Buku Sastra Jawa anyar Suparto Brata 2015
Srawungku Karo Sastra Jawa
Iki buku kumpulan lelabete, lelakone, conto tulisane para jamhur sastra Jawa modern sing kasrawungan dening Suparto Brata. Kaya ta Winter (Kejawen 1864), M.Ng.Kramapawira (1874), S.Darsono 1930 bab Dedalane Guna Lawan Sekti. Dr.Soetomo (Panjebar Semangat Setu 2 September 1933). Polemik Dr.Soetomo vs S.Ajat, Hoofdredacteur DAGBLAD “EXPRES” 16 Des 1930 lan 1 Juli 1938. Lelabete Tajib Ermadi ngedegake Djojobojo ing Kediri 1945, mlebu Surabaya pas 10 November 1945, bisa nggawa mulih klise lan leter duweke NV.de Brantas sing nyithak Suara Asia jaman Nippon.Cerkake Soebagio IN (Pandji Poestaka 15 Maret 1944, Nyoewoen Pamit Kyai). Poerwadie Atmodihardjo (Dara Kapidara, Djaja Baja, April 1964), Sar BS (kondhang Sang Prajaka, Djaja Baja). M.Radjien, Basoeki Rachmat, Soenarno Sisworahardjo, Any Asmara, Widi Widayat, Satim Kadarjono, Totilawati Tjitrawasita, St.Iesmaniasita, Esmiet. Agustus 1966 Hardjono HP, Susilomurti, Handung Sudiyarsana madeg OPSD ing Sanggar Bambu Jogyakarta. Drs. Gendon Humardani ngelola PKJT ing Sasanamulya 1977-1980. Muncul para jamhur sastra Jawa: N.Sakdani Darmopamudjo, Poer Adhie Prawoto, Ruswandiyatmo, Sukardo Hadisukarno, Anjar Any, Moh. Nursahid Purnomo, Arswendo Atmowiloto, Sudharmo KD, Muryalelana, Tamsir AS. Bambang Widoyo SP. Kabeh lelabetan lan conto karyane kapacak ing buku iki. Regane Rp 70.000,-
Bisa dipundhut marang Rini T.Puspohardini, email: tripuspohardini@gmail.com HP +628157704313
Tags:
Catatan
IKA ST.LOUIS I 2013-2016
SAMBIL RAYAKAN VALENTINE DAN CAP GO
MEH
Saya
bertemu dengan Pak Ir.Mardijono Hadiwidjaja, MT, dosen Universitas Widya
Kartika Jl.Sutorejo Prima Utara II/1 Surabaya, ketika saya jadi narasumber
cerita Kho Ping Hoo di House of Sampoerna Surabaya, Sabtu malam 8 Februari
2014. Saya terucap bahwa pernah sekolah di SMAK St.Louis Surabaya, Pak
Mardijono menawari apa mau reuni dengan teman-teman SMAK St.Louis tanggal 14
Februari 2014 nanti. Sudah pernah saya dengar SMAK St.Louis mengadakan reuni
akbar, namun saya tidak sempat ikut reuni. Saya ingat salah seorang alumninya
Pak Freddy Istanto, yang kemudian saya sering bergaul dengan beliau karena
beliau sangat perhatian pada warisan budaya Surabaya. Saya cukup lama tinggal
di Surabaya, yaitu sejak lahir 1932, zaman Belanda, Jepang, Orde Baru 1950-an
sampai sekarang, cukup pengalaman hidup di Surabaya, maka segala hal mengenai
Kota Surabaya saya sangat berperhatian. Apalagi saya ditakdirkan suka menulis
buku, maka segala pengalamanku Insyallah akan saya tuliskan dalam buku. Dengan
Pak Freddy saya akrab karena warisan budaya Surabaya dan alumni St.Louis, kini
ditawari reuni sama Pak Mardijono, ya saya mau. Betapapun juga SMAK St.Louis
mencercahkan pengalaman yang amat terkenang-kenang. Saya masuk sebagai pelajar
SMAK St.Louis Jl.Dr.Sutomo 7 (sekarang Jalan Polisi Istimewa no. 7) Surabaya tahun 1954, umur saya 22 tahun,
muridnya laki-laki semua, rata-rata lulusan SMPK St.Joseph Joyoboyo, umur 14-15
tahunan, masih pakai celana pendek, cuma saya yang pakai celana panjang, karena
pulang sekolah jam 13.00 saya harus bekerja di Kantor Telegrap Jl.Niaga
(Veteran) 1 Surabaya, jam 13.00-19.00. Saya telisik sudah tidak ada teman saya
alumni SMAK St.Louis, tinggal seorang yang saya kenal, yaitu Pak Johan Silas,
dosen ITS. Bukan saja beliau teman sekelas saya di SMAK St.Louis, tetapi
beberapa kali kami berdua bekerja sama, karena beliau mendapat proyek mengenai
Kota Surabaya (Master Plan 2000, proyek Perbaikan Kampung Wr.Supratman), saya
jadi pegawai pemkot Kota Surabaya, menjadi pelayan masyarakat, jadi ya melayani
kebutuhan yang dikerjakan oleh Pak Johan Silas.
Hari
Kamis 13 Februari, saya dapat telepon dari Pak Mardijono apakah saya tetap mau
diajak menghadiri reuni SMAK St.Louis, Jumat 14 Februari besok, jam 18.00
sampai selesai. Saya mau, tapi kalau malam saya keberatan karena mata saya
sudah sulit sekali untuk melihat sinar lampu. Oh, nanti dijemput oleh Pak
Mardijono. Jadi saya siap.
Saya
ingat bahwa anak saya, Tatit Merapi Brata, dulu ya sekolah di St,Louis. Saya
tanya tahun berapa, siapa saja nama temannya, siapa saja guru-gurunya. Mas
Tatit memberi nama-nama: Susana Darwan, Tan Ing Hong, Suk Fang, Wilson, Benny,
Simonang mogi, Hendro Lukman. Guru-gurunya Pak Wahyu guru biologi, Pak Sugeng
guru olahraga.
Malam
hari Kamis 13 Februari itu, Gunung Kelud meletus hebat. Pagi harinya Kota
Surabaya matahari tidak tampak, di mana-mana terdapat debu lembut warna
keputihan. Sampai siang hari pun matahari tidak tampak. Dari TV dikabarkan
bahwa abu Gunung Kelud sampai di Madura, Bandara Juanda ditutup. Kabar-kabaran
dengan anak dan menantu di Jakarta, katanya juga gawat. Begitu juga Purworejo,
Candi Borobudur, Prambanan, mendapat hujan abu lebih hebat daripada Surabaya.
Saya jadi ragu, apa reuni SMAK St.Louis akan tetap dilaksanakan? Pendeknya saya
siap saja, apabila dijemput Pak Mardijono, ya saya siap. Jam 16.30 Pak
Mardijono telepon sedang dalam perjalanan di Jemur Handayani (lo, rumahnya di
mana?). Sebelum Pak Mardijono tiba, hujan turun. Wah, seger. Menjemput saya Pak
Mardijono bersama isterinya. Saya mengenakan baju pemberian dari Panitia
Bangkok World Book Capital 2013, biru muda lengan pendek dengan tulisan
putih-putih huruf Thailand, dan mengenakan destar sebagai identitas saya. Saya
berkata kepada Pak Mardijono, hanya mengenakan sandal, karena kalau pakai
sepatu terlalu susah bagi saya membungkuk-bungkuk. Pak Mardijono tidak
berkeberatan. Di mobil saya tanyakan acaranya apa saja. Pemberkatan dan
perkenalan pengurus Ikatan Alumni SMAK St.Louis angkatan baru 2013-2016,
sekalian perayaan Valentine dan Cap Go Meh. Selain cerita bahwa saya angkatan
1954-1957 ketika direkturnya Broeder Rosarius, anak saya Mas Tatit angkatan
1980, anak saya Tera juga di Widya Mandala, jurusan Sekretaris. Ketika Tera
masuk kuliah Widya Mandala, gedungnya di Jalan Dinoyo-Majapahit tembusan
belakang gedung SMAK St.Louis. Tetapi lulusnya gedungnya di Kalijudan. Kata Ibu
Mardijono, sekarang jurusan Sekretaris gedungnya juga kembali ke Dinoyo. Dan
ketika melewati Jalan Dinoyo, sepanjang jalan itu sudah penuh dengan
gedung-gedung bertingkat. Juga kampus Widya Mandala, sudah pepat dengan
bangunan gedung bertingkat.
Masuk
ke Jalan Dr.Sutomo yang sekarang namanya Jl.Polisi Istimewa, sudah sangat lain
dengan waktu saya sekolah di situ. Pojok jalan yang dulu ditempati aula untuk
olah raga maupun kreasi budaya, sudah jadi gedung bertingkat, kata Pak
Mardijono digunakan untuk kantor administrasi. Mobil terus masuk ke belakang,
di sana dulu memang lapangan olah raga, pantas kalau dijadikan tempat parkir
mobil, dengan perkembangan industri mobil sekarang ini. Namun sekarang selain
tanah lapang yang sudah kian menciut untuk parkir mobil, di sisi barat sudah
jadi gedung bertingkat dan tanah lapang untuk pesta perayaan hari itu, sudah
disiapkan kursi-kursi, tenda, meja absen tamu, panggung dan lain-lain. Ketika
kami datang ke meja absen sudah siap kamera foto membidik kepada saya, mestinya
sudah merasa aneh melihat wajah dan destar saya. Setelah absen, Pak Mardijono
mengajak saya duduk di tempat perayaan, yang waktu itu belum begitu banyak yang
datang. Namun tepat jam 18.00 ada pengumuman para pengurus baru IKA St.Louis
dianjurkan ke ruang gereja di sebelah barat tempat pesta, untuk misa penerimaan
pemberkatan pengukuhan kepengurusan. Saya semula tidak ikut saja, menjaga
kesakralan misa dan tidak mengganggu. Tapi banyak yang menganjurkan ikut
menonton saja, tidak apa-apa. Ada yang membisik kepada saya, “Saya juga Kong Hu
Cu, kok. Ayo, kita ikut saja.” Dan saya, tetap dibimbing oleh Pak Mardijono dan
isteri, menuju ke mimbar gereja. Ternyata tempatnya gedung yang di atas, kami
harus naik tangga dulu. Dan di sanalah ruangan gereja itu. Zaman saya sekolah
di St.Louis, tiap hari tertentu begitu kami para pelajar juga digiring
menghadiri misa di gereja, gereja besar (saya lupa namanya) yang menghadap ke
Jalan Dr.Sutomo, sebelah sisi kiri dari gedung sekolah. Kami, pelajar yang
bukan beragama Katholik, termasuk saya, juga ikut mendengarkan dan menonton
persembahyangan yang dilakukan umat Katholik para pelajar SMAK St.Louis di
sana. Sementara membimbing saya, Pak Mardijono memperkenalkan saya dengan para
alumni baik pelajar maupun guru. Antara lain dengan Pak Eddi Hariyanto, guru
agama. Berkelompok kami masuk ke ruang gereja, saya mencari tempat duduk di
tengah-tengah ruangan, itu pun sudah jauh di belakang kelompok mereka yang
harus ikut acara misa itu. Ibu Mardijono mendampingi saya duduk di samping
saya. Dengan mata tua saya, saya melihat di belakang altar terdapat patung
Gusti Yesus, dan tulisan yang terpisah-pisah di kiri-kanan patung: THE Lord – Hears / THE CRY – OF THE
POOP.
Acara
misa pemberkatan pengukuhan pengurus baru IKA St.Louis 2013-2016 berlangsung
seperti biasanya (yang sering sempat saya lihat acara upacara di gereja),
pemberkatan dilakukan oleh Rama Sigid. Sebenarnya yang melakukan Rama (saya
tidak dengar) yang lain, tapi Rama tersebut pagi-pagi hari tadi pergi ke
Kediri, melakukan pertolongan pemberkatan pada kaum pengungsi akibat meletusnya
Gunung Kelud, di mana Kota Kediri paling menderita. Rama Sigid menggantikan
tiba-tiba. Upacara misa banyak puja-puji doa, dan juga dinyanyikan. Antara lain
khodbah Rama Sigid mengatakan bahwa di dunia ini sebenarnya hanya dua profesi,
yaitu (1) profesi pendidik dan (2) profesi....(saya tidak dengar profesi yang
ke dua itu apa). Hanya Rama Sigid terus memberikan keterangan bahwa profesi
pendidik adalah guru, sedang profesi dokter, insinyir, hakim, pengusaha toko,
adalah termasuk golongan profesi yang kedua. Rama juga menasihati agar para
pengurus IKA bertindak bersih, ramah, jujur, berdisiplin. Tiap kali disela
bernyanyi, pemimpin koor penyanyi dengan semangat memberikan aba-aba. Kadang
disela yang masih muda. Saya sangat memperhatikan cara memimpin menyanyi tadi,
sangat bersemangat.
Selesai
upacara misa pemberkatan, turun ke bawah, di sana yang hadir sudah lebih
banyak. Dan dengan datangnya para pengikut upacara misa, maka pemandu acara pun
membacakan agenda acara, dan dimulai dengan permainan barongsei (perayaan
Imlik). Sementara itu saya minta tanya pada Pak Eddi Heriyanto, tadi profesi ke
dua yang diucapkan Rama Sigid apa. “Profesi satu pendidik, profesi dua bukan
pendidik. Profesi bukan pendidik boleh juga disebut profesi melayani
pendidikan,” jawab Pak Eddi Heriyanto.
Acara
pertama paduan suara dari St.Louis, dipimpin oleh bapak yang tadi mimpin koor
di misa pemberkatan, yaitu Pak Arie Soeprapto. Paduan suara ini katanya pernah
menang di forum Asia. Lalu para pengurus baru naik panggung, menggantikan paduan
suara. Menyanyikan lagu Indonesia Raya, dipimpin juga oleh Pak Arie. Lain
dengan kebiasaan, dipimpin oleh Pak Arie lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan
irama mars. Sigap. Saya ingat Bung Karno. Pernah membuka acara dengan memimpin nyanyi
lagu Indonesia Raya, suara awalnya lambat, Bung Karno menghentikan. Minta
hadirin menyanyikan dengan sigap dan tegap. Lalu Bung Karno memimpin nyanyi,
suara nyanyian jadi sigap. Sejak itu baru dipimpin Pak Arie ini saya ikut
menyanyi Indonesia Raya dengan suara sigap, mars. Setelah lagu Indonesia Raya,
tetap dipimpin oleh Pak Arie yang bersemangat, hadirin diharap menyanyikan mars
St.Louis. Ini lagu baru, karangan Pak Arie Soeprapto. Iramanya 4/4 J=F.
Kami pra siswa St.Louis siap berbakti.
Bekerja bersama-sama untuk nusa dan
bangsa.
Kami pra siswa St.Louis srentak bersatu
hati,
mengejar yang benar mengabdi yang suci,
untuk tanah air kami.
Reff:
St.Louis sumber ilmuku. St.Louis
pembimbingkul
Hiduplah St.Louis, majulah St.Louis,
St.Louis suburkanlah.
Harumkanlah namamu. Suburkanlah
baktimu.
Berbakti dengan sukarela hati, unmtuk
tanah airmu.
Kembali ke Reff.
Lalu
ketua kepengurusan baru IKA St.Louis memberikan sambutan, memperkenalkan nama,
angkatan (lulusan), jabatan kepengurusan, dan prestasi serta profesinya saat
ini. Ketua sendiri adalah Henry Hadi, 75.
Setelah
sambutan perkenalan diri, Pak Henry Hadi juga minta Pak Anton (Antonius
Muhartoyo, 75) untuk menceritakan kesuksesannya dalam memimpin IKA St.Louis
Regional Jakarta. Ya, IKA St.Louis selain Pusat di Surabaya memang sudah
berdiri Regional Jakarta. Sebetulnya hari itu yang datang dari Jakarta cukup
banyak, namun karena terjadinya Gunung Kelud meletus, penerbangan
Jakarta-Surabaya dihentikan. Sedang Pak Anton (President Director PT.Champion
Pacific Indonesia Tbk, Jl.Raya Bekasi Km 28,5 Bekasi Barat 17133. e-mail: antonius.muhartoyo@champion.co.id
) menceritakan suksesnya mengurusi IKA St.Louis Regional Jakarta. Salah satu
yang paling penting, penggunaan keuangan yang terhimpun pada pengurus, harus
jujur dan transparan. Sekarang Pak Anton adalah seorang dari sederet nama Dewan
penasihat Regional Jakarta. Ketua Umum: Ninik P.Nathan 84; Wakil Ketua Umum:
Ronald E.Stok 84; Sekretaris: Grace Irene Angweita 86; Bendahara: Daniel
S.Kamadjaja 84; dan Jojong Djurijanto 84.
Untuk
memperlancar gerak sosial kepengurusan IKA St.Louis 2013-2016, para alumni
diharap menyumbangkan dana. Ternyata secara spontan dari alumni 1981 (Soendoro)
menyumbang Rp 10 juta. Kemudian ditambah lagi oleh alumni 1975 Rp 16 juta. Dan
dari alumni 1974 Rp 20 juta. Dari alumni 1965, Pak Hidayat, tidak menyumbangkan
uang, melainkan bisa mencatatkan kegiatan IKA St.Louis ini dengan kegiatan di
Tugu Pahlawan Surabaya.
Selesai
sambutan begitu, maka kami dipersilakan merayakan Cap Go Meh, barongsei
bergerak lagi, beramah-tamah, makan hidangan yang telah disediakan didahului
dengan memotong tumpeng. Tentu saja lontong cap go meh pasti ada. Sementara itu
panggung diisi dengan berbagai pertunjukan, misalnya aksi barongsei, lagu-lagu
dengan penyanyi para alumni yang punya suara merdu, ada sepasang pemain biola
(maaf saya tidak dengar siapa mereka, tetapi juga pasti alumni) menyembahkan
beberapa lagu dengan gesekan biolanya berdua bersama. Dalam ramah tamah saya
sempat berbincang dengan alumni guru yang usianya lebih tua daripada saya, 84
tahun, saya lupa namanya, beliau sudah pakai tongkat penyangga berdiri. Lalu
bertemu juga dengan Pak Sugeng, guru olah raga yang disebut anak saya, alumni
1980. Sedang Pak Wahyu, guru biologi sudah wafat. Para alumni 1980 di daftar
hadir ada yang sedia datang, namun saya lihat tidak tulis absen. Pak Hidayat,
alumni 1965 yang tadi mau mencatatkan kegiatan IKA St.Louis dengan kegiatan di
Tugu Pahlawan Surabaya menegur saya, katanya pernah bertemu dengan saya di
acara pertemuan sejarah Surabaya. Ya, saya jawab saya memang berumur panjang
dan tetap tinggal di Surabaya, maka selalu ingin bersaksi dan mendengarkan seminar
atau diskusi tentang sejarah kota Surabaya. Akan saya tulis sebisa-bisa saya
untuk peninggalan kepada generasi muda. Oh, Pak Hidayat jadi tahu, waktu
pertemuan sejarah dulu itu saya orang terkenal pada pertemuan itu. Dan Pak
Hidayat sangat senang ternyata saya juga alumni St.Louis. Para alumni St.Louis
banyak yang berprestasi.
Akhir
acara, untuk penutupan, berhubung hari itu malam harinya tadi (14 Februari
2014) Gunung Kelud meletus dan menurut pemberitaan di TV Kota Kediri merupakan
kota yang paling banyak orang yang menderita, maka panitia mau mengumpulkan dana
spontan untuk disumbangkan kepada para pengungsi penderita di sana. Caranya,
ada selembar jaket milik seorang alumni yang punggung jaket telah dilukisi oleh
pemiliknya (alumni tadi) dijual secara lelang bergilir menambah harga, siapa
menambah harga terakhir dialah yang mendapatkan jaket itu. Dan jumlah harga
lelang yang terakhir akan dijadikan dana untuk disumbangkan kepada penderita
akibat meletusnya Gunung Kelud di Kota Kediri. Lelang tawar-menawar harga
berlangsung, akhirnya dana lelang jaket terkumpul Rp 37.100.000,- (tigapuluh
juta seratus ribu rupiah), penawar terakhir yang dapat jaket seorang alumni
seorang ibu yang sudah sepuh.
Lelang
seperti itu adalah cara lelang Amerika. Dulu waktu saya suka dansa-dansi, juga
ada lelang bergilir menambah harga seperti itu. Yang dilelang sebuah lagu yang
akan dinyanyikan seseorang, siapa penawar tambahan harga terakhir, ya dia yang
mendapat uangnya. Misalnya judul lagu yang akan dinyanyikan A Place in the Sun, akan dinyanyikan
oleh Bob Tutupoly. Perlu dicatat, Bob Tutupoly juga alumnus St.Louis. Tapi
waktu 1957-1960 itu dia menyanyi di pesta dansa umum yang sering
diselenggarakan tiap malam minggu di Kota Surabaya, tempatnya di Pemandian
Tegalsari, gedung Helendoorn Tunjungan, Gedung Utama THR Jl.Kusumabangsa,
gedung Pendidikan Umum (sekarang jadi gedung Sekolah Trimurti Jalan Pemuda). Para
hadirin pesta disuruh menawar secara lelang, penawar terakhir yang akan dapat uang
sejumlah akhir lelang. Ada hadirin yang menyiasati penawaran tambahan harga
lelang dengan amat lihay. Kalau penawar-penawar pemula menambah harga lelang
penyanyi Rp 100,- Rp 200,- Rp 300,-, si Lihay sebelum hitungan ke tiga
penutupan lelang menawar tambahan harga Rp 10,- Lelang berlanjut ditumpangi
penawar Rp 300,- Sebelum hitungan penutup si Lihay menambah lagi Rp 10,-.
Lelang berlanjut lagi. Akhirnya tidak ada lagi yang menawar harga, ditutup oleh
si Lihay yang jumlah uangnya yang dihabiskan hanya Rp 10,- X 5 = Rp 50,- Dia
yang menang dan dia yang mendapat sejumlah uang kumpulan lelang itu! Yang
menawar harga Rp 200,- Rp 300,- kalah.
Begitulah suasana dansa-dansi di Kota Surabaya waktu saya masih muda.
Penutup
acara pengukuhan pengurus IKA St.Louis 2013-2016 malam itupun kami merayakan
hari valentine, hari kasih sayang, yaitu musik organ tunggal melagukan irama
mars, para hadirin disuruh berpasangan (mencari dan memilih pasangan laki dan
perempuan di antara para peserta pesta) melakukan polonaise, yaitu berbaris
berpasangan laki-perempuan berputar-putar di ruang pesta. Saya juga ingat
pesta-pesta dansa tahun 1960-an. Sebelum pesta dansa dimulai, dilakukan
polonaise, musik pembukaan dansa lagunya mars, tiap orang mencari pasangan, meskipun
sama-sama belum saling kenal, asal gaet laki-laki-perempuan begitu saja, lalu berbaris
urut-urutan dari depan ke belakang, mengikuti bunyi musik, dan diiringi suara
pemandu acara dansa. Pemandu acara dansa mengatakan barisannya harus beriringan
mendekat, langkah ikut irama musik, ya para pasangan dansa mengikuti kata
pemandu acara. Pemandu acara bilang bahwa barisan pasangan nomer 1, 11, 21. 31
diwajibkan berhenti lalu berhadapan, kedua tangan bergandengan mencuat ke atas,
para barisan pasangan berikutnya diharapkan menerobos di bawah tangan pasangan
yang berhadapan, dan pasangan yang diberobosi tangannya (nomer 1, 11, 21, 31)
harus menyandera (dijala dalam rangkulan tangan) pasangan yang menerobos di
antara tangannya. Dipilih pasangan yang mana saja boleh, apa yang paling
cantik, yang paling muda, apa yang pasangannya tidak serasi. Jadi ada yang
lolos, dan meskipun diurutan belakang tapi terjaring kena jala tangan. Dan
dalam disandera tadi, harus ada hukuman. Misalnya pemandu acara memerintahkan
agar para tersandera diharuskan berciuman. Ada lagi pemandu acara mengatakan
bahwa kini barisan masuk gua hantu, para pasangan wanita ketakutan, harus
memeluk erat-erat pasangannya. Pemandu acara kreatif cari moment seperti itu. Kini
barisan menyeberangi sungai, supaya pakaiannya tidak basah para barisan harus
mencincingkan pakaiannya. Airnya mula-mula dalamnya selutut, tapi kemudian sepaha,
kaum rok harus mencincingkan roknya di atas paha. Lalu sungainya tambah dalam,
maka yang laki-laki (sambil tetap berbaris mengikuti irama musik) harus
mendukung atau menggendong yang perempuan. Kalau sudah begitu pesta jadi heboh
sekali. Akhir polonaise lagu irama mars diganti irama waltz, para pasangan
mulai berdansa irama waltz. Setelah itu maka pesta dansa berganti-ganti lagu,
dan kembali mendapatkan teman kencannya masing-masing. Boleh nanti pada suatu
waktu, selagi sedang berdansa dengan pasangan kencannya, para lelaki boleh
memilih menggantikan laki-laki yang sedang berdansa, sehingga perempuannya
berganti pasangan dengan laki-laki yang menghendakinya. Tiap kali musiknya
jeda, pemandu acara mengumumkan apa, misalnya mengomentari musik yang akan
dilagukan, atau siapa penyanyinya, atau mengadakan lomba dansa di antara
hadirin pedansa dalam iringan irama tango, dan lain-lain. Biasanya senja
awal-awal acara musiknya lagu-lagu yang lambat, Waltz, Slow-fox-trot,
Cha-cha-cha. Tapi tambah malam tambah hot. Dansanya pun begitu. Dan lewat
tengah malam akhirnya musik rock ‘n roll pun menggema, para pedansa tidak lagi
berpeluk-pelukan, melainkan berjingkrak, jengkelit, tingkahnya tidak karuan
tetapi tetap mengikuti irama rock-rock-rock everybody roll-roll-roll...!
Apakah perayaan hari kasih sayang
Valentine IKA St.Louis dengan awal berbaris polonaise tadi berakhir dengan
dansa rock ‘n roll, saya tidak tahu. Sebab waktu diumumkan akan dilakukan cari
pasangan dengan musik irama mars, Pak Mardijono dan isteri mengajak saya
pulang. Hari sudah malam. Saya pun diantar pulang.
Hidup St.Louis! Hidup alumninya,
terus berbakti kepada nusa dan bangsa Indonesia dengan kasih sayang! Bersih,
ramah, jujur, berdisiplin! (Suparto
Brata, 17 Februari 2014).
Tags:
Catatan
From: Osa Kurniawan Ilham
Date: 2013/9/18
Subject: Pertanyaan mengenai Surabaya 1945
To: sbrata@yahoo.com
Selamat malam Pak Suparto Brata,
Bersama ini saya memperkenalkan diri. Nama saya Osa Kurniawan Ilham, lulusan dari ITS Surabaya dan sekarang bekerja di Balikpapan Kalimantan Timur. Saya juga penulis buku Proklamasi: Sebuah Rekonstruksi yang baru saja diterbitkan bulan Juni lalu.
Pak Suparto Brata, saya adalah pembaca blog Bapak. Dulu, waktu masih kecil saya membaca tulisan-tulisan Bapak di Majalah Joyoboyo atau Penyebar Semangat yang sering dibeli oleh ayah saya di Kediri.
Selain bekerja di bidang teknik, saya punya ketertarikan terhadap bidang sejarah. Karena itu tulisan-tulisan Bapak mengenai Surabaya 1945 sangat menarik perhatian saya dan menjadi salah satu referensi untuk penelitian saya tentang Pertempuran Surabaya 1945.
Pak Suparto, saya mempunyai foto (terlampir) tentang konvoi Bung Karno yang duduk di atas kap mobil yang sedang berlari kencang. Ada yang bilang bahwa itu foto Bung Karno saat mengunjungi Surabaya di akhir Oktober 1945. Tapi saya masih ragu dengan keterangan tersebut karena:
1. Benarkah Bung Karno berkonvoi di atas kap mobil di tengah-tengah suasana pertempuran yang sedang bergolak? 2. Apakah Surabaya sudah mempunyai prajurit pasukan pengawal Presiden seperti yang ditunjukkan di foto? 3. Benarkah foto ini diambil di Surabaya? Siapakah perwira yang duduk di kap mobil di samping Bung Karno tersebut?
Apakah Pak Yasin?
Saya menanyakan hal ini kepada Pak Suparto Brata, siapa tahu Bapak memiliki pengetahuan terhadap foto ini dan peristiwa yang menjadi latar belakangnya.
Demikian Pak, terima kasih banyak atas kesediaan Bapak menanggapi email ini. Semoga Bapak selalu dikaruniai kesehatan sehingga bisa terus menulis untuk menjadi pengetahuan bagi kami yang muda-muda ini.
Salam,
Osa Kurniawan Ilham
2013/9/19 Suparto Brata
Mas Osa yth,
Betul kecurigaan Mas Osa. Saya juga curiga seperti itu. Kalau itu foto Oktober 1945 di Surabaya, apakah kita sudah punya pengawal presiden seperti itu? Sebab kehadiran Bung Karno 29-30 Oktober 1945 di Surabaya sedang gencarnya orang-orang Surabaya mengepung tempat-tempat yang diduduki oleh pasukan Mallaby. Kedatangan Bung Karno memang diminta oleh pihak Inggris (Mallaby) yang sudah terkepung. Karena itu waktu dikabarkan bahwa Bung Karno akan mendarat Bung Tomo memerintahkan kalau yang mendarat bukan Bung Karno harap ditembak mati saja. Dan ternyata yang dating Bung Karno bersama Bung Hatta dan Amir Syarifuddin (menteri penerangan). Dari lapangan terbang Perak, langsung dimasukkan mobil deengan bendera merah-putih, menyeberang kota dalam hujan peluru menuju ke rumah Residen Sudirman (di daerah Pacarkeling, timur kota). Tidak mungkin membawa mobilnya seperti di gambar. Setelah mengatur siasat di rumah Residen Sudirman, lalu berunding dengan Mallaby di rumah dinas residen (sekarang namanya Grahadi). Masih dalam ketegangan. Di Grahadi diumumkan cease fire (gencatan senjata). Tapi bagaimana menyiarkannya? Sebab studio radio Surabaya (jalan Simpang) sudah hancur dibakar pejuang Surabaya 28 Oktober. Maka diumumkan lewat radio pemberontakan rakyat Surabaya (radionya Bung Tomo) di Jalan Mawar 10 (Mallaby juga ikut ke sana). Namun pengumuman lewat radio pun tidak efektif sebab zaman itu orang yang punya radio tidak banyak. Pejuwang Surabaya pasti sedang berjuang mengepung pasukan Inggris di tempat-tempat yang tersisa, tidak mungkin mendengarkan radio. Jadi suasananya masih sangat tegang. Tidak mungkin Bung Karno bias santai seperti di foto. Lalu siapa di kap mobil bersama Bung Karno saya pun tidak kenal. Tapi yang punya senjata dan alat perang hari itu memang Polisi Istimewa Pak Jasin. Juga yang mbembakar Radio Surabaya ya anak buahnya Pak Jasin (Suwito dan 2 orang temannya, saya punya naskah ketikan Suwito). Gambar Pak Jasin zaman itu belum banyak dikenal umum, juga belum saya kenal. Saya ketemu Pak Jasin di rumahnya di Jakarta 1986, sudah pension. Jadi juga tidak tahu itu foto siapa. Dan melihat suasana foto tadi, yang mengantar wajah-wajahnya cerita, dan orang biasa (bukan anggota delegasi). Mestinya 29 Oktober 1945 Bung Karno dikerubungi anggota delegasi. Seperti terlihat foto 30 Oktober sore hari sesudah perundingan di Kantor Gubernur, konvoi mobil mau berangkat ke Jembatan Merah, jelas yang duduk di kap mobil Dr.Sugiri. (meskipun zaman itu sama dengan Pak Jasin, foto-foto wajah pejuang belum popular) namun foto-foto Pak Dr.Sugiri yang tubuhnya pendek, sudah sering saya lihat dan kenali. Begitu yang bias saya jawabkan, Mas Osa. Sama. Saya juga tidak bias terka foto itu kapan dan di mana dan siapa. Maaf.
Hormat saya, Suparto Brata.
From: Osa Kurniawan Ilham
To: sbrata@yahoo.com
Sent: Thursday, September 19, 2013 9:01 PM
Subject: Fwd: Fwd: Pertanyaan mengenai Surabaya 1945
Pak Suparto Brata Yang Terhormat,
Sungguh sebuah kehormatan bagi saya mendapat balasan email dari Bapak. Terima kasih atas komentar bapak yang sangat berguna ini. Saya membaca sebuah fakta bahwa memang Bung Karno melakukan konvoi untuk menemui para pemimpin laskar di front tapi tidak dengan berdiri di atas kap. Di salah satu front mobilnya sempat dicegat Soemarsono yang menyatakan keberatan dengan adamya gencatan senjata. Apakah Pak Suparto bisa mengkonfirmasi kebenaran cerita di atas?
Sekali lagi terima kasih banyak Pak Suparto Brata.
Salam,
Osa Kurniawan Ilham
Selamat malam Pak Suparto Brata,
Bersama ini saya memperkenalkan diri. Nama saya Osa Kurniawan Ilham, lulusan dari ITS Surabaya dan sekarang bekerja di Balikpapan Kalimantan Timur. Saya juga penulis buku Proklamasi: Sebuah Rekonstruksi yang baru saja diterbitkan bulan Juni lalu.
Pak Suparto Brata, saya adalah pembaca blog Bapak. Dulu, waktu masih kecil saya membaca tulisan-tulisan Bapak di Majalah Joyoboyo atau Penyebar Semangat yang sering dibeli oleh ayah saya di Kediri.
Selain bekerja di bidang teknik, saya punya ketertarikan terhadap bidang sejarah. Karena itu tulisan-tulisan Bapak mengenai Surabaya 1945 sangat menarik perhatian saya dan menjadi salah satu referensi untuk penelitian saya tentang Pertempuran Surabaya 1945.
Pak Suparto, saya mempunyai foto (terlampir) tentang konvoi Bung Karno yang duduk di atas kap mobil yang sedang berlari kencang. Ada yang bilang bahwa itu foto Bung Karno saat mengunjungi Surabaya di akhir Oktober 1945. Tapi saya masih ragu dengan keterangan tersebut karena:
1. Benarkah Bung Karno berkonvoi di atas kap mobil di tengah-tengah suasana pertempuran yang sedang bergolak? 2. Apakah Surabaya sudah mempunyai prajurit pasukan pengawal Presiden seperti yang ditunjukkan di foto? 3. Benarkah foto ini diambil di Surabaya? Siapakah perwira yang duduk di kap mobil di samping Bung Karno tersebut?
Apakah Pak Yasin?
Saya menanyakan hal ini kepada Pak Suparto Brata, siapa tahu Bapak memiliki pengetahuan terhadap foto ini dan peristiwa yang menjadi latar belakangnya.
Demikian Pak, terima kasih banyak atas kesediaan Bapak menanggapi email ini. Semoga Bapak selalu dikaruniai kesehatan sehingga bisa terus menulis untuk menjadi pengetahuan bagi kami yang muda-muda ini.
Salam,
Osa Kurniawan Ilham
2013/9/19 Suparto Brata
Mas Osa yth,
Betul kecurigaan Mas Osa. Saya juga curiga seperti itu. Kalau itu foto Oktober 1945 di Surabaya, apakah kita sudah punya pengawal presiden seperti itu? Sebab kehadiran Bung Karno 29-30 Oktober 1945 di Surabaya sedang gencarnya orang-orang Surabaya mengepung tempat-tempat yang diduduki oleh pasukan Mallaby. Kedatangan Bung Karno memang diminta oleh pihak Inggris (Mallaby) yang sudah terkepung. Karena itu waktu dikabarkan bahwa Bung Karno akan mendarat Bung Tomo memerintahkan kalau yang mendarat bukan Bung Karno harap ditembak mati saja. Dan ternyata yang dating Bung Karno bersama Bung Hatta dan Amir Syarifuddin (menteri penerangan). Dari lapangan terbang Perak, langsung dimasukkan mobil deengan bendera merah-putih, menyeberang kota dalam hujan peluru menuju ke rumah Residen Sudirman (di daerah Pacarkeling, timur kota). Tidak mungkin membawa mobilnya seperti di gambar. Setelah mengatur siasat di rumah Residen Sudirman, lalu berunding dengan Mallaby di rumah dinas residen (sekarang namanya Grahadi). Masih dalam ketegangan. Di Grahadi diumumkan cease fire (gencatan senjata). Tapi bagaimana menyiarkannya? Sebab studio radio Surabaya (jalan Simpang) sudah hancur dibakar pejuang Surabaya 28 Oktober. Maka diumumkan lewat radio pemberontakan rakyat Surabaya (radionya Bung Tomo) di Jalan Mawar 10 (Mallaby juga ikut ke sana). Namun pengumuman lewat radio pun tidak efektif sebab zaman itu orang yang punya radio tidak banyak. Pejuwang Surabaya pasti sedang berjuang mengepung pasukan Inggris di tempat-tempat yang tersisa, tidak mungkin mendengarkan radio. Jadi suasananya masih sangat tegang. Tidak mungkin Bung Karno bias santai seperti di foto. Lalu siapa di kap mobil bersama Bung Karno saya pun tidak kenal. Tapi yang punya senjata dan alat perang hari itu memang Polisi Istimewa Pak Jasin. Juga yang mbembakar Radio Surabaya ya anak buahnya Pak Jasin (Suwito dan 2 orang temannya, saya punya naskah ketikan Suwito). Gambar Pak Jasin zaman itu belum banyak dikenal umum, juga belum saya kenal. Saya ketemu Pak Jasin di rumahnya di Jakarta 1986, sudah pension. Jadi juga tidak tahu itu foto siapa. Dan melihat suasana foto tadi, yang mengantar wajah-wajahnya cerita, dan orang biasa (bukan anggota delegasi). Mestinya 29 Oktober 1945 Bung Karno dikerubungi anggota delegasi. Seperti terlihat foto 30 Oktober sore hari sesudah perundingan di Kantor Gubernur, konvoi mobil mau berangkat ke Jembatan Merah, jelas yang duduk di kap mobil Dr.Sugiri. (meskipun zaman itu sama dengan Pak Jasin, foto-foto wajah pejuang belum popular) namun foto-foto Pak Dr.Sugiri yang tubuhnya pendek, sudah sering saya lihat dan kenali. Begitu yang bias saya jawabkan, Mas Osa. Sama. Saya juga tidak bias terka foto itu kapan dan di mana dan siapa. Maaf.
Hormat saya, Suparto Brata.
From: Osa Kurniawan Ilham
To: sbrata@yahoo.com
Sent: Thursday, September 19, 2013 9:01 PM
Subject: Fwd: Fwd: Pertanyaan mengenai Surabaya 1945
Pak Suparto Brata Yang Terhormat,
Sungguh sebuah kehormatan bagi saya mendapat balasan email dari Bapak. Terima kasih atas komentar bapak yang sangat berguna ini. Saya membaca sebuah fakta bahwa memang Bung Karno melakukan konvoi untuk menemui para pemimpin laskar di front tapi tidak dengan berdiri di atas kap. Di salah satu front mobilnya sempat dicegat Soemarsono yang menyatakan keberatan dengan adamya gencatan senjata. Apakah Pak Suparto bisa mengkonfirmasi kebenaran cerita di atas?
Sekali lagi terima kasih banyak Pak Suparto Brata.
Salam,
Osa Kurniawan Ilham
Tags:
email
Rembulan Ndhuwur Blambang
Gabyah uyah, novel kuwi crita karangan utawa anggitan, dudu crita nyata. Beda karo pawarta. Manut teori sastra sing aku lali sapa sing ngukuhake, kepriyea wae wujude crita karangan kuwi pengalaman lan pikirane pengarange mesthi katut ing crita kang dikarang. Lan marga sumbere crita saka pengalamane, supaya critane urip, akeh-akehe padha tiru-tiru apa sing diweruhi didadekake pusere crita. Niru urip sing diweruhi, ndadekake sing maca ya ngapreasi tenan, critane dadi muyek kaya urip sing lagi dilakoni dening sing ngarang lan sing maca critane. Ing kono katiyasane pengarang ngolah crita diudi dadi komoditi (barang dagangan) payu apa ora dol-tinukune diapresiasi dening para maose, kang marakake pengarang dadi kondhang lan sugih.
Pengalamanku dadi pengarang sastra Jawa lan sregep macani buku utawa crita sastra Jawa, pancen nuduhake menawa teori sastra mau bener. Gebyah uyah bener, sanajan ana uga sing nyleweng; upamane gawe novel sing nyritakake crita nyata. Utawa gawe crita absurd, sing babar pisan ora “niru” saka pengalaman anggone meruhi kahanan sing nyata apa sing wis tau nyata kedadean ing jaman kawurine. Penylewengan kaya mengkono mau, ndadekake karyane beda karo sing lumrahe, fenomenal, bisa uga ndadekake karyane kawentar, utawa malah cures, ora didhemeni dening para maose. Sarana macani crita sastra Jawa saurute jamanku, aku nengeri yen crita sastra Jawa kuwi bener-bener nyritakake apa sing dialami dening pengarange. Sing pengarange menangi jaman penjajahan Landa, sing dicritakake kahanan jaman samana, sing menangi jaman perang kamardikan critane akeh prekara jaman perang kamardikan, sing menangi jaman reformasi critane akeh sing dijeblesake karo gambaran ing jaman reformasi. Daktengeri mengkono marga sastra Jawa sing dakwacani ora awujud buku, nanging awujud crita sing dipacak ing majalah utawa koran.
Dhisike aku seneng maca crita sing arupa buku (buku basa apa wae). Nanging sawise perang kamardikan, penerbitan buku anyar meh ora ana, apa maneh buku sastra Jawa. Koran lan majalah basa Indonesia lan basa daerah (Sundha, Jawa, Bali) tetep terbit, mula sapa sing kepengin maca pawarta lan crita sastra anane ya mung koran apa majalah. Crita sastra sawise perang kamardikan sidane akeh blabar kawat ing majalah apa koran. Klebu sastra daerah. Bisane maca pawarta lan susastra ya mung ana sing dipacak ing koran utawa majalah. Eloke dhek samana akeh banget sing dhemen maca buku sastra daerah, klebu sastra Jawa, bareng ora ana buku anyar sing terbit, crita sing dipacak ing koran apa majalah basa daerah ya dadi sasaran wacan sastra daerah, klebu sastra Jawa. Pengarang ya nulis ing kono, para maose sing karem sastra ya golek wacan ing kono.
Sejarah penerbitan koran lan majalah tutuge dikendhaleni dening pemerintah merga kertase kudu import, terbit kudu nganggo idi, sidane penerbitan koran lan majalah bahasa Indonesia saya bisa mekar-ngambar kanthi oleh bantuan subsidi kertas. Dene koran basa daerah rekasa mekar-ngambar, sidane sing bisa lestari terbit makmur ya mung ing majalah. Penerbitan buku uga isih rekasa, kertase uga isih kudu disubsidi dening pemerintah (liwat IKAPI). Penerbitan buku sastra uga isih langka banget.
Buku sastra daerah, klebu sastra Jawa wis langka banget. Kepriyea wae sing karem sastra Jawa parane nikmati, ngarang utawa maca, ya mung ing majalah. Nganti Pak Suripan Sadi Hutomo, gegedhuge sastra Jawa nalika samana, ngarani sastra Jawa kuwi ya sastra majalah.
Marga sastra Jawa kuwi ya sastra majalah, mula kepriyea kordhane pengarang lan para maose sastra Jawa, ya mung ana ing penerbitan majalah. Yen ora nulis ing majalah, pengarang sastra Jawa ya ora bisa moncer. Kala samana, daktengeri, para pengarang sing ngotot critane diterbitake dadi buku, bukune ora populer. Dene sing critane dipacak ing majalah, dadi populer. Contone Pak Soebagijo I.N. Bukune kumpulan crita cekak Sambodja (nuwunsewu, aku rada lali jenenge bukune) sing diterbitake dening Balai Pustaka Jakarta 1957, ora kondhang babar pisan. Pak SIN luwih kondhang kadidene pamomong Taman Putra ing rubrik majalah Panjebar Semangat. Lan nganti saprene, Pak SIN, yuswa 88 taun kliwat, tulisane bab pawarta tetep gencar dipacak ing majalah Jawa, nanging didadekake buku, bukune ora payu. Iki uga mretandhani yen ing bab memaca, bangsa kita ora dhemen maca buku.
Pengarang sastra Jawa sing karangane bisa dipacak ing majalah basa Jawa ping lima apa ping enem ngono wae, terus wae ngirimake karangane supaya dipacak ing majalah ngono kuwi. Karangane akeh, sing maca akeh, sastra Jawa sumringah, ora mati. Lan karangan crita sing dipacak ing majalah, racake crita sing “niru” kahanane jaman samono (sing diweruhi pengarang) lan banjur katrem dadi wacane para maos, marga kahanan kang mangkono uga diprangguli dening para maose nalika kuwi. Nalika jaman lagi wae mungkur perang kamardikan, akeh crita sing dikarang crita perjuwangan, marga pengarange nglakoni jaman kuwi, sing maos uga menangi jaman kuwi. Kahanan sastra Jawa kang kaya mengkono kuwi klakon nganti saprene. Ing jaman saiki kuwi kanca guru kangelan munggah pangkat kudu golek sertifikat barang, crita-crita sastrane ya akeh sing ngunder prekara nasibe dadi guru. Nganti antarane pawarta karo sastra kuwi dipacak padha lan bareng ing majalah-majalah basa Jawa. Sing awet dilakoni dening pengarang jaman samana lan para pamaose uga dilakoni dening pengarang jaman saiki sarta pamaose yakuwi bab katresnane jalu lan wanita. Kabeh-kabeh padha nandhang pangrasa kang kaya mengkono, mula prekara panandhang katresnan jalu lan wanita uga dadi kembange wacan sastra jaman kawuri, lan uga katulis jaman saiki.
Dadi wiwit jaman lagi wae rampung perang kamardikan nganti sahingga saprene, sastra Jawa kuwi ya tetep sastra majalah. Arepa kepriye wong yen kepengin maca sastra Jawa, utawa pengarang arep nyebar karyane, ora ana maneh papane sing mapan, ya ing majalah basa Jawa. Mangka sabenere, sastra kuwi buku. Buku bisa awet disimpen, diwaca maneh, bisa tumurun marang generasi tutuge. Lan liyane sastra Jawa, klebu sastra Indonesia, sastra kuwi buku. Sastra Indonesia sing biyen ya sastra majalah lan sastra koran, nerbitke buku kangelan, saiki wis balik kaya sastra dunia liyane, sastra kuwi buku. Dene sing dipacak ing koran, mung sampiran rubrik wae. Penulis novel wis kurang minate dipacak kadi crita sambung ing koran, luwih dhemen langsung diterbitake dadi buku. Koran dhewe ya pupus ora niyat macak novel kadi crita sinambung ing korane.
Novel sing dipacak ing majalah, yen wis terbit majalah sing anyar, critane sing dipacak ing majalah sing kepungkur ya wis tamat. Ora diwaca maneh. Tegese crita karya sastra majalah kuwi cendhak umure. Pengarang sastra Jawa sing biyen getol ngarang ing majalah nanging karangane ora diterbitake dadi buku, antara liya Susilomurti, Dwi Prasaja S, Hardjana HP, Basoeki Rachmat, Purwadhie Atmodihardjo, Satim Kadaryono, ya wis ora ana jenenge lan asilkaryane sing dikenang ing sejarah sastra Jawa. Angel dilacak. Dene Ranggawarsita, Mangkunegara IV, Senggono, St.Iesmaniasita, Esmiet, marga karangane diterbitake dadi buku, bukune isih ana sing nyimpen lan isih ana sing maca maneh. Jaman Orde Baru taun 1967 subsidi kertas minangka penerbitan koran lan majalah distop. Koran lan majalah sing uripe saka subsidi kertas, kukut. Nanging sawatara majalah sing menggrik uripe akeh peminate ing desa-desa, oleh subsidi saka pemerintah sing dijenengi “Koran Masuk Desa”. Majalah basa Jawa sing pandhemene akeh ing desa, bisa ajeg urip. Taun 1975 ana owah-owahan kurikulum pendidikan nasional, yakuwi wiwit TK nganti PT mung diajarake bahasa Indonesia. Dene wulangan sastra didadekake sawulangan karo Bahasa Indonesia. Nyinau Bahasa Indonesia wae mbutuhake wektu akeh, meksa muride ora jegos ngomong basa Indonesia sing apik. Wektune entek dienggo ngajar Bahasa Indonesia, maca sastra wis ora keduman wektu. Ajaran memaca buku wis ilang saka pamulangan sekolah. Nalika kurikulum iki ditrapake, akeh para guru basa Jawa sing protes. Meh kabeh pengarang sastra Jawa nalika samana guru, la basa Jawa ora diwulangake ing sekolah, ya padha ngaplo. Lan wiwit kuwi, marga ora ana piwulang sastra aliyas memaca buku, bangsa Indonesia ora duwe pakulinan memaca buku, nggegulang uripe mung sarana weruh lan krungu, kaya ta, ngrungokake radio, nonton TV, hubungan HP. Ora disaranani maca buku. Mangka wong pinter sadonya iki mesthi maca buku lan nulis buku. Dene weruh lan krungu kuwi kodrat, bocah umur 3 taun nonton TV wis ngreti critane, katrem, terus apa sing ditonton didadekake cagak piwulang uripe, ngukir karaktere. Kaya uripe wong tani biyen, sanajan buta huruf nandur pari bisa subur karana weruh lan krungu tangga teparone sing padha nandur pari. Nggegulang urip mung sarana weruh lan krungu kuwi padha karo manut takdir kodrate, tegese padha karo uripe wong primitif. Dadi yen wong Indonesia saiki iki uripe mung digegulang sarana weruh lan krungu: nonton TV thok, ngrungokake ajarane guru thok, tatap muka karo dosen thok, ngrungokake khodbah agama thok, lan ora disaranani memaca buku lan nulis buku, tegese uripe padha karo wong primitif. Sanajan wis cekel gawe ing tingkat masyarakat kang dhuwur, yen ora memaca buku lan nulis buku, karaktere ya padha karo wong primitif. Gampang tersinggung, dhemen nggoleki salahe wong liya, golek menange dhewe, seneng tindak kekerasan, tawuran, ngincim-incim patine golongan liya, demonstrasi anarkitis, angger akeh balane mesthi kudu menang sanajan ancur-ancuran.
Ora bisa diwewadi, nganti saprene, pengarang sastra Jawa lan para maos sastra Jawa, ajange ora bisa uwal saka majalah basa Jawa sing sumebar jaman saiki. Mangka para pelenggane majalah basa Jawa saya suda, gunggunge majalah sing terbit ya saya kurang. Ewa samono, pengarang sing nulis ing kono tetep bisa alih generasi anom, lan ora wegah-wegih ngarang crita dawa (susastra) ing majalah-majalah mau. Daksemak, kacihna pengarange ora crita maneh bab perang kamardikan, marga ora menangi jaman samana. Sing dialami jaman saiki bludage karem ngonsumsi narkoba, dhugem ing café, nonton sinetron TV, main HP lan sabanjure. Klebu buku novel Rembulan Ndhuwur Blumbang karangane Narko “Sodrun” Budiman. Teori sastrane isih tetep diugemi, sing diripta pengalaman sing disekseni, ditiru-tiru diplegake karo kahanan sing diweruhi. Anggone ngarang uga dipenake dipacak ing majalah, tegese ora nyempal karo niyate nggayuh komoditi kaya sing ditindakake para kanca pengarang sastra Jawa majalah jaman sawise perang kamardikan. Ana sing beda karo gegayuhan sing dilakoni para pengarang sastra Jawa majalah, yakuwi karangane sastra Jawane iki digawe (diterbitake) dadi buku. Ana gegayuhan mbalekake sing prenah yen sastra kuwi buku. Iki gegayuhan kang adiluhur, yakuwi nyusuli gumebyare susastra donya, yen sastra kuwi buku. Lan buku kuwi pigunane kudu diwaca. Lan yen maca buku kuwi bisa ngowahi takdir. Pakulinan maca buku bisa ngowahi karakter bangsa apa pribadi, ora tumingkah primitif maneh.
Mangka ing wektu iki, buku kuwi dudu barang komoditi sing laris, durung bisa nyugihake lan ngondhangake sing nggawe buku. Nanging Narko “Sodrun” Budiman nekad nerbitake novele dadi buku. Genah ora ngoyak bandha, nanging luwih dilambari karep supaya bangsa (Jawa) luwih nggayuh urip sarana maca buku, ben saora-orane karaktere owah ora primitif. La supaya bukune sing terbit iki bisa murakabi lan nggayuh sasaran (akeh sing maca), novel iki kudu nduweni aji-aji sing bisa narik kawigatene sing maca bukune. Apa? Yen nalika ngarang crita sing dientha supaya critane bisa dipacak ing majalah, si pengarang wis mbayangake sing bakal maca karangane para maos sing lengganan majalah basa Jawa. Dheweke saorane wis duwe aji-aji kepriye carane nengsemake para maos pelenggan majalah basa Jawa sing bakal macak karangane. Nanging yen diedharake dadi buku, pengarang kudu waskita apa wae sing dadi karemane wong maca buku. Kamangka dinane iki bangsa Indonesia iki gegulang uripe tanpa disaranani maca buku lan nulis buku. Gegulang uripe sing ya uga dadi cagak uripe mung sarana weruh lan krungu, kaya kodrate. Kajaba kawaskitan, merlokake man jadda wajada, jare wong Sepanyol: perlu teguh lan makarya nggantha. Narko “Sodrun” Budiman ketoke siyap tandanggawe rawe-rawe rantas malang-malang putung anggone wani nerbitake buku novele.
Ing uderane novel Rembulan Ndhuwur Blumbang, Narko “Sodrun” Budiman wis kanthi tlesih ngugemi ngripta crita diplegake karo apa sing disekseni. Kaluwihane antara liya, cara nyandrane kahanan beda karo para pengarang sastra Jawa majalah sing lagi ngetren jaman saiki. Ora nyandra nasibe guru, ora nyandra lelakon ing kampus, ora nyandra kasangsarane uripe wong Jawa, ora crita prekara katresnan para tumaruna. Sing dicandra uga urip ing jaman saiki, kaya sing akeh kagebyarake ing TV, yakuwi Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Marga beda sing dicandra, dadi ya beda karo sing umume digarap dening para pangarang sastra Jawa majalah wektu iki; lan yakuwi sing dadi kaluwihane novel iki. Sing dicritakake wong wis jejodhoan (Purnomo lan Anisah) lan wis duwe anak (Faza), nanging anggone ngrumat bale somah kok ora ayom ora ayem. Marga dipacak ing majalah, saka kawitane para maose ora ngreti, dadi ya terus wae nyemak crita sambunge. Yen mangreteni temane kaya ngono (KDRT) sadurunge maca critane, racake wong wis wegah maca bukune. Terus emoh tuku. Nanging ora papa, marga irahane novel pralambang kang narik kawigaten banget: Rembulan Ndhuwur Blumbang. Iki pancen dudu crita fantasi apa sensasi, sing adate disenengi wong sing seneng maca buku. Iki crita congkrehe wong wis jejodhoan ngrumat bale somah. Crita lumrah kedadean jaman saiki. Nanging Narko “Sodrun” Budiman carane nulis crita ora ndlujur lumrah wae. Wegig banget, crita lumrah dicritakake kanthi cara ora lumrah. Ora nganggo alur sing lugu. Luwih akeh dipedhot-pedhot sarana antawacana kang uga ora runtut, ndadekake para maose takon-takon tutuge lan gregeten. Critane nyeseg udreg, antawecanane nglendheh, sajak emoh melu udreg.
“Mulih! Ayo mulih!”. “Mas?”. “Ra usah takon! Ayo mulih!”. “Mas! Ana apa iki?”. “Mengko teka ngomah ae!” “Sareh sik ta, Nak. Ana rembug ya dirembug neng ngomah kene. Bapak lan simbok sing nyekseni.”. “Mboten, Pak! Kula gadhah griya piyambak. Prekara niki kedah dituntasne teng griya.”. “Ya wis, ning adhikmu aja dikasar lho ya?”. “Pak! Tututana bocah loro mau, Pak! Magrib-magrib akeh setan liwat.”. “Halaah, mbok bene ta, Mbokne! Aku arep adus.”. “Piye ta, Pak? Kok mentingne lek adus? Anis kae lho piye? Anisah, Paak!” Akeh alure crita digarap sarana antawecana sing ora dinuga kontektuale mengkono kuwi. Marakake pitakonan. Bareng ketemu katerangane sing maos dadi getem-getem lan gregeten.
Conto liya. Nalika Anisah ngreti yen Miko anggone jomblo nganti sapatemon ing lesehan kuwi marga dikhianati wong wadon aran Septiani, Anisah kepengin weruh kaya ngapa ta rupane Septiani, Miko saguh nuduhake. Yakuwi kebeneran wektu kuwi Septiani uga lagi mlebu kothak (warung) lesehan nomer 10. Anisah dijak mlaku bareng liwat kothak nomer 10, dikon nyawang wong wadon sing ana kothak nomer 10. Yakuwi Septiani, tilas yange Miko. Anisah nyawang, weruh Septiani sing pancene ayu tenan, Anisah rumangsa kalah ayu. Anisah ngawasake tenan, ngreti yen Septiani katone lagi meteng, weteng mblendhuke tansah dielus tangan kiwa. Anisah anggone ngawasake Septiani adreng banget, nganti ora nyawang sapa wong lanang sing ngancani Septiani mangan ing kono, mung katon mangan dhokoh nyuwili daging iwak guramih bakar bumbu kecap. Dene Miko nalika nglirik kothak nomer 10 sing diuwaske wong lanange, mesthine wong kuwi sing ngetengi Septiani. Beja banget bisa dadi bojone wong ayu Septiani.
Crita kuwi mung dipedhot samono, diterusake oncate Anisah lan Miko saka warung kono. Wis, mung ngono. Para maos ora dithoklehi apa wae sing ana ing kothak 10 mau. Nggregetake, kena apa kedadean kuwi dicritakake barang ing buku iki? Para maos selak ndang ngreti barese lan babare crita. Kira-kira ngene iki alur crita sing disebut suspense, foreshadowing, lan surprise. Kagarap kanthi wegig dening pengarang novel Rembulan Ndhuwur Blumbang iki. Akeh maneh pengarang ngetrapake tembung apa ukara sing jan pas, lan inovatif. Antara liya nalika Miko ketemu pandeng-pandengan maneh karo Anisah, saiki Anisah wis duwe anak Faza umur 5 taun. Manohara banget manut pamawase Miko. Ukara cekak aos, ning wis makili gambaran sapirang-pirang. Biyen prasaku yen dienggo pepadhane wong kuwi njupuk tokoh wayang purwa, ayune kaya Sembadra, ayune kaya Srikandhi. Ungkapan cekak aos kuwi genah ngapresiasi jaman saiki banget. Bebayane yen dadi buku, angel dibayangake dening para maose mbesuk 50 taun maneh. Nanging ora papa, kuwi nuduhake yen pengarange pancen setiti ngapresiasi jamane. Wong sing nduweni kasenengan maca buku lantip lan wicak kok manggihi tembung lan ukara ‘fenominal-kreatif-inovatif’ mengkono.
Mengkono antara liya keluwihane Narko “Sodrun” Budiman anggone nggarap novele Rembulan Ndhuwur Blumbang. Muga-muga bukune uga nyimpen wewadi surprise nglegakake ati tumrap para sing mundhut lan maca buku iki. Satemene, anggone para pengarang sastra Jawa majalah padha cancut makarya sastra Jawa diterbitake dadi buku, ngupadaya ndeleh prenahe sing sajatine yakuwi sastra kuwi buku, wis akeh sing nganyaki. Kanca-kanca pengarang saka Triwida, saka SSJY, saka PSJB, wis padha giyat nerbitake crita Jawa dadi buku. Luwih maneh bareng Ayip Rosidi mbudidaya paring bebana Rancagé (1994), yakuwi maringi bebana marang buku sastra Jawa sing terbit paling apik ing saben taune. Nanging saprene katone mbabaran buku mengkono kuwi durung kasil katekan ing sasarane sing tenan, yakuwi buku sastra Jawa dadi wacan gumrayah umum. Saben buku terbit banjur akeh sing tuku lan sing maca, durung kasil mengkono.
Ganjelan sing paling gedhe: Bangsa Indonesia ora duwe budaya maca buku lan nulis buku. Pendidikan Nasional Indonesia wiwit tumapake 1975 ora mbudhayakake putra bangsa maca buku lan nulis buku, lan saka TK nganti ing PT sing diajarake mung basa tunggal, basa Indonesia thok. Basa liyane merat saka pamulangan sekolahan. Sanajan akeh sing wis padha ngreti yen maca buku kuwi penting, maca buku kuwi padha karo nyawang cendhela donya, maca buku kuwi ngowahi takdir uripe dadi saya becik, mula penerbit Mizan, Gramedia, mrodhuksi buku saakeh-akehe, gawe toko buku saakeh-akehe, gawe perpustakaan saakeh-akehe, ing pamrih supaya bangsa Indonesia kanthi gampang bisa oleh buku lan maca buku, terus uripe dadi saya luwih becik, bebudene saya alus. Nanging nyatane, mudale buku ora timbang karo akehe putra bangsa sing kepengin maca buku. Saben-saben toko buku Gramedia ngobral bukune gedhen-gedhen, marga ora payu dol-dolane. Putra bangsa Indonesia wurung bèrbudi bawa laksana, marga ora maca buku, ora seneng maca buku. Aku tansah eling tulisane Multatuli, “Kita ora pesta panen pari ing sawah, nanging kita pesta panen pari sing kita tandur ing sawah”. Kuwi dakgambarake penerbitan buku dening Mizan, Gramedia, kepengin pesta bukune dituku lan diwaca dening putra bangsa, nanging bangsa kita katalompen, ora ‘nandur pari ing sawah’, ora memproduksi massal putra bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku. Yen pari ditandur ing sawah, yen putra bangsa supaya berbudaya maca buku lan nulis buku ya ing sekolahan, 12 taun wiwit anyake umur sekolah! Kurikulum Pendidikan Nasional sing kudu ngayahi pakaryan iki.
Muga-muga ganjelan pepalang dening Kurikulum Pendidikan Nasional kita kuwi ora ngurangi semangate para pengarang sastra Jawa anggone nerbitake buku. Marga sarana memaca buku lan nenulis buku kuwi ndadekake putra bangsa ora lelaku lan ajiwa primitif. Dadi pinter lan wicaksana. Ora mung sastra kuwi buku. Nanging uga ilmu kedhokteran kuwi buku. Ilmu tekhnik kuwi buku. Ilmu sejarah kuwi buku. Ilmu jiwa kuwi buku. Ilmu agama kuwi buku. Sarana maca buku lan nulis buku, putra bangsa dadi wong sing pinter lan wicak. Kabeh bisa migunani ngowahi takdir, yen sakathahe ngelmu kuwi ditulis lan diwaca ing buku. Nanging sadurunge ilmu-ilmu kuwi ditulis lan diwaca ing buku, paling dhisik putra bangsa dadi dhemen memaca buku ya ditepungake dhisik karo buku crita, buku dongeng, buku legenda, ora liya buku-buku kuwi ya buku sastra. Dhemen memaca buku kudu diwiwiti sarana memaca buku sastra. Aja mung sastra tunggal, nanging sastra basa apa wae uga aksara apa wae; Rolas taun ing sekolah cukup waktu kanggo mbudhayakake putra bangsa nyinaoni maneka basa, maneka aksara. Manut pengalaman pendhidhikan Walanda, umur-umur kawitan bocah sekolah, bisa dikulinakake sinau 8 basa, lan maneka warna gambar huruf. Mengko yen wis kulina maca maneka basa buku sastra lan maneka warna aksara, lagi wiwit maca buku ilmu-ilmu kedhokteran, teknik, lan liyane maneh ing pamulangan luhur. Ing pamulangan luhur, putra bangsa wis milih study kang cocog karo ganthane urip, lancar studyne marga disengkuyung kelantipane maca buku basa lan aksara apa wae. Sing milih study jurusan agama Islam ya wis lancar maca buku basa lan tulisan Arab, sing milih study teknologi Jepang ya wis lancar maca buku huruf Jepang.
Semangate Narko ‘Sodrun’ Budiman nerbitake critane dadi buku iki kudu terus diububi. Mengkono uga semangate para pengarang sastra Jawa liyane anggone mbudidaya nerbitake critane dadi buku. Sastra Jawa kuwi buku, diwaca lan ditulis kanggo wacan wong sadonya wiwit biyen nganti mbesuk. Muga penerbitan buku sastra Jawa enggal nggebyah lan gumrayah. Amin.
Surabaya, 1 November 2012. Suparto Brata.
Tags:
Artikel
(1). Kadurakan Ing Kidul Dringu, 192 halaman, harga Rp 35.000,-
Pakdhe Karwo, Gubernur Jawa Timur, selalu teringat cerita Kadurakan Ing Kidul Dringu ini ketika dibacanya sebagai cerita bersambung di majalah Panjebar Semangat tahun 1964. Waktu memperingati hari lahir Pancasila 1 Juni 2011 di Balai Pemuda Surabaya, Pakdhe Karwo mengumpulkan seluruh komponen pendidikan di Surabaya, yakni para Rektor, Dosen, mahasiswa perguruan tinggi di Surabaya untuk memantapkan bahwa Pancasila harus dihayati sebagai tiang budaya kehidupan bangsa Indonesia, para pakar pendidikan dan hadirin disuruh menanggapi ikut naik podium. Dan oleh Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS), Drs.Bonari Nabonenar Pak Suparto Brata supaya naik podium untuk memberi tanggapan, begitu Suparto Brata naik podium Pakdhe Karwo menyambutnya dengan santun, seraya berucap, “Kula inggih sampun maos cariyos Kadurakan Ing Kidul Dringu saking majalah PS”. Padahal ya baru saat itu Pakdhe Karwo bertemu dengan Pak Suparto Brata. Masih ingat ceritanya, masih ingat nama pengarangnya! Sangat berkesan dengan cerita Kadurakan Ing Kidul Dringu yang dimuat bersambung di majalah Panjebar Semangat 1964.
Kadurakan Ing Kidul Dringu adalah wiracerita atau epos, yakni cerita kepahlawanan dalam kancah peperangan. Ketika Belanda mengadakan agresi I menyerbu daerah Republik Indonesia bulan Juli 1947, banyak kota di Jawa Timur diduduki oleh tentara Belanda. Bangsa Indonesia apapun pekerjaannya di kota-kota yang diserbu pasukan Belanda, pada melarikan diri mengungsi keluar dari kotanya. Bukan hanya pemuda pejuangnya, juga ada yang membawa semua keluarganya. Tidak mau dijajah oleh Belanda. Para pemudanya mengungsi bukan saja menyelamatkan diri dari penyerbuan tentara Belanda, di dusun pengungsian mereka mengadakan kelompok perlawanan, malam hari mengadakan serangan bergerilya mengganggu ketertiban malam kota yang diduduki oleh tentara Belanda. Nah, seorang pemuda bernama Dulmanan pada suatu serangan malam ke kota terkena tembak peluru musuh perutnya. Tidak mati, tapi juga tidak hidup. Tidak sadar, tetapi selalu mengigau berkeluh-kesah atas sakitnya kena peluru. Dibawa ke desa pengungsian. Mau diapakan? Di sana jauh dokter. Paling ada dukun, tapi tidak bisa mengeluarkan peluru dari perut Dulmanan. Keluh kesahnya yang mendesis-desis tanpa henti membuat desa jadi resah. Harus dihentikan, tapi bagaimana? Akhirnya dengan melalui musyawarah para pemuda pejuang, diputuskan menyelesaikan masalah kerisauan mendengarkan desis keluhan orang yang terluka tembak tadi. Penyelesaian masalah dilaksanakan, tetapi ternyata tidak menyelesaikan masalah, melainkan menimbulkan masalah baru yang kian berlarut-larut. Cerita yang lain daripada yang kebanyakan!
(2). Jemini, 196 halaman, harga Rp 36.000,-
Pernah mendengar legenda Nyai Dasima? Pada zaman Hindia Belanda dahulu legenda Nyai Dasima sangat populer, menceritakan kehidupan perempuan pribumi Indonesia yang dijadikan ‘nyai’ atau ‘perempuan piaraan orang asing’ alias gundik yang dipiara orang Belanda. Diceritakan bagaimana perempuan Indonesia (Jawa) itu diperlakukan seperti itu, namun dia tabah melakoni hidup dan tetap memberikan tauladan yang baik sebagai seorang ibu. Legenda Nyai Dasima begitu masyur karena diterbitkan jadi buku, dan juga difilmkan, diproduksi sebagai film Jawa. Nah, buku Jemini ini juga berkisah tentang nasib perempuan Jawa yang dimunci atau dijadikan nyai, bukan saja oleh bangsa Belanda tetapi juga oleh bangsa Jawa sendiri yang jadi pejabat. Buku Jemini bukan hanya bercerita tentang nasib Jemini saja, melainkan juga berkisah tentang kehidupan keluarga Jawa yang bekerja sebagai prajurit Kumpeni. Hidup bersama anak-istri, ditempatkan di tangsi bersama keluarga prajurit lainnya, tiap kali atau tiap waktu bisa dipindah-pindah. Jemini salah seorang bocah perempuan kelahiran tangsi. Selanjutnya dibesarkan juga ikut orangtuanya, yang berpindah-pindah dari tangsi ke tangsi, dari kota ke kota lain. Pendidikannya tak terurus. Sejak kecil Jemini sudah kentara nakalnya, melebihi kenakalan anak-anak lain. Tidak mau hidup seperti jamaknya bocah tangsi. Namun menginjak remaja dipaksa dikawinkan dengan prajurit Jawa tangsi di tempatnya. Tidak mau. Malam pengantinan dia lari. Lanjutnya dia mau dimunci oleh prajurit Jawa tangsi yang berpangkat. Berbahagiakah dia? Dan apa hubungan Jemini dengan bangsa Belanda? Itulah perjuangan seorang perempuan tangsi Jemini.
(3) Kelangan Satang, 266 halaman, harga Rp 45.000,-
Kelangan Satang merupakan trilogi cerita seri Wiradi. Tokoh Wiradi muncul pertama bersamaan dengan pertama kalinya Suparto Brata menulis cerita dalam bahasa Jawa. Yaitu ketika tertarik dengan lomba menulis cerita bersambung (novel) di majalah Panjebar Semangat tahun 1958. Ia mengirimkan karangannya berjudul Kaum Republik. Ternyata menang nomer satu, mengalahkan pengarang terpopuler waktu itu Any Asmara (mendapat hadiah nomer 3 dengan cerita judul Putri Tirtagangga), dan Basoeki Rachmat (dengan nama samaran Andanawarih mendapat hadiah nomer 2 dengan cerita judul Mungsuh Sandi). Ketika cerita Kaum Republik dimuat bersambung di majalah Panjebar Semangat mulai 23 Januari 1960, oleh redaksi judulnya diganti Djiwa Republik. Dengan judul tadi Suparto Brata kurang setuju, sebab tokoh Wiradi yang ikut berjuang bergerilya zaman Perang Kemerdekaan Indonesia di Solo 1948 merupakan karakter yang lemah, ragu-ragu, tidak tegas. Bukan begitu Jiwa Republik Indonesia. Pengarang memilih orang berkarakter lemah Wiradi dijadikan tokoh dalam cerita triloginya Kelangan Satang, karena karakter tadi tercipta akibat pendidikan dari Ibunya. Ibunya selalu mencacat anak sulungnya (Wiradi), tidak dipercaya, kalah mendapat kasih-sayang dibanding-bandingkan dengan adik-adik Wiradi. Suatu pengingatan bahwa peranan seorang Ibu penting sekali mengukir karakter puteranya.
Pada cerita Kelangan Satang yang merupakan sindiran dari orang berperahu tetapi tidak memiliki dayung ( = satang, welah ), tokoh Wiradi hidup dengan penuh keraguan, mengalami hidup di Surabaya yang banyak penyakit kemasyarakatan (pelacuran) di Kota Buaya itu.
Buku bisa dipesan pada Penerbit Narasi, Jl. Cempaka Putih no. 8, Deresan CT, X, Kejayan, Yogyakarta 55283, Telp: (0274)555939, 556043, Fax (0274)546043.
E-mail: penerbitnarasi@yahoo.com Website: www.penerbit-narasi.com
Blog: www.penerbitnarasi.blogspot.com
Harga buku ditambah ongkos kirim.
Atau hubungi pengarangnya di e-mail: sbrata@yahoo.com
Tags:
BUKU NOVEL BAHASA JAWA KARANGAN SUPARTO BRATA 2012
Pakdhe
Karwo, Gubernur Jawa Timur, selalu teringat cerita Kadurakan Ing Kidul Dringu ini ketika dibacanya sebagai cerita
bersambung di majalah Panjebar Semangat tahun 1964. Waktu memperingati hari
lahir Pancasila 1 Juni 2011 di Balai Pemuda Surabaya, Pakdhe Karwo mengumpulkan
seluruh komponen pendidikan di Surabaya, yakni para Rektor, Dosen, mahasiswa
perguruan tinggi di Surabaya untuk memantapkan bahwa Pancasila harus dihayati
sebagai tiang budaya kehidupan bangsa Indonesia, para pakar pendidikan dan
hadirin disuruh menanggapi ikut naik podium. Dan oleh Ketua Paguyuban Pengarang
Sastra Jawa Surabaya (PPSJS), Drs.Bonari Nabonenar Pak Suparto Brata supaya
naik podium untuk memberi tanggapan, begitu Suparto Brata naik podium Pakdhe
Karwo menyambutnya dengan santun, seraya berucap, “Kula inggih sampun maos cariyos Kadurakan Ing Kidul Dringu saking
majalah PS”. Padahal ya baru saat itu Pakdhe Karwo bertemu dengan Pak
Suparto Brata. Masih ingat ceritanya, masih ingat nama pengarangnya! Sangat
berkesan dengan cerita Kadurakan Ing
Kidul Dringu yang dimuat bersambung di majalah Panjebar Semangat 1964.
Kadurakan Ing Kidul Dringu adalah
wiracerita atau epos, yakni cerita kepahlawanan dalam kancah peperangan. Ketika
Belanda mengadakan agresi I menyerbu daerah Republik Indonesia bulan Juli 1947,
banyak kota di Jawa Timur diduduki oleh tentara Belanda. Bangsa Indonesia
apapun pekerjaannya di kota-kota yang diserbu pasukan Belanda, pada melarikan
diri mengungsi keluar dari kotanya. Bukan hanya pemuda pejuangnya, juga ada
yang membawa semua keluarganya. Tidak mau dijajah oleh Belanda. Para pemudanya
mengungsi bukan saja menyelamatkan diri dari penyerbuan tentara Belanda, di
dusun pengungsian mereka mengadakan kelompok perlawanan, malam hari mengadakan
serangan bergerilya mengganggu ketertiban malam kota yang diduduki oleh tentara
Belanda. Nah, seorang pemuda bernama Dulmanan pada suatu serangan malam ke kota
terkena tembak peluru musuh perutnya. Tidak mati, tapi juga tidak hidup. Tidak
sadar, tetapi selalu mengigau berkeluh-kesah atas sakitnya kena peluru. Dibawa
ke desa pengungsian. Mau diapakan? Di sana jauh dokter. Paling ada dukun, tapi
tidak bisa mengeluarkan peluru dari perut Dulmanan. Keluh kesahnya yang
mendesis-desis tanpa henti membuat desa jadi resah. Harus dihentikan, tapi
bagaimana? Akhirnya dengan melalui musyawarah para pemuda pejuang, diputuskan
menyelesaikan masalah kerisauan mendengarkan desis keluhan orang yang terluka
tembak tadi. Penyelesaian masalah dilaksanakan, tetapi ternyata tidak
menyelesaikan masalah, melainkan menimbulkan masalah baru yang kian
berlarut-larut. Cerita yang lain daripada yang kebanyakan!
Pernah
mendengar legenda Nyai Dasima? Pada zaman Hindia Belanda dahulu legenda Nyai
Dasima sangat populer, menceritakan kehidupan perempuan pribumi Indonesia yang
dijadikan ‘nyai’ atau ‘perempuan piaraan orang asing’ alias
gundik yang dipiara orang Belanda. Diceritakan bagaimana perempuan Indonesia
(Jawa) itu diperlakukan seperti itu, namun dia tabah melakoni hidup dan tetap
memberikan tauladan yang baik sebagai seorang ibu. Legenda Nyai Dasima begitu
masyur karena diterbitkan jadi buku, dan juga difilmkan, diproduksi
sebagai film Jawa. Nah, buku Jemini ini
juga berkisah tentang nasib perempuan Jawa yang dimunci atau dijadikan nyai,
bukan saja oleh bangsa Belanda tetapi juga oleh bangsa Jawa sendiri yang jadi
pejabat. Buku Jemini bukan hanya bercerita tentang nasib Jemini saja, melainkan
juga berkisah tentang kehidupan keluarga Jawa yang bekerja sebagai prajurit
Kumpeni. Hidup bersama anak-istri, ditempatkan di tangsi bersama keluarga
prajurit lainnya, tiap kali atau tiap waktu bisa dipindah-pindah. Jemini salah
seorang bocah perempuan kelahiran tangsi. Selanjutnya dibesarkan juga ikut
orangtuanya, yang berpindah-pindah dari tangsi ke tangsi, dari kota ke kota
lain. Pendidikannya tak terurus. Sejak kecil Jemini sudah kentara nakalnya,
melebihi kenakalan anak-anak lain. Tidak mau hidup seperti jamaknya bocah
tangsi. Namun menginjak remaja dipaksa dikawinkan dengan prajurit Jawa tangsi
di tempatnya. Tidak mau. Malam pengantinan dia lari. Lanjutnya dia mau dimunci
oleh prajurit Jawa tangsi yang berpangkat. Berbahagiakah dia? Dan apa hubungan
Jemini dengan bangsa Belanda? Itulah perjuangan seorang perempuan tangsi
Jemini.
Kelangan Satang merupakan
trilogi cerita seri Wiradi. Tokoh Wiradi muncul pertama bersamaan dengan
pertama kalinya Suparto Brata menulis cerita dalam bahasa Jawa. Yaitu ketika
tertarik dengan lomba menulis cerita bersambung (novel) di majalah Panjebar
Semangat tahun 1958. Ia mengirimkan karangannya berjudul Kaum Republik. Ternyata menang nomer satu, mengalahkan pengarang
terpopuler waktu itu Any Asmara (mendapat hadiah nomer 3 dengan cerita judul Putri Tirtagangga), dan Basoeki Rachmat
(dengan nama samaran Andanawarih mendapat hadiah nomer 2 dengan cerita judul Mungsuh Sandi). Ketika cerita Kaum Republik dimuat bersambung di
majalah Panjebar Semangat mulai 23 Januari 1960, oleh redaksi judulnya diganti Djiwa Republik. Dengan judul tadi
Suparto Brata kurang setuju, sebab tokoh Wiradi yang ikut berjuang bergerilya
zaman Perang Kemerdekaan Indonesia di Solo 1948 merupakan karakter yang lemah,
ragu-ragu, tidak tegas. Bukan begitu Jiwa Republik Indonesia. Pengarang memilih
orang berkarakter lemah Wiradi dijadikan tokoh dalam cerita triloginya Kelangan Satang, karena karakter tadi
tercipta akibat pendidikan dari Ibunya. Ibunya selalu mencacat anak sulungnya
(Wiradi), tidak dipercaya, kalah mendapat kasih-sayang dibanding-bandingkan
dengan adik-adik Wiradi. Suatu pengingatan bahwa peranan seorang Ibu penting
sekali mengukir karakter puteranya.
Pada
cerita Kelangan Satang yang merupakan
sindiran dari orang berperahu tetapi tidak memiliki dayung ( = satang, welah ), tokoh Wiradi hidup dengan penuh keraguan,
mengalami hidup di Surabaya yang banyak penyakit kemasyarakatan (pelacuran) di
Kota Buaya itu.
Buku
bisa dipesan pada Penerbit Narasi, Jl. Cempaka Putih no. 8, Deresan CT, X,
Kejayan, Yogyakarta 55283, Telp: (0274)555939, 556043, Fax (0274)546043.
Harga
buku ditambah ongkos kirim.
Tags:
Artikel
SUPRIYADI

SUPRIYADI
Perancang Pemberontakan Tentara Peta Daidan Blitar
Disampaikan oleh:
Dukut Imam Widodo
Dukut Imam Widodo adalah penulis buku-buku: Soerabaia Tempo Doeloe, Malang Tempo Doeloe, Grissee Tempo Doeloe, Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe, Soerabaia In The Olden Days, Monggo Dipun Badhok, Sidoardjo Tempo Doeloe, The World Belongs to the Sower, dll.
Blitar, dinihari 14 Februari 1945:
Malam itu suasana mencekam dan gelap gulita.
Komandan Peleton, Syodancho Supriyadi menerima laporan dan lalu memberi perintah pada Komandan Regu Bundancho Sudarmo, “Hajime!” (mulai!).
Kemudian Sudarmo mendekati dua orang Prajurit Sukarela Giyuhei, yang bernama Katam dan Tukiman. Sejurus kemudian terdengarlah aba-aba yang keluar dari mulut Sudarmo, “Utet!!!” (tembak!!!).
Menggelegarlah peluru-peluru mortir yang diarahkan ke Hotel Sakura yang terletak di dalam kota. Tidak ada seorang opsir Jepangpun yang menjadi korban. Kerena para perwira Jepang yang tinggal di hotel itu sudah mengungsi ke tempat lain. Markas Kempeitai (Polisi Rahasia Jepang) yang terletak di samping ksatrian kemudian diserbu. Ternyata markas itu dalam keadaan kosong! Berarti memang benar, bahwa rencana pemberontakan itu telah bocor ke pihak Jepang!
Beberapa saat kemudian sesuai rencana semula, para pemberontak itu bergerak meninggalkan kota Blitar. Mereka terbagi dalam 4 group. Yang ke Utara dipimpin oleh Syudancho Sunarjo. Yang ke arah Timur dipimpin oleh Budancho Sunanto. Kedua rombongan itu nanti akan dipimpin langsung oleh Syudancho Supriyadi.
Para pemberontak yang menuju ke arah Barat, dipimpin oleh 3 orang Syudancho, yaitu Munadi, Suparyono dan S.Jono. Pasukan ini yang membawa peralatan perang yang paling lengkap.
Sedangkan rombongan terbesar adalah yang menuju ke arah Selatan, dipimpin oleh Syudaancho Dasrip dan Bundancho Imam Bakri dan Tarmudji.
Itulah awal mula meletusnya Pemberontakan Tentara Peta di Ksatrian Daidan Blitar. Para pelaku pemberontakan ini adalah para prajurit muda yang usianya rata-rata masih 22 tahun!
Pemberontakan Tentara Peta:
Pada tgl. 3 Oktober 1943, Panglima Tentara Keenambelas Kemaharajaan Jepang yang menduduki P.Jawa dan Madura, mengeluarkan Osamu Seirei (Peraturan Pemerintah Balatentara Jepang) No.44, tentang pembentukan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (Peta) di Tanah Jawa.
Pada akhir tahun 1943 mulailah pembentukan daidan (batalyon) Tentara Peta di seluruh Jawa, Madura dan Bali. Jadi di dalam setiap kabupaten terdapat satu daidan. Dan dalam satu karesidenan terdapat 2 sampai 5 daidan. Masing-masing daidan berdiri sendiri di bawah komando Balatentara Jepang setempat. Jadi satu sama lain tidak ada komunikasi sama sekali. Hal ini memang sengaja dibuat demikian oleh pihak Jepang. Hubungan antara daidan satu dengan yang lain, walaupun berada dalam satu karesidenan tidak mungkin terjadi. Perwira-perwira Indonesia yang ditempatkan di masing-masing daidan itu sebelumnya menerima pendidikan dalam Korps Latihan Perwira di Bogor. Di mana pelantikan mereka dilaksanakan di Lapangan Ikada Jakarta pada tanggal 8 Desember 1943.
Daidan Blitar:
Daidan (batalyon) Blitar adalah bagian dari Daidan Kediri. Tempatnya di bekas Gedung Mosvia di Desa Bendogerit, tapal batas Timur kota. Selama 3 bulan pertama, para prajurit Peta di Daidan Blitar menerima latihan dasar kemiliteran. Untuk itu mereka harus tinggal di asrama dengan sendirinya terpisah dari keluarganya.
Dari pagi hingga larut malam, mereka menjalani latihan fisik yang amat berat. Mereka juga tidak memperoleh cuti. Namun pada suatu ketika mereka diberi waktu untuk cuti. Dan para prajurit Peta itupun kembali ke kampung halamannya buat melepas rindu pada keluarganya.
Kala itulah mereka baru mengetahui bahwa semenjak Balatentara Dai Nippon menguasai negeeri ini, sesungguhnya kehidupan masyarakat menjadi sangat menderita, termasuk keluarga mereka sendiri.
Kelaparan dan kemelaratan melanda di mana-mana. Para petani dipaksa untuk menjual hasil panennya pada kumiai-kumiai (organisasi yang menangani pembelian padi) melebihi jatah yang telah disepakati. Akibatnya para petani sendiri tidak memiliki beras sama sekali. Banyak orang-orang desa yang hanya makan sekali dalam sehari, karena ketidakmampuan mereka. Hewan ternak dirampasi, katanya untuk tentara Peta, padahal kenyataannya untuk konsumsi makan serdadu Jepang. Sedangkan prajurit Peta hanya diberi makan grontol tanpa lauk apapun! Perhiasan milik pendudukpun dirampas, katanya untuk biaya perang. Anak-anak remaja perempuan diambil paksa dari orangtuanya. Katanya akan dikirim ke Tokyo untukdisekolahkan, namun nyatanya mereka dikirim ke Surabaya untuk dijadikan juugun ianfu (wanita penghibur) serdadu Jepang. Kemelaratan ada di mana-mana di seluruh negeri. Bahkan banyak penduduk yang hanya mengenakan celana dan baju dari.... bagor!
Kaum lelaki juga banyak yang dijadikan romusha. Mereka yang oleh pihak Jepang digembar-gemborkan sebagai pahlawan pekerja, sebenarnya tak lebih dari budak belian belaka. Puluhan ribu pendudukpun mati karena dijadikan romusha.....
Para anggota teentara Peta pun juga merasakan betapa rendahnya martabat mereka jika dibandingkan dengan tentara Jepang. Walaupun mereka berpangkat lebih tinggi, namun mereka dipaksa untuk memberi penghormatan pada serdadu Jepang yang pangkatnya lebih rendah. Prajurit Peta pun juga sering mendapat perlakuan yang tidak senonoh dari tentara Jepang.
Tekat Mulai Membulat:
Sementara itu Balatentara Jepang mengalami kekalahan di mana-mana dari Sekutu. Pihak Jepang mulai merayu rakyat negeri ini bahwa kelak Jepang akan memberikan kemerdekaan bagi Indonesia di kemudian hari.
Para anggota tentara Peta di Daidan Blitar akhirnya mendengar juga tentang janji kemerdekaan itu. Mereka sudah haus dan rindu akan kemerdekaan. Namun bukan kemerdekaan yang dijanjikan, tapi kemerdekaan yang telah bertahun-tahun diperjuangkan oleh bangsa Indonesia sendiri. Yang diinginkan oleh para anggota tentara Peta itu adalah kemerdekaan bagi pembebasan penderitaan rakyat, kemerdekaan bagi romusha, pembebasan dari penghinaan karena diperintah oleh orang asing. Kemerdekaan dari lahirnya martabat dan harga diri bangsa.
Ketika para anggota tentara Peta itu kembali ke Daidan Blitar, mereka telah menjadi orang lain! Dengan mata kepala sendiri mereka melihat betapa balatentara pendudukan Jepang telah menipu mereka mentah-mentah. Di desa-desa banyak kaum lelaki yang tewas karena dijadikan romusha. Akhirnya dipekerjakanlah romusha-romusha wanita. Ternyata para romusha wanitapun banyak yang tewas juga. Banyak anak-anak yang menjadi yatim piatu. Rasa amarah para anggota Daidan Blitar itu sudah mencapai puncaknya. Merekapun bertekad untuk berontak!
Ucapan “Bersiaplah!” yang semula hanya berupa bisik-bisik saja, lama kelamaan menjalar ke mana-mana.
Pemberontakan Mulai Dirancang:
Tidak ada kodumen tertulis yang dibuat oleh para anggota tentara Peta ketika menyusun rencana pemberontakan itu. Namun para anggota tentara Peta Daidan Blitar yang ikut dalam pemberontakan itu menyatakan bahwa Syodancho Supriyadi-lah yang menjadi penggagas dan pencetus pemberontakan itu. Di samping itu juga ada Syodancho Muradi, Budancho Halir Mangkudijaya dan Budancho Sunanto. Mereka semua adalah anak-anak muda yang usianya sekitar 22 tahun. Dan sebagai sesepuh diangkatlah Cudancho Dr.Ismangil.
Rapat pertama dilaksanakan di kamar tidur Halir Mangkudijaya. Rapat ini dihadiri oleh 6 Syodancho dan 6 Budancho. Rapat pertama kemudian disusul dengan rapat-rapat berikutnya. Dan akhirnya diambillah keputusan, di antaranya adalah:
· Mereka akan mengadakan perebutan senjata sebanyak-banyaknya dari balatentara Jepang.
· Setelah mengadakan perebutan senjata, mereka akan mengadakan konsolidasi antar-Daidan.
· Jika tidak bisa bertahan di dalam kota, mereka akan mengadakan perang gerilya di hutan-hutan.
· Mereka akan menghubungi para pemimpin bangsa, terutama Ir Soekarno agar segera mencetuskan kemerdekaan negeri ini.
Dalam kenyataannya, keputusan itu mengalami banyak perubahan. Permasalahan utama karena mereka tidak bisa mengadakan kontak dengan daidan-daidan lainnya. sementara itu ada kekhatiran bahwa rencana pemberontakan itu akan bocor ke pihak Kempeitai (Polisi Rahasia Jepang)
Menghadapi kenyataan ini Supriyadi dan kawan-kawannya menghadapi pilihan yang sulit:
· Mereka akan menunggu sampai pihak Jepang mengetahui rencana pemberontakan ini. Atau:
· Pemberontakan itu segera dilaksanakan, walaupun persiapan belum matang. Akhirnya diputuskanlah untuk melaksanakan alternative yang ke dua, dengan alasan:
· Mereka tidak mau ditangkap oleh Jepang dengan percuma.
· Jika mereka tertangkap, kemungkinan untuk hidup sangat kecil, mengingat keganasan Kempeitai.
· Dengan dikobarkannya pemberontakan itu, diharapkan daidan-daidan lain akan ikut pula berontak.
· Seluruh orang Jepang yang ditemui harus dibunuh! Tapi anggota tentara Peta dilarang keras membunuh bangsa sendiri, apapun alasannya.
Tanggal 13 Februari 1945 diadakan rapat yang terakhir. Supriyadi tidak ikut dalam rapat itu, ia menyembunyikan diri karena dicari-cari Kempeitai. Bahkan ketika pemberontakan sudah meletus, ia tidak bisa bergabung dengan pasukannya.....
Gagal:
Mengapa pemberontakan Peta Daidan Blitar ini gagal? Secara fisik gerakan pemberontakan ini memang gagal. Namun secara psikhologis pemberontakan ini membawa dampak luar biasa di seluruh daidan yang ada di Tanah Jawa dan Madura.
Berikut ini analisanya:
· Permasalahan utama kegagalan pemberontakan ini karena tidak adanya pimpinan tertinggi dalam tentara Peta yang bisa memberi komando. Para Daidancho (Komandan Batalyon) maupun Cudancho (Komandan Kompi) yang juga orang-orang Indonesia dan lebih senior, walaupun bersimpati dengan gerakan pemberontakan ini, namun mereka lebih suka bersikap hati-hati, sehingga tidak terkesan mendukung pemberontakan tersebut. Dengan begitu maka para Daidancho dan Cudancho tersebut di mata para Syudancho ke bawah dianggap sebagai orang-orang tua saja dan tidak revolusioner.
· Tidak ada komunikasi sama sekali antardaidan (batalyon) ketika pemberontakan Peta Daidan Blitar itu meletus. Sekiranya seluruh daidan di Tanah Jawa ini mengetahui dan kompak untuk berontak, tentu ceritanya akan lain.
· Harus diakui perencanaan pemberontakan ini kurang matang. Belum apa-apa rencana pemberontakan itu sudah terbongkar dan diketahui oleh Kempeitai. Dan ketika pemberontakan ini meletus, tidak ada satupun perwira Jepang yang menjadi korban, karena mereka semua telah bersembunyi ke tempat lain ketika Hotel Sakura dihujani mortir.
Penyelesaian Pemberontakan dan Hukuman Yang Ditimpakan:
Nyaris tidak ada perang frontal dalam pemberontakan itu. Walaupun pihak Jepang mengerahkan tank-tank dan juga panser, namun para pemberontak itu tidak diapa-apakan! Yang disuruh maju justru prajurit-prajurit Peta dari Kediri bersama Daidancho maupun para Cudancho-nya yang juga orang-orang Indonesia. Namun mereka tidak diperintahkan untuk merampas, tapi merayu para pemberontak itu agar mau menyerah dan kembali ke Ksatrian Daidan Blitar.
Namun begitu mereka masuk ke dalam ksatrian, langsung mereka ditangkap oleh Kempeitai dan dihajar habis-habisan.
Persidangan terhadap mereka adalah persidangan militer ala Jepang. Mereka tinggal mendengarkan segala macam tuduhan itu dan menjalani hukuman yang sudah diputuskan. Ada yang dihukum mati antara lain: Cudancho Dr.Ismangil, Syudancho Muradi, Suparyono, Budancho Sunanto, Halir dan Sudarmo.
Ada juga yang dihukum mulai dari 2 tahun hingga 15 tahun.
Beruntunglah bahwa Jepang akhirnya menyerah kalah pada Sekutu dan Indonesia pun merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Jadi merekapun dibebaskan dari hukuman.
Jadi Menteri:
Akan halnya Syodancho Supriyadi, sesudah Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, jadi kurang lebih 6 bulan setelah meletusnya pemberontakan yang gagal itu, oleh Presiden Soekarno ia diangkat sebagai Menteri Keamanan RI yang pertama pada tanggal 5 September 1945. Namun dalam pelantikan kabinet ia tidak hadir, begitu pula setelah itu.
Pemanggilan sudah berkali-kali dilakukan oleh Pemerintah Pusat di Jakarta melalui telegram, radiogram atau surat khusus yang dibawa ke Blitar.
Ke mana perginya Supriyadi? Ia seakan-akan lenyap bagai ditelan bumi.
Presiden Soekarno kemudian menunjuk Suyoadikusumo sebagai Menteri Keamanan RI yang kedua. Sulyoadikusumo sebelumnya pernah menjabat sebagai Daidancho (Komandan Batalyon) Peta di Madiun. Ia termasuk orang yang paling tidak disukai Jepang karena bersimpati dengan Pemberontakan Peta Blitar.
Sulyoadikusumo kemudian diganti oleh Soedirman sebagai Panglima Besar TKR berpangkat Jenderal. Salah satu alasannya adalah karena keberhasilan Soedirman ketika merebut persenjataan Jepang di Purwqokerto, serta keberhasilan Soedirman mengusir tentara Inggris di Ambarawa.
Ke mana Supriyadi?
Ada beberapa pendapat mengenai hilangnya Supriyadi:
· Sebenarnya Supriyadi mati dibunuh oleh Jepang secara diam-diam dan mayatnyapun dilenyapkan! Pembunuhan terhadap Supriyadi ini benar-benar dirahasiakan, agar supaya tidak menimbulkan reaksi rakyat terhadap balatentara Jepang. Apalagi kemudian sampai ada pemujaan terhadap dirinya sebagai pahlawan.
· Karena semasa hidupnya ia dikenal nglakoni kehidupan spiritual Jawa, seperti semedi maka disebarkan desas-desus bahwa Supriyadi telah mukswa.Dalam kehidupan masyarakat Jawa (terutama di Karesidenan Kediri) memang ada keyakinan, bahwa seseorang yang memiliki kelebihan dan kesaktian tertentu bisa mukswa, yang maksudnya adalah melenyapkan dirinya sendiri, tapi bukan bunuh diri.
· Sejak saat itu (mulai sekitar tahun 1960-an) sudah b eberapa kali ada orang yang ngaku-aku bahwa dirinya adalah Supriyadi! Namun setelah dikonfrontir dengan para bekas anggota tentara Peta Blitar, mereka tidak mengakui itu Supriyadi yang dikenalnya di Daidan Peta Blitar.
Demikian sekelumit cerita tentang Supriyadi, perancang pemberontakan tentara Peta Daidan Blitar, yang pemberontakannya dicetuskan sekitar 6 bulan sebelum Kemerdekaan NKRI diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945. Semoga cerita ini bisa menambah spirit para generasi emas 100 tahun NKRI untuk memakmurkan NKRI masa kini dan masa depan. Amin.
Tags:
Catatan



.jpg)
%2B(1).jpg)











