Mahligai di Ufuk Timur

Selesai sudah proyek 2 buku Trilogi Gadis Tangsi sekaligus selesai sudah peran seorang Teyi dalam novel budaya Jawa ini. Diluar pakem yang kuperkirakan, tak seperti Kuartet Pulau Buru-nya Pramoedya Ananta Tour, Trilogi Gadis Tangsi ini ditutup dengan happy ending. Satu orang tokoh pejuang nasional atau pejuang kemerdekaan lebih tepatnya kukira masuk pula dalam novel terakhir ini, memang Suparto Brata menyebut tokoh tersebut dengan nama berbeda namun kukira maksudnya tidak salah adalah Jenderal Ahmad Yani, mengingat settingnya di Purworejo; kalau tidak salah adalah tempat kelahiran sang jenderal pahlawan revolusi itu dan dalam novel ini tercatat berlatar masa pra kemerdekaan ketika beliau masih aktif di PETA.
"Mahligai di Ufuk Timur" judul ini begitu pas menggambarkan isi dari akhir buku trilogi ini. Cita-cita seorang Teyi yang telah berhasil menjadi Den Rara Teyi membangun kokohnya Kerajaan Raminem untuk mencari jodohnya, menemukan cintanya, melanjutkan pemikiran besarnya serta menepati janjinya bertemu Ndara Mas Kus Bandarkum di Istana Jayaningratan Surakarta. Kisah percintaan dalamhingar bingar rindu suasana pertemuan dan diskusi panjang mengungkap tuntas kebudayaan bangsa Jawa secara gamblang. Cerita ini berlatar tahun 1940-an ketika pendudukan bangsa Jepang dimana rakyat Jawa hidup dalam masa kekurangan sandang dan kemunduran budaya, diperparah lagi warisan Belanda yang tidak membekaskan gores pendidikan baca tulis sama sekali bagi rakyat kebanyakan. Budaya unggah-ungguh Keraton Surakarta yang begitu adiluhung pun mulai tersapu, oleh karena itu persatuan kedua insan ini dinyatakan sebagai perkawinan di awal zaman laksana terbitnya matahari di ufuk timur. Budaya Jawa yang harus diselamatkan kelestariannya dengan munculnya zaman modern, sehingga mau tidak mau harus segera bertindak memberikan pendidikan baca tulis pada generasi itu sebanyak-banyaknya demi lestarinya budaya adiluhung bangsa Jawa dan mempersiapkan diri menjadi bangsa Indonesia yang merdeka.
Roman "bumbu" cerita yang menceritakan pergaulan dan keadaan umum masyarakat desa jawa saat itu tetap begitu mengalir enak diikuti dalam buku terakhir ini. Menyenangkan juga ada novel yang akhirnya menghukum yang jahat dan mengangkat derajad yang benar seperti karya Suparto Brata ini. Tanpa mengurangi sisi intelektualitasnya, buku ini memang buku cerita murni yang begitu lugas apa adanya, tebal tapi ringan, ceritanya ringan tapi muatan moralnya begitu dalam. Pesan moral yang dilesakkan Suparto Brata dalam karya ini begitu sederhana, mudah dimengerti dan sangat luar biasa terutama bagi orang Jawa asli seperti saya.
Pesan moral yang saya tangkap "sopo nandur kebecikan, bakal ngunduh wohing pekerti." Teruslah berjuang, bekerja keraslah, ringan tanganlah terhadap sesama, hapuslah kata dendam dalam hati, belajarlah terus menuju tiap tingkatan kepintaran baru dalam hidup dan jangan lupa luaskan jejaring kebaikan....
Diambil dari "Evolusi dan Revolusi Manusia"
Gadis Tangsi

“…..Trukbyangane……apik tenan critane….”! Gadis Tangsi adalah Novel seri ke-1 dari trilogi yang ditulis oleh Suparto Brata. Cerita dalam buku ini memang ada dalam keseharian kita. Penulis menuangkan cerita ini dalam novel dengan bahasa yang sangat lugas – kromo inggil, makian dalam bahasa jawa ‘ngoko’, bahkan dalam bahasa Belanda – yang dengan mudah kita mengerti. Dengan setting cerita jama pendudukan Belanda di Indonesia dengan mengambil lokasi di daerah Sumatera (Medan), pikiran saya ikut terbawa ketika membaca novel ini.
Teyi, si gadis tangsi, hidup dalam kekerasan disiplin si-mbok, bukan dalam kekerasan hidup di tangsi itu sendiri. Hidup dalam keluarga yang sangat sederhana dalam rumah kecil dilingkungan tangsi; dengan seorang bapak dengan pangkat sersan yang ikut kumpeni dan si-mbok yang punya obsesi jadi orang kaya raya hanya karena ingin menunjukkan pada ipar-nya yang telah melecehkan. Setiap pagi terbangun karena “kebocoran” ompol adiknya yang tidur di ambin.Teyi kecil sudah harus bangun pagi disaat teman-teman sebayanya masih terlelap; dia harus membantu si mbok berjualan pisang goreng keliling tangsi disaat teman-teman sebayanya bermain; dan dia akan merasa terbebas jika bisa ikut dalam grup mencari kutu sambil bergosip.
Teyi dibesarkan dalam ke-nyinyiran si mbok; dengan batasan-batasan yang dia sendiri sesungguhnya tidak mengerti. Dididik dalam aturan sopan-santun yang menurut si mbok benar. Disaat teman-temannya sudah mengerti apa itu “menyukai” dan “disukai” lawan jenis, dia bahkan mengira bahwa dia kena tulah karena memanjat pohon tanpa pakaian ketika dia menemukan temannya pacaran dikamar mandi umum – haid – itulah tulah yang harus diterima; si mbok jadi bertambah sayang karena mengetahui si gadis sudah haid – ini membuat Teyi bingung. Ada saat dimana membuat Teyi jenuh, lelah, bosan dan ingin lari dari kesehariannya – jualan pisang goreng dan mendengarkan ocehan si mbok yang tidak habis-habisnya – akhirnya jalan kaki sampai Medan. Dia harus digelandang keluar toko karena mengagumi pita dan ngotot ingin membeli pita dengan uang jualan pisangnya; akhirnya diantar pulang oleh Ndara Tuan Kapten Sarjubehi.
Teyi menemukan dirinya ketika dia berkenalan dengan Gusti Putri Parasi di rumah Loji – yang adalah istri dari Sarjubehi – yang jatuh hati pada kesopanannya. Dengan sabar Putri Parasi mengajar sopan santun dan tata krama. Putri Parasi merasa sembuh ketika berdekatan dengan Teyi; Teyi adalah semangat hidupnya. Putri Parasi bercita-cita menjadikan Teyi orang yang pantas untuk mendapatkan jodoh dari kraton; Teyi dipersiapkan untuk itu, dipersiapkan untuk dibawa ke keraton ketika Putri Parasi cuti. Cinta kasih Putri Parasi bertambah ketika Teyi berhasil menyelamatkan nyawanya pada waktu Putri Parasi terkapar tidak sadarkan diri karena penyakitnya tiba-2 kambuh. Teyi bahkan dibekali dengan keahlian berbahasa Belanda, sehingga dia tidak canggung menghadapi rekan-rekan Ndara Tuan Kapten Sarjubehi yang kebanyakan dari kalangan atas dan bahkan berkomunikasi dengan bahasa Belanda terhadap Putri Parasi dan suaminya. Teyi bersungguh-sungguh dalam persiapan dirinya untuk keluar dari tangsi menuju dunia yang lebih beradab baginya. Dia sudah menguasai ngadi busana dan ngadi salira juga pandai berbahasa Belanda – baca, tulis dan berbicara; sudah menutup hati buat laki-laki tangsi yang menyukai kecantikannya.
Kedekatannya dengan keluarga keluarga Putri Parasi itu menebarkan gosip bahwa dia akan di”munci” oleh Sarjubehi. Akan tetapi Teyi harus mengubur semua cita-cita untuk pergi ikut Putri Parasi ke tanah Jawa, ke keraton, mendapatkan jodoh orang keraton ketika tiba-tiba sang junjungannya pergi untuk selamanya. Sejak saat itu sudah tidak ada yang harus disembunyikan dari si mbok yang selalu melarang dia untuk bermain ke rumah loji. Hasi didikan sang guru membuat Teyi menjadi pribadi yang kuat tapi rapuh; kuat dalam meyakinkan si mbok bahwa dia akan baik-baik saja membantu tuan Sarjubehi dan tidak akan menjadi munci sang Ndara Tuan; tapi juga lemah karena sebetulnya dia sudah mulai terbiasa dengan keseharian sang tuan, dia juga tertarik dan suka dengan si tuan ini. Tapi Teyi sangat ingat pesan Gusti, “…pas op Teyi, meneer is niet de man voor jou! Absoluut niets! (Hati-hati Teyi, Tuan Sarjubehi bukan laki-laki untukmu, sama sekali bukan…”). Dia menghormati pesan itu, sehingga pada waktu Teyi diminta untuk mencarikan pembantu dan si tuan memilih Dumilah yang selain menjadi pembantu juga menjadi munci, Teyi tidak dapat berkata “tidak”. Dia hanya menangis kesal dan sesal; akhirnya dia memutuskan untuk bersedia nikah dengan Sapardal, orang yang tidak pernah dicintainya. Satu hari menikah langsung minta cerai ketika dia bertemu dengan Ndara Mas Kus Bandarkum, yang adalah keponakan Putri Teyi yang memang seyogyanya akan dijodohkan dengan Teyi. Dia merasa sudah mengenal Ndara Mas Kus lama hanya karena cerita-cerita dari Putri Parasi. Teyi, si gadis lugu tapi keras hati, yang sudah berusaha menuruti semua kehendak si mbok, yang selalu kalah karena mempertahankan sesuatu yang baik, akhirnya “menyerahkan” dirinya pada sang Ndara Mas Kus; akhirnya Teyi berpikir bahwa dia tidak berbeda dengan Keminik, yang sudah mengenal seks dari masih belia, bahkan tidak peduli berbuat kesetanan seperti si Mopi, anjing tuan Davenpoort. Teyi merasa bahwa apa yang dia perbuat ini adalah merupakan sifat dasar; kenikmatan sekaligus pemberontakan untuk memenangkan masa depan ……!”
“ trukbyangane……”! Rasanya ingin segera baca seri ke-2 dari trilogi Pak Suparto Brata ini.
(Resensi ditulis oleh Esthy Jonathan)
Respon pembaca :
nug
Trilogi Gadis Tangsi "Kerajaan Raminem"

Rentang baca buku ini pun cukup lama untuk kelas buku cerita yang asyik, sebagai perbandingan saya lahap Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata cukup 2 malam, lanjut dengan Edensor 3 hari, trus waiting list Maryamah Karpov dan begitu ada di tangan tak sampai 5 hari terlahap tanpa sisa. Memang belum langsung "tunjeb poin" awalnya dengan bentuk cerita, tokoh, alur, setting kota Sumatra dan misi penulis sendiri. Tapi begitu sampai pada halaman diatas 79, langsung tancap gas meneer, tutur ceritanya yang gemlundung apa adanya begitu enak diikuti dan diselingi dengan beberapa istilah Belanda jadi daya tarik tersendiri. Berikutnya adalah cara Suparto Brata sendiri dalam menghidangkan kehidupan begitu khas "Jowo Tengahan" guyon-gemuyonannya, clathu-clathuane, pisuh-pisuhan, ular-ular, sampai dalam hal kegiatan ranjang pun demikian khas "wong ndeso". Aku sebagai orang Jawa pun seperti terseret ke masa kecil dulu di kampung Mlowo Karangtalun dan Pojok, Purwodadi Grobogan sana, dimana kebudayaan dan pola pergaulan orang-orangnya ya sama persis seperti dalam buku ini.
Dimulai dari kegegeran Tangsi Belawan yang harus segera dikosongkan oleh para kumpeni berikut istri dan anak-anaknya, karena serangan Nippon sudah dekat. Sampai akhirnya terdampar di Tangsi Lawe Sagala-gala dan balik lagi ke Tangsi Kabanjahe, pertengkaran dan pertikaian perempuan jawa bodho yang sangat kental disuguhkan dengan apik,diselingi juga dengan gugon tuhon dan kisah filosofis pewayangan. Sampai akhirnya kehidupan para pelaku yang semakin melarat karena Nippon benar-benar berkuasa. Uang Belanda menjadi tidak laku lagi di Medan, masing-masing pun harus mengenakan identitas tulisan huruf kanji yang tidak boleh lepas dari badan agar aman ketika diverifikasi oleh tentara bertubuh kate itu.
Tokoh utama dalam sekuel Kerajaan Raminem adalah Raminem sendiri dan kedua anak perempuannya; Teyi yang cerdik, cantik dan pekerja keras serta adiknya Tumpi yang masih polos. Keinginan ketiganya untuk pulang ke tanah kelahirannya di Ngombol, Purworejo, Kedu Selatan, Tanah Jawa Dwipa akhirnya terlaksana dengan bantuan Manguntaruh (adik Wongsodirjo, sekaligus pembunuh Wongsodirjo, karena gandrung dengan Raminem). Dengan kerja keras dan keuletan tiga tokoh utama ini akhirnya "Kerajaan Raminem" itu berdiri kokoh di Desa Ngombol, kemaslahatan warga Ngombol juga ikut terangkat dengan berdirinya kerajaan ini.
Penokohan dan alur cerita sastra Jawa yang kental di buku ini tak sedikitpun mengurangi muatan filosofis dan pesan moral yang diusung Suparto Brata. Kehidupan memang keras, orang mau mukti tidak bisa dicapai dengan ongkang-ongkang sikil trus mak gedabruss gludak langsung mukti, sopo nandur kebecikan yo bakal ngunduh kamukten (siapa menanam kebaikan maka beitu pula akan menuai kebahagiaan). Kepahitan memang jadi daya lecut untuk lebih cepat bergerak tanpa niat menghalalkan segala cara apalagi sampai gawe cacating liyan. Teyi pun masih bisa menyisihkan rizkinya pada Pakde, Mbokde dan Lik Sumi tanpa roso eman saat masih njejegke cagak "Kerajaan Raminem". Sastra dan nilai adiluhung Kejawen terangkat tinggi dalam novel ini, gak peduli dia Islam, Abangan atau gak nggenah padane pun akan dapat pangestunipun Gusti Allah jika niatnya tulus, baik lan ora gawe sengsarane liyan.
"Ketidakadilan itu hanya milik Tuhan" inilah ucapan Teyi yang melekat di hati saya. Kita hidup cenderung melihat dari sisi gelapnya, "alah...paling-paling dapat warisan, pelihara Tuyul kali", itulah jamak lumrahnya komentar, setiap kesuksesan selalu dilihat dari sisi paling sederhana dari sudut pandang instant. Cobalah lihat lebih dalam, pasti prosesnya tidak segampang membalik telapak tangan dan dalam perjalanannya pasti ada saja riak-riak kecil cobaan, kebingungan, sinisme sesama, iri dengki atau srengki kata orang Jawa dan pelajaran-pelajaran yang terus bisa digunakan sebagai batu pijakan yang lebih kokoh. Disitulah kemuliaan manusia teruji dan terseleksi, apakah dia bibit unggul yang bisa terus dilestarikan zaman ataukah mung pah-poh "pupuk bawang" thok yang akan terlahap zaman. Satu analogi sederhana Teyi begini, kita lihat Gunung Merbabu dari Salatiga pasti orang Salatiga akan bilang Gunung Merbabu ada di sebelah Selatan. Sedangkan orang Magelang bilang ada di sisi Timur dan orang Kaliurang Yogyakarta akan bilang Gunung Merbabu ada di sisi utara. Coba kalau kita orang Klaten memaksa orang Salatiga untuk menerima nalar bahwa Gunung Merbabu iku ning sisih Kulon (di sebelah Barat), opo rak yo bubrah tatanane (apa ya nggak rusak kehidupan pergaulan masyarakatnya. Itulah kehidupan, kepenak ora kepenak tergantung dari mana kita memandang, menyikapi dan mensyukurinya. Jangan mengeluh dan merasa tidak dipedulikan oleh Tuhan sebelum anda benar-benar lumpuh tak berdaya menjentikkan jari.
Terima kasih Pak Suparto Brata atas karya emasnya, lanjut pada cita-cita Teyi berikutnya dalam mencari pegangan hidup (cinta sejatinya ke Kasunanan Kartosuro) pada sekuel ketiga "Mahligai di Ufuk Timur". Semoga bermanfaat dan njunjung dhuwur (mengangkat tinggi) nilai-nilai luhur nan adiluhung filosofis ajaran dan sastra Jowo.
Diambil dari "Evolusi & Revolusi Manusia"
Wong Jawa

Oleh BANDUNG MAWARDI
Apakah ciri substansi orang Jawa adalah membaca buku dan menulis buku? Pertanyaan ini muncul oleh pengakuan Suparto sebagai pengarang mumpuni dengan puluhan buku sastra dalam bahasa Indonesia dan Jawa. Afirmasi sebagai wong Jawa terselamatkan dan menjadi produktif ketika orang mau menekuni tradisi membaca buku dan menulis buku. Kebenaran memang terkandung dalam ungkapan kalem itu jika publik mau membuka kembali lembaran-lembaran kepustakaan Jawa dari zaman kakawin, babad, serat, kidung, sampai adopsi dan eksplorasi terhadap struktur tulisan modern dari peradaban Timur dan Barat.
Peran dan kerja keras PJ. Zoetmulder pantas dijadikan sebagai bukti kesuntukan pujangga Jawa untuk mencatatkan konstruksi wong Jawa dalam arus zaman. Penulisan teks-teks sastra dan sejarah membuat pelacakan terhadap deskripsi dan analisis tentang wong Jawa memiliki jejak dan tanda. Laku para pujangga merepresentasikan nubuat untuk generasi lanjutan mengenai kodrat menemukan biografi historis dan kultural dalam konteks Jawa. Pembacaan terhadap teks-teks lawas tentu jadi mekanisme untuk menghidupkan memori kolektif dengan impresi dan implikasi.
Buku Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (1983) merupakan buku babon untuk penelusuran teks-teks Jawa dalam dialektika zaman. Zoetmulder telaten mengurusai naskah-naskah Jawa kuno untuk ikhtiar merekonstruksi jagat kultural dan estetika Jawa melalui bahasa tulisan. Naskah tertua diperkirakan muncul pada abad IX dalam bentuk kakawin tentang epos Ramayana. Naskah-naskah kuno menjadi “monumen bahasa” untuk dinikmati dengan laku membaca dan menulis. Monumen bahasa lalu terwariskan dalam tingkat keawetan yang mungkin melebihi candi, rumah, gapura, atau prasasti.
Zoetmulder menghadirkan kepada pembaca daftar panjang tentang laku kreatif pujangga-pujangga Jawa untuk mengungkapkan ide-ide religiusitas, estetika, etika, politik, dan kultural. Pilihan terhadap bahasa tulis membuktikan bahwa tradisi aksara sejak lama hidup dan disemaikan di Jawa sebagai bentuk konsekuensi menggerakkan peradaban. Pengekalan jejak historis dan nubuat dalam naskah adalah pertaruhan diri untuk menjadi manusia. Menulis buku merepresentasikan kesadaran dan strategi kultural untuk pengukuhan eksistensi dan pengajuan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan zaman.
Publik perlu membuka kembali khazanah Jawa dalam naskah Ramayana, Arjunawiwaha, Gatotkaca sraya, Samardahana, Bhomantaka, Arjunawijaya, Sutasoma, Negarakretagama, Lubdhaka, dan lain-lain. Naskah-naskah kuno itu mengandung informasi fiksionalitas dan fakta mengenai lakon manusia dalam dialektika zaman. Kehadiran naskah tentu membuat ingatan atas sejarah atau identitas biografi kultural menemukan titik sambung pembayangan terhadap asal usul dalam keterpengaruhan peradaban-peradaban besar di Tanah Jawa. Pengaruh peradaban India tampak kentara dalam naskah-naskah Jawa kuno. Perjumpaan peradaban membuat konstruksi identitas tak permanen, tapi inklusif untuk perubahan. Laku para pujangga membuktikan, ada karakter elegan untuk menjalani lakon kultural dalam tegangan otentisitas dan akulturalisme. Jejak panjang pengaruh India terus terasakan sampai hari ini. Pembacaan atas naskah-naskah Jawa kuno tentu mengesankan bahwa ada kemungkinan kerepotan menguraikan ambiguitas wong Jawa dan kerumitan dalam pewarisan identitas kultural Jawa.
Orang Jawa hari ini justru dihadapkan pada pilihan tema-tema besar dan kuasa teks dari pelbagai sumber Timur dan Barat. Teks ikut menentukan kehadiran wong Jawa dan proses kehilangan kejawaan melalui negasi dan afirmasi dari progresivitas peradaban global. Pemahaman identitas lokal menjelma sebagai tema pinggiran dan lekas terhapuskan oleh konsensus tentang manusia kosmopolitan. Pengesahan kerepotan merumuskan identitas manusia hari ini kentara ditentukan oleh kuasa teks, permainan tafsir, dan operasionalisasi ideologi teks melalui ranah politik, ekonomi, teknologi, atau seni.
Perkara identitas orang Jawa pada hari ini mengandung dilema dan ambiguitas dalam batas tegangan tradisionalitas dan modernitas. Pengajuan jawab melalui jejak dan tanda tradisi kelisanan tentu tidak menjadi rumusan utuh. Kesadaran atas tradisi pustaka adalah penggenapan untuk membaca ulang dan merumuskan diri kembali sesuai dengan takdir zaman. Kesadaran pustaka justru melemah karena kelengahan dalam menghadapi mode zaman. Fase tulisan seperti diloncati dengan kultur audiovisual untuk penguatan tradisi kelisanan. Barangkali godaan besar ini mengakibatkan wacana wong Jawa Ilang Jawane kehilangan jejak referensial melalui teks kultural.
Dokumentasi pustaka sebagai sumber pengetahuan menjadi keniscayaan untuk tak sekadar menerima kodrat normatif. Suparto Brata mengistilahkan sebagai kodrat weruh lan krungu (melihat dan mendengar). Menulis adalah strategi ampuh untuk sadar pengetahuan. Kesadaran ini dibuktikan oleh kerja keras para pujangga Jawa meski dalam fragmen zaman ini kerap terlupakan atau sekadar dijadikan album nostalgia lama tanpa pesan kontekstual. Pesimisme atas peran kepustakaan dalam pawacanaan identitas kultural Jawa perlu diklarifikasi dengan kehadiran data dan tafsir mutakhir.
Ikhtiar menghidupkan kerja literer pujangga Jawa pernah dibuktikan oleh Poerbatjaraka dan Tardjan Hadidjaja dalam buku Kepustakaan Jawa (1952). Buku ini menghadirkan sinopsis atas teks-teks literer Jawa lama dan ulasan pendek. Peran buku ini signifikan untuk pengekalan dan pewacanaan atas tradisi aksara dalam peradaban Jawa. Ensiklopedia naskah Jawa membuktikan, tingkat peradaban dan karakteristik orang Jawa terhadap eksplorasi lakon hidup dalam aksara. Tradisi itu mengalami tragedi ketika zaman berubah dalam kecepatan tinggi dan dijalankan dengan hukum dominasi. Kepustakaan Jawa lalu jadi bab kecil di antara bab-bab besar jagat teks kontemporer.
Ungkapan wong Jawa ilang Jawane mungkin menemukan pembenaran ketika tradisi membaca buku dan menulis buku memang diabaikan dan hilang. Kesadaran akan aksara ini mengalami titik kritis ketika kebijakan politik kebudayaan dari negara tidak memberikan akses dan merestui tradisi membaca buku dan menulis buku. Pemanjaan kultural dalam ideologi konsumsi justru melemahkan kepemilikan identitas kultural Jawa. Menulis bisa jadi subversi untuk tak kalah atau terkooptasi oleh kuasa zaman. Barangkali, untuk menjadi wong Jawa, diperlukan syarat kunci dalam laku membaca buku dan menulis buku. Begitukah?
BANDUNG MAWARDI, peneliti Kabut Institut Solo.
Sumber: Jawa Pos, Minggu 30 Agustus 2009.






Suparto Brata sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis cerita – cerita jawa.Dari sisi ini tentunya sesuatu yg mnarik untuk melihat bagaimana penulis jawa menulis roman dalam bahasa Indonesia.
………..“…pas op Teyi, meneer is niet de man voor jou! Absoluut niets! (Hati-hati Teyi, Tuan Sarjubehi bukan laki-laki untukmu, sama sekali bukan…”)……
Hartonocepetan aja baca Kerajaan Raminem dan Mahligai Di Ufuk Timur Bu,… ntar pasti makna kalimat Putri Parasi di atas bukan seperti yang anda bayangkan setelah membaca roman ini…
Melihat cover roman ini, mengingatkan orang pada novel tetralogi Bumi Manusia karya Pram. Suparto Brata bisa mulai tancap gas, menghasilkan berderet seri trilogi atau tetralogi, untuk menggantikan posisi Pram yang kini tak bisa lagi melahirkan karya-karya masterpiece-nya.
Maju terus Pak Brata!
Diambil dari : "Rumah Baca"