ingin menyampaikan unek-uneknya kepada para wakil rakyat, yang kini sedang bercaleg bakal mewakili rakyat masa depan.


Setelah itu, maka pengumuman hasil lomba. Presenter yang mengumumkan selain menyebutkan nama, asal dan jatidirinya (misalnya dari sekolah mana di Malang), juga subjudul naskahnya. Pembawa acara juga mengomentari segalanya yang diketahui (sudah dicatat olehnya) apa saja yang aneh atau hebat dari jatidiri pemenang maupun karangannya. Hadirnya para pemenang (entah dari samping kiri atau kanan) pasti diiringi tepuk tangan oleh para hadirin. Begitu dipanggil, para pemenang diharapkan naik pentas di depan. Pengumumannya dari kategori pelajar (siswa SMA dan SMP Sederajad), lalu kategori Mahasiswa, dan akhirnya kategori Umum. Kategori Pelajar ada 8 orang, mahasiswa 8 orang, maka di pentas sudah berderet para pemenang memenuhi pentas. Untuk pemenang kategori umum (sebanyak 11 orang), karena pentas sudah penuh, ditempatkan di depan pentas, di lantai yang lebih rendah. Pengumuman akhir itu tidak saya semak, karena jantung saya sudah deg-degan, bahwa saya akan dipanggil. Dan ketika disebut nama saya pada urutan nomer 8 dari 11 orang tadi, saya merasa tepuk tangan hadirin begitu bergemuruh. Saya tidak mendengar komentar pembawa acara, namun dari tepuktangan yang saya rasa lebih riuh dari yang sebelumnya, para hadirin sudah banyak yang mengenal saya. Bukan hanya tepuk tangan dan komentar pembawa acara, tetapi juga celoteh hadirin saya dengar. Sehingga waktu saya maju ke depan, tidak tahu harus bertempat di mana, saya naik ke pentas di mana sudah penuh ditempati oleh pemenang kategori mahasiswa. Baru sadar ketika ada yang mengomentari, “Pak Parto agaknya mau kepingin jadi mahasiswa lagi”. Saya pun turun menempati urutan kategori umum. Setelah saya, dipanggil berikutnya Zoya Herawati. Dia seorang pengarang yang handal, buku novelnya antara lain Derak-derak, yang mengisahkan realita sejarahperistiwa G30S/PKI. Kami sangat akrab, karena sama-sama pengarang Surabaya saat ini.


Lalu dilaksanakan penyerahan hadiah, sekali gus dilakukan oleh Charles Honoris dan Soetrisno Bachir. Para nyamuk pers pada meliput ramai-ramai. Setelah itu, sebelum para pemenang dibubarkan, para tamu penting pada berjabatan tangan. Salah satu yang saya ingat ucapan Pak Effendi Ghazali, “Saya kok sering mendengar nama Anda, ya. Di mana?” Dan juga yang menyambut hangat adalah Pak Sidarta, beliau sangat hafal dengan nama saya. Selain mengucapkan selamat, beliau juga mengatakan sering menyumbuhkan nama saya dengan Dr. Suparto Wijaya, juga seorang intelektual Surabaya saat ini.


Setelah itu, maka ada acara kata-kata komentar baik dari undangan yang khusus (Effendi Ghazali), Suko Widodo sebagai pembawa acara, dan komentar hadirin baik mengenai acara peluncuran buku, suasana negeri menjelang pemilihan caleg, mau segalanya yang berhubungan dengan keadaan bangsa. Effendi Ghazali menceloteh tentang iklan caleg dan capres di televisi. Paling mengena memang iklan Parpol Garindra. Penonton TV tercekam dengan iklannya. Tapi masyarakat diingatkan, bahwa yang akan dipilih bukan pengiklan yang baik, tapi calon pemimpin bangsa yang baik. Dia juga mengharapkan bahwa orang umum bukan anggota parpol mau caleg, berani pasang iklan yang memberi informasi yang benar tentang karakter para caleg maupun capres sejujurnya. Dia mencontohkan iklan Obama melawan iklan capres saingannya. Obama mengatakan bahwa cridit pemilikan rumah bagi rakyat kecil dapat diperoleh secara mudah, tetapi dalam perjalanan memiliki rumah rakyat tidak mampu lagi memenuhi angsurannya sehingga bank merampas kembali rumah-rumah mereka. Sedang saingan Obama jadi capres, orang yang kaya raya, rumahnya 8 buah. Jangan memilih capres yang seperti itu karena orang seperti itu tidak mengerti kesulitan warga Amerika untuk memiliki rumah di kalangan masyarakat bawah.


Saya memang tidak begitu bisa mengikuti acara, karena setelah mengerti bahwa saya sebagai pemenang di lomba ini, banyak wartawan mewawancarani saya. Jadinya saya tidak cermat lagi mengikuti acara.


Jam 1800 acara selesai. Saya nyelonong keluar hotel, menapaki kaki lima yang indah Jalan Tunjungan, sepi karena banyak bangunan tidak diberdayakan, menuju ke ujung jalan sebelah selatan, di jembatan penyeberangan. Saya mencegat bemo (angkutan kota) lyn RT YKP di situ, yang akan membawa pulang saya ke Rungkut. Mengapa tidak di depan hotel, toh bemo RT juga lewat di sana. Tidak, sebab saat itu lampu kendaraan sudah menyala, dan mata saya silau, tidak bisa memilih jenis kendaraan yang mau saya tumbangi. Sedang kalau di dekat penyeberangan, biasanya bemo-bemo yang lewat sana pada berhenti ngetem mencari penumpang tambahan. Dengan begitu saya bisa jelas menitipriksa bemo lyn RT YKP yang ketika lewat pasti berhenti ngetem di situ, maskipun sejenak. Sepuluh menit di situ, akhirnya saya dapat bemo yang saya butuhkan.


Sampai di rumah, baru saya bukai buku SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT yang baru diluncurkan. Terutama tentu saja karanganku sendiri. Ternyata, tulisan saya di situ dipotong banyak sekali, sehingga apa yang saya curahkan gagasan saya untuk dibaca oleh para wakil rakyat, tidak tercapai maksudnya. Memang di antara telepon-telepon yang saya terima sebelum pencetakan buku, ada editor yang minta diperkenankan mengedit karangan saya, karena syaratnya 2.500 kata maksimum, karangan saya lebih dari 3.000 kata. Memang ketika mencurahkan tenaga dan pikiran untuk menulis itu saya tidak mengingat batasan banyaknya kata-kata, yang paling penting gagasan saya tercurahkan. Saya mempersilakan saja mengeditnya sesuai syarat-syaratnya lomba. Ternyata jadinya begini. Jadi, kalau para wakil rakyat terpilih nanti membaca buku ini, tentulah kurang bisa mencerna gagasanku mengenai meningkatkan kualitas sistem pendidikan putera bangsa agar menjadi cerdas dan tidak menerima nasibnya seperti fitrah kodratnya. Oleh karena itu, maka segera saja menulis blog ini. Dan memaparkan naskah asli yang saya kirimkan ke panitia lomba. Mudah-mudahan mereka yang telah memiliki dan membaca karangan saya di buku hijau muda SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT, maupun yang belum membaca tapi berhasil menjadi wakil rakyat, bisa membaca naskah saya yang utuh, sehingga bisa mencerna, memahami serta melaksanakan gagasan saya itu dengan membaca naskah asli saya yang saya pasang di www.supartobrata.com. Semoga sampai kepada wakil rakyat beneran.

Tags:

1 comments to "Dari lomba menulis essay hingga PELUNCURAN BUKU SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT"

  1. Kang Eko, says:

    selamat pak Brata
    semoga sukses selalu

Leave a comment