Bahasa Jawa Makin Terdegradasi
SURABAYA - Bahawa Jawa sebagai bahasa ibu masyarakat Jawa ternyata sudah mengalami degradasi fungsional. Itu terlihat dari minimnya penggunaan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari.
"Jika itu dibiarkan, maka bahasa Jawa akan punah. Akan terjadi lost generation penggunanya," kata Bonari Nabonenar, ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) dalam launching 16 buku cerita rakyat dalam bahasa Jawa di Hotel Santika, Sabtu (8/9).
Dalam launching tersebut hadir para penulis cerita rakyat, antara lain Suparto Brata, Widodo Basuki, Suharmono, Bonari Nabonenar, dan R.M. Yunani Prawiranegara. Acaranya terbilang cukup unik karena disajikan seluruhnya dalam bahawa Jawa Kromo.
Dalam acara tersebut, hampir semua penulis meresahkan ketidak-eksisan bahasa Jawa dalam sektor pendidikan formal. Bahkan, boleh dibilang, kata Bonari, bahasa Jawa hanyalah mata pelajaran yang sifatnya tentative. "Malahan, ada guru yang nggak bisa bahasa Jawa. Padahal ia keturunan Jawa asli," ujarnya.
Kalaupun ada pelajaran bahasa Jawa, lanjutnya, pelaksanaannya dilakukan secara setengah-setengah. "Bahkan murid-murid sekarang malu belajar bahasa Jawa. Mereka lebih senang belajar bahasa asing," lanjutnya.
Siti Aminah, salah seorang guru asal Jogjakarta yang hadir dalam acara itu, mengusulkan agar bahasa Jawa bisa menjadi bahasa pengantar dalam setiap mata pelajaran. Tentu, tujuannya dalam rangka melestarikan bahasa Jawa. "Lha wong aneh, sekarang malah banyak mata pelajaran yang pengantarnya menggunakan bahasa asing," ujar cerpenis itu.
Suparto Brata juga memberikan pernyataan ekstrem mengenai keberadaan bahasa Jawa di tengah masyarakat. "Bahasa Jawa itu imagenya ndeso," kata pria kelahiran 1932 tersebut.
Padahal, kata dia, banyak orang asing, terutama dari Eropa, yang berkeinginan mempelajari bahasa Jawa. Orang asing itu mempelajari lantas menuliskannya untuk dijadikan sebagai ilmu pengetahuan di negaranya. " Kalau kita, jangankan menulis, lha wong membaca saja males," lanjut pengarang yang sudah menelorkan puluhan buku bacaan itu.
Menurut Parto, banyak orang besar jadi terkenal akibat karya tulisnya. Ia mencontohkan Pluto yang berhasil menulis buah pikiran Socrates, gurunya sendiri. "Artinya, menulis bisa menjadi media efektif dalam rangka transformasi keilmuwan," terangnya.
Tulisan, tentunya berhubungan dengan bahasa yang digunakan. Bahasa Jawa, tentu harus bisa menjadi mentransformasi keilmuwan jika tidak ingin ditinggalkan oleh penggunanya. "Jika itu tidak terjadi, maka dengan sendirinya bahasa Jawa akan asing bagi masyarakat Jawa. Apalagi pemerintah tengah merancang RUU tentang penggunaan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa di dunia pendidikan," tegas R.M. Yunani Prawiranegara yang menjadi moderator dalam acara tersebut.(ded)
Diambil dari Indo Pos Online
"Jika itu dibiarkan, maka bahasa Jawa akan punah. Akan terjadi lost generation penggunanya," kata Bonari Nabonenar, ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) dalam launching 16 buku cerita rakyat dalam bahasa Jawa di Hotel Santika, Sabtu (8/9).
Dalam launching tersebut hadir para penulis cerita rakyat, antara lain Suparto Brata, Widodo Basuki, Suharmono, Bonari Nabonenar, dan R.M. Yunani Prawiranegara. Acaranya terbilang cukup unik karena disajikan seluruhnya dalam bahawa Jawa Kromo.
Dalam acara tersebut, hampir semua penulis meresahkan ketidak-eksisan bahasa Jawa dalam sektor pendidikan formal. Bahkan, boleh dibilang, kata Bonari, bahasa Jawa hanyalah mata pelajaran yang sifatnya tentative. "Malahan, ada guru yang nggak bisa bahasa Jawa. Padahal ia keturunan Jawa asli," ujarnya.
Kalaupun ada pelajaran bahasa Jawa, lanjutnya, pelaksanaannya dilakukan secara setengah-setengah. "Bahkan murid-murid sekarang malu belajar bahasa Jawa. Mereka lebih senang belajar bahasa asing," lanjutnya.
Siti Aminah, salah seorang guru asal Jogjakarta yang hadir dalam acara itu, mengusulkan agar bahasa Jawa bisa menjadi bahasa pengantar dalam setiap mata pelajaran. Tentu, tujuannya dalam rangka melestarikan bahasa Jawa. "Lha wong aneh, sekarang malah banyak mata pelajaran yang pengantarnya menggunakan bahasa asing," ujar cerpenis itu.
Suparto Brata juga memberikan pernyataan ekstrem mengenai keberadaan bahasa Jawa di tengah masyarakat. "Bahasa Jawa itu imagenya ndeso," kata pria kelahiran 1932 tersebut.
Padahal, kata dia, banyak orang asing, terutama dari Eropa, yang berkeinginan mempelajari bahasa Jawa. Orang asing itu mempelajari lantas menuliskannya untuk dijadikan sebagai ilmu pengetahuan di negaranya. " Kalau kita, jangankan menulis, lha wong membaca saja males," lanjut pengarang yang sudah menelorkan puluhan buku bacaan itu.
Menurut Parto, banyak orang besar jadi terkenal akibat karya tulisnya. Ia mencontohkan Pluto yang berhasil menulis buah pikiran Socrates, gurunya sendiri. "Artinya, menulis bisa menjadi media efektif dalam rangka transformasi keilmuwan," terangnya.
Tulisan, tentunya berhubungan dengan bahasa yang digunakan. Bahasa Jawa, tentu harus bisa menjadi mentransformasi keilmuwan jika tidak ingin ditinggalkan oleh penggunanya. "Jika itu tidak terjadi, maka dengan sendirinya bahasa Jawa akan asing bagi masyarakat Jawa. Apalagi pemerintah tengah merancang RUU tentang penggunaan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa di dunia pendidikan," tegas R.M. Yunani Prawiranegara yang menjadi moderator dalam acara tersebut.(ded)
Diambil dari Indo Pos Online
Tags:
Artikel
Suparto Brata, Sastrawan Gaptek Yang Punya Situs Web
Surabaya (ANTARA News) - Suparto Brata, sastrawan "gaek" yang tetap produktif di usia 75 tahun, kini memiliki media baru untuk menyebarkan novel atau cerpennya; laman pribadi dan situs web.
"Yang membuat blog (laman pribadi) pada Desember 2006 dan website pada Juli 2007 adalah anak-anak saya. Kalau saya tidak tahu apa-apa," kata penulis yang mengaku gagap teknologi (gaptek) itu di Surabaya.
Suparto Brata, yang telah meluncurkan hampir 130 novel berbahasa Indonesia dan Jawa, juga belum dapat memasukkan karya-karya terbarunya ke www.supartobrata.com, alamat website terbarunya.
"Semuanya yang memasukkan adalah anak-anak saya. Saya hanya mengirim tulisan lewat email. Ini kadang-kadang juga sering salah. Meskipun demikian, saya tetap belajar terus untuk menguasai teknologi informasi ini," kata penulis novel "Dunyane Wong Culiko" itu.
Ide membuat website dan laman pribadi itu juga berasal dari anak-anaknya, antara lain, Tatit Merapi, Teno Singalang dan Neo Semeru. Anak-anaknya kini bermukim di Jakarta dan Papua.
"Mereka bilang bahwa saya harus menguasai teknologi informasi. Ya sudah saya ikuti saja," kata lelaki yang di tahun 2007 telah menghasilkan 12 novel dan cerita anak-anak.
Pensiunan pegawai negeri yang sering menulis novel dengan setting cerita sejarah itu mengakui, kini ia lebih leluasa mengomunikasikan karya-karyanya kepada masyarakat melalui website. Lewat laman web itu pula ia kemudian banyak berkomunikasi dengan penggemarnya lewat email.
Meski usianya telah senja, lelaki berperawakan kecil itu tetap berdisiplin menghasilkan karya. Sehari rata-rata ia bisa menulis sekitar delapan halaman. (*)
Diambil dari Antara News
"Yang membuat blog (laman pribadi) pada Desember 2006 dan website pada Juli 2007 adalah anak-anak saya. Kalau saya tidak tahu apa-apa," kata penulis yang mengaku gagap teknologi (gaptek) itu di Surabaya.
Suparto Brata, yang telah meluncurkan hampir 130 novel berbahasa Indonesia dan Jawa, juga belum dapat memasukkan karya-karya terbarunya ke www.supartobrata.com, alamat website terbarunya.
"Semuanya yang memasukkan adalah anak-anak saya. Saya hanya mengirim tulisan lewat email. Ini kadang-kadang juga sering salah. Meskipun demikian, saya tetap belajar terus untuk menguasai teknologi informasi ini," kata penulis novel "Dunyane Wong Culiko" itu.
Ide membuat website dan laman pribadi itu juga berasal dari anak-anaknya, antara lain, Tatit Merapi, Teno Singalang dan Neo Semeru. Anak-anaknya kini bermukim di Jakarta dan Papua.
"Mereka bilang bahwa saya harus menguasai teknologi informasi. Ya sudah saya ikuti saja," kata lelaki yang di tahun 2007 telah menghasilkan 12 novel dan cerita anak-anak.
Pensiunan pegawai negeri yang sering menulis novel dengan setting cerita sejarah itu mengakui, kini ia lebih leluasa mengomunikasikan karya-karyanya kepada masyarakat melalui website. Lewat laman web itu pula ia kemudian banyak berkomunikasi dengan penggemarnya lewat email.
Meski usianya telah senja, lelaki berperawakan kecil itu tetap berdisiplin menghasilkan karya. Sehari rata-rata ia bisa menulis sekitar delapan halaman. (*)
Diambil dari Antara News
Tags:
Artikel
MENCARI SARANG ANGIN
“Seorang tidak selalu harus wani ngalah luhur wekasane (berani ngalah bahagia pada akhirnya) seperti yang menjadi panutan orang jawa…. ajaran hidup yang banyak didendangkan para abdi, para petani, juga para bangsawan, dan dianjurkan oleh para guru kepada murid-muridnya. Berbantah, melawan…. Itu suatu kekuatan jasmani yang perlu dimiliki sesorang dalam mempertahankan atau memperebutkan kedudukannya,” kata Beatrix ketika Darwan berpamitan kepadanya.
Darwan memilih pergi, ketika dirinya dituduh demen dengan Kundarti yang adalah selir Kanjeng Rama-ayahnya. Meski Beatrix, teman dekatnya yang berdarah Belanda itu sangat tak setuju. Pasalnya, Kundarti dalam certia bersambung Darwan Prahara Ing Surakarta di surat kabar Dagblad Expres adalah perempuan keturunan feodal kental dan punya gagasan kerakyatan yang hebat. Bukan Kundarti yang ada di rumahnya. Darwan hanya meminjam nama.
Tapi sejatinya, Darwan memang ingin terbang ditiup angin lebih tinggi lagi. Darwan mau kehidupan yang lain dari kehidupan saudara-saudaranya yang masih mengandalkan warisan kekayaan dan keturunan kebangsawanan Surakarta Hardiningrat. Meski kepergiannya itu dicebil dengan istilah “Ngoleki susuhe angin” alias “Mencari Sarang Angin”. Mencari hikmah dari miteri kehidupan, dan yang diperoleh juga tetap misteri ….. Tidak pandang bulu keturunan ningrat atau bukan!
Penerbit : PT. Grasindo
Jl. Palmerah Selatan 22-28, Jakarta 10270
Tel (021) 53696545, Fax (021) 5491412
Website : www.grasindo.co.id
Darwan memilih pergi, ketika dirinya dituduh demen dengan Kundarti yang adalah selir Kanjeng Rama-ayahnya. Meski Beatrix, teman dekatnya yang berdarah Belanda itu sangat tak setuju. Pasalnya, Kundarti dalam certia bersambung Darwan Prahara Ing Surakarta di surat kabar Dagblad Expres adalah perempuan keturunan feodal kental dan punya gagasan kerakyatan yang hebat. Bukan Kundarti yang ada di rumahnya. Darwan hanya meminjam nama.
Tapi sejatinya, Darwan memang ingin terbang ditiup angin lebih tinggi lagi. Darwan mau kehidupan yang lain dari kehidupan saudara-saudaranya yang masih mengandalkan warisan kekayaan dan keturunan kebangsawanan Surakarta Hardiningrat. Meski kepergiannya itu dicebil dengan istilah “Ngoleki susuhe angin” alias “Mencari Sarang Angin”. Mencari hikmah dari miteri kehidupan, dan yang diperoleh juga tetap misteri ….. Tidak pandang bulu keturunan ningrat atau bukan!
Penerbit : PT. Grasindo
Jl. Palmerah Selatan 22-28, Jakarta 10270
Tel (021) 53696545, Fax (021) 5491412
Website : www.grasindo.co.id
Tags:
Judul Buku
EMPRIT ABUNTUT BEDHUG
Crita seri Detektip Handaka wis kondhang banget ing taun 1960-1990-an ing kalangan Sastra Jawa modern. Crita-critane gagrak anyar, ngudhari wewadine kadurjanan, basa Jawane teteh populer gampang dimangerteni, nanging tetep nugoni pakeme tata basa.
Magerib malam Jumuwah Jarot numpak sepedhah ngliwati praliman Blawuran Surabaya, srempetan karo sepedhahe cah wadon. Ana kanthonge cah wadon mau sing mencelat saka setange. Dijupuk Jarot, diulungake marang sing duwe. Nanging bocahe nampik kipa-kipa, jare kuwi dudu kanthonge. Apa njerone kanthong? Kuwi sing ndadekake penggalihe para maos mingket saka buku wacan iki.
Penerbit : Narasi
Alamat : Jl. Irian Jaya D-24 Perum Nogotirto Elok II
Yogyakarto 55292
Tel : 0274-7103084, Faks : 0274-620879
Harga : Rp.25.000,-
Tags:
Judul Buku
JARING KALAMANGGA
Novel bahasa Jawa seri Detektip Handaka
Sanggar, sawenehe wakil direktur perusahaan dagang mbutuhake jurutulis kanggo kantor cabange sing ana int Tretes, kutha cilik ing wilayah pegunungan. Dheweke ngirimke surat panggilan marang calon jurutulise sing anyar supaya gage mlebu nyambutgawe. Jurutulis anyar mau jenenge Handaka, pakaryane dadi detektip.
“Sing dibutuhake niku jurutulis. Ning sing sampeyan timbali kok detektip? Enten napa?
Lan kuwi uga dadi pitakonane para sing maos novel iki. Supaya oleh jawaban, waosen wae buku iki..
Penerbit : Narasi
Alamat : Jl. Irian Jaya D-24 Perum Nogotirto Elok II
Yogyakarto 55292
Tel : 0274-7103084, Faks : 0274-620879
Harga : Rp.35.000,-
Sanggar, sawenehe wakil direktur perusahaan dagang mbutuhake jurutulis kanggo kantor cabange sing ana int Tretes, kutha cilik ing wilayah pegunungan. Dheweke ngirimke surat panggilan marang calon jurutulise sing anyar supaya gage mlebu nyambutgawe. Jurutulis anyar mau jenenge Handaka, pakaryane dadi detektip.
“Sing dibutuhake niku jurutulis. Ning sing sampeyan timbali kok detektip? Enten napa?
Lan kuwi uga dadi pitakonane para sing maos novel iki. Supaya oleh jawaban, waosen wae buku iki..
Penerbit : Narasi
Alamat : Jl. Irian Jaya D-24 Perum Nogotirto Elok II
Yogyakarto 55292
Tel : 0274-7103084, Faks : 0274-620879
Harga : Rp.35.000,-
Tags:
Judul Buku
SUPARTO BRATA’S OMNIBUS.
Isi novel iki cacah telu, yakuwi “Astirin Mbalela”, “Clemang-clemong”, lan “Bekasi Remeng-remeng”, ditambahi esai bab novel cacah telu kuwi dening Darni Ragil Suparlan, dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah, FBS Unesa, Surabaya. Astirin prawan Desa Ngunut Tulungagung, keplayu keplantrang menyang Surabaya marga emoh nikah peksan. Sidane ya balik menyang Ngunut, nanging dadi apa, kuwi sing dadi wewadine novel iki. Clemang-clemong kuwi omonge Abyor, bocah umur 5 tahun, dheweke milihake bapake oleh garwa maneh gantine ibune. Lucu banget. Bekasi Remeng-remeng nyaritakake solah kadurjanan ing Kutha Bekasi wayah surup. Serem banget.
Penerbit : Narasi
Alamat : Jl. Irian Jaya D-24 Perum Nogotirto Elok II
Yogyakarto 55292
Tel : 0274-7103084, Faks : 0274-620879
Penerbit : Narasi
Alamat : Jl. Irian Jaya D-24 Perum Nogotirto Elok II
Yogyakarto 55292
Tel : 0274-7103084, Faks : 0274-620879
Harga : Rp.68.000,-
Tags:
Judul Buku
Dari Antara News
Berita ini diambil dari Antara News.
Suparto Brata Hasilkan 12 Novel Setahun
Surabaya (ANTARA News) - Usia senja bagi Suparto Brata, penulis sastra Jawa asal Surabaya, tidak menjadi penghalang untuk terus berkarya.
Suparto yang genap berusia 75 tahun pada Februari lalu, justru makin produktif. Sedikitnya 12 novel dan buku cerita anak ditulisnya selama 2007.
Kepada ANTARA di Surabaya, Minggu, Suparto menyatakan dari 12 buku yang sudah diterbitkan itu, tujuh berupa novel berbahasa Jawa, empat cerita rakyat untuk anak-anak berbahasa Jawa dan satu novel berbahasa Indonesia.
"Mungkin sampai akhir 2007 masih beberapa novel atau cerita anak berbahasa Jawa yang bisa saya terbitkan. Kebetulan saya kerjasama antara PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa) dengan PT Grasindo untuk menerbitkan cerita anak," katanya.
Menurut dia, buku-buku cerita anak itu diambil umumnya dari kisah-kisah yang ada di Jawa Timur dan Surabaya, seperti pertempuran 10 Nopember, Monumen Mayangkara dan cerita lainnya yang selama ini belum banyak diketahui oleh anak-anak.
"Untuk novel yang berbahasa Jawa, beberapa diantaranya juga berkaitan dengan sejarah. Ada yang satu buku berisi tiga novel yang berbeda. Ini saya meniru di Amerika. Saya memang berobsesi sastra Jawa menjadi bacaan dunia," katanya.
Karena itu ia tidak khawatir dengan satu buku berisi tiga novel yang sangat tebal sehingga harganya lebih mahal karena diharapkan buku itu laku untuk konsumsi masyarakat pecinta sastra di luar negeri.
"Makanya saya tidak memikirkan apakah novel yang tebal itu bisa terbeli oleh masyarakat Jawa atau tidak. Saya memikirkan, buku sastra Jawa harus mengikuti perkembangan dunia internasional atau sesuai standar internasional," katanya.
Menurut dia, proyek penulisan 60 judul buku cerita anak dari PPSJS itu sebetulnya bertentangan dengan gagasannya untuk menjadikan sastra Jawa sebagai bacaan dunia. Tapi ia mengalah karena proyek itu untuk kepentingan anak-anak.
Novel berbahasa Indonesia berjudul "Mahligai di Ufuk Timur", merupakan seri terakhir dari trilogi karya Suparto sebelumnya, yakni "Gadis Tangsi" dan "Kerajaan Raminem".
"Untuk trilogi itu bukunya tebal-tebal sekitar 500 halaman. Ini merupakan seri terakhir dari novel yang bercerita tentang gadis tangsi di jaman penjajahan Jepang," katanya. (*)
Surabaya (ANTARA News) - Usia senja bagi Suparto Brata, penulis sastra Jawa asal Surabaya, tidak menjadi penghalang untuk terus berkarya.
Suparto yang genap berusia 75 tahun pada Februari lalu, justru makin produktif. Sedikitnya 12 novel dan buku cerita anak ditulisnya selama 2007.
Kepada ANTARA di Surabaya, Minggu, Suparto menyatakan dari 12 buku yang sudah diterbitkan itu, tujuh berupa novel berbahasa Jawa, empat cerita rakyat untuk anak-anak berbahasa Jawa dan satu novel berbahasa Indonesia.
"Mungkin sampai akhir 2007 masih beberapa novel atau cerita anak berbahasa Jawa yang bisa saya terbitkan. Kebetulan saya kerjasama antara PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa) dengan PT Grasindo untuk menerbitkan cerita anak," katanya.
Menurut dia, buku-buku cerita anak itu diambil umumnya dari kisah-kisah yang ada di Jawa Timur dan Surabaya, seperti pertempuran 10 Nopember, Monumen Mayangkara dan cerita lainnya yang selama ini belum banyak diketahui oleh anak-anak.
"Untuk novel yang berbahasa Jawa, beberapa diantaranya juga berkaitan dengan sejarah. Ada yang satu buku berisi tiga novel yang berbeda. Ini saya meniru di Amerika. Saya memang berobsesi sastra Jawa menjadi bacaan dunia," katanya.
Karena itu ia tidak khawatir dengan satu buku berisi tiga novel yang sangat tebal sehingga harganya lebih mahal karena diharapkan buku itu laku untuk konsumsi masyarakat pecinta sastra di luar negeri.
"Makanya saya tidak memikirkan apakah novel yang tebal itu bisa terbeli oleh masyarakat Jawa atau tidak. Saya memikirkan, buku sastra Jawa harus mengikuti perkembangan dunia internasional atau sesuai standar internasional," katanya.
Menurut dia, proyek penulisan 60 judul buku cerita anak dari PPSJS itu sebetulnya bertentangan dengan gagasannya untuk menjadikan sastra Jawa sebagai bacaan dunia. Tapi ia mengalah karena proyek itu untuk kepentingan anak-anak.
Novel berbahasa Indonesia berjudul "Mahligai di Ufuk Timur", merupakan seri terakhir dari trilogi karya Suparto sebelumnya, yakni "Gadis Tangsi" dan "Kerajaan Raminem".
"Untuk trilogi itu bukunya tebal-tebal sekitar 500 halaman. Ini merupakan seri terakhir dari novel yang bercerita tentang gadis tangsi di jaman penjajahan Jepang," katanya. (*)
Tags:
Artikel
Buku Terbitan Gransindo
Aurora, Sang Pengantin (270 halaman)
Karena sudah dua kali ikut ujian masuk perguruan tinggi tidak lulus, maka Aurora mau saja dinikahi Jimbun Hantaka, duda yang 10 tahun lebih tua, tapi kaya. Kata orang almarhum Monica, istri Jimbun, cantik dan cerdas. Untuk menarik hati suaminya, Aurora pun berusaha berbuat semirip Monica. Tetapi ketika Aurora berdandan semirip Monica, justru disiksa oleh Jinbun. Mengapa? Ada peristiwa pembunuhan masa lalu yang hampir tak terungkap pada cerita ini. Bukan Suparto Brata kalau dalam karangannya tidak berunsur detektif. Di kalangan sastra Jawa Suparto Brata sangat terkenal dengan novel-novelnya seri Detektip Handaka. Diterbitkan PT Grasindo, Jakarta.
Saputangan Gambar Naga (404 halaman)
Ini kisah petualangan Fang Fang, untuk menyelamatkan perjalanan ayahnya, Mengki’i, yang diutus Kubilai Khan untuk menaklukkan Kerajaan Singasari. Ayahnya tidak percaya bahwa saputangan yang disulami gambar naga oleh ibu Fang Fang akan melindunginya dari marabahaya, tetapi Fang Fang sangat yakin, tanpa membawa saputangan tadi ayahnya akan celaka. Duta Mengki’i dicelakai oleh Raja Singasari, pulang ke negerinya dengan luka parah, lalu tentara Tartar membalas dendam menyerbu Singasari, yang berakhir dengan peristiwa hari jadi Kota Surabaya, 31 Mei 1293. Ternyata petualangan Fang Fang tadi masih berlangsung hingga 700 tahun kemudian, jiwa-jiwa Fang Fang dan lain-lain bertualang lagi. Itulah cara Suparto Brata merayakan hari jadi kota kelahirannya, yaitu hari jadi Kota Surabaya, tahun ke-700. Seharusnya orang Surabaya membaca buku ini, agar tahu sejarah hari jadi Kota Surabaya.. Diterbitkan PT. Grasindo, Jakarta.
Mencari Sarang Angin (726 halaman)
Ini buku sejarah sosial-budaya Kota Surabaya sejak 1935 hingga 10 November 1945, sejarah kehidupan zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang dan awal merdeka, dibentuk sebagai cerita roman. Sejarah pers, sejarah politik, sejarah pelayanan publik, fasilitas umum dan infra-struktur, sejarah sosial-budaya Arek Surabaya, sejarah perjuangan 10 November 1945, berlanjut zaman revolusi, dirangkai dalam cerita lakon yang hidup dan amat mempesona. Seharusnya penghuni Surabaya masa kini, Walikotanya, anggota DPRD-nya, mahasiswanya, intelektualnya yang cari nafkah di Surabaya, membaca buku ini agar mengetahui sejarah kehidupan manusia di Surabaya zaman yang lalu, sehingga bisa digunakan untuk membangun Surabaya zaman yang akan datang. Diterbitkan PT. Grasindo, Jakarta.
Karena sudah dua kali ikut ujian masuk perguruan tinggi tidak lulus, maka Aurora mau saja dinikahi Jimbun Hantaka, duda yang 10 tahun lebih tua, tapi kaya. Kata orang almarhum Monica, istri Jimbun, cantik dan cerdas. Untuk menarik hati suaminya, Aurora pun berusaha berbuat semirip Monica. Tetapi ketika Aurora berdandan semirip Monica, justru disiksa oleh Jinbun. Mengapa? Ada peristiwa pembunuhan masa lalu yang hampir tak terungkap pada cerita ini. Bukan Suparto Brata kalau dalam karangannya tidak berunsur detektif. Di kalangan sastra Jawa Suparto Brata sangat terkenal dengan novel-novelnya seri Detektip Handaka. Diterbitkan PT Grasindo, Jakarta.
Saputangan Gambar Naga (404 halaman)
Ini kisah petualangan Fang Fang, untuk menyelamatkan perjalanan ayahnya, Mengki’i, yang diutus Kubilai Khan untuk menaklukkan Kerajaan Singasari. Ayahnya tidak percaya bahwa saputangan yang disulami gambar naga oleh ibu Fang Fang akan melindunginya dari marabahaya, tetapi Fang Fang sangat yakin, tanpa membawa saputangan tadi ayahnya akan celaka. Duta Mengki’i dicelakai oleh Raja Singasari, pulang ke negerinya dengan luka parah, lalu tentara Tartar membalas dendam menyerbu Singasari, yang berakhir dengan peristiwa hari jadi Kota Surabaya, 31 Mei 1293. Ternyata petualangan Fang Fang tadi masih berlangsung hingga 700 tahun kemudian, jiwa-jiwa Fang Fang dan lain-lain bertualang lagi. Itulah cara Suparto Brata merayakan hari jadi kota kelahirannya, yaitu hari jadi Kota Surabaya, tahun ke-700. Seharusnya orang Surabaya membaca buku ini, agar tahu sejarah hari jadi Kota Surabaya.. Diterbitkan PT. Grasindo, Jakarta.
Mencari Sarang Angin (726 halaman)
Ini buku sejarah sosial-budaya Kota Surabaya sejak 1935 hingga 10 November 1945, sejarah kehidupan zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang dan awal merdeka, dibentuk sebagai cerita roman. Sejarah pers, sejarah politik, sejarah pelayanan publik, fasilitas umum dan infra-struktur, sejarah sosial-budaya Arek Surabaya, sejarah perjuangan 10 November 1945, berlanjut zaman revolusi, dirangkai dalam cerita lakon yang hidup dan amat mempesona. Seharusnya penghuni Surabaya masa kini, Walikotanya, anggota DPRD-nya, mahasiswanya, intelektualnya yang cari nafkah di Surabaya, membaca buku ini agar mengetahui sejarah kehidupan manusia di Surabaya zaman yang lalu, sehingga bisa digunakan untuk membangun Surabaya zaman yang akan datang. Diterbitkan PT. Grasindo, Jakarta.
Tags:
Judul Buku
ROTI DAN PUASA
“Makan roti? Sudah kenyang? Ah, orang Jawa kalau belum makan nasi kan belum sarapan namanya? Jadi, sarapan nasi saja, ya?” istriku yang pandai memasak selanjutnya menyiapkan masak nasi untuk sarapanku setiap pagi.
Saya mengalah, sambil alasanku ketika itu, “Ya. Roti memang makanan Belanda. Apalagi ketika Solo diduduki oleh pasukan Belanda 1949 dulu. Aku terjebak masuk kota, ayah pulang membawa roti, aku takut memakannya. Sebab makan roti rasanya seperti mengkhianati perjuangan bangsa.”
Dan ceritaku tadi terus-menerus didongengkan oleh istriku kepada cucu-cucunya sebelum tidur sebagai kisah patriotik kakeknya melawan penjajahan Belanda.
Istriku telah meninggal dunia lima tahun yang lalu. Sekarang saya tinggal bersama anakku perempuan (Tera), bersama suami dan anak-anaknya (cucuku). Pagi hari menantu pergi ke kantor, cucu-cucu pergi ke sekolah, mereka tidak sarapan di rumah, disangoni roti. Jadi pagi hari Tera repot memasak nasi hanya untukku, melanjutkan kebiasaan istriku. Saya kasihan. “Enaknya aku juga sarapan roti sajalah,” usulku.
“Lo, nanti tidak kenyang?” pertimbangan Tera.
“Tidak perlu kenyang, kan? Makanlah ketika lapar, berhentilah makan sebelum kenyang, begitu sabda Nabi, bukan?” kilah alasan saya.
“Tapi roti makanan Belanda, Kek,” tegur cucu-cucuku, ingat dongeng neneknya.
“Ah, itu kan dulu, ketika Belanda menjadi musuh bangsa.”
Sejak itu saya ikut-ikutan sarapan makan roti setiap pagi. Setangkap roti, disemir mentega ditaburi misis. Minumnya Anlene Gold, gula dan Nescafé Classic ukuran 3:3:1, diaduk dengan air panas 200 ml. Semua saya racik sendiri. Sungguh, tidak merepotkan Tera lagi.
Sudah empat tahun ini kami berlengganan roti merk Fran’s jenis American Toast pada bakul roti yang dijajakan pakai motor lewat depan rumah. Sebungkus harganya Rp 5200, seminggu 6 kali, dari Senin sampai dengan Sabtu, kami bayar Rp 31.200 di muka tiap hari Senin.
Kamis 13 September 2007, kami seluruh rumah puasa. Waktu sahur jam 3, kami makan nasi bersama masakan yang sudah disediakan oleh Tera. Hari berikutnya, roti juga tidak termakan. Sampai menumpuk tiga bungkus. Ya, kapan sempatnya makan, biasanya untuk sarapan pagi, dan bekal ke sekolah, kini tidak ada sarapan pagi. Adanya sahur.
“Enaknya tidak beli roti saja selama bulan puasa,” usul para cucu.
“Ah, tidak. Kan kasihan penjual roti itu, penghasilannya berkurang karena kita semua puasa,” ujarku.
“Ya salahnya sendiri, kan. Bulan puasa jualan makanan?”
“Jangan begitu. Kita tetap berlangganan roti. Tidak berubah, meskipun pada bulan puasa ini kita menunaikan ibadah puasa. Toh kita tidak kehilangan rezeki apapun meski tetap membayar langganan roti. Jatah berlengganan roti Rp 31.200 seminggu itu sudah terjadwal dalam pengeluaran kita sehari-hari selama ini.”
“Tapi bagaimana dengan roti yang terbengkalai sebanyak itu, Kek?”
“Ya, saya coba ubah menu sahur saya. Tidak makan nasi, tapi makan roti. Atau rotinya dicampurkan dalam kuah kolak atau apa, untuk berbuka puasa. Pokok, kita bisa menunaikan ibadah puasa, tanpa mengurangi rezeki orang lain. Dalam hal ini penghasilan penjual roti itu.”
Dan begitulah selanjutnya. Kami berpuasa, dan tetap berlengganan roti. Saya juga berhasil makan sahur dengan setangkap roti dan minum racikan Anlene Gold dan Nescafé Classic seperti waktu sarapan pagi dulu-dulu. Puasaku tidak batal karena kelaparan. Dan celoteh, “Roti itu makanan Belanda” atau “Orang Jawa kalau belum makan nasi, merasa belum sarapan,” masih menjadi lelucon kami sewaktu sahur.
“Wah, kakek ini karena roti ketika masih muda jadi patriot, setelah jadi kakek pembela orang miskin!” gurau cucu saya yang sudah klas 1 SMA Mohammadiah II Pucang Surabaya.
“Ya, sedikit-sedikit. Kalau bisa urun kebaikan kehidupan untuk negara dan bangsa begitu, mengapa tidak?” jawab saya.
(Suparto Brata, mantan loper koran Jawa Pos, 1950)
Saya mengalah, sambil alasanku ketika itu, “Ya. Roti memang makanan Belanda. Apalagi ketika Solo diduduki oleh pasukan Belanda 1949 dulu. Aku terjebak masuk kota, ayah pulang membawa roti, aku takut memakannya. Sebab makan roti rasanya seperti mengkhianati perjuangan bangsa.”
Dan ceritaku tadi terus-menerus didongengkan oleh istriku kepada cucu-cucunya sebelum tidur sebagai kisah patriotik kakeknya melawan penjajahan Belanda.
Istriku telah meninggal dunia lima tahun yang lalu. Sekarang saya tinggal bersama anakku perempuan (Tera), bersama suami dan anak-anaknya (cucuku). Pagi hari menantu pergi ke kantor, cucu-cucu pergi ke sekolah, mereka tidak sarapan di rumah, disangoni roti. Jadi pagi hari Tera repot memasak nasi hanya untukku, melanjutkan kebiasaan istriku. Saya kasihan. “Enaknya aku juga sarapan roti sajalah,” usulku.
“Lo, nanti tidak kenyang?” pertimbangan Tera.
“Tidak perlu kenyang, kan? Makanlah ketika lapar, berhentilah makan sebelum kenyang, begitu sabda Nabi, bukan?” kilah alasan saya.
“Tapi roti makanan Belanda, Kek,” tegur cucu-cucuku, ingat dongeng neneknya.
“Ah, itu kan dulu, ketika Belanda menjadi musuh bangsa.”
Sejak itu saya ikut-ikutan sarapan makan roti setiap pagi. Setangkap roti, disemir mentega ditaburi misis. Minumnya Anlene Gold, gula dan Nescafé Classic ukuran 3:3:1, diaduk dengan air panas 200 ml. Semua saya racik sendiri. Sungguh, tidak merepotkan Tera lagi.
Sudah empat tahun ini kami berlengganan roti merk Fran’s jenis American Toast pada bakul roti yang dijajakan pakai motor lewat depan rumah. Sebungkus harganya Rp 5200, seminggu 6 kali, dari Senin sampai dengan Sabtu, kami bayar Rp 31.200 di muka tiap hari Senin.
Kamis 13 September 2007, kami seluruh rumah puasa. Waktu sahur jam 3, kami makan nasi bersama masakan yang sudah disediakan oleh Tera. Hari berikutnya, roti juga tidak termakan. Sampai menumpuk tiga bungkus. Ya, kapan sempatnya makan, biasanya untuk sarapan pagi, dan bekal ke sekolah, kini tidak ada sarapan pagi. Adanya sahur.
“Enaknya tidak beli roti saja selama bulan puasa,” usul para cucu.
“Ah, tidak. Kan kasihan penjual roti itu, penghasilannya berkurang karena kita semua puasa,” ujarku.
“Ya salahnya sendiri, kan. Bulan puasa jualan makanan?”
“Jangan begitu. Kita tetap berlangganan roti. Tidak berubah, meskipun pada bulan puasa ini kita menunaikan ibadah puasa. Toh kita tidak kehilangan rezeki apapun meski tetap membayar langganan roti. Jatah berlengganan roti Rp 31.200 seminggu itu sudah terjadwal dalam pengeluaran kita sehari-hari selama ini.”
“Tapi bagaimana dengan roti yang terbengkalai sebanyak itu, Kek?”
“Ya, saya coba ubah menu sahur saya. Tidak makan nasi, tapi makan roti. Atau rotinya dicampurkan dalam kuah kolak atau apa, untuk berbuka puasa. Pokok, kita bisa menunaikan ibadah puasa, tanpa mengurangi rezeki orang lain. Dalam hal ini penghasilan penjual roti itu.”
Dan begitulah selanjutnya. Kami berpuasa, dan tetap berlengganan roti. Saya juga berhasil makan sahur dengan setangkap roti dan minum racikan Anlene Gold dan Nescafé Classic seperti waktu sarapan pagi dulu-dulu. Puasaku tidak batal karena kelaparan. Dan celoteh, “Roti itu makanan Belanda” atau “Orang Jawa kalau belum makan nasi, merasa belum sarapan,” masih menjadi lelucon kami sewaktu sahur.
“Wah, kakek ini karena roti ketika masih muda jadi patriot, setelah jadi kakek pembela orang miskin!” gurau cucu saya yang sudah klas 1 SMA Mohammadiah II Pucang Surabaya.
“Ya, sedikit-sedikit. Kalau bisa urun kebaikan kehidupan untuk negara dan bangsa begitu, mengapa tidak?” jawab saya.
(Suparto Brata, mantan loper koran Jawa Pos, 1950)
Tags:
Catatan
PEMICU PERTEMPURAN 10 NOVEMBER 1945
Berita akan mendaratnya Tentara Sekutu tanggal 25 Oktober 1945 di Surabaya dikawatkan pertama oleh Menteri Penerangan Amir Syarifuddin dari Jakarta. Dalam berita tersebut menteri menjelaskan tugas Tentara Sekutu di Indonesia, yaitu mengangkut orang Jepang yang sudah kalah perang, dan para orang asing yang ditawan pada zaman Jepang. Menteri berpesan agar pemerintah daerah di Surabaya menerima baik dan membantu tugas Tentara Sekutu tersebut.
Sikap politik pemerintah pusat tersebut sulit diterima rakyat Surabaya pada umumnya. Rakyat Surabaya mencurigai kedatangan Inggris sebagai usaha membantu mengembalikan kolonialisme Belanda di Indonesia. Kasus Kolonel P.J.G. Huijer, perwira Tentara Sekutu berkebangsaan Belanda, menjadi salah satu alasannya kecurigaan itu. Kolonel P.J.G. Huijer yang datang di Surabaya pertama kali pada tanggal 23 September sebagai utusan Laksamana Pertama Patterson, Pimpinan Angkatan Laut Sekutu di Asia Tenggara, ternyata membawa misi rahasia pula dari pimpinan Tertinggi Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Huijer yang bersikap dan bertindak terang-terangan menentang revolusi Indonesia akhirnya ditangkap dan ditawan di Kalisosok oleh aparat keamanan Indonesia.
Hari menjelang datangnya tentara Inggris di Surabaya, Drg. Moesopo yang sementara itu telah mengangkat diri menjadi Menteri Pertahanan RI, berseru pada rakyat Surabaya, agar bersiap siaga menghadapi kedatangan pasukan Inggris. Dengan mengendarai mobil terbuka dan pedang terhunus di tangan, ia berteriak-teriak di sepanjang jalan, menyadarkan rakyat atas bahaya yang sedang mengancam. Dalam pidato radionya pada malam harinya, secara khusus Moestopo memperingatkan secara keras pada tentara Inggris dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration, Pemerintah Penjajahan Belanda atas Indonesia di pengungsian ketika Jepang menduduki Indonesia, dan merencanakan kembali menjajah Indonesia lagi setelah bubar perang) ~ diucapkan “Nika” ~ agar mereka jangan mendarat di Surabaya. “Inggris! Nika! Jangan mendarat! Kalian orang terpelajar! Tahu aturan! Jangan mendarat! Jangan mendarat!” pidatonya di radio begitu terus.
Beberapa jam setelah kapal Inggris merapat di Tanjung Perak, dua orang perwira staf Mallaby (komandan pasukan Inggris) menemui Gubernur Soerjo. Utusan Mallaby itu mengundang Gubernur Soerjo dan seorang wakil BKR agar bertemu dengan Mallaby di kapal untuk berunding. Undangan itu ditolak karena sebagai pejabat baru Gubernur Soerjo sedang memimpin rapat kerja pertama. Dalam rapat kilat yang diadakan kemudian, diputuskan untuk memberi mandat kepada Drg. Moestopo pimpinan BKR untuk berunding dengan pihak Inggris dan bertindak atas nama Pemerintah Jawa Timur.
Pertemuan Mallaby dengan Moestopo yang didampingi dr. Soegiri, pejuang Surabaya yang sangat aktif, Moh. Jasin, pimpinan Polisi Istimewa serta Bung Tomo, belum menghasilkan kesepakatan. Perundingan dilanjutkan 26 Oktober esoknya di gedung Kayoon ex gedung Konsulat Inggris. Pertemuan tersebut dihadiri Residen Soedirman, Ketua KNI Doel Arnowo, Walikota Radjamin Nasution dan HR Mohammad Mangundiprojo dari TKR (TKR = Tentara Keamanan Rakyat, resmi dibentuk tanggal 5 Oktober 1945, sebelumnya bernama BKR, Badan Keamanan Rakyat). Menghasilkan perjanjian, dalam pasukan Inggris yang mendarat tidak disusupi pasukan Belanda, tercapai bekerjasama Indonesia-Tentara Sekutu dengan membentuk Kontact Bureau, yang akan dilucuti senjatanya hanyalah Jepang saja, sedang pengawasan dipegang oleh tentara Sekutu, dan selanjutnya tentara Jepang itu akan dipindahkan ke luar Jawa.
Sesuai dengan kesepakatan tersebut, pasukan Inggris diperkenankan menggunakan beberapa gedung penting di kota, seperti gedung Kayoon digunakan sebagai Markas Brigade 49 (Inggris), gedung HBS (sekolah kompleks Jl. Wijaya Kusuma), gedung Internatio, Rumah Sakit Darmo tempat para tawanan perang dan interniran dirawat, masing-masing ditempatkan satu batalyon pasukan Inggris. Dalam gerakan menduduki tempat yang disetujui itu Inggris selanjutnya juga menduduki sejumlah tempat strategis di luar perjanjian, seperti lapangan terbang Tanjung Perak, perusahaan listrik Gemblongan, Stasiun KA, Kantor Pos Besar, Gedung Studio Radio di Simpang. Lebih kurangajar lagi, malam itu Moestopo disergap, dipaksa menunjukkan di mana Kolonel PG Huijer ditawan, yang berakhir dengan penyerbuan pasukan Inggris ke penjara Kalisosok dan membebaskan orang-orang Belanda yang ditawan pemuda. Inggris juga melucuti kesatuan Polisi RI Seksi Bubutan dan Nyamplungan.
Esok harinya, 27 Oktober, pesawat Inggris menyebarkan pamflet, isinya menuntut dan mengancam, agar rakyat Surabaya dan Jawa Timur menyerahkan kembali kepada Inggris senjata dan peralatan perang mereka yang direbut dari tentara Jepang. Residen Soedirman dan drg. Moestopo segera memperingatkan Brigjen Mallaby, bahwa isi pamflet itu jelas bertentangan dengan perjanjian yang telah disetujui bersama. Rupanya Brigjen Mallaby sendiri juga tak tahu-menahu dengan pamflet yang berasal dari Markas Besar Tentara Inggris di Jakarta itu. Tetapi sebagai tentara harus tunduk pada putusan atasan.
Suasana panas Surabaya mencapai klimaksnya pada tanggal 28 Oktober 1945. Pada hari itu sekitar jam 17.00, di Markas Pertahanan Jl. Mawar 10, markas dan sekaligus tempat Studio Radio Pemberontakan pimpinan Bung Tomo, diselenggarakan pertemuan antara sejumlah pimpinan pasukan BKR dan pemimpin Badan Perjuangan Bersenjata. Dari pihak BKR yang hadir HR Mohammad Mangundiprojo, Sutopo dan Katamhadi, ketiganya ex Daidancho Peta. Dari Badan Perjuangan Bersenjata yang hadir antara lain Soemarsono dari PRI (markas besarnya di Balai Pemuda), Bung Tomo dari BPRI. Putusan rapat mereka tidak mentolerir tindakan provokatif tentara Inggris. Mereka sepakat untuk segera melancarkan serangan terhadap kedudukan Inggris dengan perhitungan mumpung pasukan Inggris saat itu masih lemah, menduduki tempat yang terpencar-pencar.
“Om 5 uur begint de Indonesische opstand!” (Pada jam 05.00 mulailah perlawanan bangsa Indonesia), demikian bunyi kebulatan tekad mereka.
Sore itu juga, Soemarsono melalui radio pemberontakan di Jl. Mawar 10 mengumumkan kebulatan tekad tersebut. Dalam pidato radionya ia antara lain menyatakan bahwa, “Tentara Inggris yang berkedok sebagai Tentara Sekutu itu sebenarnya adalah tentara penjajah yang membantu NICA untuk menghancurkan kemerdekaan bangsa Indonesia, karenanya harus dilawan!” Pidato Soemarsono segera disusul oleh pidato Bung Tomo yang sebagai orator ulung ia berhasil membakar semangat rakyat Surabaya khususnya dan rakyat Indonesia umumnya, untuk melawan tentara Inggris dan Belanda.
Sore hari itu Surabaya seperti kota mati. Jalan-jalan sunyi mencekam, menantikan datangnya badai pertempuran. Kesatuan TKR, atas perintah Moestopo dan Jososewojo, sejak tengah hari telah ditarik keluar kota, mempersiapkan lini kedua di Sepanjang mereka akan melaksanakan perang rahasia dan perang gerilya seperti yang diinstruksikan oleh Moestopo. Tetapi ketika pada malam harinya pertempuran pecah, mereka bergerak kembali ke kota.
Malam hari itu, tempat atau gedung yang diduduki oleh tentara Inggris, dikepung oleh rakyat Surabaya, seperti ceceran gula pasir dikerubungi semut. Pengepungan berlanjut sampai tiga hari. Pasukan Inggris yang terkepung, tidak bisa bergerak dari tempatnya, tidak bisa minta bantuan dari tempat lain, kehabisan peluru, air dan makanan. Bertahan pasti hancur, keluar tidak mungkin, pasti dihadang oleh rakyat Surabaya bersenjata sepanjang jalan. Rakyat Surabaya saat itu semangatnya bertempur berkobar-kobar, tidak perduli senjata apa saja yang bisa digunakan untuk melawan pasukan Inggris, senpi atau senjam. Bandha nekad! (bonek). Ada yang baru hari itu memiliki senapan, baru jam itu belajar menembak. Lalu kemaruk menembakkan senjata apinya. Sampai ada tentara Inggris yang jelas mati terapung di sungai, tetap saja diberondong peluru untuk latihan menembak tepat sasaran.
Melihat pasukannya tak berkutik akan hancur, Brigjen Mallaby panik. Dia harus bisa mencegah kehancuran semesta itu. Harus dicarikan pemimpin Indonesia yang masih dipatuhi oleh rakyat Surabaya. Siapa? Presiden RI, Bung Karno. Mallaby minta agar Presiden RI didatangkan di Surabaya. Dengan permintaan itu, tentara Inggris yang semula tidak mengakui adanya negara Republik Indonesia, jadi mengakui kedaulatan RI. Presiden Soekarno bersama Wakil Presiden Mohamad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin terbang ke Surabaya 29 Oktober 1945 dengan pesawat RAF. Lapangan terbang Morokrembangan juga dikepung oleh rakyat Surabaya. Karena sudah tidak percaya lagi dengan omongan orang Inggris, maka Bung Tomo memerintahkan kalau yang turun bukan Bung Karno, ditembak mati saja.
Sejak pecahnya pergolakan merebut senjata Jepang (30 September 1945) dan disusul dengan pendaratan Tentara Sekutu, Moestopolah orang yang paling menonjol dan memikul tanggung jawab revolusi di Surabaya. Dialah orang pertama yang berhadapan dan membuat perjanjian serah-terima kekuasaan sekali gus perlucutan seluruh senjata Jepang dari Mayor Jendral Iwabe Syigeo selaku Panglima AD Jepang di Jawa Timur di Gedung HVA, (sekarang Jl. Merak), 30 September 1945. Ketika Tentara Sekutu mendarat di Surabaya, Moestopo pulalah orang pertama yang menghadapinya. Kecuali berunding yang menghasilkan keputusan yang sulit, dia juga telah merasakan pemaksaan yang kontra dengan hasil perjanjian. Moestopo menghadapi persoalan yang dilematis, yaitu menghadapi tekanan dari dua kubu yang saling bertentangan. Tekanan pertama adalah pesan dari Pemerintah Pusat RI di Jakarta, yang meminta kepadanya, demi kepentingan politik, agar menerima dengan baik kedatangan Tentara Sekutu di Surabaya. Sedangkan tekanan kedua adalah datang dari rakyat Surabaya, yang cenderung menentang pendaratan Tentara Sekutu di Surabaya. Di mata pemuda Surabaya, Inggris dan Belanda adalah dua negara Sekutu yang sama-sama imperialis, karenanya mereka mencurigai Inggris bersekongkol dengan Belanda untuk mengembalikan penjajahan di Indonesia. Tekanan mental lebih berat ketika Inggris pada 28 Oktober mengultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan kembali senjata yang telah diperolehnya dari Jepang.
Menanggapi ultimatum itu Moestopo memerintahkan kepada BKR/TKR untuk segera bergerak ke luar kota. Sesuai dengan perintah Moestopo (pemimpin TKR Jatim), Jonosewojo (pemimpin TKR Karesidenan Surabaya) memindahkan pasukannya ke selatan, ke Darmo dan kemudian ke Ketegan di luar kota, tapi kemudian kembali masuk lagi ke Gunungsari. Banyak pihak yang tak setuju dengan taktik Moestopo tersebut. Bahkan Soengkono, pemimpin BKR Kota Surabaya, tetap bertahan di Kota Surabaya. Soengkono tetap menyebut kesatuannya BKR Kota Surabaya, bukan TKR.
Akibat kelelahan fisik yang berkepanjangan dan tekanan mental yang berat, pada malam 28 Oktober Moestopo menderita mental break down. Perbuatannya aneh. Malam itu Moestopo menanggalkan pakaian seragam militernya dan menggantinya dengan pakaian rakyat, berbaju dan bercelana panjang hitam gaya Madura, berselempangkan sarung dan mengenakan ikat kepala. Dengan penyamarannya itu Moestopo mau melaksanakan konsep strategi perangnya yang dalam bahasa Jerpang disebut Himizhu Zensosen dan Singei-se, artinya perang rahasia dan perang gerilya kota. Setelah mengadakan rapat di markasnya di gedung HVA, Moestopo kemudian bergerak ke luar kota. Ia mengendarai mobil bersama Sudibyo, mahasiswa kedokteran gigi. (Selain jadi Daidanco PETA di Gresik, Moestopo juga jadi dosen pada Fakultas Kedokteran Gigi = Shika Daigakku Surabaya, karena itu banyak sekali mahasiswanya yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan di Surabaya ini). Di tengah perjalanan ia mampir dahulu ke Markas PRI (Balai Pemuda), untuk menjelaskan rencana perannya dan mengajak para pemuda PRI meninggalkan kota, sebab Inggris akan melucuti senjata mereka, ujarnya.
Di Wonocolo, Moestopo bertemu dengan dua orang wartawan Surabaya, Wiwiek Hidayat dan Suleimanhadi, kedua wartawan itu lalu diajak turut serta memeriksa kesiapan perang di sekitar Surabaya.
Mereka berempat mengendarai mobil sedan hitam de Soto, dengan Moestopo sendiri yang mengemudikannya. Di tengah malam buta itu Moestopo mengebut melalui jalan pedesaan menuju Sidoarjo dan kemudian bermaksud menuju Gresik dengan melewati jalan Sidoarjo-Krian-Balungbendo-Mojokerto. Di setiap pos penjagaan, bila kendaraan Moestopo disetop untuk diperiksa ia kadang-kadang menjelaskan identitas dirinya, bukan saja sebagai pimpinan TKR dan Menteri Pertahanan RI, tetapi juga menyebut dirinya sebagai “Ratu Adil”.
Sekitar jam 02.00 tengah malam, mereka tiba di Markasnya Marhadi, komandan BKR/TKR di Mojokerto. Karena kecapekan, di tempat tersebut mereka langsung jatuh tertidur. Di saat mereka tidur lelap itulah mendadak mereka disergap oleh satu kesatuan bersenjata yang tak dikenal. Mereka termasuk Moestopo, dengan tangan diborgol dinaikkan truk, lalu dibawa ke bekas Pabrik Gula Brangkal. Esok harinya barulah mereka tahu, bahwa yang menawan mereka itu adalah anak buah Mayor Sabarudin, PTKR Sidoarjo. Hari itu mereka dijemput sendiri oleh Mayor Sabarudin, dan dengan mata tertutup mereka lalu dibawa ke markas Sabarudin di Sidoarjo.
Di tempat terpisah Sabarudin menemui Wiwiek Hidayat dan Suleimanhadi. Sabarudin mengatakan, bahwa kedua wartawan itu boleh bebas kembali ke Surabaya, tetapi bersama itu ia mengancam, dengan pistol dimain-mainkan di tangan, agar mereka jangan sampai membocorkan rahasia ditawannya Moestopo tersebut. Bila sampai bocor, mereka bersama keluarganya akan dihabisi.
Kepada Moestopo Sabarudin berterus terang bahwa dia diperintahkan oleh atasannya untuk menangkap dan membunuh Moestopo. Tetapi karena di masa Peta dahulu selaku anak buah Moestopo ia pernah diselamatkan jiwanya dari kekejaman Jepang, maka ia tak akan membunuh Moestopo.
Kisah tentang diri Sabarudin ini sungguh sangat menarik. Yang dimaksud atasannya, mungkin sekali Jonosewoyo, karena Sidoarjo adalah kekuasaan pemimpin TKR Karesidenan Surabaya, Jonosewojo. Apalagi kemudian hari, ketika terjadi perebutan jabatan militer di Jawa Timur antara Jonosewoyo dengan HR Mohamad Mangundiprojo, Sabarudin membela mati-matian Jonosewojo, menculik dan membantai HR Mohamad dari Jogja sampai di Kertosono (peristiwa 1946). Sabarudin juga terkenal kejam, memancung leher bekas saingannya ex-chudancho Soerjo secara terbuka di alun-alun Sidoarjo. Ex-chudancho Soerjo waktu itu jadi staf keuangan TKR Jatim pimpinan Moestopo.
Dua hari ditawan Sabarudin, pada tanggal 30 Oktober dengan dikawal oleh Kapten Hamidun, Kepala Stafnya Sabarudin, Moestopo diantarkan menghadiri rapat pertemuan dengan Presiden Soekarno di Gubernuran Surabaya yang dihadiri oleh Bung Hatta dan para pejabat tinggi di Surabaya. Waktu itu seruan berhenti tembak-menembak sudah disiarkan. Bung Hatta menganggap Moestopo sebagai biang kerok pergolakan bersenjata melawan Tentara Sekutu di Surabaya. Oleh Presiden Moestopo mulai saat itu dipensiun dan selanjutnya diangkat menjadi Penasihat Agung Presiden RI. Dengan begitu berakhirlah peran Moestopo selaku pimpinan tertinggi TKR di Jawa Timur. Secara hirarkhis, orang kedua Urusan Angkatan Darat, HR Mohamad Mangundiprojo menggantikan kedudukan Moestopo, bersama Soengkono mewakili TKR dalam forum perundingan dengan pihak Inggris. Moestopo yang membikin gara-gara pergolakan pertempuran tiga hari (28, 29, 30 Oktober 1945) yang arek-arek Surabaya bisa melumpuhkan pasukan Inggris, tetapi Moestopo sendiri tidak ikut bertempur, karena ditawan oleh Sabarudin. Buntut pertempuran tiga hari adalah tewasnya Mallaby yang berlanjut dengan pertempuran 10 November 1945 yang hasilnya Indonesia Merdeka akibat gigihnya perlawanan bersenjata, tetapi Moestopo juga tidak terlibat pertempuran karena sudah dipensiun. Ini salah satu gambaran bahwa potensi lokal menjadi tak berdaya karena beda pandang dengan pusat pemerintahan.
Setelah Mayor Jendral D. Hawthorn, Panglima Tentara Sekutu di Indonesia tiba di Surabaya hari itu (30 Oktober), maka perundingan dengan pihak Inggris dilanjutkan lagi di Gubernuran Surabaya. Hadir dalam perundingan itu selain Presiden, Wakil Presiden dan Menteri Penerangan RI, juga para tokoh pimpinan Surabaya seperti Gubernur Soerjo, Residen Soedirman, Doel Arnowo, Roeslan Abdulgani, HR Mohamad, Soengkono, Atmadji, Soemarsono dan Bung Tomo.
Perundingan tersebut menghasilkan persetujuan, inti isinya adalah Inggris membatalkan perintah untuk melucuti senjata TKR dan pemuda, Inggris mengakui status TKR, Tentera Sekutu akan ditarik dari gedung-gedung yang diduduki, dan akan terpusat di Tanjung Perak dan kamp tawanan perang di Darmo, Daerah pelabuhan Tanjung Perak akan dijaga Tentara Sekutu dan TKR, Hubungan antara Darmo dan Tanjung Perak harus terjamin aman untuk mengangkuti tawanan (truknya pasukan Inggris), Kedua pihak mempertukarkan para tawanan, Dibentuk badan penghubung (Kontak Biro) antara Tentera Sekutu dan penguasa Surabaya. Susunan anggota Kontak Biro pihak Indonesia: Residen Soedirman, Doel Arnowo (KNI), Roeslan Abdulgani (KNI), HR Mohamad Mangundiprojo (TKR), Soengkono (BKR), Armadji (TKR Laut), Soejono (Polisi RI), Kusnandar (PRI), TD Kundan (penterjemah). Pihak Inggris: Brigjen A.W.Mallaby, Kolonel L.H.O.Pugh, Mayor M.Hobson, Kapten H.Shaw, dan Wing Comander Groom.
Setelah dicapainya persetujuan tadi, rombongan presiden dan Mayjen Hawthorn, siang itu juga (30 Oktober) kembali ke Jakarta, sedang anggota Kontak Biro melanjutkan rapat di kantor Gubernuran hingga jam 16.00. Karena di beberapa tempat masih terjadi tembak-menembak, Kontak Biro memutuskan untuk mengadakan perjalanan keliling guna menghentikan pihak-pihak yang masih saling menembak. Rombongan mengendarai sejumlah mobil disertai sebuah mobil polisi RI sebagai pengawal di mukanya. Perjalanan Kontak Biro sampai di gedung Internatio, di Jembatan Merah. Tembak-menembak bisa dihentikan setelah Mallaby bicara dengan komandan pasukan Inggris di depan gedung (tidak masuk gedung). Ketika rombongan meninggalkan gedung, matahari mulai terbenam, sampai di mulut Jembatan Merah, rakyat Surabaya tetap minta supaya tentara Inggris di gedung Internatio meninggalkan gedung. Maka dikirim utusan ke gedung, menyeberangi lapangan segi tiga. Dari pihak Inggris Kapten Shaw, pihak RI HR. Mohamad Mangundiprojo serta penterjemah TD Kundan. Brigjen Mallaby tetap menunggu di mobil hitam yang dikendarai oleh Residen Soedirman di mulut Jembatan Merah. Ketika utusan beberapa menit masuk ke gedung, terdengar tembakan dari dalam gedung. Maka ramailah kembali tembak-menembak antara rakyat Surabaya yang masih mengurung gedung dengan pihak Inggris yang di dalam gedung. Terkena hujan peluru, para anggota Kontak Biro Indonesia lari tunggang langgang meninggalkan tempat, ada yang menceburkan diri ke sungai, mencari selamat.
Keesokan harinya tersiar kabar bahwa Brigjen Mallaby tewas tertembak di dalam mobil hitam. Tewasnya seorang brigadir jendral di kancah pertempuran di Surabaya, tentulah tidak direlakan begitu saja oleh Pasukan Inggris. Tentu akan ada pembalasan. Maka pada tanggal 3 November 1945 dikirimkanlah satu divisi lebih bantuan pasukan Inggris didaratkan di Surabaya lengkap dengan panser, tank, meriam dan pesawat terbangnya. Sebagai panglima pasukan yang baru di Surabaya adalah Mayor Jendral Mansergh. Tanggal 7 November, Mansergh mengundang Gubernur Soerjo, memperkenalkan diri di Bataviaweg (Jalan Jakarta). Sikap Mansergh kaku, sombong, ucapannya terang-terangan menyalahkan dan menghina para pemimpin Indonesia. Langsung membacakan surat yang diterjemahkan oleh TD Kundan. Jelas sekali kedatangan Mansergh untuk membalas dendam. Esok harinya 8 November, Gubernur Soerjo kembali menerima sepucuk surat dari Mayjen Mansergh, yang lebih serius menuduh pimpinan Surabaya tidak mampu menepati janji persetujuannya, maka tentaranya (Inggris) akan memasuki Surabaya dan sekitarnya, demikian juga daerah lain Jawa Timur untuk melucuti “gerombolan yang tidak mengenal aturan tertib hukum”.
Dalam surat jawabannya tertanggal 9 November 1945 Gubernur Soerjo membantah segala tuduhan Mansergh itu. Juga dijelaskan persetujuan antara Mayjen Hawthorn dan Soekarno, batas-batas di mana pasukan Inggris boleh berada, yang justru dilanggar oleh Inggris. Surat itu diantarkan sendiri oleh Roeslan Abdulgani dan Kundan di markas Jl. Jakarta. Anehnya, begitu surat dibaca, Mansergh langsung menyerahkan dua buah dokumen, sebagai jawaban yang rupanya jauh-jauh hari telah disiapkan. Dokumen pertama adalah sebuah ultimatum kepada bangsa Indonesia di Surabaya dan satunya adalah sebuah surat penjelasan kepada R. Soerjo tertanggal 9 November 1945. Inti surat ultimatum tersebut adalah, agar semua pemimpin Indonesia termasuk pemimpin gerakan pemuda, kepala polisi dan petugas studio Radio Surabaya harus melaporkan diri di Bataviaweg menjelang jam 18.00 tanggal 9 November 1945. Mereka harus mendekat dengan berbaris satu per satu dengan membawa senjata yang dimilikinya. Senjata itu harus diletakkan dalam jarak 100 yard dari tempat pertemuan dan kemudian mereka semua harus mendekat dengan kedua tangan diletakkan di atas kepala, selanjutnya semua akan ditangkap dan ditawan. Mereka harus menandatangi dokumen menyerah tanpa syarat.
Sikap rakyat Surabaya atas ultimatum itu dicerminkan oleh pidato radio Gubernur Soejo hari itu juga (9 November) pada tengah malam jam 23.00. Antara lain ia berkata, “….berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah: Lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris, kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetep menolak ultimaum itu!”
Maka pagi hari tanggal 10 November 1945, Kota Surabaya digempur oleh pasukan Mansergh dari darat, laut dan udara.
*
Surabaya, 7 September 2006.
Suparto Brata, saksi dan pemerhati sejarah 10 November 1945 di Surabaya.
Sikap politik pemerintah pusat tersebut sulit diterima rakyat Surabaya pada umumnya. Rakyat Surabaya mencurigai kedatangan Inggris sebagai usaha membantu mengembalikan kolonialisme Belanda di Indonesia. Kasus Kolonel P.J.G. Huijer, perwira Tentara Sekutu berkebangsaan Belanda, menjadi salah satu alasannya kecurigaan itu. Kolonel P.J.G. Huijer yang datang di Surabaya pertama kali pada tanggal 23 September sebagai utusan Laksamana Pertama Patterson, Pimpinan Angkatan Laut Sekutu di Asia Tenggara, ternyata membawa misi rahasia pula dari pimpinan Tertinggi Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Huijer yang bersikap dan bertindak terang-terangan menentang revolusi Indonesia akhirnya ditangkap dan ditawan di Kalisosok oleh aparat keamanan Indonesia.
Hari menjelang datangnya tentara Inggris di Surabaya, Drg. Moesopo yang sementara itu telah mengangkat diri menjadi Menteri Pertahanan RI, berseru pada rakyat Surabaya, agar bersiap siaga menghadapi kedatangan pasukan Inggris. Dengan mengendarai mobil terbuka dan pedang terhunus di tangan, ia berteriak-teriak di sepanjang jalan, menyadarkan rakyat atas bahaya yang sedang mengancam. Dalam pidato radionya pada malam harinya, secara khusus Moestopo memperingatkan secara keras pada tentara Inggris dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration, Pemerintah Penjajahan Belanda atas Indonesia di pengungsian ketika Jepang menduduki Indonesia, dan merencanakan kembali menjajah Indonesia lagi setelah bubar perang) ~ diucapkan “Nika” ~ agar mereka jangan mendarat di Surabaya. “Inggris! Nika! Jangan mendarat! Kalian orang terpelajar! Tahu aturan! Jangan mendarat! Jangan mendarat!” pidatonya di radio begitu terus.
Beberapa jam setelah kapal Inggris merapat di Tanjung Perak, dua orang perwira staf Mallaby (komandan pasukan Inggris) menemui Gubernur Soerjo. Utusan Mallaby itu mengundang Gubernur Soerjo dan seorang wakil BKR agar bertemu dengan Mallaby di kapal untuk berunding. Undangan itu ditolak karena sebagai pejabat baru Gubernur Soerjo sedang memimpin rapat kerja pertama. Dalam rapat kilat yang diadakan kemudian, diputuskan untuk memberi mandat kepada Drg. Moestopo pimpinan BKR untuk berunding dengan pihak Inggris dan bertindak atas nama Pemerintah Jawa Timur.
Pertemuan Mallaby dengan Moestopo yang didampingi dr. Soegiri, pejuang Surabaya yang sangat aktif, Moh. Jasin, pimpinan Polisi Istimewa serta Bung Tomo, belum menghasilkan kesepakatan. Perundingan dilanjutkan 26 Oktober esoknya di gedung Kayoon ex gedung Konsulat Inggris. Pertemuan tersebut dihadiri Residen Soedirman, Ketua KNI Doel Arnowo, Walikota Radjamin Nasution dan HR Mohammad Mangundiprojo dari TKR (TKR = Tentara Keamanan Rakyat, resmi dibentuk tanggal 5 Oktober 1945, sebelumnya bernama BKR, Badan Keamanan Rakyat). Menghasilkan perjanjian, dalam pasukan Inggris yang mendarat tidak disusupi pasukan Belanda, tercapai bekerjasama Indonesia-Tentara Sekutu dengan membentuk Kontact Bureau, yang akan dilucuti senjatanya hanyalah Jepang saja, sedang pengawasan dipegang oleh tentara Sekutu, dan selanjutnya tentara Jepang itu akan dipindahkan ke luar Jawa.
Sesuai dengan kesepakatan tersebut, pasukan Inggris diperkenankan menggunakan beberapa gedung penting di kota, seperti gedung Kayoon digunakan sebagai Markas Brigade 49 (Inggris), gedung HBS (sekolah kompleks Jl. Wijaya Kusuma), gedung Internatio, Rumah Sakit Darmo tempat para tawanan perang dan interniran dirawat, masing-masing ditempatkan satu batalyon pasukan Inggris. Dalam gerakan menduduki tempat yang disetujui itu Inggris selanjutnya juga menduduki sejumlah tempat strategis di luar perjanjian, seperti lapangan terbang Tanjung Perak, perusahaan listrik Gemblongan, Stasiun KA, Kantor Pos Besar, Gedung Studio Radio di Simpang. Lebih kurangajar lagi, malam itu Moestopo disergap, dipaksa menunjukkan di mana Kolonel PG Huijer ditawan, yang berakhir dengan penyerbuan pasukan Inggris ke penjara Kalisosok dan membebaskan orang-orang Belanda yang ditawan pemuda. Inggris juga melucuti kesatuan Polisi RI Seksi Bubutan dan Nyamplungan.
Esok harinya, 27 Oktober, pesawat Inggris menyebarkan pamflet, isinya menuntut dan mengancam, agar rakyat Surabaya dan Jawa Timur menyerahkan kembali kepada Inggris senjata dan peralatan perang mereka yang direbut dari tentara Jepang. Residen Soedirman dan drg. Moestopo segera memperingatkan Brigjen Mallaby, bahwa isi pamflet itu jelas bertentangan dengan perjanjian yang telah disetujui bersama. Rupanya Brigjen Mallaby sendiri juga tak tahu-menahu dengan pamflet yang berasal dari Markas Besar Tentara Inggris di Jakarta itu. Tetapi sebagai tentara harus tunduk pada putusan atasan.
Suasana panas Surabaya mencapai klimaksnya pada tanggal 28 Oktober 1945. Pada hari itu sekitar jam 17.00, di Markas Pertahanan Jl. Mawar 10, markas dan sekaligus tempat Studio Radio Pemberontakan pimpinan Bung Tomo, diselenggarakan pertemuan antara sejumlah pimpinan pasukan BKR dan pemimpin Badan Perjuangan Bersenjata. Dari pihak BKR yang hadir HR Mohammad Mangundiprojo, Sutopo dan Katamhadi, ketiganya ex Daidancho Peta. Dari Badan Perjuangan Bersenjata yang hadir antara lain Soemarsono dari PRI (markas besarnya di Balai Pemuda), Bung Tomo dari BPRI. Putusan rapat mereka tidak mentolerir tindakan provokatif tentara Inggris. Mereka sepakat untuk segera melancarkan serangan terhadap kedudukan Inggris dengan perhitungan mumpung pasukan Inggris saat itu masih lemah, menduduki tempat yang terpencar-pencar.
“Om 5 uur begint de Indonesische opstand!” (Pada jam 05.00 mulailah perlawanan bangsa Indonesia), demikian bunyi kebulatan tekad mereka.
Sore itu juga, Soemarsono melalui radio pemberontakan di Jl. Mawar 10 mengumumkan kebulatan tekad tersebut. Dalam pidato radionya ia antara lain menyatakan bahwa, “Tentara Inggris yang berkedok sebagai Tentara Sekutu itu sebenarnya adalah tentara penjajah yang membantu NICA untuk menghancurkan kemerdekaan bangsa Indonesia, karenanya harus dilawan!” Pidato Soemarsono segera disusul oleh pidato Bung Tomo yang sebagai orator ulung ia berhasil membakar semangat rakyat Surabaya khususnya dan rakyat Indonesia umumnya, untuk melawan tentara Inggris dan Belanda.
Sore hari itu Surabaya seperti kota mati. Jalan-jalan sunyi mencekam, menantikan datangnya badai pertempuran. Kesatuan TKR, atas perintah Moestopo dan Jososewojo, sejak tengah hari telah ditarik keluar kota, mempersiapkan lini kedua di Sepanjang mereka akan melaksanakan perang rahasia dan perang gerilya seperti yang diinstruksikan oleh Moestopo. Tetapi ketika pada malam harinya pertempuran pecah, mereka bergerak kembali ke kota.
Malam hari itu, tempat atau gedung yang diduduki oleh tentara Inggris, dikepung oleh rakyat Surabaya, seperti ceceran gula pasir dikerubungi semut. Pengepungan berlanjut sampai tiga hari. Pasukan Inggris yang terkepung, tidak bisa bergerak dari tempatnya, tidak bisa minta bantuan dari tempat lain, kehabisan peluru, air dan makanan. Bertahan pasti hancur, keluar tidak mungkin, pasti dihadang oleh rakyat Surabaya bersenjata sepanjang jalan. Rakyat Surabaya saat itu semangatnya bertempur berkobar-kobar, tidak perduli senjata apa saja yang bisa digunakan untuk melawan pasukan Inggris, senpi atau senjam. Bandha nekad! (bonek). Ada yang baru hari itu memiliki senapan, baru jam itu belajar menembak. Lalu kemaruk menembakkan senjata apinya. Sampai ada tentara Inggris yang jelas mati terapung di sungai, tetap saja diberondong peluru untuk latihan menembak tepat sasaran.
Melihat pasukannya tak berkutik akan hancur, Brigjen Mallaby panik. Dia harus bisa mencegah kehancuran semesta itu. Harus dicarikan pemimpin Indonesia yang masih dipatuhi oleh rakyat Surabaya. Siapa? Presiden RI, Bung Karno. Mallaby minta agar Presiden RI didatangkan di Surabaya. Dengan permintaan itu, tentara Inggris yang semula tidak mengakui adanya negara Republik Indonesia, jadi mengakui kedaulatan RI. Presiden Soekarno bersama Wakil Presiden Mohamad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin terbang ke Surabaya 29 Oktober 1945 dengan pesawat RAF. Lapangan terbang Morokrembangan juga dikepung oleh rakyat Surabaya. Karena sudah tidak percaya lagi dengan omongan orang Inggris, maka Bung Tomo memerintahkan kalau yang turun bukan Bung Karno, ditembak mati saja.
Sejak pecahnya pergolakan merebut senjata Jepang (30 September 1945) dan disusul dengan pendaratan Tentara Sekutu, Moestopolah orang yang paling menonjol dan memikul tanggung jawab revolusi di Surabaya. Dialah orang pertama yang berhadapan dan membuat perjanjian serah-terima kekuasaan sekali gus perlucutan seluruh senjata Jepang dari Mayor Jendral Iwabe Syigeo selaku Panglima AD Jepang di Jawa Timur di Gedung HVA, (sekarang Jl. Merak), 30 September 1945. Ketika Tentara Sekutu mendarat di Surabaya, Moestopo pulalah orang pertama yang menghadapinya. Kecuali berunding yang menghasilkan keputusan yang sulit, dia juga telah merasakan pemaksaan yang kontra dengan hasil perjanjian. Moestopo menghadapi persoalan yang dilematis, yaitu menghadapi tekanan dari dua kubu yang saling bertentangan. Tekanan pertama adalah pesan dari Pemerintah Pusat RI di Jakarta, yang meminta kepadanya, demi kepentingan politik, agar menerima dengan baik kedatangan Tentara Sekutu di Surabaya. Sedangkan tekanan kedua adalah datang dari rakyat Surabaya, yang cenderung menentang pendaratan Tentara Sekutu di Surabaya. Di mata pemuda Surabaya, Inggris dan Belanda adalah dua negara Sekutu yang sama-sama imperialis, karenanya mereka mencurigai Inggris bersekongkol dengan Belanda untuk mengembalikan penjajahan di Indonesia. Tekanan mental lebih berat ketika Inggris pada 28 Oktober mengultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan kembali senjata yang telah diperolehnya dari Jepang.
Menanggapi ultimatum itu Moestopo memerintahkan kepada BKR/TKR untuk segera bergerak ke luar kota. Sesuai dengan perintah Moestopo (pemimpin TKR Jatim), Jonosewojo (pemimpin TKR Karesidenan Surabaya) memindahkan pasukannya ke selatan, ke Darmo dan kemudian ke Ketegan di luar kota, tapi kemudian kembali masuk lagi ke Gunungsari. Banyak pihak yang tak setuju dengan taktik Moestopo tersebut. Bahkan Soengkono, pemimpin BKR Kota Surabaya, tetap bertahan di Kota Surabaya. Soengkono tetap menyebut kesatuannya BKR Kota Surabaya, bukan TKR.
Akibat kelelahan fisik yang berkepanjangan dan tekanan mental yang berat, pada malam 28 Oktober Moestopo menderita mental break down. Perbuatannya aneh. Malam itu Moestopo menanggalkan pakaian seragam militernya dan menggantinya dengan pakaian rakyat, berbaju dan bercelana panjang hitam gaya Madura, berselempangkan sarung dan mengenakan ikat kepala. Dengan penyamarannya itu Moestopo mau melaksanakan konsep strategi perangnya yang dalam bahasa Jerpang disebut Himizhu Zensosen dan Singei-se, artinya perang rahasia dan perang gerilya kota. Setelah mengadakan rapat di markasnya di gedung HVA, Moestopo kemudian bergerak ke luar kota. Ia mengendarai mobil bersama Sudibyo, mahasiswa kedokteran gigi. (Selain jadi Daidanco PETA di Gresik, Moestopo juga jadi dosen pada Fakultas Kedokteran Gigi = Shika Daigakku Surabaya, karena itu banyak sekali mahasiswanya yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan di Surabaya ini). Di tengah perjalanan ia mampir dahulu ke Markas PRI (Balai Pemuda), untuk menjelaskan rencana perannya dan mengajak para pemuda PRI meninggalkan kota, sebab Inggris akan melucuti senjata mereka, ujarnya.
Di Wonocolo, Moestopo bertemu dengan dua orang wartawan Surabaya, Wiwiek Hidayat dan Suleimanhadi, kedua wartawan itu lalu diajak turut serta memeriksa kesiapan perang di sekitar Surabaya.
Mereka berempat mengendarai mobil sedan hitam de Soto, dengan Moestopo sendiri yang mengemudikannya. Di tengah malam buta itu Moestopo mengebut melalui jalan pedesaan menuju Sidoarjo dan kemudian bermaksud menuju Gresik dengan melewati jalan Sidoarjo-Krian-Balungbendo-Mojokerto. Di setiap pos penjagaan, bila kendaraan Moestopo disetop untuk diperiksa ia kadang-kadang menjelaskan identitas dirinya, bukan saja sebagai pimpinan TKR dan Menteri Pertahanan RI, tetapi juga menyebut dirinya sebagai “Ratu Adil”.
Sekitar jam 02.00 tengah malam, mereka tiba di Markasnya Marhadi, komandan BKR/TKR di Mojokerto. Karena kecapekan, di tempat tersebut mereka langsung jatuh tertidur. Di saat mereka tidur lelap itulah mendadak mereka disergap oleh satu kesatuan bersenjata yang tak dikenal. Mereka termasuk Moestopo, dengan tangan diborgol dinaikkan truk, lalu dibawa ke bekas Pabrik Gula Brangkal. Esok harinya barulah mereka tahu, bahwa yang menawan mereka itu adalah anak buah Mayor Sabarudin, PTKR Sidoarjo. Hari itu mereka dijemput sendiri oleh Mayor Sabarudin, dan dengan mata tertutup mereka lalu dibawa ke markas Sabarudin di Sidoarjo.
Di tempat terpisah Sabarudin menemui Wiwiek Hidayat dan Suleimanhadi. Sabarudin mengatakan, bahwa kedua wartawan itu boleh bebas kembali ke Surabaya, tetapi bersama itu ia mengancam, dengan pistol dimain-mainkan di tangan, agar mereka jangan sampai membocorkan rahasia ditawannya Moestopo tersebut. Bila sampai bocor, mereka bersama keluarganya akan dihabisi.
Kepada Moestopo Sabarudin berterus terang bahwa dia diperintahkan oleh atasannya untuk menangkap dan membunuh Moestopo. Tetapi karena di masa Peta dahulu selaku anak buah Moestopo ia pernah diselamatkan jiwanya dari kekejaman Jepang, maka ia tak akan membunuh Moestopo.
Kisah tentang diri Sabarudin ini sungguh sangat menarik. Yang dimaksud atasannya, mungkin sekali Jonosewoyo, karena Sidoarjo adalah kekuasaan pemimpin TKR Karesidenan Surabaya, Jonosewojo. Apalagi kemudian hari, ketika terjadi perebutan jabatan militer di Jawa Timur antara Jonosewoyo dengan HR Mohamad Mangundiprojo, Sabarudin membela mati-matian Jonosewojo, menculik dan membantai HR Mohamad dari Jogja sampai di Kertosono (peristiwa 1946). Sabarudin juga terkenal kejam, memancung leher bekas saingannya ex-chudancho Soerjo secara terbuka di alun-alun Sidoarjo. Ex-chudancho Soerjo waktu itu jadi staf keuangan TKR Jatim pimpinan Moestopo.
Dua hari ditawan Sabarudin, pada tanggal 30 Oktober dengan dikawal oleh Kapten Hamidun, Kepala Stafnya Sabarudin, Moestopo diantarkan menghadiri rapat pertemuan dengan Presiden Soekarno di Gubernuran Surabaya yang dihadiri oleh Bung Hatta dan para pejabat tinggi di Surabaya. Waktu itu seruan berhenti tembak-menembak sudah disiarkan. Bung Hatta menganggap Moestopo sebagai biang kerok pergolakan bersenjata melawan Tentara Sekutu di Surabaya. Oleh Presiden Moestopo mulai saat itu dipensiun dan selanjutnya diangkat menjadi Penasihat Agung Presiden RI. Dengan begitu berakhirlah peran Moestopo selaku pimpinan tertinggi TKR di Jawa Timur. Secara hirarkhis, orang kedua Urusan Angkatan Darat, HR Mohamad Mangundiprojo menggantikan kedudukan Moestopo, bersama Soengkono mewakili TKR dalam forum perundingan dengan pihak Inggris. Moestopo yang membikin gara-gara pergolakan pertempuran tiga hari (28, 29, 30 Oktober 1945) yang arek-arek Surabaya bisa melumpuhkan pasukan Inggris, tetapi Moestopo sendiri tidak ikut bertempur, karena ditawan oleh Sabarudin. Buntut pertempuran tiga hari adalah tewasnya Mallaby yang berlanjut dengan pertempuran 10 November 1945 yang hasilnya Indonesia Merdeka akibat gigihnya perlawanan bersenjata, tetapi Moestopo juga tidak terlibat pertempuran karena sudah dipensiun. Ini salah satu gambaran bahwa potensi lokal menjadi tak berdaya karena beda pandang dengan pusat pemerintahan.
Setelah Mayor Jendral D. Hawthorn, Panglima Tentara Sekutu di Indonesia tiba di Surabaya hari itu (30 Oktober), maka perundingan dengan pihak Inggris dilanjutkan lagi di Gubernuran Surabaya. Hadir dalam perundingan itu selain Presiden, Wakil Presiden dan Menteri Penerangan RI, juga para tokoh pimpinan Surabaya seperti Gubernur Soerjo, Residen Soedirman, Doel Arnowo, Roeslan Abdulgani, HR Mohamad, Soengkono, Atmadji, Soemarsono dan Bung Tomo.
Perundingan tersebut menghasilkan persetujuan, inti isinya adalah Inggris membatalkan perintah untuk melucuti senjata TKR dan pemuda, Inggris mengakui status TKR, Tentera Sekutu akan ditarik dari gedung-gedung yang diduduki, dan akan terpusat di Tanjung Perak dan kamp tawanan perang di Darmo, Daerah pelabuhan Tanjung Perak akan dijaga Tentara Sekutu dan TKR, Hubungan antara Darmo dan Tanjung Perak harus terjamin aman untuk mengangkuti tawanan (truknya pasukan Inggris), Kedua pihak mempertukarkan para tawanan, Dibentuk badan penghubung (Kontak Biro) antara Tentera Sekutu dan penguasa Surabaya. Susunan anggota Kontak Biro pihak Indonesia: Residen Soedirman, Doel Arnowo (KNI), Roeslan Abdulgani (KNI), HR Mohamad Mangundiprojo (TKR), Soengkono (BKR), Armadji (TKR Laut), Soejono (Polisi RI), Kusnandar (PRI), TD Kundan (penterjemah). Pihak Inggris: Brigjen A.W.Mallaby, Kolonel L.H.O.Pugh, Mayor M.Hobson, Kapten H.Shaw, dan Wing Comander Groom.
Setelah dicapainya persetujuan tadi, rombongan presiden dan Mayjen Hawthorn, siang itu juga (30 Oktober) kembali ke Jakarta, sedang anggota Kontak Biro melanjutkan rapat di kantor Gubernuran hingga jam 16.00. Karena di beberapa tempat masih terjadi tembak-menembak, Kontak Biro memutuskan untuk mengadakan perjalanan keliling guna menghentikan pihak-pihak yang masih saling menembak. Rombongan mengendarai sejumlah mobil disertai sebuah mobil polisi RI sebagai pengawal di mukanya. Perjalanan Kontak Biro sampai di gedung Internatio, di Jembatan Merah. Tembak-menembak bisa dihentikan setelah Mallaby bicara dengan komandan pasukan Inggris di depan gedung (tidak masuk gedung). Ketika rombongan meninggalkan gedung, matahari mulai terbenam, sampai di mulut Jembatan Merah, rakyat Surabaya tetap minta supaya tentara Inggris di gedung Internatio meninggalkan gedung. Maka dikirim utusan ke gedung, menyeberangi lapangan segi tiga. Dari pihak Inggris Kapten Shaw, pihak RI HR. Mohamad Mangundiprojo serta penterjemah TD Kundan. Brigjen Mallaby tetap menunggu di mobil hitam yang dikendarai oleh Residen Soedirman di mulut Jembatan Merah. Ketika utusan beberapa menit masuk ke gedung, terdengar tembakan dari dalam gedung. Maka ramailah kembali tembak-menembak antara rakyat Surabaya yang masih mengurung gedung dengan pihak Inggris yang di dalam gedung. Terkena hujan peluru, para anggota Kontak Biro Indonesia lari tunggang langgang meninggalkan tempat, ada yang menceburkan diri ke sungai, mencari selamat.
Keesokan harinya tersiar kabar bahwa Brigjen Mallaby tewas tertembak di dalam mobil hitam. Tewasnya seorang brigadir jendral di kancah pertempuran di Surabaya, tentulah tidak direlakan begitu saja oleh Pasukan Inggris. Tentu akan ada pembalasan. Maka pada tanggal 3 November 1945 dikirimkanlah satu divisi lebih bantuan pasukan Inggris didaratkan di Surabaya lengkap dengan panser, tank, meriam dan pesawat terbangnya. Sebagai panglima pasukan yang baru di Surabaya adalah Mayor Jendral Mansergh. Tanggal 7 November, Mansergh mengundang Gubernur Soerjo, memperkenalkan diri di Bataviaweg (Jalan Jakarta). Sikap Mansergh kaku, sombong, ucapannya terang-terangan menyalahkan dan menghina para pemimpin Indonesia. Langsung membacakan surat yang diterjemahkan oleh TD Kundan. Jelas sekali kedatangan Mansergh untuk membalas dendam. Esok harinya 8 November, Gubernur Soerjo kembali menerima sepucuk surat dari Mayjen Mansergh, yang lebih serius menuduh pimpinan Surabaya tidak mampu menepati janji persetujuannya, maka tentaranya (Inggris) akan memasuki Surabaya dan sekitarnya, demikian juga daerah lain Jawa Timur untuk melucuti “gerombolan yang tidak mengenal aturan tertib hukum”.
Dalam surat jawabannya tertanggal 9 November 1945 Gubernur Soerjo membantah segala tuduhan Mansergh itu. Juga dijelaskan persetujuan antara Mayjen Hawthorn dan Soekarno, batas-batas di mana pasukan Inggris boleh berada, yang justru dilanggar oleh Inggris. Surat itu diantarkan sendiri oleh Roeslan Abdulgani dan Kundan di markas Jl. Jakarta. Anehnya, begitu surat dibaca, Mansergh langsung menyerahkan dua buah dokumen, sebagai jawaban yang rupanya jauh-jauh hari telah disiapkan. Dokumen pertama adalah sebuah ultimatum kepada bangsa Indonesia di Surabaya dan satunya adalah sebuah surat penjelasan kepada R. Soerjo tertanggal 9 November 1945. Inti surat ultimatum tersebut adalah, agar semua pemimpin Indonesia termasuk pemimpin gerakan pemuda, kepala polisi dan petugas studio Radio Surabaya harus melaporkan diri di Bataviaweg menjelang jam 18.00 tanggal 9 November 1945. Mereka harus mendekat dengan berbaris satu per satu dengan membawa senjata yang dimilikinya. Senjata itu harus diletakkan dalam jarak 100 yard dari tempat pertemuan dan kemudian mereka semua harus mendekat dengan kedua tangan diletakkan di atas kepala, selanjutnya semua akan ditangkap dan ditawan. Mereka harus menandatangi dokumen menyerah tanpa syarat.
Sikap rakyat Surabaya atas ultimatum itu dicerminkan oleh pidato radio Gubernur Soejo hari itu juga (9 November) pada tengah malam jam 23.00. Antara lain ia berkata, “….berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah: Lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris, kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetep menolak ultimaum itu!”
Maka pagi hari tanggal 10 November 1945, Kota Surabaya digempur oleh pasukan Mansergh dari darat, laut dan udara.
*
Surabaya, 7 September 2006.
Suparto Brata, saksi dan pemerhati sejarah 10 November 1945 di Surabaya.
Tags:
cerita
Gadis Tangsi
Gadis Tangsi (Penerbit Buku Kompas, 374 halaman)
INDAH KARENA KEMANUSIAANNYA
Mendadak Kagum.
Bingung. Harus dimulai dari mana. Yang jelas semua terkesan mendadak. Seperti jatuh begitu saja.
Ya, memang demikianlah jika saya mendadak kagum kepada Bapak. Ke-mendadak-an ini muncul ketika saya selesai menghabiskan “Gadis Tangsi”. Novel yang sangat indah. Bukan karena keindahan bahasa ataupun kata-katanya. Namun indah karena kemanusiaan.
Rupanya tak berlebihan jika saya mengutip apa yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer: “Keindahan itu terletak pada kemanusiaan…. Bukan dalam mengutak-utik bahasa….”.
Bagi saya, “Gadis Tangsi” merupakan konplik kemanusiaan yang komplit. Membacanya saya seperti berkenalan, bertatap muka langsung, dengan Teyi, Raminem, Keminik, Parasi dan lainnya. Sungguh saya seperti berada di lingkungan Tangsi.
Karena hidup adalah yang absurd. Jika tidak berlebihan maka saya juga memaknai kekaguman saya juga sebagai hal yang absurd. Seperti pada judul di atas: Semua terkesan mendadak.
Hanya inilah yang mampu saya tuliskan untuk Bapak Suparto. Sengaja saya tulis, lalu saya kirimkan dalam bentuk surat. Karena saya ingin surat pertama (yang saya kirimkan) dalam seumur hidupku ini terkirim buat orang besar yang saya kagumi, secara mendadak.
Terima kasih atas kesudiannya membaca tulisan ini. Dan saya harap, saya mendapatkan balasan surat dari orang yang kukagumi. Ya, saya akan menunggu surat balasan “pertama” seumur hidup saya ini. He he he…..!
Surabaya, 10 September 2007
RUDI, Balong Sari 6K/16
Surabaya 60186
INDAH KARENA KEMANUSIAANNYA
Mendadak Kagum.
Bingung. Harus dimulai dari mana. Yang jelas semua terkesan mendadak. Seperti jatuh begitu saja.
Ya, memang demikianlah jika saya mendadak kagum kepada Bapak. Ke-mendadak-an ini muncul ketika saya selesai menghabiskan “Gadis Tangsi”. Novel yang sangat indah. Bukan karena keindahan bahasa ataupun kata-katanya. Namun indah karena kemanusiaan.
Rupanya tak berlebihan jika saya mengutip apa yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer: “Keindahan itu terletak pada kemanusiaan…. Bukan dalam mengutak-utik bahasa….”.
Bagi saya, “Gadis Tangsi” merupakan konplik kemanusiaan yang komplit. Membacanya saya seperti berkenalan, bertatap muka langsung, dengan Teyi, Raminem, Keminik, Parasi dan lainnya. Sungguh saya seperti berada di lingkungan Tangsi.
Karena hidup adalah yang absurd. Jika tidak berlebihan maka saya juga memaknai kekaguman saya juga sebagai hal yang absurd. Seperti pada judul di atas: Semua terkesan mendadak.
Hanya inilah yang mampu saya tuliskan untuk Bapak Suparto. Sengaja saya tulis, lalu saya kirimkan dalam bentuk surat. Karena saya ingin surat pertama (yang saya kirimkan) dalam seumur hidupku ini terkirim buat orang besar yang saya kagumi, secara mendadak.
Terima kasih atas kesudiannya membaca tulisan ini. Dan saya harap, saya mendapatkan balasan surat dari orang yang kukagumi. Ya, saya akan menunggu surat balasan “pertama” seumur hidup saya ini. He he he…..!
Surabaya, 10 September 2007
RUDI, Balong Sari 6K/16
Surabaya 60186
Tags:
Kata Mereka






