Suparto Brata dan Bonari Nabonenar
Berekspresi lewat kertas dan pena seolah tak cukup bagi Suparto Brata dan Bonari Nabonenar. Maka, dua sastrawan Jawa itu membangun "rumah" di jagat internet. Situs pribadi atau blog yang mereka bangun pun lebih dari sekadar media ekspresi.
Ketiklah nama Suparto Brata pada mesin pencari Google. Maka, akan muncul lebih dari 10.500 item yang memuat kata Suparto Brata. Tentu, tak semua benar-benar berbicara tentang Suparto Brata, sastrawan Jawa kelahiran Surabaya yang sangat produktif itu.
Tampak pada urutan teratas halaman pertama hasil pencarian itu, Suparto Brata menjadi salah satu lema (entry) pada situs jv.wikipedia.org, ensiklopedia bebas berbahasa Jawa. Di situ, Suparto disebut isih turun (masih keturunan) Pakubuwana V. Situs tersebut juga menulis, Suparto klebu sastrawan Jawa modern kang produktif. Dheweke asring nampa penghargaan saka ngendi-ngendi (termasuk sastrawan Jawa modern yang produktif. Dia sering menerima penghargaan dari mana-mana).
Lewat hasil search engine, terlihat pula bahwa Suparto punya dua alamat. Yaitu, www.supartobrata.blogspot.com dan www.supartobrata.com. Meski punya dua "rumah" di dunia maya, tentu sehari-hari Suparto masih tinggal di rumahnya yang nyata, Rungkut Asri III/12.
Di Rungkut itulah Suparto diwawancarai pada Kamis (22/11) siang. Kala itu, dia memakai polo shirt (kaus berkerah) hitam. Ada garis kuning di bagian kerah dan lengan baju tersebut. Di dada kiri, tampak logo dan tulisan salah satu merek rokok terkenal. Logo dan tulisan itu juga kuning.
Yang membuat baju itu terasa lain adalah secarik kain hitam berukuran sekitar 5 x 15 sentimeter yang dijahit di bagian tengkuk, tepat di bawah kerah. Tulisannya berupa bordiran kuning, www.supartobrata.com. Menurut Suparto, dirinya punya lima badge bordiran semacam itu. "Harganya Rp 6 ribu per biji," ujar pria kelahiran 27 Februari 1932 tersebut.
Suparto memang begitu memaknai situs pribadi tersebut. Lewat situs itu, dia bisa menulis apa saja. Mulai artikel, cerita, kisah-kisah pribadi, hingga berbagai tulisan tentang dirinya yang telah dimuat di berbagai media. Lewat itu pula, dia melayani curhat beberapa penggemarnya.
Misalnya, dalam sebuah e-mail yang bertanya tentang prosedur penerbitan buku. Atau e-mail dari mahasiswa yang ingin meneliti Gadis Tangsi, novel karya Suparto. Pria sepuh itu pun tampak telaten meladeni interaksi dengan fans tersebut.
Bagi Suparto, menulis di internet tetaplah asyik. Meski, dirinya tak mendapat honor dari tulisan yang dia upload. "Informasi yang saya sampaikan dibaca orang. Itulah yang lebih penting. Saya memang membangun itu untuk menyebarkan pikiran," ungkap penerima The SEA Write Award, penghargaan penulis tingkat ASEAN, 12 Oktober lalu di Bangkok, tersebut.
Adalah Tatit Merapi Brata, putra sulungnya, yang pertama menunjukkan keampuhan situs pribadi di internet. "Dia berjualan kain lewat internet. Eh, tibake yo payu (ternyata juga laku, Red)," ujar pengarang buku Kremil itu.
Pada Desember 2006, tiga di antara empat anaknya lantas membuatkan Suparto situs pribadi. Alamatnya www.supartobrata.blogspot.com.
Situs gratisan tersebut berjalan hingga pertengahan tahun ini. "Kata anak-anak saya, di blogspot itu tidak enak. Informasinya bermacam-macam, ada yang tidak bisa dipertanggungjawabkan," kata putra pasangan Raden Suratman Bratatanaya dan Raden Ajeng Jembawati tersebut.
Karena itu, Suparto lantas membangun www.supartobrata.com. Untuk mendapatkan domain ".com" (dot com), dia harus membayar Rp 3 juta per bulan. "Mbayarnya di Jogja. Anak-anak yang tahu. Kata anak saya, kalau banyak yang melihat (situs itu), ada yang pasang iklan," jelas penerima Rancage, hadiah untuk sastrawan Jawa, Sunda, dan Bali pada 2000, 2001, dan 2005 itu.
Memang, yang merancang dan melakukan maintenance situs tersebut adalah ketiga putra Suparto. "Mereka pintar komputer," tegas pengarang novel Donyane Wong Culika tersebut.
Tiga putra Suparto itu adalah Tatit Merapi Brata (putra sulung, sarjana Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang), Neo Semeru Brata (putra ketiga, sarjana Teknik Elektro Jurusan Komputer ITS), dan Tenno Singgalang Brata (putra keempat, sarjana Teknik Lingkungan ITS). "Tapi, saya pesan kepada mereka, yang bekerja harus saya," kata Suparto.
Artinya, Suparto tetap bertanggung jawab menulis dan mengisi situs tersebut. Karena itu, mau tidak mau, dia pun harus tetap aktif berkarya agar situs pribadi tersebut terisi. Namun, itu memang bukan problem. Sebab, meski tanpa situs di internet pun, dia tetap sangat produktif.
Pada usianya yang sudah 75 tahun, setiap hari suami Rara Ariyati (meninggal pada 2 Juni 2002) tersebut tetap aktif. "Setiap hari saya bangun pukul 03.00-04.00. Saya buka komputer dan saya tulis apa saja. Pasti ada yang saya tulis," katanya.
Siangnya, Suparto pasti membaca buku. "Buku apa saja. Kalau kehabisan buku, saya beli," ungkapnya.
Memang, meski sudah akrab internet, Suparto masih tidak bisa meninggalkan menulis serta membaca melalui buku. Karena itu, dia tak pernah berburu informasi atau inspirasi dari internet. "Bagi saya, sastra adalah buku," tegasnya.
Meski sudah sepuh, dia enjoy bersentuhan dengan teknologi terkini. Itu karena petuah Sujono, kakaknya yang berumur 10 tahun lebih tua, sekitar 60 tahun silam. "Katanya, kalau ingin maju, orang harus menguasai teknik," katanya.
Sang kakak membuktikan hal itu. Sujono belajar teknik rontgen di Eindhoven, Belanda. Dia lantas menjadi teknisi Phillips dalam bidang rontgen pertama di Indonesia.
Suparto sejatinya ingin menekuni bidang eksak. Namun, karena ketiadaan biaya, dia lantas keblasuk (tersesat) menjadi penulis. "Menulis itu sebenarnya pelarian," jelas alumnus SMAK St Louis Surabaya tersebut.
Meski begitu, Suparto menyadari petuah Sujono bahwa dirinya tak boleh menjauhi teknik. Karena itu, dia pun selalu bersemangat ketika belajar komputer hingga akhirnya biasa malang melintang di jagat internet. "Wong sampai sekarang ini saya masih gaptek. Apalagi, saya ini tak punya banyak bakat. Tapi, saya tidak mau kalah. Itu saja," tegasnya.
Karena itu, sejak 1996, dia akrab dengan e-mail. Hingga kini, alamat e-mail-nya, sbrata@yahoo.com, masih aktif menjadi peranti berkomunikasi. "Saya bisa ketemu teman yang tinggal di Jerman," katanya.
Dia pun merasa perlu punya sambungan internet di rumahnya. Sekitar sembilan tahun lalu, dirinya masih berlangganan di salah satu provider internet seharga Rp 60 ribu per bulan. Pada 2002, dia memakai Telkomnet Instan, sambungan otomatis melalui line telepon. "Tapi, sering lambat. Saya lalu ditawari Speedy," ungkap Suparto yang mengaku koneksi internet tersebut sekarang belum on.
Meski belum terkoneksi dengan internet, dia tetap tak putus berkarya. Sebelum dan bakda subuh, komputer anyar bermerek Dell yang dibeli pada Juni lalu di kamarnya tetap aktif menampung segala olah karyanya.
Tak khawatir karya dijiplak lantaran ditampilkan secara bebas di internet? "Monggo. Pernah ada yang menghubungi saya, ingin mengutip tulisan saya tentang 10 November. Saya bebaskan saja," ujar pria berkacamata tersebut.
Suparto pun menegaskan, media internet bagi dirinya merupakan salah satu cara menyebarkan pemikiran.
Hal itulah yang juga membuat Bonari Nabonenar membikin bonarine.multiply.com. Blog (berasal dari kata web log, berarti catatan pribadi di internet) itu juga ditautkan (di-link-kan) dengan situs Suparto Brata. "Bagi saya, blog adalah sarana sosialisasi sastra Jawa. Itu juga sebagai dokumentasi dan sarana berkomunikasi," jelas seniman kelahiran Trenggalek tersebut.
"Bagi orang Jawa, sedulur (saudara) itu mahal," tegas alumnus jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Surabaya (sekarang Unesa) tersebut.
Karena itu, Bonari begitu suka ketika dirinya tiba-tiba dihubungi orang yang baru membaca blog-nya. "Tiba-tiba, ada yang kontak kami lewat e-mail dan sebagainya. Itulah yang mahal," katanya.
Lewat internet itu juga, dia pernah diwawancarai BBC soal sastra. Dia juga bisa bertemu para buruh migran di Hongkong yang lantas menjadi kawan-kawannya.
Seperti Suparto, Bonari juga meng-upload beragam hal di blog tersebut. Ada yang berupa puisi, artikel, bahkan foto dan lagu. Dia juga merasakan bahwa internet adalah sarana yang cespleng dalam menyebarkan pikiran. "Dalam sebulan, kira-kira ada 400 hit (kunjungan, Red) di blog saya," ujar pria yang sudah punya situs pribadi di Geocities sejak era 90-an itu.
Memang, jumlah itu terlampau sedikit dibandingkan situs-situs mapan lainnya. Namun, yang lebih bermakna bagi Bonari bukan sekadar hit tersebut. "Wong ada yang membaca saja saya sudah berterima kasih," kata ketua Peguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya tersebut.
Bagi Bonari, blog tersebut merupakan salah satu usahanya agar sastra Jawa tetap dibaca orang. "Sebab, sastra Jawa itu kalau dijual dalam bentuk buku gak payu," ujarnya.
Karena itu, dia punya cita-cita besar soal kelangsungan sastra Jawa di internet. Dia ingin bisa menjual buku-buku sastra Jawa di internet dalam bentuk e-book. "Internet itu ibarat ajang (tempat makan, Red). Orang makan bisa di piring, mangkuk, atau cowek. Begitu juga sastra, bisa di buku atau lewat internet," ungkap pria yang juga aktif berkesenian bersama para buruh migran di Hongkong tersebut.
Bonari mungkin benar. Berkesenian memang tak semestinya dibatasi media. Lewat sarana apa pun, seniman bisa berkiprah maksimal agar karyanya tak muspra (lenyap), agar karya itu tetap bisa diapresiasi banyak orang.
Oleh DOAN WIDHIANDONO
Sumber: www.jawapos.co.id
Ketiklah nama Suparto Brata pada mesin pencari Google. Maka, akan muncul lebih dari 10.500 item yang memuat kata Suparto Brata. Tentu, tak semua benar-benar berbicara tentang Suparto Brata, sastrawan Jawa kelahiran Surabaya yang sangat produktif itu.
Tampak pada urutan teratas halaman pertama hasil pencarian itu, Suparto Brata menjadi salah satu lema (entry) pada situs jv.wikipedia.org, ensiklopedia bebas berbahasa Jawa. Di situ, Suparto disebut isih turun (masih keturunan) Pakubuwana V. Situs tersebut juga menulis, Suparto klebu sastrawan Jawa modern kang produktif. Dheweke asring nampa penghargaan saka ngendi-ngendi (termasuk sastrawan Jawa modern yang produktif. Dia sering menerima penghargaan dari mana-mana).
Lewat hasil search engine, terlihat pula bahwa Suparto punya dua alamat. Yaitu, www.supartobrata.blogspot.com dan www.supartobrata.com. Meski punya dua "rumah" di dunia maya, tentu sehari-hari Suparto masih tinggal di rumahnya yang nyata, Rungkut Asri III/12.
Di Rungkut itulah Suparto diwawancarai pada Kamis (22/11) siang. Kala itu, dia memakai polo shirt (kaus berkerah) hitam. Ada garis kuning di bagian kerah dan lengan baju tersebut. Di dada kiri, tampak logo dan tulisan salah satu merek rokok terkenal. Logo dan tulisan itu juga kuning.
Yang membuat baju itu terasa lain adalah secarik kain hitam berukuran sekitar 5 x 15 sentimeter yang dijahit di bagian tengkuk, tepat di bawah kerah. Tulisannya berupa bordiran kuning, www.supartobrata.com. Menurut Suparto, dirinya punya lima badge bordiran semacam itu. "Harganya Rp 6 ribu per biji," ujar pria kelahiran 27 Februari 1932 tersebut.
Suparto memang begitu memaknai situs pribadi tersebut. Lewat situs itu, dia bisa menulis apa saja. Mulai artikel, cerita, kisah-kisah pribadi, hingga berbagai tulisan tentang dirinya yang telah dimuat di berbagai media. Lewat itu pula, dia melayani curhat beberapa penggemarnya.
Misalnya, dalam sebuah e-mail yang bertanya tentang prosedur penerbitan buku. Atau e-mail dari mahasiswa yang ingin meneliti Gadis Tangsi, novel karya Suparto. Pria sepuh itu pun tampak telaten meladeni interaksi dengan fans tersebut.
Bagi Suparto, menulis di internet tetaplah asyik. Meski, dirinya tak mendapat honor dari tulisan yang dia upload. "Informasi yang saya sampaikan dibaca orang. Itulah yang lebih penting. Saya memang membangun itu untuk menyebarkan pikiran," ungkap penerima The SEA Write Award, penghargaan penulis tingkat ASEAN, 12 Oktober lalu di Bangkok, tersebut.
Adalah Tatit Merapi Brata, putra sulungnya, yang pertama menunjukkan keampuhan situs pribadi di internet. "Dia berjualan kain lewat internet. Eh, tibake yo payu (ternyata juga laku, Red)," ujar pengarang buku Kremil itu.
Pada Desember 2006, tiga di antara empat anaknya lantas membuatkan Suparto situs pribadi. Alamatnya www.supartobrata.blogspot.com.
Situs gratisan tersebut berjalan hingga pertengahan tahun ini. "Kata anak-anak saya, di blogspot itu tidak enak. Informasinya bermacam-macam, ada yang tidak bisa dipertanggungjawabkan," kata putra pasangan Raden Suratman Bratatanaya dan Raden Ajeng Jembawati tersebut.
Karena itu, Suparto lantas membangun www.supartobrata.com. Untuk mendapatkan domain ".com" (dot com), dia harus membayar Rp 3 juta per bulan. "Mbayarnya di Jogja. Anak-anak yang tahu. Kata anak saya, kalau banyak yang melihat (situs itu), ada yang pasang iklan," jelas penerima Rancage, hadiah untuk sastrawan Jawa, Sunda, dan Bali pada 2000, 2001, dan 2005 itu.
Memang, yang merancang dan melakukan maintenance situs tersebut adalah ketiga putra Suparto. "Mereka pintar komputer," tegas pengarang novel Donyane Wong Culika tersebut.
Tiga putra Suparto itu adalah Tatit Merapi Brata (putra sulung, sarjana Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang), Neo Semeru Brata (putra ketiga, sarjana Teknik Elektro Jurusan Komputer ITS), dan Tenno Singgalang Brata (putra keempat, sarjana Teknik Lingkungan ITS). "Tapi, saya pesan kepada mereka, yang bekerja harus saya," kata Suparto.
Artinya, Suparto tetap bertanggung jawab menulis dan mengisi situs tersebut. Karena itu, mau tidak mau, dia pun harus tetap aktif berkarya agar situs pribadi tersebut terisi. Namun, itu memang bukan problem. Sebab, meski tanpa situs di internet pun, dia tetap sangat produktif.
Pada usianya yang sudah 75 tahun, setiap hari suami Rara Ariyati (meninggal pada 2 Juni 2002) tersebut tetap aktif. "Setiap hari saya bangun pukul 03.00-04.00. Saya buka komputer dan saya tulis apa saja. Pasti ada yang saya tulis," katanya.
Siangnya, Suparto pasti membaca buku. "Buku apa saja. Kalau kehabisan buku, saya beli," ungkapnya.
Memang, meski sudah akrab internet, Suparto masih tidak bisa meninggalkan menulis serta membaca melalui buku. Karena itu, dia tak pernah berburu informasi atau inspirasi dari internet. "Bagi saya, sastra adalah buku," tegasnya.
Meski sudah sepuh, dia enjoy bersentuhan dengan teknologi terkini. Itu karena petuah Sujono, kakaknya yang berumur 10 tahun lebih tua, sekitar 60 tahun silam. "Katanya, kalau ingin maju, orang harus menguasai teknik," katanya.
Sang kakak membuktikan hal itu. Sujono belajar teknik rontgen di Eindhoven, Belanda. Dia lantas menjadi teknisi Phillips dalam bidang rontgen pertama di Indonesia.
Suparto sejatinya ingin menekuni bidang eksak. Namun, karena ketiadaan biaya, dia lantas keblasuk (tersesat) menjadi penulis. "Menulis itu sebenarnya pelarian," jelas alumnus SMAK St Louis Surabaya tersebut.
Meski begitu, Suparto menyadari petuah Sujono bahwa dirinya tak boleh menjauhi teknik. Karena itu, dia pun selalu bersemangat ketika belajar komputer hingga akhirnya biasa malang melintang di jagat internet. "Wong sampai sekarang ini saya masih gaptek. Apalagi, saya ini tak punya banyak bakat. Tapi, saya tidak mau kalah. Itu saja," tegasnya.
Karena itu, sejak 1996, dia akrab dengan e-mail. Hingga kini, alamat e-mail-nya, sbrata@yahoo.com, masih aktif menjadi peranti berkomunikasi. "Saya bisa ketemu teman yang tinggal di Jerman," katanya.
Dia pun merasa perlu punya sambungan internet di rumahnya. Sekitar sembilan tahun lalu, dirinya masih berlangganan di salah satu provider internet seharga Rp 60 ribu per bulan. Pada 2002, dia memakai Telkomnet Instan, sambungan otomatis melalui line telepon. "Tapi, sering lambat. Saya lalu ditawari Speedy," ungkap Suparto yang mengaku koneksi internet tersebut sekarang belum on.
Meski belum terkoneksi dengan internet, dia tetap tak putus berkarya. Sebelum dan bakda subuh, komputer anyar bermerek Dell yang dibeli pada Juni lalu di kamarnya tetap aktif menampung segala olah karyanya.
Tak khawatir karya dijiplak lantaran ditampilkan secara bebas di internet? "Monggo. Pernah ada yang menghubungi saya, ingin mengutip tulisan saya tentang 10 November. Saya bebaskan saja," ujar pria berkacamata tersebut.
Suparto pun menegaskan, media internet bagi dirinya merupakan salah satu cara menyebarkan pemikiran.
Hal itulah yang juga membuat Bonari Nabonenar membikin bonarine.multiply.com. Blog (berasal dari kata web log, berarti catatan pribadi di internet) itu juga ditautkan (di-link-kan) dengan situs Suparto Brata. "Bagi saya, blog adalah sarana sosialisasi sastra Jawa. Itu juga sebagai dokumentasi dan sarana berkomunikasi," jelas seniman kelahiran Trenggalek tersebut.
"Bagi orang Jawa, sedulur (saudara) itu mahal," tegas alumnus jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Surabaya (sekarang Unesa) tersebut.
Karena itu, Bonari begitu suka ketika dirinya tiba-tiba dihubungi orang yang baru membaca blog-nya. "Tiba-tiba, ada yang kontak kami lewat e-mail dan sebagainya. Itulah yang mahal," katanya.
Lewat internet itu juga, dia pernah diwawancarai BBC soal sastra. Dia juga bisa bertemu para buruh migran di Hongkong yang lantas menjadi kawan-kawannya.
Seperti Suparto, Bonari juga meng-upload beragam hal di blog tersebut. Ada yang berupa puisi, artikel, bahkan foto dan lagu. Dia juga merasakan bahwa internet adalah sarana yang cespleng dalam menyebarkan pikiran. "Dalam sebulan, kira-kira ada 400 hit (kunjungan, Red) di blog saya," ujar pria yang sudah punya situs pribadi di Geocities sejak era 90-an itu.
Memang, jumlah itu terlampau sedikit dibandingkan situs-situs mapan lainnya. Namun, yang lebih bermakna bagi Bonari bukan sekadar hit tersebut. "Wong ada yang membaca saja saya sudah berterima kasih," kata ketua Peguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya tersebut.
Bagi Bonari, blog tersebut merupakan salah satu usahanya agar sastra Jawa tetap dibaca orang. "Sebab, sastra Jawa itu kalau dijual dalam bentuk buku gak payu," ujarnya.
Karena itu, dia punya cita-cita besar soal kelangsungan sastra Jawa di internet. Dia ingin bisa menjual buku-buku sastra Jawa di internet dalam bentuk e-book. "Internet itu ibarat ajang (tempat makan, Red). Orang makan bisa di piring, mangkuk, atau cowek. Begitu juga sastra, bisa di buku atau lewat internet," ungkap pria yang juga aktif berkesenian bersama para buruh migran di Hongkong tersebut.
Bonari mungkin benar. Berkesenian memang tak semestinya dibatasi media. Lewat sarana apa pun, seniman bisa berkiprah maksimal agar karyanya tak muspra (lenyap), agar karya itu tetap bisa diapresiasi banyak orang.
Oleh DOAN WIDHIANDONO
Sumber: www.jawapos.co.id
Tags:
Artikel
Artikel Suparto Brata diambil dari bonarine.multiply
[1]
Saya kira banyak orang tahu bahwa Suparto Brata (SPTBT) yang kini sudah mencapai usia di atas 70 tahun itu sangat produktif sebagai pengarang, sebagai sastrawan, baik dalam jagad sastra Jawa maupun sastra Indonesia. Bahkan, kata Budi Darma, ’’SPTBT bukan pengarang sekedar produktif, tetapi amat sangat luar biasa produktif sekali. Ketika masih muda dia sanggup menulis setiap hari delapan lembar. Rutin. Bayangkan, sehari delapan lembar tanpa perlu revisi. Baginya menjadi penulis tidak lain identik dengan dengan menjadi perajin. Dalam dunia tulis-menulis, dia bisa menulis dengan enak mengenai segala macam hal.’’ (SPTBT: Pengarang Serba Bisa, Harian Kompas, Jakarta, Februari 2001). Kita sebut saja beberapa bukunya, yang berbahasa Indonesia: Aurora Sang Pengantin, Saputangan Gambar Naga, Mencari Sarang Angin, Saksi Mata, Mahligai di Ufuk Timur Kerajaan Raminem, yang berbahasa Jawa: SPTBT’s Omnibus, Jaring Kalamangga, Emprit Abuntut Bedhug, Donyane Wong Culika, Dom Sumurup ing Banyu, Lelakone Si lan Man Cintrong Traju Papat, Mbok Randha Saka Jogja, Cocak Nguntal Elo, Ser! Ser! Plong!, ‘t Spookhuis. Itu belum terhitung cerita-cerita yang ditulis dan dibukukan oleh penerbitan milik Asmaraman S Kho Ping Hoo.
Maka, saya tidak terkejut ketika mendengar kabar bahwa Pak Parto (SPTBT) mendapat penghargaan kesusasteraan Asia Tenggara (The S.E.A. Write Award), karena, menurut saya, dalam kaitannya dengan penghargaan untuk bidang yang digelutinya Pak Parto itu sering terabaikan. Sekarang pun, ketika The SEA Write Award sudah diterima, penghargaan dari negri sendiri malah belum didapat. Jangankan untuk tingkat nasional, di Provinsi Jawa Timur pun ia sempat disalip (didahului) pengarang yang jauh lebih muda dari segi usia dan jauh berada di bawahnya dalam hal komitmen, dedikasi, dan produktivitasnya dalam dunia seni sastra.
Mungkin juga sadar bahwa ia telah disalip beberapa kali (setiap tahun Provinsi Jawa Timur memberikan penghargaan untuk 10 seniman yang dinilai terbaik di bidangnya masing-masing), tetapi Pak Parto seperti tak pernah memedulikannya. Ia lebih suka menghabiskan waktunya untuk membaca dan terutama menulis ’buku’. Maka, jadilah ia sastrawan tua-tua keladi, semakin tua semakin menjadi-jadi.
[2]
Pak Parto punya proyek perbukuan? Jika muncul pertanyaan seperti itu, jawabannya boleh ya, boleh tidak, tergantung dari sudut mana melihatnya. Saya, sebagai salah seorang yang (melalui Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya atau PPSJS) sering berkomunikasi dengan ’panjenenganipun Pak Parto’ melihat bahwa sesungguhnya Pak Parto telah dan sedang membangun proyek perbukuan yang boleh dibilang luar biasa. Negara, pemerintah, apakah bernama pemkab, pemkot, pemprov, maupun pemerintah pusat, pun, dalam hal ’’proyek perbukuan’’ tampaknya lebih banyak ’berbicara’ sementara Pak Parto lebih banyak ’berbuat.’
Pada awal 1990-an untuk pertama kalinya saya mendengar pernyataan Pak Parto yang kemudian sering saya kutip ketika saya menulis tentang betapa perlunya, pentingnya, kita mendukung gerakan ’’Indonesia Membaca.’’ Lebih-kurang, beginilah kata Pak Parto, ’’Zaman orangtua saya dahulu, orang cukup mendengarkan siaran radio untuk bisa bercocok tanam atau bertani dengan baik. Tetapi, para pendengar radio itu tak akan pernah bisa membuat radio. Untuk dapat membuat radio, atau menjadi orang-orang yang memiliki kepandaian dan ketrampilan sederajat dengan para pembuat radio, dan tidak hanya sekadar sederajat para petani, orang mesti membaca.’’
Dengan kata lain, Pak Parto mengatakan bahwa kalau kita ingin menjadi bangsa yang maju, satu hal yang tak boleh ditawar-tawar adalah: mari kita galakkan taradisi membaca! Membaca adalah kata kunci untuk maju, baik secara ndividu maupun kelompok (masyarakat, bangsa). Nah, belakangan Pak Parto menambahkan satu kata ’buku’ di belakang kata ’membaca’ sehingga menjadi: membaca buku. Seiring dengan hal itu, Pak Parto kini sering menyeru penulis/pengarang dari generasi yang lebih muda untuk tidak terburu-buru bangga jika sudah berhasil memublikasikan karya-karyanya melalui terbitan berkala, koran atau majalah. ’’Mari kita menulis buku, mari membuat buku, marilah kita membukukan karya-karya kita, sebab usia buku itu jauh lebih panjang daripada sekadar koran atau majalah,’’ lebih-kurang demikian alasan Pak Parto.
Ajakan itu pun bukan ajakan kosong. Asal tahu saja, ketika PPSJS hendak membuat buku antologi guritan, Pak Parto menyedekahkan lebih dari separo uang tunai yang ia dapatkan dari Yayasan Rancage –kalau tidak salah untuk bukunya Donyane Wong Culika ketika itu. Seorang anggota PPSJS, Trinil Sri Setyowati pun pernah disubsidi (saya tidak tahu jumlah nominalnya) ketika hendak menerbitkan novel berbahasa Jawa Surabaya-an, Sarunge Jagung.
[3]
Selama ini boleh dikata tidak ada penerbit yang berani menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa apalagi buku fiksi, karena membayangkan pasarnya yang sebegitu sempit. Jumlah orang jawa memang makin mendekati atau bahkan sudah 100 juta, tetapi jika dihitung yang melek huruf dan kemudian melek buku, pastilah akan ketemu angka yang sangat memrihatinkan. Oleh karena itu, kalau ada satu dua buku berbahasa Jawa terbit dalam setahun, biasanya yang menerbitkan adalah sanggar-sanggar sastra Jawa. Itu pun dengan jumlah eksemplar yang sangat kecil, dalam kisaran 100 – 300 buku setiap judul. Atau, bahkan individu-individu atau sang penulisnya sendiri yang membiayai ongkos penerbitan/percetakannya, seperti yang dilakukan Widodo Basuki, Suharmono Kasiyun, Trinil Sri Setyowati, juga SPTBT.
Ada kisah menarik berkaitan dengan penerbitan buku Donyane Wong Culika (Narasi, Jogja, 2004). Suparto menyerahkan urusan penyuntingan buku itu kepada Drs Dhanu Priyo Prabowo, M.Hum seorang peneliti di Balai Bahasa Jogjakarta, sekaligus mencarikan penerbitnya. Setelah tanya-tanya, Dhanu mendapatkan angka penawaran paling murah Rp 8 juta untuk menerbitkan buku setebal 537 halaman itu. Maka, Dhanu pun lemah semangat, sampai rentang waktu yang cukup panjang ia tak segera mengabarkan kepada Pak Parto, sampai kemudian Pak Parto menagihnya. ’’Bagaimana, Pak? Ada penerbit yang mau menerbitkan, tetapi Pak Parto harus menyiapkan ongkos percetakannya delapan juta rupiah…’’ kata Dhanu kepada Pak Parto. Tampaknya di luar dugaan Dhanu, Pak Parto mengatakan, ’’Inggih, kula siap!’’ (Ya, saya siap!). Maka, tak lema kemudian terbitklah buku itu. Tahun berikutnya (2005) Donyane Wong Culika jadi buku terpilih untuk mendapatkan Hadiah Rancage yang disertai uang Rp 5 juta. Artinya, sudah kembali lebih dari separoh modal. Beberapa waktu lalu, Pak Parto berkata kepada saya, ’’Mas, asal kita telaten menerbitkan buku sastra Jawa itu tidak rugi lho. Saya dapat kabar dari penerbit bahwa buku saya Donyane Wong Culika itu sudah balik modal. Tetapi saya tidak mengambilnya, melainkan akan saya gunakan untuk menerbitkan buku berikutnya.
Demikianlah, SPTBT menerapkan subsidi silang untuk proyek perbukuannya. Royalti terus mengalir dari buku-buku berbahasa Indonesia-nya dan sebagian disisihkan untuk menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa.
Seorang peneliti yang disebut SPTBT dengan Mbak Yuyun mengajukan pertanyaan tertulis seperti dikutip dalam www.supartobrata.com, ’’Apa maksud bapak menulis buku ini, menerbitkan buku ini dengan biaya sendiri? Dan apakah sudah merasa berhasil dengan maksud bapak itu?’’ Dan SPTBT menjawab, antara lain, ’’Saya menulis dan menerbitkan buku ini agar bangsa Indonesia membaca buku sastra Jawa. (DWC –Donyane Wong Culika, Bon-- mendapat Hadiah Rancage 2005, sebagai buku bahasa Jawa terbaik terbitan tahun 2004). Itu bukan maksud tunggal. Maksud kedua adalah agar bangsa Indonesia membaca buku sastra. Dan maksud yang paling mendasar adalah agar bangsa Indonesia membaca buku,’’ sebelum menutup dengan kalimat yang menyatakan bahwa tujuannya itu belum dan mungkin tak akan berhasil.
Nah, bukankah SPTBT dengan sadar membangun Proyek Perbukuan-nya itu? []
Dari : www.bonarine.multiply.com
Saya kira banyak orang tahu bahwa Suparto Brata (SPTBT) yang kini sudah mencapai usia di atas 70 tahun itu sangat produktif sebagai pengarang, sebagai sastrawan, baik dalam jagad sastra Jawa maupun sastra Indonesia. Bahkan, kata Budi Darma, ’’SPTBT bukan pengarang sekedar produktif, tetapi amat sangat luar biasa produktif sekali. Ketika masih muda dia sanggup menulis setiap hari delapan lembar. Rutin. Bayangkan, sehari delapan lembar tanpa perlu revisi. Baginya menjadi penulis tidak lain identik dengan dengan menjadi perajin. Dalam dunia tulis-menulis, dia bisa menulis dengan enak mengenai segala macam hal.’’ (SPTBT: Pengarang Serba Bisa, Harian Kompas, Jakarta, Februari 2001). Kita sebut saja beberapa bukunya, yang berbahasa Indonesia: Aurora Sang Pengantin, Saputangan Gambar Naga, Mencari Sarang Angin, Saksi Mata, Mahligai di Ufuk Timur Kerajaan Raminem, yang berbahasa Jawa: SPTBT’s Omnibus, Jaring Kalamangga, Emprit Abuntut Bedhug, Donyane Wong Culika, Dom Sumurup ing Banyu, Lelakone Si lan Man Cintrong Traju Papat, Mbok Randha Saka Jogja, Cocak Nguntal Elo, Ser! Ser! Plong!, ‘t Spookhuis. Itu belum terhitung cerita-cerita yang ditulis dan dibukukan oleh penerbitan milik Asmaraman S Kho Ping Hoo.
Maka, saya tidak terkejut ketika mendengar kabar bahwa Pak Parto (SPTBT) mendapat penghargaan kesusasteraan Asia Tenggara (The S.E.A. Write Award), karena, menurut saya, dalam kaitannya dengan penghargaan untuk bidang yang digelutinya Pak Parto itu sering terabaikan. Sekarang pun, ketika The SEA Write Award sudah diterima, penghargaan dari negri sendiri malah belum didapat. Jangankan untuk tingkat nasional, di Provinsi Jawa Timur pun ia sempat disalip (didahului) pengarang yang jauh lebih muda dari segi usia dan jauh berada di bawahnya dalam hal komitmen, dedikasi, dan produktivitasnya dalam dunia seni sastra.
Mungkin juga sadar bahwa ia telah disalip beberapa kali (setiap tahun Provinsi Jawa Timur memberikan penghargaan untuk 10 seniman yang dinilai terbaik di bidangnya masing-masing), tetapi Pak Parto seperti tak pernah memedulikannya. Ia lebih suka menghabiskan waktunya untuk membaca dan terutama menulis ’buku’. Maka, jadilah ia sastrawan tua-tua keladi, semakin tua semakin menjadi-jadi.
[2]
Pak Parto punya proyek perbukuan? Jika muncul pertanyaan seperti itu, jawabannya boleh ya, boleh tidak, tergantung dari sudut mana melihatnya. Saya, sebagai salah seorang yang (melalui Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya atau PPSJS) sering berkomunikasi dengan ’panjenenganipun Pak Parto’ melihat bahwa sesungguhnya Pak Parto telah dan sedang membangun proyek perbukuan yang boleh dibilang luar biasa. Negara, pemerintah, apakah bernama pemkab, pemkot, pemprov, maupun pemerintah pusat, pun, dalam hal ’’proyek perbukuan’’ tampaknya lebih banyak ’berbicara’ sementara Pak Parto lebih banyak ’berbuat.’
Pada awal 1990-an untuk pertama kalinya saya mendengar pernyataan Pak Parto yang kemudian sering saya kutip ketika saya menulis tentang betapa perlunya, pentingnya, kita mendukung gerakan ’’Indonesia Membaca.’’ Lebih-kurang, beginilah kata Pak Parto, ’’Zaman orangtua saya dahulu, orang cukup mendengarkan siaran radio untuk bisa bercocok tanam atau bertani dengan baik. Tetapi, para pendengar radio itu tak akan pernah bisa membuat radio. Untuk dapat membuat radio, atau menjadi orang-orang yang memiliki kepandaian dan ketrampilan sederajat dengan para pembuat radio, dan tidak hanya sekadar sederajat para petani, orang mesti membaca.’’
Dengan kata lain, Pak Parto mengatakan bahwa kalau kita ingin menjadi bangsa yang maju, satu hal yang tak boleh ditawar-tawar adalah: mari kita galakkan taradisi membaca! Membaca adalah kata kunci untuk maju, baik secara ndividu maupun kelompok (masyarakat, bangsa). Nah, belakangan Pak Parto menambahkan satu kata ’buku’ di belakang kata ’membaca’ sehingga menjadi: membaca buku. Seiring dengan hal itu, Pak Parto kini sering menyeru penulis/pengarang dari generasi yang lebih muda untuk tidak terburu-buru bangga jika sudah berhasil memublikasikan karya-karyanya melalui terbitan berkala, koran atau majalah. ’’Mari kita menulis buku, mari membuat buku, marilah kita membukukan karya-karya kita, sebab usia buku itu jauh lebih panjang daripada sekadar koran atau majalah,’’ lebih-kurang demikian alasan Pak Parto.
Ajakan itu pun bukan ajakan kosong. Asal tahu saja, ketika PPSJS hendak membuat buku antologi guritan, Pak Parto menyedekahkan lebih dari separo uang tunai yang ia dapatkan dari Yayasan Rancage –kalau tidak salah untuk bukunya Donyane Wong Culika ketika itu. Seorang anggota PPSJS, Trinil Sri Setyowati pun pernah disubsidi (saya tidak tahu jumlah nominalnya) ketika hendak menerbitkan novel berbahasa Jawa Surabaya-an, Sarunge Jagung.
[3]
Selama ini boleh dikata tidak ada penerbit yang berani menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa apalagi buku fiksi, karena membayangkan pasarnya yang sebegitu sempit. Jumlah orang jawa memang makin mendekati atau bahkan sudah 100 juta, tetapi jika dihitung yang melek huruf dan kemudian melek buku, pastilah akan ketemu angka yang sangat memrihatinkan. Oleh karena itu, kalau ada satu dua buku berbahasa Jawa terbit dalam setahun, biasanya yang menerbitkan adalah sanggar-sanggar sastra Jawa. Itu pun dengan jumlah eksemplar yang sangat kecil, dalam kisaran 100 – 300 buku setiap judul. Atau, bahkan individu-individu atau sang penulisnya sendiri yang membiayai ongkos penerbitan/percetakannya, seperti yang dilakukan Widodo Basuki, Suharmono Kasiyun, Trinil Sri Setyowati, juga SPTBT.
Ada kisah menarik berkaitan dengan penerbitan buku Donyane Wong Culika (Narasi, Jogja, 2004). Suparto menyerahkan urusan penyuntingan buku itu kepada Drs Dhanu Priyo Prabowo, M.Hum seorang peneliti di Balai Bahasa Jogjakarta, sekaligus mencarikan penerbitnya. Setelah tanya-tanya, Dhanu mendapatkan angka penawaran paling murah Rp 8 juta untuk menerbitkan buku setebal 537 halaman itu. Maka, Dhanu pun lemah semangat, sampai rentang waktu yang cukup panjang ia tak segera mengabarkan kepada Pak Parto, sampai kemudian Pak Parto menagihnya. ’’Bagaimana, Pak? Ada penerbit yang mau menerbitkan, tetapi Pak Parto harus menyiapkan ongkos percetakannya delapan juta rupiah…’’ kata Dhanu kepada Pak Parto. Tampaknya di luar dugaan Dhanu, Pak Parto mengatakan, ’’Inggih, kula siap!’’ (Ya, saya siap!). Maka, tak lema kemudian terbitklah buku itu. Tahun berikutnya (2005) Donyane Wong Culika jadi buku terpilih untuk mendapatkan Hadiah Rancage yang disertai uang Rp 5 juta. Artinya, sudah kembali lebih dari separoh modal. Beberapa waktu lalu, Pak Parto berkata kepada saya, ’’Mas, asal kita telaten menerbitkan buku sastra Jawa itu tidak rugi lho. Saya dapat kabar dari penerbit bahwa buku saya Donyane Wong Culika itu sudah balik modal. Tetapi saya tidak mengambilnya, melainkan akan saya gunakan untuk menerbitkan buku berikutnya.
Demikianlah, SPTBT menerapkan subsidi silang untuk proyek perbukuannya. Royalti terus mengalir dari buku-buku berbahasa Indonesia-nya dan sebagian disisihkan untuk menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa.
Seorang peneliti yang disebut SPTBT dengan Mbak Yuyun mengajukan pertanyaan tertulis seperti dikutip dalam www.supartobrata.com, ’’Apa maksud bapak menulis buku ini, menerbitkan buku ini dengan biaya sendiri? Dan apakah sudah merasa berhasil dengan maksud bapak itu?’’ Dan SPTBT menjawab, antara lain, ’’Saya menulis dan menerbitkan buku ini agar bangsa Indonesia membaca buku sastra Jawa. (DWC –Donyane Wong Culika, Bon-- mendapat Hadiah Rancage 2005, sebagai buku bahasa Jawa terbaik terbitan tahun 2004). Itu bukan maksud tunggal. Maksud kedua adalah agar bangsa Indonesia membaca buku sastra. Dan maksud yang paling mendasar adalah agar bangsa Indonesia membaca buku,’’ sebelum menutup dengan kalimat yang menyatakan bahwa tujuannya itu belum dan mungkin tak akan berhasil.
Nah, bukankah SPTBT dengan sadar membangun Proyek Perbukuan-nya itu? []
Dari : www.bonarine.multiply.com
Tags:
Artikel
Surat Tanpa amplop buat Pak Suparto Brata
Waktu M. Shoim Anwar bilang bahwa Pak Suparto Brata mendapat penghargaan SEA Write Award dr kerajaan Thailand, sy termasuk orang yang paling senang.
Kenapa?
Yah, ada beberapa. 1) Karena Pak Brata adalah penulis yg setia dengan cita2nya mengangkat sastra berbahasa Jawa sampai2 beliau membiayai sendiri penerbitan buku2nya. Jadi, bs dibilang kalau kemenangan pak Brata adalah kemenangan kaum sastrawan idealis. 2 & 3) Karena pak Brata adalah teman Pakde saya yg kerja di majalah Panjebar Semangat & sy pernah ketemu pak Brata ini di rumahnya mbak Ratna (semoga kedua sebab terakhir bs diterima sebagai penguat argumentasi. Hehehe...).
Nah, dlm artikel Jawa Pos tersebut, pak Shoim bilang bahwa Pak Brata mengatakan bahwa beliau ingin bs sampai ke hadiah Nobel. Dan pak Shoim sepertinya menyetujuinya. Well, sy sendiri agak kurang sreg lho sama pak Shoim dan pak Brata yg seolah menganggap hadiah Nobel sbg puncak capaian literasi. Bagaimanapun tetap saja saya mengagumi semua peraih Nobel.
Gimana ya... Saya merasa komite Nobel itu lebih memilih karya2 sastra yang bermuatan politis, yang menentang rezim di sebuah tempat, pokoknya yang gitu2 lah. Sebentar ya, tolong anda jgn terburu beranggapan sy tdk setuju sama sastra yg bermuatan sosial. Bukan. Hanya saja, hadiah Nobel itu HANYA MENYASAR SEBAGIAN KECIL SAJA KARYA SASTRA, HANYA MENYASAR KARYA SASTRA YG BERJUANG MELAWAN TIRANI DAN BERPIHAK KEPADA KEMANUSIAAN.
Nah, sudah bs ditangkap kan maksud saya? Menurut saya karya sastra itu sangat banyak jenisnya, dan kedudukannya di mata pembaca adalah sama (yg membedakan hanyalah amalnya, halah!). Jadi, tidaklah bijak menganggap hadiah Nobel sbg puncak penghargaan sastra.
Penghargaan2 lain seperti misalnya Man Booker Prize yg lbh menghargai capaian keindahan tema dan bahasa, Pulitzer yg cenderung menyukai karya2 dg kedalaman psikologis, SEA Write Award yg sy tdk tahu apa penilaiannya, atau KLA yg banyak menggantungkan pd banyak juri yg seleranya berbeda2, atau penghargaan Australia buat Seno Gumira Ajidarma yg tujuannya lbh bersifat politis itu, mereka semua tdk kalah buruknya, dan patut dihargai.
Nah, sayangnya kemarin di artikelnya itu pak Shoim Anwar bilang agar pak Brata membelokkan sastranya hingga berbau2 filsafat, atau politis, agar bisa menang Nobel. Nah, ini dia yg kurang tepat (maaf lho pak Shoim, saya bukannya ngelamak, lha wong sy ini kan 'pernah' murid sm Njenengan? Hehehe... Sy cuman harus menyampaikan kebenaran meski itu pahit :D). Pak Brata menemukan orisinalitas ungkap dan temanya krn ya memang segalanya serba kondusif (pak Budi Darma mungkin lebih suka bilang, ‘karena takdirnya begitu’. Mustahillah adanya jika pak Brata pindah ke tema yg berbau filsafat atau politis, padahal 1) setting Suroboyoan bs dibilang tdk kondusif sbg tempat berkembangnya tema2 demikian, 2) dunia yg dikenal dan sgt digemari (dus, juga diresapi bin diinternalisasi) oleh pak Brata adalah dunia Suroboyoan dengan tema-tema orang pinggiran, 3) akan lebih lucu dan tdk natural jika pak Brata pindah setting atau bahkan ‘gelap mata’ hingga menulis dg latar absurd hanya utk mendapatkan tema seperti yg dianjurkan pak Shoim.
Jadi, sy lebih setuju jika pak Brata tetap serius dg langkahnya, karena memang itulah yg paling pas buat beliau dan karena itulah yang "pak Brata banget". Dan untuk meyakinkan semua org bahwa anugerah lain jg tak kalah hebatnya sama Nobel, marilah kita mulai menyebut pak Brata, pak Budi, pak Seno dan pak Chart Korbjitti sebagai SEA Writis atau SEA Write Laureatte (bukannya Nobelis atau Nobel Laureatte), pak Jokpin kita sebut KLAis, cak Mashurri kita sebut Roman DKJis, dst.
Sekali lagi, sbg penutup mimpi, sy ingin katakan bahwa NOBEL TAK LEBIH BERHARGA KETIMBANG ANUGERAH2 LAIN (kecuali nominal uangnya... Hahaha... Dan kita hanya boleh mengejar Nobel kalau yg kita tuju cm uangnya. Tapi betapa nista sastra kita nantinya jika itu yg terjadi!!!). Selain itu, keunikan tema dan gaya ungkap adalah yg semestinya kita hargai. Lagipula, sy sudah menghargai pak Brata lebih dr Dorris Lessing atau siapalah itu (lha wong dengar namanya sj baru pd hari H penganugerahan Nobel, hehe...).
Anyway, sy sebenarnya blm punya bukunya pak Brata. Tp sy sudah pesen 'Dom Sumurup ing Banyu' dr toko bukunya teman kok. Insya allah sy beli, Pak.
P.S. Sori ya tulisannya sangat nggak EYD, :D, maklum ini mimpinya dari Warung Nasi Goreng dan Warung Lalapan. Hehehe... dan sori juga ya nggak ada fotonya, kayaknya pak Suparto Brata belum punya Multiply, :D
Dari : berbagi-mimpi.blogspot.com
Kenapa?
Yah, ada beberapa. 1) Karena Pak Brata adalah penulis yg setia dengan cita2nya mengangkat sastra berbahasa Jawa sampai2 beliau membiayai sendiri penerbitan buku2nya. Jadi, bs dibilang kalau kemenangan pak Brata adalah kemenangan kaum sastrawan idealis. 2 & 3) Karena pak Brata adalah teman Pakde saya yg kerja di majalah Panjebar Semangat & sy pernah ketemu pak Brata ini di rumahnya mbak Ratna (semoga kedua sebab terakhir bs diterima sebagai penguat argumentasi. Hehehe...).
Nah, dlm artikel Jawa Pos tersebut, pak Shoim bilang bahwa Pak Brata mengatakan bahwa beliau ingin bs sampai ke hadiah Nobel. Dan pak Shoim sepertinya menyetujuinya. Well, sy sendiri agak kurang sreg lho sama pak Shoim dan pak Brata yg seolah menganggap hadiah Nobel sbg puncak capaian literasi. Bagaimanapun tetap saja saya mengagumi semua peraih Nobel.
Gimana ya... Saya merasa komite Nobel itu lebih memilih karya2 sastra yang bermuatan politis, yang menentang rezim di sebuah tempat, pokoknya yang gitu2 lah. Sebentar ya, tolong anda jgn terburu beranggapan sy tdk setuju sama sastra yg bermuatan sosial. Bukan. Hanya saja, hadiah Nobel itu HANYA MENYASAR SEBAGIAN KECIL SAJA KARYA SASTRA, HANYA MENYASAR KARYA SASTRA YG BERJUANG MELAWAN TIRANI DAN BERPIHAK KEPADA KEMANUSIAAN.
Nah, sudah bs ditangkap kan maksud saya? Menurut saya karya sastra itu sangat banyak jenisnya, dan kedudukannya di mata pembaca adalah sama (yg membedakan hanyalah amalnya, halah!). Jadi, tidaklah bijak menganggap hadiah Nobel sbg puncak penghargaan sastra.
Penghargaan2 lain seperti misalnya Man Booker Prize yg lbh menghargai capaian keindahan tema dan bahasa, Pulitzer yg cenderung menyukai karya2 dg kedalaman psikologis, SEA Write Award yg sy tdk tahu apa penilaiannya, atau KLA yg banyak menggantungkan pd banyak juri yg seleranya berbeda2, atau penghargaan Australia buat Seno Gumira Ajidarma yg tujuannya lbh bersifat politis itu, mereka semua tdk kalah buruknya, dan patut dihargai.
Nah, sayangnya kemarin di artikelnya itu pak Shoim Anwar bilang agar pak Brata membelokkan sastranya hingga berbau2 filsafat, atau politis, agar bisa menang Nobel. Nah, ini dia yg kurang tepat (maaf lho pak Shoim, saya bukannya ngelamak, lha wong sy ini kan 'pernah' murid sm Njenengan? Hehehe... Sy cuman harus menyampaikan kebenaran meski itu pahit :D). Pak Brata menemukan orisinalitas ungkap dan temanya krn ya memang segalanya serba kondusif (pak Budi Darma mungkin lebih suka bilang, ‘karena takdirnya begitu’. Mustahillah adanya jika pak Brata pindah ke tema yg berbau filsafat atau politis, padahal 1) setting Suroboyoan bs dibilang tdk kondusif sbg tempat berkembangnya tema2 demikian, 2) dunia yg dikenal dan sgt digemari (dus, juga diresapi bin diinternalisasi) oleh pak Brata adalah dunia Suroboyoan dengan tema-tema orang pinggiran, 3) akan lebih lucu dan tdk natural jika pak Brata pindah setting atau bahkan ‘gelap mata’ hingga menulis dg latar absurd hanya utk mendapatkan tema seperti yg dianjurkan pak Shoim.
Jadi, sy lebih setuju jika pak Brata tetap serius dg langkahnya, karena memang itulah yg paling pas buat beliau dan karena itulah yang "pak Brata banget". Dan untuk meyakinkan semua org bahwa anugerah lain jg tak kalah hebatnya sama Nobel, marilah kita mulai menyebut pak Brata, pak Budi, pak Seno dan pak Chart Korbjitti sebagai SEA Writis atau SEA Write Laureatte (bukannya Nobelis atau Nobel Laureatte), pak Jokpin kita sebut KLAis, cak Mashurri kita sebut Roman DKJis, dst.
Sekali lagi, sbg penutup mimpi, sy ingin katakan bahwa NOBEL TAK LEBIH BERHARGA KETIMBANG ANUGERAH2 LAIN (kecuali nominal uangnya... Hahaha... Dan kita hanya boleh mengejar Nobel kalau yg kita tuju cm uangnya. Tapi betapa nista sastra kita nantinya jika itu yg terjadi!!!). Selain itu, keunikan tema dan gaya ungkap adalah yg semestinya kita hargai. Lagipula, sy sudah menghargai pak Brata lebih dr Dorris Lessing atau siapalah itu (lha wong dengar namanya sj baru pd hari H penganugerahan Nobel, hehe...).
Anyway, sy sebenarnya blm punya bukunya pak Brata. Tp sy sudah pesen 'Dom Sumurup ing Banyu' dr toko bukunya teman kok. Insya allah sy beli, Pak.
P.S. Sori ya tulisannya sangat nggak EYD, :D, maklum ini mimpinya dari Warung Nasi Goreng dan Warung Lalapan. Hehehe... dan sori juga ya nggak ada fotonya, kayaknya pak Suparto Brata belum punya Multiply, :D
Dari : berbagi-mimpi.blogspot.com
Tags:
Kata Mereka
Pentas Pengusik Nurani di Bulan Bahasa
Sebait syair pengusik hati di atas dilantunkan oleh awak Teater Alam, Senin (5/11) lalu. Syair itu sekaligus menjadi inti pementasan berjudul Plastik Gugat Daun Pintu.
Jika tak menyaksikan aksi panggung Teater Alam pada acara Pentas Seni dan Sastra -- dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra 2007 -- di auditorium Pusat Bahasa Depdiknas, Rawamangun Jakarta, orang tentu akan mengira lakon tersebut bercerita tentang sampah plastik yang mengotori lingkungan.
Namun, dialog-dialog yang membangun kisah Plastik Gugat Daun Pintu memperjelas ide ceritanya. Gagasan yang dibawa adalah penegakkan keadilan. Kata 'sampah' mewakili suatu permasalahan sosial, sedangkan frasa 'daun pintu' merupakan perlambang jalan keluar. ''Segala persoalan sesungguhnya punya banyak cara penyelesaian,'' kata Edwin Fas, pendiri Teater Alam.
Edwin mengusung persoalan penegakan keadilan untuk menyikapi fenomena hukum di Indonesia. Terlebih, kebanyakan masalah hukum yang menyentuh rasa keadilan masyarakat cuma berujung pada perdebatan akademis. ''Rakyat mendapat retorika belaka, bukan keadilan sejati,'' katanya.
Dalam pementasan Plastik Gugat Daun Pintu, Edwin menghadirkan Erwin Janin sebagai tokoh cendekiawan. Selain itu, ada Aridiansyah selaku seniman, Pito memerankan pengacara, dan Yos Sudarso mewakili masyarakat kebanyakan. Juga, Ludi, Udin, dan Indra di jajaran pemusik. ''Keempat tokoh tersebut asyik berdebat, namun tak menemukan jalan keluar terbaik dari masalah penegakan keadilan,'' papar Edwin.
Titik terang baru terlihat begitu rakyat yang disuarakan oleh Yos Sudarso datang memberi peringatan. Keadilan tak akan muncul jika manusia tak kembali ke 'ilmu alam' yang tak lain adalah agama. ''Jika kita berpikir dengan keyakinan berlandaskan agama, niscaya Tuhan akan membimbing kita ke jalan keluar terbaik,'' simpul Edwin.
Meski tak menggarap tema populer macam percintaan, pentas Teater Alam tak serta merta sepi penonton. Puluhan pelajar meluangkan waktu untuk menikmati pentas teater tersebut. Mereka memenuhi imbauan guru bahasa untuk mengapresiasi seni teater.
Chesya Rachmawati, salah satunya. Pelajar SMA Negeri 67, Jakarta Timur, ini mengaku menikmati lakon Plastik Gugat Daun Pintu. ''Seru juga belajar menegakkan keadilan lewat pentas teater,'' katanya.
Chesya yang duduk cukup dekat dengan panggung dibuat kaget oleh aksi teatrikal Aridiansyah, Sang Seniman. Di babak terakhir pementasan, di atas panggung, Aridiansyah menanggalkan pakaian hingga tersisa celana boxer.
Tokoh seniman tersebut lantas menerobos barisan penonton seraya mempertanyakan 'ilmu alam'. ''Sempat ngeri. Aksi seniman suka tidak bisa ditebak. Saya tidak menyangka mereka akan berbuat apa,'' celetuk gadis yang gemar nonton teater dan mendengarkan musik itu.
Sebaliknya, Reza Bramantya kurang memahami ide yang dibungkus Teater Alam itu. Kendala yang dihadapinya sangat mendasar. Rupanya, bahasa yang membuatnya urung menikmati total permainan para seniman Palembang tersebut. ''Banyak kata-kata yang kurang saya mengerti. Mungkin jika sudah kuliah nanti, saat kosa kata saya lebih banyak, saya bisa lebih menikmati pementasan semacam ini,'' kata siswa kelas satu SMA Negeri 67 ini.
Di daerah asalnya, Palembang, Teater Alam yang mengukuhkan eksistensinya sejak tahun 1987 punya penggemar sendiri. Komunitas pecinta teater telah terbentuk di sana. ''Teater ditonton banyak kalangan. Mulai dari pelajar, masyarakat umum, hingga mereka yang tertarik terjun ke dunia teater,'' kata Edwin yang menjabat sebagai sekretaris Komite Teater Dewan Kesenian Sumatera Selatan.
Teater Alam hanya salah satu dari 10 kelompok teater yang diundang Pusat Bahasa untuk berpentas di Jakarta. Selain Teater Alam (Palembang), ada Teater Gidak Gidik (Surakarta), Teater Kain Hitam (Banten), Teater Mentaya (Sampit), Teater Guru Sulawesi Utara, Teater Bandung, dan Teater Zat (Universitas Negeri Jakarta). Lantas, hadir pula Teater Bintek (Kaltim), Teater Kaes (Semarang), dan Sanggar Sastra Indonesia (Yogyakarta).
Acara yang digelar pada 5-7 November 2007 itu juga dimeriahkan pementasan tari tradisional, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dan diskusi. . ''Sehari-hari, kita lebih banyak menggunakan otak kiri. Dengan berkesenian, belahan otak kanan terlibat. Keseimbangan diri pun tercapai,'' kata DR Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa, saat membuka Pentas Seni dan Sastra 2007. Saatnya berkesenian!
Mereka yang Berprestasi
Bulan bahasa dan sastra adalah bulan untuk berebut prestasi di bidang bahasa dan sastra. Maka, pada tiap acara puncak yang sekaligus penutupan bulan bahasa dan sastra, Pusat Bahasa Depdiknas selalu membagi-bagi penghargaan dan hadiah bagi mereka yang berprestasi.
Begitu juga yang terjadi Kamis (8/11) lalu, pada Puncak Acara Bulan Bahasa dan Sastra 2007, di auditorium Pusat Bahasa Jakarta. Untuk kategori penghargaan sastra, jatuh pada Saksi Mata karya Suparto Brata, disusul Bhoma karya Yanusa Nugroho, dan Malaikat Tak Datang Malam Hari karya Joni Ariadinata.
Penghargaan Adi Bahasa 2007 diraih oleh provinsi Kalimatan Tengah, Sulawesi Tenggara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Banten, Bengkulu, Bangka Belitung, Jawa Timur, Kepulauan Riau dan DKI Jakarta.
Debat bahasa antarkampus untuk tahun 2007 ini direbut oleh Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Pemenang kedua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta. Pemenang ketiga Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra, Fakultas Sastra Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Setia Budi, Rangkas Bitung, Banten. Sementara, pasangan Imam Wahyudi Karimullah dan Latifah Hanum dari Jawa Timur memenangi lomba duta bahasa.
Sejumlah media cetak juga mendapat penghargaan pemakaian bahasa Indonesia terbaik. Dibagikan juga hadiah bagi para juara lomba, penulisan puisi bagi siswa sekolah dasar, penulisan cerpen bagi remaja tingkat nasional, penulisan puisi bagi remaja tingkat nasional, festival musikalisasi puisi tingkat nasional, dan pembacaan puisi guru SD tingkat nasional.
(reiny dwinanda )
Sumber : Republika Online
Jika tak menyaksikan aksi panggung Teater Alam pada acara Pentas Seni dan Sastra -- dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra 2007 -- di auditorium Pusat Bahasa Depdiknas, Rawamangun Jakarta, orang tentu akan mengira lakon tersebut bercerita tentang sampah plastik yang mengotori lingkungan.
Namun, dialog-dialog yang membangun kisah Plastik Gugat Daun Pintu memperjelas ide ceritanya. Gagasan yang dibawa adalah penegakkan keadilan. Kata 'sampah' mewakili suatu permasalahan sosial, sedangkan frasa 'daun pintu' merupakan perlambang jalan keluar. ''Segala persoalan sesungguhnya punya banyak cara penyelesaian,'' kata Edwin Fas, pendiri Teater Alam.
Edwin mengusung persoalan penegakan keadilan untuk menyikapi fenomena hukum di Indonesia. Terlebih, kebanyakan masalah hukum yang menyentuh rasa keadilan masyarakat cuma berujung pada perdebatan akademis. ''Rakyat mendapat retorika belaka, bukan keadilan sejati,'' katanya.
Dalam pementasan Plastik Gugat Daun Pintu, Edwin menghadirkan Erwin Janin sebagai tokoh cendekiawan. Selain itu, ada Aridiansyah selaku seniman, Pito memerankan pengacara, dan Yos Sudarso mewakili masyarakat kebanyakan. Juga, Ludi, Udin, dan Indra di jajaran pemusik. ''Keempat tokoh tersebut asyik berdebat, namun tak menemukan jalan keluar terbaik dari masalah penegakan keadilan,'' papar Edwin.
Titik terang baru terlihat begitu rakyat yang disuarakan oleh Yos Sudarso datang memberi peringatan. Keadilan tak akan muncul jika manusia tak kembali ke 'ilmu alam' yang tak lain adalah agama. ''Jika kita berpikir dengan keyakinan berlandaskan agama, niscaya Tuhan akan membimbing kita ke jalan keluar terbaik,'' simpul Edwin.
Meski tak menggarap tema populer macam percintaan, pentas Teater Alam tak serta merta sepi penonton. Puluhan pelajar meluangkan waktu untuk menikmati pentas teater tersebut. Mereka memenuhi imbauan guru bahasa untuk mengapresiasi seni teater.
Chesya Rachmawati, salah satunya. Pelajar SMA Negeri 67, Jakarta Timur, ini mengaku menikmati lakon Plastik Gugat Daun Pintu. ''Seru juga belajar menegakkan keadilan lewat pentas teater,'' katanya.
Chesya yang duduk cukup dekat dengan panggung dibuat kaget oleh aksi teatrikal Aridiansyah, Sang Seniman. Di babak terakhir pementasan, di atas panggung, Aridiansyah menanggalkan pakaian hingga tersisa celana boxer.
Tokoh seniman tersebut lantas menerobos barisan penonton seraya mempertanyakan 'ilmu alam'. ''Sempat ngeri. Aksi seniman suka tidak bisa ditebak. Saya tidak menyangka mereka akan berbuat apa,'' celetuk gadis yang gemar nonton teater dan mendengarkan musik itu.
Sebaliknya, Reza Bramantya kurang memahami ide yang dibungkus Teater Alam itu. Kendala yang dihadapinya sangat mendasar. Rupanya, bahasa yang membuatnya urung menikmati total permainan para seniman Palembang tersebut. ''Banyak kata-kata yang kurang saya mengerti. Mungkin jika sudah kuliah nanti, saat kosa kata saya lebih banyak, saya bisa lebih menikmati pementasan semacam ini,'' kata siswa kelas satu SMA Negeri 67 ini.
Di daerah asalnya, Palembang, Teater Alam yang mengukuhkan eksistensinya sejak tahun 1987 punya penggemar sendiri. Komunitas pecinta teater telah terbentuk di sana. ''Teater ditonton banyak kalangan. Mulai dari pelajar, masyarakat umum, hingga mereka yang tertarik terjun ke dunia teater,'' kata Edwin yang menjabat sebagai sekretaris Komite Teater Dewan Kesenian Sumatera Selatan.
Teater Alam hanya salah satu dari 10 kelompok teater yang diundang Pusat Bahasa untuk berpentas di Jakarta. Selain Teater Alam (Palembang), ada Teater Gidak Gidik (Surakarta), Teater Kain Hitam (Banten), Teater Mentaya (Sampit), Teater Guru Sulawesi Utara, Teater Bandung, dan Teater Zat (Universitas Negeri Jakarta). Lantas, hadir pula Teater Bintek (Kaltim), Teater Kaes (Semarang), dan Sanggar Sastra Indonesia (Yogyakarta).
Acara yang digelar pada 5-7 November 2007 itu juga dimeriahkan pementasan tari tradisional, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dan diskusi. . ''Sehari-hari, kita lebih banyak menggunakan otak kiri. Dengan berkesenian, belahan otak kanan terlibat. Keseimbangan diri pun tercapai,'' kata DR Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa, saat membuka Pentas Seni dan Sastra 2007. Saatnya berkesenian!
Mereka yang Berprestasi
Bulan bahasa dan sastra adalah bulan untuk berebut prestasi di bidang bahasa dan sastra. Maka, pada tiap acara puncak yang sekaligus penutupan bulan bahasa dan sastra, Pusat Bahasa Depdiknas selalu membagi-bagi penghargaan dan hadiah bagi mereka yang berprestasi.
Begitu juga yang terjadi Kamis (8/11) lalu, pada Puncak Acara Bulan Bahasa dan Sastra 2007, di auditorium Pusat Bahasa Jakarta. Untuk kategori penghargaan sastra, jatuh pada Saksi Mata karya Suparto Brata, disusul Bhoma karya Yanusa Nugroho, dan Malaikat Tak Datang Malam Hari karya Joni Ariadinata.
Penghargaan Adi Bahasa 2007 diraih oleh provinsi Kalimatan Tengah, Sulawesi Tenggara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Banten, Bengkulu, Bangka Belitung, Jawa Timur, Kepulauan Riau dan DKI Jakarta.
Debat bahasa antarkampus untuk tahun 2007 ini direbut oleh Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Pemenang kedua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta. Pemenang ketiga Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra, Fakultas Sastra Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Setia Budi, Rangkas Bitung, Banten. Sementara, pasangan Imam Wahyudi Karimullah dan Latifah Hanum dari Jawa Timur memenangi lomba duta bahasa.
Sejumlah media cetak juga mendapat penghargaan pemakaian bahasa Indonesia terbaik. Dibagikan juga hadiah bagi para juara lomba, penulisan puisi bagi siswa sekolah dasar, penulisan cerpen bagi remaja tingkat nasional, penulisan puisi bagi remaja tingkat nasional, festival musikalisasi puisi tingkat nasional, dan pembacaan puisi guru SD tingkat nasional.
(reiny dwinanda )
Sumber : Republika Online
Tags:
Artikel
Suparto Brata, Pengarang Pertama di Harian Surya
Ketika Harian Surya terbit kali pertama pada 10 November 1989, satu pengarang ikut membuka lembaran baru. Namanya Suparto Brata. Sampai sekarang pengarang ini tak pernah berhenti menulis.
Ada bangga yang ditahan ketika Suparto Brata bercerita tentang Membakar Surabaya, cerita bersambung yang dimuat di Harian Surya. Setiap hari sejak 10 November 1989 hingga sebulan kemudian namanya menempel terus di koran ini.
Sayang, dia lupa honor yang diterima waktu itu. Dia hanya terkekeh karena waktu itu memang nama Suparto Brata sedang top-topnya. Belum berasa mantap bila satu media belum menyeret namanya di jajaran pengarang. Sekarang usianya 75 tahun lewat delapan bulan. Belum ada keinginan mundur dari dunia yang memberinya teman, sahabat, sedulur, dan penghargaan.
Bagi Suparto, menulis itu tingkatan tertinggi dalam perkembangan intelektual manusia. “Krungu lan weruh (mendengar dan melihat) itu kodrat,” kata Suparto yang ditemui Surya, Selasa (30/10).
Sebaliknya membaca dan menulis itu harus dikenalkan. Untuk urusan yang satu ini pemilik supartobrata.com ini memang tidak kenal kompromi. Jika ingin modern, membacalah. Jika ingin modern dan pintar, menulislah.
Seperti biasa, Suparto selalu mengajak masuk ruang kerja sekaligus kamar yang sesak dengan buku, majalah, kliping koran, print out naskah, hingga tumpukan kertas yang sudah berwarna kuning. Itu harta karun yang dimiliki dan ditumpuk di lemari besi. Di salah satu dinding terpasang foto ukuran 10 R. Foto Suparto dengan perempuan cantik, Trinil. Nama ini selalu dilontarkan Suparto ketika mencari nama penulis bahasa Jawa. Trinil disebutnya sebagai salah satu penulis yang mumpuni.
Di atas satu meja dari tiga meja yang dimasukkan kamar, ada komputer dengan monitor layar datar lengkap dengan printer. Pengalaman membuktikan dia memang bisa menjadi modern dengan menulis ketika usia sebenarnya sudah tak menjangkau modernisasi. Alat ini membantu mengembalikan kisah lama yang kebanyakan menjadi latar belakang novel-novelnya.
Puluhan novel lahir dengan ciri masa perjuangan sebagai sumber ceritanya. Paling tidak, 14 novel sudah diterbitkan tahun ini. Jumlah yang luar biasa bahkan untuk pengarang muda yang paling produktif.
Walau terhitung produktif, penyandang dua penghargaan Rancage -penghargaan untuk seniman yang mempertahankan tradisi di Jawa Barat- mengaku ada naskah yang sempat tak tersentuh. Novel Tak Ada Nasi Lagi mati suri selama 32 tahun sejak 1958 sebelum akhirnya diterbitkan Kompas 1990.
Tak heran bila akhirnya namanya disejajarkan dengan Goenawan Muhammad, Marianne Katoppo, Budi Darma, Putu Wijaya, atau Sutarji Calzoum Bachri. Paling tidak dia ikut mewakili Indonesia dalam SEA Write Award pertengahan Oktober lalu. Ini ajang bergengsi untuk para penulis di kawasan Asia yang setiap tahun mencari penulis jempolan di seluruh negeri. Suparto menjadi penerima ke-18 setelah nama-nama di atas.
Menjadi penulis yang dilirik bahkan oleh pembaca di luar negeri membuat Suparto menemukan jurus untuk menaklukkan mereka. “Jika menulis buku, jangan tanggung-tanggung. Buatlah buku yang tebal,” kata penulis yang cerita pertamanya Miss Rika di Angkasa terbit di Majalah Garuda, 25 Oktober 1953, ketika diskusi tentang perkembangan buku bahasa Jawa yang mulai surut di Hotel Santika Surabaya bulan lalu.
Sekarang hampir seluruh naskah lama yang dibundel dan dimasukkan dalam map diketik ulang dan siap diterbitkan. Jangan tanya tebalnya, bisa dipastikan lebih dari 200 halaman. Hanya ada beberapa buku tipis yang memang untuk konsumsi siswa SD.
Tahun ini seperti 18 tahun lalu ketika menulis untuk Surya, Suparto melemparkan buku Lelabuhane Gubernur Jatim I, Gubernur Suryo yang diterbitkan Grasindo. “Ini bentuk perhatian saya pada kota ini,” kata Suparto.
Sayang, dari empat anaknya tak ada satu pun menjadi penulis. Cucu? “Walah… cucu saya lebih suka menonton televisi dan main game,” kata Suparto yang teratur membaca koran dari pagi hingga siang. Seperti Socrates yang tetap dikagumi selama 2.500 tahun oleh bangsa Eropa, Suparto ingin seluruh idenya dituangkan dalam buku. “Plato berjasa merekam pemikiran Socrates menjadi literatur. Jika tidak, Socrates tidak sebesar ini,” katanya./Endah Imawati
Dari Surya Online
Ada bangga yang ditahan ketika Suparto Brata bercerita tentang Membakar Surabaya, cerita bersambung yang dimuat di Harian Surya. Setiap hari sejak 10 November 1989 hingga sebulan kemudian namanya menempel terus di koran ini.
Sayang, dia lupa honor yang diterima waktu itu. Dia hanya terkekeh karena waktu itu memang nama Suparto Brata sedang top-topnya. Belum berasa mantap bila satu media belum menyeret namanya di jajaran pengarang. Sekarang usianya 75 tahun lewat delapan bulan. Belum ada keinginan mundur dari dunia yang memberinya teman, sahabat, sedulur, dan penghargaan.
Bagi Suparto, menulis itu tingkatan tertinggi dalam perkembangan intelektual manusia. “Krungu lan weruh (mendengar dan melihat) itu kodrat,” kata Suparto yang ditemui Surya, Selasa (30/10).
Sebaliknya membaca dan menulis itu harus dikenalkan. Untuk urusan yang satu ini pemilik supartobrata.com ini memang tidak kenal kompromi. Jika ingin modern, membacalah. Jika ingin modern dan pintar, menulislah.
Seperti biasa, Suparto selalu mengajak masuk ruang kerja sekaligus kamar yang sesak dengan buku, majalah, kliping koran, print out naskah, hingga tumpukan kertas yang sudah berwarna kuning. Itu harta karun yang dimiliki dan ditumpuk di lemari besi. Di salah satu dinding terpasang foto ukuran 10 R. Foto Suparto dengan perempuan cantik, Trinil. Nama ini selalu dilontarkan Suparto ketika mencari nama penulis bahasa Jawa. Trinil disebutnya sebagai salah satu penulis yang mumpuni.
Di atas satu meja dari tiga meja yang dimasukkan kamar, ada komputer dengan monitor layar datar lengkap dengan printer. Pengalaman membuktikan dia memang bisa menjadi modern dengan menulis ketika usia sebenarnya sudah tak menjangkau modernisasi. Alat ini membantu mengembalikan kisah lama yang kebanyakan menjadi latar belakang novel-novelnya.
Puluhan novel lahir dengan ciri masa perjuangan sebagai sumber ceritanya. Paling tidak, 14 novel sudah diterbitkan tahun ini. Jumlah yang luar biasa bahkan untuk pengarang muda yang paling produktif.
Walau terhitung produktif, penyandang dua penghargaan Rancage -penghargaan untuk seniman yang mempertahankan tradisi di Jawa Barat- mengaku ada naskah yang sempat tak tersentuh. Novel Tak Ada Nasi Lagi mati suri selama 32 tahun sejak 1958 sebelum akhirnya diterbitkan Kompas 1990.
Tak heran bila akhirnya namanya disejajarkan dengan Goenawan Muhammad, Marianne Katoppo, Budi Darma, Putu Wijaya, atau Sutarji Calzoum Bachri. Paling tidak dia ikut mewakili Indonesia dalam SEA Write Award pertengahan Oktober lalu. Ini ajang bergengsi untuk para penulis di kawasan Asia yang setiap tahun mencari penulis jempolan di seluruh negeri. Suparto menjadi penerima ke-18 setelah nama-nama di atas.
Menjadi penulis yang dilirik bahkan oleh pembaca di luar negeri membuat Suparto menemukan jurus untuk menaklukkan mereka. “Jika menulis buku, jangan tanggung-tanggung. Buatlah buku yang tebal,” kata penulis yang cerita pertamanya Miss Rika di Angkasa terbit di Majalah Garuda, 25 Oktober 1953, ketika diskusi tentang perkembangan buku bahasa Jawa yang mulai surut di Hotel Santika Surabaya bulan lalu.
Sekarang hampir seluruh naskah lama yang dibundel dan dimasukkan dalam map diketik ulang dan siap diterbitkan. Jangan tanya tebalnya, bisa dipastikan lebih dari 200 halaman. Hanya ada beberapa buku tipis yang memang untuk konsumsi siswa SD.
Tahun ini seperti 18 tahun lalu ketika menulis untuk Surya, Suparto melemparkan buku Lelabuhane Gubernur Jatim I, Gubernur Suryo yang diterbitkan Grasindo. “Ini bentuk perhatian saya pada kota ini,” kata Suparto.
Sayang, dari empat anaknya tak ada satu pun menjadi penulis. Cucu? “Walah… cucu saya lebih suka menonton televisi dan main game,” kata Suparto yang teratur membaca koran dari pagi hingga siang. Seperti Socrates yang tetap dikagumi selama 2.500 tahun oleh bangsa Eropa, Suparto ingin seluruh idenya dituangkan dalam buku. “Plato berjasa merekam pemikiran Socrates menjadi literatur. Jika tidak, Socrates tidak sebesar ini,” katanya./Endah Imawati
Dari Surya Online
Tags:
Artikel
Kumpul-Kumpul Budaya di Rumah Sirikit Syah
Dapat Pujian, Suparto Brata pun Tersipu
Rumah Sirikit Syah di Perumahan Rungkut Asri, Jumat (2/11) malam, tampak gayeng. Di depan rumah tak berpagar itu terparkir tujuh sepeda motor dan tiga unit mobil. Sekitar 30 orang dari kalangan sastrawan, wartawan, pengamat musik, dan penggerak seni berkumpul di rumah aktivis media dan sastra itu. Ada apa?
ARA ROSSI
Rumah Sirikit yang berarsitektur tropis, ruangan tak banyak sekat, plafon tinggi dengan warna dinding hijau teduh membuat atmosfer kumpul-kumpul malam itu makin nyaman. "Ruang tamu menjadi sebuah tempat pertemuan yang menarik, lebih personal, apalagi makanannya banyak," komentar Halim H.D., seniman pengelana yang datang khusus dari Solo, disambut tawa dan tepuk tangan.
Selain Halim, acara untuk memberi apresiasi kepada Suparto Brata atas prestasinya meraih SEA (South East Asia) Write Award 2007 itu juga dihadiri sastrawan Budi Darma, Lan Fang, penggurit Budi Palopo dan Widodo Basuki, teaterawan Zaenuri dan Farid Samlan, penyair Mashuri, serta pengamat senirupa Riadi Ngasiran. Ada pula staf ahli Unit Petrolium Kantor Perdana Menteri Brunei Darussalam Agus S. Djamil, pengusaha Henky Kurniawan, serta Direktur Jawa Pos Nany Wijaya.
"Acara kumpul-kumpul ini merupakan titik awal dari pertemuan selanjutnya untuk mengatakan bahwa Surabaya masih ada. Surabaya layak diperhitungkan dalam dinamika kebudayaan," ujar Sirikit.
Sirikit berharap dialog kebudayaan yang diformat secara sersan (serius tapi santai) seperti malam itu bisa berlanjut secara rutin. Itu semua dimaksudkan agar dinamika kesenian di Surabaya terus berkembang, gagasan-gagasan cemerlang bermunculan, dan kedewasaan dalam berpikir makin terasah.
Sambil menikmati jamuan makan malam, para undangan saling berinteraksi satu sama lain. Satu per satu mereka juga diminta ngudar gagasan (mengemukakan pendapat) tentang bagaimana kebudayaan seharusnya.
"Saya percaya tidak ada kebetulan yang kebetulan," cetus Lan Fang ketika mendapat giliran bercerita tentang dirinya dan proses kreatifnya sebagai penulis. Dia percaya semua yang berkumpul di rumah Sirikit memang telah digariskan sejak dulu.
Lan Fang kemudian mengungkapkan tentang awal pertemuannya dengan Suparto Brata di TB Toga Mas. Penulis novel Perempuan Kembang Jepun itu menceritakan, salah satu tokoh dalam novel Suparto bernama Fang Fang, seperti namanya (Lan Fang). "Ini bukan sebuah kebetulan kalau kemudian saya jadi akrab dengan Pak Parto," ujar ibu tiga anak kembar itu.
Lan Fang mengatakan, ada "mitos" seniman Surabaya sulit "mencuat" ke permukaan karena tidak melalui jalan yang benar. Seolah untuk mendapatkan "pengakuan" si seniman harus lewat Jogja atau Jakarta. Klaim atau penilaian seperti itu, katanya, harus ditepis.
Dia lalu mengutip pernyataan novelis Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari bahwa untuk diakui Jakarta tidak cukup hanya dengan mengetuk pintu saja. "Kalau perlu bawa bom, baru dibukakan. Untuk itu, sudah saatnya kita membuat karya yang bisa nge-bom Jakarta," ujarnya.
Suparto Brata yang malam itu menjadi "pengantin" tampak tersipu setiap kali pembicara memberi ucapan selamat dan pujian atas kerja keras dan jerih payah tak kenal lelah, yang kemudian menghasilkan SEA Write Award 2007 dari Kerajaan Thailand itu. Penghargaan atas buku-buku Suparto tersebut telah diterimakan di Bangkok pada 12 Oktober lalu. "Akhirnya saya diakui juga. Terima kasih semuanya," ujar Suparta sambil terkekeh.
Penulis novel Dom Sumurup dan Kremil itu kemudian menceritakan bagaimana susahnya berangkat ke Thailand dalam keadaan puasa karena banyaknya "godaan". "Saya naik Thai Airways kelas bisnis gratis. Di dalam pesawat, setiap beberapa menit selalu ditawari makanan yang enak-enak oleh pramugari. Tapi saya hanya bisa…," Suparta berkata sambil menggerakkan tangannya menolak tawaran macam-macam makanan dan minuman itu.
Pensiunan pegawai Pemkot Surabaya itu mengakui karena keterbatasan penguasaan bahasa asingnya, dia sering hanya bisa menggunakan bahasa isyarat untuk berbicara dengan kru pesawat atau petugas hotel di Bangkok. Termasuk ketika dia menolak makanan dan minuman karena sedang menjalankan ibadah puasa.
"Ya, aku bolak-balik isone mek ngene iki (Ya, saya berkali-kali bisanya begini saja, Red)," ujarnya lagi.
Suparto sangat berkesan dengan acara kumpul-kumpul di rumah Sirikit Syah malam itu. Dia berharap agar pertemuan "ruang tamu" tersebut tidak berhenti sampai malam itu saja, tapi bisa meluas dan bergilir ke tempat yang lain.
Salah satu pemikiran Suparto yang diajukan malam itu adalah pentingnya kurikulum membaca dan menulis bagi para siswa di sekolah-sekolah. Mambaca dan menulis diyakini dapat menciptakan manusia-manusia kreatif. "Ini obsesi saya," ujar bapak empat anak itu.
Satu lagi yang membuat betah para tamu Sirikit malam itu. Selain topik yang dibahas menarik, banyak sekali makanan yang disajikan. Mulai makanan berat hingga yang ringan. Minuman dan buah-buahan juga berlebih. Joke-joke dan komentar humor segar ikut membuat malam serasa cepat sekali berlalu. (wek)
dari Indopos online
Rumah Sirikit Syah di Perumahan Rungkut Asri, Jumat (2/11) malam, tampak gayeng. Di depan rumah tak berpagar itu terparkir tujuh sepeda motor dan tiga unit mobil. Sekitar 30 orang dari kalangan sastrawan, wartawan, pengamat musik, dan penggerak seni berkumpul di rumah aktivis media dan sastra itu. Ada apa?
ARA ROSSI
Rumah Sirikit yang berarsitektur tropis, ruangan tak banyak sekat, plafon tinggi dengan warna dinding hijau teduh membuat atmosfer kumpul-kumpul malam itu makin nyaman. "Ruang tamu menjadi sebuah tempat pertemuan yang menarik, lebih personal, apalagi makanannya banyak," komentar Halim H.D., seniman pengelana yang datang khusus dari Solo, disambut tawa dan tepuk tangan.
Selain Halim, acara untuk memberi apresiasi kepada Suparto Brata atas prestasinya meraih SEA (South East Asia) Write Award 2007 itu juga dihadiri sastrawan Budi Darma, Lan Fang, penggurit Budi Palopo dan Widodo Basuki, teaterawan Zaenuri dan Farid Samlan, penyair Mashuri, serta pengamat senirupa Riadi Ngasiran. Ada pula staf ahli Unit Petrolium Kantor Perdana Menteri Brunei Darussalam Agus S. Djamil, pengusaha Henky Kurniawan, serta Direktur Jawa Pos Nany Wijaya.
"Acara kumpul-kumpul ini merupakan titik awal dari pertemuan selanjutnya untuk mengatakan bahwa Surabaya masih ada. Surabaya layak diperhitungkan dalam dinamika kebudayaan," ujar Sirikit.
Sirikit berharap dialog kebudayaan yang diformat secara sersan (serius tapi santai) seperti malam itu bisa berlanjut secara rutin. Itu semua dimaksudkan agar dinamika kesenian di Surabaya terus berkembang, gagasan-gagasan cemerlang bermunculan, dan kedewasaan dalam berpikir makin terasah.
Sambil menikmati jamuan makan malam, para undangan saling berinteraksi satu sama lain. Satu per satu mereka juga diminta ngudar gagasan (mengemukakan pendapat) tentang bagaimana kebudayaan seharusnya.
"Saya percaya tidak ada kebetulan yang kebetulan," cetus Lan Fang ketika mendapat giliran bercerita tentang dirinya dan proses kreatifnya sebagai penulis. Dia percaya semua yang berkumpul di rumah Sirikit memang telah digariskan sejak dulu.
Lan Fang kemudian mengungkapkan tentang awal pertemuannya dengan Suparto Brata di TB Toga Mas. Penulis novel Perempuan Kembang Jepun itu menceritakan, salah satu tokoh dalam novel Suparto bernama Fang Fang, seperti namanya (Lan Fang). "Ini bukan sebuah kebetulan kalau kemudian saya jadi akrab dengan Pak Parto," ujar ibu tiga anak kembar itu.
Lan Fang mengatakan, ada "mitos" seniman Surabaya sulit "mencuat" ke permukaan karena tidak melalui jalan yang benar. Seolah untuk mendapatkan "pengakuan" si seniman harus lewat Jogja atau Jakarta. Klaim atau penilaian seperti itu, katanya, harus ditepis.
Dia lalu mengutip pernyataan novelis Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari bahwa untuk diakui Jakarta tidak cukup hanya dengan mengetuk pintu saja. "Kalau perlu bawa bom, baru dibukakan. Untuk itu, sudah saatnya kita membuat karya yang bisa nge-bom Jakarta," ujarnya.
Suparto Brata yang malam itu menjadi "pengantin" tampak tersipu setiap kali pembicara memberi ucapan selamat dan pujian atas kerja keras dan jerih payah tak kenal lelah, yang kemudian menghasilkan SEA Write Award 2007 dari Kerajaan Thailand itu. Penghargaan atas buku-buku Suparto tersebut telah diterimakan di Bangkok pada 12 Oktober lalu. "Akhirnya saya diakui juga. Terima kasih semuanya," ujar Suparta sambil terkekeh.
Penulis novel Dom Sumurup dan Kremil itu kemudian menceritakan bagaimana susahnya berangkat ke Thailand dalam keadaan puasa karena banyaknya "godaan". "Saya naik Thai Airways kelas bisnis gratis. Di dalam pesawat, setiap beberapa menit selalu ditawari makanan yang enak-enak oleh pramugari. Tapi saya hanya bisa…," Suparta berkata sambil menggerakkan tangannya menolak tawaran macam-macam makanan dan minuman itu.
Pensiunan pegawai Pemkot Surabaya itu mengakui karena keterbatasan penguasaan bahasa asingnya, dia sering hanya bisa menggunakan bahasa isyarat untuk berbicara dengan kru pesawat atau petugas hotel di Bangkok. Termasuk ketika dia menolak makanan dan minuman karena sedang menjalankan ibadah puasa.
"Ya, aku bolak-balik isone mek ngene iki (Ya, saya berkali-kali bisanya begini saja, Red)," ujarnya lagi.
Suparto sangat berkesan dengan acara kumpul-kumpul di rumah Sirikit Syah malam itu. Dia berharap agar pertemuan "ruang tamu" tersebut tidak berhenti sampai malam itu saja, tapi bisa meluas dan bergilir ke tempat yang lain.
Salah satu pemikiran Suparto yang diajukan malam itu adalah pentingnya kurikulum membaca dan menulis bagi para siswa di sekolah-sekolah. Mambaca dan menulis diyakini dapat menciptakan manusia-manusia kreatif. "Ini obsesi saya," ujar bapak empat anak itu.
Satu lagi yang membuat betah para tamu Sirikit malam itu. Selain topik yang dibahas menarik, banyak sekali makanan yang disajikan. Mulai makanan berat hingga yang ringan. Minuman dan buah-buahan juga berlebih. Joke-joke dan komentar humor segar ikut membuat malam serasa cepat sekali berlalu. (wek)
dari Indopos online
Tags:
Artikel
Ngunduh
Dalam jagad sastra jawa modern, Suparto Brata memang bukan nama asing. Melalui karya-karyanya yang terus mengalir sejak dekade 50-an, pensiunan pegawai negeri di lingkungan Pemda Kota Surabaya ini memperoleh penghargaan beberapa kali. Antara lain dari Yayasan Rancage (2001) atas kumpulan cerkak Trem (2000). Kemudian pernah pula mendapat penghargaan sebagai seniman Jawa Timur yang berbakat (bersama Esmiet). Disamping itu, nama Suparto Brata juga menghiasi sastra indonesia. Novelnya : Sisa-Sisa Hari Kemarin mendapat hadiah penghargaan Sayembara Penulisan Roman DKJ 1974.
Tulisan diatas dari Suara Merdeka Cyber News, selengkapnya klik disini
Tulisan diatas dari Suara Merdeka Cyber News, selengkapnya klik disini
Tags:
Artikel





