HM CHENG HOO DJADI GALAJAPO NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN
Kula aturi rawuh peluncuran buku Djadi Galajapo, Jumat 19 Sept 08, di metropolis room Graha Pena lt 3 pukul 15.00 thit, bonari, yg ikut menulis buku tsb. Suwun. Harus mendaftar? Khusus Pak Parto tanpa harus ndhaftar.
Begitulah SMS yang kuterima. Djadi Galajapo, saya tahu itu nama kelompok pelawak di
Begitu masuk lantai 3, saya bertemu Prof.Dr.Sam Abede Pareno, dan selanjutnya bersama dia. Dia begitu akrab dengan forum, sedang saya merasa asing. Orang-orang muda yang menyapa dia juga menyapa saya, saya kira karena dialah saya ikut disapa. Tapi, mereka kok ya menyebut nama saya (tentulah sudah mengenal betul saya). Salah seorang berbaju putih-putih, kepalanya agak gundul, menyalami dan mempersilakan kami berdua masuk ruangan Metropolis room yang masih kosong dengan cara begitu akrab. Tapi kami berdua milih kursi paling belakang, karena Pak Sam tidak bisa tinggal sampai buka puasa, karena ada acara lain. Jadi kalau acara sedang berjalan Pak Sam bisa dengan diam-diam tidak mengganggu acara meninggalkan ruangan. Di latar belakang podium tertulis jelas: HM Cheng Ho Djadi Galajapo, NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN. Pembicara: Bagong Suyanto dan Suko Widodo.
Selain nama dosen-dosen UNAIR itu kemudian mengisi ruangan orang-orang terkenal lainnya: Wakil Walikota Surabaya Arif Afandi, perwakilan Honda Motor (sponsor penerbit buku), Kurniawan Muhammad, Bonari Nabonenar, Sabrot D.Malioboro, Cak Kadaruslan, Kartolo dan istri, Djoko Pitono, RM Yunani, dan orang-orang aktif di Surabaya saat ini (maaf, tidak bisa saya sebut semuanya, meskipun sangat penting pada acara ini). Dan nanti setelah acara berjalan terungkap pula orang-orang dekat (sesama pelawak) Djadi, seperti Didik Mangkuprojo (ini saya kenal), Hunter Parabola, Adenan, Lutfi (teman main di Galajapo) dan Insaf Andi Lah Yaw. O, ya, dan Cak Kobar, anak muda berambut brukoli yang menjadi moderator acara, yang tidak lain juga pembawa acara Becak (Berita Kocak) JTV (TV-nya Jawa Pos). Saya menonton TV sangat saya batasi, sehingga juga tidak pernah mengenali Cak Kobar. Ternyata orang akrab berbaju putih yang agak gundul tadi yang punya gawe siang itu, HM Cheng Ho Djadi Galajapo.
Dia membuka acara dengan kidungan: “Semangka siji sega dijangkepi, sing teka dina iki takdongakna akeh rejeki”. Meskipun profesinya kental sebagai pelawak, dengan menerbitkan buku ini dia tidak guyon, meskipun bukan sastrawan beneran dia serius menerbitkan bukunya. Artinya isinya benar dan jujur. Lalu dengan terampil dia menyampaikan terimakasih atas kedatangan dan jasa-jasanya “memberdayakan” grup pelawak Galajapo. Terampil, cekatan, bebas tanpa ikatan tradisi, bergairah dan lucu. Bicaranya disela pihak lain ya ditanggapi dengan enak, kreatif, cerdas dan lucu. Ucapan terimakasih ditujukan kepada Jawa Pos (a.l. Wawali Surabaya Arif Afandi, Sam Abede Pareno, Kurniawan Muhammad) dan para tamu yang hadir, masing-masing disebut namanya dan jasanya. Misalnya Abah Kartolo disebut sebagai gurunya yang paling senior (karena itu dipanggil Abah).
Lalu sambutan-sambutan. Wawali Surabaya, Suwito M., Sam Abede Pareno, Cak Kadaruslan, Kurniawan Muhammad, Cak Kartolo, Sabrot D. Malioboro, Lufti, Bonari, Bu Yati.
Oleh Wawali Surabaya Arif Afandi, disindir nama HM Cheng Ho, HM-nya berbau promosi Honda Motor yang menyeponsori penerbitan bukunya, ya diterima Djadi jegegesan, mengakui memangnya Pak Suwito M, Direktur PT MPM Motor Main Dealer Motor Honda Jawa Timur dan NTT 5 tahun terakhir ini sering memberi job.
Suwito M. ketika giliran menyambut mengatakan, acara-acara promosi Honda sering dipercayakan kepada Cak Djadi Galajapo, baik individual maupun group. Cak Djadi joke-jokenya spontanitas cerdas, product knowledge-nya kena, ditunjang karakter yang kuat, wawasan yang luas, banyolannya bernas, seringkali religius. Pak Suwito sangat berkesan dengan nyanyian kanak-kanak TK yang telah diubah syairnya spontan oleh Djadi, Satu-satu, jangan jangan pakai shabu, dua-dua jangan pakai ganja, tiga-tiga jangan pakai narkotika, satu-dua-tiga pakai Honda saja”.
Sam Abede Pareno memulai dengan judul buku yang dibedah, merepotkan toko buku. Ini akan diletakkan di buku Agama, atau Masak-masakan? Judulnya
Cak Kartolo agak alot ketika disuruh menyambut maju ke depan. Tidak punya persiapan. Sebagai pelawak yang handal, Cak Kartolo kalau mau pentas, pasti jauh sebelumnya sudah merencanakan ide-ide yang mau dipentaskan, dihafalkan dan dilatih sampai pada waktunya pentas. Pasti ada persiapan, kalau mungkin pelatihan sebelum pentas. Kini tidak ada persiapan ngomong, maka alot untuk maju ke depan. Sudah berdiri, duduk lagi. Apalagi sementara itu Cak Djadi ngomong terus, memuji-muji kehebatan Cak Kartolo. Karena lama Cak Kartolo tidak mau ke depan, Cak Djadi bilang, “Mosok, Rêk, nyang mrene mik perlune kate mangan-mangan buka pasa?”. Cak Kartolo sampai di depan, terus saja ngomong sambil menunjuk bibir Cak Djadi, “Iku lambe tah kitiran!?” Dalam sambutannya yang serius, Cak Kartolo tidak mau kalah, sama-sama pelawak Cak Kartolo juga mau menerbitkan buku seperti Djadi Galajapo. “Buku utang piutang.”
Cak Kadaruslan menceritakan pengalamannya, pernah dipisuhi “Jancuk! Jancuk!” oleh Grup Galajapo. Yaitu sebagai pecinta seni, Cak Kadaruslan menyelenggarakan pagelaran seni, tetapi grup pelawak tidak dikatutkan. Itu salah tangkap. Sebab untuk pelawak, oleh Cak Kadar sudah disiapkan untuk digelar di luar. Sebagai pelawak, mestinya tidak boleh cepat emosi, marah-marah. Pelawak itu memberikan hiburan kepada khalayak, tidak memarahi khalayak. Cak Djadi sungguh mengaku khilaf soal peristiwa itu. Dulu sudah minta maaf, sekali ini juga sungguh-sungguh minta maaf.
Suko Widodo sebagai pembicara resmi tentang buku ini, sangat mendukung seorang person menerbitkan buku, siapa pun dia, bagaimana nasibnya, perjuangan hidupnya, apa profesinya, apalagi “punya nama”, punya track-record aktivitas seperti Djadi Galajapo di Surabaya. Tapi harus jujur, sebab bagaimana pun juga bukunya itu akan merupakan gambaran sejarah kehidupan bangsa waktu buku itu ditulis, yang bisa dijadikan pembelajaran bagi generasi pembaca untuk menyiasati kehidupan masa depan yang lebih baik. Melihat sekejab bukunya (karena baru diberi ketika masuk ruangan itu) Pak Suko mengeritik tentang banyaknya sanjungan-sanjungan, puji-pujian di buku tadi, terutama 50 halaman terakhir (dari 146 halaman). Tapi juga memuji Cak Djadi, sebagai pelawak dia juga memperhatikan profesi sosial yang lain dijadikan bahan memperkuat melawaknya, misalnya mau berdakwah sementara pentas, juga memperhatikan profesi guru (Cak Djadi lulusan IKIP Surabaya, pernah ditugaskan sebagai guru pns di Pacitan, tapi mengundurkan diri karena pns
Sabrot D. Malioboro dapat giliran tampil, dengan lebih dahulu disanjung oleh Cak Djadi karena terus-terangnya berani mengeritik sikap atau tingkah Cak Djadi langsung di hadapannya. Cak Djadi sangat aprisiate menerima kritik seperti itu. Dengan menerima kritik dia menjadi lebih sadar dan dewasa ketika pentas menjalani profesinya sebagai pelawak. Sedangkan kalau hanya menerima puji-pujian seperti yang dituturkan Pak
Bagong Suyanto membuka bicaranya menuduh Djadi tidak jujur apa yang ditulis (diceritakan) pada peristiwa mendapat job bersama aktris, lalu sampai berduaan saja dengan aktris itu, tapi peristiwanya berakhir dengan menutup perut perempuan tadi dengan handuk. Apa betul-betul peristiwanya berakhir sampai di situ, apa yang ditutup hanya perutnya, itu yang disangsikan oleh Pak Bagong. Bahwa peristiwa semacam itu termasuk kehidupan para seniman panggung, bisa dimengerti. Langsung dijawab oleh Cak Djadi peristiwa dan akhirnya persis seperti itu. Kalau tidak, bukankah itu rahasia kejelekan peribadi, mengapa diceritakan? Intinya, begitulah godaan di profesinya, namun Cak Djadi (dan banyak orang berprofesi seperti itu juga) bisa tetap hidup suci.
Orang Cina itu kurang diterima baik oleh masyarakat Jawa. Seringkali Pak Bagong berjalan-jalan dengan istrinya, kemudian ditegur oleh teman bermata sipit, istrinya melengos dengan ucapan bernada menghindar, “Cina ngono, lo!” Istrinya tidak sadar bahwa Pak Bagong itu juga Cina. Itulah gambaran yang diberikan oleh Pak Bagong bahwa pada umumnya orang Cina tidak diterima dengan rela hati oleh masyarakat Jawa. Untuk bisa diterima banyak sekali orang Cina harus mengganti namanya dengan nama Jawa, termasuk Pak Bagong Suyanto. Banyak (sekali) orang Cina untuk berasosiasi dengan orang Jawa mengganti namanya dengan nama Jawa, tetapi Pak Bagong belum pernah dengar orang Jawa yang mengubah namanya dengan nama Cina. Orang Jawa yang memberi namanya dengan nama Belanda, nama Arab, nama Buda, banyak. Tapi menggunakan nama Cina, Pak Bagong tidak pernah dengar. Ya baru HM Cheng Ho Djadi Galajapo ini. Itupun dulu, ketika Cak Djadi memberitahu bahwa kalau dia berhasil naik haji mau menambah resmi namanya dengan Haji Mohammad Cheng Ho, Pak Bagong juga tidak percaya. “Ya, kalau memilih nama Cheng Ho sebaiknya minta izin dulu sama yang berwenang, karena nama Cheng Ho sudah jadi nama masjid di
Diskusi ini juga disela pembagian buku HM Cheng Ho Djadi Galajapo NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN. Mereka yang mendapat diundi melalui door-prize. Yang namanya disebut, segera maju ke depan menerima bukunya dari Cak Djadi. Hampir terakhir, namaku disebut. Mengerti namaku dan tempatku (di kursi belakang) Cak Djadi tidak memanggil saya, tetapi dia yang datang membawa bukunya ke tempat saya duduk. “Terima kasih, Cak Djadi, saya dapat kehormatan begitu.”
Setelah sambutan-sambutan orang-orang penting, maka ditawarkan para hadirin yang mau bertanya. Banyak yang angkat tangan, tetapi karena waktu mendekati magerip, hanya tiga orang dipersilakan. Seorang ibu mendapat prioritas bicara, karena sejak tadi yang ngomong laki-laki. “Judul bukunya kok NERAKA WAIL DAN KUE TERANG BULAN, apa maknanya dan diilhami dari mana?”
Cak Djadi menjawab (ceritanya juga ditulis di bukunya), bahwa kakeknya yang semula menekuni penghayatan Sapta Darma, menyuruh Djadi rajin mengaji di surau dekat rumahnya. Kemudian setelah Djadi bertambah besar dan rajinnya mengaji di masjid, kakeknya juga berangsur-angsur mengikuti sholat di masjid, dan simbul-simbul Sapta Darmanya (misalnya gambar wayang Semar) hilang dari rumahnya. Namun kelakuan Djadi untuk naik pentas menjadi pelawak, tidak berubah. Tiap ada kesempatan (misalnya perayaan 17 Agustusan) Djadi pasti naik pentas melawak. Ini membuat kakeknya malu. “Koën iku gak isin, tah, modhuk teka masjid terus mbanyol ndhuk panggung? Wong lèk mbanyol gawe guyu wong liya iku mbesuke mlebu ndhuk Neraka Wail!” Dari pemahaman begitu akhirnya dengan keras kakeknya melarang Djadi naik pentas melawak. Djadi jadi kepikiran. Ingin terus meraih cita-citanya (yang sudah jadi kebiasaannya) dengan melawak, tapi kalau ketahuan kakeknya, dimarahi. Pada hal cita-citanya jadi pelawak sudah mulai mendapatkan hasil, kalau naik panggung dapat uang. Djadi putar otak, bagaimana supaya kakeknya tidak melarang dia naik panggung. Djadi tahu kakeknya sore hari suka minum kopi dengan nyamikan. Yang paling suka kue terang bulan (nama kue di
Diskusi diakhiri karena azan magerip, dan selesai setelah pengunjung buka puasa di ruang sebelah.
Tidak ada sahabat dekat, usai berbuka puasa saya pulang. Menunggu lift buka, saya dengar percakapan di belakang saya (juga menunggu lift tentunya) jawaban perempuan mengatakan bahwa dia baru habis bertugas dari Pasuruan, mengunjungi keluarga penerima zakat yang kena musibah itu. Saya menolih. “Pak Parto, ya? Mengapa, Pak, di sini?” Siapa, ta? “Nani,” jawabnya. Oh, Nani Wijaya! Saking terharuku hampir saja dia kurangkul. Tampak lebih cantik, karena rambutnya lebih panjang, tidak jongen-kop seperti yang saya kenal sebagai direktrisku ketika saya ditugasi menjadi pemimpin redaksi tabloid Jawa Anyar di Solo. Waktu itu saya (dengan Mas Bonari Nabonenar juga) banyak dapat bimbingan dan arahan cara menyelenggarakan penerbitan tabloid dari Bu Nani Wijaya ini, sangat bermanfaat sekali.
Di rumah buku saya baca. Hampir tergelak saya membacanya. Bukan karena isinya yang lucu karena menceritakan riwayat perjuangan seorang pelawak, tetapi habitat tempatnya hidup sejak kecil, adalah lingkungan habitat yang saya kenali benar. Pasar Pacarkeling, Pacarkembang, TK Megawati, Jedong, RGS dengan penyiarnya Supangat, SMPN 9. Itu habitatku sejak zaman Jepang tahun 1942 (rumahku di Kalasan 31, teman sekolahku anak-anak SS-Pacarkeling, Oro-oro, Jedong, Ploso, Rangkah, Bogen, Tambaksari, Karanggayam, sekolahku di Jalan Mundu. Sampai pensiun tahun 1988, rumahku di Rangkah, bekerja di Pemkot, RGS pimpinan Pak Indiarto saya kenal benar, bahkan seorang penyiarnya Mas Soekardjito (dengan istrinya) jadi pegawai Humas sekamar kantor dengan saya. Cak Djadi memilih hari tanggal lahir 6-7 bulan sebelum 1 September 1965, adalah 8 Maret 1965, anak saya nomer 2 lahir 29 Maret 1965, jadi sebarakan dengan Cak Djadi. Sekolah Cak Djadi di SMPN 9, dua anak saya kelahiran tahun 1969 dan 1971 juga sekolah di sana (mestinya adiknya Cak Djadi).
Dalam buku itu ditulis bahwa orangtua Cak Djadi hidup di desa (Creme, Gresik), tetapi Cak Djadi sejak kecil hidup ikut kakek-neneknya di
Membaca buku itu tentang masa kecil HM Cheng Ho Djadi Galajapo, saya jadi terbayang-bayang benar masa kanak-kanakku sendiri di
Kunjungan Vavai
4 orang team yang datang dari Jakarta berencana ke Lamongan Bay, salah satu project pelabuhan dimana salah satu project ownernya adalah boss saya di perusahaan. Saya bilang saya tidak dapat ikut ke Lamongan karena saya hendak ke daerah Rungkut bertemu dengan pak Suparto Brata, sastrawan Jawa dan penulis novel favorit saya. Kami setuju untuk bertemu di lokasi kantor cabang untuk pengecekan akhir. Sebelum ke kantor cabang saya akan mampir ke Hi-Tech Mall untuk membeli Kabel LPT printer dan Print Server.
Selanjutnya silahkan klik disini
Email dari Zakiya Mustaine
Subject: Fwd: Hello (ween) Mr. Brata.......
To: sbrata@yahoo.com
Date: Wednesday, September 17, 2008, 2:13 AM
Mm.. Ngomong-ngomong buku yg saya dapat dari menjawab
pertanyaanmoderator yg ada tanda tangannya Bapak
saya simpan dg baik dan tidak saya pinjamkan ke teman-teman karena takut rusak (maklum, buku pertama yg dapat tanda tangan seorang sastrawan hebat seperti Bapak).
Sekali lagi, terima kasih atas inspirasinya dan tanda
tangannya.
Warmest regards,
SASTRA JAWA MENYANG THAILAND
Sing
Layang uleman resmi saka Bangkok daktampa tanggal 27 September 2007, nerangake yen aku nampa The SEA Write Award, dhuwit (check) Baht 70.000, aku kudu ana ing Bangkok 7-13 Oktober, mangan turu gratis, lan budhal-mulih mawa pesawat Thai Airways International uga gratis. Minangka tiket pesawat, aku bisa ngubungi Mr. Suvadhana S,
Nanging ana adicara sing aku durung siyap (ora ngreti sadurunge, ora diterangake dening Pak Prih Suharto). Yakuwi tanggal 11 Oktober para sastrawan pemenang kudu maca gurit (poem) nganggo basane dhewe-dhewe (native language) ing adicara Poetry Reading ing Istana Suan Pakkad. Dijaluk gurit sing arep dakwaca terjemahane basa Inggrise kudu enggal dikirim marang janpens@mohg.com ditampa sadurunge Senen 1 Oktober 2007. Wah, aku ki ora tau ngarang puisi, lan ora tau maca puisi. Kok dikon maca puisi. Repot anggonku milih. Repot anggonku cecawis.
Dakpikir, aku rak ya kecathet dadi pengarang sastra Jawa. Yen kudu maca puisi basane dhewe-dhewe, upama aku nembang Jawa rak ya teges maca puisi. Ya ngiras pantes ngleluri lan mekarake sastra Jawa ing negara manca. Toh sing ngrungokake ing
Tekan Bangkok, acara sepisanan sapatemon karo para pengarang
Disesubya ing Thailand sajrone 7-13 Oktober, pesta andrawina menyang papan-papan wisata kaya ta: Grand Palace (kompleks kedhatone raja), Kuil Emerald Buddha, Kutha Ayuthaya, Istana Bang Pa-lu, Rex Morgan’s Residence, Bangkok Bank, lan adicara paring bebana resmi dening Sang Putri Sirivannavari Nariratana ing Royal Ballroom, kenya-kenya momong tamu kuwi mesthi sing ngancani lan ngladeni para tamu iki. Pasrawungane kene saya akrab.
Para sastrawan ing wisata kompleks kraton kuwi, padha diirit mlebu-metu menyang gedhong-gedhong apik mau, dikantheni
Nalika lagi nonton lan dikojahi gambare para raja-raja ing Istana Ananta Samakhom, Paranee mbisiki aku, ngajak mlaku ing ngarepe fotone Raja Rama IV. “Nyawanga paningale Sang Raja”, bisike nalika nggandheng lengenku. Daksawang, paningale Sang Raja tansah nonton aku, sanajan aku mlaku saka kiwa manengen. Lakuku kuwi dietutake para sastrawan liya, marga dening
Kutha Ayuthaya kuwi tilas ibukota krajan
Bubar dhahar awan ing Istana Bang Pa-In, para sastrawan dijak mampir ing daleme Rex Morgan. Rex Morgan warga negara lan saben dinane manggon ing Ustrali, nanging ngedegake yayasan sejarah lan pariwisata ing
Dina liya wayah sore surup nalika pagelaran maca gurit ing taman Istana Suan Pakkad, aku maca gurit sawise gilirane sastrawan Brunei Darusalam (basa Melayu), Camboja (basa Camboja). Sing dakcepakake lan dakdeklamasekake lagu dolanan basa Jawa, aku PD wae, toh sing andher ora ngreti basane:
“Jalak-jalak pita, dolanan
Ayo para kanca, padha suka-suka,
Sing rame, sing tata, gawe rame neng negara,
Dhuk-nong dhuk-gung, dhuk-nong dhuk-gung.
Jejer sandhing ringin kurung, atepung, temu gelang,
Yen dietung aja kurang.
Priyagung padha nyawang, priyagung padha nyawang.
Tandang tulung saguh wadhang.”
Muga-muga para maos PS ngreti tegese. Marga daktembangake, sanajan para sing andher ing
Puisi tutuge apalanku basa Jepang. Dakkira para maos
“Asha hi wo abite, o garagani,
Wagemu taisho genki yoku,
Cuyoi karadha ni kono kyodho,
Mamoru cikara ni takumiyaki,
Warera wa TooA no yoi kodomo.”
Kebeneran aku ngreti kabeh tegese surasane lagu Jepang kuwi. Asha hi wo abite, serngenge lagi mlethek. Warera wa TooA no yoi kodomo, aku kabeh iki bocah negara Asia Wetan kang gumbira.
Rampung nyanyi aku mudhun podhium. Ndadak sawenehe priyayi putri sing lenggah ing dheretan ngarep dhewe jumeneng, terus nyalami aku karo ngomong grapyak, “Jotokore! Arigato gozaimasu! Anata wa
Peparingan bebana dening Putri Sirivannavari Nariratana kang resmi digelar ing pungkasane wengi aku ing Thailand, ing Royal Ballroom Hotel The Oriental, jan mujudake pasamuwan agung kang mewah tenan. Sing andher para tamu duta besar lan para wong agung ing
Bareng
“You look like my dochter-in-law,” ujarku njawil Paranee Wisate.
Dheweke banjur ngadi-adi njaluk potret jejer akrap karo “maratuwane”.
“But, she has a baby. I’m single,” Wasana sing krungu omongku karo Paranee mau butarepan. Lan ya njaluk potret jejer ijen karo aku. Malah njaluk potret maneh dikancani karo Janpens pisan, ngapit aku.
*
Dhisike aku ora arep nulis crita iki ing PS. Marga ora ana gepok senggole karo sastra Jawa. Anggonku oleh bebana menyang
Nanging ndilalah tanggal enom Agustus wingi aku di-email dening Paranee Wisate (kenya ayu sing memper mantuku), ngabarake yen taun iki arep gawe buku antologi genep 30 taun SEA Write Awards, sing macak crita-crita karyane para sastrawan sing wis tau oleh hadhiyah. Kajaba aku kudu ngirimake crita karyaku sing mengkone dipacak ing antologi 30th SWA, aku ditakoni ing ngendi dheweke bisa ngubungi para sastrawan
Aku gage mikir, yen merga aku pengarang sastra Jawa, dadi sing dakkirimake ya karyaku basa Jawa. Sing dakkirimake crita cekakku: DIAMPUT, SEPATUKU ILANG NDHUK MESJID, sing tau dakpacak ing bukuku TRÈM (Pustaka Pelajar, 2000). Kanthi mengkono bakale karya sastra Jawa uga bakal diterbitake ing buku Asia Kidul Wetan. Ngganepi cecaweku nglestarekake lan ngrembakakake karya sastra Jawa. Lan marga mengkono aku banjur tumus gagasan nulis crita iki kagem para maos PS. Mula irahane ya kaya kuwi. Nuwun.
Suparto Brata
Dipacak:
Panjebar Semangat, no.38, 20 September 2008
PASA-PASA MENYANG THAILAND
(
Wulan Juni 2007 awan-awan, nalika lagi ana ing omahe anakku ing Elang Malindo Jakarta aku nampa telepon ngaku asma Prih Suharto saka Pusat Bahasa Jakarta, ngabari yen aku oleh Hadhiyah S.E.A. Write saka Kerajaan Thailand, kang arep ditampakake ing sasi Oktober. Syarate aku kudu nulis surat “matur nuwun” marang Putra Mahkota Krajan Thailand marga bebana mau, dikantheni cathetan biografiku dhewe, apa wae karya-karyaku, lan cuplikan saka karyaku, uga pasfotoku ukuran paspor. Kabeh ditulis basa
Mupung isih ana ing
Aku sastrawan
Aku budhal menyang
Kajaba penerbangan gratis, uga sajrone seminggu ing
Bengine jam 3 kanggo saur, aku ya pesen liwat tilpun panganan 3 werna kang beda-beda digawa nyang kamarku. Jebul oakeh banget. Mesthi wae turah-turah. Ning ya gratis, kari mung orek-orek tandhatangan thok.
Kok penak banget, ya, sarwa gratis. Mangka sajrone seminggu ing Bangkok kuwi acarane saben dina diklencerake lan disesubya menyang papan-papan pariwisata pangeram-erame Krajan Thailand, wiwit esuk nganti bengine, kayata ketemu para pengarang Thailand ing National Library, pesta sugeng rawuh ing Baan Phraya, menyang Grand Palace (kedhaton) lan candhi Emerald Buddha, menyang Kutha Ayuthaya (30 km sa-elore Bangkok, kutha tilas pemrentahan paling lawas sing jenenge tumurun menyang Tanah Jawa dadi Ngayogya), mertamu nyang Bangkok Bank, menyang Suan Pakkad Palace, pesta nampa hadhiyah ing Royal Ballroom. Mesthi wae ya nganggo bujana andrawina wayah awan. Nanging marga aku pasa (uga saka
Para tamu bisa disesubya kaya mengkono marga The SEA Write Award sing diprakarsai pemrentahan Krajan
Dina esuk sepisanan durung ana acara. Aku merlokake menyang KBRI. Takon marang resepsionis hotel, alamate priye yen mrana numpak apa. Bisa nganggo taksi duweke hotel, bisa nganggo taksi njaba sing luwih murah. Aku milih taksi hotel, mewah, sopire nganggo seragam, mbayarku mung tandha tangan (mengko dipotong saka dhuwit hadhiah). Ditemoni Ibu Tanti Widyastuti (sosial budaya) lan Mas Dionnisius Elvan Swasono (penerangan). Bapak Ibrahim Yusuf (duta besar) lagi tindakan. Nanging janji mesthi rawuh wayah adicara diparingake resmi bebana sastrawan Asia Kidul Wetan dening Kang Minulya Putri Sirivannavari Nariratana ing the Royal Ballroom The Oriental Hotel ing wusanane dina aku ing
Mulih saka KBRI isih awan. Mlebu kamar hotel, lo, wohwohan plastik sing ana meja ganti. Anggur, blimbing, jambu klampok. Pesone ora ana. Kabeh ya mentheng-mentheng. Bareng dakdemek, jebul dudu plastik. Buah-buahan tenan! Yen ngono pelem lan kates sing ranum wingi kae ya wohwohan tenan!
Sawise bola-bali sapatemon bareng klenceran, para sastrawan lan keluwargane pitepungane saya raket. Ing sore sela padha ajak-ajakan dhewe nglencer golek sovenier oleh-oleh. Aku karo anakku, Coroza karo bojone, putra putrine Prof. Rahman Shaari lan Haji Moksin sing isih enom-enom, ajak-ajakan menyang mall bareng-bareng. Sadurunge budhal kene padha njaluk sangu dhuwit
Adicara pesta ing the Royal Ballroom kuwi jan adicarane Ratu
Jare sawise Revolusi Prancis 1789, pemrentahan negara kuwi sing becik dhewe demokratis. Kekuwasan ing tangane rakyat. Rakyate bisa makmur.
Aku mulih pas dina lebaran pemerintah
Tekan bandhara aku langsung ngijolake dhuwit hadhiyahku dadi rupiyah. Isih
Crita iki daktulis minangka lapuranku
Suparto Brata
Dipacak ing:
Jaya Baya, no.53 Minggu V. Agustus 2008.
Jaya Baya, no. 01 Minggu 1. September 2008.
MULA BUKANE AKU NULIS SASTRA JAWA
(mengeti jasane PS yuswa 75 taun)
“Mas. Iki lo ana sayembara crita sambung. Mbok coba nyerata ing kene,” ujare nakndulurku, Nyonya R.Ay.Siti Soepinah S. Harumbintoro ing Jl.Penataran 9 Surabaya karo nuduhake PS. Ing kalangan sedulurku kala samana meh kabeh langganan PS. Lan wis tau aku nulis cerkak ing PS (15 April 1958) nyritakake pengalamanku “sirsiran” karo Ninuk, kenya sing mondhok ing daleme bulikku ing Jl. Imam Bonjol 38 Solo, dadi rerasanan keluwarga merga cerkak sing dipacak PS kuwi dianggep lelakon tenan. Jenenge Ninuk kang sekolah ing SGTK Ganawati pancen daksebut cetha. Swasana dhemen PS merga cerkakku kuwi tembe mburine ing keluwarga omah Jl. Imam Bonjol sidane nglairake pengarang drama basa Jawa kondhang, Bambang Widoyo SP, kang kiprah ing Teater Gapit Solo.
Satemene aku
Pranyata menang nomer siji. Ngalahake pengarang populer banget wektu kuwi, Any Asmara, sing entuk nomer loro kanthi irahan Putri Tirtagangga. Dene nomer telu Andana Warih kanthi crita irahane Tjandhikala. Andana Warih kuwi pranyata asma sesinglone Basoeki Rachmat.
Menang ngono kuwi aku ya ora ndang menyang kantor redaksi PS sing dumunung ing Pers Nasional Jl. Penghela 2 Surabaya. Aku pancen ora gelem cecedhakan karo redaksi prekara karanganku, karepku kepengin njaluk jujur wae nintingi karanganku, dadi saprana-saprene aku tansah ngirimake karanganku liwat pos. Yen dibiji apik, ya ora marga aku kenal karo redaksine. Mengkono uga administrasine. Dadi aku ya ngenteni wae kepriye mengko dhuwit asil bebana sayembara kuwi dikirimake marang aku. Putri Tirtagangga dipacak dhisik rampung, banjur Kaum Republik (irahane diganti Jiwa Republik dening redaksi) wis dipacak rampung, Tjandhikala dadi gilirane, aku tetep durung nampa dhuwite bebanane.
Nalika kuwi, aku manggon saomah karo Ruba’i Kacasungkana, wartawan anyar ing Surabaya Post pimpinan Pak A.Azis. Ruba’i kajaba wartawan ya seniman. Mula nalika ana wengi sastra digelar ing Balai Pemuda, ngajak aku melu nonton. La ing kono (taun 1959) aku ketemu karo seniman-seniman
Sidane aku nyang Penghela 2, dening BR diajak mubeng ing gedhong sing dadi kantorane lan percetakane koran-koran ing
Wiwit kuwi aku banjur kekancan karo para wartawan seniman ing Pers Nasional kono. Lan wiwit ngarang crita basa Jawa. Satemene wiwit cilik aku seneng maca BUKU CRITA apa wae. Lan bareng
Kajaba marang PS aku uga kirim karangan marang Djaja Baja, sing pemimpin redakture diasta Mas M. Radjien. Taun 1961, Mas Radjien pamit mundur, marga
Marga rumaketku karo BR, aku kiprah, gawe crita dawa-dawa dipacak ing Djaja Baja. Nganti mbludag. Taun 1962 Kaduk Wani, 1963 Kena Pulut, 1964 Titising Sepata, Tretes Tintrim, Asmarani, Pawestri Telu, nganti bubar crita sambungku, sing dipacak banjur crita sambungku maneh.
Nanging uga marang PS aku ngontribusi crita sambung: Katresnan Kang Angker 1961, Pethite Nyai Blorong 1962, Emprit Abuntut Bedhug 1963, Kadurakan Ing Kidul Dringu 1963, Sanja Sangu Trebela 1964.
Marga overproduktif, supaya para maos sastra Jawa ora kemba, aku migunakake jeneng sesinglon Pèni. Jeneng Pèni dakjupuk saka jeneng paraga ing novelku Tak Ada Nasi Lain, sing marang sapa lakon utamane kasmaran. Nganggo jeneng wadon, dakupayakake critaku pikirane pengarang uga madoni (mikir lan ngrasakake kaya wong wadon). Nalika Katresnan Kang Angker dipacak ing PS aku kerep merdhayoh ing nakndulurku Penataran 9, perlu ngrungokake pangalembanane crita sambung ing PS. Jeng Yit ora ngreti yen sing nulis aku. Saka kono aku ngreti yen karanganku disenengi para maos.
Ya tujune PS lan JB ngajangi amba minangka kiprahku makarya crita dawa-dawa (novel/crita sambung). La upama ora, kepriye anggonku nyuntak gagasanku ngarang crita lelakone manungsa sing dawa-dawa mengkono kuwi? Ana maneh sing ndadekake aku kemaruk nulis ing PS. Ing taun-taun 1950-1970-an, pelenggan PS watara 80.000. Kajaba diwaca para sing lengganan, PS uga diwaca para keluwargane (garwa-putrane), lan para tetanggane. Ing PS malah dibiwarakake, “yen
Aku lagek balik nulis crita landhung basa
Ewa samono, marga katiyasanku nulis crita landhung basa Jawa
Nuwun.
Dipacak ing Panjebar Semangat nomer 36
6 September 2008.





