Kata Mereka
Hangesti :
Wah tulisan bapak memang asyik dan memukau.Saya baru saya membeli kerajaan raminten, ternyatabuku kedua. Gadis tangsi habis, buku ketiga jugasudah habis, tapi kata petugas toko sudah pesanlagi.Selamat terus menulis, dan saya terus membaca
Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo :
"Kaya dene Any Asmara, Widi Widayat, Drs. Soetarno, Suparto Brata (= Peni, Tera ) iki sawidjine "tukang tjrita" nanging anduweni tjengkok kang chas, ora kaja "tukang kentrung". Basane umume lantjar, prasadja, nanging ampang. Kontemplasi ngenani panguripane manungsa in donja iki diliwati dene numpak sepur ngliwati stasiun-stasiun" (Penjebar Semangat No. 30 th. 38, 8 Agustus 1972)
Drs. Th. Koendjono, SJ. :
"Terhadap karya novelis bahasa Jawa Peni, yang judulnya Katresnan Kang Angker, saya terkesan sekali. Kalau ia (pengarangnya, Suparto Brata) punya waktu, ia tentu dapat menghasilkan karya yang sejajar dengan Salah Asuhan karya Abdul Muis. " (Harian Kompas, Jakarta, 29 Oktober 1973)
Drs. Jakob Sumardjo :
"Novel-novelnya yang bercorak dengan tema percintaan tak terhitung jumlahnya dalam bahasa jawa. Tetapi ia juga menulis novel dengan corak silat, misalnya Geger Boyolali. Berbeda dengan novel-novelnya, cerita pendek Suparto Brata dalam bahasa Jawa justru lebih punya bobot sastra. Pengaruh penggunaan bahasa ibu ini bukan tak ada pengaruhnya dalam karya-karya Indonesianya. Gaya bahasanya kadang masih nampak pengaruh itu ". (Pengantar Novel Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung 1991)
J.J. Ras :
"Suparto Brata merupakan pengarang yang paling banyak menghasilkan karya sastra yang bertema cerita detektif. Suparto Brata menghasilkan enam buah karya sastra, dan Any Asmara hanya dua buah karya sastra. Selain dari pada itu kelebihan pengarang SUparto Brata tampak dari caranya mengolah bahasa, dialog-dialog dan gaya penuturannya yang hidup, imajinasi dan kemampuannya membangun plot yang bagus membuatnya menjadi penulis novel Jawa terbaik pada zamannya. " (Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir, (Seri Terjemahan Javanologi) Grafitipers, Jakarta 1985)
Iovann Budiatman St. :
"Selera dan gaya humor setiap orang berbeda, tergantung dari lingkungan, pandangan hidup dan tingkat rasa humor, khususnya lebih tampak pada para pencipta humor, baik pelawak, kartunis, sastrawan, seniman panggung atau mereka yang suka melucu dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu dari mereka yang memiliki gaya khas adalah Suparto Brata. Dia bukan seorang pelawak ataupun humoris, melainkan seorang cerpenis dan novelis yang terkenal karena karyanya dalam bahasa Jawa. Tersirat dalam karyanya dibumbui dengan humor-humor kecil...." (Humor Gaya Suparto Brata, Surabaya Post, 1 Oktober 1979)
Prof. Dr. Budi Darma :
"Suparto Brata bukan pengarang sekedar produktif, tetapi amat sangat luar biasa produktif sekali. Ketika masih muda dia sanggup menulis setiap hari delapan lembar. Rutin. Bayangkan, sehari delapan lembar tanpa perlu revisi. Baginya menjadi penulis tidak lain identik dengan dengan menjadi perajin. Dalam dunia tulis-menulis, dia bisa menulis dengan enak mengenai segala macam hal." (Suparto Brata: Pengarang Serba Bisa, Harian Kompas, Jakarta, Februari 2001)
Ajip Rosidi:
"Suparto Brata secara sadar menggunakan dialek Surabaya, beliau adalah pelopor dalam menggunakan dialek dalam sastera Jawa. Tidak hanya dalam percakapan, melainkan dalam deskripsi juga. Menggunakan dialek dalam karya tulis memerlukan pengenalan dan penguasaan akan bahasa dialek juga. Biasanya dialek dalam media cetak hanya berupa lelucon dan corat-coret ringan saja. Tapi Suparto Brata menggunakannya untuk menulis karya sastra yang lebih serius. Percakapan antartokoh terasa akrab, spontan, plastis, lugas." (Hadiah Sastera "Rancage" 2001)
Prof. Dr. Sapardi Djoko Darmono :
"Andaikata kita menyusun sebuah antologi Sastra Nusantara Klasik kita muat tulisan-tulisan Hamzah Fansuri, Hasan Mustapa, Ranggawarsita dan penulis-penulis lainnya yang klasik. Tetapi kalau kita menyusun antologi Sastra Indonesia naman-nama Hasan Mustapa dan Ranggawarsita tidak kedapatan lagi, padahal kenyataannya mereka itu ada. Barangkali ada juga karya sastra bahasa Sunda atau Jawa yang baik, yang seharusnya dikutsertakan kalau kita menyusun antologi Sastra Indonesia terutama yang sengaja disusun untuk bangsa lain. Apakah kita tidak akan pernah memperkenalkan Suparto Brata, misalnya sebagai penulis Indonesia?". (Majalah Horison, Jakarta, Oktober 1973)
Ratun Untoro :
Suparto Brata’s way of thinking used priyayi ideology was reflected in his works because he is a priyayi. It, then, becomes his characteristic in lietrary works (the characteristic of novel priyayi). The characteristic opposes the priyayi and the non-priyayi with the disadvantages and loss of the non-priyayi at the end of the story. The Suparto Brata way of thinking was similar to the novel priyayi developed during 1920’s to 1930’s. Hence, it is proved that Suparto Brata has not made new style of Javanese literary works but, as a productive author, he establishes more about novel priyayi and promoted it.
Tesis Studi Ilmu Sastra jurusan Ilmu-Ilmu Humaniora Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Desember 2006
Tags:
Kata Mereka
Lelakone Si lan Man ada di Ohio

Buku Lelakone Si lan Man terdapat juga di Ohio Libraries University, dengan no. katalog sebagai berikut :
PL5089.B7 L45 2005x
Suparto Brata. Lelakone Si lan Man : kumpulan cerita cekak. Yogyakarta: Narasi, 2005.
PL5089.B7 L45 2005x
Suparto Brata. Lelakone Si lan Man : kumpulan cerita cekak. Yogyakarta: Narasi, 2005.
Tags:
Lain-lain
Novel Donyane Wong Culiko
Suparto Brata Luncurkan Novel "Donyane Wong Culiko"

SURABAYA-- Pengarang sastra Jawa asal Surabaya, Suparto Brata akan meluncurkan novel terbarunya berjudul "Donyane Wong Culiko" di sela-sela acara "Lire En Fete" (Pesta Baca) yang diselenggarakan Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) Surabaya, 13 Oktober 2004
''Pada peluncuran novel itu juga akan digelar diskusi sekitar pukul 18.30 bertema 'Kelestarian Sastra Jawa' dengan pembicara Drs Dhanu Priyo Prabowo, MHum dari Balai Bahasa Yogyakarta," kata Atase Pers CCCL, Krishna di Surabaya, Senin.
Selain diskusi, pada acara itu Suparto Brata juga menyediakan "doorprize" sebanyak 15 buku kepada peserta. Buku-buku itu antara lain "Saksi Mata", "Aurora Sang Penganten", "Saputangan Gambar Naga", "Kremil", "Senja Sangu Trebela" dan "Gadis Tangsi".
Novel terbaru Suparto itu becerita tentang sejarah budi pekerja dan nasib orang Jawa mulai dari jaman Kerajaan Surakarta hingga berjayanya pemerintahan Orde Baru. Suparto Brata yang banyak menghasilkan karya berbahasa Indonesia dan Jawa itu dikenal sebagai penulis yang produktif. Semasa muda ia juga pernah menjadi wartawan lepas di beberapa surat kabar selain terus menulis karya-karya fiksi.
Pria yang lahir di Surabaya, 27 Februari 1932 itu mengenyam pendidikan SR di Probolinggo, SMP dan SMU di Surabaya. Selain terus menulis karya sastra ia juga menikmati masa tuanya sebagai pensiunan pegawai negeri dari Pemkot Surabaya.
Sementara acara Pesta Baca, menurut Krishna, merupakan program pertemuan tahunan bagi pecinta bahasa dan sastra Prancis. Namun dalam perkembangannya acara itu kemudian meluas kepada seluruh masyarakat pecinta buku, dalam bahasa apa pun.
''Acara ini digelar selama tiga hari mulai Senin (11/10) dengan menggelar perpustakaan terbuka dan diskusi mengenai koleksi perpustakaan CCCL dengan para pengajar, siswa dan staf CCCL. Pada hari kedua dibuka bazar buku dan hari ketiga peluncuran buku Suparto Brata,'' katanya.

SURABAYA-- Pengarang sastra Jawa asal Surabaya, Suparto Brata akan meluncurkan novel terbarunya berjudul "Donyane Wong Culiko" di sela-sela acara "Lire En Fete" (Pesta Baca) yang diselenggarakan Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) Surabaya, 13 Oktober 2004
''Pada peluncuran novel itu juga akan digelar diskusi sekitar pukul 18.30 bertema 'Kelestarian Sastra Jawa' dengan pembicara Drs Dhanu Priyo Prabowo, MHum dari Balai Bahasa Yogyakarta," kata Atase Pers CCCL, Krishna di Surabaya, Senin.
Selain diskusi, pada acara itu Suparto Brata juga menyediakan "doorprize" sebanyak 15 buku kepada peserta. Buku-buku itu antara lain "Saksi Mata", "Aurora Sang Penganten", "Saputangan Gambar Naga", "Kremil", "Senja Sangu Trebela" dan "Gadis Tangsi".
Novel terbaru Suparto itu becerita tentang sejarah budi pekerja dan nasib orang Jawa mulai dari jaman Kerajaan Surakarta hingga berjayanya pemerintahan Orde Baru. Suparto Brata yang banyak menghasilkan karya berbahasa Indonesia dan Jawa itu dikenal sebagai penulis yang produktif. Semasa muda ia juga pernah menjadi wartawan lepas di beberapa surat kabar selain terus menulis karya-karya fiksi.
Pria yang lahir di Surabaya, 27 Februari 1932 itu mengenyam pendidikan SR di Probolinggo, SMP dan SMU di Surabaya. Selain terus menulis karya sastra ia juga menikmati masa tuanya sebagai pensiunan pegawai negeri dari Pemkot Surabaya.
Sementara acara Pesta Baca, menurut Krishna, merupakan program pertemuan tahunan bagi pecinta bahasa dan sastra Prancis. Namun dalam perkembangannya acara itu kemudian meluas kepada seluruh masyarakat pecinta buku, dalam bahasa apa pun.
''Acara ini digelar selama tiga hari mulai Senin (11/10) dengan menggelar perpustakaan terbuka dan diskusi mengenai koleksi perpustakaan CCCL dengan para pengajar, siswa dan staf CCCL. Pada hari kedua dibuka bazar buku dan hari ketiga peluncuran buku Suparto Brata,'' katanya.
Tags:
Artikel
Kongres Sastra Jawa
Kompas, 4 September 2006
Kongres Sastra Jawa
Sastrawan Hidupkan Kembali Organisasi Pengarang
Semarang, Kompas - Kongres Sastra Jawa (KSJ) II yang berakhir hari Minggu (3/9) sore, setelah digelar selama tiga hari di Gedung Karya Graha Mahasiswa (KGM) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Semarang, Jawa Tengah, menyepakati menghidupkan lagi Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) yang pernah hidup dan berkembang pada tahun 1970-an.
Sucipto Hadi Purnomo disepakati sebagai ketua, dan diharapkan segera membangun kemitraan dengan berbagai kalangan, terutama penerbit, untuk menerbitkan karya sastra Jawa di berbagai media, khususnya dalam bentuk buku.
Selain itu, KSJ II yang dihadiri sejumlah sastrawan Jawa, seperti Ahmad Tohari, Arswendo Atmowiloto, Darmanto Jatman, dan Suparto Brata, juga menyepakati harus ada upaya maksimal untuk melakukan regenerasi sastrawan Jawa. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah mendorong penyederhanaan materi sastra Jawa di sekolah.
KSJ pun direkomendasikan dikembangkan menjadi kongres budaya Jawa, yang diselenggarakan tidak hanya di Jateng. KSJ I tahun 2001 digelar di Solo.
Walaupun disepakati pengembangan itu, tetapi Sucipto yang membacakan rekomendasi tersebut belum menentukan kapan lagi KSJ atau kongres budaya Jawa akan diadakan.
Dalam percakapan dengan Kompas, Suparto Brata mengakui, selama ini sastra Jawa masih menjadi sastra majalah. Karya sastra Jawa lebih banyak muncul di majalah berbahasa Jawa atau di media umum yang memiliki rubrik berbahasa Jawa. Sastrawan Jawa yang menampilkan karyanya dalam bentuk buku belum banyak.
"Padahal, sastra itu seharusnya, ya buku. Karena itu, harus didorong sastrawan Jawa mau menerbitkan karyanya dalam bentuk buku," jelas Suparto.
Diakuinya, tidak banyak penerbit yang bersedia menerbitkan karya sastra berbahasa Jawa karena buku sastra Jawa kurang laku. Tetapi, langkah penerbitan buku sastra Jawa tetap harus diupayakan, dengan kemitraan. (tra)
Kongres Sastra Jawa
Sastrawan Hidupkan Kembali Organisasi Pengarang
Semarang, Kompas - Kongres Sastra Jawa (KSJ) II yang berakhir hari Minggu (3/9) sore, setelah digelar selama tiga hari di Gedung Karya Graha Mahasiswa (KGM) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Semarang, Jawa Tengah, menyepakati menghidupkan lagi Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) yang pernah hidup dan berkembang pada tahun 1970-an.
Sucipto Hadi Purnomo disepakati sebagai ketua, dan diharapkan segera membangun kemitraan dengan berbagai kalangan, terutama penerbit, untuk menerbitkan karya sastra Jawa di berbagai media, khususnya dalam bentuk buku.
Selain itu, KSJ II yang dihadiri sejumlah sastrawan Jawa, seperti Ahmad Tohari, Arswendo Atmowiloto, Darmanto Jatman, dan Suparto Brata, juga menyepakati harus ada upaya maksimal untuk melakukan regenerasi sastrawan Jawa. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah mendorong penyederhanaan materi sastra Jawa di sekolah.
KSJ pun direkomendasikan dikembangkan menjadi kongres budaya Jawa, yang diselenggarakan tidak hanya di Jateng. KSJ I tahun 2001 digelar di Solo.
Walaupun disepakati pengembangan itu, tetapi Sucipto yang membacakan rekomendasi tersebut belum menentukan kapan lagi KSJ atau kongres budaya Jawa akan diadakan.
Dalam percakapan dengan Kompas, Suparto Brata mengakui, selama ini sastra Jawa masih menjadi sastra majalah. Karya sastra Jawa lebih banyak muncul di majalah berbahasa Jawa atau di media umum yang memiliki rubrik berbahasa Jawa. Sastrawan Jawa yang menampilkan karyanya dalam bentuk buku belum banyak.
"Padahal, sastra itu seharusnya, ya buku. Karena itu, harus didorong sastrawan Jawa mau menerbitkan karyanya dalam bentuk buku," jelas Suparto.
Diakuinya, tidak banyak penerbit yang bersedia menerbitkan karya sastra berbahasa Jawa karena buku sastra Jawa kurang laku. Tetapi, langkah penerbitan buku sastra Jawa tetap harus diupayakan, dengan kemitraan. (tra)
Tags:
Lain-lain
Saksi Mata
Liku-liku Sebuah Tragedi Kemanusiaan
Resensi di Kompas tanggal 28 April 2002

Judul Buku: Saksi Mata,
Penulis : Suparto Brata,
Cetakan Pertama, Januari 2002,
Penerbit : Kompas, Jakarta,
Tebal :(x + 434) hlm,
Harga :Rp 56.000
BERBEDA dengan zaman penjajahan Belanda yang sangat panjang, kurang lebih mencapai tiga setengah abad, masa pendudukan Jepang di Indonesia memang relatif singkat. Meski hanya seumur jagung atau berkisar tiga atau empat tahun, masa itu adalah yang sangat sulit bagi rakyat. Penjajahan Jepang meninggalkan trauma, luka, penderitaan, dan kesedihan yang sangat panjang dan mendalam, yang sulit dihapus dari ingatan bangsa ini. Negeri Sakura itu juga menggoreskan luka lahir batin yang sangat pedih dan menyakitkan.
Jepang yang mengaku sebagai saudara tua, datang katanya untuk membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan Belanda. Namun, pada kenyataannya, justru bertindak lebih buas dan kejam dibandingkan kaum penjajah lainnya. Ia hadir sebagai monster baru yang lebih ganas, tak mengenal perikemanusiaan.
Penderitaan mewabah di mana-mana, semakin merajalela. Makanan sangat sulit didapat. Untuk berpakaian, karung goni pun terpaksa digunakan karena tidak ada yang lain.
Jutaan manusia mati akibat kelaparan dan kerja paksa, romusha. Sementara, para perempuan dipaksa menjadi budak pemuas nafsu para tentara Dai Nippon, sebagai jugun ianfu.
Kondisi bangsa pada masa penjajahan Jepang itulah yang dijadikan tema besar dalam roman karya Suparto Brata. Sebagai setting-nya adalah Kota Surabaya yang juga kota kelahiran penulisnya. Roman ini mengajak kita untuk mengingat, menelusuri kembali kejadian-kejadian masa lampau, menyaksikan liku-liku tragedi kemanusiaan yang tidak tercatat dalam pikiran kita.
Saksi Mata berkisah melalui kesaksian Kuntara, bocah cilik pelajar sekolah rakyat Mohan-gakko yang tanpa sengaja memergoki buliknya, Raden Ajeng Rumsari, keluarga ningrat asal Solo, yang sangat dicintai dan dihormatinya, sedang melakukan perbuatan mesum dengan seorang laki-laki di sebuah bungker perlindungan. Peristiwa tersebut membuat Kuntara terpukul dan sangat sedih sekaligus marah karena orang yang dihormatinya selama ini melakukan perbuatan maksiat.
Dari sinilah petualangan yang mendebarkan dimulai. Bulik Rum, gadis cantik yang sehari-hari berpenampilan ceria, penuh tawa, canda, selalu riang gembira ternyata menyembunyikan segudang rahasia yang tak terduga.
Di balik keceriaannya itu ternyata ia juga menyimpan segunung penderitaan yang sangat menyakitkan. Putri Solo yang sehari-hari bekerja di pabrik karung Asko tak lain adalah gundik tuan Ichiro Nishizumi, seorang perwira tinggi Dai Nippon.
Nasib Bulik Rum tidak jauh berbeda dengan jugun ianfu lainnya. Ia menjadi pemuas nafsu bejat tentara dari Negeri Sakura yang memang memiliki tabiat seks yang sangat "bukan main".
Kapan pun tuan Ichiro suka dan mau melakukannya, maka Bulik Rum harus menurutinya. Bahkan, pernah terjadi dalam suatu hari, gadis cantik itu dikencingi dan dipaksa memuaskan nafsu tuan Ichiro berjam-jam lamanya. Sungguh penderitaan yang teramat dahsyat.
Okada, guru sekolah Kuntara yang sangat dihormati dan dikagumi, ternyata perilakunya tidak jauh berbeda dengan Ichiro. Di balik penampilan Okada yang sederhana dan tutur katanya yang santun, ia memiliki nafsu seks yang sangat buas. Hobinya, mencari perempuan kampung untuk ditiduri. Bahkan, Okada juga yang membunuh bulik Rum karena menolak tidak mau melayani nafsu iblisnya.
uuu
Sementara, laki-laki yang bercinta dengan Bulik Rum di bungker perlindungan ternyata adalah Mas Wiradad, suami sah Bulik Rum. Sebelum Bulik Rum diboyong tuan Ichiro ke Surabaya, bulik Rum telah menikah. Mas Wiradad tidak dapat berbuat banyak melawan kekuasaan Dai Nippon yang terkenal kejam dan sadis.
Kesabaran pun akhirnya ada batasnya juga. Tidak tahan melihat negerinya diinjak-injak penjajah, ditambah lagi dengan penderitaan yang dialaminya, Mas Wiradad bertekad menyusul ke Surabaya. Kecintaannya kepada negeri dan naluri kelelakiannya tak dapat dibendung. Niatnya sudah bulat untuk merebut kembali istri tercinta dari tangan Ichiro, meski nyawa taruhannya.
Membaca buku ini, kita akan mengikuti petualangan yang mendebarkan, menegangkan sekaligus mengharukan. Alur cerita roman ini juga tidak mudah ditebak. Tidak hanya itu, novel ini juga menyajikan adegan lucu, konyol dan kocak.
Misalnya, ketika sedang mandi, Kuntara kebelet pipis. Karena tidak kuat menahan, ia pun kencing. Baru separoh jalan, Bulik Rum tiba-tiba nongol di depannya untuk memastikan Kuntara mandi secepatnya. Bulik Rum mengumpat, Iih, jabang bayik! Kencing, ya?! Ediaaan! Mengenai kakiku! Kurangasem. (hlm 58)
Kepiawaian penulisnya, Suparto Brata, tak diragukan lagi. Dengan gaya deskripsinya yang gamblang, sangat mudah dan mengasyikkan membaca buku ini. Sangat banyak manfaat yang diperoleh dari membaca buku ini. Semua niscaya akan memperkaya khazanah pengetahuan pembaca perihal manusia dan kemanusiaan.
Dari segi sejarah sastra, kehadirannya mengembalikan mata rantai yang hilang dari sejarah sastra Indonesia. Selama ini, tidak banyak sastrawan yang menggeluti suasana pendudukan Jepang dalam karya-karyanya.
Tak usah diperdebatkan lagi, sayang melewatkan buku ini.
Rugi kalau tidak membacanya.
Imam Cahyono
Mantan Pemimpin Redaksi LPM Sketsa, Universitas Jenderal
Soedirman Purwokerto,
mahasiswa jurusan Sosiologi
FISIP Unsoed.
Tags:
Resensi
Festival Sastra Etnik Undang Utusan Suriname
Kompas,9 November 2006
Festival Sastra Etnik Undang Utusan Suriname
SURABAYA, KAMIS - Festival Sastra Etnik yang akan digelar Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) pada 2007 mendatang, mengundang utusan dari negara Suriname yang penduduknya banyak dan masih menguasai Bahasa Jawa.
"Karena kami memberikan toleransi kepada teman-teman dari Suriname itu, maka terpaksa festival ini diundur lagi menjadi Nopember 2007," kata Sekjen OPSJ, di Surabaya, Kamis (9/11).
Festival itu rencananya diselenggarakan akhir 2006, namun diundur sekitar April 2007, karena persiapan Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) sebagai penyelenggara belum matang. Rencana itu diundur lagi menjadi Nopember 2007 karena mengakomodasi utusan Suriname.
"Festival ini sebenarnya dikhususkan bagi sastra etnik di Jatim, Jawa, Madura dan Osing (Banyuwangi). Namun ternyata, teman-teman dari luar Jatim juga antusias, seperti Yogyakarta, Tegal dan lainnya menyatakan akan ikut," katanya.
Ia menjelaskan, kegiatan dari festival itu, berupa pementasan karya sastra masing-masing etnis serta sarasehan dalam upaya memajukan sastra yang berakar dari bahasa daerah tersebut. Bentuk pementasannya berupa pembacaan cerpen, puisi dan parade karya lainnya.
"Kami rencananya juga akan mengundang pembaca novel, Ahmad Tohari, ’Ronggeng Dukuh Paruk’ yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dialek Banyumasan serta pementasan karya Suparto Brata yang dibawakan dengan dialek Tegal," paparnya.
Untuk sarasehan, ia berharap ada semacam bertukar pikiran antarpegiat sastra etnik dalam mengembangkan sastranya masing-masing. Misalnya, bagaimana sastrawan di Banyuwangi mampu menerbitkan kamus Bahasa Osing serta karya-karya sastranya.
"Pengalaman-pengalaman seperti itu kami harapkan nanti muncul dalam sarasehan, sehingga bisa dijadikan acuan bagi teman-teman lain untuk melakukan hal serupa," ujar Bonari yang Juga Ketua Peguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS).
Untuk pembicara, ia mengemukakan, pihaknya akan menghadirkan sastrawan Ahmad Tohari dan Arswendo Atmowiloto, yang selama ini menjadi pendukung utama terbentuknya OPSJ di ajang Kongres Sastra Jawa (KSJ) di Semarang, beberapa waktu lalu.
Sumber: Antara
Penulis: jodhi
Festival Sastra Etnik Undang Utusan Suriname
SURABAYA, KAMIS - Festival Sastra Etnik yang akan digelar Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) pada 2007 mendatang, mengundang utusan dari negara Suriname yang penduduknya banyak dan masih menguasai Bahasa Jawa.
"Karena kami memberikan toleransi kepada teman-teman dari Suriname itu, maka terpaksa festival ini diundur lagi menjadi Nopember 2007," kata Sekjen OPSJ, di Surabaya, Kamis (9/11).
Festival itu rencananya diselenggarakan akhir 2006, namun diundur sekitar April 2007, karena persiapan Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) sebagai penyelenggara belum matang. Rencana itu diundur lagi menjadi Nopember 2007 karena mengakomodasi utusan Suriname.
"Festival ini sebenarnya dikhususkan bagi sastra etnik di Jatim, Jawa, Madura dan Osing (Banyuwangi). Namun ternyata, teman-teman dari luar Jatim juga antusias, seperti Yogyakarta, Tegal dan lainnya menyatakan akan ikut," katanya.
Ia menjelaskan, kegiatan dari festival itu, berupa pementasan karya sastra masing-masing etnis serta sarasehan dalam upaya memajukan sastra yang berakar dari bahasa daerah tersebut. Bentuk pementasannya berupa pembacaan cerpen, puisi dan parade karya lainnya.
"Kami rencananya juga akan mengundang pembaca novel, Ahmad Tohari, ’Ronggeng Dukuh Paruk’ yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dialek Banyumasan serta pementasan karya Suparto Brata yang dibawakan dengan dialek Tegal," paparnya.
Untuk sarasehan, ia berharap ada semacam bertukar pikiran antarpegiat sastra etnik dalam mengembangkan sastranya masing-masing. Misalnya, bagaimana sastrawan di Banyuwangi mampu menerbitkan kamus Bahasa Osing serta karya-karya sastranya.
"Pengalaman-pengalaman seperti itu kami harapkan nanti muncul dalam sarasehan, sehingga bisa dijadikan acuan bagi teman-teman lain untuk melakukan hal serupa," ujar Bonari yang Juga Ketua Peguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS).
Untuk pembicara, ia mengemukakan, pihaknya akan menghadirkan sastrawan Ahmad Tohari dan Arswendo Atmowiloto, yang selama ini menjadi pendukung utama terbentuknya OPSJ di ajang Kongres Sastra Jawa (KSJ) di Semarang, beberapa waktu lalu.
Sumber: Antara
Penulis: jodhi
Tags:
Artikel
Saputangan Gambar Naga
Petualangan Suparto Brata

Judul: Saputangan Gambar Naga
Penulis: Suparto Brata
Penerbit: PT Grasindo
Cetakan: I, 2003
Tebal: 405 halaman
Naskah ini ditulis Suparto Brata dalam waktu tiga bulan, yaitu Februari-April 1989. Novel ini mengisahkan perjalanan historis tokoh Fang Fang yang mengalami gangguan jiwa. Petualangannya melibatkan dua teman Fang Fang, Fusen dan Yong Pin, ketika mereka hendak menyelamatkan utusan Kubilai Khan-Kaisar Mongol-yang datang ke tanah Jawa untuk menemui Raja Singasari Prabu Kertanegara agar takluk pada kekuasaan bangsa Mongol. Mengki’i, sang utusan, adalah ayah Fang Fang yang meninggalkan Aisun, istrinya, dan Fang Fang di kapal. Sebelum Mengki’i meninggalkan kapal, Aisun menitipkan sebuah saputangan sutra warna hijau bergambar naga dan berpesan agar menyimpan saputangan itu apa pun yang terjadi, namun Mengki’i tidak melakukannya.
Kisah tersebut berlangsung pada tahun 1289. Tujuh ratus tahun kemudian, di sebuah upacara penanaman kepala kerbau, dalam rangka peresmian pembangunan gedung olahraga khusus bola basket, ditemukan sebuah kepala manusia yang di lehernya tertancap anak panah dan wajahnya tertutup saputangan bergambar naga hasil sulaman Aisun yang diberikan kepada Mengki’i. Saputangan tersebut diserahkan kepada Fusen yang merupakan kapten regu juara, sebagai cenderamata. Dari sinilah petualangan historis bermula. Fusen memberikan saputangan tersebut kepada Fang Fang sebagai hadiah.
Suparto Brata, penulis yang telah menghasilkan sedikitnya 117 karya ini, mengajak pembaca melompat-lompat pada situasi di era Kerajaan Singasari ke kehidupan masa kini. Penulis pernah mendapatkan Hadiah Sastra Rancage pada tahun 2000 atas pengabdian dan jasanya di bidang sastra Jawa dan menerima penghargaan yang sama untuk kumpulan cerpen berbahasa Jawa karyanya, Trem, pada tahun berikutnya. (SDM)

Judul: Saputangan Gambar Naga
Penulis: Suparto Brata
Penerbit: PT Grasindo
Cetakan: I, 2003
Tebal: 405 halaman
Naskah ini ditulis Suparto Brata dalam waktu tiga bulan, yaitu Februari-April 1989. Novel ini mengisahkan perjalanan historis tokoh Fang Fang yang mengalami gangguan jiwa. Petualangannya melibatkan dua teman Fang Fang, Fusen dan Yong Pin, ketika mereka hendak menyelamatkan utusan Kubilai Khan-Kaisar Mongol-yang datang ke tanah Jawa untuk menemui Raja Singasari Prabu Kertanegara agar takluk pada kekuasaan bangsa Mongol. Mengki’i, sang utusan, adalah ayah Fang Fang yang meninggalkan Aisun, istrinya, dan Fang Fang di kapal. Sebelum Mengki’i meninggalkan kapal, Aisun menitipkan sebuah saputangan sutra warna hijau bergambar naga dan berpesan agar menyimpan saputangan itu apa pun yang terjadi, namun Mengki’i tidak melakukannya.
Kisah tersebut berlangsung pada tahun 1289. Tujuh ratus tahun kemudian, di sebuah upacara penanaman kepala kerbau, dalam rangka peresmian pembangunan gedung olahraga khusus bola basket, ditemukan sebuah kepala manusia yang di lehernya tertancap anak panah dan wajahnya tertutup saputangan bergambar naga hasil sulaman Aisun yang diberikan kepada Mengki’i. Saputangan tersebut diserahkan kepada Fusen yang merupakan kapten regu juara, sebagai cenderamata. Dari sinilah petualangan historis bermula. Fusen memberikan saputangan tersebut kepada Fang Fang sebagai hadiah.
Suparto Brata, penulis yang telah menghasilkan sedikitnya 117 karya ini, mengajak pembaca melompat-lompat pada situasi di era Kerajaan Singasari ke kehidupan masa kini. Penulis pernah mendapatkan Hadiah Sastra Rancage pada tahun 2000 atas pengabdian dan jasanya di bidang sastra Jawa dan menerima penghargaan yang sama untuk kumpulan cerpen berbahasa Jawa karyanya, Trem, pada tahun berikutnya. (SDM)
Resensi ini dimuat di kompas.com, minggu 28 Desember 2003, klik disini
Tags:
Resensi





