Suparto Brata Ingin Duniakan Sastra Jawa
SUPARTO BRATA memang sudah uzur. Kini, dia berusia 75 tahun. Namun, tubuhnya yang kecil dan kurus bukan halangan bagi novelis bahasa Jawa asal Surabaya itu untuk berdekatan dengan para perempuan asal Thailand.
Ya, sastrawan pensiunan pegawai Pemerintah Kota Surabaya itu dikerubuti cewek-cewek cantik Thailand yang meminta foto bersama. Peristiwa itu berlangsung seusai pengarang kelahiran Surabaya, 27 Februari 1932, tersebut menerima penghargaan The SEA Write Awards di Bangkok, Jumat (12/10) lalu.
"Mereka cantik-cantik dan berebut minta foto bersama. Mungkin karena menilai pakaian saya unik," ujar Suparto Brata di Surabaya, Kamis (18/10).
Pakaian Khas
Dia menuturkan saat itu mengenakan pakaian khas Surabaya lengkap dengan ikat kepala (udeng) dari batik. Padahal, sastrawan dari negara lain menggunakan pakaian resmi seperti jas. Penulis produktif yang mengaku masih gagap teknologi, tetapi sudah memiliki website www.supartobrata.com itu mendapat pujian dari salah satu sponsor asal Inggris, sesaat setelah turun dari mimbar pidato.
"Dia menyalami saya dan menyatakan pidato saya sangat bagus. Saya waktu itu berpidato dengan bahasa Indonesia, tetapi terjemahan dalam bahasa Inggris ada di meja undangan," katanya.
Saat itu dia menyatakan bahwa sastra Jawa adalah keluarga dari sastra dunia. "Mungkin saja sastra Jawa pantas dibaca bangsa-bangsa dunia untuk belajar mengenai perdamaian," kata bapak dari Tatit Merapi, Teno Singgalang, dan Neo Semeru itu.
Sangat Produktif
Dia terkesan menerima penghargaan bergengsi itu. Dan, itu penghargaan pertama yang dia terima. "Jangankan penghargaan se-Asia Tenggara, tingkat nasional pun belum pernah," ujar dia.
Suparto Brata sangat produktif. Secara disiplin, dia menulis antara empat dan delapan lembar setiap hari. Karyanya antara lain kumpulan crita cekak Trem dan novel Donyane Wong Culika.
The SEA Write Award adalah penghargaan bagi sastrawan di kawasan Asia Tenggara. Mereka dinilai memberikan kontribusi besar bagi kehidupan sastra di kawasan itu. Penghargaan tersebut diberikan oleh keluarga Kerajaan Thailand.
Penerima the SEA Write Award sebelumnya antara lain adalah Darmanto Jatman (2002), Gus tf Sakai (2004), Acep Zamzam Noor (2005), dan Sitor Situmorang (2006). (ant,gbs-53)
Ya, sastrawan pensiunan pegawai Pemerintah Kota Surabaya itu dikerubuti cewek-cewek cantik Thailand yang meminta foto bersama. Peristiwa itu berlangsung seusai pengarang kelahiran Surabaya, 27 Februari 1932, tersebut menerima penghargaan The SEA Write Awards di Bangkok, Jumat (12/10) lalu.
"Mereka cantik-cantik dan berebut minta foto bersama. Mungkin karena menilai pakaian saya unik," ujar Suparto Brata di Surabaya, Kamis (18/10).
Pakaian Khas
Dia menuturkan saat itu mengenakan pakaian khas Surabaya lengkap dengan ikat kepala (udeng) dari batik. Padahal, sastrawan dari negara lain menggunakan pakaian resmi seperti jas. Penulis produktif yang mengaku masih gagap teknologi, tetapi sudah memiliki website www.supartobrata.com itu mendapat pujian dari salah satu sponsor asal Inggris, sesaat setelah turun dari mimbar pidato.
"Dia menyalami saya dan menyatakan pidato saya sangat bagus. Saya waktu itu berpidato dengan bahasa Indonesia, tetapi terjemahan dalam bahasa Inggris ada di meja undangan," katanya.
Saat itu dia menyatakan bahwa sastra Jawa adalah keluarga dari sastra dunia. "Mungkin saja sastra Jawa pantas dibaca bangsa-bangsa dunia untuk belajar mengenai perdamaian," kata bapak dari Tatit Merapi, Teno Singgalang, dan Neo Semeru itu.
Sangat Produktif
Dia terkesan menerima penghargaan bergengsi itu. Dan, itu penghargaan pertama yang dia terima. "Jangankan penghargaan se-Asia Tenggara, tingkat nasional pun belum pernah," ujar dia.
Suparto Brata sangat produktif. Secara disiplin, dia menulis antara empat dan delapan lembar setiap hari. Karyanya antara lain kumpulan crita cekak Trem dan novel Donyane Wong Culika.
The SEA Write Award adalah penghargaan bagi sastrawan di kawasan Asia Tenggara. Mereka dinilai memberikan kontribusi besar bagi kehidupan sastra di kawasan itu. Penghargaan tersebut diberikan oleh keluarga Kerajaan Thailand.
Penerima the SEA Write Award sebelumnya antara lain adalah Darmanto Jatman (2002), Gus tf Sakai (2004), Acep Zamzam Noor (2005), dan Sitor Situmorang (2006). (ant,gbs-53)
Tags:
Artikel
Meraih Penghargaan Southeast Asia Writer Awards
BANGKOK - Karir kepengarangan Suparto Brata kini semakin lengkap. Penulis sastra Jawa yang masih aktif di usianya yang ke-75 tahun itu dinobatkan Kerajaan Thailand sebagai salah seorang penulis Asia Tenggara Terbaik 2007.
Bersama delapan sastrawan terbaik ASEAN lainnya, Suparto menerima penghargaan Southeast Asia Writer Awards di Ballroom Hotel Oriental, Bangkok, Jumat (12/10). Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Putri Sirivannavari Nariratama yang mewakili bapaknya, Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn.
Atas keberhasilan tersebut, selain menerima piala penghargaan dari Kerajaan Thailand, pria kelahiran Surabaya itu menerima uang 70 ribu baht (sekitar Rp 17,5 juta).
"Lumayan, buat modal menerbitkan buku-buku sastra Jawa. Saat ini banyak penerbit yang enggan menerbitkan buku sastra Jawa karena takut rugi," kata Suparto yang saat itu pakai udeng (penutup kepala) dan baju khas Suroboyoan kepada Jawa Pos.
Southeast Asia Writer Awards merupakan even yang digagas pemerintah Kerajaan Thailand untuk mengapresiasi dunia sastra di kawasan Asia Tenggara. Sejak diberikan pada 1979, sudah hampir 200 sastrawan Asia Tenggara yang menerima penghargaan tersebut. Dari Indonesia, nama-nama sastrawan yang pernah mendapat award itu, antara lain, Goenawan Mohamad, Taufik Ismail, Gerson Poyk, Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, A.A. Navis, dan Sapardi Djoko Damono. Tahun lalu Sitor Situmorang juga menerima penghargaan tersebut.
Salah satu kekhasan penghargaan itu adalah panitia selalu mendatangkan penulis top dunia untuk beraudiensi dan berbagi pengalaman dalam dunia tulis-menulis. Beberapa yang pernah diundang adalah Lord Jeffrey Archer, Frederick Forsyth, dan V.S. Naipaul. Untuk kali ini, yang menjadi penulis tamu adalah Sarah Bradford, penulis biografi sejumlah nama terkenal. Mulai
biografi Jacqueline Kennedy Onassis, Disraeli, Raja George VI, hingga Ratu Elizabeth II, ratu Inggris.
Menurut Suparto, penghargaan tersebut diraih lewat salah satu karya klasiknya, Saksi Mata. Yang membuat Suparto sedikit berbangga, sejak karir panjangnya di dunia sastra, ini adalah kali pertama dia menerima penghargaan. "Bahkan di tingkat nasional pun saya belum pernah mendapat penghargaan, " kata penulis novel trilogi Gadis Tangsi, Kerajaan Raminem, dan
Mentari di Ufuk Timur Indonesia itu.
Kendati berbadan kurus, cita-cita Suparto tidaklah kecil. Dalam pidato kemenangannya (yang dibawakan dalam bahasa Indonesia), Suparto berkata bahwa lewat tulisan-tulisannya (lebih dari 125 karya sastra), dirinya berharap akan tercipta perdamaian dunia.
Suparto juga mengaku akan berusaha sangat keras untuk menduniakan sastra Jawa. Karena bagian dari sastra dunia, dia yakin sastra Jawa layak untuk go international. "Kalau sekarang sedikit yang mengapresiasinya, itu karena memang sosialisasinya yang kurang. Sangat sedikit sastrawan yang mau menulis dalam bahasa Jawa," katanya. (ano)
Jawa Pos? - Senin, 15 Okt 2007
Bersama delapan sastrawan terbaik ASEAN lainnya, Suparto menerima penghargaan Southeast Asia Writer Awards di Ballroom Hotel Oriental, Bangkok, Jumat (12/10). Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Putri Sirivannavari Nariratama yang mewakili bapaknya, Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn.
Atas keberhasilan tersebut, selain menerima piala penghargaan dari Kerajaan Thailand, pria kelahiran Surabaya itu menerima uang 70 ribu baht (sekitar Rp 17,5 juta).
"Lumayan, buat modal menerbitkan buku-buku sastra Jawa. Saat ini banyak penerbit yang enggan menerbitkan buku sastra Jawa karena takut rugi," kata Suparto yang saat itu pakai udeng (penutup kepala) dan baju khas Suroboyoan kepada Jawa Pos.
Southeast Asia Writer Awards merupakan even yang digagas pemerintah Kerajaan Thailand untuk mengapresiasi dunia sastra di kawasan Asia Tenggara. Sejak diberikan pada 1979, sudah hampir 200 sastrawan Asia Tenggara yang menerima penghargaan tersebut. Dari Indonesia, nama-nama sastrawan yang pernah mendapat award itu, antara lain, Goenawan Mohamad, Taufik Ismail, Gerson Poyk, Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, A.A. Navis, dan Sapardi Djoko Damono. Tahun lalu Sitor Situmorang juga menerima penghargaan tersebut.
Salah satu kekhasan penghargaan itu adalah panitia selalu mendatangkan penulis top dunia untuk beraudiensi dan berbagi pengalaman dalam dunia tulis-menulis. Beberapa yang pernah diundang adalah Lord Jeffrey Archer, Frederick Forsyth, dan V.S. Naipaul. Untuk kali ini, yang menjadi penulis tamu adalah Sarah Bradford, penulis biografi sejumlah nama terkenal. Mulai
biografi Jacqueline Kennedy Onassis, Disraeli, Raja George VI, hingga Ratu Elizabeth II, ratu Inggris.
Menurut Suparto, penghargaan tersebut diraih lewat salah satu karya klasiknya, Saksi Mata. Yang membuat Suparto sedikit berbangga, sejak karir panjangnya di dunia sastra, ini adalah kali pertama dia menerima penghargaan. "Bahkan di tingkat nasional pun saya belum pernah mendapat penghargaan, " kata penulis novel trilogi Gadis Tangsi, Kerajaan Raminem, dan
Mentari di Ufuk Timur Indonesia itu.
Kendati berbadan kurus, cita-cita Suparto tidaklah kecil. Dalam pidato kemenangannya (yang dibawakan dalam bahasa Indonesia), Suparto berkata bahwa lewat tulisan-tulisannya (lebih dari 125 karya sastra), dirinya berharap akan tercipta perdamaian dunia.
Suparto juga mengaku akan berusaha sangat keras untuk menduniakan sastra Jawa. Karena bagian dari sastra dunia, dia yakin sastra Jawa layak untuk go international. "Kalau sekarang sedikit yang mengapresiasinya, itu karena memang sosialisasinya yang kurang. Sangat sedikit sastrawan yang mau menulis dalam bahasa Jawa," katanya. (ano)
Jawa Pos? - Senin, 15 Okt 2007
Tags:
Artikel
Suparto Brata, Sastrawan Peraih SEA Write Award dari Kerajaan Thailand
Dari Surabaya Ingin Menduniakan Bahasa Jawa
Sastrawan Suparto Brata kembali meraih prestasi membanggakan. Dia mendapatkan SEA (South East Asia) Write Award 2007 yang diserahkan pada 12 Oktober di Bangkok, Thailand.
--------
DINARSA KURNIAWAN
Mungkin bagi orang yang kurang memperhatikan karya sastra, nama Suparto Brata hanyalah angin lalu. Tapi, bagi para pencinta sastra, terutama sastra Jawa, pria kelahiran Surabaya, 23 Februari 1932 itu adalah salah seorang sastrawan yang layak ditempatkan di garda paling depan.
Ya, nama Suparto Brata kembali mengukir prestasi Indonesia di bidang tulis-menulis di dunia internasional. Tak sembarang sastrawan mampu meraih prestasi tersebut. Hanya sastrawan-sastrawan yang punya dedikasi dan integritas tinggi terhadap karya yang layak mendapatkan penghargaan dari SEA Write Organising Committee yang dipimpin Sukhumbhand Paribatra dari Thailand. Tahun lalu penghargaan itu diberikan kepada penyair Indonesia Sitor Situmorang.
Suparto tidak menyangka akan mendapatkan penghargaan tertinggi bagi sastrawan di Asia Tenggara itu. "Beberapa bulan lalu, saya diberi tahu Pak Prih Suharto dari Pusat Bahasa di Jakaera bahwa saya dinominasikan sebagai penerima penghargaan ini," ujarnya beberapa saat sebelum terbang ke Bangkok Minggu lalu (7/10). "Terus terang saya terkejut. Wong, penghargaan tingkat nasional saja saya belum pernah dapat, ini langsung meraih penghargaan tingkat Asia Tenggara," tambahnya.
Suparto mengungkapkan, tahun ini awalnya ada tiga nama penulis Indonesia yang masuk unggulan. Namun, setelah diseleksi Pusat Bahasa, Suparto-lah yang terpilih sebagai penerima award dari Indonesia. "Saya tidak hafal peraih award dari negara lain," ujar penulis novel Kremil itu.
Untuk tahun ini, penghargaan yang dilangsungkan sejak 1979 itu akan diterimakan di Royal Ballroom Oriental Hotel, Bangkok, Jumat (12/10). Suparto sudah berangkat ke Thailand Minggu (7/10) didampingi putranya, Tenno Singgalang Brata. Penghargaan akan diserahkan Sirivannavari Nariratana, putri raja. Biasanya, upacara itu juga dihadiri para kerabat Kerajaan Thailand karena memang penghargaan tersebut digagas Kerajaan Thailand.
Meski usianya sudah 75 tahun, Suparto dikenal sebagai sastrawan yang produktif. Dia juga sangat peduli dengan pengembangan bahasa Jawa. Jadi, selain dalam bahasa Indonesia, bapak empat anak itu menulis karya sastranya dalam bahasa Jawa. Wajarlah kalau dia cukup dikenal sebagai sastrawan Jawa. Bahkan, berkat ketekunan dan dedikasinya terhadap bahasa Jawa, Suparto pernah mendapat penghargaan Rancage, penghargaan tahunan untuk sastrawan Sunda, Jawa, dan Bali, yang diberikan lembaga pimpinan sastrawan Ajip Rosyidi.
Salah satu karya monumental Suparto adalah trilogi novel Gadis Tangsi, Kerajaan Raminem, serta Mentari di Ufuk Timur Indonesia. Trilogi tersebut mengisahkan perjalanan hidup tokoh Teti dan Raminem yang mengambil setting pada masa pendudukan tentara Dai Nippon di Nusantara. Beberapa karya lain, Aurora, Dom Sumurup ing Banyu, Saksi Mata, dan Kremil.
Sastrawan yang tergabung dalam Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) itu juga menulis buku berjudul Suparto Brata’s Omnibus. Buku itu berisi tiga novel berbahasa Jawa, yakni Astirin Mbalela, Clemang-Clemong, dan Bekasi Remeng-Remeng, plus esai tentang ketiga novel itu oleh Darni Ragil Suparlan, dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah, Fakultas Bahasa dan Sastra, Unesa.
Terbitnya buku tersebut sekaligus menjadi alat untuk menduniakan bahasa Jawa seperti yang menjadi obsesinya. "Saya meniru format konsepnya seperti di Amerika dan saya akan menjualnya di luar negeri untuk mempromosikan bahasa Jawa," tegas sastrawan yang pernah diundang secara khusus oleh Konsulat Jenderal Amerika di Surabaya, setelah mengusulkan alih bahasa Jawa untuk telenovela-telenovela dari Amerika Latin yang dulu banyak diputar di TV-TV Indonesia itu.
Suparto merasa prihatin dengan perkembangan bahasa Jawa yang semakin ditinggalkan penggunanya. "Wah, pokoke ciloko. Basa Jawa wis ora dianggep maneh karo wong Jawa dewe (Wah, pokoknya celaka. Bahasa Jawa sudah tidak diperhatikan lagi oleh orang Jawa sendiri, Red)," ujar pensiunan pegawai Pemkot Surabaya itu.
Menurut Suparto, sebagian masyarakat sekarang menganggap bahasa Jawa sudah ketinggalan zaman. "Orang menilai bahasa Jawa itu ndeso," cetus pengarah yang tinggal di daerah Rungkut Asri tersebut.
Padahal, kata dia, banyak orang asing, terutama dari Eropa, yang berkeinginan mempelajari bahasa Jawa. Orang asing itu mempelajari, lantas menuliskannya sebagai ilmu pengetahuan di negaranya. "Orang-orang kita, jangankan menulis, wong membaca saja males," tuturnya.
Selain menulis buku sastra, Suparto produktif menorehkan ide-idenya dalam cerita untuk anak-anak dan cerita rakyat Jatim. Buku-buku itu terinspirasi dari cerita-cerita kepahlawanan seperti pertempuran 10 November 1945, Monumen Mayangkara, dan cerita-cerita rakyat Jawa Timur. Produktivitasnya tak perlu diragukan. Sepanjang 2007 ini saja, Suparto melahirkan 12 buku cerita anak dan cerita rakyat Jawa Timur.
Jauh sebelum karya-karya itu lahir dari buah pikirannya, Suparto menjalani masa kecilnya dengan tidak mudah. Pada 1950, alumnus SMPN 2 Surabaya tersebut sempat menjadi loper koran Jawa Pos. "Waktu itu saya memang harus bekerja untuk membiayai sekolah. Kalau tidak, saya tidak akan bisa lulus SMP," kenangnya.
Pada tahun itu pula, dia mulai menulis. Awalnya hanya cerita-cerita pendek, namun kemudian berkembang menjadi novel.
Hubungan penulis buku Donyane Wong Culika itu dengan dunia tulis-menulis semakin intim dari tahun ke tahun. Salah satu di antaranya adalah keputusannya menjadi penulis lepas untuk sejumlah media, seperti Surabaya Post dan Jawa Pos. "Sejujurnya, Jawa Pos selalu mengawal perjalanan hidup saya. Pernah jadi lopernya, menulis di sana juga pernah, sampai sekarang diwawancarai sama Jawa Pos," selorohnya lalu tertawa.
Karya pertamanya dimuat di majalah Garuda pada 25 Oktober 1953 dengan cerpen Miss Rika di Angkasa. Petualangannya sebagai sastrawan Jawa berawal dari tulisan-tulisannya di majalah Panjebar Semangat. Majalah berbahasa Jawa itu juga memberinya anugerah saat sayembara penulisan cerita bersambung pada 1959. Cerita bersambung karya Suparto dikonversi dalam bentuk novel dengan tajuk Lara Lapane Kaum Republik. Novel tersebut kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Suparto menjadi Kaum Republik. Uniknya, sebelum terkenal seperti sekarang, Suparto kerap menggunakan nama samaran, seperti Eling Jatmiko dan Peni.
Meski sangat mencintai dunianya sebagai penulis, sejak dulu Suparto memiliki pekerjaan tetap. Tercatat, dia pernah bekerja di Kantor Dagang Negara Jaya Bhakti. Tapi, kemudian dia mengundurkan diri karena tidak senang dengan "pemaksaan" untuk masuk menjadi anggota Golkar.
"Waktu Orde Baru, semua pegawai di Jaya Bhakti diharuskan mencoblos Golkar. Tapi, karena saya tidak mau mengikuti perintah itu, saya keluar. Saya tidak mau terlibat di politik," bebernya.
Lalu dia bekerja di Kantor Pos Besar Kebon Rojo dan akhirnya pensiun sebagai PNS di lingkungan Pemkot Surabaya.
Untuk mengisi hari-hari tuanya, dia tidak mau hanya berdiam diri. Sejak pagi buta dia bangun dan melakukan aktivitas rutinnya, yakni membaca buku. Lantas, pukul 07.00, aktivitas membaca diganti dengan kesibukan menulis yang berlangsung hingga menjelang magrib. "Membaca dan menulis sudah menyatu dengan darah saya," tandas pengarang besar yang ke mana-mana senang naik angkutan untuk mendapatkan ide tulisan itu. (*)
Dari Jawa Pos dot com.
Sastrawan Suparto Brata kembali meraih prestasi membanggakan. Dia mendapatkan SEA (South East Asia) Write Award 2007 yang diserahkan pada 12 Oktober di Bangkok, Thailand.
--------
DINARSA KURNIAWAN
Mungkin bagi orang yang kurang memperhatikan karya sastra, nama Suparto Brata hanyalah angin lalu. Tapi, bagi para pencinta sastra, terutama sastra Jawa, pria kelahiran Surabaya, 23 Februari 1932 itu adalah salah seorang sastrawan yang layak ditempatkan di garda paling depan.
Ya, nama Suparto Brata kembali mengukir prestasi Indonesia di bidang tulis-menulis di dunia internasional. Tak sembarang sastrawan mampu meraih prestasi tersebut. Hanya sastrawan-sastrawan yang punya dedikasi dan integritas tinggi terhadap karya yang layak mendapatkan penghargaan dari SEA Write Organising Committee yang dipimpin Sukhumbhand Paribatra dari Thailand. Tahun lalu penghargaan itu diberikan kepada penyair Indonesia Sitor Situmorang.
Suparto tidak menyangka akan mendapatkan penghargaan tertinggi bagi sastrawan di Asia Tenggara itu. "Beberapa bulan lalu, saya diberi tahu Pak Prih Suharto dari Pusat Bahasa di Jakaera bahwa saya dinominasikan sebagai penerima penghargaan ini," ujarnya beberapa saat sebelum terbang ke Bangkok Minggu lalu (7/10). "Terus terang saya terkejut. Wong, penghargaan tingkat nasional saja saya belum pernah dapat, ini langsung meraih penghargaan tingkat Asia Tenggara," tambahnya.
Suparto mengungkapkan, tahun ini awalnya ada tiga nama penulis Indonesia yang masuk unggulan. Namun, setelah diseleksi Pusat Bahasa, Suparto-lah yang terpilih sebagai penerima award dari Indonesia. "Saya tidak hafal peraih award dari negara lain," ujar penulis novel Kremil itu.
Untuk tahun ini, penghargaan yang dilangsungkan sejak 1979 itu akan diterimakan di Royal Ballroom Oriental Hotel, Bangkok, Jumat (12/10). Suparto sudah berangkat ke Thailand Minggu (7/10) didampingi putranya, Tenno Singgalang Brata. Penghargaan akan diserahkan Sirivannavari Nariratana, putri raja. Biasanya, upacara itu juga dihadiri para kerabat Kerajaan Thailand karena memang penghargaan tersebut digagas Kerajaan Thailand.
Meski usianya sudah 75 tahun, Suparto dikenal sebagai sastrawan yang produktif. Dia juga sangat peduli dengan pengembangan bahasa Jawa. Jadi, selain dalam bahasa Indonesia, bapak empat anak itu menulis karya sastranya dalam bahasa Jawa. Wajarlah kalau dia cukup dikenal sebagai sastrawan Jawa. Bahkan, berkat ketekunan dan dedikasinya terhadap bahasa Jawa, Suparto pernah mendapat penghargaan Rancage, penghargaan tahunan untuk sastrawan Sunda, Jawa, dan Bali, yang diberikan lembaga pimpinan sastrawan Ajip Rosyidi.
Salah satu karya monumental Suparto adalah trilogi novel Gadis Tangsi, Kerajaan Raminem, serta Mentari di Ufuk Timur Indonesia. Trilogi tersebut mengisahkan perjalanan hidup tokoh Teti dan Raminem yang mengambil setting pada masa pendudukan tentara Dai Nippon di Nusantara. Beberapa karya lain, Aurora, Dom Sumurup ing Banyu, Saksi Mata, dan Kremil.
Sastrawan yang tergabung dalam Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) itu juga menulis buku berjudul Suparto Brata’s Omnibus. Buku itu berisi tiga novel berbahasa Jawa, yakni Astirin Mbalela, Clemang-Clemong, dan Bekasi Remeng-Remeng, plus esai tentang ketiga novel itu oleh Darni Ragil Suparlan, dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah, Fakultas Bahasa dan Sastra, Unesa.
Terbitnya buku tersebut sekaligus menjadi alat untuk menduniakan bahasa Jawa seperti yang menjadi obsesinya. "Saya meniru format konsepnya seperti di Amerika dan saya akan menjualnya di luar negeri untuk mempromosikan bahasa Jawa," tegas sastrawan yang pernah diundang secara khusus oleh Konsulat Jenderal Amerika di Surabaya, setelah mengusulkan alih bahasa Jawa untuk telenovela-telenovela dari Amerika Latin yang dulu banyak diputar di TV-TV Indonesia itu.
Suparto merasa prihatin dengan perkembangan bahasa Jawa yang semakin ditinggalkan penggunanya. "Wah, pokoke ciloko. Basa Jawa wis ora dianggep maneh karo wong Jawa dewe (Wah, pokoknya celaka. Bahasa Jawa sudah tidak diperhatikan lagi oleh orang Jawa sendiri, Red)," ujar pensiunan pegawai Pemkot Surabaya itu.
Menurut Suparto, sebagian masyarakat sekarang menganggap bahasa Jawa sudah ketinggalan zaman. "Orang menilai bahasa Jawa itu ndeso," cetus pengarah yang tinggal di daerah Rungkut Asri tersebut.
Padahal, kata dia, banyak orang asing, terutama dari Eropa, yang berkeinginan mempelajari bahasa Jawa. Orang asing itu mempelajari, lantas menuliskannya sebagai ilmu pengetahuan di negaranya. "Orang-orang kita, jangankan menulis, wong membaca saja males," tuturnya.
Selain menulis buku sastra, Suparto produktif menorehkan ide-idenya dalam cerita untuk anak-anak dan cerita rakyat Jatim. Buku-buku itu terinspirasi dari cerita-cerita kepahlawanan seperti pertempuran 10 November 1945, Monumen Mayangkara, dan cerita-cerita rakyat Jawa Timur. Produktivitasnya tak perlu diragukan. Sepanjang 2007 ini saja, Suparto melahirkan 12 buku cerita anak dan cerita rakyat Jawa Timur.
Jauh sebelum karya-karya itu lahir dari buah pikirannya, Suparto menjalani masa kecilnya dengan tidak mudah. Pada 1950, alumnus SMPN 2 Surabaya tersebut sempat menjadi loper koran Jawa Pos. "Waktu itu saya memang harus bekerja untuk membiayai sekolah. Kalau tidak, saya tidak akan bisa lulus SMP," kenangnya.
Pada tahun itu pula, dia mulai menulis. Awalnya hanya cerita-cerita pendek, namun kemudian berkembang menjadi novel.
Hubungan penulis buku Donyane Wong Culika itu dengan dunia tulis-menulis semakin intim dari tahun ke tahun. Salah satu di antaranya adalah keputusannya menjadi penulis lepas untuk sejumlah media, seperti Surabaya Post dan Jawa Pos. "Sejujurnya, Jawa Pos selalu mengawal perjalanan hidup saya. Pernah jadi lopernya, menulis di sana juga pernah, sampai sekarang diwawancarai sama Jawa Pos," selorohnya lalu tertawa.
Karya pertamanya dimuat di majalah Garuda pada 25 Oktober 1953 dengan cerpen Miss Rika di Angkasa. Petualangannya sebagai sastrawan Jawa berawal dari tulisan-tulisannya di majalah Panjebar Semangat. Majalah berbahasa Jawa itu juga memberinya anugerah saat sayembara penulisan cerita bersambung pada 1959. Cerita bersambung karya Suparto dikonversi dalam bentuk novel dengan tajuk Lara Lapane Kaum Republik. Novel tersebut kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Suparto menjadi Kaum Republik. Uniknya, sebelum terkenal seperti sekarang, Suparto kerap menggunakan nama samaran, seperti Eling Jatmiko dan Peni.
Meski sangat mencintai dunianya sebagai penulis, sejak dulu Suparto memiliki pekerjaan tetap. Tercatat, dia pernah bekerja di Kantor Dagang Negara Jaya Bhakti. Tapi, kemudian dia mengundurkan diri karena tidak senang dengan "pemaksaan" untuk masuk menjadi anggota Golkar.
"Waktu Orde Baru, semua pegawai di Jaya Bhakti diharuskan mencoblos Golkar. Tapi, karena saya tidak mau mengikuti perintah itu, saya keluar. Saya tidak mau terlibat di politik," bebernya.
Lalu dia bekerja di Kantor Pos Besar Kebon Rojo dan akhirnya pensiun sebagai PNS di lingkungan Pemkot Surabaya.
Untuk mengisi hari-hari tuanya, dia tidak mau hanya berdiam diri. Sejak pagi buta dia bangun dan melakukan aktivitas rutinnya, yakni membaca buku. Lantas, pukul 07.00, aktivitas membaca diganti dengan kesibukan menulis yang berlangsung hingga menjelang magrib. "Membaca dan menulis sudah menyatu dengan darah saya," tandas pengarang besar yang ke mana-mana senang naik angkutan untuk mendapatkan ide tulisan itu. (*)
Dari Jawa Pos dot com.
Tags:
Artikel
S.E.A. Write Award
Surat tertanggal 17 September 2007 dari The S.E.A. Write Awards Organising Committee, Bangkok. Thailand saya terima tanggal 28 September 2007 yang memberitahukan bahwa saya menerima penghargaan dari organisasi tersebut yang rencananya akan diadakan pada tanggal 7-13 October 2007.
Beberapa bulan yang lalu saya diberitahu oleh Bapak Prih Suharto dari Pusat Balai Bahasa, bahwa saya dinominasikan sebagai penerima penghargaan dari The S.E.A. Write Awards Organising Committee, Bangkok.
Dibawah ini surat yang saya terima dari The S.E.A. Write Awards Organising Committee, Bangkok
17 September 2007.
Dear Mr. Brata
The members of the S.E.A. Write Awards Organising Committee join me in sending you our sincere congratulations on being selected as Indonesia‘s S.E.A.Write Awardee for 2007.
The 2007 S.E.A.Write Week has been scheduled from Sunday, 7-13 October 2007, culminating in the Awards Presentation and Gala Dinner on Friday, 12 October, to be presided over by Her Royal Highness Princess Sirivannavari Nariratana in the Oriental Hotel’s Royal Ballroom, following the traditional Cocktail Reception in the Autors’ Lounge.
On the evening of Monday, 8 October 2007, each awardee will receive a prize money (cheque) for the amount of Baht ....,- from the S.E.A. Write Organising Committee Chairman, M.R.Sukhumbhand Paribatra. A welcome dinner will take place in the Sala Rim Naam Thai Restaurant following the cheque presentation.
We would like to ask all awardees to arrive on Sunday 7 October 2007 for a week’s complimentary stay which as you know, is part of the prize. The departure date is Saturday, 13 October 2007.
In the meantime, please kindly contact, at your earliest convenience, the Thai Airways International Office in your country where a complimentary raound-trip air ticket will be issued for you. Thai Airways International is one of the S.E.A. Write Awards’ major sponsors.
The contact name and address are:
Mr Suvadhana S.
Thai Airways International
B.D.N. Building
Jl. M.H.Thamrin No. 5
Jakarta 10340, Indonesia.
Tel: (62 21)230 2551
Fax: (62 21) 315 3386
6. If you wish to be accompanied by your spouse or companion, we would be delighted to welcome him or her as our guest with the same privileges (Three meals per day excluding alcoholic beverages and all other incedentals, to be settled upon departure). In regards to airfare for your companion, please kindly check with the Thai Airways International Office for any special discounts which may be available.
7. With regard to fuel surcharge per person, The Oriental Hotel will reimburse each awardee only accordingly. Please kindly present the fuel surcharga receipt to Ms. Janpen and reimbursement will be arranged for you.
We look forward to welcoming you to The Oriental, Bangkok.
Yours sincerely
Somsri (Susie) Hansirisawasdi
Secretary, SEA Write Awards Organising Committee.
The S.E.A. Write Award atau Southeast Asia Writers Award adalah penghargaan yang diadakan setiap tahun sejak tahun 1979 untuk bidang penulis puisi dan pengarang di Asia Tenggara.
Beberapa penulis Indonesia yang telah menerima penghargaan ini antara lain : Putu Wijaya, Goenawan Muhamad, Marianne Katoppo, Y.B.Mangunwijaya, Budi Darma, Dr. Umar Kayam, Gerson Poyk, Arifin C. Nor, A.A. Navis, Taufik Ismail, WS. Rendra, N. Riantiarno, NH. Dini, untuk melihat selengkapnya klik disini atau disini.
Beberapa bulan yang lalu saya diberitahu oleh Bapak Prih Suharto dari Pusat Balai Bahasa, bahwa saya dinominasikan sebagai penerima penghargaan dari The S.E.A. Write Awards Organising Committee, Bangkok.
Dibawah ini surat yang saya terima dari The S.E.A. Write Awards Organising Committee, Bangkok
17 September 2007.
Dear Mr. Brata
The members of the S.E.A. Write Awards Organising Committee join me in sending you our sincere congratulations on being selected as Indonesia‘s S.E.A.Write Awardee for 2007.
The 2007 S.E.A.Write Week has been scheduled from Sunday, 7-13 October 2007, culminating in the Awards Presentation and Gala Dinner on Friday, 12 October, to be presided over by Her Royal Highness Princess Sirivannavari Nariratana in the Oriental Hotel’s Royal Ballroom, following the traditional Cocktail Reception in the Autors’ Lounge.
On the evening of Monday, 8 October 2007, each awardee will receive a prize money (cheque) for the amount of Baht ....,- from the S.E.A. Write Organising Committee Chairman, M.R.Sukhumbhand Paribatra. A welcome dinner will take place in the Sala Rim Naam Thai Restaurant following the cheque presentation.
We would like to ask all awardees to arrive on Sunday 7 October 2007 for a week’s complimentary stay which as you know, is part of the prize. The departure date is Saturday, 13 October 2007.
In the meantime, please kindly contact, at your earliest convenience, the Thai Airways International Office in your country where a complimentary raound-trip air ticket will be issued for you. Thai Airways International is one of the S.E.A. Write Awards’ major sponsors.
The contact name and address are:
Mr Suvadhana S.
Thai Airways International
B.D.N. Building
Jl. M.H.Thamrin No. 5
Jakarta 10340, Indonesia.
Tel: (62 21)230 2551
Fax: (62 21) 315 3386
6. If you wish to be accompanied by your spouse or companion, we would be delighted to welcome him or her as our guest with the same privileges (Three meals per day excluding alcoholic beverages and all other incedentals, to be settled upon departure). In regards to airfare for your companion, please kindly check with the Thai Airways International Office for any special discounts which may be available.
7. With regard to fuel surcharge per person, The Oriental Hotel will reimburse each awardee only accordingly. Please kindly present the fuel surcharga receipt to Ms. Janpen and reimbursement will be arranged for you.
We look forward to welcoming you to The Oriental, Bangkok.
Yours sincerely
Somsri (Susie) Hansirisawasdi
Secretary, SEA Write Awards Organising Committee.
The S.E.A. Write Award atau Southeast Asia Writers Award adalah penghargaan yang diadakan setiap tahun sejak tahun 1979 untuk bidang penulis puisi dan pengarang di Asia Tenggara.
Beberapa penulis Indonesia yang telah menerima penghargaan ini antara lain : Putu Wijaya, Goenawan Muhamad, Marianne Katoppo, Y.B.Mangunwijaya, Budi Darma, Dr. Umar Kayam, Gerson Poyk, Arifin C. Nor, A.A. Navis, Taufik Ismail, WS. Rendra, N. Riantiarno, NH. Dini, untuk melihat selengkapnya klik disini atau disini.
Tags:
Artikel
Buku yang terbit tahun 2007

1. MAHLIGAI DI UFUK TIMUR, Penerbit Buku KOMPAS Jl. Palmerah Selatan 26 – 28 Jakarta 10270. Mahligai Di Ufuk Timur, judul ke tiga dari trilogi Gadis Tangsi, Kerajaan Raminem. Melanjutkan lakon tentang Teyi dan simboknya, Raminem. Berkisah tentang kehidupan Teyi sebagai petani di desa serta hubungan asmaranya dengan Cudanco PETA Raden Mas Kus Bandarkum bangsawan Surakarta Hadiningrat pada akhir zaman Jepang. Banyak menampilkan data historis dan sosiologis, kandungan sejarah, dan punya makna dalam perkembangan bahasa Indonesia. Pecinta sastra dan sejarah seharusnya memiliki buku ini.
2. SUPARTO BRATA’S OMNIBUS. Penerbit NARASI Jl. Irian Jaya D-24 Perum Nogotirto Elok II Yogyakarta 55292. Satu buku berisi tiga novel bahasa Jawa, yaitu: Astirin Mbalela, Clemang-Clemong dan Bekasi Remeng-Remeng, ditambah esei tentang ke tiga novel itu oleh Darni Ragil Suparlan, dosen jurusan pendidikan bahasa daerah, FBS Unesa Surabaya. Astirin gadis desa Ngunut Tulungagung, lari ke Surabaya karena menolak mau dikawinkan. Akhir cerita ia kembali ke Ngunut, sebagai apa, itulah surprise ending yang dikisahkan di novel tadi. Clemang-clemong adalah bicara gadis Abyor yang berumur 6 tahun, yang ditinggal mati oleh ibunya. Dengan clemang-clemongnya ia memilihkan istri ayahnya yang baru pengganti ibunya. Bekasi Remeng-Remeng menceritakan kisah kriminal di Kota Bekasi menjelang senja hari.
3. JARING KALAMANGGA, Penerbit NARASI, Yogyakarta. Novel bahasa Jawa seri Detektip Handaka. Sanggar, seorang wakil direktur perusahaan dagang, membutuhkan seorang jurutulis di kantor cabangnya di Tretes. Dia memanggil calon jurutulisnya itu untuk segera bekerja, namanya Handaka. “Yang dibutuhkan jurutulis, tapi yang bapak panggil kok detektip. Mengapa?” tanya calon jurutulis tadi. Dan itu pula pertanyaan pembaca novel ini. Buku ini juga ditambah catatan diskusi kesastraan oleh Ratna Indriani di Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta.
4. EMPRIT ABUNTUT BEDHUG, Penerbit NARASI, Yogyakarta. Novel bahasa Jawa seri Detektip Handaka. Sore hari menjelang magerip, Jarot naik sepeda di perlimaan Blawuran Surabaya, berserempetan dengan sepeda seorang gadis. Kantong gadis yang ditaruh di stang sepedanya jatuh. Ditemu Jarot. Tapi gadis tadi tidak mau mengakui itu kantongnya. Mengapa? Buntut cerita itu ternyata mengarah ke penculikan dan penyiksaan seorang gadis cantik.
5. CRITA RAKYAT PROBOLINGGO, Penerbit PT.GRASINDO, Jl. Palmerah Selatan 22 – 28 Jakarta 10270. Buku bacaan bahasa Jawa yang menceritakan dongeng, mite atau legenda yang berkenaan dengan Kabupaten dan Kota Probolinggo.
6. CRITA RAKYAT BLITAR, penerbit PT. GRASINDO Jakarta. Buku bacaan bahasa Jawa yang menceritakan dongeng, mite atau legenda yang berkenaan dengan Kabupaten dan Kota Blitar.
7. CRITA RAKYAT TUBAN, Penerbit PT. GRASINDO Jakarta. Buku bacaan bahasa Jawa yang menceritakan dongeng, mite atau legenda yang berkenaan dengan Kabupaten Tuban dan Kota Tuban.
8. CRITA RAKYAT JAWA TIMUR, Penerbit PT. GRASINDO Jakarta. Buku bacaan bahasa Jawa yang menceritakan dongeng, mite atau legenda di Jawa Timur.
9. CINTRONG TRAJU PAPAT, Penerbit PT. GRASINDO Jakarta. Lirih Nagari seorang gadis lulusan SMA Caruban mencari kehidupan di Jakarta, berhasil bekerja di kantor periklanan gedung pencakar langit di tengah kota. “Sastra Jawa bukan sastra desa. Novel ini berkisah tentang bisnis periklanan, produk sinetron, jaringan komputer”, kata seorang pembaca novel ini dalam eseinya.
10. MBOK RANDHA SAKA JOGJA, Penerbit PT. GRASINDO Jakarta. Citra Resmi asal Jogja, melamar pekerjaan di PT perusahaan pelayaran di Surabaya. Ia ketahuan sudah punya anak. Namun kemudian seluruh keluarga pemilik perusahaan itu lebih memilih “janda” itu dijadikan istri Martiyas (adik ipar direktur utama) daripada si sekretaris direksi. Mengapa? “Anata wa ima daibu o-ishogashii deshõ”. Lakon dan solusinya di novel bahasa Jawa ini.
11. COCAK NGUNTAL ELO, Penerbit PT. GRASINDO Jakarta.Gadis sedang mandi. Gagang telepon diberikan kepadanya. Terima telepon, beritanya ayahnya, seorang pengusaha real estate sukses yang kantornya di TB. Simatupang Jakarta, tewas di pesawat terbang. Si Gadis menjerit-jerit keluar dari kamar mandi, tanpa busana. Itulah awal dari novel bahasa Jawa ini. Tewasnya karena sakit, kecelakaan, atau pembunuhan?
12. SER! SER! PLONG! Penerbit PT. GRASINDO Jakarta. Linuwih, manager Innamorata Dancer ke bandara mau menjemput pelatih dansah yang datang dari Tokyo. Ditunggu sampai empat jam tidak datang. Wangi Lestari, pergi ke bandara, ingin melihat tunangannya yang diplomat, yang kabarnya mau datang hari itu dari Negeri Belanda. Tapi juga tidak terlihat datang. Maka yang dijumpai di bandara, Wangi bertemu dengan Linuwih. Wangi yang kepengin banget berlatih dansah, pun tergaet oleh Linuwih. Novel bahasa Jawa yang khusus bicara tentang pengusahaan club dansah.
13. ‘t SPOOKHUIS, Penerbit PT. GRASINDO Jakarta. ‘t Spookhuis bahasa Belanda, artinya rumah hantu. Novel bahasa Jawa ini setting waktunya memang zaman Belanda. Pada zaman itu di Surabaya ada dua gedung setan, tapi yang terkenal Gedung Setan di Pasarkembang. Pelajar HBS yang kebanyakan orang Belanda, sangat percaya akan angkernya gedong setan tadi, tingkat keangkerannya didiskusikan di acara Debating Club. Namun justru ada seorang pelajar pribumi yang tidak percaya. Akibatnya mereka bertaruh, kalau pelajar pribumi tadi berani masuk ke rumah hantu tadi malam Jumat Kliwon, dia menang. Pelajar pribumi tadi akhirnya masuk, dan di sanalah perjuangan lakon ini melawan para hantu.
14. LELABETANE GUBERNUR JAWA TIMUR I R.M.T.A. SURYO, Penerbit PT. GRASINDO Jakarta. Menceritakan riwayat hidup R.M.T.A. Suryo, sejak beliau menjabat bupati Magetan, Jepang datang, peranan beliau pada bulan November 1945 di Surabaya, hingga tewasnya di hutan jati sebelah barat Ngawi. Suatu kisah bahasa Jawa yang sangat perlu diketahui oleh rakyat Jawa Timur, karena hari disumpahnya beliau jadi Gubernur Jawa Timur diperingati sebagai hari jadi Propinsi Jawa Timur.
Tags:
Judul Buku










